Sekadar berbagi tulisan mengenai kehidupan anak-anak Pangudi Luhur Jakarta
era 1980-1990an. Tautannya:
http://roythaniago.wordpress.com/2013/08/27/mereka-yang-remaja-di-brawijaya/
Mereka yang *Remaja *di* Brawijaya*
oleh Roy Thaniago
Nostalgila di sekolah pria YANG Mengusir sepi. Sekali laki-laki tetap
laki-laki.
Bel tanda masuk telah bersungut sejak tadi. Para murid baru sudah duduk di
ruang kelasnya masing-masing. Tapi selasar sekolah pagi itu masih disesaki
orangtua siswa yang mengantar. Mungkin inilah pagi yang membikin orangtua
cemas sekaligus menaruh harap. Tapi bagi ratusan siswa baru di sini, inilah
pagi pertama mereka sebagai siswa SMU Pangudi Luhur (PL).
“Orangtua silakan keluar. Anak Anda sudah dititipkan di Pangudi Luhur.
Percayakan pada kami,” seru Bruder Honoratus, seorang guru senior, seperti
ditirukan Irto Rachman. “Kira-kira aman ‘kan (setelah itu)? *Kagak*!”
kenang Irto. Karena setelah itu, siswa senior kelas dua dan tiga
menghampiri dan menggedor-gedor jendela kelas dengan keras.
Bagi siswa kelas satu, suasana terang saja gaduh. Juga mencekam. Tapi guru
yang berdiri di depan kelas hanya bergeming, dengan sesekali tersenyum
geli. Dan rasa takut pun semakin bertumpuk-tumpuk. Ngeri.
Ya, di tempat ini, sejarah seakan berulang. Tiap tahunnya, setidaknya
antara era 1980-1990-an, adegan di atas diputar kembali. Mungkin ini
semacam salam “selamat datang” khas PL. Salam mentradisi yang mengawali
para penghuni barunya untuk memasuki sebuah dunia tentang remaja. Sepotong
ingatan tentang kebengalan dan kesetiakawanan. Ini cerita tentang sekolah
khusus laki-laki.
* * *
Irto Rachman adalah seorang *IT Manager* di Kentucky Fried Chicken
Indonesia. Antara 1990 - 1992 ia adalah salah satu siswa SMU PL. Selain
Irto, ada Yuka Narendra, Benny Prawira Soeryatama, Dave Lumenta, dan Adhi
Septyo Nugroho, yang kepada *Bung!*, mengisahkan masa-masanya di PL yang
masih terkenang hingga hari ini.
“Gue kuliah di ITB (Institut Teknologi Bandung). Tapi kalau ditanya lulusan
mana, biasanya gue jawab lulusan PL,” ujar Irto untuk menegaskan
kebanggaannya atas almamaternya. Kebanggaan itulah yang turut menginspirasi
Yuka dalam menjalani kesehariannya sebagai seorang dosen di sebuah
universitas swasta di Jakarta. Ia mengaku caranya mengajar dipengaruhi cara
mengajar guru-gurunya di PL dahulu.
Rasa bangga, adalah corak dominan yang menguasai kenangan akan almamater
mereka. Bagi mereka, ada semacam penanaman kebanggaan yang
diinstitusionalkan melalui beragam proses yang kadang tak disadari. Dari
guru hingga senior, upaya membangun kebanggaan ini dimulai sejak dini
sekali. Hal itu biasanya dilakukan melalui kegiatan ekstrakurikuler maupun
wejangan yang diwariskan para senior dan guru.
Ketika banyak sekolah berlomba menaikkan statusnya, PL tidak larut dalam
arus. PL yang kala itu berstatus “Diakui”, enggan naik kelas menjadi
“Disamakan” walau ada desakan dan kesempatan untuk itu. “Kepala sekolah
nggak mau,” cerita Dave, angkatan PL 1989 yang kini bekerja sebagai dosen
Antropologi di Universitas Indonesia. Sebagai sekolah dengan kurikulum dan
pendekatan yang khas, PL merasa berbeda dan tak perlu disama-samakan dengan
sekolah lain.
Mundur ke belakang, pendirian PL bermula dari tawaran Pemda DKI pada 1963
kepada Konferensi Waligereja Indonesia untuk mendirikan sekolah di sepetak
tanah kosong yang terletak di jalan Brawijaya IV, Kebayoran Baru, Jakarta
Selatan. Tawaran ini kemudian disambut Uskup Agung Jakarta kala itu, Mgr.
Adrianus Djajasepoetra, SJ, yang lantas memanggil para bruder yang sedang
sibuk dalam proyek mendirikan sekolah di Magelang. Bruder-bruder
tersebut—awam rohaniwan Katolik yang berkaul kemiskinan, ketaatan, dan
selibat—menunaikannya. Pada 1965, sekolah ini resmi berdiri.
Sekolah ini kemudian berkembang dan terkenal karena kualitas akademik dan
metode pendidikannya yang berbasis pada pengembangan karakter. Di Jakarta,
PL masuk dalam daftar sekolah unggulan. “’Morfinis’, tapi jenius semua,”
begitu kata Dave menirukan kesan orang luar. Morfinis adalah kiasan zaman
itu yang berasosiasi pada kenakalan anak muda.
Adhi Septyo Nugroho, atau biasa disapa Sesek, menyetujui soal aspek
pembangunan karakter di PL. Ia, yang lulus pada 1991 dari PL, merasakan
manfaatnya bertahun-tahun kemudian. Sebagai seorang pengarah artistik di
Narada Communication, pendidikan di PL menempa sisi kreativitasnya.
Seangkatan dengan Sesek, Benny Prawira Soeryatama mengatakan bahwa materi
pelajaran di PL lebih “berat” ketimbang sekolah-sekolah lain. Ketika Benny
kuliah, bahkan hingga semester enam, banyak materi yang sudah dipelajarinya
ketika SMA. Makanya, walau “Tahun pertama kuliah itu (saya) main-main,
(tapi) IP bisa dapat 3,6,” kata kepala divisi di suatu perusahaan
perkapalan nasional ini.
Untuk menyaring kualitas siswa, PL menetapkan standar tes IQ yang tinggi.
Walau begitu, siswa-siswa terpilih ini tetap saja kewalahan dengan materi
yang ada. Sebagai contoh, selain ujian nasional dari pemerintah, PL juga
mengadakan ujian tersendiri. Mendapat lembar ijazah pemerintah bukan
berarti juga mendapat ijazah PL. Hanya sejumput dari mereka yang berhasil
mengantungi ijazah PL. Beberapa kampus yang tahu mengenai ini, memilih
menyaring siswa dari PL lewat ijazah PL, bukan ijazah nasional.
Karena kualitas akademik dan konsep pengembangan karakterlah, banyak
orangtua siswa berbondong-bondong menyekolahkan anaknya di PL. Mereka tahu,
PL merupakan sekolah berbasis agama Katolik. Tapi orangtua siswa
non-Katolik tak keberatan memasukkan anak-anaknya bersekolah di sini. Mutu
pendidikan ini pula yang membuat PL tak terlalu memedulikan hal-hal yang
tak begitu esensial, salah duanya adalah soal ketentuan berseragam dan
model rambut.
Pernah pada masanya, lelaki berambut gondrong dipandang negatif. Di
Indonesia, itu terjadi pada 1970-an. Menjadi gondrong itu terlarang.
Pemerintah Orde Baru menganggap kegondrongan sebagai sikap acuh tak acuh
pemuda yang tak sesuai dengan kepribadian bangsa. Rambut memang soal
kebebasan berekspresi yang sifatnya privat, tapi orde tersebut merasa perlu
mengaturnya hingga membentuk badan khusus bernama Bakorperagon (Badan
Koordinasi Pemberantasan Rambut Gondrong). Aria Wiratma Yudhistira dalam
bukunya, *Dilarang Gondrong!: Praktik Kekuasaan Orde Baru terhadap Anak
Muda Awal 1970-an* (Marjin Kiri, 2010), menceritakan ihwal razia terhadap
pemuda gondrong yang dilakukan di jalan-jalan. Sekolah dan kampus pun
memberlakukan larangan ini. Artis yang ingin tampil di TVRI dan pemain
sepak bola juga kena getahnya.
Pelarangan rambut gondrong sebangun dengan upaya penyeragamaan pakaian
sekolah. Keduanya sejatinya adalah selera kekuasaan, dan itu berarti bentuk
penguasaan atau penundukan. Haris Firdaus dalam esainya di
Karbonjournal.org pada 3 Oktober 2009, “Penyeragaman yang Selalu Gagal”,
melacak jejak pertama kali penerapan aturan berseragam di sekolah
diberlakukan, yakni pada 17 Maret 1982, lewat Surat Keputusan (SK) yang
dikeluarkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (P & K).
Padahal sebelumnya, antara 1965 - 1985, tak ada ketentuan mengenai seragam
dan model rambut di PL. Tapi pada 1985, Kanwil P & K mendesak PL untuk
menerapkannya. Aturan berseragam akhirnya diberlakukan, namun dengan model
seragam yang berbeda dengan sekolah lain. Kalau SMU umumnya identik dengan
seragam putih-abu-abu, maka PL mendesain seragamnya sendiri dengan warna
hitam untuk bawahan dan kemeja bermotif kotak-kotak untuk atasan.
Ketentuan ini terang ditolak para siswanya dengan beragam polah. Pernah
suatu kali, ujar Dave, ada temannya yang datang ke sekolah mengenakan
seragam dengan warna yang dibalik: memakai kaos hitam dan celana golf
kotak-kotak milik bapaknya. Makin senior, makin *ngaco* pula seragamnya.
Ada yang, misalnya, memakai kemeja bermotif bunga-bunga, polkadot, “Bahkan
ada yang memakai kemeja putih yang ditulisi ‘kotak-kotak’!” seru Yuka
terbahak-bahak.
Eskalasi penolakan siswa atas seragam meningkat pada tahun-tahun kemudian.
Pada Maret 1988 penolakan itu pecah. Sebuah demonstrasi besar terjadi.
“Anak-anak mogok sekolah dan mengokupasi aula, tidak mau masuk kelas,”
ingat Dave. Waktu itu sedang masa minggu tenang Pemilu 1988. Suasana
tegang. Sejumlah polisi bersiaga di ujung sekolah. Aksi protes baru reda
ketika para alumni PL angkatan 1975 datang untuk menenangkan para siswa.
Sama halnya dengan seragam, kewajiban berambut pendek juga diberlakukan di
PL. Tapi karena adanya tawar-menawar antara siswa dan guru—melalui OSIS
mereka yang memang aktif—maka aturannya dimodifikasi sedikit, yakni boleh
panjang asal rapi dan tidak menyentuh tengkuk. Dasar jahil, ada-ada saja
ulah mereka, dari mulai dijepit, dikuncir ke atas, hingga yang berjalan *
handstand* tatkala tertangkap basah belum memendekkan rambut—yang penting
tidak kena tengkuk!
* * *
Remaja, adalah sosok yang absen dalam gambaran keluarga Orde Baru. Riwayat
remaja adalah riwayat yang sungsang, terasing, dan dianiaya oleh anggapan.
Saya Sasaki Shiraishi dalam bukunya *Pahlawan-Pahlawan Belia: Keluarga
Indonesia dalam Politik *(Kepustakaan Populer Gramedia, 2001) membongkar
bagaimana konsep keluarga diterapkan dan dimaknai dalam kehidupan politik
Orde Baru. Ia menemukan bahwa dalam buku-buku pelajaran sekolah, sebuah
keluarga digambarkan hanya terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak kecil.
Remaja tidak ada. Remaja tidak mendapat panggung.
Remaja dienyahkan, karena anggapan atas posisinya yang ambivalen. Ia
dianggap “sudah melakukan dosa” karena sudah tidak anak-anak, tapi ia juga
“belum manusia seutuhnya” karena belum berusia dewasa. Singkatnya, remaja
adalah sosok yang dicemaskan dan tak diharapkan menjadi ksatria.
Tak tampil di bacaan sekolah, yang disediakan untuk remaja malah panggung
di medium lain, yang kerap dianggap tak penting secara sosial-politik,
yakni pada media populer semacam majalah, film, dan musik. Kita tahu, di
medium ini, remaja pelaku adalah komoditas dan remaja konsumen adalah
pasar. Di sana, sebab dilucuti konteks sosialnya, remaja seakan dibebaskan
dari tanggungjawabnya. Remaja kembali menjadi tak penting.
Tak terkecuali bagi siswa PL pada masa Orde Baru, mereka juga merupakan
remaja yang tumbuh dalam cuaca demikian. Lantas, bagaimana cara guru-guru
bersikap dan mengelola ambivalensi remaja PL? Apa yang mereka lakukan dalam
menyelesaikan masalah dan memberi hukuman? Nyatanya, mereka melihat remaja
dalam kerangka yang lain. Mereka tak bisa marah hanya karena sekadar
tingkah bengal siswa. Selain karena bukan hal yang esensial, mungkin mereka
melihat itu semua sebagai bentuk kreativitas anak didiknya.
“Tidak ada (siswa) yang pernah dikeluarkan karena melawan,” ujar Dave. Di
PL, yang dianggap pelanggaran berat adalah hal prinsipil, umpamanya
kejujuran. Misalnya, pernah ada seorang siswa dikeluarkan dari sekolah
karena memalsukan tanda tangan orangtuanya dalam sebuah surat izin tak
mengikuti suatu kegiatan.
Di sisi lain, hukuman yang diberikan kadang unik dan tak bertujuan mencari
“keadilan”. Pada cerita berikut, misalnya, suatu hari siswi-siswi dari
sekolah lain datang ke PL untuk menyampaikan undangan. Lugunya, mereka
datang pada saat yang salah, yakni pada jam istirahat sekolah. Alhasil
siswi-siswi “malang” itu dikerubuti, disoraki, dan diikuti sampai ke
ruangan kepala sekolah. Walau bel tanda masuk telah berbunyi, tapi
pemuda-pemuda “lapar” tersebut seperti tak mendengar. Seusai itu, dua
puluhan siswa akhirnya mengantri untuk diinterogasi oleh kepala sekolah.
Hukumannya? Yang colek-colek diskors satu hari, yang teriak-teriak diskors
dua hari, dan yang menonton diskors tiga hari!
Dengan kenyataan demikian, rasanya PL memilih jalan lain dari gaya umum
mendefinisikan remaja. Kehadiran remaja adalah penting dan tak layak
disepelekan. Membina masyarakat berarti dimulai dari membina remajanya. Di
PL, remaja bukanlah sosok yang ada untuk sekadar menjadi patuh dan menerima
aturan-perintah-hukuman tak masuk akal. Itulah sebabnya aspek pengembangan
karakter yang esensial lebih digarap ketimbang menjejali dengan hal-hal
yang telanjur diterima sebagai “kebenaran”.
Karenanya, PL menjadi khas, menjadi berbeda dengan kebanyakan institusi
pendidikan. Kekhasan inilah—seragam, model rambut, hukuman, bahan ajar,
kultur sekolah, dan lainnya—yang rupanya berperan membangun kebanggaan bagi
para siswanya. Kesadaran bahwa mereka “berbeda” dengan yang lain, dibentuk
dan dikelola terus-menerus oleh budaya di PL.
Tapi akibatnya, “Kita nggak bisa bercanda dengan (siswa sekolah) yang
non-homogen,” celetuk Irto. “Sering nggak *nyambung*,” lanjutnya. Mereka
merasa hanya dengan sekolah “sejenislah” mereka bisa cocok, yakni seperti
Kolese Kanisius dan Kolese Gonzaga yang juga mengkhususkan diri sebagai
sekolah laki-laki, atau Tarakanita dan Santa Ursula, sekolah khusus
perempuan. “Entah kenapa, padahal nggak diniatkan,” kata Irto.
Itulah mungkin sebabnya, alumni PL kerap mengalami semacam “gegar budaya”
pada lingkungan barunya pasca-PL, misalnya kampus dan dunia kerja. Pada
titik ini, kenyamanan dan kemapanan cara berpikir dan bertindak yang
dipraktikkan menahun di PL, mesti cepat diadaptasikan. Menurut Dave, ada
dua kemungkinan yang biasanya terjadi pada alumni PL di lingkungan barunya
tersebut, yakni menjadi *informal leader* atau alien, alias dianggap aneh
oleh lingkungannya.
Siswa PL sendiri biasanya kesulitan menjawab kenapa hal itu terjadi. “Yang
kami lakukan adalah proses *othering*: bisa membedakan yang bukan kami,
tapi nggak bisa menceritakan siapa kami,” jelas Dave.
Pernah, misalnya, pengalaman seorang teman mereka yang marah dipanggil
“Cina” di lingkungan kampusnya. Padahal, di PL olok-olok etnisitas bahkan
agama adalah hal yang dianggap lumrah. “Lo kan bukan PL, *ngapain*
*manggil*gue Cina,” ingat Irto menirukan kisah salah satu temannya.
Nah, bicara soal etnisitas dan agama di PL, kedua hal ini diperlakukan
dengan santai. Berbeda dengan situasi hari ini, di mana identitas agama dan
etnis ditanam mati sehingga meminggirkan dialog, di PL hal tersebut
diperlakukan tanpa ketegangan, bahkan menjadi bahan olokan.
Dengan mayoritas profil siswanya berasal dari keluarga kelas menengah—anak
Pegawai Negeri Sipil, jenderal, petinggi Pertamina, dan pengusaha—etnis dan
agama di PL sangatlah beragam. Komposisi agama cukup berimbang, sekalipun
Islam dan Katolik tetap lebih dominan dibanding agama lainnya. Begitu pula
dengan ragam etnis yang ada. “Kalau (etnis) Cina biasanya dari (Jakarta)
Selatan, bukan Kota (Jakarta Barat). Cina Kota masuknya Kanisius,” ujar
Yuka.
Keberagaman yang ada tidak pernah memicu konflik, malah justru melahirkan
anekdot-anekdot jenaka. Irto ingat betul kejadian di kelas yang sering
terjadi ketika adzan berkumandang dari masjid yang berada tak jauh dari PL.
“Anak-anak yang Katolik teriak ‘panas, panas, panas’ sambil tutup telinga,”
kenang mereka semua secara bersamaan, disusul ledakkan tawa. Sebaliknya,
Dave mengenang, ketika siswa Islam dapat jatah memimpin doa pulang, maka
dalam doanya ditambahkan seruan, “Buatlah Kristen-kristen ini tobat.”
Jenaka dan komikal, memang.
Tapi mari kembali menyoal ketidaknyambungan siswa PL dengan siswa sekolah
lain. Walau Irto mengatakan bahwa hanya dengan sekolah sejenis mereka bisa
cocok, tapi seringkali hal itu justru menjadi sumber konflik atas nama
prestise. Ketika itu, sekolah khusus lelaki di Jakarta bukan hanya PL. Ada
Kanisius di Menteng, Jakarta Pusat, dan Gonzaga di Pejaten, Jakarta
Selatan. Pada keduanyalah siswa PL kerap bersinggungan—apalagi pada era
Irto dan kawan-kawan, tawuran antarsekolah marak terjadi. Dan konflik
seringkali tak terelakkan.
Yuka ingat kisah kawannya yang pernah dikejar siswa Kanisus. Sama-sama
menggunakan mobil, tapi “Anak Kanisius dua mobil,” ungkap Yuka. Tibalah
mereka pada sebuah jalan buntu. “Mati kita!” batin mereka. Untungnya ide
mereka tak ikutan buntu. Berbekal sepucuk pistol angin mainan yang sedang
tren kala itu, seorang kawan dengan yakinnya turun dari mobil sambil
mengarahkan moncong pistol ke arah siswa Kanisius. Kawan lain tak
kekurangan akal. Ia mencegah kawannya yang “kalap” tersebut sambil terisak,
“Jangan, jangan. Ingat masa depan lo!” Dikeker beceng, plus ditambah adegan
dramatik, kubu Kanisius perlahan mundur, dan akhirnya kabur.
Kisah konyol seorang kawan yang lain, terjadi dengan siswa Gonzaga. Dalam
keadaan setengah mabuk, kawan ini lewat di depan sekolah Gonzaga, dan
meluncurlah kejahilan itu: papan nama Gonzaga dipreteli huruf-hurufnya,
hingga nama “KOLESE GONZAGA” disisakan hingga hanya tertera huruf “EE”
saja, beserta logonya. Dan, ya, dugaan Bung benar mengenai kejadian esok
paginya: PL disambangi anak-anak Gonzaga. Ricuh.
Tapi karena kultur kolektivitas dan solidaritas yang begitu kuat, siswa
tersebut kemudian dibela teman-temannya, juga para guru. Mereka mati-matian
menolak mengembalikan huruf-huruf yang dipreteli temannya tersebut.
Padahal, setelah ditanya, temannya itu juga tidak tahu di mana ia menyimpan
“hasil jarahannya”.
Kultur kolektivitas dan solidaritas demikian, menurut Dave, tidak
semata-mata disumbangkan dari situasi yang ada di PL, namun dibentuk oleh
era tersebut. Baginya, bukan PL, tapi era itulah yang menebarkan energi
kolektivitasnya. Pertama, media sosial belumlah ada. Karenanya, eksistensi
hanya dapat digapai lewat aktivitas nyata, yaitu nongkrong. Kedua, “Kami
adalah generasi terakhir yang orangtuanya tidak protektif,” terang Dave
yang juga aktif sebagai pemusik cabutan di beberapa kelompok musik seperti
Gribs dan simakDialog. Sehingga karenanya, mereka bisa lebih eksploratif
dalam hidupnya.
Memang, banyak temannya yang datang dari keluarga kaya, tapi orangtua di
era itu membiarkan anak-anaknya merasakan kesusahan. Ini beda dengan
generasi yang orangtuanya hidup dalam situasi serba nyaman, seperti yang
banyak kita temui sekarang, di mana mereka akan mendidik anaknya dengan
kenyamanan tertentu pula. Sedangkan menurut Yuka, “Orangtua kami mengalami
mengungsi di zaman perang.”
Karena itu, tak jarang, jika ada siswa yang mengadu tentang kenakalan
teman-temannya di sekolah yang keterlaluan kepada orangtuanya, aduannya
malah tak digubris, dianggap sesuatu yang biasa, karena belum apa-apa jika
dibandingkan masa muda orangtua mereka yang keras.
Singkat kata, ada semacam semangat antikemapanan yang tumbuh subur di PL.
Beberapa teman Dave, yang berasal dari keluarga kaya, memilih naik bus atau
menebeng, termasuk anak dari Sarwono Kusumaatmadja, Menteri Negara
Lingkungan Hidup kala itu. “Yang dibenci di PL justru anak-anak yang gaul
pakai duit,” nyinyir Dave.
* * *
Pada sebuah lift di bekas kampus tempatnya mengajar, Yuka mendadak
berkeringat dingin. Pasalnya, baru saja seorang tua masuk ke dalam lift
yang ia tumpangi. Tinggi pria itu kira-kira 175 sentimeter. Kulitnya
coklat. Kepala depannya botak, tapi rambut kriwil-kriwil agak gondrong
menjejak di belakang. Tatapannya setajam belati. Ditatap olehnya bagai
ditombak. Ia adalah Purwanto, seorang guru *killer* di PL.
Di kalangan siswa PL, Purwanto disebut PW. Kepada bekas gurunya tersebut,
rasa takut Yuka belum minggat, bahkan hingga bertahun-tahun kemudian.
Bertemu Purwanto secara tiba-tiba membuat Yuka seakan lupa bahwa ia adalah
seorang dosen. “Jakun rasanya pindah,” celotehnya mengenang sambil
cekikikan.
Purwanto adalah teror. Yuka menggambarkan, cara Purwanto berjalan sangat
pelan, seperti tidak menjejak, dengan tangan di belakang. Suaranya lambat
tapi menggelegar. Salah satu jurusnya adalah “kopling”, yakni sebuah
istilah dari para siswa PL pada zaman itu atas tindakannya: memarahi
seseorang sambil menjambak dan menarik-dorong kepala orang itu.
Pernah suatu ketika seorang kawan bernama Bobby tidur seharian di kelas. Ia
duduk di kursi deret belakang. Jam pelajaran berikut adalah giliran
Purwanto mengajar. Bobby sudah dibangunkan, tapi ia setia pulas. Dengan
santai Purwanto menghampiri Bobby, duduk di atas meja, di samping kepala
Bobby, dan meluncurlah suaranya, lembut, tapi dingin dan mencekam seisi
kelas, “Bobby... Bobby...” Lanjutnya, kini setengah bernyanyi, “Bangun...
bangun... hari sudah siang.” Bobby akhirnya terbangun, dan terkejut luar
biasa tatkala sadar bahwa Purwanto sedang duduk di mejanya. “Bagus...
Ngantuk, Mas?” tanya Purwanto. Dan ritual itu pun tunai sudah: kopling.
Yuka menceritakan kembali ceritanya ini dengan terbahak sejadi-jadinya.
Begitu pula Sesek, Irto, Dave, dan Benny yang menyimaknya. Tetapi pada hari
itu, bukan tawa yang terbit, tapi gidik. Takut menyapa seisi kelas.
Bukan hanya guru yang ditakuti yang bisa dikenang. Mereka ingat ada
beberapa guru yang langganan dikerjai: seorang guru perempuan tua yang
dijuluki Nenek Lampir. Tiap ia masuk kelas, para siswa spontan bersorak
menirukan tawa nenek lampir, “Hihihi... hihihi.” Tapi tak sampai setengah
tahun, “Anak-anak bosan sendiri,” Dave berseloroh.
Ada juga guru yang dikenal berbau badan, hingga para siswa menyemprotkan
pewangi ruangan terlebih dahulu setiap kali guru itu mau masuk kelas—bahkan
kadang di depan gurunya! Ada lagi guru yang berbau mulut, sehingga para
siswa ketika didekati bergurau dengan enteng, “Mundur, Pak. Mundur, Pak.
Jangan dekat-dekat.” Mereka sungguh kurang ajar: siswa yang duduk di
barisan depan biasanya memakai sapu tangan secara terang-terangan di depan
guru. Dan untuk menjahili kawan, cerita Yuka, biasanya ada yang sesumbar
kepada guru tersebut, “Pak, si anu nakal, minta dinasehati.”
Lalu bagaimana dengan guru baru? Pasti dikerjai, terutama guru muda. Kalau
guru tersebut bisa bertahan lama, berarti sudah teruji. Karena, “Ada yang
cuma (mampu bertahan) tiga minggu,” kata Irto. Bentuk kejahilannya
bermacam-macam. Dari diabaikannya guru itu dengan para siswanya duduk
menghadap ke belakang, main *tak jongkok* di kelas, menaruh petasan di meja
guru, sampai ada yang masak nasi goreng di dalam kelas!
Tapi dengan guru, Yuka punya pengalaman yang membuatnya terharu. Adalah
Aloysius A. Tolok, nama guru itu, yang mengajar beberapa mata pelajaran
seperti Hitung Dagang, Aljabar, Falak, Goneometri, Stereometri, dan Hitung
Keuangan. Pada mata pelajaran Tolok, semua siswa paceklik nilai bagus.
Termasuk Yuka, yang nilai tertingginya hanya lima.
“Pernah suatu hari nilai gue lima setengah,” kata Yuka. Tolok tak lantas
diam. Ia bergegas mencari Yuka. Sekolah ia kelilingi. Ia sambangi
kelas-kelas, kantin, taman, dan lainnya. Tolok mencari Yuka hanya untuk
bilang bahwa sebenarnya Yuka bisa dapat nilai lebih baik kalau belajar.
“Gue terenyuh waktu itu,” ujar Yuka mengingatnya.
PL memang punya tempat khusus di hidup Yuka. “Gue nggak mungkin bisa
menemukan hidup gue yang sekarang kalau nggak ngelewatin masa-masa gue di
PL,” ujarnya. Pun Irto. Buatnya, masa-masa di PL adalah “Tahun-tahun yang
membentuk gue sekarang ini.” Di PL, mereka belajar bagaimana caranya
memilih dan bersikap terhadap banyak hal. Dan dengan mengenangnya, mereka
bahagia. Yuka mengenangkan salah satunya.
Menjelang kelulusan, seperti biasa, para siswa sibuk memikirkan universitas
tujuan masing-masing. Tapi tidak bagi Yuka. “Yang ada di pikiran gue cuma
main band dan mabuk,” ingatnya.
Guru Tolok menanyainya, “Lo mau sekolah di mana?”
”Nggak tahu, bos,” jawab Yuka sekenanya.
Tolok kemudian menyarankan Yuka untuk mendaftar di jurusan Seni Rupa di
ITB. Yuka heran, sekaligus ragu, karena seniornya, angkatan 1991, tak ada
yang tembus.
“Memang gue bisa?”
Tolok hanya menjawab santai, “Nggak tahu. Tapi gue punya *feeling* (kalau)
lo bisa.” Maka mendaftarlah Yuka sesuai saran Tolok.
Hari pengumuman yang dinantikan itu akhirnya tiba. Kala itu, pengumuman
hanya ada di harian *Pikiran Rakyat* dan lewat pengiriman surat ke rumah
bagi yang diterima. Tak disangka, Yuka lolos. Namanya tertera di pengumuman
tersebut.
Dua hari sesudahnya, Yuka datang ke PL. Di tempat yang akan segera ia
tinggalkan itu, Tolok menemuinya. Guru tersebut merangkul dan
menyelamatinya. Kali ini Yuka menangis.***
*Diterbitkan di *Majalah Bung!* Edisi 3, Oktober 2012*
*Roy Thaniago*
www.roythaniago.wordpress.com |
www.remotivi.or.id |
www.karbonjournal.org
*Kejahatan menang bukan semata ketika kejahatan berhasil terjadi, tapi
ketika kita percaya bahwa kebaikan tak ada lagi.*
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/jurnalisme/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/jurnalisme/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
jurnalis...@yahoogroups.com
jurnalisme-...@yahoogroups.com
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
jurnalisme-...@yahoogroups.com
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://info.yahoo.com/legal/us/yahoo/utos/terms/