Wherever you may be, death will overtake you, even if you should bewithin towers of lofty construction. But if good comes to them, theysay, "This is from Allah "; and if evil befalls them, they say, "Thisis from you." Say, "All [things] are from Allah ." So what is [thematter] with those people that they can hardly understand anystatement?
What comes to you of good is from Allah , but what comes to you ofevil, [O man], is from yourself. And We have sent you, [O Muhammad],to the people as a messenger, and sufficient is Allah as Witness.
I'm not an expert on this field, but I like to read quran with their translation so I could understand them. may be I got something wrong with this, so please someone with deep understanding explain this two ayat. thank you.
As this is a tafseer related question so this does not necessarily require references, but it requires to make it clear how these 2 ayahs are compatible. I will try to explain this, with help of of tafseer from Dr. Israr Ahmed (late), which you can listen(in urdu) here.
But first, let's understand the background of this. We don't need to discuss details here, just focus on these 2 ayahs, in first ayah, Allah is describing what munafiqeen used to say:
"You" here refers to Prophet Muhammad ﷺ, so Allah is describing that when something good happens, the munafiqeen say it is from Allah, Allah is great alhamdulillah and all that, but when something bad happens(these ayahs are related to a gazwa/war, so you can expect anything in war) they say that this is happening because of you(Muhammad ﷺ), because of your decision or with anything they can hold on to blame him.
So, allah nullify their claim in first ayah about this, and makes it crystal clear and whatever happens good or bad happens as per Allah's wish. So, you can't blame prophet for bad things and praise Allah for good things. You should have complete faith on Allah and his decisions.
Having said that, in the very next ayah, comes the different explanations. The most popular one is:
The first ayah is related to munafiqeen and to nullify what they say, although everything good or bad "IS" from Allah, but true muslims don't attribute anything bad to Allah, so allah is commanding "MUSLIMS" to attribute good things to Allah, and on bad things, a true believer should say that this is because of some of my mistake, and Allah wanted to warn me or something, and this bad thing is because of me not because Allah ENFORCED it on me. This is first view.
Now, coming to 2nd view, which is that the reality is that everything good or bad is with the will of Allah,(Now, i will have to apologize for my weak english vocabulary, i don't know they word, so i will try to explain the scenario) so in second ayah, Allah is kind of repeating like if someone says something illogical and the other person answers him with a question in his logic. Like... for example, let's suppose, if i say something like "Hey, you look great in this dress, but this color does not suits you." And you will reply like "Oh, i look great in this dress, and this color does not suits me??(How come? how illogical...)" This is something like that in this ayah, Allah is saying that whatever comes good is from me, and whatever bad is from you(This is what munafiqeen say, how illogical is this?). This is the second view on this ayah.
The first of these two Ayah is talking about the people who were blaming the Prophet for their own mistakes. And in the next Ayah, Allah is telling them, that you need to blame your own self for your own mistakes. When a calamity befalls you, it is because Allah is punishing you for your mistakes. (Therefore, both have been destined from Allah). Don't blame the Prophet for that calamity.
Disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir yang diterjemahkah M. Abdul Ghoffar dkk, surah Al Baqarah ayat 255 disebut dengan Ayat Kursi karena memiliki kedudukan yang besar. Menurut sebuah hadits shahih, Ayat Kursi merupakan ayat yang paling utama dalam Al-Qur'an.
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ سَعِيدٍ الْجَرِيرِيِّ عَنْ أَبِي السَّلِيلِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ رَبَاحٍ عَنْ أُبَيٍّ -هُوَ ابْنُ كَعْبٍ-أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلَهُ: "أَيُّ آيَةٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ أَعْظَمُ" قَالَ: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. فَرَدَّدَهَا مِرَارًا ثُمَّ قَالَ أُبَيٌّ: آيَةُ الْكُرْسِيِّ. قَالَ: "لِيَهْنك الْعِلْمُ أَبَا الْمُنْذِرِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّ لَهَا لِسَانًا وَشَفَتَيْنِ تُقَدِّسُ الْمَلِكَ عِنْدَ سَاقِ الْعَرْشِ"
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Sa'id Al-Jariri, dari Abus Salil, dari Abdullah ibnu Rabah, dari Ubay ibnu Ka'b, bahwa Nabi SAW pernah bertanya kepadanya, "Ayat Kitabullah manakah yang paling agung?" Ubay menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Nabi SAW mengulang-ulang pertanyaannya, maka Ubay menjawab, "Ayat Kursi." Lalu Nabi SAW bersabda, "Selamatlah dengan ilmu yang kamu miliki, hai Abul Munzir. Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya ayat Kursi itu mempunyai lisan dan sepasang bibir yang selalu menyucikan Tuhan Yang Mahakuasa di dekat pilar Arasy."
Arti Ayat Kursi: Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Mahatinggi lagi Mahaagung.
Menurut Tafsir Jalalain (edisi Indonesia terbitan Shahih), lafaz "Allah tak ada tuhan selain Dia" artinya tak ada sesembahan yang sebenarnya di alam wujud ini. "Yang Mahahidup" artinya Kekal lagi Abadi, "terus-menerus mengurus" artinya terus-menerus mengatur makhluk-Nya.
"Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi" mengandung makna sebagai kepunyaan, ciptaan, dan hamba-Nya. "Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya" dalam hal ini syafaat itu terhadapnya.
"Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka" maksudnya di hadapan makhluk. "dan apa yang ada di belakang mereka" artinya urusan dunia atau akhirat. Kalimat "sedangkan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya kecuali apa yang Dia kehendaki" maksudnya manusia tidak tahu sedikit pun dari apa yang diketahui oleh Allah SWT melainkan sekadar apa yang dikehendaki-Nya untuk mereka ketahui melalui perantara para Rasul.
Ada yang menafsirkan makna "Kursi-Nya meliputi langit dan bumi" sebagai ilmu-Nya, ada pula yang menyebut kekuasaan-Nya, dan ada pula yang menafsirkan Kursi itu sendiri yang meliputi langit dan bumi karena kebesaran-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits, "Tidaklah langit yang tujuh pada kursi itu, seperti tujuh buah uang dirham yang dicampakkan ke dalam sebuah pasukan besar."
Adapun, maksud "Dia tidak merasa berat memelihara keduanya" adalah memelihara langit dan bumi itu. Kemudian dikatakan, "Dialah yang Mahatinggi lagi Mahaagung." sehingga hal itu membuat Allah SWT menguasai semua makhluk-Nya.
Membaca Ayat Kursi memiliki keutamaan tersendiri. Disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA dari Rasulullah SAW, membaca Ayat Kursi dapat melindungi seseorang dari gangguan setan.
"Bila engkau akan beranjak ke tempat tidurmu maka bacalah Ayat Kursi karena sesungguhnya ia (dapat menjadikanmu) senantiasa mendapatkan penjagaan dari Allah SWT dan setan tidak akan mendekatimu hingga pagi hari." (HR Bukhari)
An-Nasa'i turut meriwayatkan dalam kitab al-Kubra bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang membaca Ayat Kursi setiap kali selesai salat, maka tidak ada sesuatu pun yang bisa menghalanginya untuk masuk surga sampai dia meninggal." Hadits ini dishahih-kan oleh Al Albani.
Tafsir ekologi menjadi ranah baru dalam kajian tafsir al-Quran. Tawaran yang diberikan dalam tafsir ini adalah menyampaikan tentang ajakan memahami ayat-ayat yang berkaitan dengan lingkungan, seperti surat Ar-Rum ayat 41 dan Al-Araf ayat 56. Salah satu faktor yang melatarbelakangi lahirnya varian tafsir ini adalah masalah lingkungan hidup yang menjadi isu faktual pada abad ke-21.
Kajian tafsir modern telah berkembang bukan hanya sebagai wacana. Namun, ide yang tertuang dapat menjadi sebuah ruang baru agar dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Di antaranya adalah sebuah tafsir pembebasan dari Hassan Hanafi yang lebih mengedepankan adanya sebuah aksi perubahan sosial dari hasil pentafsiran al-Quran. Maka, melalui pendekatan teori aksiomatika Hassan Hanafi, tafsir ekologi diharapkan melahirkan adanya sebuah gerakan nyata ramah lingkungan, bukan hanya sebagai pengetahuan lembaran ilmu tanpa memberikan manfaat sosial bagi umat manusia.
Islam sebagai agama Rahmatal lil Alamin tentu merupakan agama yang paripurna bagi setiap pemeluknya. Sumber hukum Islam yang didasarkan pada al-Quran dan hadits menjadi hudan (petunjuk) dan aturan yang mengikat pada umat Islam yang timbul dari kedua sumber tersebut. Beberapa ayat al-Quran yang menjelaskan mengenai permasalahan lingkungan adalah Surat Ar-Rum ayat 41
c80f0f1006