Pangeran Jenderal Soedirman yang turut serta dalam perang tersebut kemudian dengan cerdasnya menerapkan suatu strategi perang gerilya yang ternyata mampu memecah konsentrasi pihak Belanda, terutama ketika Agresi Militer II terjadi. Puncak dari strategi perang gerilya ini dilakukan pada tahun 1949, tepatnya pada Peristiwa Serangan Umum 1949. Bahkan, strategi perang ini disebut-sebut sebagai strategi perang paling efektif untuk memenangkan perang yang kemudian diikuti pula oleh beberapa negara lain. Lantas, apa sih perang gerilya itu? Bagaimana taktik yang diterapkan dalam perang gerilya ini? Apa saja pokok-pokok perang gerilya yang dicetuskan oleh Jenderal Soedirman? Nah, supaya Grameds memahami hal-hal tersebut, yuk simak ulasan berikut ini!
Perang gerilya sangat membutuhkan pemimpin yang cerdas dan kemampuannya dalam menguasai medan (topografi) perang. Tidak hanya itu saja, seorang pemimpin dalam perang gerilya juga harus memahami bagaimana psikologis-moral-sosial-kebudayaan dari musuhnya. Bahkan tak jarang, prajurit wanita pun turut hadir dalam perang gerilya ini. Atas keberhasilan dari taktik perang ini, kemudian perang gerilya semakin populer dan dikenal oleh masyarakat luas. Bahkan negara lain pun juga turut menerapkan taktik perang ini. Salah satu tokoh penggagas taktik perang gerilya di Indonesia adalah Jenderal Soedirman yang kemudian namanya diabadikan sebagai patung besar di berbagai tempat, salah satunya diabadikan juga sebagai nama lapangan di Ambarawa, Jawa Tengah, beserta patung besarnya.
Sebelum Indonesia merdeka, sebenarnya perang gerilya ini sudah dijadikan taktik perang di beberapa daerah. Contohnya adalah pada Perang Padri di Sumatera Barat yang dilakukan dengan cara menghalau musuh dengan pasukan yang dipecah-pecah menjadi kelompok kecil, kemudian menyerang musuh secara tiba-tiba. Ada juga Perang Aceh yang menggunakan taktik menguasai medan perang berupa hutan dan menyamar untuk mengelabui musuh.
Perang gerilya semakin populer setelah terjadi pada tahun 1948-1949, tepatnya pada saat Agresi Militer II. Bahkan setelah Indonesia terbebas dari peristiwa tersebut, pada tahun 1901, muncul kembali niat Belanda untuk menguasai daerah Kerinci di Sumatera yang mana memang kaya akan hasil perkebunan. Yap, penggunaan taktik perang gerilya pada Perang Kerinci ini dipimpin oleh Letnan Muradi sehingga dapat mempertahankan kemerdekaan sekaligus wilayahnya dari pasukan Belanda. Perjuangan perang gerilya ini dapat berhasil karena bantuan masyarakat setempat juga.
Perang gerilya ini mulanya terjadi karena adanya Agresi Militer II yang mana berupa peristiwa serangan militer dari pihak tentara Belanda kepada bangsa Indonesia di daerah Yogyakarta. Agresi Militer II itu terjadi pada 19 Desember 1948 dengan tujuan supaya status negara Indonesia merdeka hancur dan Belanda dapat menguasai ibukota negara, yakni di Yogyakarta. Mengapa ibukota negara kita bisa ada di Yogyakarta? Pada saat itu tepatnya pada 4 April 1946, terjadi pemindahan ibukota dari Jakarta ke Yogyakarta karena situasi keamanan di Jakarta yang malah semakin memburuk. Apalagi setelah kemerdekaan, Sekutu datang kembali ke Indonesia untuk menjadikan daerah jajahannya kembali. Atas dasar itulah, para pahlawan kita tentu saja merasa marah dan berusaha mati-matian memikirkan strategi untuk melawan Sekutu supaya pergi dari Indonesia.
Sayangnya, situasi di Yogyakarta begitu chaos sehingga Jenderal Soedirman beserta pasukannya memilih meninggalkan Yogyakarta, meskipun di udara tengah ada beberapa pesawat musuh yang membawa bom dan menembaki tempat-tempat penting. Saat itu, Jenderal Soedirman sudah dalam keadaan fisik yang amat lemah, tetapi akhirnya pasukan sampai di daerah Kretek yang letaknya sekitar 20 km dari Yogyakarta. Tujuan utama mereka adalah kota Kediri karena belum diduduki oleh pihak Belanda. Perjalanan ini menggunakan berbagai macam kendaraan ya, bukan jalan kaki.
Setelah sampai di kota Kediri, Jenderal Soedirman pun segera mengadakan pertemuan dengan beberapa pimpinan tentara yang ada di Jawa Timur, salah satunya adalah Kolonel Sungkono. Situasi menjadi semakin runyam setelah kota Kediri tiba-tiba mendapatkan serbuan dari Belanda. Mau tidak mau, akhirnya para pasukan Jenderal Soedirman segera meninggalkan kota Kediri dan menuju ke arah Gunung Wilis.
Rute perang gerilya yang dilakukan oleh pasukan Jenderal Soedirman cukup berat, terutama dari wilayah Kediri ke Dusun Karangnongko yang terletak di lereng Gunung Wilis. Untuk melakukan perjalanan tersebut, harus menghabiskan waktu sekitar 4,5 jam dengan berjalan kaki karena medannya memang di lereng gunung sehingga harus jalan mendaki. Terlebih lagi saat itu, Belanda sudah mengetahui keberadaan Jenderal Soedirman beserta pasukannya, sehingga Beliau harus diam-diam berpindah dari rumah-rumah dan bersembunyi di hutan. Sebagian pasukannya pun bergerak ke arah selatan untuk mengecoh para tentara Belanda.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, perang gerilya ini memiliki strategi dan taktik dengan cara sembunyi-sembunyi tetapi penuh dengan kecepatan oleh kelompok yang lebih kecil, sehingga hasilnya pun lebih fokus dan efektif. Tidak hanya itu saja, untuk mencapai kemenangan pada taktik ini, pasukan harus dapat menyamar dengan alam dan memahami topografi dari medan perang.
Secara teori, perang gerilya ini dianggap sebagai strategi yang cerdik karena dapat merebut persenjataan musuh, padahal pasukannya hanya berupa kelompok kecil saja. Seiring berjalannya waktu, kelompok kecil ini tidak akan terus-menerus dalam jumlah sedikit tetapi akan berangsur-angsur mampu berkembang menjadi tentara reguler. Jika sudah begitu, maka jumlahnya dapat imbang untuk berhadapan dengan musuh.
Di era yang sudah serba canggih ini, perang itu tidak lagi tentang dua angkatan bersenjata saja, tetapi akan melibatkan seluruh unsur yang ada di negara, dalam rangka meraih kemenangan. Artinya, tidak seluruh semesta saja yang juga berjuang, tetapi juga segala sumber daya di sektor politik, sosial-ekonomi, hingga psikologi. Pihak penyerang akan melakukan serangan secara semesta, sementara yang bertahan, akan bertahan dengan mengerahkan rakyatnya secara semesta juga. Itulah mengapa, negara juga harus turut mempersiapkannya dari awal, supaya rakyat juga memiliki kesiapan dan memberi dukungan untuk menghadapi musuh.
Pada dasarnya, perang itu terjadi ketika ada suatu bangsa yang diserang oleh pihak penyerang dengan kekuatan yang lebih besar, sementara pihak yang diserang harus berupaya mempertahankan diri dan memberikan pukulan balasan. Pihak yang diserang ini juga akan membutuhkan waktu untuk menjaga keseimbangan dengan pihak musuh. Itulah mengapa perang gerilya dilakukan karena memang untuk melelahkan musuh saja. Apabila perang gerilya tidak dapat menyelesaikan, maka cara lainnya adalah dengan politik.
Dalam perang pada umumnya, memang mengalahkan musuh adalah tujuan utama sehingga harus dilakukan dengan tentara yang sudah terorganisir secara rapi. Namun pada perang gerilya ini, hanya untuk merepotkan musuh saja. Terlebih lagi, gerakan dari perang gerilya itu memang untuk membantu tentara reguler, sehingga tidak bisa dilakukan secara mandiri. Meskipun dilakukan secara terpisah, tetapi harus mendapatkan koordinir terlebih dahulu dari jenderalnya. Hal ini dilakukan dalam rangka memberikan tekanan secara terus menerus kepada lawan untuk melelahkan dan melemahkannya.
Untuk medan perang, harus dilakukan di tempat yang seluas mungkin, termasuk pada operasi penyusupan dengan tujuan memecah kekuatan musuh. Selama tindakan defensif dilakukan, pemerintahan sipil maupun organisasi militer harus tetap berjalan seperti biasa, supaya musuh tidak curiga.
Dalam perang gerilya, rakyat justru menjadi sendi utama. Singkatnya, perang gerilya ini harus mampu berakar sekaligus bergabung bersama rakyatnya. Namun, tidak semua rakyat harus berpartisipasi, hanya sebagian kecil saja yang mahir dalam memegang senjata, supaya pihak musuh tidak curiga. Terlebih lagi, perlawanan senjata dalam jumlah besar justru tidak memberikan hasil yang strategis, tetapi malah menguntungkan pihak musuh.
Perang gerilya itu harus dilakukan secara efisien, dengan tetap menjunjung tinggi kedisiplinan, didasarkan pada teori dan strategi yang tepat, latihan secara terus-menerus, dan patuh akan peraturan serta rencana operasi dari pihak Jenderal. Apabila perang gerilya dilakukan tanpa strategi yang baik, justru dapat memboroskan waktu dan energi, bahkan mengorban jiwa pasukannya.
Perang gerilya dapat berjalan karena rakyat turut membantu, merawat, menyembunyikan, dan mengadakan penyelidikan untuk keperluan perang. Rakyat juga dapat berkontribusi sebagai organisasi pendukung pasukan gerilya, terutama dalam menyediakan logistik, akomodasi, transportasi, hingga hiburan. Supaya dapat berjalan lancar, maka perlu dibangun suatu struktur tersendiri yang menjadi penghubung antara gerilya dengan rakyat, terutama untuk dapat mengkomunikasikan segala kebutuhan dukungan yang diperlukan.
Dalam pelaksanaan perang gerilya, tentu saja tetap harus mendapatkan suplai logistik dari luar wilayah, terutama yang berkaitan dengan amunisi senjata. Namun, jika terjadi hal-hal yang tidak memungkinkan, maka amunisi senjata milik musuh harus dapat dijadikan sebagai gudang senjata bagi pasukan gerilya. Rakyat biasanya akan menyiapkan persediaan senjata dan harus tersebar di seluruh daerah operasi gerilya, tepatnya sebelum perang dimulai.
Dalam perang semesta, memiliki strategi yang yang berupa kesatuan dari strategi militer, politik, ekonomi, hingga psikologis. Itulah mengapa, perang rakyat semesta itu terjadi bukan antara tentara saja, tetapi juga antara rakyat melawan rakyat. Perang rakyat semesta ini pun juga membutuhkan pimpinan yang tidak hanya ahli bertempur saja, tetapi juga menguasai hal-hal kenegaraan, perekonomian, hingga propaganda.
Ketika mempelajari perang gerilya, tentu saja harus diimbangi dengan anti-gerilya, terutama dalam rangka memberantas segala bentuk perlawanan rakyat yang melawan pemerintah. Untuk mengantisipasi adanya mata-mata, maka ada hal-hal yang perlu diperhatikan:
b37509886e