Samarinda.Amanah Ummat.Com- Maulid Habsy berisi pujian dan ungkapan cinta pada Nabi Muhammad SAW. Pembacaan kitab Maulid Habsyi sering diyakini masyarakat kalimantan sebagai sarana atau pintu untuk berhubungan dengan Nabi Muhammad SAW. Maulid Habsy atau Maulid Simthud Durar terkenal dan menyebar ke berbagai belahan dunia.
Di Kalimantan, khususnya di Samarinda maulid Habsy sudah tidak asing lagi, dimana ada kegiatan hari besar Islam seperti peringatan maulid atau israk mikroj selalu membaca atau mendengdangkan mauled Habsy lewat lagu lagu Hadrah atau qasidah.
Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi yang merupakan penyusun maulid ini adalah seorang ulama besar dan waliyullah asal hadraumut, tarim, yaman. beliau lahir pada tahun 1259 H / 1839 M dan wafat pada tahun 1333 H / 1913 M.
Lanjut KH Achmad Zaini salah satu karomah Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi adalah apabila dia shalat, dan ketika salam, maka semua jamaah yang mengikuti shalatnya semua mendengar jawaban salam dia langsung dijawab Nabi Muhammad SAW.
Terang Guru Zaini maulid Habsyi sudah dibaca orang mulai dari daerah pengarangnya di Hadraumut. Salawat ini juga menyebar ke syuriah, Mesir, Arab Saudi termasuk ke ke Indonesia, dan bahkan smpai ke kalimantan, bahkan di kalses Guru Sakumpul sampai mati selalu membaca maulid habsyi ini.
Guru Achmad Zaini mengajak agar umat Islam selalu membaca salawat, khususnya salawat habsyi, agar mendapat barokah dan safaat dari Nabi Muammad SAW, dengan membaca doa dan mentadaburi maknanya salawat habsyi akan semakin cinta kepada Nabi SAW.
Figur abah guru sekumpul yang kharismatik dan religius memang sangat dikenang oleh masyarakat banjar, dari kota sampai kepelosok desa, tidak terkecuali di Kabupaten Kotabaru. Setiap tahun hari wafat beliau selalu diperingati baik dengan datang langsung ke sekumpul atau melaksanakan acara haul di daerah masing-masing.
Kepala MAN Kotabaru Muhammad Yamin S.Ag., MM. menyampaikan ucapan terimakasih kepada semua ustadz-ustadzah juga siswa-siswi yang turut serta mendukung acara ini. Bahkan ada dari orang tua siswa yang ikut menyumbangkan rezekinya dalam penyedian konsumsi diacara haul ini.
Selesai menempuh pendidikan di madrasah beliau melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Darussalam Martapura. Usaha beliau dalam menuntut ilmu tidak hanya melalui pendidikan formal saja. Beliau juga menuntut ilmu di rumah-rumah para ulama.
Guru sekumpul juga menuntut ilmu di kota Bangil dan berguru dengan Syekh Muhammad Syarwani Abdan Bangil. Tak sampai disitu, beliau kembali melanjutkan Pendidikan ke kota suci Makkah dan dituntun langsung oleh Sayyid Muhammad Amin Al-Kutby.
Ketika beliau berumur 33 tahun, guru sekumpul menikahi Juwairiyah binti H. Sulaiman dan memiliki keturunan Bernama Muhammad Amin Badali yang lahir pada januari 1995 dan Muhammad Hafi Badali yang lahir pada Maret 1996.
Awal mula dakwah guru sekumpul dimulai ketika beliau mengajar di Pondok Pesantren Darussalam Martapura selama 5 tahun, kemudian beliau mengundurkan diri dan membuka pengajian di rumah kediaman beliau yang bertempat di Keraton.
Kabar kepergian Guru Sekumpul meninggalkan duka yang mendalam untuk seluruh jamaah beliau. Komplek Ar-Raudhah dipadati jamaah bahkan para ulama yang ingin ikut sholat jenazah. Hingga adzan Ashar terdengar menjadi akhir proses pemakaman Guru Sekumpul.
Terpantau jutaan jemaah yang berada di luar khusyuk mendengarkan. Sesekali sayup sayup suara mengiringi bacaan Muhammad Amin yang khas, terdengar lembut. Sosoknya bersama Hafi, mengingatkan sosok Abah Guru Sekumpul yang dapat membayar kerinduan jutaan jemaah.
Disela-sela pembacaan maulid, juga dilantukan syair qasidah khobiri. Syair ini sering dibacakan Abah Guru Sekumpul masih hidup. Dalam salah satu pengajiannya, beliau pernah menyebut syair ini memiliki keistimewaan.
Acara tidak seperti malam sebelumnya yang digelar habis isya. Selain itu proses malam pertama sedikit lebih lama, karena selain pembacaan ayat suci, juga ada pembacaan Dalail Khairat, lalu ditutup dengan tahlil dengan dzikir nasyid.
Jemaah haul kali ini lebih banyak dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Para tamu pun beragam, mulai dari para habaib, ulama, tokoh masyarakat, tuan guru, hingga pejabat hadir. Mereka bukan hanya berasal dari Indonesia, tapi juga dari negara tetangga, dan negeri Arab serta benua Afrika.
Fauzan Asniah terus berharap prosesi haul berjalan dengan tertib, aman, khidmat, lancar, dan sukses, meski puncak acara telah selesai dilaksanakan. Dia juga mendoakan kepada seluruh jemaah agar selamat ketika pulang menuju tempat asalnya masing-masing.
Pelaksanaan haul terpusat di Musalla Ar-Raudhah Sekumpul. Musalla tersebut satu komplek dengan tempat tinggal Guru Sekumpul semasa hidup. Makam Guru Sekumpul yang memiliki ribuan murid semasa hidup juga berada di sana.
Diketahui Guru Sekumpul adalah ulama yang masih termasuk zuriat ke-8 Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, ulama besar yang menjadi soko guru para ulama di Kalimantan. Beliau dikenal seorang ulama yang menghimpun antara syari'at, thariqat dan haqiqat, juga seorang hafazh beserta tafsirnya, yaitu tafsir Al-quran al-'azhim lil-Imamain al-Jalalain.
Keduanya kini meneruskan pembacaan maulid Habsy setiap Minggu malam, seperti biasa dilakukan Guru Sekumpul semasa hidup. Jemaah maulid tiap malam itu selalu dihadiri ribuan jemaah. Khususnya jemaah dari pelosok Kalimantan Selatan.
c80f0f1006