Land conversionfromforest tocultivation ofvegetablecropsthat did notfollow the rules ofconservation practices, increased therate ofsedimententeringthe reservoirof Mrica. The reservoir which have been operated since 1989, will be full of sediment in 2021. Complexity of managing watershed areas still require an innovative approach to improve the hydrological situation, particularly to conserve water resources. The phenomenon of land use change and performance impacts caused, an event in nature that are necessary to determine the action that needs to be done in the future. Hydrologica lmodels is an extrapolation tool that can help understanding the phenomenon. This study aims at optimizing the performance-related watershed management, using a quantitative approach based on elementery hydrological models. This paper, using the method of literature review, was focused on revealing conception, as the approach in achieving the goal. The conception ofthe study wasthe assembly-serialsequence of hydrological models and watershed management-related quantitative assessment performance. The concept of the assembly will apply the role of hydrological models as a basis for quantitative assessment of performance-related watershed. The results of assembly, will provide an overview of the role of hydrological models, to produce information relating to the performance of output-based watershed management. Information obtained from such a role can be used as an alternative input in policy of water resources management and the basis for the development of specifi c hydrological models for Mrica reservoirs.
Alih fungsi lahan dari hutan menjadi lahan budidaya tanaman sayuran yang belum sepenuhnya mengikuti kaidah konservasi semakin menambah laju sedimentasi yang masuk ke waduk Mrica. Waduk yang mulai beroperasi tahun 1989, akan dipenuhi sedimenpada tahun 2021. Kompleksitas pengelolaan kawasan DAS masih membutuhkan suatu inovasi pendekatan hidrologi untuk memperbaiki situasi,terutama untuk melestarikan sumberdaya air. Fenomena perubahan dan alih fungsi lahan dan dampak kinerja yang ditimbulkan, merupakan kejadian di alam yang perlu dipahami untuk menentukan tindakan yang perlu dilakukan di waktu yang akan datang. Model hidrologi dipandang sebagai alat ekstrapolasi yang dapat membantu memahami fenomena tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan pengelolaan DAS, menggunakan pendekatan kuantitatif berbasis model hidrologi elementer. Tulisan ini, menggunakan metode kajian pustaka,difokuskan untuk mengungkapkan konsepsi penelitian,sebagai metode pendekatan dalam mencapai tujuan. Konsepsi penelitian yang dimaksud yaitu perakitan-rangkaian serial model hidrologi dan penilaian kuantitatif pengelolaan DAS terkait kinerjanya. Dalam konsep perakitan tersebut akan diaplikasikan model hidrologi sebagai basis penilaian kuantitatif kinerja DAS. Hasil perakitan akan memberikan gambaran peran model hidrologi dalam menghasilkan informasi yang berkaitan dengan kinerja pengelolaan DAS berbasis output. Informasi tersebut dapat digunakan sebagai alternatif masukan dalam kebijakan pengelolaan DAS-Sumberdaya air dan menjadi dasar pengembangan model hidrologi spesifi k daerah tangkapan air waduk Mrica.
LinkedIn dan pihak ketiga menggunakan cookie esensial dan non-esensial untuk menyediakan, mengamankan, menganalisis, dan meningkatkan Layanan kami, dan untuk menampilkan kepada Anda iklan yang relevan (termasuk iklan profesional dan lowongan kerja) di dalam dan di luar LinkedIn. Baca selengkapnya di Kebijakan Cookie kami.
IPB Training menyelenggarakan training pemodelan hidrologi dalam pengelolaan daerah aliran sungai pada 12-14 November 2018 di IPB Science Techno Park Jalan Taman Kencana nomor 3, Bogor. Kegiatan ini bertujuan agar peserta mampu memahami, mendasain, dan menganalisis pengelolaan daerah aliran sungai dengan pemodelan hdrologi.
Jenis penelitin ini adalah deskriptif yakni peneliti memberikan uraian atau gambaran mengenai fenomena atau gejala sosial yang diteliti dengan mendeskripsikan variabel mandiri secara sistematis dan akurat.Metode pengumpulan data dilakukan dengan indepth interview, observasi partisipatif,dan studi dokumentasi.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peran Pemerintah Daerah dalam pengelolaan bagian hilir DAS Siak berdasarkan Tugas Pokok dan Fungsi dari masing-masing instansi terkait.Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Riau berperan dalam perencanaan pembangunan, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Riau berperan dalam pengelolaan limbah industri dan domestik, Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Riau bidang Permukiman berperan dalam pengelolaan permukiman. Dalam pelaksanaan pengelolaannya yang dilakukan dari instansi-instansi pemerintah ini kurang adanya koordinasi serta kerjasama antar instansi yang satu dengan yang lain,padahal sinergitas dari setiap instansi sangat diperlukan dalam pengelolaan DAS Siak.
Jumaidi Husin Irkami. 2014. Peran Pemerintah Daerah Dalam Pengembangan Desa Tertinggal di Kecamatan Rupat Kabupaten Bengkalis Tahun 2012.Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau.
Nur Aslamaturrahmah Dwi Putri. 2008. Kebijakan pemerintah Dalam pengendalian pencemaran air sungai siak (studi pada daerah aliran sungai siak bagian hilir). Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Riau.
D.Yudilastiantoro, Iwanuddin. Kelembagaan Pengelolaan Das Dalam Konteks Desentralisasi di DAS Saddang dan Bilawalanae, Sulawesi Selatan Watershed Management Institution On Decentralization Contests In Saddang And Bilawalanae Watershed.
Robertus Na Endi Jaweng. 2012. Analisis Kewenangan Khusus Jakarta SebagaiIbukota Negara Dalam Konteks Desentralisasi di Indonesia. Program Pascasarjana Ilmu Administrasi. Program Pascasarjana Ilmu Administrasi. Universitas Indonesia.
Pengelolaan DAS adalah suatu proses formulasi dan implementasi kegiatan atau program yang bersifat menipulasi sumber daya alam dan manusia yang terdapat di daerah aliran sungai untuk memperoleh manfaat produksi dan jasa tanpa menyebabkan terjadinya kerusakan sumber daya air dan tanah. Kegiatan yang dilakukan adalah identifikasi keterkaitan antara penggunaan lahan, tanah dan air, serta keterkaitan antara daerah hulu sampai hilir suatu DAS secara terintegrasi. Hal ini dimaksudkan agar sumberdaya air lestari sepanjang masa. Berkait dengan hal tersebut, buku ini membahas tentang keberadaan air melalui hidrologi pengelolaan DAS sehingga kuantitas air dapat diketahui. Sedang hidrologi dalam pengelolaan lahan di daerah Hulu membahas permasalahan erosi yang akan menurunkan kesuburan tanah yang akan menyebabkan terjadinya kekritisan DAS yang ditentukan berdasarkan Indeks Bahaya Erosi sehingga diperlukan upaya pengendaliannya. Pengelolaan DAS ini harus terintegrasi dari hulu sampai dengan hilir, oleh karena itu buku inipun membahas pengelolaan DAS di Daerah Hilir terutama mengetahui stabilitas muara dan pengaruh pasang surut air laut terhadap muara serta strategi pengelolaan daerah muara sungai. Buku ini dapat membuat pembaca menjadi lebih paham apa itu Pengelolaan DAS Terintegrasi, sehingga bisa digunakan sebagai pedoman bagi akademisi, praktisi dalam menyusun langkah-langkah pengelolaan yang benar dan menghasilkan sumber daya air yang optimal sepanjang masa. Selain itu, buku ini juga dapat menambahkan khazanah karya ilmiah seputar Pengembangan Daerah Aliran Sungai (DAS).
DAS Ciujung merupakan sungai induk yang ada di Provinsi Banten tepatnya di Kabupaten Lebak. Sebagai bagian dari Sumber Daya Alam yang sangat dibutuhkan, maka sungai ini telah dimanfaatkan/digunakan untuk berbagai kegiatan dan tujuan, diantaranya yaitu untuk sarana penyediaan air irigasi teknis atau pengairan area persawahan yang dikelola oleh masyarakat Kabupaten Lebak. Penelitian ini dilakukan, Mengkaji besarnya dampak yang ditimbulkan oleh banjir terhadap pengaruh erosi lahan dibantaran Sungai Ciujung dan mengevaluasi upaya pengelolaan tataguna lahan terhadap banjir di Sungai Ciujung serta Sebagai alternatif kebijakan dalam rangka mitigasi, pertimbangan dalam implementasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Metode yang digunakan dalam kajian ini melakukan analisis hidrologi, perhitungan USLE serta perhitungan Sediment Delevery Ratio (SDR). Besarnya erosi yang terjadi di Sungai Ciujung adalah 45,924 ton/ha/tahun atau 663.142,56 t/thn sehingga besarnya sedimentasi di Sungai Ciujung 84.219 t/thn sedangkan nilai toleransi sedimen adalah perkalian antara nilai toleransi erosi dengan SDR. Untuk Sungai Ciujung nilai toleransi erosi adalah 194.940 t/thn dan angka SDR adalah 0,127 sehingga nilai toleransi sedimen adalah tata guna lahan, 0,127 = 24.757/thn.
Suhartanto E. 2001, Optimalisasi Pengelolaan DAS di Sub Daerah Aliran Sungai Cidanau Kabupaten Serang Provinsi Banten menggunakan model Hidrologi ANSWERS, Makalah Falsafah Sains, Program Pasaca Sarjana/S2 IPB, Bogor.
Abstrak: Sungai Garang pada tahun 1990 pernah meluap sehingga daerah sekitarnya banjir. Banjir biasanya terjadi akibat dari perubahan tata guna lahan dari pertanian/ perkebunan dan hutan menjadi permukiman, dan Pembabatan hutan. Untuk mengetahui kondisi kinerja DAS Garang perlu diidentifikasi perubahan tataguna lahan dan kondisi hidrologi setiap sub DAS yang ada di DAS Garang. Evaluasi penilaian indikator kinerja DAS Garang berdasarkan Kepmenhut No. 52 Kpts-II/2001 yang berkonsep hidrologi dan penggunaan lahan. Peta tataguna lahan yang digunakan tahun 2000, 2005, 2008, 2010 dan RTRW. Analisa ini menggunakan bantuan software AVSWAT 2000. Dalam menentukan prioritas perbaikan Sub DAS yang paling buruk peneliti menggunakan metode Analisis Hierarky Proces (AHP). Kondisi aliran langsung memiliki trend naik pada Bulan Februari sampai Agustus kemudian turun pada bulan September dan naik kembali pada Oktober hingga Januari. Kinerja DAS Garang berdasarkan segi penggunaan lahan dan tata air berdasarkan peta tataguna lahan tahun 2000 diberi penilaian kategori Sedang dengan jumlah skor 2,942. Berdasarkan peta tata guna lahan tahun 2005 diberi penilaian kategori Sedang dengan jumlah skor 3,026. Berdasarkan peta tataguna lahan tahun 2008 diberi penilaian kategori Sedang dengan jumlah skor 2,897. Berdasarkan peta tataguna lahan tahun 2010 diberi penilaian Sedang dengan jumlah skor 2,967. berdasarkan peta RTRW diberi penilaian kategori Agak Baik dengan skor 2,205. Dalam penelitian ini didapatkan kondisi sub DAS yang rusak pada kriteria tataguna lahan dan tata air. Maka dalam menentukan skala prioritas perbaikan sub DAS dilakukan pemilihan berdasarkan metode Analisis Hierarki Proses (AHP). Dari proses AHP disimpulkan bahwa sub DAS 13 yang paling rusak dan harus diprioritaskan dalam perbaikan dan pengelolaan sub DAS pada DAS Garang.
4a15465005