Hati Suhita Pdf Download

0 views
Skip to first unread message

Baba Flores

unread,
Aug 3, 2024, 3:31:43 PM8/3/24
to carlicimas

Hati Suhita adalah film drama Indonesia tahun 2023 yang disutradarai oleh Archie Hekagery. Film yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Khilma Anis ini dibintangi oleh Nadya Arina, Omar Daniel, dan Anggika Blsterli. Film ini ditayangkan di bioskop Indonesia pada 25 Mei 2023.[1][2]

Alina Suhita, seorang wanita kuat, dewasa dan pantang menyerah. Dia menjadi gadis religius dan hidup di pesantren dengan kesehariannya seperti pengajaran kepada santri di pesantren Al-Anwar. Namun ujian yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya menghampiri saat Alina harus menikah dengan Gus Birru yang merupakan putra tunggal dari pemilik pesantren. Alina mencintai kehidupan pesantren sedangkan Gus Biru memiliki semangat mahasiswa yang aktif berorganisasi dan menyukai interaksinya di luar pesantren. Ketangguhan hati Alina semakin di uji setelah di malam pernikahan, Gus Biru mengatakan tidak mencintai Alina dan tidak akan menyentuhnya. Beberapa saat kemudian Alina mengetahui jika Gus Biru memiliki wanita lain yang di idamkan oleh hatinya. Gus Biru sendiri menikahi Alina dengan alasan untuk menghormati kedua orang tuanya dan Alina dipaksa bungkam serta mengetahui posisi dirinya dengan menutup rapat aib keluarga termasuk menutup aib suami.

Film Hati Suhita diadaptasi dari novel berjudul sama karya Khilma Anis, yang menyajikan kisah cinta segitiga. Film bioskop Indonesia terbaru ini mengisahkan Ning Alina Suhita yang merasa dirinya sebagai wanita malang karena suaminya seperti tidak menginginkannya.

Film ini merupakan drama romansa Indonesia yang disutradarai oleh Archie Hekagery di bawah produksi Starvision. Secara singkat, sinopsis Hati Suhita mengisahkan perjodohan yang terjadi di pesantren, menampilkan konfilk pernikahan yang menguras emosi penonton dan penuh haru.

Proses syuting Hati Suhita dimulai sejak tanggal 20 Agustus 2022 dan menghabiskan waktu 50 hari. Pengambilan gambar diambil di Sembilan kota dengan jarak yang jauh di antaranya Bogor, Kediri, Jakarta, Waduk Trenggalek, Ponorogo, Salatiga, Klaten, Jogja dan Kudus.

Sinopsis Hati Suhita yang diangkat dari novel Karya Khila Anis memiliki gambaran kritis mengenai kepribadian perempuan. Penonton akan diperlihatkan dengan kedudukan perempuan dalam struktur masyarakat Indonesia.

Sang Sutradara, Archie Hekagery menghadirkan persfektif baru soal pernikahan yang menekankan pada pesan moral bahwa kisah percintaan dengan akhir bahagia masih ada meski harus melewati cobaan orang ketiga.

Dalam novel tersebut sterotip perempuan dianggap sebagai makhluk lemah yang tidak memiliki kecerdasan. Namun justru perempuan dalam novel tersebut merupakan sosok cerdas yang memiliki kepribadian kuat. Hal ini terlihat pada dua tokoh perempuan yang mendominasi yaitu Ratna Rengganis dan Suhita.

Dalam sinopsis Hati Suhita menceritakan seorang santriwati bernama Alina Suhita (Nadya Arina) yang resmi menjadi istri sah Gus Birru (Omar Daniel). Namun rupanya pernikahan tersebut terjadi karena Gus Birru (Omar Daniel) hanya ingin memenangkan hati orangtuanya saja.

Menjalani pernikahan dengan Gus Birru merupakan cobaan besar bagi Alina karena keduanya memiliki kepribadian berbeda. Mereka memiliki kepribadian berbeda, Gus Birru merupakan mahasiswa yang aktif berorganisasi sedangkan Alina mencintai kehidupan pesantren.

Keteguhan hati yang dimiliki oleh Alina pun semakin diuji saat malam pertama pernikahan. Gus Birru mengatakan ia tidak akan menyentuhnya dan tidak mencintai Alina. Meski Alina telah mengetahui Gus Birru memiliki wanita lain di dalam hatinya, ia terpaksa memendam rahasia demi menjaga kehormatan keluarga dan menyembunyikan aib suami.

Dengan mengetahui sinopsis Hati Suhita, Anda jadi memiliki gambaran terkait jalan ceritanya sehingga bisa menjadi pertimbangan sebelum menontonnya. Bagaimana kelanjutan ceritanya? Saksikan kelanjutannya di bioskop terdekat.

Perempuan, adalah makhluk Tuhan yang selalu menarik untuk diperbincangkan karena seolah terdapat paradoks dalam dirinya, sehingga ada saja sisi yang perlu diselami. Perempuan kadang digambarkan sebagai sosok yang lemah, peran serta kedudukannya ada di bawah dominasi kaum laki-laki. Terkadang mereka juga digambarkan sebagai sosok yang kuat, raga dan batinnya. Bagi bangsa Indonesia yang memiliki budaya yang beragam, tentu saja memiliki cara pandang yang beragam pula terhadap perempuan. Bagi masyarakat Minang yang menganut sistem matrilineal, perempuan memiliki kekuatan dan kekuasaan sentral. Sementara bagi sebagian masyarakat Jawa, yang menganut sistem patriarki, perempuan hanya dianggap sebagai konco wingking, perempuan bernilai hanya dari tubuh dan seksualitasnya saja. Tentu saja pandangan sebagian masyarakat Jawa tersebut tidak sepenuhnya benar. Jika kita runut catatan sejarah, sejak masa kerajaan di Jawa, perempuan memiliki kekuatan untuk menjadi pemimpin. Misalnya saja, Tribhuwana Tunggadewi sebagai raja Majapahit yang terkenal sebagai perempuan yang adil dan bijaksana.

Nah, dalam tulisan saya kali ini, saya ingin menyelami perempuan Jawa dalam Novel Hati Suhita. Lebih jauh saya ingin menapaki dimensi batin dan pandangan hidup Alina Suhita, tokoh sentral dalam novel ini. Hati Suhita adalah sebuah novel karya Ning Khilma Anis yang bergenre romantik. Tidak hanya romantisme ceritanya yang kemudian memikat pembaca, tetapi novel ini sarat dengan nilai-nilai filosofi Jawa yang banyak mengandung pelajaran hidup penuh makna. Kecintaan Khilma Anis terhadap dunia wayang, keris, serat babad, dan cerita kolosal membuat karakter tulisannya sangat kuat dan khas. Penulis mengurai secara apik ajaran leluhur yang tersimpan rapi dalam serat-serat, kakawin, tembang, dan juga kisah-kisah lakon pewayangan yang disarikan dari kitab Mahabarata. Bisa dikatakan juga bahwa novel Hati Suhita adalah novel pesantren yang tidak berisi satupun dalil, dan seluruh hikmah disampaikan melalui ajaran Jawa. Novel ini digarap dengan riset yang serius. Penulis novel melakukan wawancara yang mendalam dengan Nyai-Nyai di beberapa pesantren, dan tentu saja studi literatur yang juga cukup komprehensif.

Novel ini mengisahkan cerita cinta dan pergolakan batin antara ketiga tokoh utama yakni Alina Suhita ,Gus Birru, dan Rengganis. Tokoh Suhita di gambarkan sebagai wanita yang anggun, lembut, cerdas, taat, kuat, santun, dan putri seorang Kyai. Tokoh Gus Albirruni digambarkan sebagai lelaki tampan, aktivis, putra seorang Kyai besar. Tokoh selanjutnya adalah Ratna Rengganis. Rengganis digambarkan sebagai sosok wanita yang cantik, cerdas, dan luwes, seorang aktivis dan tidak ada latar belakang pesantren.

Kisah yang benar-benar mengadukaduk perasaan berawal dari perjodohan Suhita dengan Gus Birru. Orang tua Gus Birru menjodohkan Gus Birru dengan Suhita karena menurut mereka Suhita adalah sosok yang tepat mendampingi Gus Biru untuk mengurus pesantren Al-Munawar yang memiliki ribuan santri. Tentu saja berat bagi Gus Birru untuk menerima perjodohan ini, selain passionnya memang bukan mengelola pesantren, dia juga tidak mencintai Suhita. Dia mencintai Ratna Rengganis yang sesama aktivis dan bergelut dalam dunia yang sama.

Dalam novel ini tidak ada tokoh antagonis. Penulis mencoba menghadirkan cerita dari beberapa sudut pandang tokohnya, tidak hanya dari sisi Suhita saja, tetapi dari sisi Gus Birru dan Rengganis. Dari sudut pandang Gus Birru kita bisa memahami alasan kenapa kemudian dia tidak bisa menyentuh Suhita. Padahal Suhita berusaha untuk memikatnya, misalnya dia selalu berdandan cantik, selalu wangi Ketika Gus Birru berada di rumah, dan Suhita selalu berkata lemah lembut terhadapnya. Ternyata sikap Gus Birru tersebut dikarenakan dia sangat menghormati Suhita. Tidak mungkin Gus Birru menyentuh Suhita dalam kondisi dia masih sangat mencintai Rengganis. Gus Birru mempunyai prinsip bahwa menyentuh seorang perempuan harus dengan rasa ikhlas, penuh cinta, dan kesadaran penuh bukan keterpaksaan (Anis, 2019:135).

Di episode terakhir Gus Birru mulai sadar bahwa pengorbanan Suhita begitu besar untuk mengurus Pesantren, mengurus Ummi yang sudah seperti Ibu sendiri bagi Suhita, dan untuk dirinya. Pelan-pelan Gus Birru mulai mencintai Suhita dan melupakan Rengganis.

Dari sudut pandang Rengganis digambarkan bahwa Rengganis bukan sebagai sosok perempuan yang jahat, Rengganis bukan pelakor karena dia sudah dulu bertahta di hati Gus Birru sebelum kehadiran Suhita. Jika Suhita digambarkan sebagai seorang Brahmin yang selalu merapal mantra supaya bisa memiliki Gus Birru seutuhnya, maka Rengganis digambarkan sebagai seorang ksatria karena bisa menenerima kekalahan dengan legawa. Meskipun dia tersakiti luar biasa karena ditinggal menikah ketika cintanya masih begitu besar terhadap Gus Birru, namun dia menghormati pernikahan Gus Birru dengan Suhita. Rengganis mulai menjauh dari Gus Birru, dan dia memilih untuk melanjutkan kuliah ke Belanda (Anis, 2019:254-255).

Gambaraan Manusia Jawa, seperti yang diungkap oleh Magnis Suseno (1997:158) adalah manusia yang selalu mencari legitimasi moral dan etis perilaku, sikap, pendapat, persepsi, pandangannya di dalam wayang. Dalam kehidupan sehari-hari misalnya pengenalan diri selalu dilakukan dengan mengacu pada tokoh wayang. Demikian juga yang digambarkan dalam sosok Suhita. Walaupun Suhita hidup dalam lingkungan pesantren, dimensi batinnya diwarnai nilai-nilai kearifan yang dia peroleh dari cerita wayang yang sering dituturkan oleh Mbah Kungnya. Nilai-nilai tersebut begitu membekas dan mendarahdaging dalam diri Suhita dan nilai-nilai itu yang kemudian menguatkan batinnya dan menjadi pemandunya dalam menggulati suka duka kehidupan.

Kearifan Suhita yang lain ditunjukan pada sikap mikul dhuwur, mendem jero. Arti mikul dhuwur mendhem jero adalah memikul tinggi, mengubur dalam-dalam. Hal tersebut semacam nasihat agar seseorang mampu menjunjung tinggi kehormatan orang tua dan menjaga nama baik orang tua. Saat ini sikap mikul dhuwur mendhem jero tidak hanya ditujukan kepada orang tua, tetapi juga kepada pemimpin seperti suami. Suhita benar-benar mampu bersikap mikul dhuwur mendhem jero itu dalam hal menyembunyikan permasalahan rumahtangganya, dia menahan diri untuk tidak mengadu ke orangtuanya atau mertuanya dan dia selalu berpura-pura bahagia atas pernikahannya demi menghormati Gus Birru dan menjaga marwahnya (Anis, 2019:30):

c80f0f1006
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages