[daarut-tauhiid] "I am a Second Wife"

0 views
Skip to first unread message

al-palagani

unread,
May 18, 2006, 3:11:28 AM5/18/06
to daarut-...@yahoogroups.com

"I am a Second Wife"
Sabtu, 13 Mei 2006 - 20:13:58 WIB

Oleh:

M. Syamsi Ali *)

Sekitar tiga bulan lalu, the Islamic Forum yang diadakan setiap Sabtu
di Islamic Center New York kedatangan peserta baru. Pertama kali
memasuki ruangan itu saya sangka ia wanita Bosnia. Dengan pakaian
Muslimah yang sangat rapih, blue eyes, dan kulit putih bersih.
Pembawaannya pun sangat pemalu, dan seolah seseorang yang telah lama
paham etika Islam.

Huda, demikianlah wanita belia itu memanggil dirinya. Menurutnya,
baru saja pindah ke New York dari Michigan ikut suami yang
berkebangsaan Yaman. Suaminya bekerja pada sebuah perusahaan mainan
anak-anak (toys).

Tak ada menyangka bahwa wanita itu baru masuk Islam sekitar 7 bulan
silam. Huda, yang bernama Amerika Bridget Clarkson itu, adalah mantan
pekerja biasa sebagai kasir di salah satu tokoh di Michigan. Di toko
inilah dia pertama kali mengenal nama Islam dan Muslim.

Biasanya ketika saya menerima murid baru untuk bergabung pada kelas
untuk new reverts, saya tanyakan proses masuk Islamnya, menguji
tingkatan pemahaman agamanya, dll. Ketika saya tanyakan ke Huda
bagaimana proses masuk Islamnya, dia menjawab dengan istilah-istilah
yang hampir tidak menunjukkan bahwa dia baru masuk Islam. Kata-
kata "alhamdulillah"."Masya Allah" dst, meluncur lancar dari
bibirmya.

Dengan berlinang air mata, tanda kebahagiaannya, Huda menceritakan
proses dia mengenal Islam. "I was really trapped by
jaahiliyah (kejahilan)", mengenang masa lalunya sebagai
gadis Amerika. "I did not even finish my High School
and got pregnant when I was only 17 years old", katanya dengan
suara lirih. Menurutnya lagi, demi mengidupi anaknya
sebagai `a single mother' dia harus bekerja. Pekerjaan yang bisa
menerima dia hanyalah grocery kecil di pinggiran kota Michigan.

Suatu ketika, toko tempatnya bekerja kedatangan costumer yang spesial.
Menurutnya, pria itu sopan dan menunjukkan `respek' kepadanya sebagai
kasir. Padahal, biasanya, menurut pengalaman, sebagai wanita muda
yang manis, setiap kali melayani pria, pasti digoda atau menerima
kata-kata yang tidak pantas. Hingga suatu ketika, dia sendiri
berinisiatif bertanya kepada costumernya ini, siapa namanya
dan tinggal di mana.

Mendengar namanya yang asing, Abdu Tawwab, Huda semakin bingung.
Sebab nama ini sendiri belum pernah didengar. Sejak itu pula setiap
pria ini datang ke tokonya, pasti disempatkan bertanya lebih jauh
kepadanya, seperti kerja di mana, apakah tinggal dengan keluarga, dll.


Perkenalannya dengan pria itu ternyata semakin dekat, dan pria itu
juga semakin baik kepadanya dengan membawakan apa yang dia
sebut `reading materials as a gift". Huda mengaku, pria itu memberi
berbagai buku-buku kecil (booklets).

Dan hanya dalam masa sekitar tiga bulan ia mempelajari Islam,
termasuk berdiskusi dengan pria tersebut. Huda merasa bahwa
inilah agama yang akan menyelamatkannya.

"Pria tersebut bersama isterinya, yang ternyata telah mempunyai 4
orang anak, mengantar saya ke Islamic Center terdekat di Michigan.
Imam Islamic Center itu menuntun saya menjadi seorang Muslimah,
alhamdulillah!", kenang Huda dengan muka yang ceria.

Tapi untuk minggu-minggu selanjutnya, kata Huda, ia tidak
berkomunikasi dengan pria tersebut. Huda mengaku justeru
lebih dekat dengan isteri dan anak-anaknya.
Kebetulan lagi, anaknya juga berusia tiga tahun, maka
sering pulalah mereka bermain bersama.
"Saya sendiri belajar shalat, dan ilmu-ilmu
dasar mengenai Islam dari Sister Shaima,
nama isteri pria yang mengenalkannya pada Islam itu.

Kejamnya Poligami

Suatu hari, dalam acara The Islamic Forum, minggu lalu, datang
seorang tamu dari Bulgaria. Wanita dengan bahasa Inggris seadanya
itu mempertanyakan keras tentang konsep poligami dalam Islam.
Bahkan sebelum mendapatkan jawaban, perempuan ini sudah
menjatuhkan vonis bahwa "Islam tidak menghargai sama sekali
kaum wanita", katanya bersemangat.

Huda, yang biasanya duduk diam dan lebih banyak menunduk,
tiba-tiba angkat tangan dan meminta untuk berbicara.
Saya cukup terkejut. Selama ini, Huda tidak akan pernah
menyelah pembicaraan apalagi terlibat dalam sebuah
dialog yang serius. Saya biasa berfikir bahwa Huda ini
sangat terpengaruh oleh etiket Timur Tengah, di mana
kaum wanita selalu menunduk ketika berpapasan
dengan lawan jenis, termasuk dengan gurunya sendiri.

"I am sorry Imam Shamsi", dia memulai. "I am bothered enough
with this woman's accusation", katanya dengan suara
agak meninggi. Saya segera menyelah: "What bothers you,
sister?". Dia kemudian menjelaskan panjang lebar
kisah hidupnya, sejak masa kanak-kanak, remaja,
hingga kemudian hamil di luar nikah, bahkan hingga kini
tidak tahu siapa ayah dari anak lelakinya yang kini
berumur hampir 4 tahun itu.

Tapi yang sangat mengejutkan saya dan banyak peserta diksusi
hari itu adalah ketika mengatakan: "I am a second wife."
Bahkan dengan semangat dia menjelaskan, betapa dia jauh
lebih bahagia dengan suaminya sekarang ini, walau suaminya itu
masih berstatus suami wanita lain dengan 4 anak.
"I am happier since then", katanya mantap.

Dia seolah berda'wah kepada wanita Bulgaria tadi: "Don't you see what
happens to the western women around? You are strongly opposing
polygamy, which is halaal, while keeping silence to free sex
that has destroyed our people" ,jelasnya. Saya kemudian menyelah
dan menjelaskan kata "halal" kepada wanita Bulgaria itu.

"I know, people may say, I have a half of my husband.
But that's not true", katanya. Lebih jauh dia menjelaskan bahwa
poligami bukan hanya masalah suami dan isteri. Poligami dan kehidupan
keluarga menurutnya, adalah masalah kemasyarakatan.
Dan jika seorang isteri rela suaminya beristeri lagi demi
kemaslahatan masyarakat, maka itu adalah bagian
dari pengorbanannya bagi kepentingan masyarakat dan agama.

Kami yang dari tadi mendengarkan penjelasan Huda itu hanya ternganga.
Hampir tidak yakin bahwa Huda adalah isteri kedua, dan juga hampir
tidak yakin kalau Huda yang pendiam selama ini ternyata memiliki
pemahaman agama yang dalam. Saya kemudian bertanya kepada Huda:
"So who is your husband?" Dengan tertawa kecil dia menjawab
"the person who introduced me to Islam". Dan lebih mengejutkan lagi:
"his wife basically suggested us to marry",
menutup pembicaraan hari itu.

Diskusi Islamic Forum hari itu kita akhiri dengan penuh bisik-bisik.
Ada yang setuju, tapi ada pula yang cukup sinis. Yang pasti,
satu lagi rahasia terbuka. Saya sendiri hingga hari ini belum pernah
ketemu dengan suami Huda karena menurutnya, "he is a shy person.
He came to the Center but did not want to talk to you",
kata Huda ketika saya menyatakan keinginan untuk ketemu suaminya.

"Huda, may Allah bless you and your family. Be strong, many
challenges lay ahead in front of you", nasehatku.
Doa kami menyertaimu Huda, semoga dikuatkan dan dimudahkan!


New York, 10 Mei 2006


*) Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York.
Syamsi
adalah penulis rubrik "Kabar Dari New York" di www.hidayatullah.com

------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Get to your groups with one click. Know instantly when new email arrives
http://us.click.yahoo.com/.7bhrC/MGxNAA/yQLSAA/vbOolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->

===================================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
===================================================================
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhii...@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages