Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail red...@brilio.net
Kehidupan anak kos memang penuh warna. Kadang merah kuning hijau, kadang abu-abu dan hitam. Menjadi anak kos artinya kamu sudah siap menghadapi kehidupan dewasa yang sesungguhnya tanpa pendampingan maksimal dari orang yang lebih tua. Nah, buat kamu yang baru saja berpijak dalam kehidupan anak kos, ada baiknya kamu nonton dulu salah satu film produksi Indonesia yang diangkat dari novel berjudul sama, Anak Kos Dodol. Nggak sempat nonton? Tenang, Brilio sudah merangkum lima pelajaran penting yang bisa kamu ambil dari film yang dibintangi Ayudia Bing Slamet. Simak baik-baik biar sukses jadi anak kos (yang nggak dodol).
Di film ini, Ayudia yang berperan sebagai Dewi baru cari kos setelah sudah membawa sekoper penuh pakaian langsung ke Yogyakarta. Berbekal koper itu, ia dan Sofia muter-muter mencari kos. Mereka berdua dikalahkan oleh Sarah yang lebih gercep alias gerak cepat. Meskipun akhirnya mereka berhasil mendapat kos-kosan yang sama, film ini mengajarkan bahwa mencari kos itu nggak mudah, apalagi di kota-kota pelajar seperti Yogyakarta. Jadi kalau bisa, langsung buruan cari kos segera setelah pengumuman penerimaan mahasiswa baru, ya. Barang-barangnya bisa menyusul nanti.
Ada salah satu adegan dalam film Anak Kos Dodol yang bercerita tentang salah satu anak kos yang didatangi ibunya dan terpaksa meminjam televisi serta setrika temannya karena punya dia sudah dijual atau digadaikan untuk membeli make-up. Ketahuan oleh ibunya, dia pun memohon-mohon biar uang bulanannya nggak dipotong. Hayo, lho. Siapa yang suka nggak bisa menahan keinginan untuk belanja sampai harus menjual dan menggadaikan barang? Duh, menjual dan menggadaikan barang itu kalau terpaksa aja guys. Mending nabung dulu baru beli.
Dewi dalam film Anak Kos Dodol lupa mematikan rokok dan akhirnya ada barang yang terbakar. Sayang banget kan kalau barang kesayanganmu terbakar karena kecerobohanmu sendiri? Sebenarnya dalam film ini Dewi juga dilarang merokok sama ibunya. Itu sih masalah pilihan ya. Tapi kalau bisa ya nggak usah merokok. Sudah nggak sehat, bikin boros pula. Jadi, kalau masih mau tetap merokok di kamar, jangan lupa matikan rokoknya sebelum pergi.
Film ini juga menggambarkan bagaimana 13 cewek yang ngekos di Puri Cantika termasuk Dedew, Sofia dan Sarah mengalami konflik-konflik kecil sampai terbagi menjadi beberapa kubu. Tapi akhirnya mereka akur lagi. Soalnya, manusia kan memang dilahirkan sebagai makhluk sosial, pasti butuh orang lain. Perbedaan jangan dijadikan senjata, jadikan kekuatan. Biar makin seru kos-kosannya!
Namanya mahasiswa pasti ada aja masa-masa males mengerjakan tugas, males berangkat, dan males yang lain-lain. Ya nggak apa-apa kalau mau rehat sejenak juga. Tapi kalau bisa ya IPK tetap dijaga, soalnya kasihan kan orang tua nyari duit tiap hari buat kamu kuliah di luar kota. Masa kamu mau menyia-nyiakan pengorbanan mereka? Nggak mau dong melihat kesedihan di mata ibu dan bapak? Jadi bandel dikit boleh, tapi dikit aja ya. Janji?
15 Januari 2005 Hari terakhir UAS di semester pertama, penghuni kosan tinggal sedikit. Maklum, yang lain sudah selesai UAS duluan. Fakultas saya, FIKOM termasuk UAS paling akhir dibandingkan yang lain. Sore sekitar jam 15.30 WIB sehabis sholat Ashar, bersiap-siap mandi mau ke kampus. Tujuannya ikut diklat Kelompok Jatinangor (KJ21), salah satu UKM di di FIKOM. Ima, teman paling dekat di awal kuliah sudah datang ke kosan. Berhubung mulai diklatnya jam 17.00 WIB, kami berdua masih santai-santai di kosan sembari main game di komputer. Sekitar jam 4-an tiba-tiba hujan deras. Deras banget malah. Tapi tak menyangka jika hujan yang disertai petir menggelegar itu akan memberikan efek yang lumayan dahsyat. Tessa bolak-balik ngecek luar kosan. Dia juga sempet ke kamar 20 (kamar saya di awal kuliah), dengan raut muka khawatir kalo dia pengen banget ke Kopo, tapi ujannya gak kunjung reda. Saya ama Ima juga khawatir dengan hujan yang kayaknya bakal awet. Trus, diklatnya masak mau dateng telat?!? x)
Banyak yang gak percaya kalo kosan banjir. Awalnya Kak Achi tenang-tenang aja pas lewat kamarnya Kak Ozzi yang lagi sibuk ama barang-barangnya yang banyak tergeletak di lantai. Nah, kakak kamar nomer lima itu langsung histeris waktu masuk kamarnya sendiri, ternyata buku-buku pinjaman dari perpus kampus basah semua! X)
Wah, sudah lama saya ingin baca buku ini. Meskipun bukan anak kos dan bukan pelajar lagi hehehe
Selalu tidak kesampaian baca.
Tapi kalau dilihat dari reviewnya sungguh kocak ya?
Dari judulnya sebenarnya sudah ketebak, hehe
Pengen deh
Semakin penaaran ?
Wah saya juga sependapat nih, memang buku yang kali ini dibawah ekpektasi saya.
Saya penggemar berat Anak Kos Dodol dari awal sampai yang komiknya pun saya punya.
Membacanya selalu membuat saya tertawa habis-habisan karena kelakuan dodol mbak dedew dan anak kos lainnya. Ceritanya juga gak boring, ada senang, sedih & pengalaman hidup juga. Yang paling buat saya tertawa parah itu di anak kos dodol yang komik, pas dulu dedew pergi ke diskotik bareng anak kosan, GILA banget itu.
Tapi saya gak menemukan feel seperti itu di buku kali ini ? memang mbak dedew is the best.
Sapa yang anak kost hayooo ?? Minggu kemaren jalan jalan ke Gramedia Tunjungan Plaza,mo cari buku yang menarik. Begitu masuk langsung disuguhi BEST SELLER , pandangan langsung tertuju pada buku berjudul yang sangat familiar, Anak Kos.. ditambah belakang nya ditambahin kata Dodol. Bentar bolak balik sampul depan belakang, baca review testimoni sepertinya kocak nih.
Kelar baca beberapa halaman, langsung menuju Gramedia lagi buat liat edisi Anak Kos Dodol terbaru yaitu Anak Kos Dodol Lagi..wah, ternyata juga sudah beredar.Langsung deh beli aja sekalian biar ngga nanggung baca nya :P
BERITAMAGELANG-Saat menyusuri Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, ada satu toko oleh-oleh yang keberadaannya sudah lebih dari satu abad. Toko itu bernama Nyonya Pang. Terletak di Jalan Pemuda Nomor 71, Muntilan. Alih-alih gulung tikar seperti kebanyakan toko lain, toko Nyonya Pang tetap eksis meski sudah berdiri sejak 1912.
Bahkan, banyak masyarakat dari luar daerah yang sengaja mampir untuk membeli oleh-oleh di toko tersebut. Terlebih, toko ini tidak hanya menjajakan produk buatannya sendiri. Justru lebih dari separuh produknya merupakan buatan para pelaku usaha di sekitar toko. Toko Nyonya Pang memang tidak menutup diri untuk menerima produk lain.
Menariknya, toko ini sudah dikelola dan bertahan hingga generasi keenam. Padahal biasanya hanya sampai pada generasi kedua atau ketiga. Konsep "penitipan" itu disinyalir menjadi satu alasan mengapa toko Nyonya Pang hingga saat ini masih eksis dan diburu pelanggan. Apalagi setelah nama tokonya disebut dalam novel Gadis Kretek karya Ratih Kumala.
Sebab, Ratih mendeskripsikan Kota M dengan menyebut suasana jalan dan "Wajik Ny. Pang". Mengingat toko itu memang hanya satu-satunya di Muntilan. Sejak saat itu, toko Nyonya Pang semakin dikenal. Banyak masyarakat yang mulai penasaran dengan toko itu. Mereka pun berdatangan dan memburu aneka jajanan serta kue legendaris di sana.
Imanuel Jeffrey Leevianto, generasi keenam ini menceritakan, pada 1912 lalu, Nyonya Lauw Kie Pang hanya menjajakan jenang dodol sesuai pesanan. Pasalnya, tradisi hajatan pernikahan, perayaan kelahiran anak, hingga upacara kematian memang sering menyuguhkan jenang dodol sebagai kudapannya.
Lama-kelamaan, dia banjir pesanan. Nyonya Pang memutuskan untuk menjual jenang dodol dengan berkeliling menggunakan tenong bambu di Muntilan. Banyak masyarakat yang menyukai jenang dodol buatannya. Lalu, sekitar tahun 1950-an, Nyonya Pang baru membangun tokonya. Toko itu pun semakin laris.
Setelah Nyonya Pang meninggal dunia, usaha itu dilanjutkan oleh menantunya, Nyonya Lauw In Tjo. Toko itu terus berkembang dan diteruskan oleh kedua anaknya, Tuan Lauw Goen Thae dan Nyonya Lauw Djioe Nio. Kemudian, dilanjutkan lagi oleh Nyonya Tan Er Tien. Lalu, dipegang oleh Nyonya Lauw Hian Ay. Barulah dilanjutkan oleh Jeffrey.
Setiap generasi pun, mempunyai inovasi tersendiri untuk mengembangkan toko Nyonya Pang. Setelah jenang dodol yang dibuat oleh Nyonya Pang, generasi selanjutnya menambah produk baru berupa wajik, krasikan, kue lapis, tape ketan, dan lainnya. "Pokonya setiap generasi nambah produk baru. Sampai sekarang, produknya sudah banyak," jelasnya.
Selain menjajakan produk buatannya sendiri, toko Nyonya Pang juga menerima produk lain dari pelaku usaha di sekitar tokonya. Konsep itu, kata dia, memang sudah diterapkan sejak dulu dan bertahan hingga sekarang. Semua pelaku usaha diajak berkembang bersama. Apalagi mereka juga memiliki hak untuk menuai keuntungan.
Sejak Jeffrey memegang penuh toko Nyonya Pang, dia getol untuk mengembangkan usaha keluarga itu. Menurutnya, usaha turun-temurun tersebut wajib dilestarikan dan dikembangkan. Agar keberadaannya tidak tergeser oleh toko-toko modern lainnya. Mengingat di toko itu, masih ada sejumlah produk yang dinilai sebagai panganan lawas.
Hingga saat ini, toko tersebut sudah memiliki ratusan produk. Mulai dari panganan lawas hingga modern. Untuk itu, toko yang menjajakan panganan lawas tersebut, juga harus mengikuti perkembangan zaman. Selain melayani secara langsung di toko, Jeffrey juga menerima pesanan produk secara online melalui media sosial toko Nyonya Pang.
Jeffrey menuturkan, setelah serial Gadis Kretek tayang di Netflix, banyak konten creator yang mengulas serial itu. Karena mereka penasaran dengan Kota M yang digunakan sebagai latar dalam serial tersebut. Ditambah dengan penyebutan toko Nyonya Pang di dalam novelnya. "Karena meskipun sekadar (disebut) di novel, tapi sangat berdampak bagi kami," sebutnya.
Hal itu jelas berimbas pada pendapatan yang diperoleh. Bahkan, penjualannya meningkat hingga 50 persen. Jeffrey pun tidak menyangka jika efek dari Gadis Kretek itu, membuat tokonya lebih ramai dibanding biasanya. Lebih-lebih, tidak hanya tokonya saja yang ramai, tapi toko lain di Muntilan juga mendulang keuntungan. Muntilan semakin ramai dan dikenal masyarakat secara luas.