Sungguh sulit mencari restoran enak dan layak disinggahi jika Anda
tengah dalam perjalanan darat dari Jakarta menuju Jawa Tengah.
Restoran menu laut, Ma’ Pinah, hanya satu dari antara yang sedikit
itu.
Restoran di jalur pantai utara (pantura) Jawa Barat, umumnya memang
menjengkelkan. Kalau tidak makanannya pada basi, daging pun alot,
harga mahal—juga awas, banyak di antaranya yang menyebut diri mereka
”RM” (rumah makan), tetapi nyatanya cuma ”rumah makan tanpa sendok
garpu”. Alias ”rumah makan bohongan” lantaran yang mereka jual bukan
lagi hidangan makanan, tetapi senyum wanita penghibur —meski kedoknya
tertulis nyata di luar pintu, RM....
Akan tetapi, coba Anda singgah di Ma’ Pinah, sebuah restoran
sederhana, tak mewah tetapi di areal yang luas di Jalan Raya
Mundusari, Pamanukan, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Jaraknya sekitar
200 kilometer dari Jakarta, kurang lebih dua jam perjalanan bermobil
melalui Tol Cikampek.
Tak sulit menemukan restoran di sisi kiri jalan raya pantura Jawa
Barat dari arah Jakarta ini. Pokoknya, sekeluar pintu Tol Cikampek,
setelah melewati Jembatan Layang Pamanukan, Anda akan segera melihat
baliho raksasa, hanya beberapa kilometer menjelang restoran.
Semula ikan buangan
Jualan utamanya? Serba bakar, dari ikan bakar, ayam bakar, sampai
udang bakar. ”Dan menu andalan kami adalah ikan etong bakar...,” tutur
Haji Didi Supriyadi, pemilik enam Restoran Ma’ Pinah di Pamanukan, dan
lima lainnya di Jakarta, serta dalam waktu dekat di Majalengka.
Menu ini sebenarnya bukan menu baru meski populer di kawasan pantura
belum lama. Menurut Hajjah Nengsih, istri Pak Haji pengelola restoran,
ikan etong ini dulu bukan ikan pilihan - kalah, misalnya, sama ikan
bawal, atau bahkan ikan air tawar macam gurami, ikan mas.
”Dulu boleh dikata, ikan etong itu ikan buangan. Lantaran, kulit
ikannya sangat keras. Tetapi, dagingnya, dari badan sampai ke
kepalanya enak dimakan...,” tutur Hajjah Nengsih.
Ia katakan buangan, lantaran menurut pengalamannya dari tahun 1990-an
mengelola warung (ketika masih muda, Bu Hajjah ikut mengelola warung
keluarga, Restoran Simpang Jaya 1 dan Simpang Jaya 2 di Kampung
Simpang, Pusaka Nagara, tak jauh dari Pamanukan), ikan etong ini tak
laku.
”Di tempat pelelangan ikan di Pondok Bali (Subang), Blanakan (pesisir
Pamanukan) maupun Eretan (dekat Patrol, Indramayu barat) dulu ikang
etong tidak laku. Baru sekitar dua tahunan ini, anak-anak muda suka
membakarnya karena murah,” tutur Bu Hajjah.
Jika dulu ikan bawal jadi menu andalan di restoran lautnya di
Pamanukan, maka kini justru menu ikan murah etong, yang harga ukuran
large-nya saja (sekitar lebih dari 1,1 kilogram) hanya Rp 25.000.
Sementara mediumnya juga cuma Rp 15.000. Tentu, harga ini jauh lebih
murah daripada harga ikan kambing-kambing, ikan ayam-ayam, atau ikan
pecah kulit (nama lain ikan etong) di restoran-restoran Jakarta.
Sop buntut
Seperti juga umumnya restoran besar lainnya, Ma’ Pinah juga
menyediakan sop buntut sapi, juga menu-menu standar untuk restoran
laut, seperti ikan bawal bakar, udang bakar, cumi bakar, dan menu
pelengkap seperti cah kangkung udang.
”Sop buntut, kami memakai resep kuah sendiri, beda dengan umumnya sop
buntut di restoran lain. Juga, buntut sapinya berasal dari buntut sapi
peternakan kami sendiri,” tutur Hajjah Nengsih. Rupanya, selain
berbisnis restoran, keluarga Haji Didi Supriyadi ini adalah juga
pebisnis telur ayam (peternakannya di Blitar, Jawa Timur), lebih dari
500 ekor sapi di Ciater dan Cijambe Subang, dan sedikitnya delapan
outlet Alfamart di Cirebon, Indramayu, dan Subang.
”Kami bahkan menyuplai telor ayam di seluruh Alfamart,” ungkap Haji
Didi pula, yang mengaku memakai nama Ma’ Pinah, meneruskan nama warung
makan neneknya, yang pernah terkenal pada masanya, di wilayah
Indramayu.
Cah kangkung, yang dipetik dari kebun sendiri di belakang restoran,
disajikan pula dengan menu khas restoran sederhana ini, ”sambal
dadak”. Disebut sambal dadak, lantaran dibikinnya ”mendadak”, hanya
beberapa saat sebelum disajikan.
”Supaya segar, dibikin dadakan. Sambalnya sambal cabai mentah, bawang
mentah,” tutur Hajjah Nengsih, yang mengaku ikut sibuk pula mengelola
Restoran Ma’ Pinah di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng (dua
restoran, di perkantoran Garuda), serta Ma’ Pinah lainnya di Pasaraya
Grande Blok M, Jakarta, dan di Jalan Pierre Tendean, di wilayah Warung
Buncit, Jakarta Selatan.
Seperti juga di Restoran Ma’ Pinah lainnya, maka menu andalan mereka
kini pun, ikang etong bakar. Ikan, yang jika dikelokop kulit ikannya,
ternyata memiliki banyak daging, tak hanya di badan, tetapi juga di
bagian kepalanya ini. Jenis ikan yang jauh lebih enak dibakar daripada
digoreng. Coba saja rasakan. *
oleh Jimmy S Harianto
© 2008 - 2009 Kompas
http://resep.hangtuah.or.id
> Menu ikan bakar yang lezat
>
> Sungguh sulit mencari restoran enak dan layak disinggahi jika Anda
> tengah dalam perjalanan darat dari Jakarta menuju Jawa Tengah.
> Restoran menu laut, Ma' Pinah, hanya satu dari antara yang sedikit
> itu.
>
> Restoran di jalur pantai utara (pantura) Jawa Barat, umumnya memang
> menj
wadooh mingkin bikin laper dan kangen pulaaang ke INA !
mekoQQQQ tulung ane dikirim dong pake Tiki , ntar ongkir ane ganti
minta nyang same day service yach
--
" ... katamu itu TEPAT, sebab memang Akulah guru dan TUHAN !!"
(quote by God Jesus, John 13:13)
engeeettt #111
==============
hanya si OON nyang menoles DI INTERNET : JANGAN PROCAYA TOLESAN2
DI INTERNET, ...... ADW aja nggak pronaah lohhh, WAAKKKKSSS
engeeettt #222