Film Negeri 5 Menara Full Movie

0 views
Skip to first unread message

Bigg Gernes

unread,
Aug 5, 2024, 10:14:46 AM8/5/24
to clasenalga
Negeri5 Menara adalah sebuah film garapan Kompas Gramedia production bersama Million Pictures yang merupakan adaptasi dari novel karya Ahmad Fuadi berjudul Negeri 5 Menara. Skenario ditulis oleh Salman Aristo yang juga penulis naskah film Ayat-Ayat Cinta, Laskar Pelangi, Sang Penari . Disutradarai oleh Affandi Abdul Rachman film ini mengambil lokasi syuting di Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo Jawa Timur, Sumatera Barat, Bandung, hingga London. Film ini dirilis pada 1 Maret 2012.

Alif (Gazza Zubizareta) adalah seorang anak sederhana yang baru saja lulus SMP di Maninjau. Bersama sahabatnya Randai (Sakurta Ginting), Alif ingin melanjutkan SMA di Bukittinggi[1] dan kemudian masuk ke Kampus idamannya, ITB. Namun mimpi tinggal mimpi ketika Amaknya (Lulu Tobing) menginginkan Alif untuk masuk ke Pondok Madani, sebuah pesantren di sudut Ponorogo, Jawa Timur. Walau pada awalnya Alif tidak mau, akhirnya Alif memenuhi pinta orang tuanya, walau dengan setengah hati.


Awalnya, Alif lebih sering menyendiri. Namun, seiring berjalannya waktu, Alif mulai bersahabat dengan teman-teman satu kamarnya, yaitu Baso (Billy Sandy) dari Gowa, Atang (Rizky Ramdani) dari Bandung, Said (Ernest Samudera) dari Surabaya, Raja (Jiofani Lubis) dari Medan, dan Dulmajid (Aris Putra) dari Madura. Mereka berenam selalu berkumpul di menara masjid dan menamakan diri mereka Sahibul Menara alias para pemilik menara.


Para sahibul menara selalu berpikir visioner dan bercita-cita besar. Mereka masing-masing memiliki ambisi untuk menaklukan dunia. Dari tanah Indonesia, Amerika, Eropa, Asia hingga Afrika. Dibawah menara Madani, mereka berjanji dan bertekad untuk bisa menaklukan dunia dan mencapai cita-cita; Dan menjadi orang besar yang bisa bermanfaat bagi banyak orang.


JAKARTA, KOMPAS.com -- Setelah perjalanan panjang proses casting dan open casting film layar lebar Negeri 5 Menara, akhirnya terpilihlah enam pemeran yang akan menjadi Sahibul Menara di film Negeri 5 Menara, yang akan tayang di awal tahun 2012 nanti.


Proses casting yang berjalan sejak awal April 2011 hingga Juni 2011 itu dilakukan di enam kota, antara lain Medan, Padang, Jakarta, Bandung, Surabaya dan Makassar. Antusias publik untuk terlibat dalam kegiatan ini cukup besar. Terbukti, tak kurang dari 2.000 peserta mengikuti proses casting yang berlangsung selama tiga bulan.


Menurut casting director Shakti Harimurti, beberapa nama yang terpilih sudah melalui proses yang ketat. "Karena film ini bermulai dari sebuah novel, pastinya harus ada penggambaran karakter yang tepat. Setelah menjalani proses screen test beberapa kali, merekalah yang pas untuk peran-peran tersebut," ujar Shakti dalam rilis yang dikirmnya kepada Kompas.com, Rabu (20/7/2011).


Susunan keenam anak ini memang sangat unik karena memiliki latar belakang budaya yang berbeda seperti pada penggambaran pada Novel. Terlebih lagi, masing-masing harus mempunyai logat dari daerah asal mereka. "Untuk cast film Negeri 5 Menara ini, kami berusaha mengambil potensi talenta dari daerah-daerah yang memang sesuai dengan cerita pada novel," ujar Salman Aristo, salah satu produser dan penulis skenario film ini.


Terpilihnya pemeran Sahibul Menara ini membuat gembira A. Fuadi, penulis buku terlaris penerbit Gramedia Pustaka Utama dalam 37 tahun terakhir ini. "Alhamdulillah, saya bersyukur karena tim film berhasil menemukan fresh talent untuk sahibul menara. Semoga bakat-bakat baru ini bisa menjiwai 'man jadda wajada' yang jadi spirit novel saya, Negeri 5 Menara," ujarnya antusias.


Sejak 5 Juli 2011, para peserta yang terpilih telah mendapatkan workshop akting dan reading untuk pendalaman karakter, pengadeganan dan latihan akting dasar lainnya. Proses syuting sendiri akan dimulai pada awal bulan Agustus 2011 hingga pertengahan September 2011. Seperti apa hasilnya? Yuk kita tunggu akting mereka di awal 2012 lewat film Negeri 5 Menara.


Kisah di film ini tentunya sama dengan yang dikisahkan di buku. Berkisah tentang tujuh orang anak yang bersekolah di Pondok Madani, Alif (Gazza Zubizareta), Raja (Jiofani Lubis), Said (Ernest Samudra), Dulmajid (Aris Putra), Atang (Rizki Ramdani), dan Baso (Billy Sandy). Berasal dari daerah yang berbeda-beda, anak-anak tersebut memiliki satu tujuan: meraih cita-cita masing-masing. Cita-cita mereka pun sangat tinggi: ingin menjadi orang besar dengan cara mereka sendiri. Sang tokoh utama, Alif, terpesona dengan kekuatan kalimat Man Jadda wajada (Siapa yang bersungguh-sungguh, pasti sukses) yang kemudian menjadi semboyan hidupnya dan menjadi penyemangat untuk mencapai mimpinya, sesulit apa pun.


Mencari tontonan dalam negeri yang berkualitas? Film ini dapat menjadi rekomendasi. Apalagi, jika Anda menyaksikannya bersama anak-anak Anda. banyak nilai yang bisa dipetik di dalamnya. Selamat menonton!


Satu kekuatan dari film Negeri 5 Menara adalah keberhasilan tim produksi film menggelar syuting di lokasi asli Negeri 5 Menara di Gontor, Agustus 2011 lalu. Saya yakin bukan perkara mudah meminta izin ke pimpinan pondok untuk urusan syuting film. Karena Gontor sangat ketat soal pelaksanaan kegiatan, khususnya yang diadakan oleh pihak luar. Hanya kegiatan yang mendukung proses pendidikan dan pengajaran yang boleh digelar di lingkungan pondok. Selebihnya, haram! Berikut beberapa fakta yang ingin saya kemukakan, merujuk ke tayangan visual dan dialog dalam film Negeri 5 Menara, khususnya selama cerita ini bergulir di lingkungan pondok: Nama asli Pondok Madani adalah Pondok Modern Darussalam. Pondok yang berlokasi di desa Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, ini didirikan pada tanggal 20 September 1926 oleh tiga orang bersaudara, yaitu KH Ahmad Sahal (1901 - 1977), KH Zainudin Fananie (1908 - 1967) dan KH Imam Zarkasyi (1910 - 1985). Pondok ini lebih dikenal dengan sebutan Pondok Modern Gontor atau Gontor saja. Saat ini, Pondok Modern Gontor dipimpin oleh KH Hasan Abdullah Sahal, Dr KH Abdullah Syukri Zarkasyi dan KH Syamsul Hadi Abdan. Pintu gerbang tempat Alif pertama kali menginjakkan kaki di Gontor bukanlah pintu gerbang utama. Pintu yang berada jauh di depan masjid itu dulunya merupakan pintu timur pondok yang sekarang bertambah lebar seiring perkembangan pondok. Pintu utama pondok berada di sisi selatan masjid. Begitu masuk pondok, pengunjung akan melewati lapangan sepak bola utama, deretan tembok asrama, menara masjid baru kemudian tangga utama masjid. Di dekat tangga masjid itulah, tepatnya di tembok asrama santri baru, terpampang tulisan besar "KE GONTOR APA YANG KAMU CARI". Saat Alif mengeluhkan masa pendidikannya akan lebih lama satu tahun, ada sistem sekolah yang tidak dijelaskan di film tersebut. Gontor selama ini menerapkan dua program, yaitu program atau kelas reguler dan kelas intensif (dulu bernama kelas eksperimen): Kelas Reguler berlaku untuk lulusan SD, masa sekolah selama enam tahun (kelas satu sampai kelas enam) Kelas Intensif berlaku untuk lulusan SMP, masa sekolah selama empat tahun (kelas 1 intensif, kelas 3 intensif, kelas 5 dan kelas enam) Saat ujian masuk, meja-meja dipasang secara terbalik, lacinya menghadap ke depan. Aturan baku ini berlaku di semua ujian yang diadakan di pondok. Posisi meja harus dibalik agar siswa tidak bisa menyelipkan contekan di dalam laci. Sebenarnya, tanpa dibalik pun, sangat sulit untuk nyontek ujian di Gontor. Karena setiap kelas dijaga oleh sedikitnya tiga orang pengawas yang tidak pernah berhenti keliling memantau para peserta ujian. Begitu jadi santri, rambut Alif dipotong pendek. Ini memang peraturan baku pondok. Setiap bulan, santri harus memotong rambutnya pendek-pendek. Rambut belakang tidak boleh menyentuh kerah. Tidak boleh memotong rambut dengan model ini atau itu. Potongannya seragam, modelnya pun satu: Model Gontor. Rambut juga jadi alat hukuman untuk pelanggaran kategori berat. Ada hukuman berupa rambut botak ala tentara (masih ada sisa rambut di depan), ada juga hukuman berupa cukur rambut botak. Buat santri kelas lima yang naik kelas enam, semuanya dibotak ala tentara sebagai bentuk syukuran dan identitas baru yang membanggakan. Setting kamar di film jauh lebih sepi dari aslinya. Di Gontor, satu kamar asrama rata-rata diisi oleh sekitar 30-40 santri, tergantung luas kamar. Mereka menyusun kotak atau lemarinya di sekeliling kamar dan menumpuk lembar-lembar kasur di sudut tertentu. Ketika waktu tidur tiba, kasur digelar berjajar di atas lantai. Adegan yang menggambarkan sohibul menara makan bersama di depan asrama sebenarnya kurang lazim. Santri makan di Dapur Umum atau Dapur Keluarga (dapur yang dikelola oleh keluarga pendiri pondok yang menyebar di kawasan pondok). Kalau makan di Dapur Umum, harus bawa piring sendiri-sendiri. Yang ketahuan pinjam piring akan dihukum. Tapi kalau makan di Dapur Keluarga yang daya tampungnya hanya ratusan orang, piring sudah disediakan di dapur. Alif dan teman-temannya terlihat menggunakan papan nama berwarna hijau. Papan nama merupakan kelengkapan yang wajib dipakai setiap saat. Dulu, warna papan nama mengacu ke angkatan. Artinya, mulai dari kelas satu sampai kelas enam, warna yang digunakan sama. Tapi sekarang peraturannya berubah drastis. Warna papan nama mengacu ke kelas. Artinya, papan nama untuk kelas satu berbeda dengan kelas dua. Seorang santri, dengan peraturan baru ini, akan mengenakan papan warna dengan enam warna yang berbeda. Saat Alif dan kawan-kawannya dihukum di depan masjid, ada dialog antara Petugas Keamanan dan seorang guru (dari Pengasuhan Santri). Dialog antara keduanya dilakukan dalam bahasa Indonesia. Aslinya, semua percakapan di Gontor harus dilakukan dalam bahasa Arab atau Inggris, bergantian setiap minggu. Bahasa Indonesia haram digunakan oleh para santri. Untuk santri baru, mereka masih dibolehkan berbicara dalam bahasa Indonesia selama beberapa bulan pertama. Setelah itu, mereka wajib membiasakan diri berbicara dalam bahasa Arab/Inggris.


Gazza Zubizareta Aris Putra Rizki Ramdani Ernest Samudera Billy Sandy Donny Alamsyah Arifal Faozi Khiva Iskak Sakurta Ginting Ence Bagus Ariyo Wahab Andhika Pratama Rangga Djoned Eriska Rein Lulu Tobing Mario Irwinsyah Meirayni Fauziah Geccha Tavvara Nur Salis Alamin Inez Tagor Nur Nevi Awanggi

3a8082e126
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages