Suap Priayi Modern

1 view
Skip to first unread message

Uud Kurniawan

unread,
Apr 7, 2010, 4:11:23 AM4/7/10
to d3_elekt...@googlegroups.com

Suap Priayi Modern

Gurita suap yang dipaparkan Kompas, Senin (5/4), menunjukkan sangat meratanya pejabat negara yang gampang disentuh penyuapan; mulai dari lembaga peradilan, kejaksaan, Komisi Pengawas Persaingan Usaha, polisi, pengacara, DPR, Komisi Pemberantasan Korupsi, Badan Pemeriksa Keuangan, Bea dan Cukai, kementerian, hingga Komisi Yudisial.

Kenyataan itu menunjukkan, di negeri ini korupsi dilakukan dengan kompak, manis, dan tentu tanpa rasa bersalah. Bahkan, sangat mungkin para koruptor punya semboyan yang cukup heroik: ”korupsi adalah hak setiap bangsa”.

Seiring ringannya hukuman, praktik suap atau korupsi pun semakin progresif. Jika pada masa Orde Baru uang yang dikorupsi masih sekitar puluhan sampai ratusan juta, kini miliaran bahkan triliunan rupiah. Koruptor kelas jutaan dianggap ecek-ecek, sedangkan koruptor kelas miliaran atau triliunan dianggap militan dan canggih. Masing-masing koruptor ”bersaing” jadi progresif dan militan. Korupsi pun mengenal liberalisme!

Progres capaian nominal korupsi bukan hanya mencerminkan peningkatan kerakusan para koruptor, melainkan juga menunjukkan tingkat resistensi yang tinggi atas moralitas (integritas) dan keadilan. Logikanya, semakin besar uang yang ditilep, semakin rendah martabat sang koruptor. Dalam skop lebih luas, logika itu bisa juga dipakai untuk membaca kenyataan: semakin banyak dan lengkap pejabat negara melakukan korupsi, semakin rendah martabat para penyelenggara negara. Dampaknya: penderitaan rakyat pun semakin meluas dan mendalam alias masif.

”Cash flow” tinggi

Sejak Orde Baru, para pejabat negara semakin tegas menjadi kelas menengah yang dapat digolongkan sebagai priayi modern. Mereka tidak hanya menguasai modal kultural dan simbolis, melainkan juga modal ekonomi. Pada saat itulah, nilai-nilai kepriayian tercampur dengan nilai-nilai ekonomi dan bahkan jadi cenderung identik dengannya. Kepriayian minus kemampuan ekonomis tak akan sempurna meskipun hal yang sebaliknya cenderung tetap juga berlaku. Maka, menjadi priayi tidak lagi dibayangkan sekadar jadi pegawai negeri, orang kantoran, dengan gaya hidup priayi, melainkan sekaligus memperoleh kekayaan (Umar Kayam: Kelir Tanpa Batas: 2001).

Pergeseran kepriayian yang diurai Umar Kayam menunjukkan betapa konotasi ”memperoleh kekayaan” atau ”kemampuan ekonomis” cukup menonjol dalam status dan peran priayi modern saat ini. Tuntutan ”harus kaya” atau ”harus bergaya hidup mewah” akhirnya jadi beban para priayi modern. Jika tak kuat menyangga beban itu, para priayi modern terpaksa mengeksploitasi peran sosialnya, termasuk dengan cara menyimpang.

Gaya hidup mewah menuntut arus kas (cash flow) yang tinggi dan ajek. Namun, jika gaji tidak mencukupi, korupsi/suap akhirnya dipilih sebagai jalan. Apalagi jika para priayi modern itu masih harus dituntut untuk mengongkosi biaya sosial lain karena menjadi patron masyarakat, terutama keluarga besar priayi bersangkutan. Tuntutan ini meniscayakan priayi mempunyai modal ekonomi yang besar dan sering kali menjerumuskan mereka ke dalam tindakan korupsi (Heather Sutherland: 1983).

Penjelasan Sutherland bisa dijodohkan dengan contoh, misalnya masyarakat yang materialistis selalu menuntut pejabat harus kaya, punya mobil mewah, punya banyak rumah, berpenampilan perlente, dan tuntutan lain yang memenuhi citra orang sukses. Kekayaan dan penampilan fisik sering dijadikan sebagai ukuran kepribadian seseorang.

Kini kita pun sulit menemukan pejabat yang hidup dan berpenampilan sederhana, tetapi memiliki integritas, komitmen, dan kemampuan seperti, misalnya, hakim, anggota DPR, jaksa, dan polisi yang naik mobil dan rumah sederhana. Kenyataan yang menonjol adalah pejabat yang berpenampilan bak selebritas atau pesohor. Citra dianggap segalanya. Di luar itu, dianggap tidak bonafide. Mindset ini turut andil dalam maraknya budaya korupsi di kalangan pejabat.

Saatnya kepriayian dikembalikan kepada maknanya yang sejati, yakni kelas menengah yang mendapatkan pencerahan melalui pendidikan dan nilai-nilai kearifan sehingga mampu memancarkan fajar budinya kepada masyarakat yang lemah atau dilemahkan oleh struktur dan kultur. Pancaran fajar budi itu mewujud dalam solidaritas sosial dan solidaritas kebangsaan.

Betapa mulia jika pejabat negara atau kelas menengah lain memiliki etos kepriayian yang tercerahkan. Mereka selalu menyadari, keberadaan mereka berasal dari rakyat: pemilik sah kedaulatan. Jika nekat berkhianat, misalnya menerima suap, pasti kualat. Siapa pun pejabat yang tak berada dalam hati nurani rakyat pasti terjungkal, cepat atau lambat. Mungkin juga mereka harus siap menghadapi regu tembak jika hukuman mati bagi koruptor diberlakukan. Tak ada untungnya ngeman koruptor. Juga tak perlu ada karangan bunga buat kematian mereka.

Indra Tranggono Pemerhati Budaya, Bermukim di Yogyakarta  [Kompas, 07/04/10]

Regards
Uud Kurniawan

muhamad aribono

unread,
Apr 27, 2010, 9:16:06 AM4/27/10
to d3_elekt...@googlegroups.com

Permiisiiiiii....... Numpang Lapak ya... ^_^

 

Butuh Uang, Dijual CEPAT. Tanah persawahan di Kota KENDAL Jawa Tengah. Tepatnya :

Jln. Manggisan Kec. kendal (belakang koranmil kendal).

Kota yang akan terus bekembang. Kota yang Beribadat (Bersih,Indah,Barokah Damai,Aman dan Tertib)

begitulah Slogannya... J

 

Dengan Luas 5250 m2. Dengan harga Cuma 150 ribu/m.

 

Lokasi Strategis, Dekat jalan Raya Pantura, Dipusat kota Kabupaten, dekat pemukiman, dijalur Hijau.

 

Bisa Buat Rumah Bersalin, Perumahan, Gedung Olahraga (Futsal,basket,badminton), Hotel, Home industri non Pabrik atau invest tanah yang harganya akan terus naik.

 

Surat-surat LENGKAP.....KAP....

 

  Cocok juga buat yang ingin berwiraswata, bertani, atau untuk menghabiskan hari-hari bersama keluarga.

 

Anda berminat, atau saudara-saudara anda, bapak, ibu, Om, Tante, Kakek, Nenek, Kerabat dekat, teman kantor,tetangga....

 

Silahkan :

  Hubungi ‘bono’ (tanpa perantara) : 08562692115


Terima Kasih..




Syaifudin Ihsan

unread,
Apr 27, 2010, 9:27:04 AM4/27/10
to d3_elekt...@googlegroups.com
Ada foto lokasinya gak boss?


From: muhamad aribono <bon_...@yahoo.com>
To: d3_elekt...@googlegroups.com
Sent: Tue, April 27, 2010 6:16:06 AM
Subject: [d3_elektro] Numpang Lapak ya

azwar dwi artanto

unread,
Apr 27, 2010, 10:07:08 AM4/27/10
to d3_elekt...@googlegroups.com
Bantuin sundul gan... up..up.. up....


Dari: muhamad aribono <bon_...@yahoo.com>
Kepada: d3_elekt...@googlegroups.com
Terkirim: Sel, 27 April, 2010 22:16:06
Judul: [d3_elektro] Numpang Lapak ya

nugh

unread,
Apr 28, 2010, 11:59:11 PM4/28/10
to d3_elekt...@googlegroups.com
Bebas banjir ga gan....
 

B'Regards,

Nugh

 

***Jangan lupa minum air putih***




From: azwar dwi artanto <azwar_dw...@yahoo.com>
To: d3_elekt...@googlegroups.com
Sent: Tue, April 27, 2010 9:07:08 PM
Subject: Bls: [d3_elektro] Numpang Lapak ya

(Ahmad Masykur) احمد مشكور

unread,
Apr 29, 2010, 1:59:37 AM4/29/10
to d3_elekt...@googlegroups.com
Manstab gan. Sundul lagi up up!!

Pada tanggal 29/04/10, nugh <nugh_...@yahoo.com> menulis:
--
Ahmad Masykur
Microsoft MVP ASP/ASP.NET
https://mvp.support.microsoft.com/profile/masykur | http://www.masykur.web.id
http://twitter.com/cahnom
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages