Bahwa hampir semua ilmu pengetahuan
selalu menggunakan matematika sebagai alat untuk memahami fenomena di
bidang tersebut, itu sudah biasa. Mungkin saja kita tak suka dengan
matematika, tetapi faktanya bahwa matematika sangat efektif sebagai
pisau bedah, kaca pembesar, bahkan bak bola kristal guna membuat
perkiraan masa depan. Tentu tak sempurna dan tetap mengandung galat,
tetapi tak ada yang menyaingi matematika sampai sekarang. Itu faktanya.
Ini menjadi perhatian banyak filsuf dan ilmuwan. Sampai di tahun 1960,
Eugene Wigner berkata: “Kebergunaan luar biasa dari matematika pada IPA
itu sesuatu di perbatasan antara misterius dan … tak ada penjelasan yang
masuk akal mengapa demikian.”
Kalimat bernada ketakjuban ini salah
satunya yang membuat matematikawan-cum-fisikawan Max Tegmark berkelana
dengan pernalarannya, sampai pada pendapat yang mencengangkan. Semesta
dengan fenomenanya ini, menurut dia, bukan saja dapat dijelaskan dengan
matematika, tetapi justru semesta itu memang sebuah struktur matematika.
Tak aneh makanya matematika sangat efektif untuk mengungkapkan fenomena
di semesta.
Tidak cukup di situ, Max Tegmark
berpendapat berpendapat bahwa bukan saja semesta ini mengandung
matematika, tetapi esensi semesta ini memang hanya struktur matematika. Tak ada lainnya.
Untuk mendalami lebih jauh beberapa
aspek matematika, matematikawan, dan semesta satematika, Klub Sains
Freedom Institute akan mengadakan diskusi “Semesta Matematika” pada:
Hari/tanggal : Rabu, 25 Maret 2015
Jam : 16.00 – 18.00 Nobar “Ramanujan” (Gnana Rajasekaran, 2014)
19.00 – 21.00 Diskusi
Pembicara : 1. Prof. Iwan Pranoto (Matematikawan, ITB)
2. Prof. Hendra Gunawan (Matematikawan, ITB)
Moderator : Nirwan Ahmad Arsuka (Pemerhati sains dan kebudayaan)
Acara nobar dan diskusi ini terbuka
untuk umum dan tak memungut bayaran. Untuk memperlancar dan memeriahkan
acara, kami menyediakan santapan ringan di waktu jeda antara nonton
bareng dan diskusi terbuka.
Kehadiran rekan-rekan kami nantikan.
Freedom Institute