leigxavy yamyla marbiling

0 views
Skip to first unread message

Sherry Galeazzi

unread,
Aug 2, 2024, 8:43:07 PM8/2/24
to demomona

Kisah Calon Arang sendiri banyak ditayangkan di dunia perfilman tanah air, salah satunya film berjudul Ratu Sakti Calon Arang yang diperankan oleh Suzzanna tahun 1985. Selain itu, kisah Calon Arang ditulis dengan beragam versi namun kebanyakan pengarang mendudukkan Calon Arang sebagai tokoh antagonis yang jahat dan wanita tukang teluh.

Dikisahkan bahwa Nyi Calon Arang merupakan seorang janda yang memiliki ilmu hitam tingkat tinggi dan dengan kesaktiannya tersebut dia sering membuat ulah kepada penduduk seperti mengirim teluh, mengirim bencana atau wabah penyakit, dan merusak hasil panen petani. Tidak ada rakyat yang berani dengan Nyi Calon Arang yang berilmu tinggi tersebut.

Nyi Calon Arang memiliki seorang putri cantik bernama Dyah Ayu Ratna Manggali. Meskipun berparas cantik, namun tak ada satu pemuda desa pun yang berani melamarnya, sebab orang-orang merasa takut dengan Nyi Calon Arang.

Maka Calon Arang melihat keadaan putrinya yang demikian itu menjadi marah dan dia pun bersumpah akan balas dendam kepada para penduduk. Nyi Calon Arang pun memerintahkan para muridnya untuk mencari seorang gadis muda guna dijadikan tumbal persembahan kepada Dewi Durga.

Dalam ritual pertapaan itu, Calon Arang meminta restu dari Dewi Durga untuk mengirim bala bencana kepada para penduduk yang telah mengucilkan keluarganya. Maka setelah Calon Arang mendapat restu dari Dewi Durga, dengan sekali tepuk bala bencana menimpa masyarakat desa Nyi Calon Arang mengirim hujan api yang membakar perkampungan penduduk dan memusnakan segala yang ada sebagai penduduk berlarian mencari keselamatan dengan mengungsi.

Raja Airlangga mengetahui peristiwa mengerikan yang menimpa penduduk lalu mengutus Empu Baradah untuk mengatasi teluh Nyi Calon Arang. Empu Baradah pun kemudian mengutus muridnya yang bernama Empu Bahula untuk menikahi putri Calon Arang, Dyah Ratna Manggali. Maka Empu Bahula dengan beberapa pengawal dan panglima kerajaan Daha datang ketempat Nyi Calon Arang untuk melamar putrinya.

Mendengar pinangan dari pemuda tampan tersebut, Nyi Calon Arang meminta satu syarat yaitu jika berbuat macam-macam maka nyawanyalah yang menjadi jaminannya. Empu Bahulapun menyanggupi syarat tersebut, maka pesta pernikahanpun segera dilangsungkan dengan meriah selama tujuh hari tujuh malam.

Nyi Calon Arang memiliki sebuah kitab lontar yang berisi mantra-mantra sihir, pada suatu malam Nyi Calon Arang membaca dengan keras syair-syair dalam kitab lontar tersebut terkadang suaranya sedih kadang juga terdengar menyeramkan dan Empu Bahulapun bertanya pada Rana Manggali tentang syair yang dibaca Calon Arang dan akhirnya Empu Bahula mengetahui sumber kekuatan Calon Arang ada di kitab lontar tersebut.

Maka pada suatu hari ketika Calon Arang lengah Empu Bahula mengambil kitab tersebut kemudian dia kembali ke Pura milik Empu Baradah dan menyerahkan kitab lontar tersebut. setelah itu Nyi Calon Arang menyadari bahwa kitab lontarnya telah hilang dicuri sesorang dan dia mencurigai Empu Bahulalah yang telah mencurinya. Akhirnya Nyi Calon Arang beserta anak buahnya menyerang Pura milik Empu Bardah maka pertempuran pun tak terelakkan.

Dalam sudut pandang saya mengenai kisah Calon Arang diatas sebetulnya Nyi Calon Arang merupakan seorang janda yang merasa sakit hati atas perlakuan kaum laki-laki terlebih kepada putri semata wayangnya yang tidak ada laki-laki mau meminangnya.

Kedudukan perempuan dalam sebuah karya sastra tidak lepas dari bias gender pengarangnya, rata-rata yang mengisahkan Calon Arang adalah kaum laki-laki sudut pandang yang saya kira cukup subjektif untuk menfsirkan perempuan, bias gender tersebut menjadi jurang pemisah yang cukup terlihat bagaimana seseorang itu mendudukan permpuan dalam sebuah masyarakat.

Saya lihat haya Toeti Heraty yang berani menulis kisah Calon Arang dari persepektif perempuan, Toeti dalam bukunya berjudul Calon Arang; Kisah Perempuan Korban Patriarki dengan berani dia melakukan pembelaan terhadap Calon Arang sebagi korban keganasan kaum laki-laki. Calon Arang yang oleh para pengarang didukukan sebagai perempuan jahat tanpa disadari bahwa kejahatan itu merupakan bentuk perlawanan terhadap kaum laki-laki yang patriarkis.

Buku berjudul Tertulis Calon Arang (1954) karya Pramudya Ananta Toer dan buku berjudul Tapa Suci Sang Baradah (1981) karya Teguh Santoso. Dalam kedua buku tersebut sudah beda tafsir. Pram sendiri tidak memberi ampun pada Calon Arang yang ditampilkan dengan simbol kejahatan, namun dalam karya Teguh Santoso mengisahkan bahwa Empu Baradah masih memberikan ampunan pada Calon Arang yang mati sebagai orang suci. Kedua karya ini memiliki dikotomi makna yang sama yaitu bicara soal jahat-suci, baik-buruk.

Goenawan Mohamad dalam pengantarnya menceritakan Calon Arang yang jahat adalah sudut pandang raja, yaitu Airlangga yang mengutus Empu Baradah untuk menaklukan Calon Arang. Maka disini Calon Arang sebagai korban kekuasaan raja Airlangga. Sementara Toeti Heraty menceritakan Calon Arang dalam prosa lirik sebagai korban terutama sebagai perempuan yang menjadi korban kekuasaan patriarkis.

Dengan kata perempuan korban patriarki maka sudah jelas pula bahwa sang tokoh antagonis sebetulnya adalah kaum laki-laki. Dalam praktik di masayarat peremuan masih saja ditempatkan posisinya dibawah laki-laki, bagitupula dalam sebuah karya sastra ketidak ailan masih saja setia melekat pada perempuan.

Pertunjukan tari tersebut digelar pada Sabtu (3/6/2023) malam. Tarian tersebut bertajuk Dwimuka Ardhanareswari, yang menggambarkan dualisme dalam diri manusia. Seperti baik dan buruk, uma dan durga atau yin dan yang.

"Dalam koreografi ini penggambaran Ratu Girah/Ratu Calon Arang, seorang ratu sakti dengan ilmu Tantra Bhairawa pada waktu marah dan mengeluarkan kesaktiannya yang bisa menghancurkan sekelilingnya. Hal itu yang menyebabkan Calonarang dianggap sebagai dukun ilmu hitam dan jahat. Sehingga tidak tampak sisi baiknya sama sekali. Padahal tidak seperti itu kenyataannya," kata Didik, Minggu (4/6/2023).

"Mas Bupati Kediri, Mas Dhito Himawan Pramana mengapresiasi gelaran ini. Ini merupakan kekayaan tutur yang sangat terkenal di Kabupaten Kediri bahkan mendunia sejak ribuan tahun. Pelurusan sejarah seiring berkembangnya zaman juga perlu dilakukan dan Ratu Calon Arang itu ada sisi baiknya dan milik Kabupaten Kediri. Terbukti saat ini wisatawan-wisatawan dari Bali banyak yang berkunjung ke Kediri, baik di Situs Calon Arang maupun Pura Calon Arang," kata Adi Suwignyo, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri.

Dikutip detikBali dari jurnal terbitan Universitas Udayana berjudul Persepsi Budaya Jawa dalam Kisah Calon Arang: Fungsi Dedaktis dan Sosiologis oleh Sulandjari, berikut kisah singkat tentang Calon Arang.

Karena murka, Calon Arang memerintahkan semua muridnya untuk menyebarkan penyakit ke pesisir Kerajaan Kediri di tengah malam, saat semua penduduk sedang tertidur lelap. Kondisi desa pun kacau balau tak terkendali akibat serangan wabah atau gerubug.

Itu mengapa hingga saat ini, Calon Arang dikenang sebagai sosok yang jahat dengan seabrek kesaktiannya. Namun menurut Jero Wayan Suranta ada banyak hal yang perlu diluruskan dari kisah Calon Arang yang berkembang di masyarakat. Jero merupakan penanggungjawab Pura Dalem Calonarang yang terletak di Putuk Kandangan Kabupaten Kediri.

"Saya asli Bali dan mendapat anugerah pernah 'ditolong' oleh Ratu Calon Arang. Istri saya koma dan kemudian sembuh setelah saya bertemu dengan beliau. Kemudian saya mencari di mana Ratu Calon Arang itu berada, dan ternyata ada di Situs Calon Arang di Desa Sukorejo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri.

"Ada tiga hal. Pertama bahwa Walu Nata ing Dirah/Ratu Calon Arang bukan rajanya ratu hitam/raja ilmu Leak. Kedua, Ratu Calon Arang bukanlah janda karena beliau adalah istri dari Mpu Kuturan. Ketiga sebutan Ratu Dirah harus diluruskan sesuai yang berkembang di Kediri yakni Ratu Girah yang kemudian menjadi toponim wilayah saat ini yakni Gurah, Kabupaten Kediri," papar Jero

Menurut Jero, cap buruk tersemat kepada Ratu Calon Arang karena situasi politik di era Raja Kahuripan Airlangga, yang memiliki darah Bali dan berkuasa di Dhaha Kediri, dengan ibu kota Dhahanapura. Kekuasaannya berakhir pada tahun 1042.

Merdeka.com - Cerita rakyat mengenai Ratu Calonarang atau Calon Arang begitu melegenda. Sosoknya digambarkan sebagai antagonis, nenek sihir berwajah seram. Ratu Calonarang memiliki julukan Nyi Girah atau Janda Girah, karena berasal dari Desa Girah, wilayah Kerajaan Daha.

Sebutan Ratu Calonarang sebagai pribadi yang jahat sudah mendarah daging sejak ribuan tahun lalu. Situs cagar budaya bekas peninggalan Ratu Calonarang berada di Desa Sukorejo Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri.

Tentang hal tersebut terjawab pada Sabtu malam (3/6) di Pura Calonarang, Desa Putuk Kandangan Kabupaten Kediri, dengan penampilan maestro tari dunia Didik Nini Thowok. Karya terbaru Didik Nini Thowok diberi judul Dwimuka Ardhanareswari, yang menggambarkan dualisme dalam diri manusia, seperti baik dan buruk , Uma dan Durga, Yin dan Yang.

"Dalam koreografi ini penggambaran Ratu Girah atau Ratu Calonarang seorang ratu sakti dengan ilmu Tantra Bhairawa pada waktu marah, dan mengeluarkan kesaktiannya yang bisa menghancurkan sekelilingnya. Hal ini yang menyebabkan Calonarang dianggap sebagai dukun ilmu hitam dan jahat, sehingga tidak tampak sisi baiknya sama sekali. Padahal tidak seperti itu kenyataanya," kata Didik Nini Thowok pada merdeka.com.

"Saya asli Bali dan mendapat anugerah pernah ditolong oleh Ratu Calonarang, istri saya koma dan kemudian sembuh setelah saya bertemu dengan beliau. Kemudian saya mencari di mana Ratu Calonarang itu berada, dan ternyata ada di situs Calonarang di Desa Sukorejo Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri. Setelah saya sowan, beliau ingin disempurnakan di tempat yang baru di Kediri dan tempat itu kita bangun Pura Calonarang berada di Putuk Kandangan Kabupaten Kediri," ujar Jero.

"Ratu Calonarang milik Kabupaten Kediri, ini yang harus dipertegas. Selain itu juga perlu dibersihkan nama beliau. Ada tiga hal pertama bahwa Walu Nata ing Dirah atau Ratu Calonarang bukan rajannya ratu hitam atau raja ilmu leak. Kedua, Ratu Calonarang bukanlah janda karena beliau adalah istri dari Mpu Kuturan, Ketiga sebutan Ratu Dirah harus diluruksan sesuai yang berkembang di Kediri yakni Ratu Girah yang kemudian menjadi toponim wilayah saat ini yakni Gurah Kabupaten Kediri," jelasnya.

c01484d022
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages