Berdzikir kepada Allah juga dapat memudahkan yang sulit, melapangkan yang semplt, meringankan yang berat, dan menghilangkan ketakutan dari hati. Ini semua tidak diragukan lag), sebab Allah Swt telah berfirman."(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram." (QS. ar-Rad; 28)Penulis buku ini adalah seorang Chemical Engineer (Sarjada Tehnik Klmia) dan juga seorang kiyai kampung di kawasan Pakujaya, Serpong Tangerang.Oleh karena itu, alangkah baiknya jika buku pertama dari seri buku Membuka Pintu Rahmat ini kita amalkan; yang merupakan lembar Dzikir dan Munajat yang biasa dibaca di Pesantren Daarul Qur'an Pimpinan Ust. Yusuf Mansur setiap bulan pada sabtu ketiga di acara Dzikir Munajat.Selamat membaca dan mengamalkannya, mudah-mudahan Allah Swt memberikan ridha-Nya kepada kita. Amin.
Penyucian hati dan pembersihannya secara menyeluruh dari segala hal selain Allah SWT merupakan syarat awal bagi kaum sufi dalam thariqatnya sedangkan kunci yang harus dilalui adalah sebagaimana ... Lihat Selengkapnya
Perpustakaan Universitas Bina Sarana Informatika merupakan layanan yang diberikan kepada civitas akademik khususnya mahasiswa untuk memperoleh informasi seperti buku, majalah, jurnal, prosiding, dll.
Kesempurnaan ibadah menjadi matlamat utama umat Islam. Ia hanya dapat dicapai apabila ibadah dikerjakan selaras dengan peraturannya, iaitu tidak mengerjakan sebahagian daripadanya dan kemudian mengabaikan yang lain. Contohnya, mengerjakan tahajud tetapi mengabaikan solat subuh yang fardu. Buku ini memaparkan kaedah mengurus waktu supaya solat tahajud dikerjakan tidak mengabaikan ibadat lain.
Berbeza dengan buku pandauan ibadat yang lain, Munajat Malam tidak sekadar memberikan panduan beribadat pada waktu malam. Sebaliknya, ia membimbing pembaca agar menghayati dan memahami erti pengabdian kepada Pencipta. Bermula dari waktu siang, pembaca diajar menyiapkan diri daripada aspek rohani dan fizikal agar mampu bangun beribadat pada waktu malam. Tip-tip yang diberikan juga sangat dan praktikal untuk siapa sahaja yang mengamalkannya.
Yusni A. Ghazali atau nama penuh, Muhammad Yusni al-Ghazali adalah anak kelahiran Ponorogo, Jawa Timur. Beliau mendapat didikan agama sejak sekolah rendah dan menengah hingga berjaya melanjutkan pengajian ke Universiti Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Seterusnya beliau meneruskan pengajiannya ke High Institute of Hadith Science Darus Sunnah Ciputat, Jakarta di bawah asuhan Prof Dr. Ali Mustafa Yakub (Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta).
Penulisan buku panduan ini dilatarbelakangi oleh tesis adalah tugas akhir yang harus diselesaikan oleh seorang mahasiswa di Program Pascasarjana (S-2) Universitas Baturaja untuk menyandang gelar sebagai seorang magister. Tesis merupakan karya ilmiah yang disusun oleh mahasiswa Program Pascasarjana (S-2) berdasarkan hasil penelitian dan sebagai kegiatan akademik di perguruan tinggi. Oleh sebab itu, Buku Panduan Penulisan Tesis ini disusun sebagai panduan atau acuan bagi para mahasiswa Program Pascasarjana (S-2) Universitas Baturaja dalam menyusun tesis dengan baik dan benar. Selain itu, buku panduan ini tidak hanya menyajikan teori-teori saja, tetapi juga dileng- kapi dengan contoh-contoh praktis yang dapat dijadikan sebagai acuan bagi mahasiswa Program Pascasarjana (S-2) Universitas Baturaja untuk menyele- saikan studinya melalui penulisan tesis.
Pada kesempatan ini, penulis menghaturkan terima kasih yang setulus- tulusnya kepada semua pihak serta atas bantuan dan kerjasamanya sehingga tersusun buku panduan penulisan tesis. Selanjutnya, penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada semua guru dan dosen yang telah memberikan ilmunya secara ikhlas. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada teman-teman yang telah memberikan motivasi dalam penulisan buku panduan ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada pihak penerbit yang telah memfasilitasi penerbitan buku panduan ini serta seluruh keluarga yang selalu memberikan motivasi dan doa agar kami menjadi lebih baik, bahkan terbaik.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ini masih jauh dari kesempur- naan. Namun, penulis tetap berharap buku panduan ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca, khusunya bagi mahasiswa Program Pascasarjana (S-2) Universitas Baturaja yang akan dan sedang menyusun tesis.
Buku ini ditulis untuk menegaskan bahwa dzikir dan munajat yang di dalamnya terdapat unsur pujian, memohon ampunan dan sekaligus permohonan kepada Allah Swt adalah sangat diperlukan bagi siapa saja yang ingin mengetuk dan membuka pintu rahmat-Nya!
Berdzikir kepada Allah juga dapat memudahkan yang sulit, melapangkan yang semplt, meringankan yang berat, dan menghilangkan ketakutan dari hati. Ini semua tidak diragukan lag), sebab Allah Swt telah berfirman.
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram." (QS. ar-Rad; 28)
Penulis buku ini adalah seorang Chemical Engineer (Sarjada Tehnik Klmia) dan juga seorang kiyai kampung di kawasan Pakujaya, Serpong Tangerang.
Oleh karena itu, alangkah baiknya jika buku pertama dari seri buku Membuka Pintu Rahmat ini kita amalkan; yang merupakan lembar Dzikir dan Munajat yang biasa dibaca di Pesantren Daarul Qur'an Pimpinan Ust. Yusuf Mansur setiap bulan pada sabtu ketiga di acara Dzikir Munajat.
Selamat membaca dan mengamalkannya, mudah-mudahan Allah Swt memberikan ridha-Nya kepada kita. Amin.
Namun setelah penulis membaca dokumen- dokumen kuno termasuk saduran buku Assajaru Huliqa Darul Bhatniy Wal Darul Munajat yang diberi judul Sejarah Terjadinya Negeri Buton Dan Negeri Muna, penulis berpendapat yang sebaliknya yakni Munajat bukanlah Negeri Muna. Untuk memperkuat pendapat itu, penulis akan menguraikan beberapa fakta yaitu :
Salah satu bukti kepiawaian Habib Sholeh dalam bersyair adalah karya sastra di dalam buku ini. Sebuah buku yang berisi syair-syair penuh makna. Yang bisa dijadikan motivasi dan meningkatkan ketakwaan bagi yang membaca sekaligus meresapinya.
Rangkaian tulisan dr. Ade Hashman di buku terbarunya ini telah melempar ingatan saya pada jumpa pertama dengan Emha Ainun Nadjib (selanjutnya saya tulis Emha saja) 2015 lalu di IAIN SMH Banten (kini UIN). Waktu itu, tak terpikir untuk bisa ngobrol langsung dengan Emha. Selesai acara, saya hanya bisa membuntuti Emha hingga ruang rektor untuk menikmati jamuan makan yang disediakan pihak kampus.
Sementara Emha sudah berada di dalam ruang rektor, saya ikut mengambil hidangan prasmanan. Baru saja saya duduk hendak menyantap soto ayam yang masih mengepul panas, Darul Marwan (alumni seangkatan waktu kuliah yang kini jadi ajudan rektor) memanggil saya untuk segera masuk menemui Emha (berkat pemberitahuannya bahwa di luar ada fans berat ingin ketemu). Saking gembiranya, saya meletakkan hidangan yang belum sempat dimakan begitu saja, bergegas masuk membawa buku-buku Emha untuk minta ditandatangani. Di dalam, saya langsung menyalami Emha hingga lupa kanan-kiri (Mohon maaf, Rektor pun lupa saya jabat tangani).
Sebelum bertemu dengan Emha, saya mengira ia bak selebriti yang susah didekati, ternyata tidak. Ia begitu low profile hingga mengizinkan saya memasuki ruangan rektor. Dalam berapa kali pertemuan setelahnya, saya justru kerap tak tega melihat Emha di akhir Maiyahan dengan sabar menyalami dan melayani ratusan jamaah yang menyalami dengan berbagai ekspresi dan meminta doa kepadanya.
Dalam buku ini juga digambarkan betapa seorang Emha melayani dan mengayomi siapa saja, kapan saja, di mana saja. Tak jarang di forum-forum Maiyah kita saksikan Emha menaikkan ke panggung, mengobroli, hingga merangkul orang yang dalam pandangan umum dianggap gila. Rasa cinta-Nya pada Allah dan Rasulallah rupanya memberikan energi tanpa batas kepada dirinya dan personil Kyai Kanjeng yang istiqomah senantiasa keliling melayani ribuan masyarakat seakan tanpa jeda istirahat. Seakan Emha tak kenal lelah dan sakit. Bahkan sekadar suara serak dan batuk pun rasanya sulit saya saksikan setiap kali menyaksikan acara maiyahan hingga dini hari. Raut wajah Emha tak berubah dari awal acara hingga selesai.
Buku ini dibagi menjadi 10 bab; dari pembahasan mengenai pengaruh pola pikir positif, pengendalian diri, lelaku puasa, fenomena maiyah, duduk iftirosy, cinta dan keikhlasan, sinergisitas antara aktivitas dan istirahat, kedaulatan memahami kesehatan diri, hingga beragam nilai-nilai spiritual dalam Maiyah yang dipandang Ade turut andil memengaruhi kesehatan.
c80f0f1006