General Manager Dompet Dhuafa, Luthfi Afandi mengatakan, hampir di
setiap sekolah, selalu ada guru bantu/honorer, disamping guru Pegawai
Negeri Sipil (PNS). Meski perannya dalam mencerdaskan anak didik sama
besar, perhatian terhadap guru honorer lebih minim daripada guru PNS.
"Yang perlu diselamatkan adalah guru honorer, karena perhatian
terhadap mereka selama ini sangat minim," ujar Luthfi di sela-sela
penandatanganan kerja sama Program Tebar Seribu Laptop Untuk Guru
Bantu/Honorer se-Indonesia di aula Pikiran Rakyat (PR), Jln. Asia
Afrika Kota Bandung, Selasa (30/3).
Menurut Luthfi, potensi dan kualitas guru honorer sebenarnya tidak
kalah dengan guru PNS. Namun fasilitas dan pelatihan yang kurang,
membuat potensi tersebut tidak tergali secara optimal.
"Kami sendiri sudah setahun ini mengadakan pelatihan untuk guru
honorer. Sekarang pesertanya sudah ada lima puluh guru honorer se-
Bandung Raya. Hasilnya cukup bagus, banyak diantara mereka yang sudah
bisa membuat karya tulis dan di muat di media massa," papar Luthfi.
Sementara itu Presiden dan CEO Shafco Enterprise, Gilarsi Wahyu
Setijono mengatakan, program pemberian seribu laptop untuk guru
honorer dinilai sangat tepat. Pasalnya, bagi seorang guru laptop
bukanlah barang mewah, tapi alat yang sangat diperlukan untuk
menunjang profesi sebagai pengajar.
Menurut Gilarsi, laptop terutama diperlukan untuk para guru bantu di
daerah terpencil. "Di sana fasilitas minim, menyediakan perpustakaan
rasanya tidak cukup. Dengan laptop, guru bisa mendapat materi di mana
saja, di sekolah dan di rumah," ungkapnya.
Sementara Direktur Pikiran Rakyat, Januar P. Ruswita mengatakan,
Pikiran Rakyat sendiri tidak cukup hanya berperan sebagai media
partner dalam program ini. "Kita harus terjun dan ikut terlibat secara
langsung," ujarnya.
Menurut rencana, dalam program yang akan berjalan selama lima tahun ke
depan ini, Pikiran Rakyat akan berpartisipasi dalam memberikan
pelatihan jurnalistik pada guru honorer, serta memberikan 25 kamera
pocket untuk peserta terbaik. (A-178/kur)***