Daftar kata Swadesh adalah daftar yang dikembangkan oleh seorang linguis bernama Morris Swadesh. Daftar ini digunakan sebagai alat pembelajaran tentang evolusi bahasa. Daftar ini mengandung satu set kata-kata dasar yang dapat ditemukan di hampir semua bahasa. Daftar ini tersedia dalam berbagai variasi, antara lain:
Bahasa Madura (Bhsa Madhur; pelafalan [bʰɤsa maʈʰurɤ], Pghu: ٻاْسا ماڊوراْ, Carakan: ꦧꦱꦩꦢꦸꦫ) adalah bahasa yang digunakan suku Madura. Bahasa Madura mempunyai penutur kurang lebih 7.179.356 orang (perkiraan), dan terpusat di Pulau Madura, Jawa Timur atau di kawasan yang disebut kawasan Tapal Kuda terbentang dari Pasuruan timur sampai Banyuwangi, Kepulauan Masalembo, Bawean.
Penutur bahasa Madura yang merupakan transmigran , juga dapat ditemui di pulau Kalimantan, masyarakat suku Madura banyak mendiami daerah yang terpusat di kawasan Sambas, Pontianak, Bengkayang dan Ketapang, Kalimantan Barat, sedangkan di Kalimantan Tengah mereka berkonsentrasi di daerah Kotawaringin Timur, Palangkaraya dan Kapuas.
Pronomina persona adalah pronomina yang dipakai untuk mengacu ke orang; yang dibagi menjadi pronomina persona pertama, kedua, dan ketiga. Pronomina persona yang digunakan dalam bahasa Madura adalah sebagai berikut:
Nomina turunan adalah nomina yang berupa bentuk kompleks. Nomina turunan dalam bahasa Madura dapat dikelompokkan menjadi (a) nomina berafiks, (b) nomina reduplikasi, (c) nomina gabungan proses, dan (d) nomina komposisi.
Bahasa Madura juga memiliki serapan dari bahasa Melayu sebagai sesama bangsa Austronesia, bahasa Arab, bahasa Tionghoa, dan beberapa bahasa lainnya. Bahasa Madura juga memiliki keterkaitan erat dengan Bahasa Sunda, Bahasa Jawa, dan Bahasa Bali mengingat masih merupakan satu komunitas budaya. Sebagian kata-kata dalam bahasa Madura mirip bahasa Melayu, bahkan ada beberapa kata yang mirip dengan yang ada pada dengan Bahasa Banjar, bahasa Minangkabau maupun bahasa bahasa di Pulau Sumatera & Kalimantan lainya, tetapi sudah tentu dengan lafal yang berbeda. Minangkabau mengucapkan "a" sebagai "o" pada posisi akhir, sedangkan pada bahasa Madura, diucapkan "ə" ("e" pepet) atau "a".
Bahasa Madura mempunyai lafal sentak dan ditekan terutama pada konsonan [b], [d], [j], [g], jh, dh dan bh atau pada konsonan rangkap seperti jj, dd, dan bb. Namun penekanan ini sering terjadi pada suku kata bagian tengah.
ngghi-Bhunten adalah bentuk kalimat yang paling sopan dan paling halus yang digunakan untuk menunjukkan rasa hormat terhadap orang yang diajak bicara ataupun yang sedang dibicarakan. Seperti berbicara kepada orang tua, orang yang lebih tua, guru, orang yang lebih tinggi jabatannya, tokoh masyarakat, dan tokoh-tokoh yang dihormati oleh masyarakat umum.
Enj'-Iy adalah bentuk kalimat yang digunakan dalam situasi keakraban di antara teman sebaya atau orang-orang yang lebih muda. Enj'-Iy biasanya sering dipakai dalam kehidupan pergaulan sehari-hari. Enj'-Iy tidak umum digunakan ketika dalam pertemuan pertama, biasanya penutur meminta izin terlebih dahulu untuk menggunakan Enj'-Iy setelah mengenal satu sama lain. Terhadap penutur yang lebih muda atau anak-anak, Enj'-Iy umum dan dapat diterima untuk digunakan tanpa meminta izin terlebih dahulu.
Penggunaan Enj'-Iy terhadap senior atau orang yang lebih tua atau tinggi jabatannya tanpa izin, dianggap tidak sopan. Enj'-Iy hanya digunakan dengan orang yang sebaya usianya, dengan orang yang lebih muda, atau (jika dengan orang yang lebih tua) harus seizin orang tersebut.
Jika tidak diketahui usia atau status orang yang diajak bicara, lebih baik tidak menggunakan Enj'-Iy. Namun jika tahu orang tersebut usianya lebih muda, boleh menggunakan Enj'-Iy, tapi untuk kenyamanan lebih baik minta izin terlebih dahulu untuk menggunakan Enj'-Iy.
Dialek yang dijadikan acuan standar bahasa Madura adalah dialek Sumenep, karena Sumenep pada masa lalu merupakan pusat kerajaan dan kebudayaan Madura. Sedangkan dialek-dialek lainnya merupakan dialek rural yang lambat laun bercampur seiring dengan mobilisasi yang terjadi di kalangan masyarakat Madura. Untuk di pulau Jawa, dialek-dialek ini sering kali bercampur dengan bahasa Jawa sehingga kerap dipanggil sebagai dialek Pandalungan daripada sebagai Jawa. Masyarakat di Pulau Jawa, terkecuali daerah Situbondo, Bondowoso, dan bagian timur Probolinggo umumnya menguasai Bahasa Jawa selain Madura.
News Room, Kamis ( 17/12 ) Dalam bahasa Madura ada 2 jenis konsonan yang istilahnya mirip, namun berbeda penggunaannya. Seperti konsonan ganda dan konsonan kembar. Konsonan ganda ini juga disebut konsonan Mardhuwane.
"Contohnya konsonan /l/,/r/,/w/,/y/, tidak memiliki suara yang jelas. Suaranya tergantung pada kecap suara yang ada di depannya. Oleh karenanya dinamakan konsonan ganda atau Mardhuwane dalam bahasa Maduranya. Malah ada juga sebagian yang menamakannya atau mengistilahkannya dengan konsonan yang tidak sempurna,"kata Rabiatul Adawiyah, salah satu pemerhati Bahasa Madura di Sumenep, pada Media Center.
Secara sederhana, menurut Rabiatul, meminjam istilah P. Penninga, aksara /l/,/r/,/w/,/y/ tersebut mengikuti seperti apa bunyi konsonan yang ada di depannya. Bersuara tajam apabila kecap berada di depan konsonan bersuara tajam, seperti kata pola, rowa, cara keya. Juga bersuara halus apabila kecap berada di depan konsonan bersuara halus, seperti bule, dhara, guwa, biya, dan lain semacamnya.
"Konsonan Mardhuwane atau konsonan ganda /l/ dan /r/ menjadi atau bersuara tajam apabila berada di permulaan kecap salah satu kata. Seperti kata lagu, lebur, raja, rebing, dan lainnya,"tambah Rabiatul.
Konsonan Mardhuwane atau konsonan ganda /w/, dan /y/, juga selamanya tidak bisa menjadi aksara awal atau permulaan, selain pada kata rangkap dan kata asing/manca."Seperti dalam kata rangkap wak-kowagan, wang-guwang, dan kata manca seperti kata wajib, wesel, wortel, dan lainnya,"imbuh Rabiatul.
Sementara mengenai konsonan kembar, di dalam Bahasa Madura, banyak bunyi kembar yang harus ditulis dengan konsonan kembar juga. Seperti misalnya kata-kata bacca, billa, loppa, sossa, meller, pettes, dan lainnya. Kata bacca, huruf /c/-nya dua, billa huruf /l/-nya dua, loppa huruf /p/-nya dua, dan seterusnya.
Rabiatul menjelaskan, ada beberapa bunyi kembar yang jika tidak ditulis dengan konsonan kembar bisa mengganggu atau mengubah arti, sehingga bisa timbul kerancuan dalam maknanya dengan kata sama, namun tidak menggunakan konsonan kembar. Seperti misalnya kata bacca dengan baca.
Di Pulau Kalimantan, masyarakat Madura bertumpu di kawasan Sambas, Pontianak, Bengkayang dan Ketapang, Kalimantan Barat. Bagi kawasan Kalimantan Tengah mereka bertumpu di daerah Kotawaringin Timur, Palangkaraya dan Kapuas. Namun kebanyakan generasi muda Madura di kawasan ini sudah hilang penguasaan terhadap bahasa ibunda mereka.
Bahasa Madura banyak dipengaruhiI oleh Bahasa Jawa, Melayu, Bugis, Tionghoa dan lain sebagainya. Banyak juga kata-kata dalam bahasa ini yang berakar dari bahasa Indonesia atau Melayu bahkan dengan Minangkabau, tetapi dengan lafaz yang berbeza.
Dialek yang dijadikan acuan baku Bahasa Madura adalah dialek Sumenep, kerana Sumenep merupakan pusat kerajaan dan kebudayaan Madura di masa lalu.Dialek-dialek lainnya merupakan dialek rural yang telah bercampur seiring dengan mobilisasi yang terjadi di kalangan masyarakat Madura. Di pulau Jawa, dialek-dialek ini seringkali bercampur dengan Bahasa Jawa sehingga kerap mereka lebih suka dipanggil sebagai Pendalungan daripada sebagai Madura. Masyarakat di Pulau Jawa kecuali di daerah Situbondo, Bondowoso, dan bahagian timur Probolinggo secara umumnya menguasai Bahasa Jawa selain Madura.
News Room, Senin ( 07/09 ) Bahasa Madura tak hanya sekadar bahasa daerah (vernacular language), melainkan juga lingua franca. Penuturnya tak hanya di 4 Kabupaten di pulau Madura. Namun, hampir separuh dari bagian timur pulau Jawa (daerah tapal kuda) juga menggunakan bahasa Madura, sehingga di setiap sekolah dari daerah tersebut juga diajarkan materi bahasa Madura.
Namun, kini Bahasa Madura mulai sedikit terpinggirkan, seakan ada yang menghambat perkembangan bahasa ini. Menurut Rabiatul, ada beberapa faktor yang menjadi penghambat utamanya. "Bahasa akan berkembang dengan baik, apabila penuturnya taat asas. Disamping itu, juga jika merasa bangga menggunakan bahasanya pada setiap kesempatan,"kata salah seorang guru di SMPN 1 Saronggi ini.
Ironisnya, saat ini kenyataan di lapangan sehari-hari sebagian penutur Bahasa Madura sudah tidak lagi peduli terhadap kebenaran kaidah bahasanya. Faktor ini dipengaruhi lingkungan. Tidak sedikit orang tua yang kurang bangga, justru jika tidak menggunakan istilah-istilah dalam bahasa Indonesia. "Seperti panggilan papi-mami misalnya,"kata Rabiatul.
Faktor lainnya menurut Rabiatul, ialah kurangnya perhatian terhadap pertumbuhan dan perkembangan Bahasa Madura. Hal itu terlihat dari rasa malu atau kurang percaya diri menggunakan Bahasa Madura dalam kesempatan yang menguntungkan. "Seperti di saat akad nikah, resepsi perkawinan dan lain sebagainya,"tambahnya.
Faktor lain yang agak memprihatinkan, ialah saat timbul rasa malu jika disebut sebagai orang Madura. "Padahal justru kebanyakan yang di rantau sana, malah bangga menunjukkan atribut ke-Madura-annya, seperti memakai busana pesak hitam-hitam, kaos loreng merah putih, membentuk perkumpulan sesama komunitas Madura, dan lain-lainnya yang merupakan kebanggaan Madura asli,"tutupnya. ( Farhan, Esha )
News Room, Kamis ( 28/04 ) Sebagai bagian dari budaya Madura, sejatinya bahasa Madura hidup di tengah gempuran empat jaman. Setiap jaman memberikan pengaruh yang tidak sedikit. Salah satu praktisi senior bahasa Madura, almarhum Raden Panji Abdus Sukur Notoasmoro, pernah mengungkapkan secara garis besar Madura memiliki empat jaman.
Di masa pertama dan kedua, hampir tidak ditemukan literatur tertulis mengenai bahasa Madura, maupun sastranya. Di masa itu memang masih belum ada tradisi menulis, kecuali di kalangan tertentu. Tradisi menulis mulai bergema di era Balai Pustaka tahun 1920-an, bagian dari era neofedalisme.
795a8134c1