admin care community
unread,Aug 25, 2010, 2:51:01 AM8/25/10Sign in to reply to author
Sign in to forward
You do not have permission to delete messages in this group
Either email addresses are anonymous for this group or you need the view member email addresses permission to view the original message
to carecommunitydompetdhuafa
Ramadhan sering dikatakan sebagai bulan tarbiyah bagi jiwa agar bisa
betul-betul merasakan kehadiran Allah dan menyadari bahwa kita adalah
makhluk-Nya yang tidak berdaya. Agar dapat mendidik jiwa kita, maka
kita harus mengenal dulu apa itu jiwa.
Sistem Jiwa atau Nafs
Manusia itu sistem jiwanya disebut Nafs. Nafs itu meliputi beberapa
hal, yaitu akal, qalbu, hati nurani, dan ruh.
Akal berkaitan dengan kemampuan otak menerima ilmu pengetahuan dan
kecakapan memecahkan masalah. Kalau mau mengubah manusia, maka akal
inilah yang menjadi penentu. Sebab berhasil atau gagalnya manusia
dalam hidup, tergantung pada penggunaan akalnya.
Akal juga yang membedakan manusia dengan hewan. Akal mendorong manusia
untuk mampu berpikir, memilah, dan berkreatif. Kita dapat mengambil
contoh rumah. Baik hewan ataupun manusia sama-sama membuat rumah. Tapi
dengan akalnya, maka manusia dapat lebih berkreasi dalam membangun
tempat tinggalnya. Manusia mampu menciptakan berbagai bentuk bangunan
yang indah yang tidak dapat dibentuk oleh hewan.
Yang kedua adalah qalbu, yaitu alat untuk memahami realitas dan nilai.
Qalbu dapat membantu manusia dalam mengambil keputusan yang akan
dimintai pertanggung jawaban. Qalbu juga dapat menjadi penentu, apakah
seseorang dalam kondisi mengingat kepada Allah atau tidak. Ini
dikarenakan qalbu bisa dalam keadaan zuhud maupun takwa. Kalau qalbu
seorang hamba sudah zuhud, maka diajak beramal soleh dengan cara apa
pun akan tetap sulit. Tapi kalau qalbunya takwa, maka akan mudah
mengajak hamba tersebut pada kebaikan.
Dua hal lain yang terdapat dalam nafs yaitu hati nurani dan ruh. Hati
nurani ini tidak pernah berdusta. Sementara itu, ruh merupakan faktor
penting penghidupan seluruh nafs. Kalau ruh tidak ada, maka hal-hal
lainnya tidak akan berjalan.
Jadi, kalau mau mendidik jiwa seseorang, maka sentulah akal, qalbu,
hati nurani, dan ruhnya. Kalau keempat bagian ini tidak tersentuh,
maka tidak akan berhasil seorang manusia diubah jiwanya menjadi lebih
baik.
Menyucikan Nafs
Nafs itu sangat dinamis, diciptakan dengan sempurna tapi harus dijaga
sebab bisa rusak akibat maksiat. Cara menyucikan jiwa bisa dilakukan
dari diri dan dari lingkungan. Dari diri sendiri dilakukan dengan
keluarkan infaq dari harta kita di jalan Allah, takut pada Allah, dan
menjalankan shalat. Sebab, takut adalah ciri orang takwa yang selalu
ingin dekat dan memohon kepada Allah, sementara shalat adalah
kesempatan kita untuk menghadap Allah dan membersihkan diri.
Cara lain menjaga kesucian jiwa yang dilakukan dari diri sendiri yaitu
dengan menjaga kehidupan seksual. Menjaga kesucian kehidupan seksual
dalam bulan Ramadhan ditekankan untuk tidak melakukan hubungan suami
istri pada siang hari, sedangkan kalau malam hari hal tersebut
diperbolehkan. Dampak dari tidak menjaga kesucian kehidupan seksual
adalah meningkatnya penyakit menular, tata sosial kacau dan tidak ada
rasa tanggung jawab.
Dan terakhir yang tak kalah penting dalam menyucikan jiwa adalah
menjaga etika pergaulan dengan menghormati yang tua serta menyayangi
yang muda. Karena sebagai makhluk sosial, penting bagi manusia untuk
bergaul dan menjaga dirinya dengan etika agar tidak menimbulkan
penyakit di masyarakat.
Mendidik jiwa juga bisa dilakukan oleh orang lain. Salah satu jalannya
yaitu dengan diutusnya Rasul. Nabi saw pun telah bersabda bahwa
dirinya diutus untuk memperbaiki akhlak manusia.
Mendidik Jiwa dengan Shaum
Shaum adalah kesempatan bagi kita untuk mendidik jiwa agar betul-betul
rindu pada Allah. Shaum adalah upaya Islam mengajarkan manusia untuk
bisa menahan, mengendalikan, menaklukkan dan menekan sumber-sumber
nafsunya. Selain meninggalkan makan minum dan hubungan suami-istri di
siang hari, dalam shaum juga harus meninggalkan dusta, gibah, fitnah,
sumpah palsu, kata-kata kotor dan perbuatan nista. Shaum sempurna
ketika kita selain taat pada Allah, kita juga bisa menjaga etika dalam
hubungan social.
Oleh karena itu, shaum itu adalah saat dimana Allah mendidik kita dan
mengajarkan pada kita agar memiliki jiwa yang betul-betul bersih.
Bukan saja bersih dalam pengertian taat pada perintah Allah, tetapi
juga betul-betul memiliki kepedulian social yang tinggi. Dengan shaum,
kita terdidik dengan perasaan sayang dan tulus pada orang lain.