Habis Gelap Terbitlah Terang adalah buku kumpulan surat yang ditulis oleh Kartini. Kumpulan surat tersebut dibukukan oleh J.H. Abendanon dengan judul Door Duisternis Tot Licht yang arti harfiahnya 'Dari Kegelapan Menuju Cahaya'. Sekilas kalimat ini mungkin merujuk pada kalimat Kitab Suci yang berbunyi 'Mina dzulumati ila nur'.
Kalimat habis gelap terbitlah terang, mengungkapkan bahwa setiap manusia akan mengalami masa-masa sulit, tetapi juga akan merasakan masa-masa membahagiakan. Ini sejalan dengan ayat dalam surah Al Insyirah yang berbunyi 'Inna ma'al 'Usri Yusro' yang artinya sesungguhnya bersama kesusahan pasti ada kemudahan. Kalimat ini juga mengingatkan bahwa kita tidak perlu sedih dalam keadaan apapun yang kita alami, karena 'Badai pasti berlalu'.
Maka yakinlah bahwa Kambang kada satangkai, kumbang kada saikung (bunga tidak hanya setangkai, kumbang tidak hanya seekor) artinya kita tidak perlu selalu galau dan sedih berlebihan karena diputusi pacar, masih banyak bunga-bunga atau kumbang-kumbang lain yang bisa menjadi tambatan hati yang baru. Galau boleh, sedih wajar, tapi jangan sampai mengganggu aktifitas lain yang mengakibatkan prestasi menurun dan pekerjaan jadi tidak maksimal.
Jadi, ketika kita dilanda musibah, kesusahan ataupun kegagalan, maka tetaplah semangat apapun masalahnya. Hadapi dengan ikhlas, sabar dan jangan mudah menyerah. Yakinkan dalam hati dan percaya bahwa bersama kesusahan pasti ada kemudahan, badai pasti berlalu, jalan tak selalu berliku dan habis gelap terbitlah terang.
Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlunya dan apa manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Quran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya, dan jangan-jangan guru-guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepadaku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa, kitab yang mulia itu terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya.[Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 15 Agustus 1902].
Setelah selesai acara pengajian Kartini mendesak pamannya agar bersedia menemani dia untuk menemui Kyai Sholeh Darat. Inilah dialog antara Kartini dan Kyai Sholeh Darat, yang ditulis oleh Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat :
Setelah pertemuannya dengan Kartini, Kyai Sholeh Darat tergugah untuk menterjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Jawa. Pada hari pernikahan Kartini, Kyai Sholeh Darat menghadiahkan kepadanya terjemahan Al-Quran (Faizhur Rohman Fit Tafsiril Quran), jilid pertama yang terdiri dari 13 juz, mulai dari surat Al-Fatihah sampai dengan surat Ibrahim.
Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya.Tapi sayang tidak lama setelah itu Kyai Sholeh Darat meninggal dunia,sehingga Al-Quran tersebut belum selesai diterjemahkan seluruhnya ke dalam bahasa Jawa. Kalau saja Kartini sempat mempelajari keseluruhan ajaran Islam (Al-Quran) maka tidak mustahil ia akan menerapkan semaksimal mungkin semua hal yang dituntut Islam terhadap muslimahnya. Terbukti Kartini sangat berani untuk berbeda dengan tradisi adatnya yang sudah terlanjur mapan. Kartini juga memiliki modal kehanifan yang tinggi terhadap ajaran Islam. Bukankah pada mulanya beliau paling keras menentang poligami, tapi kemudian setelah mengenal Islam, beliau dapat menerimanya.
Karena seringnya kata-kata tersebut muncul dalam surat-surat Kartini, maka Mr. Abendanon yang mengumpulkan surat-surat Kartini menjadikan kata-kata tersebut sebagai judul dari kumpulan surat Kartini. Tentu saja ia tidak menyadari bahwa kata-kata tersebut sebenarnya dipetik dari Al-Quran.
Kartini berada dalam proses dari kegelapan menuju cahaya. Namun cahaya itu belum sempurna menyinarinya secara terang benderang, karena terhalang oleh tabir tradisi dan usaha westernisasi. Kartini telah kembali kepada Pemiliknya, sebelum ia menuntaskan usahanya untuk mempelajari Islam dan mengamalkannya, seperti yang diidam-idamkannya: Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai. [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902]
Kartini yang dikungkung oleh adat dan dituntun oleh Barat, telah mencoba meretas jalan menuju benderang. Tapi anehnya tak seorangpun melanjutkan perjuangannya. Wanita-wanita kini mengurai kembali benang yang telah dipintal Kartini. Sungguhpun mereka merayakan hari lahirnya, namun mereka mengecilkan arti perjuangannya. Gagasan gagasan cemerlang Kartini yang dirumuskan dalam kamar yang sepi, mereka peringati di atas panggung yang bingar. Kecaman Kartini yang teramat pedas terhadap Barat, mereka artikan sebagai isyarat untuk mengikuti wanita-wanita Barat habis-habisan.
Kartini merupakan salah satu contoh figur sejarah yang lelah menghadapi pertarungan ideologi. Jangan kecam Kartini. Karena walau bagaimana pun, beliau telah berusaha mendobrak adat, mengelak dari Barat, untuk mengubah keadaan. Manusia itu berusaha, Allah lah yang menentukan. [Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, Oktober 1900]
Demikian kata-kata Kartini yang mencerminkan suatu sikapnya yang tawakkal. Memang, kita manusia sebaiknya berorientasi kepada usaha dan bukan berorientasi pada hasil. Hal ini perlu, agar kita tidak kehilangan cakrawala. Agar kita tidak mengukur keberhasilan suatu perjuangan dengan batasan usia kita yang singkat. Pula agar kita tidak mudah untuk mengecam kesalahan yang dibuat oleh orang-orang sebelum kita. Bukan mustahil, jika kita dihadapkan dalam kondisi yang sama, kita pun akan berbuat hal yang serupa.
Itu adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan dimintai pertanggung jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan. [Al-Quran, surat Al-Baqarah : 134]
Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902]
Kita bersyukur, tahun ini walaupun masih dalam suasana berjuang menghadapi pandemi, namun diberikan kesempatan untuk merayakan hari kelahiran atau kedatangan Krisus ke dalam dunia ini. Sdr-sdr, ada sebuah pertanyaan: Apa persamaan orang yang tidak punya uang, dengan mereka yang punya banyak uang? Ada yang mau mencoba menjawabnya?
Mengapa sang tokoh memberi jawaban seperti itu? Ini berdasarkan dari realita hidupnya. Ia memiliki kekayaan yang begitu besar tetapi tidak menemukan kebahagiaan dalam hidupnya. Akibatnya ia menciptakan kesenangan yang absurd. Inilah yang mendasari cerita di balik keseruan serial drama Korea ini. Dalam beberapa minggu setelah dirilis di salah satu aplikasi streaming film, serial ini menyita perhatian jutaan penonton.
Awal kisahnya menceritakan sekelompok orang yang ditawarkan untuk mengikuti suatu permainan dengan hadiah yang sangat besar. Mereka yang diajak dalam permainan ini adalah orang-orang yang memiliki utang yang tidak mungkin terbayarkan oleh mereka semua di dunia nyata, sehingga harapan satu-satunya adalah ikut dalam permainan itu.
Dengan penuh harapan mendapatkan hadiah besar, yang tidak saja mampu untuk membayar semua hutang mereka tetapi juga dapat membeli semua impian mereka. Dalam permainan itu, peserta berlomba untuk menghabisi nyawa para musuh untuk bisa menjadi pemenangnya. Karena hanya ada satu pemenang.
Pada masa kini, banyak orang bermimpi memiliki hidup yang dipenuhi kesenangan yang mereka ingin capai kalau memiliki harta yang berlimpah. Dan kalau mereka tidak memiliki harta, maka dianggap tidak memiliki nilai dan layak disingkirkan, seperti dalam permainan Squid Game. Inilah realita hidup yang banyak dijumpai pada masa kini.
Sdr-sdr, persoalan yang diangkat dalam serial Squid Game ini, sebenarnya merupakan persoalan yang sudah lama Allah pedulikan. Dalam Alkitab, kita menemukan kisah, betapa Allah sangat peduli terhadap kehidupan manusia yang diciptakan menurut Gambar dan Rupa-Nya sendiri. Namun manusia telah jatuh ke dalam dosa, sehingga kehilangan identitas dan makna sejati dari kehidupan yang dirancang Allah dengan penuh kasih dan keindahan.
Mengapa bangsa Israel harus berada dan mengalami kegelapan hidup? Ternyata mereka telah memberontak dan hidup jauh dari Allah. Mereka telah berbalik dan tidak hidup sesuai perintah Allah. Sdr-sdr, apa yang mereka lakukan ketika hidup jauh dari Allah? Dikatakan, mereka melakukan kejahatan, merencanakan pemeras-an dan penyelewengan, hati dan kata-kata mereka mengandung dusta. Hukum, keadilan dan kebenaran tidak lagi diberlakukan dalam kehidupan manusia. Orang yang tulus dan benar justru ditolak atau disingkirkan.
Dalam keadaan seperti ini, wajar kalau orang-orang menjadi marah dan mengeluh, mereka tidak berdaya dan kehilangan harapan karena keadilan tidak kunjung datang. Sdr-sdr, di mana tidak ada lagi harapan, di situlah kegelapan paling terasa.
Melalui perikop kita dari Yesaya 9:1-6, nabi Yesaya menubuatkan tentang datangnya seorang pelepas yang pada suatu hari akan menuntun umat Allah kepada sukacita, damai sejahtera, kebenaran, dan keadilan; orang itu adalah Mesias -- Yesus Kristus, Anak Allah.
Umat Allah memahami bahwa terang itu berasal dari Allah, pada waktu penciptaan alam semesta, matahari tidak diciptakan pada hari pertama. Dalam kronologi pen-ciptaan alam semesta, matahari dan benda-benda penerang justru diciptakan pada hari yang keempat. Hal ini menunjukkan bahwa Allah-lah sumber dari terang itu.
Terang itu diperintahkan Allah untuk menjadi bagian dalam proses penciptaan langit dan bumi. Maka, jelas disini bahwa bukan matahari yang "menciptakan" terang, sebab terang itu berasal dari Allah. Meskipun pada prosesnya di kemudian matahari memegang peranan penting dalam kehidupan manusia, sebagai sumber terang, energi dan menyokong kehidupan alam semesta.
c80f0f1006