reposting ulang tulisan ini bukan buat micu masalah tapi mau kasih liat kalau org2 banyak yg salah tangkap en terkadang kesaksian yg lucu gini dianggap kebenaran.
Gak semua org yg ngadain upacara ciswak itu ngerti apa makna ciswak, gw sendiri pernah ngalamin dimaki2 ama org yg ngkale mo adain ciswak gara2 denger sarasehan gw soal ciswak 3 kali di satu kota besar atas undangan satu yayasan keagamaan. Wawancara gw ama satu koran daerah jg pernah kena plintir judulnya jg , ampe ada yg negor gw gara2 JUDUL yg ditulis dikoran itu. Hiks hiks sedih dah tapi ya mo gimana lage, makanye gw tulis gede2 SILAHKAN KUTIP disarasehan terakhir gw soal TAISHUI. Tapi gw jg tulis lage jgn sekali2 pandang rendah soal getu kalu gak ngerti apa makna2nya, nyang kalu ikutin saran satu sesepuh dimilist ini, ngertiin makna filosofisnya baru boleh koment.
Org kadang gak ngerti pandangan org Tiongkok ama alam semesta ampe timbul satu upacara ciswak.
Banyak jg tenglang2 yg kalu diwawancara di tipi ataw koran soal meja sembayang yg ngejawab ngawur, meja buat persembahan kongcolah bla bla bla lah, ngak pernah mikir kalu itu meja adalah PENATAAN ALAM SEMESTA,en itu gak tjoema di TAO aja tapi jg di KHC sama JAWABANNYA.
Kalu pake bahasa TIBET ya bikin MANDALA.
sorry kalu ada yg kesinggung ya, tapi ini ya fakta.
Itu baru urusan sepele belon urusan yg lebih ngedetail lage.
ujung2nya nata meja sembayang itu ya larinya keseimbangan alam lage.
kalu mo baca lengkapnya tulisan ini ada di :
http://f1.grp.yahoofs.com/v1/MPitR9ESwtPbEuD34GZjqUYe1QhFw80wW1vpyd1G7juRGceaYvMzEAJsbyngeftuIYjJ99G5m-COtVAIGeipVA/Kumpulan%20Artikel/Kontroversi%20dan%20Jawabannya/Kesaksian%20Eddy%20Tatimu.pdf
yg gw posting sih baru 1 dari 3 komentar yg diupload.
Pembelot Dewi Kwan Im Taipak dan guru Yoga : Eddy Tatimu
(Seperti dikisahkan Bapak Eddy Tatimu kepada Kabar Baik)
Silat! Ya, sifat dan karakter hidupku dibentuk oleh bukubuku
silat Cina yang baca. Begitu banyak. Buku-buku silat
Tiongkok seperti Chi Yung atau Kho Ping Ho itu
mengandung ilmu yang sangat tinggi. Begitu asyiknya saya
membaca, sehingga menjiwai saya bahkan menguasai roh
saya. Pendeknya buku silat itu seperti belahan jiwa saya.
Kalau dapat saya katakan, buku-buku yang saya baca
seperti memiliki roh. Betapa tidak, tiap kali membaca, roh
saya seperti tenggelam dalam cerita buku silat itu.
Sejak usia 16 tahun.
Sejak kecil saya sudah terbiasa dengan buku-buku silat
Cina. Sebenarnya kalau hanya sekedar baca tidak menjadi
soal, sekedar untuk mengetahui. Tapi buku-buku itu
mengajarkan sebuah ilmu atau beberapa ilmu, yaitu ilmu
untuk menghilang, berjalan diatas bara api, disiram minyak
mendidih dan anehnya saya ingin sekali mempelajari,
menguasai dan mem-praktekan ilmu itu. Untuk dapat
menguasai ilmu-ilmu itu, ada beberapa syarat yang perlu
dilakukan, seperti melakukan yoga, meditasi, membaca
mantra-mantra dan permohonan doa kepada dewa-dewa.
Karena ingin menguasai ilmu, saya mulai belajar yoga
dalam usia 16 tahun, masih remaja. Ini dimulai tahun 1964,
yakni ketika saya masih duduk di kelas II SMA di Manado,
Sulawesi Utara, tepatnya di sebuah Klenteng besar di kota
Manado.
Dari keluarga Budha
Saya terlahir dari keluarga Budha. Saya lahir di kota Siau,
Sangir Talaud, Sulawesi Utara, tanggal 06 Agustus 1948.
Ayah bernama Ngo Gian Tiet, Ibu bernama Suantje Tatimu.
Saya sendiri adalah anak ke-5 dari enam bersaudara. Kami
semua dilahirkan dari keluarga Budha. Tetapi lama-lama
kakak-kakak dan adik saya masuk Kristen, yaitu
Kristen Pantekosta kecuali saya, tetap Budha, tentu saja
bersama ke dua orang tua saya. Meskipun saya bukan
Kristen, mungkin saya lebih dahulu tahu, bahwa dewanya
orang Kristen itu bernama Yesus. Soalnya saya juga
mempunyai Alkitab, sebuah buku yang menulis lengkap
tentang Yesus.
Dewi Kwan Im
Dewi Kwan Im lah tuhan saya. Dalam buku-buku silat yang
saya baca, Dewi Kwan Im sangat di junjung tinggi. Saya
menyembah Dewi Kwan Im sejak mulai belajar Yoga, yaitu
usia 16 tahun. Dalam melakukan Yoga, ada satu hal yang
sedikit menyiksa saya, yaitu selalu mengasingkan diri dari
kesenangan para remaja seusia saya. Saya belajar Yoga
pada guru terkenal. Yoga itu mengandung magic. Jadi
dengan beryoga, artinya saya sudah berada di arena magic.
Saya tidak pernah menyadari itu sebelumnya. Setelah ilmu
yoga telah saya kuasai, akhirnya saya sendiri mempunyai
murid 40 - 50 orang.
Mendalami ilmu
Setelah menguasai yoga, dan kemudian menjadi guru
yoga, tahun 1973, dari Budha saya pindah agama To (Tao).
To itu adalah satu dari Sam Kau atau Try Dharma. Yang
dimaksud dengan Sam Kau atau Try Dharma, yaitu tiga
agama yang masih dalam satu aliran, masing-masing
adalah : Agama Budha, Kong Hu Cu dan To. Untuk lebih
jelas, Sam Kau ini dapat dirinci sebagai berikut. Budha,
agama yang mengajarkan tentang cinta kasih, seperti
mengasihi sesama, musuh, binatang termasuk semut.
Kong Hu Cu, merupakan agama yang mengajarkan tentang
moral, etika, tata krama dan kedisiplinan.
To, adalah agama yang mengajarkan tentang power,
kehebatan atau mujizat, ilmu-ilmu sakti, termasuk magic,
gaib dll.
Kalau seseorang beragama Kong Hu Cu, pasti dia tahu
tentang Budha dan sebaliknya. Penganut agama To, juga
tahu tentang Budha dan Kong Hu Cu. Tapi Budha dan
Kong Hu Cu tidak akan pernah tahu tentang To, kalau
mereka tidak mengkhususkan diri untuk mempelajarinya.
Dalam usia 16 saya sudah masuk agama To, dengan tujuan
untuk menguasai ilmu-ilmu diatas. Dalam agama To ini,
mau tidak mau kita harus melibatkan diri dalam dunia roh,
dan itu sudah saya lakukan sejak tahun 1973. Tidak mudah
mengikuti agama ini. Sejak 1973, setiap malam saya harus
meditasi selama 2 jam. Itu saya lakukan selama 20 tahun
dan tiada malam tanpa semedi. Tiap jam 00.00 saya mulai
semedi sampai jam 02.00 dini hari. Pada saat-saat tertentu
saya juga bermeditasi di siang hari. Ada bermacam-macam
cara untuk bermeditasi. Sering di tempat sepi, seperti
tengah malam. Tapi sering juga di tempat ramai, misalnya
semedi sambil menyetel televisi keras-keras. Ini maksudny
untuk melatih konsentrasi.
Mengosongkan diri
Dalam kitab Tao Te King, tujuan orang bermeditasi adalah
mengosongkan diri. Maksudnya, tidak ada beban yang
memberatkan hati dan pikiran. Bila pengosongan diri telah
terjadi, kekuatan itu akan datang. Dalam kekosongan itu
kita kuat. Kekosongan itu sebenarnya inti dari meditasi.
Dalam kitab Tao Te King, kita juga dilarang untuk makan
daging, berhubungan seks atau hura-hura. Kita hanya
boleh makan nasi, sayur atau buah. Bahkan saat-saat
tertentu harus bertapa/puasa. Di usia remaja, saya menjadi
manusia alim. Waktu saya hanya habis di Klenteng,
meditasi, bertapa dan belajar hal-hal yang bersifat religius.
Di samping itu saya juga tetap aktif bersekolah sampai
kuliah.
Berhubungan dengan roh
Pada tingkat ilmu tertentu, saya sudah dapat berkomunikasi
dengan roh-roh. Tidak hanya sekedar komunikasi, bahkan
roh-roh itu ada dalam kuasa saya. Saya dapat
mengendalikan mereka. Saya suruh satu-dua roh untuk
pergi bergelantungan di tubuh seseorang, sampai orang
itu merasakan kesakitan. Kalau saya mau sampai ia jatuh
sakit, bahkan mati. Tapi sampai tingkat jatuh sakit tidak
pernah saya lakukan. Melihat roh-roh itu bisa tunduk sudah
merupakan suatu kebanggaan. Jadi berhubungan dengan
dunia roh itu adalah hal biasa. Dan saya kira setiap taipak
atau paranormal, berhubungan dengan dunia roh/gaib
adalah kegiatan sehari-hari.
Berjalan diatas bara api
Untuk masa kini, melihat orang berjalan di atas bara api,
bukan lagi tontonan baru. Tapi pada tahun-tahun 70-an
sampai 80-an, melihat orang berjalan diatas bara api masih
merupakan tontonan yang mendebarkan. Itulah yang saya
lakukan. Apa yang saya baca dibuku-buku silat Cina dulu,
kini saya mempraktekan sendiri. Saya berjalan-jalan dengan
bebas di atas bara api. Bara itu ditaruh di wadah sepanjang
5 meter dengan ketebalan bara kira-kira 20 cm. Kalau
diinjak, pergelangan kaki akan masuk seluruhnya.
Bagaimana saya bisa melakukannya tanpa merasa
kepanasan? Itulah ke-saktiannya. Roh-roh itu sangat
berperan di sini. Sebelum bara di injak, saya cabut kekuatan
api atau panasnya api. Ini berkat bantuan roh-roh tadi. Di
hari-hari raya China, biasanya pertunjukan seperti ini
diadakan 25 tahun sekali. Tapi saya dan teman-teman
dapat melakukannya tiap hari. Kami anggap itu adalah
main-main saja, seperti anak-anak bermain petak umpet.
Disiram minyak mendidih
Hampir sama seperti berjalan di atas api. Disiram minyak
mendidih, badan saya tidak melepuh. Dihadapan orang,
memang nampak minyak itu panas. Tapi mereka tidak tahu,
sebelum minyak panas disiramkan, panasnya minyak sudah
saya cabut. Memang ngeri bagi orang lain. Tapi ini
merupakan permainan yang menyenangkan. Apalagi
pengalaman saya dalam 20 tahun menjadi pengikut Dewi
Kwan Im? Masih ada. Saya bisa raib. Orang tidak dapat
melihat saya, meskipun saya ada di antara mereka. Selain
itu, saya juga bisa memanggil seseorang secara diamdiam
dan orang itu akan datang pada saya secara diamdiam
pula. Kalau saya berdiri 50 meter di belakang Anda
dan Anda tiba-tiba menoleh pada saya, ketahuilah, saya
telah menyuruh satu roh untuk "menarik" kuping Anda ke
samping, agar bisa melihat saya.
Im Yang
Inilah ilmu terakhir yang saya pelajari, bahkan saya
"ciptakan" sendiri, yaitu Im Yang. Ilmu ini dapat dikatakan
sangat berbahaya, kalau kita sengaja memanfaatkannya
secara keliru. Im Yang bisa menolong orang, bisa juga
membunuh orang. Untuk menguasai Im Yang, saya harus
mengumpulkan 12 tengkorak kepala anak kecil, 6 laki-laki
dan 6 perempuan. Dan itu artinya saya harus menyantet
12 anak-anak, untuk memperoleh tengkorak mereka. Tetapi
belum lagi ilmu itu terwujud, saya mengalami sesuatu yang
mengubah seluruh sisa hidupku.
Dewa orang Kristen
Dalam sebuah buku Meditasi, disebutkan bahwa agama
To, yaitu agama saya, memiliki banyak dewa. Selain Dewi
Kwan Im, ada dewa yang bernama Goan Shie Thian Chun,
Thai Sang Lo Khun dan Yo Ong Po Sat. Dewa-dewa ini
adalah raja dibidangnya masing-masing. Dalam buku
meditasi itu ternyata ada nama Yesus. Yesus disana ditulis
sebagai dewanya agama Kristen. Tidak banyak yang ditulis
tentang Yesus, itu sebabnya saya menganggap Yesus itu
tidak lebih hebat dari Dewi Kwan Im atau dewa-dewa lain
tersebut diatas. Bahkan ketika saya membaca Alkitab, saya
menjadi sangat benci dengan nama Yesus itu. Dikatakan
dalam buku Meditasi itu, kalau orang beragama Budha,
Khong Hu Cu atau To, mereka boleh memanggil dewadewa
tersebut diatas untuk meminta pertolongan. Tapi bagi
yang beragama Kristen, dapat memanggil nama Yesus.
Papa sakit jantung
Tanggal 30 Nopember 1987, Papa saya mendadak sakit
jantung dan segera dibawa ke Rumah Sakit Gunung
Wenang Manado, langsung dimasukan ke Ruang Gawat
Darurat (ICU) karena kondisinya sudah koma. Kalau orang
normal, detakan jantungnya 70, tapi Papa 140. Ada dua
dokter yang menangani penyakit Papa. Begitu melihat
angka 140 di layar monitor, dokter yang satu berkata, Papa
tidak ada lagi harapan. Saya mulai takut, tapi saya tidak
putus asa karena saya belum memanggil dewa-dewaku.
Dari 140, tiba-tiba naik secara mendadak menjadi 172.
Dokter yang lain datang dan berkata, Papa dibawa pulang
saja, apa saja yang Papa minta dituruti saja.
Tidak! Masih ada waktu bagiku untuk memanggil dewadewaku.
Saya mundur beberapa langkah ke belakang dan
bersemedi. Saya mengucapkan mantra-mantra, memanggil
dewa Goan Shie Thian Chun. Dalam ilmu Cina yang saya
pelajari, Goan Shie Thian Chun adalah raja ilmu. Saya
minta dia, dengan segala ilmu yang kumiliki, agar dapat
menolongku untuk menyembuhkan Papa. Tapi tiada
jawaban. Saya panggil dewa yang lain, yaitu Thai Sang Lo
Kun. Dia adalah raja doa. Saya minta supaya dia menjawab
doaku, yaitu menyembuhkan Papa. Tapi tidak ada
tanggapan. Papa terkapar tak berdaya.
Dewa Yo Ong Po Sat adalah raja obat. Saya panggil nama
Yo Ong Po Sat agar bertindak segera. Papa sedang gawat.
Saya meditasi dengan berkeringat. Saya ucapkan mantramantra,
tapi dewa yang kusanjung hanya membisu. Terakhir
saya panggil Dewi Kwan Im. Ini dewa terakhir yang menjadi
tumpuan harapan. Setelah ini tidak ada lagi dewa yang
saya miliki. Tapi sama saja dengan yang lain. Tidak ada
reaksi.
Detakan jantung Papa di layar mo-nitor masih tetap 172.
Saya heran. Ke mana perginya segala ilmu yang kupelajari
selama 20 tahun menjadi pengikut Dewi Kwan Im? Mengapa
dulu saya begitu sakti, namun kini kesaktian itu hilang?
Saya menangis. Saya kecewa, untuk apa 20 tahun saya
menghabiskan banyak waktu di Klenteng untuk bersemedi,
bertapa dan belajar bermacam-macam ilmu sakti? Bukankah
dalam buku Bersemedi, kita boleh memanggil dewa yang
sesuai dengan agama kita bila membutuhkan pertolongan?
Rasanya saya ingin memanggil nama Yesus, tapi Dia bukan
dewa saya. Dia dewanya orang Kristen, lagi pula Yesus
adalah dewa yang palingku benci. Tidak mungkin aku
memanggilNya, selain itu Yesus belum tentu lebih hebat
dari Dewi Kwan Im.
Papa tergeletak bagaikan mayat. Apa lagi yang harus kulakukan? Segala
upaya telah dilakukan? Segala upaya
telah dilakukan. Tapi angka 172 tak juga mau beranjak
turun. "Yesus", kataku tiba-tiba, "kalau Engkau mau
menyembuhkan Papaku, aku mau menjadi pengikutMu"
lanjutku. Aku kembali mendekati tempat tidur, dimana Papa
tergeletak. Tak sengaja mataku terbelalak melihat kelayar
monitor. Dari angka 172 mulai bergerak turun, 171, 170,
169, 168..terus turun sampai 160. Turun lagi 150. Persis
diangka 148, teriakan Papa mengejutkan semua yang ada
di ruangan itu. "Aku hidup lagi', teriak Papa, sambil
menggerakan tubuhnya, seolah ada sesuatu yang baru
saja masuk ke dalam tubuh itu.
Mengapa Papa berkata "Aku hidup lagi" ? Apakah tadinya
dia sudah mati? Saya tidak terlalu memperdulikan itu,
sebab aku sendiri belum hilang dari rasa terkejut. Beberapa
menit yang lalu aku masih memohon-mohon kepada dewa
Goan, dewa Thai, Yo dan Dewi Kwan Im. Aku tidak
menyangka secepat ini aku menjadi pengikut Yesus, sesuatu
yang tak pernah terpikirkan kemarin, tadi pagi sampai
sejam yang lalu. Secepat inikah aku beralih keyakinan?
Apakah dewa-dewa itu tidak akan murka kalau aku
membelot?
Dibaptis
Melihat Papa sudah sembuh, malam saya tidak bisa tidur.
Bukan karena stress, tapi saya sangat bahagia, terkejut
dan kagum sudah bercampur baur. Bagaimana mungkin
saya menjadi Kristen hanya dalam sekejab. Tiga minggu
setelah mujizat di RS Gunung Wenang, Manado itu, saya
memberi diri dibaptis (selam) di Gereja Pantekosta di
Indonesia (GPdI) Manado. Pengalaman yang menakjubkan
ini setiap kali saya saksikan di gereja-gereja atau
persekutuan doa, kapanpun saya sempat menyaksikannya.
Meskipun saya sibuk di kantor (Bapak Eddy Tatimu adalah
Direktur PT. Innimexintra Jakarta- Red) tapi tiap kali ada
undangan kebaktian, saya selalu sempatkan diri untuk
menyaksikan kemurahan Tuhan pada saya ini. Tentu saja
saya harus pandai -pandai mengatur waktu antara kerja
dan pelayanan, supaya tidak ada pihak yang dirugikan.
Waktu saya terima Yesus, istri saya juga, Thio Mei Lin ikut
terima Yesus, bersama dua anak kami, Stanley Tatimu dan
Cicilia Tatimu, yang kini sudah beranjak remaja. Saya
berbahagia karena anak dan istri saya sangat mendukung
saya, tidak hanya dalam pekerjaan, tapi juga dalam
pelayanan.
TANGGAPAN I
Apa yang salah dengan ajaran Dao?
Membaca kesaksian Eddy Tatimu, membuat saya bertanya, seperti apakah
ajaran Dao itu? Mengajarkan kanibalisme? Menyantet orang? Membunuh
orang? Ajaran iblis kah itu?
Saya terdiam dan merenung, telah hampir setahun ini saya ingin sekali
mengenal ajaran dao. Satu satunya kitab Dao yang ada ditanganku adalah
Dao De Jing (DDJ). Saya membuka dan membacanya.
Dalam kesaksian Eddy Tatimu, Dalam kitab Tao Te King, tujuan orang
bermeditasi adalah mengosongkan diri. Maksudnya, tidak ada beban yang
memberatkan hati dan pikiran. Bila pengosongan diri telah terjadi,
kekuatan
itu akan datang. Dalam kekosongan itu kita kuat. Kekosongan itu sebenarnya
inti dari meditasi. Dalam kitab Tao Te King, kita juga dilarang untuk
makan
daging,berhubungan seks atau hura-hura. Kita hanya boleh makan nasi, sayur
atau buah. Bahkan saat-saat tertentu harus bertapa/puasa.
Kita DDJ begitu sederhana dan mendalam filsafatnya. Walaupun saya berusaha
memahami tiap kata yg tercantum di situ, satu hal yang pasti. Dari bab
awal
sampai akhir kitab tersebut tidak menceritakan tentang Surga dan Neraka
serta hukuman mengerikan yang menanti bila tidak menaati Dao. Tak ada
teknik meditasi di dalamnya, apalagi mengosongkan diri utk dirasuki
"kekuatan".
Yang ada hanyalah membicarakan tentang Dao dan sifat Dao, bagaimana
hidup selaras dengan alam dalam kesederhaan, belajar dari alam, memahami
sifat alamiahnya alam ini.
Bagaimana mungkin Kitab yang begitu indah ini bisa menginspirasikan
seorang Tatimu untuk menjadi sosok seorang tukang santet? Sungguh
kontradiksi dengan tulisan Tatimu, seorang yang pantang makan daging
tetapi mengoleksi tengkorak manusia dan menjadi kanibal.
Melihat ini, saya bertanya dalam diriku, Apa yang salah
dengan Dao?
Saya terdiam dan membaca lebih jauh serta berusaha
untuk memahami kitab tersebut. Dalam arogansi seorang
manusia, saya melihat kerendahan hati seorang Lao Tze
yang menulis kitab tersebut. Yang berusaha menyentil
manusia untuk kembali kepada alam dan belajar dari alam,
hidup dalam keseimbangan dengan alam, dan untuk tidak
menentang alam.
Dao mengajarkan untuk kembali ke jati diri tidak dengan
menggunakan "kekerasan" ataupun "ancaman" dan
"hukuman" yang keras serta "penyiksaan yang abadi"
apabila tidak menurutinya. Yang dipentingkan adalah
kehidupan yang sedang di jalani sekarang ini dan
bagaimana hidup selaras dengan alam. The great master
Dao is the nature itself. Belajar dari alam karena alam tidak
pernah pilih kasih, alam tidak pernah menghakimi dan alam
selalu menyediakan segala sesuatu untuk manusia.
Bila keseimbangan alam terganggu, maka akan timbul
bencana, dan kalau bencana datang menghampiri,
alam/bencana pun tidak memilih kasih dalam melanda
bumi ini. Seperti layaknya gelombang tsunami, tidak memilih
orang jahat atau orang baik yang akan disapu oleh
gelombang tersebut, siapapun yang berada di sana terlepas
dari SARA, akan terkena akibatnya. Sama seperti matahari,
bersinar menyinari bumi tanpa melihat mana yang jahat
dan baik, mana binatang dan mana yg manusia atau
tumbuhan. Alam tidak pilih kasih.
Bila di dunia modern saat ini, banyak yang mengatakan
bahwa dalam hidup ini kitu harus seimbang (balance).
Ajaran Dao sudah menekankan akan hal itu berabad-abad
yang lampau bahwa keseimbangan adalah sangat penting.
Segala sesuatu yang berlebihan adalah tidak baik.
Bagaimana mungkin ajaran yang begitu indah dan
membumi tersebut dikatakan sesat ? Bagaimana mungkin
ajaran DAO mengajarkan umatnya untuk berlatih ilmu sesat
dengan mengoleksi tengkorak anak kecil seperti yang
diteriakkan oleh Eddy Tatimu?
Saya bertanya lagi, Apa yang salah dengan Dao?
Tiba-tiba timbul ketidakrelaan dalam hatiku melihat ajaran
sebagus itu dijadikan scapegoat bagi kegagalan seorang
Tatimu dalam menjalani hidup ini dan memberitakan
keimanannya. Apa yang salah...
Kenapa saya harus merasa tidak rela? Saya bertanya pada
diriku lagi, tak ubahnya saya melihat ke dalam diriku di
waktu yang lampau, saat ketidakmengertian saya akan Daoism dan
kebodohan menutupi diriku, membuatku
mencap ajaran Daoism sebagai sesat, sebagai ajaran yg
tak mungkin kulihat dan kupelajari.
Saya mencoba memahami ajaran Dao lagi, dan tiba-tiba
saya tersenyum. Kenapa saya harus merasa tidak rela?
Dao tidak akan peduli terhadap kesaksian seperti itu, Dao
pun tidak membenci orang seperti itu, hukum alam tetap
akan berjalan dengan semestinya mengikuti ritme alam.
Dao pun tidak akan peduli dengan ku apakah aku mencaci
maki Dao ataupun memuji Dao. Kenapa Dao tidak peduli?
Karena Dao tak bisa dimengerti oleh manusia, Dao yang
bisa dibicarakan bukanlah Dao yang sebenarnya. Dan
Dao bukanlah Personal yang mempunyai kepribadian dan
emosi. Dao adalah Dao.
Melihat tentang Dao, adalah melihat tentang alam, manusia
adalah bagian dari alam, hidup bersama alam. Alam
memelihara manusia, alam tidak mengajarkan kebencian,
alam tidak membalas manusia, bencana terjadi karena
ketidakseimbangan alam.
Saya teringat lambang Dao, dan saya teringat akan
kesaksian Eddy
Tatimu:
Im Yang
Inilah ilmu terakhir yang saya pelajari, bahkan saya"ciptakan"
sendiri, yaitu Im Yang. Ilmu ini dapat dikatakan
sangat berbahaya, kalau kita sengaja memanfaatkannya
secara keliru. Im Yang bisa menolong orang, bisa juga
membunuh orang. Untuk menguasai Im Yang, saya harus
mengumpulkan 12 tengkorak kepalaanak kecil, 6 laki-laki
dan 6 perempuan. Dan itu artinya saya harusmenyantet
12 anak-anak, untuk memperoleh tengkorak mereka.
Tetapibelum lagi ilmu itu terwujud, saya mengalami sesuatu
yang mengubah seluruh sisa hidupku.
Ying Yang....kenapa Eddy Tatimu harus menggunakan
nama itu sebagai nama jurus ciptaannya. Pantaskah falsafah
Im Yang dijadikan nama jurus sesat yang dilatih dengan
pengorbanan anak kecil tak berdosa?
Lambang Daoism, gabungan yang membentuk lingkaran,
ada Yang (warna gelap) dimana terdapat setitik Ying
(terang), dan ada Ying (warna terang) dimana terdapat
setitik Yang (gelap). Lambang yang sederhana ini..tibatiba
saya tersenyum, di dalam taman firdaus yang sempurna
dan indah, juga terdapat seekor ular sebagai iblis.
Dalam kesaksian Eddy Tatimu:
Dalam buku meditasi itu ternyata ada nama Yesus. Yesus
disana ditulis sebagai dewanya agama Kristen. Tidak
banyak yang ditulis tentang Yesus, itu sebabnya saya
menganggap Yesus itu tidak lebih hebat dari Dewi Kwan
Im atau dewa-dewa lain tersebut diatas. Bahkan ketika
saya membaca Alkitab, saya menjadi sangat benci dengan
nama Yesus itu.
Tak ada kebencian di dalam ajaran Dao, kebencian Eddy
Tatimu, saya yakin tidak berasal dari ajaran Dao karena
saya tidak menemukan sebentuk kalimat kebencian dan
peperangan di dalam kitab DDJ. Tidak ada kesombongan
dalam ajaran Dao apalagi memandang rendah ajaran
agama lain. Tak ada caci maki dan kalimat penuh dendam
dan kemarahan yang ada di sana, entah apa yang
mendasari kebencian Eddy Tatimu? Bahkan sekarang,
setelah berpindah keyakinan, kebencian yang sama
dituangkan dalam bentuk tulisan terhadap ajaran Dao.
Eddy Tatimu bersaksi:
Saya menangis. Saya kecewa, untuk apa 20 tahun saya
menghabiskan banyak waktu di Klenteng untuk bersemedi,
bertapa dan belajar bermacam-macam ilmu sakti? Bukankah
dalam buku Bersemedi, kita boleh memanggil dewa yang
sesuai dengan agama kita bila membutuhkan pertolongan?
Rasanya saya ingin memanggil nama Yesus, tapi Dia bukan
dewa saya.
Dia dewanya orang Kristen, lagi pula Yesus
adalah dewa yang paling ku benci. Tidak mungkin aku
memanggilNya, selain itu Yesus belum tentu lebih hebat
dari Dewi Kwan Im. Papa tergeletak bagaikan mayat. Apalagi yang harus
ku lakukan? Segala upaya telah dilakukan?
Segala upaya telah dilakukan. Tapi angka 172 tak juga
mau beranjak turun. "Yesus", kataku tiba-tiba, "kalau Engkau
mau menyembuhkan Papaku, aku mau menjadi
pengikutMu" lanjutku.
Aku terkejut membaca tulisan ini, sebagai seorang yang
mengenal ajaran Kristiani, saya sungguh terkejut. Dia
sanggup memanggil Tuhan Yesus dan memerintahkan
Tuhan Yesus melakukan kehendaknya.
Sungguh sangat
arogan sekali, tak ada kerendahan hati dalam kesaksiannya,
bahkan saat beralih keyakinan sekalipun. Saya sedih dan
trenyuh serta bertanya dalam hati saya:
"Tuhan, betulkah hati nya bersaksi demikian ataukah nama
Mu telah dicatut sedemikian rupa? Bagaimana mungkin
dia bisa berdagang dengan Engkau. Dan begitu taatkah
Tuhan padanya sehingga mau dipanggil untuk berdagang
dengannya?"
Setelah dia gagal memanggil Dewa dan Dewa tidak menuruti
kehendaknya, kini dia memanggil Tuhan dan barter dengan
Engkau, dan Engkau menurutinya? Aku sungguh tak mau
percaya itu.....
Sekali lagi saya bertanya, apa yang salah dengan ajaran
Dao? Apa yang salah dengan Eddy Tatimu, ataukah dia
benar?
Akhirnya, saya menyadari bahwa sayalah yang harus
intropeksi diri dengan pertanyaan tersebut? Seharusnya
saya bertanya, apa yang salah dengan pikiranku? Apa
yang salah dengan manusia? Dan apa yang salah dengan
PIKIRAN manusia? Siapakah manusia itu? Pada akhirnya,
saya menyelami, manusia adalah manusia, Dao adalah
Dao, dan manusia adalah bagian dari alam. Dan alam
menghidupi manusia.
Dulu ketika saya membaca buku yg ditulis Samuel Wang
& Ethel Nelson tentang peradaban tiongkok dan asal mula
leluhur bangsa tionghua yg ternyata tidak berasal dari
tiongkok, telah mendorong saya ingin mencari "akar" ku
yang sebenarnya. Dan sekarang saat saya sedang
membaca kesaksian Eddy Tatimu, telah membuat saya
merasa haus, semakin haus, dan sangat haus sekali...akan
ajaran Dao.
Dan saya semakin tenggelam dan tak bisa menahan diri
untuk mencari lebih jauh..
Karang Terjal
Huh huh, Looheng,
Aku ini calon pendeta Kristen mau ditahbiskan dalam tahun ini, membaca
tulisan si ET kok jadi enek. Tulisan atawa kesaksian gitu adalah alat
cari uang. Ia ingin dipanggil ke gereja-gereja dan nati bersaksi
begitu, sudah itu nanti bilang bisnisku rusak gara-gara masuk Kristen,
pikul salib ikut Yesus akhirnya bantuu dongg. Jadi kalau di Kay Pang
nama jurusnya adalah : Sorongkan mangkok pengemis sembari melempar
kotoran. Yang ginian buanyyyaaak, versinya laen-laen, ada yang dari
KHT, Dao pindah ke Kristen, ada yang dari Kristen ke Islam dan
sebaliknya. Orang seperti itu kuharamkan digerejaku, kalau ada
tawaran kesaksian kutolak saja dengan halus. Kepercayaan adalah
masalah yang sangat pribadi antara insan dan khaliknya, tidak layak
dipertentangkan untuk maksud seperti itu. Salam, Tantono