Pura Sad Kahyangan Jagat Di Bali

0 views
Skip to first unread message

Carlos Beirise

unread,
Aug 3, 2024, 12:47:15 PM8/3/24
to coftherelea

Secara klasik, berdasarkan sejarah, pura Kahyangan Jagat dibagi menjadi empat jenis yaitu Pura Kahyangan Jagat yang didirikan berdasarkan konsepsi Rwa Bhineda, Catur Loka Pala, Sad Winayaka dan Padma Bhuwana. Ada beberapa pura yang tergolong berfungsi rangkap, baik sebagai pura Rwa Bhineda, pura Catur Loka Pala maupun sebagai pura Sad Winayaka dan juga sebagai pura Padma Bhuwana. Pura Besakih dan Pura Batur di Kintamani adalah pura yang tergolong pura Rwa Bhineda. Pura Catur Loka Pala adalah Pura Lempuyang Luhur di arah timur Bali, Pura Luhur Batukaru arah barat, Pura Andakasa arah selatan dan Pura Puncak Mangu arah utara.

Pura yang didirikan berdasarkan konsepsi Sad Winayaka ini umumnya disebut Pura Sad Kahyangan. Tidak kurang dari sembilan lontar menyatakan adanya Pura Sad Kahyangan. Namun setiap lontar menyatakan pura yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena saat Bali menjadi sembilan kerajaan. Tiap-tiap kerajaan memiliki Sad Kahyangan masing-masing. Ada yang sama dan ada juga yang tidak sama.

Pura Sad Kahyangan yang dinyatakan dalam Lontar Kusuma Dewa itu adalah Sad Kahyangan saat Bali masih satu kerajaan. Pura Luhur Uluwatu adalah salah satu pura yang dinyatakan sebagai Pura Sad Kahyangan dalam Lontar Kusuma Dewa dan juga beberapa lontar lainnya. Pura Luhur Uluwatu itu juga dinyatakan sebagai pura Padma Bhuwana yang berada di arah barat daya Pulau Bali.

Untuk menjaga agar Pura Kahyangan Jagat tersebut tetap lestari maka PHDI Pusat telah mengeluarkan Bhisama tentang Kesucian Pura. Bhisama Kesucian Pura tersebut dikeluarkan oleh PHDI Pusat tanggal 25 Januari 1994 adalah suatu produk untuk melanjutkan sistem beragama Hindu di Bali, khususnya tentang keberadaan Pura Kahyangan Jagat. Jarak keberadaan pura yang tergolong Kahyangan Jagat itu yakni desa pakraman terdekat dengan Kahyangan Jagat umumnya berjarak apeneleng agung (sekitar lima kilometer).

Kahyangan Jagat tersebut khususnya Kahyangan Jagat yang tergolong Kahyangan Rwa Bhineda, Kahyangan Catur Loka Pala, Pura Sad Kahyangan dan Pura Padma Bhuwana yang berada di sembilan penjuru Pulau Bali. Sedangkan Pura Kahyangan Jagat yang tergolong Pura Dang Kahyangan berjarak apeneleng alit kurang lebih dua kilometer. Sedangkan untuk Pura Kahyangan Tiga dan lain-lainnya dengan jarak apenimpug dan apenyengker.

Istilah-istilah apeneleng agung, apeneleng alit, apenimpug dan apenyengker semuanya itu adalah istilah yang terdapat dalam tradisi budaya Bali warisan leluhur umat Hindu yang sudah ada sejak berabad-abad. Tujuan utama Bhisama Kesucian Pura tersebut untuk menata keseimbangan perilaku manusia dalam memanfaatkan alam agar tidak semata-mata dijadikan sarana untuk kepentingan hidup sekala yang bersifat sementara. Pemanfaatan ruang di alam ini agar digunakan secara seimbang untuk memenuhi kebutuhan hidup yang bersifat sekala dan niskala dengan landasan filosofi Tri Hita Karana.

Bhisama Kesucian Pura ini dibuat untuk mencegah pelanggaran tentang keberadaan pura tersebut tidak berlangsung terus. Namun, bhisama ini adalah produk pandita melalui Pasamuan Sulinggih PHDI Pusat yang dibantu oleh Sabha Walaka dan Pengurus Harian PHDI Pusat. Bhisama ini adalah tergolong norma agama. Sanksi norma agama bagi pelanggar-pelanggarnya tergantung dari keyakinan umat pada ajaran agamanya.

Bhisama itu adalah penafsiran suatu ajaran agama yang belum jelas dan tegas dinyatakan dalam kitab suci Veda. Namun secara filosofis sudah tercantum dalam kitab suci. Dalam Manawa Dharmasastra XII.108 menyatakan, kalau ada hal-hal yang belum secara jelas dinyatakan dalam ajaran Veda (Dharma), maka yang berwewenang menentukan jawabannya adalah Brahmana Sista (Pandita Ahli). Ketentuan itu memiliki kekuatan legal.

Selanjutnya dalam Manawa Dharmasastra XII.110 dinyatakan bahwa apa pun yang telah ditetapkan oleh Brahmana Sista yang memegang jabatan di Parisada, memiliki kekuatan hukum yang sah, siapa pun sebaiknya tidak ada yang membantahnya.

Substansi bhisama adalah menjaga kawasan suci di areal pura agar jangan terjadi polusi dan vibrasi negatif. Kalau di sekitar pura sudah terjadi polusi dan vibrasi negatif karena terjadi berbagai kegiatan hidup yang tidak sesuai dengan norma agama yang diberlakukan di areal pura tersebut, apa lagi ditambah dengan lingkungan yang sudah terpolusi, dapat menyebabkan pura tidak lagi memancarkan kesucian dan kelestarian alam lingkungan.

Keberadaan pura dengan lingkungannya hendaknya ditata sedemikian rupa sehingga dapat dihadirkan sebagai fasilitas spiritual yang memadai. Dengan demikian pura dengan fasilitas spiritualnya dapat memberikan kontribusi spiritual yang lebih dalam kepada mereka yang sedang menjadikan pura sebagai media untuk mengembalikan daya spiritualnya. Karena itu, Bhisama Kesucian Pura membenarkan adanya berbagai fasilitas yang menunjang keberadaan pura sebagai media spiritual.

Yang dapat dibangun di sekitar pura seperti dharmasala dan pasraman dan bangunan-bangunan lainnya yang berfungsi untuk lebih mengeksistensikan keberadaan pura sebagai media untuk menguatkan aspek spiritual umat. Dharmasala adalah bangunan sebagai tempat menginap umat yang dari jauh yang ingin mengikuti berbagai kegiatan keagamaan di pura bersangkutan. Dharmasala ini dalam sistem pengelolaannya dapat saja memungut biaya kepada umat yang menginap sebagai biaya untuk memberikan pelayanan kepada umat bersangkutan.

Dharmasala bukanlah hotel sebagai tempat penginapan umum. Yang boleh menginap di dharmasala adalah mereka yang khusus akan mengikuti berbagai kegiatan keagamaan di pura bersangkutan. Sedangkan pasraman adalah suatu fasilitas yang menyediakan fasilitas pendidikan kerohanian untuk menyiapkan umat yang akan mengikuti berbagai kegiatan di pura bersangkutan. Di samping dharmasala dan pasraman dapat saja dibangun fasilitas lainnya di areal kesucian pura sepanjang hal itu menunjang eksistensi pura sebagai kawasannya sebagai media spiritual.

Dalam areal radius lima kilometer di Pura Luhur Uluwatu dengan Pura-pura Prasanak-nya itu dapat saja dibangun dharmasala dan pasraman. Apalagi dilengkapi dengan bangunan ''diorama'' yang dapat memvisualisasikan berbagai nilai filosofi hidup yang dikandung oleh keberadaan Pura Luhur Uluwatu dengan Pura Prasanak-nya. Upaya itu tentunya amat positif, sepanjang dilakukan dan didahului dengan pengkajian yang mendalam. Hasil pengkajian tersebut dituangkan ke dalam program yang matang, baik untuk jangka pendek maupun untuk jangka panjang. Dengan demikian generasi sekarang akan memiliki komitmen spiritual untuk melanjutkan warisan leluhur yang amat mulia itu. * wiana

More than 10,000 temples are scattered across the island and commemorate virtually every aspect of life: harvest, rain, prosperity, life, death and protection. Generally, the greater gods are worshipped in larger public temples while lesser gods and deities are worshipped in smaller local temples. The most important are known as the nine directional temples or Kahyangan jagat and occupy auspicious locations, like mountains, cliffs and lakes. Unlike smaller regional temples, these are considered to be relevant to all of Bali and protect the island and its inhabitants from evil spirits. From these, six are classed as sad-kahyangan, supreme holy temples and are considered the pillars of the island. These generally include Pura Besakih, Pura Uluwatu, Pura Goa Lawah, Pura Lempuyang Luhur, Pura Batukaru, Pura Pusering Jagat.

Unlike other temples which serve purely religious purposes, the picturesque water temples also have a practical role to play in the management of subak (rice irrigation system), with temple priests managing the water allocation among the surrounding rice paddies. Some of these temples have sacred springs and bathing pools making them a popular destination for cleansing rituals, the most well known being Pura Tirta Empul. Believed to have been created by Indra, the ruler of heaven, and god of thunder and rainfall, the holy waters of Tirta Empul are said to have strong curative properties.Other water temples are built within lakes, such as the stunning Pura Ulun Danu Bratan which appears to float on the water and is dedicated to the worship of the goddess of lakes and rivers.

Di antara semua pura yang ada di kompleks Pura Besakih, Pura Penataran Agung adalah pura yang terbesar, terbanyak bangunan pelinggihnya, terbanyak jenis upakaranya, dan merupakan pusat semua pura yang ada di kompleks tersebut.

Pura Lempuyang terletak di lereng Gunung Lempuyang di Karangasem, Bali. Pura ini merupakan salah satu Pura Sad Kahyangan di Bali, tempat memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Iswara. Selain Pura Lempuyang Luhur, terdapat beberapa pura yang ada di kompleks Gunung Lempuyang yang masing-masing menandai delapan arah mata angin utama. Pura Lempuyang Luhur mewakili arah timur dan warna putih yang dikaitkan dengan Dewa Iswara.

Pura Goa Lawah berlokasi di Desa Pasinggahan, Kecamatan Dawan, Kabupatten Klungkung. Seperti namanya, pura ini dikenal karena adanya sebuah gua pada bagian utama pura yang di dalamnya terdapat sekumpulan kelelawar. Pura ini berdiri di wilayah pertemuan antara pantai dan perbukitan dengan sebuah gua yang dihuni beribu-ribu kelelawar. Dalam Lontar Padma Bhuwana, disebutkan bahwa pura ini merupakan tempat berstananya Dewa Maheswara dan Sanghyang Basukih dengan fungsi sebagai pusat nyegara gunung.

Berlokasi di wilayah Desa Adat Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, pura ini terletak di ujung barat daya Pulau Bali, di atas anjungan batu karang uang terjal dan tinggi. Pura Uluwatu memiliki beberapa pura pesanakan yang erat kaitannya dengan pura induk, yaitu Pura Bajurit, Pura Pererepan, Pura Kulat, Pura Dalem Selonding, dan Pura Dalem Pengleburan. Manifestasi Tuhan yang dipuja di pura ini adalah Dewa Rudra.

Berlokasi di Kabupaten Tabanan, pura ini merupakan tempat memuja Tuhan sebagai Dewa Mahadewa yang menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dengan menggunakan air secara benar. Selain terdapat bangunan utama, di sebelah timur pura ini juga terdapat sumber mata air yang terdiri atas dua bagian, yaitu di jeroan pura yang digunakan untuk tirta dan bagian lainnya untuk kepentingan mandi dan cuci muka sebelum melakukan persembahyangan.

c80f0f1006
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages