Penelitian ini bertujuan untuk menemukan pencampuran bahasa yang digunakan oleh para tokoh dalam film tenggelamnya kapal Van Der Wijck serta gambaran kehidupan masyarakat minang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif karena akan mengklasifikasikan penggunaan campur kode pada penggunaan bahasa dan deskripsi kehidupan masyarakat minang dalam film ini. Hasil penelitian ini berupa temuan campur kode bahasa yang digunakan oleh tokoh sebagai kekayaan Indonesia yang memiliki beragam bahasa. Gambaran kehidupan masyakarat yang dimaksud dalam penelitian ini tidak hanya interaksi sosial tetapi juga aturan hidup. Masyarakat minang yang memiliki aturan untuk anak dan kemenakan merupakan keunikan tersendiri. Tatanan kehidupan masyarakat Minangkabau merupakan adat istiadat yang di bentuk oleh pemuka-pemuka adat terdahulu. Masyarakat Minangkabau menjadikan niniak mamak atau penghulu sebagai panutan dalam kehidupan sosial, alim ulama menjadi tempat bertanya, dan kemenakan menjadikan mamaknya sebagai tempat bermusyawarah dalam kehidupan. Selain fungsi mamak, gambaran kehidupan sehari-hari masyakarat minang tidak terlepas dari budaya sopan santun yang terikat dengan adat.
Tim arkeolog BPCB Jawa Timur mulai mencari van der Wijck sejak 29 April tahun ini. Sebanyak 25 orang dari BPCB, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lamongan, Polisi Air dan Udara, serta nelayan bekerja menyusuri perairan Lamongan. Kisaran lokasi tenggelamnya kapal didapat tim dari dokumentasi sejarah. Menurut laporan April lalu, hari pertama pencarian, penyelam langsung bisa melihat bangkai kapal.
Kapal van der Wijck yang menjadi latar populer novel dan film terkenal Tenggelamnya Kapal van der Wijck tenggelam pada 20 November 1936 dalam perjalanan Surabaya-Batavia. Kapal ini melayani rute Makassar-Palembang, berkapasitas mengangkut 1.093 orang. Di hari nahasnya, van der Wijck mengangkut 223 orang penumpang dan awak dari Surabaya. Sebanyak 153 orang selamat, 70 sisanya hilang. Dokumentasi sejarah yang memuat kronologi tenggelamnya kapal van der Wijck menyebut, kapal tiba-tiba miring dan tenggelam dengan cepat hanya dalam waktu enam menit.
Meski begitu, tenggelamnya Kapal Van der Wijck pada 1936 masih menjadi misteri hingga kini. Bahkan, bangkai kapal yang disebut-sebut sebagai Titanic Indonesia itu keberadaan masih abu-abu, walaupun tim arkeolog BPCB Jatim mengklaim telah menemukan bangkai kapal penumpang terbesar di zamannya itu.
Nelayan yang tinggal di pesisir Pantai Brondong berusaha menyelamatkan para penumpang Kapal Van der Wijck. Sebagai ucapan terima kasih kepada warga dan untuk mengenang tenggelamnya kapal mewah tersebut, Pemerintah Hindia Belanda mendirikan Monumen Van der Wijck.
Dalam film tenggelamnya kapal Van der Wijk ada tiga poin penting yang menunjukkan representasi Budaya Matrilineal Minangkabau berdasarkan 1) Paruik, Organisasi dan Suku, 2) Hubungan kewajiban timbal balik antara mamak dengan kemenakan, 3) Makna falsafah Adat bersandi Syarak, Syarak bersandi Kitabullah.
Hamka dalam novelnya mengutip tulisan surat kabar Aneta (Algemeen Nieuws-en Telegraaf-Agentschap/kantor berita pertama di Indonesia) mengabarkan detik-detik tenggelamnya kapal uap milik perusahaan pelayaran Belanda, Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) -- cikal bakal Pelni.