Cover Novel Ronggeng Dukuh Paruk

0 views
Skip to first unread message

Edelmar Easley

unread,
Aug 4, 2024, 3:01:09 PM8/4/24
to coperzavans
NovelRDP juga diterbitkan dalam edisi bahasa Jepang di tahun 1986. Di samping itu, banyak pula penulisan skripsi yang mengambil novel RDP sebagai objek penelitian. Di kancah perfilman, RDP diangkat dua kali sebagai tema film.

Masyarakat setempat meyakini kehadiran Srinthil menjadi pelengkap. Mereka meyakini kelengkapan dukuh terdiri dari keramat Ki Secamenggala, seloroh cabul, sumpah serapah, dan ronggeng bersama perangkat calungnya.


Di lain sisi, ada Rasus yang keberatan jika Srinthil harus melalui semua syarat tersebut. Dia adalah teman main Srinthil sejak kecil. Rasus merasa sakit hati dan cemburu karena Srinthil menjadi ronggeng.


Profesi ronggeng artinya Srinthil menjadi milik umum. Kegadisan Srinthil disayembarakan. Rasus makin marah saat dirinya yang berusia 14 tahun itu tidak bisa berbuat banyak pada gadis yang dicintainya.


Rasus mengiyakan permintaan Srinthil. Setelah itu, giliran Dower dan Sulam. Sementara Kartareja menikmati hasil menjadi mucikari berupa seringgit uang emas dari Sulam, lalu seekor kerbau dan dua keping perak dari Dower.


A literary work was an image of community social from a condition that is written and adds to it when once with an element of fiction. The social condition referred to include the structure, the system, of the people come from historical, including also the form of the hegemony of conducted by individuals or groups in those societies. This study aims to described the form of the hegemony of conducted by the main figure in the, srinthil, against other figures in a novel ronggeng dukuh paruk and the cause of the problem. The kind of research that is used is qualitative descriptive by using the hegemony of the theory. Research conducted in this research taken from the novel ronggeng dukuh paruk the work of ahmad tohari. The data collection using a technique been listening to and techniques recorded everything. While, data was undertaken analysis cycles reduction-analyze data-conclusion. The result of from the study states that found the form of and the causes of the hegemony of the principal character in a novel ronggeng dukuh paruk. The form of the hegemony of that leads to the stronghold of pharaoh matter.


Kalian pecinta buku tentunya wajib dong hukumnya baca novel yang satu ini. Sebenarnya Ronggeng Dukuh Paruk merupakan novel pertama dari rangkaian trilogi yang berjudul Catatan Buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala. Pada 2003,Gramedia Pustaka Utama menerbitkan trilogi ini menjadi satu novel yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk.


Sebenarnya sebelum novel ini diadaptasi menjadi film Sang Penari,Pada 1983 novel ini sudah lebih dulu diadaptasi menjadi film layar lebar dengan judul Darah dan Mahkota Ronggeng. Film ini dibintangi oleh Ray Sahetapy dan Enny Beatrice, serta disutradarai oleh Yazman Yazid.


Novel ini termasuk ke dalam novel sejarah. Ronggeng Dukuh Paruk menceritakan kebudayaan ronggeng secara mendalam. Hal inilah yang menjadi nilai tambah dari novel ini, selain kalian akan diaduk-aduk perasaannya saat membaca novel ini, kalian juga bisa mempelajari sejarah Ronggeng dalam novel ini. Selain sejarah Ronggeng, kalian juga bisa menikmati suasana kisruh politik Indonesia 1965, karena latar waktu yang diambil oleh novel ini adalah 1965.i


Dikutip dari mediajabar.com, Novel Ronggeng Dukuh Paruk adalah sebuah novel yang menceritakan kehidupan yang ada di desa terpencil bernama Dukuh Paruk. Dulunya, di Dukuh Paruk ini terdapat nenek moyang yang menjadi orang paling dipercaya dan dihormati masyarakat. Setelah nenek moyang ini meninggal, penduduk desa di Dukuh Paruk masih memuja kuburan nenek moyang tersebut. Bahkan, penduduk juga menjadikan kuburan tersebut sebagai kiblat kebatinan dan kepercayaan mereka.


Tokoh utama dalam novel ini adalah Srintil yang sejak kecil sudah yatim piatu karena orang tuanya meninggal bersama beberapa penduduk lainnya karena keracunan tempe bongkrek. Sejak masih bayi, Srintil dirawat oleh kakek dan neneknya. Kakek Srintil meyakini bahwa sejak kecil Srintil ini sudah kerasukan indang ronggeng. Kakeknya percaya bahwa Srintil dilahirkan sebagai ronggeng dengan restu arwah Ki Secamenggala. Anggapan inilah yang membuat Srintil akhirnya di gembleng menjadi ronggeng.


Kakek Srintil kemudian membawa Srintil ke Kartareja, seorang Dukun Ronggeng untuk memperlihatkan bakat dari cucunya tersebut. Kakek Sakarya (kakeknya Srintil) akhirnya menyerahkan cucunya tersebut ke Kartareja untuk menjalani syarat-syarat menjadi calon Ronggeng di Dukuh Paruk


Di kampung Dukuh Paruk ini, ronggeng memang menjadi suatu kebanggan. Bagi pedukuhan yang kecil, miskin, dan terbelakang in ronggeng merupakan suatu lambang kehidupan .Jika ada salah satu orang yang bisa menjadi Ronggeng, niscaya masyarakat setempat di sana akan ikut bangga melihat orang tersebut. Sudah 12 tahun lamanya desa yang menumpukan kebanggannya kepada ronggeng ini tidak memiliki ronggeng karena meninggal. Melihat Srintil yang digadang-gadang akan menjadi ronggeng, semangat kehidupan di Dukuh Paruk ini kembali menggelora


Srintil kecil mempunyai sahabat yang bernama Rasus, mendengar hal ini Rasus sungguh tidak setuju dengan keputusan Srintil menjadi seorang ronggeng, terlebih ia harus melewati prosesi buka kelambu. Namun sayang, keputusan sudah diambil. Srintil sebenarnya hanya ingin menjadi seorang ronggeng yang bisa menghibur banyak orang tanpa harus menjalani hal semacam ini, namun karena tradisi yang ada di desa itu mengharuskan adanya buka klambu, Srintil terpaksa harus mengikuti itu semua tanpa bisa menolak.


Sebelum melayani tamu-tamunya, diam-diam Srintil keluar dari kamarnya menuju belakang rumah Kertaredja karena tau ada rasus yang sedang berusaha menggagalkan prosesi itu tapi tak bisa berbuat apa-apa. Srintil kemudian memaksa Rasus untuk menggaulinya, Ia lebih rela keperawanannya itu hilang oleh Rasus.


Srintil yang mulai memberontak Nyi Kertaredja ini bermaksud untuk mengubah hidupnya. Gelimang harta yang ia miliki tidak membuatnya bahagia. Ia ingin menjalani kehidupan layaknya perempuan pada umumnya, menikah dan menjalankan rumah tangga. Lalu berhasilkah Srintil menuju kehidupan yang diinginkannya?


Kelebihan novel ini menurut Mintur pribadi sangat banyak, dari mulai pemilihan kata yang sangat indah dalam penggambaran alam dan suasana saja sangat membuat pembaca dimanjakan dalam menikmati kata-kata. Dari novel ini juga kita bisa mengetahu gambaran kehidupan perempuan dimasa lalu dalam sebuah lingkungan yang terbelakang. Ditambah novel ini yang memang merupakan novel sejarah, membuat pembacanya bisa mengetahu banyak mengenai sejarah ronggeng, juga situasi politik tahun 1965 yang menjadi latar waktu dari novel ini.


Menilai novel ini menjadi suatu yang sangat subjektif bagi Mintur, karena ini merupakan salah satu novel yang membawa Mintur terjebak masuk ke dalam kecintaan dunia novel, agak sulit mencari kelemahan dari novel ini. Mungkin kelemahannya adalah novel ini mengandung banyak perkataan dan adegan yang 18+ sehingga tidak terlalu disarankan bagi kalian yang masih dibawah umur.


Cukup segini dulu deh resensi novel Ronggeng Dukuh Paruk kali ini, pokoknya untuk novel yang satu ini Kawantur jangan sampe lewatkan ya, karena ini salah satu novel kesayang Mintur huhu. Sampe ketemu lagi di resensi novel selanjutnya ya, jika kalian suka sama rubrik ini, boleh banget bantu sharenya biar temen-temen kalian ikut berkunjung ke salah satu rubrik bertutur ya. Terimakasih telah membaca sampe selesai, have a nice day.


Novel Ronggeng Dukuh Paruk pertama kali diterbitkan tahun 1982 dalam bentuk trilogi, yaitu Catatan Buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala. Setahun kemudian, novel ini diadaptasi ke dalam film Darah dan Mahkota Ronggeng dengan sutradara Yazman Yazid dan dibintangi Ray Sahetapy dan Enny Beatrice. Pada tahun 2003, Gramedia Pustaka Utama menerbitkan trilogi ini menjadi satu novel dengan judul Ronggeng Dukuh Paruk. Penerbitan ulang ini disertai penyertaan bagian-bagian yang sempat disensor. Hingga tahun 2012, versi baru novel ini telah dicetak ulang sebanyak sembilan kali.[2] Tahun 2011, Ronggeng Dukuh Paruk kembali diadaptasi ke dalam film dengan judul Sang Penari. Adaptasi yang kedua ini disutradarai oleh Ifa Isfansyah dengan pemeran utama Prisia Nasution dan Oka Antara. Film kedua ini berhasil meraih sepuluh nomine Festival Film Indonesia 2011 dan memenangkan empat Piala Citra.


Tahun 2014, novel Ronggeng Dukuh Paruk diproduksi oleh Digital Archipelago dalam bentuk file audio. Penerbitan ini menggandeng Butet Kartaredjasa sebagai pengisi suara.[1] Untuk mengalihmediakan novel ini, Butet Kartaredjasa memerlukan waktu selama satu tahun, yaitu 2012-2013.[3] Penerbitan ini mengikuti penerbitan pertama, yaitu dalam bentuk trilogi. Novel pertama, Catatan Buat Emak rekamannya berdurasi sekitar 6 jam, novel kedua, Jantera Bianglala berdurasi sekitar 8 jam, dan novel ketiga, Lintang Kemukus Dini Hari berdurasi 6 jam.[1] Hingga saat ini, Ronggeng Dukuh Paruk telah terbit dalam lima bahasa, yaitu bahasa Indonesia, bahasa Jepang, bahasa Jerman, bahasa Belanda, dan bahasa Inggris.[2]


Sejak Srintil yang belia dinobatkan menjadi ronggeng baru di Dukuh Paruk untuk menggantikan ronggeng terakhir yang mati dua belas tahun yang lalu, semangat kehidupan di Dukuh Paruk kembali menggeliat. Bagi pedukuhan yang kecil, miskin, terpencil namun bersahaja itu, ronggeng adalah perlambang kehidupan. Tanpa adanya seorang ronggeng, dukuh itu akan kehilangan jati diri. Srintil menjadi tokoh yang amat terkenal dan digandrungi karena cantik dan menggoda. Semua ingin berjoget dan tidur bersama ronggeng itu. Dari kawula biasa hingga pejabat-pejabat desa, bahkan hingga pejabat kabupaten.


Namun, malapetaka politik tahun 1965 membuat Dukuh Paruk hancur, baik secara fisik maupun mental. Karena kebodohan mereka tentang politik, mereka terseret arus konflik dan divonis sebagai manusia-manusia pengkhianat negara. Pedukuhan itu dibakar dan ronggeng berserta para penabuh calung ditahan oleh tentara. Hanya saja, karena kecantikannya, Srintil tidak diperlakukan semena-mena oleh para penguasa penjara tahanan politik.

3a8082e126
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages