Pentingnya Kecerdasan Emosi Bagi Seorang Perawat
Seiring dengan berkembangnya masyarakat Indonesia pada saat ini, maka berkembang pula kebutuhan di bidang kesehatan. Hal ini berdampak pada peningkatan permintaan pelayanan kesehatan baik dari kualitas maupun dari kuantitasnya. Kesehatan merupakan aspek penting yang menjadi perhatian utama setiap orang, maka sudah selayaknya jika masyarakat mendapatkan pelayanan yang terbaik dalam hal ini, baik oleh dokter, perawat, maupun tenaga medis yang lain. Pemberian pelayanan kesehatan yang baik merupakan fokus utama pada setiap negara, begitupula di Indonesia. Namun, kualitas pelayanan yang bermutu sulit untuk dilaksanakan jika kualitas perseorangan dari tenaga medis buruk. Untuk itu mutu pelayanan kesehatan di Indonesia harus ditingkatkan dengan meningkatkan mutu individu-individu yang bergerak dalam bidang medis.
Untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat, dokter sebagai
tenaga medis utama memerlukan bantuan dari tenaga medis yang lain khususnya
perawat yang bertugas memberi perawatan pada saat pasien sebelum atau sesudah
dilakukan tindakan medis.
Perawat adalah tenaga profesional dibidang perawatan kesehatan yang terlibat
dalam kegiatan perawatan. Perawat bertanggung jawab dalam kegiatan perawatan,
perlindungan, dan pemulihan orang yang luka atau pasien penderita penyakit
kronis, pemeliharaan kesehatan orang sehat dan penanganan keadaan darurat yang
mengancam nyawa dalam berbagai jenis kesehatan. Perawat juga dapat terlibat
dalam riset medis dan perawatan serta menjalankan berbagaia macam fungsi non
klinis yang digunakan untuk perawatan kesehatan (Wikipedia.com).
Peran perawat secara umum adalah memberikan pelayanan keperawatan kepada individu, keluarga, kelompok atau masyarakat sesuai diagnosis masalah yang terjadi mulai dari masalah yang bersifat sederhana sampai pada masalah yang kompleks dan memperhatikan individu dalam konteks sesuai kehidupan klien, perawat harus memperhatikan klien berdasarkan kebutuhan signifikan dari klien. Sedangakan fungsi perawat adalah sebagai pembela klien, konselor dan educator.
Untuk dapat menjalankan peran-peran tersebut ada beberapa karakteristik seorang perawat yang harus dipenuhi. Untuk menjadi seorang perawat yang baik, seseorang harus mempunyai rasa peduli, empati, dan penuh belas kasih untuk memberikan pasien layanan yang terbaik. Seorang perawat juga harus bertanggung jawab dan berorientasi pada tugas keperawatan yang bersifat detail misalnya membuat catatan yang akurat, bekerja dengan peralatan medis yang mahal atau obat dengan dosis tinggi. Kestabilan emosional juga sangat penting karena seorang perawat mungkin sering menghadapi keadaan darurat, misalnya orang sakit dengan keluarga yang tertekan serta situasi sulit lainnya. The American Nurses Association juga mencatat bahwa perawat yang baik mampu bertindak sebagai advokasi bagi pasien, mampu beradaptasi dan terdidik.
Keberhasilan suatu bisnis, termasuk juga dalam industri rumah sakit, sebagian besar tergantung pada layanan berkualitas tinggi. Kualitas pelayanan telah menjadi variabel strategis kunci dalam usaha organisasi untuk memuaskan dan mempertahankan pelanggan atau menarik pelanggan baru.
Kualitas jasa didefinisikan sebagai seberapa jauh perbedaan antara kenyataan dan harapan para konsumen atas jasa yang mereka peroleh atau terima (Parasuraman, 1997). Dalam industri rumah sakit, pelayanan para tenaga medis merupakan kunci pokok keberhasilan pelayanan rumah sakit tersebut karena tenaga medis inilah yang secara langsung berhubungan dan memberi pelayanan pada pasien. Tenaga medis yang memiliki intensitas tinggi dalam berhubungan langsung dengan pasien adalah perawat, untuk itu pelayanan perawat sangat penting pada industri rumah sakit.
Pemerintah telah berusaha memenuhi kebutuhan masayarakat akan pelayanan kesehatan dengan mendirikan beberapa Rumah sakit di seluruh wilayah Indonesia. Namun, usaha pemerintah ini masih belum dapat memenuhi harapan masyarakat. Masih banyak masyarakat yang mengeluh tentang berbagai masalah pelayanan di rumah sakit milik pemerintah. Seiring dengan hal tersebut, banyak orang yang mendirikan rumah sakit swata baik di kota maupun di daerah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan pemenuhan pelayanan kesehatan yang layak.
Menteri kesehatan Indonesia mengakui bahwa kualitas keseluruhan pelayanan rumah sakit di Indonesia adalah miskin (www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2005/bulan/08/tgl/21/time/162107/idnews/4 26110/idkanal/10 ).
Hal ini dibuktikan dengan semakin banyaknya warga Indonesia yang memilih mendapatkan perawatan kesehatan di luar negeri. Dilaporkan bahwa jumlah Indonesia pergi ke luar negeri untuk tes kesehatan dan perawatan tumbuh secara signifikan. Sekitar 72.000 warga Indonesia bepergian ke Singapura setiap tahun untuk alasan medis (http://64.203.71.11/ver1/Kesehatan/0701/12/222443.htm). Untuk itu masalah-masalah kualitas pelayanan ini menjadi fokus utama pada industri rumah sakit di Indonesia, karena kualitas pelayanan inilah yang dianggap sebagai alasan utama pasien memilih rumah sakit mana yang akan dituju.
Dengan makin banyaknya rumah sakit yang tersebar diseluruh Indonesia, maka dapat dipastikan ketatnya persaingan diantara rumah sakit untuk merebut konsumen akan terjadi. Tentunya konsumen akan dihadapkan pada banyak pilihan atau alternatif yang ada. Oleh karena itu setiap rumah sakit perlu mengetahui bagaimana mengolah dan mengembangkan kualitas layanannya agar menjadi lebih baik. Salah satunya adalah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jombang. Rumah Sakit Umum daerah (RSUD) Jombang merupakan rumah sakit milik pemerintah Kabupaten Jombang. RSUD Jombang menyediakan berbagai macam bentuk pelayanan dan fasilitas. Namun dari hasil penelitian sebelumnya, hal ini belum cukup memberikan kepuasan kepada pasien karena dalam kurun tiga tahun terakhir jumlah pasien rawat inap di RSUD Jombang menurun serta adanya komplain dari pasien tentang pelayanan yang ada. Dari analisa yang dilakukan ternyata hasilnya menunjukan bahwa 19 faktor/ atribut jasa yang diteliti menjadi penyebab ketidakpuasan pasien, tetapi untuk peningkatan kualitas pelayanan/ jasa harus dibuat prioritas sehingga tidak membuang sumber daya perusahaan. Dengan menggunakan metode Sevqual Fuzzy didapatkan empat atribut yang menjadi prioritas untuk ditingkatkan kualitas jasanya karena memiliki nilai Servqual (Gap) terbobot paling besar. Atribut-atribut itu adalah Kesopanan dan keramahan dokter dan perawat dengan gap sebesar - 0,44, pelayanan kepada semua pasien tanpa memandang bulu status sosial dengan gap sebesar - 0,36, jadwal pelayanan rumah sakit dijalankan dengan tepat dengan gap sebesar - 0,26, dan kebersihan kamar mandi dengan gap sebesar - 0,13(). Dari hasil analisis tersebut dapat dikatakan bahwa keramahan tenaga medis terutama perawat adalah atribut yang memiliki gap paling besar dan harus ditingkatkan kualitas jasanya. Bila aspek itu dilupakan, maka RSUD Jombang bisa kehilangan pelanggan lama dan dijauhi calon pelanggan. Kualitas pelayanan ditentukan oleh banyak variable, salah satunya adalah kecerdasan emosi.
Menurut penelitian sebelumnya sebagai penyedia jasa tentunya kita dituntut untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan dan perilaku pelanggan. Dengan menggunakan kecerdasan emosi, organisasi dapat meningkatkan pengetahuan tentang pelanggan dan kemampuan untuk mengenali serta mengatur kualitas layanan sesuai ndengan keinginan pelanggan (Hummayoun Naeem dkk,2008)
Seorang perawat dituntut untuk tidak hanya memiliki IQ yang bagus tetapi juga EQ yang “tidak biasa”. Penelitian tentang kecerdasan emosional telah memperlihatkan bahwa EQ adalah penilaian yang bisa mencegah munculnya perilaku yang buruk. Stigma negatif yang menyatakan bahwa perawat itu ‘judes’, ‘cuek’, ‘pemarah’, dan stigma-stigma negatif lain akan mampu dihilangkan jika perawat mampu memiliki kecerdasan emosional yang baik. (keperawatan.net, 2010)
Menurut Goleman (1997), kecerdasan emosi atau Emotional Quotient (EQ) adalah suatu kemampuan yang dimiliki oleh individu untuk mengatur kehidupan emosinya dengan intelegensi, menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya melalui ketrampilan kesadaran diri, motivasi diri, empati dan ketrampilan sosial.
Para perawat dalam pekerjaannya sehari-hari hampir selalu melibatkan perasaan dan emosi, sehingga perawat dituntut untuk memiliki kecerdasan emosi yang tinggi. Secara khusus para perawat rumah sakit membutuhkan kecerdasan emosi yang tinggi karena mereka mewakili organisasi untuk berinteraksi dengan banyak orang baik di dalam maupun di luar organisasi. Perawat yang memiliki empati akan dapat memahami kebutuhan orang atau keluarga yang dirawatnya dan dapat memberikan solusi yang konstruktif.
Seorang perawat yang tidak mempunyai kecerdasan emosi yang tinggi dapat ditandai dengan hal-hal berikut: mempunyai emosi yang tinggi, cepat bertindak berdasarkan emosinya, dan tidak sensitive terhadap perasaan orang lain. Orang yang tidak mempunyai kecerdasan emosi tinggi biasanya mempunyai kecenderungan menyakiti dan memusuhi orang lain. Dalam dunia kerja, orang-orang yang mempunyai kecerdasana emosional yang tinggi sangat diperlukan terlebih dalam tim untuk mencapai tujuan tertentu dan untuk memberikan pelayanan kepada konsumen.Contoh perawat Filipina, mereka merupakan perawat yang dicari di pasaran International karena kemampuan emosional yang baik. Sebab selain kecerdasan intelektual perawat juga membutuhkan kecerdasan emosional “tak mudah putus asa, tak mudah marah, sabar, berbeda pendapat dengan santun, lebih mengacu pada solusi bukan pada konflik merupakan contoh perawat yang memiliki kecerdasan emosi”. “Orang berobat ke Singapura atau kucing bukan hanya karena tindakan medis disana lebih baik, tetapi salah satu faktornya adalah karena sikap perawat disana lebih familiar “ (Yosep, 2005)
DAFTAR PUSTAKA
(http://64.203.71.11/ver1/Kesehatan/0701/12/222443.htm)
Sakura, luna. 2008. Peningkatan Kualitas Pelayanan Jasa Kesehatan di Instalasi
Rawat Inap Dengan Menggunakan Servqual-Fuzzy. Skripsi. Sekolah tinggi
keperawatan: Jombang
Www.Keperawatan.net
Goleman, Daniel. 1997. EQ, Kecerdasan Emosional (Mengapa EQ Lebih Penting
Daripada IQ ). Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Yosep, Iyus. 2005. Pentingnya ESQ (Emotional Spiritual Quotient) Bagi Perawat Dalam Management Konflik: Disampaikan Dalam Acara: Cerdas Kreatif Berwawasan dan Mandiri (CEREBRI) Kegiatan Penerimaan Mahasiswa Baru Fakultas Ilmu Keperawatan UNPAD.
Naeem, Hummayoun, dkk. 2008. Service Quality – Empirical Evidence Service
Quality. International Business & Economics Research Journal. Volume 7,
Number 12 Volume 7, Nomor 12.
Komentar :
Menurut saya, kecerdasan EQ dalam kurikulum pendidikan kesehatan memang telah dibahas dalam salah satu mata kuliah keperawatan, hanya saja minimnya penerapan para perawat sehingga terbentuklah stigma negative bagi perawat. EQ dalm dunia keperawatan memang hal yang penting harus dimiliki seorang perawat, karena disinilah letak softskill seorang perawat yang dalam kesehariannya memberikan pelayanan keberbagai macam / karakteristik masyarakat.
Menanggapi rendahnya kualitas pelayanan keperawatan yang terkait dengan EQ, tentunnya ini hal yang sangat disyangkan, mengingat perawat adalah orang yang paling sering bertemu dengan pasien atau klien.
Selain penilaian tentang kemampuan teori yang dimiliki seorang perawat yang selama ini selalu di perbincangkan di dunia keperawatan Indonesia, penilaian tentang kemampuan kecerdasan emosional perawat tentunya juga perlu dipertimbangkan, karena mengingat rendahnya kualitas pelayanan yang diakibatkan dari rendahnya kecerdasan emosional yang dimiliki perawat saat ini.
@IRMA EKA FITRIANTI
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/class-b-010/84d523fd-2adf-4f4a-ab07-6a0a553ae0f1%40googlegroups.com.--
---
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "class A4b 010 STIKES Indonesia" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke class-b-010...@googlegroups.com.
Untuk mengeposkan ke grup ini, kirim email ke class...@googlegroups.com.
Kunjungi grup ini di http://groups.google.com/group/class-b-010.