Google Groups no longer supports new Usenet posts or subscriptions. Historical content remains viewable.
Dismiss

Kisah Klenteng Kapitan The Liong Hui

58 views
Skip to first unread message

Hangtuah Digital Library

unread,
Mar 13, 2007, 1:32:47 AM3/13/07
to
Kisah Klenteng Kapitan The Liong Hui dan Klenteng Bersejarah Lainnya
di Jakarta

Dari perempatan Jalan Perniagaan Barat-Tambora 8 dan Jalan Perniagaan
Raya-Pangeran Tubagus Angke, Jakarta Barat, masuklah ke Jalan Tambora
8, di tepi Kali Opak. Tak berapa lama, di sisi kiri jalan akan tampak
gapura dengan papan bertulis, "Kwan Tee Bio d/n Lamceng, Jakarta
Barat", penanda masuk ke Kompleks Klenteng Arya Marga atau Nan-jing
miao.

Klenteng yang dibangun untuk menghormati panglima perang Kwang Kong
itu berada di atas tanah seluas 3.000 meter persegi. Klenteng
dikelilingi 12 rumah petak sewa milik yayasan pengelola klenteng.

Di sayap kiri terdapat sebuah patung kuda Kwan Kong, yang dibuat 50
tahun lalu atas sumbangan seseorang. Disayap kanan terdapat tungku
besar tempat membakar kertas doa dan uang berwarna kuning.

Dua dari beberapa tiang klenteng dililit pahatan seekor naga. Di
tengahnya terdapat sebuah altar. Beberapa bagian langit-langit dan
kuda-kuda klenteng dipenuhi ukiran berwarna.

Klenteng terbagi dalam empat ruang besar. Di ruang tengah, di sisi
kiri, terdapat meja bertrap bersekat-sekat. Di tiap sekat tertera
tulisan China dan lampu kecil bercahaya merah, menyerupai lidah-lidah
api. "Meja ini dibuat sebagai ucapan terima kasih kepada setiap
donatur tetap klenteng. Tulisan China di tiap sekat menyebutkan nama
donatur tetap tersebut," tutur pengurus harian klenteng itu, Tjhung
Eng Hoo alias Aris Santoso (61), Minggu (18/2).

Di tengah ruang ada dua meja altar dan di atas altar utama diletakkan
patung Dewa Kwan Kong. Di ruang belakang, ada dua altar untuk
menghormati mendiang Kapitan The Liong Hui. Di atas altar utama
disimpan abu dan patung kayu sang kapitan asal Nanjing, Kabupaten
Zhangzhou (Fujian), itu.

Tahun 1824, ia membangun klenteng ini. "Karena tidak memiliki
keturunan, seluruh kekayaannya ia habiskan untuk membangun rumah
ibadah ini. Pengelolaan rumah ibadah ia percayakan kepada Tjhung See
Gan," papar Aris.

Rumah petak
Agar biaya pemeliharaan klenteng terjamin, tahun 1839 Kapitan The
meminta Tjhung membangun 12 rumah petak sewa dengan harapan hasil
sewanya bisa terus "menghidupkan" klenteng. Harapan itu hampir pupus
setelah Tjhung tiada. Sepeninggalnya, klenteng terbengkalai dan
menjadi tempat tinggal para pengemis. Uang hasil sewa ke-12 rumah
petak, entah ke mana.

Tahun 1978, klenteng kembali dibersihkan, dikelola, dan dirawat oleh
kepala klenteng, Basri Oemar (Oey Sek Hai). Dibandingkan dengan plafon
Klenteng Tian-Hou (1784) di Bandengan Selatan, atau dengan Klenteng
Feng-shan Miao (1751) di Jalan Kemenangan III/48, plafon Klenteng
Kapitan The pasti kalah indahnya. Altarnya pun kalah bagusnya dengan
altar yang ada di dalam Klenteng Lu Ban Gong (1794) yang terletak di
Jalan Bandengan Selatan 36.

Meski demikian, klenteng sang kapitan, tulis Claudine Salmon dan Denys
Lombar dalam bukunya Klenteng-klenteng dan Masyarakat Tionghoa di
Jakarta (Cipta Loka Caraka, 2003), adalah satu di antara sembilan
klenteng yang menjadi penanda kebangkitan kembali perekonomian kaum
Cina perantauan (hoakiau), setelah peristiwa genosida hoakiau tanggal
9-10 Oktober 1740. Dari sembilan klenteng yang dibangun antara tahun
1812-1847 tersebut, tujuh klenteng di antaranya dibangun antara tahun
1820-1830.

Perdagangan
Pada periode 1812-1847, pembangunan klenteng (Taois) dan wihara
(Buddhis) umumnya dilakukan oleh kongsi dagang dan lebih banyak
ditujukan untuk menghormati para dewa dagang atau yang berhubungan
dengan perdagangan. Lingkungan klenteng pun sering kali dijadikan
tempat pertemuan, membahas rencana-rencana bisnis.

Sebelum era ini, klenteng dibangun dengan berbagai tujuan. Dewa yang
diletakkan di altar pun macam-macam dan tidak didominasi oleh para
dewa dagang. Kegiatan sosial kemasyarakatan di lingkungan klenteng
masih lebih sering dilakukan dibandingkan dengan pertemuan-pertemuan
dagang.

Klenteng Li Tie-guai atau Wihara Budhidharma yang dibangun tahun 1812
di Jalan Perniagaan Selatan dan Klenteng Dharma Paramita, misalnya,
dibaktikan kepada dua di antara "Delapan Hyang Mulia", pelindung
kongsi dagang. Awalnya, Wihara Budhidharma adalah klenteng
perserikatan para tabib pedagang obat.

Bagi masyarakat hoakiau, era 1812-1847 menjadi era menuju puncak
keemasan usaha perdagangan hoakiau. Pada era inilah hampir seluruh
sektor usaha hoakiau di Jakarta saling beradu cepat tumbuh. Bukan
hanya kekuatan fisik dan akal mereka saja yang dipusatkan untuk memacu
setiap sektor usaha, tetapi juga pemusatan kekuatan mental dan
spiritual mereka seperti tercermin dari pesatnya pembangunan klenteng
"dagang" di kawasan pecinan Kota.

Pada paruh kedua abad ke 19, pembangunan klenteng semakin banyak,
seiring dengan meningkatnya kemakmuran hoakiau. Di era itu, 14
klenteng dibangun. Kenangan akan kemakmuran hoakiau di masa lalu itu
kini masih ditandai dengan banyaknya bangunan klenteng di Jakarta
Barat, terutama di kawasan pecinan Kota.

Total klenteng yang ada di Jakarta Barat sekarang 41 bangunan.
Sebanyak 27 klenteng terdapat di Kecamatan Taman Sari, sedangkan 14
klenteng lainnya ada di Kecamatan Tambora. Jumlah klenteng di wilayah
Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat, yang berbatasan dengan wilayah
Jakarta Barat pun cukup banyak, 13 klenteng.

Hal lain yang membuat Klenteng Arya Marga patut mendapat perhatian
adalah karena klenteng ini mungkin menjadi satu-satunya klenteng di
Jakarta yang dibangun secara individual oleh seorang hoakiau berstatus
sosial tertinggi.

Klenteng umumnya dibangun dan dipelihara oleh komunitas biarawan-
biarawati, kelompok marga seperti marga Chen dan Lin (di Indonesia
menjadi Tan dan Liem), kelompok pengusaha, kongsi dagang, kelompok
tukang, atau kelompok pekerja.

Awalnya, Klenteng Dharma Bhakti juga dibangun secara individual oleh
seorang hoakiau, tetapi hanya berpangkat letnan, lebih rendah dari
seorang kapitan. Dalam perkembangannya, klenteng ini pun akhirnya
diperluas dan dipelihara oleh sebuah komunitas pengusaha.

Berbeda dengan Klenteng Kapitan The Liong Hui. Sampai sekarang,
sebagian biaya pemeliharaan klenteng ini masih mengandalkan dirinya
sendiri, yakni lewat pendapatan sewa 12 petak rumah.

WINDORO ADI
Selasa, 13 Maret 2007
Copyright © 2002 Harian KOMPAS

0 new messages