Wakil kepala urusan kurikulum adalah wakil kepala sekolah yang bertanggung jawab untuk menyusun implementasi kurikulum di sekolah. Bersama kepala sekolah, waka kurikulum harus bisa mewujudkan kondisi belajar mengajar yang kondusif dan menyenangkan bagi peserta didik. Sama seperti organisasi lain, waka kurikulum harus memiliki program kerja yang jelas dan terarah agar implementasi kurikulum di sekolah bisa berjalan dengan baik, sehingga tercapai tujuan pembelajaran. Semua program kerja yang diusulkan harus mendapatkan persetujuan dari kepala sekolah. Program kerja waka kurikulum adalah dokumen yang memuat daftar rencana kegiatan kurikulum selama satu tahun.
Kurikulum yang diterapkan di sekolah harus mengacu pada kurikulum pemerintah pusat. Waka kurikulum bertanggung jawab untuk menyusun dan mengembangkan kurikulum itu sehingga bisa diterapkan di sekolah, baik dari sisi struktur, pelaksanaan, pengadaan buku, penyusunan dokumen, hingga kegiatan evaluasi.
Secara umum, kalender pendidikan itu sama. Namun, setiap sekolah bisa menyusun kembali kalender pendidikan itu sesuai dengan kegiatan yang akan dijalankan. Saat menyusun kalender pendidikan, seorang waka kurikulum harus berkoordinasi dengan kepala sekolah. Adapun rincian kalender pendidikan adalah:
Menjadi waka kurikulum itu merupakan suatu tantangan tersendiri bagi guru. Mengingat, lingkup kerjanya sangat luas dan mendetail. Contohnya saat waka kurikulum harus menyusun jadwal mengajar bagi guru dan menyesuaikannya dengan jadwal pelajaran yang telah disusun sebelumnya.
Kegiatan pembelajaran adalah semua kegiatan yang berkaitan dengan aktivitas belajar mengajar, baik di kelas maupun di laboratorium, serta praktik (untuk SMK). Waka kurikulum bertanggung jawab untuk mengatur kegiatan pembelajaran sedemikian sehingga semua bisa terlaksana dengan baik.
Ujian merupakan contoh program kerja waka kurikulum. Oleh sebab itu, pelaksanaan ujian harus diawali dengan pembentukan panitia berdasarkan SK dari Kepala Sekolah. Nantinya, panitia ujian harus bertanggung jawab pada waka kurikulum. Dalam hal ini, waka kurikulum memegang peranan penting dalam upaya pengendalian soal-soal, baik dari sisi kesesuaian hingga kualitas. Terkait soal-soal ujian, waka kurikulum berperan layaknya manajer, yakni mengatur alokasi serta susunan soal. Serangkaian tugas waka kurikulum terkait penyusunan soal adalah sebagai berikut.
Evaluasi pembelajaran adalah metode untuk mengukur tingkat pemahaman, kemampuan, dan kompetensi peserta didik. Adapun yang termasuk evaluasi pembelajaran adalah PTS, PAS, PAT, Asesmen Nasional, Ujian Sekolah, Ujian Praktik, Ujian PKL, dan sebagainya. Dalam hal ini, waka kurikulum berperan sebagai pelaksana teknis.
Selain mengatur hal-hal teknis berkaitan dengan pembelajaran, waka kurikulum juga bertanggung jawab untuk memantau kehadiran guru. Jika seorang guru berhalangan hadir di sekolah, maka guru tersebut harus meminta izin kepala sekolah dan waka kurikulum. Apabila nantinya mendapati guru yang berhalangan hadir tanpa pemberitahuan, waka kurikulum berhak memberikan teguran. Agar kegiatan belajar bisa tetap kondusif tanpa kehadiran guru, waka kurikulum harus bekerja sama dengan waka kesiswaan selaku pihak pengendali peserta didik.
Selain melakukan supervisi pada guru, waka kurikulum juga bertanggung jawab untuk melakukan supervisi di lingkungan sekolah. Tentu, pada ranah akademik yang berada di bawah kewenangannya, misal menyediakan daftar hadir peserta didik, buku monitoring pembelajaran, jurnal kelas, jadwal pelajaran, serta daftar inventaris kelas.
Ternyata, belajar tidak hanya kewajiban peserta didik, namun juga pendidik. Agar pembelajaran bisa berjalan efektif, pendidik harus memiliki profesionalitas tinggi, baik dari teknis pembelajaran maupun substansi keilmuan. Sebagai penanggung jawab urusan akademik di sekolah, waka kurikulum harus bisa memfasilitasi peningkatan profesionalitas tersebut, dengan mengadakan program seperti IHT, seminar, workshop, dan pelatihan.
Program kerja waka kurikulum memuat beberapa elemen, yakni standar nasional pendidikan, program kegiatan, sub kegiatan, target pencapaian, strategi, sasaran, waktu pelaksanaan, biaya, dan penanggung jawab. Adapun penjabaran masing-masing elemen adalah sebagai berikut.
Sebelum menyusun program kerja, seorang waka kurikulum bisa membentuk tim yang terdiri dari minimal 2 orang, yakni waka kurikulum itu sendiri dan asisten waka kurikulum. Dengan adanya tim, Bapak/Ibu akan terbantu dalam menyelesaikan ide/gagasan program yang sedang diusulkan.
Setelah membentuk tim, Bapak/Ibu bisa mengidentifikasi masalah-masalah kurikulum yang muncul di tahun ajaran sebelumnya untuk kemudian diperbaiki di tahun ajaran yang akan datang. Identifikasi tidak hanya dilakukan oleh waka kurikulum, namun oleh tim dengan saling berbagi pendapat.
The curriculum of the study programmes at the Faculty of Social and Political Sciences is complemented by an emphasis on the independence of study, both on the aspects of educational institutions, lecturers and especially students. This 2020 curriculum is named Merdeka Belajar-Kampus Merdeka Curriculum (MBKM).
The Law on the Freedom of Learning Policy can be seen in the Permendikbud No. 3 Year 2020 on the National Education Standards Higher Education section 18 which explains that the fulfilment of the learning time and the learning burden for students of the undergraduate program can be done in two ways: students follow the learning process of the original study program in their high school according to the time and load of their studies. From this legal foundation it became a guide to the Program of Studies at FISIP UNNES in perfecting the curriculum.
Next in semester 6, the study program offers 10 courses with a load of 20 credits. There are two scenarios during this semester, namely, the first, students can take all of the courses in their respective study programmes. The second scenario is that students in a particular study program may take the right to take part of the course outside the study program within UNNES or in a similar or different study program outside UNNES. Some courses within the MKPP group are designed to be carried out using a learning platform in a network (online).
The last is internship, community service, and final project courses offered in semesters 7 and 8. The course is compulsory with a total of 14 credits. These courses are held in cooperation with the associated institutions where students will be doing internships, the government of the region where community service is implemented and also the final project. In the future, the implementation of internships, community services and final projects can be done integrated in one time. From this new curriculum, the study program has a undergraduate qualification of 144 credits offered.
You will qualify for positions such as immersive technology specialist, interaction designer, change agent, project manager, innovator and entrepreneur in novel technology. Graduates may also enter Ph.D. programmes to pursue a career in academic or industrial research.
Curriculum development for children with special needs intervention programs is important to support the implementation of effective learning and intervention program services. The more so is related to the success of the mission of the service unit for children with special needs Unesa to provide educational solutions for children with special needs in all circles.
For the implementation of adequate and professional services, support is needed for the development of curriculum tools that are appropriate to the characteristics, abilities, and needs of clients. So that with the intervention program curriculum being developed, clients and families of children with special needs get optimal and best service for their children.
The curriculum development program for integrated interventions for children with special needs in this study uses the 4D-Model development plan. This model was developed by S. Thagarajan, Dorothy S. Semmel, and Melvyn I. Semmel. The 4D development model consists of 4 main stages: (1) Define, (2) Design, (3) Develop and Disseminate.
This research was conducted for 8 months, so based on the design of the development model, the research activities in the first year focused on implementing 3 stages, namely (1) definition, (2) planning / design, and (3) development.
Pengembangan kurikulum program intervensi anak berkebutuhan khusus menjadi penting untuk mendukung terselenggaranya pembelajaran dan layanan program intervensi yang efektif. Lebih-lebih berkait dengan keberhasilan misi unit layanan anak berkebutuhan khusus Unesa untuk memberikan solusi pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus pada semua kalangan.
Untuk terselenggranya layanan yang memadai dan professional, dibutuhkan dukungan adanya pengembangan perangkat kurikulum yang sesuai dengan karakteristik, kemampuan, dan kebutuhan klien. Sehingga dengan dikembangnya kurikulum program intervensi, klien dan keluarga anak berkebutuhan khusus mendapatkan pelayanan yang optimal dan terbaik bagi anak mereka.
Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Khairun mengadakan workshop kurikulum pada tanggal 15 Maret 2023 yang melibatkan Stakeholder dan menghadirkan Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan LP3M Universitas Khairun, Dr. Joko Suratno, S.Pd., M.Pd.Si. dan pemateri eksternal Dr.agr. Nunun Barunawati, SP.M.P. dari Universitas Brawijaya. (JS)
Kompetensi lulusan program studi kedokteran yang diharapkan adalah sesuai dengan Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI 2012). Standard ini merupakan dasar untuk penilaian proses dan ketercapaian kompetensi lulusan.
Merupakan ujian keterampilan klinis yang dilaksanakan di akhir program sarjana, dengan mengujikan 14 keterampilan dari seluruh keterampilan yang telah diajarkan. Syarat mengikuti ujian OSCE komprehensif adalah telah mengikuti seluruh topik keterampilan klinis terjadwal serta sudah lulus ujian BCCT tahun 1, 2 dan 3. Hasil ujian OSCE komprehensif merupakan salah satu penentu kelulusan Program Pendidikan Sarjana.
08ab062aa8