Sabtu, 26/07/2008 20:53 WIB
Rakyat Jangan Sampai Pilih Calon Pemimpin Bermasalah
Wakil Ketua Dewan Penasehat Majelis Ulama Indoensia (MUI) Sumatera
Barat, Buya H. Mas'oed Abidin, mengimbau masyarakat
Sumbar khususnya dan rakyat Indonesia umumnya jangan sampai memilih
calon pemimpin (Caleg, Cawako/Cabup, Cagub dan Presiden) yang terlibat
pidana korupsi atau pidana lainnya.
"Bila menginginkan tata kelola pemerintahan yang baik, maka
kewajiban pertama bagi masyarakat di Indonesia tidak memilih calon
pemimpin yang bermasalah," kata Buya Mas'oed Abidin juga Ketua Umum
Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Sumbar itu, ketika diminta
pandangannya terkait masa kampanye Pemilu 2009 telah dimulai di
Padang, Sabtu.
Menurut Buya, kejelian dan ketelitian masyarakat untuk memilih
calon pemimpin, baik yang duduk di eksekutif maupun legislatif pada
tingkat pusat atau daerah, cukup penting agar tata kelola pemerintahan
masa akan datang lebih baik lagi.
Menurut dia, masyarakat harus diberi pembelajaran bagaimana memilih
pemimpin yang tidak bermasalah itu.
"Untuk memberikan dan melakukan pembelajaran pada masyarakat idealnya
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)," katanya.
Namun, lanjutnya, sayangnya sebagian LSM sudah tergadai pula dengan
penyedia dana, sehingga jelas tidak akan mampu memberikan pembelajaran
demokrasi yang benar.
Oleh karena itu, masyarakat harus pintar memilih calon pemimpin dan
setidaknya mengetahui sedikit perjalanan karir para calon pemimpin.
"Jika calon pemimpin sudah jelas bermasalah baik pidana atau moralnya
tercoreng, untuk apa dipilih lagi," katanya.
Ia menilai, kalau wakil rakyat duduk di legislatif dan pemimpin di
eksekutif sudah punya masalah, jelas tata kelola pemerintahan tidak
akan berjalan dengan baik.
Buya Mas'oed Abidin, menilai kekuatan partai politik (parpol) sudah
jauh melemah, dimana banyak orientasinya politiknya pada materi, hanya
sedikit orientasinya kepada ideologi kebangsaan, sehingga kondisi ini
menjadi satu masalah juga.
"Ketika kita mendapatkan pemimpin yang individualis dan materialis,
tetapi bukan pemimpin yang idealis dan nasionalis, bagaimana negara
akan kuat dan maju," tambahnya.
Menurut dia, untuk konteks Indonesia pemimpin yang dicari, cinta
kepada bangsa dan negara, berakhlak mulia, beriman dan bertakwa serta
beribadah yang baik.
Nilai-nilai itu, tambah Buya Mas'oed, tidak dapat dielakkan bahkan
wajib dipertahankan selama negeri ini bernama NKRI yang berfalsafah
Pancasila dan berlambang Bhinneka Tunggal Ika.
Sumber:
http://www.antara-sumbar.com/id/?mod=berita&d=1&id=1500