Ulkus Peptikum Pdf

0 views
Skip to first unread message

Gaynelle Beltramo

unread,
Aug 4, 2024, 4:25:07 PM8/4/24
to cripespetrea
Ulkuspeptikum adalah cedera asam peptik pada mukosa traktus gastrointestinal, yang dapat menyebabkan kerusakan hingga lapisan submukosa. Ulkus peptikum umumnya mengenai lambung dan/atau duodenum proksimal.[1,2]

Etiologi tersering ulkus peptikum adalah infeksi Helicobacter pylori. Etiologi lain adalah konsumsi nonsteroidal antiinflammatory drugs (NSAID) dan keadaan yang memicu hipersekretori asam lambung, seperti konsumsi makanan tertentu dan stres.[2]


Pasien ulkus peptikum umumnya datang dengan keluhan nyeri ulu hati, kembung, dan mual muntah. Pada keadaan lebih berat di mana sudah terjadi perforasi, pasien dapat mengeluhkan muntah darah, buang air besar berwarna hitam, dan gejala peritonitis. Diagnosis ulkus peptikum bisa dikonfirmasi dengan melakukan endoskopi.[3]


Penatalaksanaan utama dari ulkus peptikum adalah modifikasi gaya hidup dan terapi farmakologi yang bertujuan untuk menurunkan asam lambung serta mengobati infeksi H. pylori bila ada. Untuk kasus H. pylori, regimen yang direkomendasikan adalah triple therapy menggunakan proton pump inhibitor (PPI) dan dua antibiotik, misalnya regimen omeprazole, amoxicillin, dan clarithromycin.[3-5]


Diagnosis ulkus peptikum dapat ditegakkan pada pasien dengan keluhan nyeri ulu hati, kembung, mual, dan muntah, yang kemudian dikonfirmasi melalui endoskopi. Pada kasus yang telah mengalami komplikasi, dokter mungkin menemukan perdarahan pada saluran cerna, perforasi, dan peritonitis.[5]


Pasien ulkus peptikum umumnya datang dengan keluhan nyeri abdomen bagian epigastrium, seperti terbakar atau rasa perih yang tidak nyaman. Nyeri dapat muncul segera setelah makan atau beberapa jam setelahnya. Gejala lain yang dapat muncul adalah kembung, distensi abdomen, mual, muntah, dan penurunan berat badan.[3,12]


Pada pasien ulkus duodenum, nyeri abdomen umumnya timbul saat perut kosong atau saat malam hari. Nyeri umumnya membaik dengan konsumsi makanan atau pemberian agen penetral asam lambung. Hal ini berbeda dengan pasien ulkus gaster yang justru mengalami nyeri yang lebih buruk setelah makan.[3,12]


Pada kondisi yang lebih berat, perdarahan saluran cerna dapat terjadi yang ditandai dengan hematemesis dan melena. Gejala peritonitis berupa nyeri tajam yang berat dan tiba-tiba juga dapat muncul jika sudah terjadi perforasi.[3,12]


Pada anamnesis, dokter juga perlu menanyakan mengenai faktor-faktor risiko, seperti konsumsi obat golongan nonsteroidal antiinflammatory drug (NSAID) atau kortikosteroid dan aspirin dalam jangka waktu lama.[3,12]


Pada pasien ulkus peptikum yang belum perforasi, umumnya pemeriksaan fisik hanya menunjukkan nyeri tekan regio epigastrium dan distensi abdomen. Jika sudah terjadi perforasi, dokter mungkin menemukan nyeri yang tajam, berat, dan tiba-tiba, yang biasanya dirasakan di seluruh abdomen. Pasien tampak kesakitan, sulit bergerak, dan tampak berbaring dalam posisi fetal. Pada pemeriksaan abdomen, nyeri tekan seluruh kuadran serta rigiditas dan defans muskular dapat ditemukan.[5]


Dyspepsia fungsional atau dyspepsia esensial merupakan nonulcerative disease (NUD) yang menjadi salah satu penyebab umum nyeri perut atas. Sementara itu, gastritis merupakan inflamasi pada lapisan mukosa gaster. Untuk Membedakan dyspepsia dan gastritis dari ulkus peptikum, dokter dapat melakukan endoskopi. Pasien dyspepsia dan gastritis dapat dirujuk untuk endoskopi jika tidak ada perbaikan gejala walaupun sudah diberi terapi adekuat.[4,5]


Pada gastroenteritis, gejala utama umumnya adalah diare. Penyakit ini umumnya dapat sembuh dalam beberapa hari, berbeda dengan keluhan ulkus peptikum yang sering kali hilang-timbul dan dirasakan dalam waktu lama.[4,5]


Nyeri epigastrium juga merupakan salah satu manifestasi sindrom koroner akut. Mual dan muntah juga merupakan gejala prediktif kuat dari infark miokard akut. Oleh karena itu, diagnosis sindrom koroner akut harus dipertimbangkan, terutama pada pasien dengan faktor risiko. Untuk membantu membedakan diagnosis, dokter dapat melakukan pemeriksaan seperti EKG atau biomarker jantung.[5]


Pemeriksaan penunjang berupa endoskopi digunakan untuk mengonfirmasi adanya ulkus pada gaster atau duodenum. Pemeriksaan penunjang lain seperti urea breath test dan biopsi digunakan untuk mendeteksi adanya H.pylori.[12,13]


Deteksi adanya infeksi H. pylori dapat dilakukan secara noninvasif menggunakan urea breath test (UBT), tes serologi darah, dan stool antigen test (SAT). Infeksi H. pylori merupakan salah satu penyebab tersering dari ulkus peptikum.[13]


Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan penunjang pilihan bila pasien tidak dapat menjalani endoskopi. Pasien diminta menelan urea yang sudah dilabel dengan isotop karbon 13 atau 14. Kemudian, sampel napas pasien akan diambil. Pemeriksaan ini memiliki sensitivitas 96% dan spesifisitas 93%. Selain digunakan untuk diagnosis, pemeriksaan ini juga ditujukan untuk memonitor keberhasilan pengobatan.[4,5,14]


Pada pemeriksaan ini, obat proton pump inhibitor seperti omeprazole perlu dihentikan selama 2 minggu terlebih dahulu. Kelemahan dari pemeriksaan ini yaitu akurasinya menurun pada pasien yang telah dilakukan gastrektomi distal.[4,5,14]


Pemeriksaan ini juga termasuk pilihan pemeriksaan noninvasif untuk diagnosis infeksi H. pylori. Stool monoclonal antigen test dapat dilakukan melalui enzyme immunoassay (EIA) dan immunochromatography (ICA).[4,5,15]


Pemeriksaan ini merupakan pilihan pada pasien yang telah menjalani gastrektomi distal dan pada anak-anak. Pemeriksaan ini juga dipakai sebagai indikator kesembuhan karena hanya dapat mendeteksi infeksi yang aktif. Pada pemeriksaan ini, obat proton pump inhibitor juga perlu dihentikan selama 2 minggu terlebih dahulu.[4,5,15]


Tes serologi mendeteksi anti-immunoglobulin G yang spesifik terhadap H. pylori pada serum. Pemeriksaan ini memiliki spesifisitas tinggi >90% tetapi tidak bisa membedakan infeksi aktif dan infeksi terdahulu.[4,5,16]


Pemeriksaan ELISA dan rapid immunochromatography (IM) assay dapat digunakan untuk deteksi anti-immunoglobulin G H. pylori pada urine. Pemeriksaan ini lebih mudah dilakukan, terutama untuk diagnosis pada banyak orang. Namun, pemeriksaan ini memiliki sensitivitas hanya 83% dan spesifisitas hanya 89%, yang lebih rendah bila dibandingkan dengan pemeriksaan noninvasif lainnya.[2,5,17]


Makanan pedas memang digemari oleh sebagian besar orang di seluruh dunia. Sensasi rasa pedas yang menggugah selera memberikan kepuasan tersendiri bagi para penikmat makanan berbumbu tajam. Akan tetapi, di balik kenikmatan tersebut, terselip risiko kesehatan yang tak boleh diabaikan, salah satunya adalah ulkus peptikum.


Ulkus peptikum, atau yang dikenal dengan tukak lambung, adalah kondisi dimana luka terbuka terbentuk pada lapisan dalam perut. Luka ini dihasilkan oleh adanya ketidakseimbangan antara faktor perlindungan dan faktor yang merusak dinding lambung. Salah satu faktor yang berpotensi meningkatkan risiko ulkus peptikum adalah konsumsi makanan pedas secara berlebihan.


Makanan pedas mengandung senyawa kimia bernama kapsaisin. Senyawa ini memberikan rasa pedas pada makanan dan berpotensi menyebabkan iritasi pada lapisan lambung. Saat kita mengonsumsi makanan pedas, kapsaisin dapat merangsang produksi asam lambung berlebihan, yang kemudian menyebabkan ketidakseimbangan dan merusak lapisan pelindung dinding perut. Hasilnya, luka terbuka dapat muncul, menimbulkan rasa sakit, perdarahan, dan komplikasi serius lainnya.


Selain itu, makanan pedas juga dapat memperparah gejala bagi mereka yang sudah menderita ulkus peptikum. Sensasi pedas dan iritasi yang ditimbulkan oleh makanan pedas dapat memicu peningkatan rasa sakit dan memperburuk kondisi luka. Oleh karenanya, sangat penting bagi penderita ulkus peptikum untuk membatasi atau bahkan menghindari konsumsi makanan pedas.


Bagi mereka yang gemar makan pedas namun belum memiliki riwayat ulkus peptikum, tetap penting untuk menjaga keseimbangan dan mengontrol konsumsi makanan pedas. Berikut adalah beberapa tips yang dapat membantu:


Penting untuk selalu menjaga kesehatan sistem pencernaan. Jika Anda memiliki kebiasaan makan pedas, perhatikan potensi risiko yang dapat timbul, khususnya terkait ulkus peptikum. Selalu ada alternatif makanan sehat dan lezat yang dapat memuaskan selera tanpa harus mengorbankan kesehatan Anda.


Makanan pedas mungkin memberikan sensasi nikmat, namun potensi risiko ulkus peptikum yang mungkin terjadi tetap harus diingat. Jaga keseimbangan dan berhati-hati dalam mengonsumsi makanan pedas. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter jika Anda memiliki kekhawatiran atau gejala yang mengkhawatirkan.






Background: Anemia is a decrease in hemoglobin levels from the standard limit that can be caused by iron deficiency and chronic bleeding. One-third (32.9%) of the world population is estimated to suffer from anemia, and iron deficiency is a common cause of anemia in all countries. The diagnosis is made through history taking, physical examination and investigations.


Case report: 59-year-old male patient with complaints of black stool, abdominal pain and weakness. On physical examination, found pale conjunctiva, angular stomatitis and atrophy of the tongue. On complete blood, the examination found a decrease in erythrocyte levels, hemoglobin, MCV, MCH, and MCHC and increased RDW-CV. Analysis of peripheral blood smears presents with hypochromic microcytic poikilocytosis anemia, serum iron is decreased, and increased TIBC. Chronic bleeding anemia accompanied by iron deficiency will cause ferritin levels to decrease or be normal to 60 g / dl. The patient was diagnosed with peptic ulcers as seen from esophagoduodenoscopy and severe anemia caused by iron deficit and chronic bleeding. Patients were treated supportively with PRC transfusion, ferrous sulfate and vitamin C.


Latar belakang: Anemia merupakan kondisi dengan kadar hemoglobin yang lebih rendah dari nilai normal. Anemia dapat disebabkan akibat defisiensi besi atau perdarahan kronis. Sebesar sepertiga (32,9%) populasi didunia diperkirakan menderita anemia. Defisiensi besi merupakan penyebab umum anemia di seluruh negara. Penegakan diagnosis anemia dilakukan melalui anamnesis, pemerikaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.

3a8082e126
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages