Mdgs Kesehatan Ibu Dan Anak Pdf Free

0 views
Skip to first unread message
Message has been deleted

Edel Dieringer

unread,
Jul 10, 2024, 9:19:15 PM7/10/24
to conwinfdiscwirt

(Tampaksiring, 20 April 2010) Millennium Development Goals (MDGs) merupakan sebuah paket berisi tujuan yang mempunyai batas waktu dan target terukur untuk menanggulangi kemiskinan, kelaparan, pendidikan, diskriminasi perempuan, kesehatan ibu dan anak, pengendalian penyakit, dan perbaikan kualitas lingkungan.

Pada pertemuan Raker II ini dibahas Rencana Tindak Percepatan Pencapaian Tujuan MDGs dalam sidang kelompok yang dipimpin oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas Prof. Armida Alisjahbana, MA, yang mencakup 7 (tujuh) tujuan, yaitu (1) memberantas kemiskinan dan kelaparan; (2) mencapai pendidikan dasar untuk semua; (3) mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan; (4) menurunkan kematian anak; (5) meningkatkan kesehatan ibu; (6) mengendalikan HIV dan AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya; dan (7) menjamin kelestarian lingkungan hidup.

Secara umum, perkembangan yang telah dicapai sampai saat ini menunjukkan kemajuan yang menggembirakan. Beberapa indikator MDGs secara nasional telah tercapai dan sebagian besar target MDGs secara nasional diperkirakan akan tercapai (on track). Pemerintah mendapatkan apresiasi dari PBB atas capaian sampai saat ini dan komitmennya untuk mencapai sasaran MDGs pada akhir tahun 2015.

Untuk itu, Prof. Armida mengatakan, pencapaian sasaran MDGs di tingkat nasional perlu didukung capaian di tingkat daerah, dan seluruh pemangku kepentingan yang terdiri dari Pemerintah, dunia usaha, masyarakat luas termasuk masyarakat madani, serta para tokoh agama. Meskipun beberapa sasaran MDGs telah tercapai dan on track, upaya-upaya khusus perlu tetap dilakukan untuk mempertahankan dan meningkatkan kinerja capaian MDGs. Selain itu, diperlukan upaya-upaya yang lebih keras lagi untuk mencapai sasaran MDGs seperti untuk penurunan angka kematian ibu melahirkan, pencegahan HIV/AIDS dan peningkatan tutupan lahan. Sementara itu, kesenjangan antardaerah dalam pencapaian sasaran MDGs perlu terus diperkecil, antara lain dengan memberikan perhatian yang lebih besar bagi daerah-daerah yang kinerja pencapaian MDGs-nya masih di bawah rata-rata nasional. Seluruh upaya untuk mencapai sasaran MDGs tersebut perlu didukung dengan penguatan sinergi antarkementerian/lembaga dan antara pusat dan daerah.

Mdgs Kesehatan Ibu Dan Anak Pdf Free


Download File >>>>> https://bltlly.com/2yLOAx



Angka Kematian Ibu, Bayi dan Balita di Indonesia masih cukup tinggi dan merupakan salah satu masalah utama kesehatan. Menurut Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals) 2015, target Indonesia terkait penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) adalah 102 per 100.000 kelahiran hidup, Angka Kematian bayi (AKB) 23 per 100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Balita (AKABA) 32 per 100.000 kelahiran hidup. Informasi terakhir dari Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 menunjukkan AKI masih 228 per 100.000 kelahiran hidup, AKB 34 per 100.000 kelahiran hidup dan AKABA 44 per 100.000 kelahiran hidup. Angka Kematian Bayi (AKB) dan AKABA dalam 5 tahun terakhir menunjukkan tren penurunan, namun tren AKI diperkirakan tidak akan dapat mencapai target MDGs.

Desentralisasi sektor kesehatan di Indonesia memiliki dampak baik sekaligus buruk pada pembangunan kesehatan, khususnya pada program penurunan AKI, AKB dan AKABA. Desentralisasi memungkinan provinsi dan kabupaten/kota membuat program pembangunan kesehatan yang spesifik dan sesuai dengan kebutuhan setempat. Tetapi desentralisasi juga memungkinkan pemerintah daerah untuk melakukan program pembangunan kesehatan yang kurang sesuai dengan kebijakan pembangunan kesehatan nasional, sehingga pencapaian outcome kesehatan secara nasional tidak merata dan bahkan di beberapa daerah menjadi lebih buruk dari pada saat sistem pemerintahan masih bersifat sentralistik.

Beberapa kabupaten di Indonesia telah memiliki regulasi daerah yang spesifik mengatur tentang penurunan AKI, AKB dan AKABA, antara lain Kabupaten Pasuruan di Jawa Timur, Kabupaten Takalar di Sulawesi Selatan dan Kabupaten Kupang di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kabupaten Pasuruan menurunkan Peraturan Daerah (Perda), Peraturan Bupati (Perbup) dan Peraturan Desa (Perdes) mengenai KIBBLA (Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir) pada tahun 2008, dan berhasil menurunkan berbagai angka indikator kesehatan ibu anak dan Balita, bahkan mendapatkan MDGs Award pada tahun 2012 dari Kantor Utusan Khusus Presiden RI untuk MDGs. Sedangkan Kabupaten Takalar berupaya menurunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi dengan mengeluarkan Perda No 2 Tahun 2010 tentang Kemitraan Bidan dan Dukun dan telah mencapai nol angka kematian ibu sehingga menjadi daerah percontohan bagi daerah lain. Sementara itu Kabupaten Kupang, setelah adanya program Revolusi KIA dari pemerintah provinsi NTT tahun 2009, juga telah mengeluarkan Perbup No 16 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelayanan Kesehatan untuk Ibu dan Anak, namun masih jauh dari target penurunan yang disasar.

Upaya penurunan Angka Kematian Ibu, Bayi dan Balita di beberapa kabupaten ini menunjukkan adanya inovasi kebijakan daerah di bidang kesehatan. Pada tiap-tiap kebijakan yang ditelurkan, tentu ada yang berhasil, namun ada juga yang kurang berhasil serta harus menghadapi tantangan serius dalam meningkatkan outcome kesehatan penduduk di wilayah tersebut. Oleh karena itu, studi ini dilakukan untuk mempelajari secara lebih mendalam bagaimana kebijakan daerah tentang penurunan angka kematian ibu dan anak di Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Takalar dan Kabupaten Kupang diimplementasikan. Apa saja yang mendorong keberhasilan tersebut dan apa hambatan serta tantangan-tantangan yang dihadapi dalam mengimplementasikan kebijakan tersebut? Studi ini kami pandang penting agar menghasilkan catatan-catatan pembelajaran (lessons learned) yang nantinya dapat menjadi rujukan bagi daerah lain di Indonesia yang juga sedang berupaya untuk mempercepat pencapaian target MDGs pada tahun 2015.

Penelitian ini dapat dilakukan berkat support dari EED (Evangelischer Entwicklungs Dienst) Jerman dan atas kerja keras dari tim peneliti sehingga dapat terlaksana. Akhirnya, selamat membaca, semoga hasil penelitian ini bermanfaat dan menjadi rujukan bagi daerah lain ataupun pada level nasional yang juga sedang berupaya untuk mempercepat pencapaian target MDGs pada tahun 2015.

Dalam pertemuan BOK tersebut, dr. Sri Setyani memberikan paparan mengenai capaian MDGs. Ia mengatakan bahwa di Indonesia sebagai salah satu negara anggota PBB dengan beberapa negara di dunia telah berkomitmen mencapai Millenium Development Goals (MDGs), Tujuan Pembangunan Millenium pada tahun 2015 untuk mewujudkan kesejahteraan penduduk.

Tujuan bersama dalam MDGs, meliputi yaitu menanggulangi kemiskinan dan kelaparan, mencapai pendidikan dasar untuk semua, mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, menurunkan angka kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, memerangi penyebaran HIV/AIDS, malaria, dan penyakit menular lainnya, kelestarian lingkungan hidup, dan membangun kemitraan global dalam pembangunan.

Dari kedelapan tujuan MDGs tersebut, lima di antaranya adalah MDGs bidang kesehatan yaitu MDG Menanggulangi kemiskinan dan kelaparan, Menurunkan angka kematian anak, Meningkatkan kesehatan ibu, Memerangi penyebaran HIV/AIDS, malaria, dan penyakit menular lainnya, Kelestarian lingkungan hidup.

Hasil Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2010-2014 menunjukkan penilaian rapor merah meliputi Angka Kematian Ibu, Angka Kematian Bayi, Angka Kelahiran Total, Presentase akses sumber air bersih dan Annual Parasite Indeks atau menurunnya kasus malaria, yang mana arti penilaian rapor merah tersebut adalah indikator sulit dicapai sehingga perlu kerja keras dan berbagai terobosan termasuk pemanfaatan BOK yang maksimal.

Lanjut dr. Sri mengatakan, sejak tahun 2010 Kementerian Kesehatan telah melakukan upaya terobosan dengan menyalurkan dana BOK bagi Puskesmas. Hasil studi dan pemantauan di lapangan terhadap pelaksanaan BOK selama ini, menunjukkan bahwa BOK telah dapat meningkatkan kinerja Puskesmas dan jaringannya serta Poskesdes dan Posyandu melalui upaya kesehatan promotif dan preventif.

Namun pada tahun 2014, pemanfaatan BOK difokuskan untuk meningkatkan pencapaian target MDGs bidang kesehatan yang belum tercapai dan mempertahankan yang telah tercapai. Untuk itu dalam perencanaan kegiatan yang dibiayai BOK diutamakan pada kegiatan yang berdaya ungkit tinggi dengan tetap pada upaya kesehatan bersifat promotif dan preventif.

Upaya kesehatan prioritas BOK di Puskesmas yang pertama yakni upaya menurunkan prevalensi balita gizi kurang dan gizi buruk, kedua menurunkan angka kematian balita, ketiga menurunkan angka kematian ibu dan mewujudkan akses kesehatan reproduksi bagi semua, sedangkan keempat yakni upaya menurunkan angka kematian ibu dan mewujudkan akses kesehatan reproduksi bagi semua, yang kelima ialah upaya mengendalikan penyebaran & menurunkan jumlah kasus baru HIV-ADS, mewujudkan akses terhadap pengobatan HIV-AIDS bagi semua yang membutuhkan, mengendalikan penyebaran & menurunkan jumlah kasus baru malaria & TB, dan yang keenam upaya meningkatkan akses masyarakat terhadap sumber air minum & sanitasi dasar yang layak.

Petunjuk teknis BOK sebagai acuhan bagi pelaksana dalam pemanfaatan dana BOK. Juga, BOK 2014 memfokuskan untuk meningkatkan pencapaian target MDGs bidang kesehatan yang belum tercapai & mempertahankan yang telah tercapai.

Diharapkan Puskesmas sebagai ujung tombak dari pelayanan kesehatan di masyarakat, merencanakan kegiatan secara komprehensif, berdaya ungkit tinggi pada upaya kesehatan besifat promotif dan preventif dengan menggunakan data PWS (Pemantauan Wilayah Setempat). (Ima)

Riskesdas kedua dilaksanakan 2010 bertepatan dengan tahun dilaksanakannya pertemuan puncak tingkat tinggi Majelis Umum PBB untuk mengevaluasi pencapaian deklarasi Millenium Development Goals (MDGs) dari 189 negara termasuk Indonesia.

Pada deklarasi tersebut disepakati 8 tujuan untuk mencapai MDGs di tahun 2015 yaitu: memberantas kemiskinan dan kelaparan, mencapai universal primary education, mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, menurunkan kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, memerangi HIV/AIDS, malaria dan tuberkulosis, memastikan lingkungan yang kesinambungan, mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan. Dalam rangka mendukung pertemuan tersebut dan mendapatkan data kesehatan terkini yang faktual, Riskesdas 2010 difokuskan pada indikator-indikator pencapaian MDGs dan data pendukung lainnya.

7fc3f7cf58
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages