Achdiat, seorang jurnalis serta redaktur yang pernah bergabung dengan penyair eksentrik Chairil Anwar dan Partai Sosialis Indonesia, menulis Atheis antara bulan Mei 1948 dan Februari 1949. Bahasa Indonesia yang digunakannya dipengaruhi oleh bahasa Sunda, dan gaya penulisannya lebih mirip gaya penulis Minang dari periode sebelumnya daripada para penulis kontemporer. Terutama membahas mengenai keimanan, novel ini juga menyinggung hubungan modernitas dan tradisionalisme. Biarpun Achdiat menegaskan bahwa karya ini dimaksud untuk realis, perlambangan dan hubungan simbolis pernah diusulkan tentang Atheis.
Dalam keadaan sakit-sakitan, Hasan mendekati seorang jurnalis dan menyerahkan suatu tulisan berisi riwayat hidupnya; jurnalis ini bersedia menerbitkan karya Hasan itu bilamana terjadi sesuatu kepada Hasan. Tak lama kemudian, Hasan keluar rumah setelah jam malam dan tertembak oleh patroli Jepang. Dia lalu meninggal setelah disiksa, dengan kata-kata terakhirnya "Allahu Akbar". Hari berikutnya, Rusli dan Kartini menjemput mayatnya.
Pada tahun 1986, Achdiat Karta Mihardja menulis bahwa Atheis dimaksud untuk mempertimbangkan ada-tidaknya Tuhan.[15] Menurut Mahayana dkk., tema utama ini terdapat di seluruh novel; mereka juga mencatat bahwa saat Atheis diterbitkan pertanyaan tersebut belum pernah dibahas dalam karya sastra Indonesia modern.[3] Maier berpendapat bahwa rasa bersalah, ketakutan, dan penyesalan menjadi dorongan kuat untuk novel ini.[16]
582128177f