selamat pagi,
semoga hari ini menjadi hari yg baik untuk anda semua :D
sy anggota baru milis ini, salam kenal :)
ada yg mengganjal dalam pikiran sy tentang kawin campur:
1. mengapa kawin campur antara etnis tionghoa dan etnis bumiputra lain, terutama jawa (maapkan jika istilah sy kurang tepat atau terkesan rasis)masih dianggap tabu hingga sekarang, dan mendapatkan halangan yg berat dari pihak orangtua?
bukankah hal itu merupakan proses asimilasi yg wajar jika pasangan beda etnis sama2 mencintai?
2. sy melihat adanya diskriminasi gender...
jika yang menikah adalah pria tionghoa dan wanita jawa, misalnya, hal itu tidak akan bermasalah sebab anak yg lahir akan mengikuti seh (marga) si ayah...
namun, tidak demikian halnya, jika pria jawa dan wanita tionghoa, seringkali dianggap menyalahi aturan dengan adanya mitos (dalam adat jawa)bahwa abu orang tionghoa lebih tua daripada jawa sehingga pernikahan mereka akan pamali atau bernasib buruk?
3. bagaimana cara mengubah pola pikir generasi lama?
terima kasih & mohon tanggapannya :D
Kawin campur? Kok seperti jenis makanan dan minuman saja! Ada nasi campur dan es campur.
Janganlah memandang keberatan orang tua dng kacamata negatif. Orang tua manapun akan lebih senang anaknya kawin dng orang segolongan, kalau bukan golongan etnis, ya golongan pendidikan, atau golongan agama, atau golongan pendapatan.
Semua itu ada dasarnya. Perkawinan adalah persekutuan seumur hidup, membutuhkan penyesuaian total dari dua pribadi yg berlainan. Dua orang dng latar belakang sama saja belum tentu bisa akur dlm segala hal, apalagi dng latar budaya yg sangat jauh! Inilah pertimbangan para orangtua.
Pada saat jatuh cinta, perbedaan2 ini biasanya tertutupi oleh hal2 yg jasmaniah, tapi setelah berjalan sekian lama akan menjadi masalah. Dibutuhkan usaha yg lebih keras utk saling menerima.
Tapi memang semua tdk mutlak, tergantung pribadi masing2. Yg penting hrs dipikir matang2 dulu, dlm perkawinan antar golongan anda menghadapi tantangan yg lebih besar.
Satu hal yg penting: bagi para orangtua, perkawinan bukan hanya antar dua orang saja, tapi juga merupakan perkawinan antar dua keluarga. Jika dua keluarga tradisinya sangat berlainan, sulit untuk bisa benar2 menyatu. Misalnya saat merayakan sincia yg satu sedang puasa, kan repot.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
selamat pagi,
semoga hari ini menjadi hari yg baik untuk anda semua :D
sy anggota baru milis ini, salam kenal :)
ada yg mengganjal dalam pikiran sy tentang kawin campur:
1. mengapa kawin campur antara etnis tionghoa dan etnis bumiputra lain, terutama jawa (maapkan jika istilah sy kurang tepat atau terkesan rasis)masih dianggap tabu hingga sekarang, dan mendapatkan halangan yg berat dari pihak orangtua?
bukankah hal itu merupakan proses asimilasi yg wajar jika pasangan beda etnis sama2 mencintai?
2. sy melihat adanya diskriminasi gender...
jika yang menikah adalah pria tionghoa dan wanita jawa, misalnya, hal itu tidak akan bermasalah sebab anak yg lahir akan mengikuti seh (marga) si ayah...
namun, tidak demikian halnya, jika pria jawa dan wanita tionghoa, seringkali dianggap menyalahi aturan dengan adanya mitos (dalam adat jawa)bahwa abu orang tionghoa lebih tua daripada jawa sehingga pernikahan mereka akan pamali atau bernasib buruk?
3. bagaimana cara mengubah pola pikir generasi lama?
terima kasih & mohon tanggapannya :D
Salam hormat dan salam kenal semuanya. Sy anggota baru juga ijin urun rembug menjawab. Pertanyaan yg menrt sy bgs namun sensitip hehhe
Sblmnya sy memperkenal diri dl sy adalah kake n oma sy dr kedua org tua sy asli dr tiongkok sana(bisa dibuktikan dgn surat kewarganegaara) sy lahir di indonesia tercinta. Disuatu daerah dijawa tengah.
Sy sendiri tidak mirip sekali dgn org china atau tionghoa.kulit sy hitam cuma mata sy saja yg agak sipit. Dan sy lebih bnyak bergaul dgn org2 jawa dibanding dgn org yg sesama etnis sy
Berkaitan dgn pertanyaan cristine_mandasari. Klo berdsrkan. Sejarah ini bermula pada saat jaman dipanegara,
Silahkan baca babad dipanegara(pangeran diponogoro) pada suatu saat ia kalah perang di gowok diluar surakarta(15 okt 1826) ia telah diruntuhkan oleh gadis china yg kemudian dijdkan tukang pijat . Disamping ia menyalahkan sasradilaga iparnya yg kalah perang krn berhubungan seksual dgn perempuan china lengkapnya. Bagi org cina sendiri pd saat itu timbul ketakutan terhdp dipanegara dan pengikutnya yg telah melakukan penyerangan dilasem.silahkan bc buku orang china bandar tol, candu dan perang jawa karangan peter carey terbitan komunitas bambu.
Sy sendiri sampai skr kesulitan mendptkan kekasih org china(sy berusia 27th) krn biasanya ortu mereka pertama melihat fisik sy melaranag mrk untuk berpcaran dgn sy.
Sy berpendpt(ini pendpt pribadi mhn dimaafkan klo salah)
Pertama
1.Msh ada perbedaan jenjang sosial dlm hal kekayaan.
Klo yg menikah sama2 sederajat dlm hal kekayaan maka hal ini tdk mslh.
Temen2 tiongho sy dibdg yg bekerja sbg mandor di suatu pabrik tekstil rata2 menikah dgn
Wanita diluar etnisnya akan menimbulkan mslh dikeluarganya(ayah dan ibunya).krn dianggap mau hartanya saja. Ada beberapa kasus pria china menikah dgn perempuan diluar china ketika ia jatuh dlm usaha nya ia ditinggaln istrinya. Walau hal ini ga bisa digeneralisir namun ada ketakutan hal demikian..
2.Perbedaan kebudayaan antara pribumi dan china.wanita china dikenal pekerja giat terutama juga prianya terutama dlm hal perdaganagan. Berbeda dgn kaum pria jawa yg kebanyakan lebih memilih sbg pegawai hal ini kadang2 sekali lg menimbulkan masalah dlm hal ekonomi. Disamping mgkin adanya poligami dimasyarakat jawa.
3. Agama yg berbeda jelas hal ini akan menyulitkan krn harus ada salah satu yg mengalah.
Sekali lg ini hanya pendpt pribadi.mohon maaf jika sy slah dan menyinggung sy cuma sharing.sy menrima segala perbedaan yg ada kaka permepuan sy menikah dgn pria jawa smapai saat ini keluraganya harmonis dan kami sekeluarga menrima suaminya sbg anggota keluarga.
sy sendiri juga bingung bgmana untuk menghilangkan hal ini krn sampai saat ini sy sendiri kesuliatn mendpt kekasih cina walau mungkin ini disebabkan karena wajah sy hehehe..
Ym sy: hendibowana
Jika ingin sharing lebih lanjut.
Thx
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
selamat pagi,
semoga hari ini menjadi hari yg baik untuk anda semua :D
sy anggota baru milis ini, salam kenal :)
ada yg mengganjal dalam pikiran sy tentang kawin campur:
1. mengapa kawin campur antara etnis tionghoa dan etnis bumiputra lain, terutama jawa (maapkan jika istilah sy kurang tepat atau terkesan rasis)masih dianggap tabu hingga sekarang, dan mendapatkan halangan yg berat dari pihak orangtua?
bukankah hal itu merupakan proses asimilasi yg wajar jika pasangan beda etnis sama2 mencintai?
2. sy melihat adanya diskriminasi gender...
jika yang menikah adalah pria tionghoa dan wanita jawa, misalnya, hal itu tidak akan bermasalah sebab anak yg lahir akan mengikuti seh (marga) si ayah...
namun, tidak demikian halnya, jika pria jawa dan wanita tionghoa, seringkali dianggap menyalahi aturan dengan adanya mitos (dalam adat jawa)bahwa abu orang tionghoa lebih tua daripada jawa sehingga pernikahan mereka akan pamali atau bernasib buruk?
3. bagaimana cara mengubah pola pikir generasi lama?
terima kasih & mohon tanggapannya :D
campur dan campur tidak selalu sama. mencampur elemen yang basisnya sesuai lebih mudah daripada mencampur sesuatu yang sangat beda dasarnya.
ini tidak perduli antar etnis tionghoa, atau non tionghoa. yang lebih mendukung adalah kesamaan: agama, pendidikan, tingkat sosial, tingkat finansial, kebudayaan.
kesenjangan selalu menghalangi pernikahan, yang adalah penyatuan dua kelompok keluarga yang berbeda. tetapi ini tak berarti tak dapat diatasi.
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, hendibowana@... wrote:
>
> Salam hormat dan salam kenal semuanya. Sy anggota baru juga ijin urun rembug menjawab. Pertanyaan yg menrt sy bgs namun sensitip hehhe
> Sblmnya sy memperkenal diri dl sy adalah kake n oma sy dr kedua org tua sy asli dr tiongkok sana(bisa dibuktikan dgn surat kewarganegaara) sy lahir di indonesia tercinta. Disuatu daerah dijawa tengah.
> Sy sendiri tidak mirip sekali dgn org china atau tionghoa.kulit sy hitam cuma mata sy saja yg agak sipit. Dan sy lebih bnyak bergaul dgn org2 jawa dibanding dgn org yg sesama etnis sy
> Berkaitan dgn pertanyaan cristine_mandasari. Klo berdsrkan. Sejarah ini bermula pada saat jaman dipanegara,
> Silahkan baca babad dipanegara(pangeran diponogoro) pada suatu saat ia kalah perang di gowok diluar surakarta(15 okt 1826) ia telah diruntuhkan oleh gadis china yg kemudian dijdkan tukang pijat . Disamping ia menyalahkan sasradilaga iparnya yg kalah perang krn berhubungan seksual dgn perempuan china lengkapnya. Bagi org cina sendiri pd saat itu timbul ketakutan terhdp dipanegara dan pengikutnya yg telah melakukan penyerangan dilasem.silahkan bc buku orang china bandar tol, candu dan perang jawa karangan peter carey terbitan komunitas bambu.
> Sy sendiri sampai skr kesulitan mendptkan kekasih org china(sy berusia 27th) krn biasanya ortu mereka pertama melihat fisik sy melaranag mrk untuk berpcaran dgn sy.
> Sy berpendpt(ini pendpt pribadi mhn dimaafkan klo salah)
> Pertama
> 1.Msh ada perbedaan jenjang sosial dlm hal kekayaan.
> Klo yg menikah sama2 sederajat dlm hal kekayaan maka hal ini tdk mslh.
> Temen2 tiongho sy dibdg yg bekerja sbg mandor di suatu pabrik tekstil rata2 menikah dgn
> Wanita diluar etnisnya akan menimbulkan mslh dikeluarganya(ayah dan ibunya).krn dianggap mau hartanya saja. Ada beberapa kasus pria china menikah dgn perempuan diluar china ketika ia jatuh dlm usaha nya ia ditinggaln istrinya. Walau hal ini ga bisa digeneralisir namun ada ketakutan hal demikian..
> 2.Perbedaan kebudayaan antara pribumi dan china.wanita china dikenal pekerja giat terutama juga prianya terutama dlm hal perdaganagan. Berbeda dgn kaum pria jawa yg kebanyakan lebih memilih sbg pegawai hal ini kadang2 sekali lg menimbulkan masalah dlm hal ekonomi. Disamping mgkin adanya poligami dimasyarakat jawa.
> 3. Agama yg berbeda jelas hal ini akan menyulitkan krn harus ada salah satu yg mengalah.
> Sekali lg ini hanya pendpt pribadi.mohon maaf jika sy slah dan menyinggung sy cuma sharing.sy menrima segala perbedaan yg ada kaka permepuan sy menikah dgn pria jawa smapai saat ini keluraganya harmonis dan kami sekeluarga menrima suaminya sbg anggota keluarga.
> sy sendiri juga bingung bgmana untuk menghilangkan hal ini krn sampai saat ini sy sendiri kesuliatn mendpt kekasih cina walau mungkin ini disebabkan karena wajah sy hehehe..
> Ym sy: hendibowana
> Jika ingin sharing lebih lanjut.
> Thx
> Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
>
> -----Original Message-----
> From: "cristine_mandasari" <cristine_mandasari@...>
> Date: Sat, 24 Oct 2009 21:32:09
> To: <budaya_tionghua@yahoogroups.com>
> Subject: [budaya_tionghua] perkawinan campur
>
> selamat pagi,
> semoga hari ini menjadi hari yg baik untuk anda semua :D
> sy anggota baru milis ini, salam kenal :)
>
> ada yg mengganjal dalam pikiran sy tentang kawin campur:
> 1. mengapa kawin campur antara etnis tionghoa dan etnis bumiputra lain, terutama jawa (maapkan jika istilah sy kurang tepat atau terkesan rasis)masih dianggap tabu hingga sekarang, dan mendapatkan halangan yg berat dari pihak orangtua?
> bukankah hal itu merupakan proses asimilasi yg wajar jika pasangan beda etnis sama2 mencintai?
> 2. sy melihat adanya diskriminasi gender...
> jika yang menikah adalah pria tionghoa dan wanita jawa, misalnya, hal itu tidak akan bermasalah sebab anak yg lahir akan mengikuti seh (marga) si ayah...
> namun, tidak demikian halnya, jika pria jawa dan wanita tionghoa, seringkali dianggap menyalahi aturan dengan adanya mitos (dalam adat jawa)bahwa abu orang tionghoa lebih tua daripada jawa sehingga pernikahan mereka akan pamali atau bernasib buruk?
> 3. bagaimana cara mengubah pola pikir generasi lama?
> terima kasih & mohon tanggapannya :D
>
Menikah dlm masyarakat Indonesia berlainan dgn menikah dlm masyarakat Barat pada umumnya. Di sini, pasangan penganten terpaksa juga "menikah" dgn keluarga besarnya masing-masing. Taruh kata seorang gadis Tionghoa Kristen setuju dinikahi oleh seorang Padang Muslim karena mereka katanya saling jatuh cinta mati-matian. :-) Taruh kata keduanya oke-oke aja saling bertoleransi berdasarkan cinta. Katakanlah di keluarga besar masing-masing terdapat bbrpa "cabo cina ndower" (maaf) dan "padang bengkok rese" (maaf) yg selalu mengusili Romi n Yuli kita ini dgn masalah agama, etnis, tradisi, kebiasaan, dsb ... Kok gini kok gitu... terus menerus sambung menyambung. Hal begini inilah yg sering diabaikan oleh muda-mudi yg sdg mabok kepayang sehingga terkadang berani melanggar nasihat ortu masing-masing. :-)
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Penjelsan Bro Zhoufy mantap juga nih.. Tetapi kalo yang berhubungan ama hari Raya, Sincia ama Puasa gak masalah sebenarnya, bisa diadakan dua kali aja, yang puasa kan bisa ikut malamnya. Yang penting esensi dari perayaan itu sendiri dan yang lebih penting lagi adalah semua itu bisa diatasi kalo kita mua bro.Contoh, saya dah brapa kali nemani Cici sepupu ke restoran kesukaan dia di Bulan Puasa, gak papa, saya gak terpengaruh. Asal jangan pada Hari Jum'at jam 12-an, itu tidak bisa karena saya mesti shalat Jum'at. Tetapi setelah saya tinggal di China, ternyata shalat Jum'at agak bergeser ( lebih telat ) dibanding di Indonesia, jadi kalo cici minta ditemani makan pada Jam 12.-an gak masalah.
--- On Sat, 10/24/09, zhoufy@yahoo.com <zhoufy@yahoo.com> wrote: |
|
Improve your business
by community exchange
pertama, terima kasih atas sharingnya...
1. wah, ternyata anda mempunyai minat baca yg luas tentang etnis tionghoa di indonesia.
salut atas suggestion bukunya :)
sy pernah mengikuti forum diskusi etnis tionghoa di univ. atmajaya, yogyakarta.
dlm suatu sesi, panelis diskusi menyatakan bahwa perang diponegoro merupakan titik tolak hubungan etnis jawa-tionghoa
yg disebabkan oleh menyebarnya mitos "wanita tionghoa akan membawa kesialan jika menikah dgn pria jawa".
dan entah mengapa mitos itu kembali diperkuat dengan beberapa kejadian...
(mitos mempunyai daya tarik tersendiri, jika dipercaya akan terjadi, jika tidak makin menjadi, only god knows why
)
misalnya, saat kasultanan yogyakarta bersatu di bawah republik indonesia & kekuasaan kasultanan dibatasi dalam daerah istimewa, wanita tionghoa yg menjadi salah satu selir sultan dianggap sebagai penyebab kesialan tersebut.
(maap jika sy lupa sultan hamengku buwono keberapa dan siapa nama selir yg dimaksud, mungkin bung hendi bisa membantu sy
)
2. sy setuju apa yg bung hendi katakan, faktor ekonomi, budaya, dan keyakinan, merupakan bibit, bebet, bobot dalam mencari & menentukan pasangan hidup.
namun, sy juga tidak menutup mata bahwa dalam kasus kawin campur, kendala yg ada adalah prasangka antar etnis (misal, etnis tionghoa pelit ataupun etnis jawa pemalas, sekali lagi maap jika sy terdengar rasis).
bung karno sendiri pernah bercerita bahwa semasa mudanya, beliau pernah menjalin asmara dgn wanita tionghoa bermarga nioe tapi tidak mendapatkan restu dari kedua orangtua disebabkan prasangka antar etnis sehingga percintaannya pun kandas.
3. jika generasi lama bersikap kolot, berarti harapan yg ada bertumpu pada generasi mudanya?
pernikahan kakak anda merupakan salah satu contoh asimilasi yg berjalan dgn wajar.
salut untuk keluarga bung hendi yg telah terbuka dengan proses asimilasi ![]()
sebenarnya poin kedua yg sy tanyakan adalah refleksi terhadap keluarga besar ayah sy,
di mana om, sepupu laki2 sy melakukan perkawinan campur dgn wanita suku lain.
tapi entah kenapa, sy mendapat halangan berat oleh keluarga besar ibu sy dikarenakan pacar sy adalah seorg jawa.
(orangtua sy adalah generasi kedua tionghoa totok)
untuk bung hendi, sekedar saran, sy mempunyai seorang teman pria yg berkulit hitam
tapi slalu dapat menawan hati kaum hawa
karena dy selalu menjaga kebersihan wajahnya & tersenyum manis.
ingat kata pepatah, "hitam manis" ![]()
terima kasih ![]()
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, hendibowana@... wrote:
>
> Salam hormat dan salam kenal semuanya. Sy anggota baru juga ijin urun rembug menjawab. Pertanyaan yg menrt sy bgs namun sensitip hehhe
> Sblmnya sy memperkenal diri dl sy adalah kake n oma sy dr kedua org tua sy asli dr tiongkok sana(bisa dibuktikan dgn surat kewarganegaara) sy lahir di indonesia tercinta. Disuatu daerah dijawa tengah.
> Sy sendiri tidak mirip sekali dgn org china atau tionghoa.kulit sy hitam cuma mata sy saja yg agak sipit. Dan sy lebih bnyak bergaul dgn org2 jawa dibanding dgn org yg sesama etnis sy
> Berkaitan dgn pertanyaan cristine_mandasari. Klo berdsrkan. Sejarah ini bermula pada saat jaman dipanegara,
> Silahkan baca babad dipanegara(pangeran diponogoro) pada suatu saat ia kalah perang di gowok diluar surakarta(15 okt 1826) ia telah diruntuhkan oleh gadis china yg kemudian dijdkan tukang pijat . Disamping ia menyalahkan sasradilaga iparnya yg kalah perang krn berhubungan seksual dgn perempuan china lengkapnya. Bagi org cina sendiri pd saat itu timbul ketakutan terhdp dipanegara dan pengikutnya yg telah melakukan penyerangan dilasem.silahkan bc buku orang china bandar tol, candu dan perang jawa karangan peter carey terbitan komunitas bambu.
> Sy sendiri sampai skr kesulitan mendptkan kekasih org china(sy berusia 27th) krn biasanya ortu mereka pertama melihat fisik sy melaranag mrk untuk berpcaran dgn sy.
> Sy berpendpt(ini pendpt pribadi mhn dimaafkan klo salah)
> Pertama
> 1.Msh ada perbedaan jenjang sosial dlm hal kekayaan.
> Klo yg menikah sama2 sederajat dlm hal kekayaan maka hal ini tdk mslh.
> Temen2 tiongho sy dibdg yg bekerja sbg mandor di suatu pabrik tekstil rata2 menikah dgn
> Wanita diluar etnisnya akan menimbulkan mslh dikeluarganya(ayah dan ibunya).krn dianggap mau hartanya saja. Ada beberapa kasus pria china menikah dgn perempuan diluar china ketika ia jatuh dlm usaha nya ia ditinggaln istrinya. Walau hal ini ga bisa digeneralisir namun ada ketakutan hal demikian..
> 2.Perbedaan kebudayaan antara pribumi dan china.wanita china dikenal pekerja giat terutama juga prianya terutama dlm hal perdaganagan. Berbeda dgn kaum pria jawa yg kebanyakan lebih memilih sbg pegawai hal ini kadang2 sekali lg menimbulkan masalah dlm hal ekonomi. Disamping mgkin adanya poligami dimasyarakat jawa.
> 3. Agama yg berbeda jelas hal ini akan menyulitkan krn harus ada salah satu yg mengalah.
> Sekali lg ini hanya pendpt pribadi.mohon maaf jika sy slah dan menyinggung sy cuma sharing.sy menrima segala perbedaan yg ada kaka permepuan sy menikah dgn pria jawa smapai saat ini keluraganya harmonis dan kami sekeluarga menrima suaminya sbg anggota keluarga.
> sy sendiri juga bingung bgmana untuk menghilangkan hal ini krn sampai saat ini sy sendiri kesuliatn mendpt kekasih cina walau mungkin ini disebabkan karena wajah sy hehehe..
> Ym sy: hendibowana
> Jika ingin sharing lebih lanjut.
> Thx
> Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
>
> -----Original Message-----
> From: "cristine_mandasari" cristine_mandasari@...
> Date: Sat, 24 Oct 2009 21:32:09
> To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
> Subject: [budaya_tionghua] perkawinan campur
>
> selamat pagi,
> semoga hari ini menjadi hari yg baik untuk anda semua :D
> sy anggota baru milis ini, salam kenal :)
>
> ada yg mengganjal dalam pikiran sy tentang kawin campur:
> 1. mengapa kawin campur antara etnis tionghoa dan etnis bumiputra lain, terutama jawa (maapkan jika istilah sy kurang tepat atau terkesan rasis)masih dianggap tabu hingga sekarang, dan mendapatkan halangan yg berat dari pihak orangtua?
> bukankah hal itu merupakan proses asimilasi yg wajar jika pasangan beda etnis sama2 mencintai?
> 2. sy melihat adanya diskriminasi gender...
> jika yang menikah adalah pria tionghoa dan wanita jawa, misalnya, hal itu tidak akan bermasalah sebab anak yg lahir akan mengikuti seh (marga) si ayah...
> namun, tidak demikian halnya, jika pria jawa dan wanita tionghoa, seringkali dianggap menyalahi aturan dengan adanya mitos (dalam adat jawa)bahwa abu orang tionghoa lebih tua daripada jawa sehingga pernikahan mereka akan pamali atau bernasib buruk?
> 3. bagaimana cara mengubah pola pikir generasi lama?
> terima kasih & mohon tanggapannya :D
>
Mental Health
Learn More
terima kasih atas tanggapannya bung zhoufy.
(maap jika sy salah sebut)
sy jadi lapar membaca "nasi campur & es campur" ![]()
memang yg anda katakan benar 100% jika persamaan & kesamaan latar belakang akan membuat hubungan lebih langgeng,
namun adakah solusi yg tepat untuk meruntuhkan dinding prasangka antar kedua etnis ini ![]()
terima kasih.
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, zhoufy@... wrote:
>
> Kawin campur? Kok seperti jenis makanan dan minuman saja! Ada nasi campur dan es campur.
>
> Janganlah memandang keberatan orang tua dng kacamata negatif. Orang tua manapun akan lebih senang anaknya kawin dng orang segolongan, kalau bukan golongan etnis, ya golongan pendidikan, atau golongan agama, atau golongan pendapatan.
>
> Semua itu ada dasarnya. Perkawinan adalah persekutuan seumur hidup, membutuhkan penyesuaian total dari dua pribadi yg berlainan. Dua orang dng latar belakang sama saja belum tentu bisa akur dlm segala hal, apalagi dng latar budaya yg sangat jauh! Inilah pertimbangan para orangtua.
>
> Pada saat jatuh cinta, perbedaan2 ini biasanya tertutupi oleh hal2 yg jasmaniah, tapi setelah berjalan sekian lama akan menjadi masalah. Dibutuhkan usaha yg lebih keras utk saling menerima.
>
> Tapi memang semua tdk mutlak, tergantung pribadi masing2. Yg penting hrs dipikir matang2 dulu, dlm perkawinan antar golongan anda menghadapi tantangan yg lebih besar.
>
> Satu hal yg penting: bagi para orangtua, perkawinan bukan hanya antar dua orang saja, tapi juga merupakan perkawinan antar dua keluarga. Jika dua keluarga tradisinya sangat berlainan, sulit untuk bisa benar2 menyatu. Misalnya saat merayakan sincia yg satu sedang puasa, kan repot.
>
> Sent from my BlackBerry®
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>
> -----Original Message-----
> From: "cristine_mandasari" cristine_mandasari@...
> Date: Sat, 24 Oct 2009 21:32:09
> To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
> Subject: [budaya_tionghua] perkawinan campur
>
> selamat pagi,
> semoga hari ini menjadi hari yg baik untuk anda semua :D
> sy anggota baru milis ini, salam kenal :)
>
> ada yg mengganjal dalam pikiran sy tentang kawin campur:
> 1. mengapa kawin campur antara etnis tionghoa dan etnis bumiputra lain, terutama jawa (maapkan jika istilah sy kurang tepat atau terkesan rasis)masih dianggap tabu hingga sekarang, dan mendapatkan halangan yg berat dari pihak orangtua?
> bukankah hal itu merupakan proses asimilasi yg wajar jika pasangan beda etnis sama2 mencintai?
> 2. sy melihat adanya diskriminasi gender...
> jika yang menikah adalah pria tionghoa dan wanita jawa, misalnya, hal itu tidak akan bermasalah sebab anak yg lahir akan mengikuti seh (marga) si ayah...
> namun, tidak demikian halnya, jika pria jawa dan wanita tionghoa, seringkali dianggap menyalahi aturan dengan adanya mitos (dalam adat jawa)bahwa abu orang tionghoa lebih tua daripada jawa sehingga pernikahan mereka akan pamali atau bernasib buruk?
> 3. bagaimana cara mengubah pola pikir generasi lama?
> terima kasih & mohon tanggapannya :D
>
Yg perlu harus diketahui bahwa ga cuma antar etnis aja, antar suku pun masih banyak yg ditentang padahal agamanya sama.
memang mantap penjelasan pak Zhoufy.
pada dasarnya, perkawinan silang aman aman saja, kalau kedua pihak mampu saling menghargai. jangankan antar etnis, antara tionghoa saja, kalau yang satu katholik, yang lain kristen. lalu saling mengejek ibadah masing masing, ya repot. atau yang satu konghucu, yang lain non konghucu, lalu mentertawakan ritual konghucu.
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, Nasir Tan <hitaci2002@...> wrote:
>
> Penjelsan Bro Zhoufy mantap juga nih.. Tetapi kalo yang berhubungan ama hari Raya, Sincia ama Puasa gak masalah sebenarnya, bisa diadakan dua kali aja, yang puasa kan bisa ikut malamnya. Yang penting esensi dari perayaan itu sendiri dan yang lebih penting lagi adalah semua itu bisa diatasi kalo kita mua bro.Contoh, saya dah brapa kali nemani Cici sepupu ke restoran kesukaan dia di Bulan Puasa, gak papa, saya gak terpengaruh. Asal jangan pada Hari Jum'at jam 12-an, itu tidak bisa karena saya mesti shalat Jum'at. Tetapi setelah saya tinggal di China, ternyata shalat Jum'at agak bergeser ( lebih telat ) dibanding di Indonesia, jadi kalo cici minta ditemani makan pada Jam 12.-an gak masalah.
>
>
>
>
>
> --- On Sat, 10/24/09, zhoufy@... <zhoufy@...> wrote:
>
>
> From: zhoufy@... <zhoufy@...>
> Subject: Re: [budaya_tionghua] perkawinan campur
> To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
> Date: Saturday, October 24, 2009, 11:13 PM
>
>
>
>
>
>
> Kawin campur? Kok seperti jenis makanan dan minuman saja! Ada nasi campur dan es campur.
>
> Janganlah memandang keberatan orang tua dng kacamata negatif. Orang tua manapun akan lebih senang anaknya kawin dng orang segolongan, kalau bukan golongan etnis, ya golongan pendidikan, atau golongan agama, atau golongan pendapatan.
>
> Semua itu ada dasarnya. Perkawinan adalah persekutuan seumur hidup, membutuhkan penyesuaian total dari dua pribadi yg berlainan. Dua orang dng latar belakang sama saja belum tentu bisa akur dlm segala hal, apalagi dng latar budaya yg sangat jauh! Inilah pertimbangan para orangtua.
>
> Pada saat jatuh cinta, perbedaan2 ini biasanya tertutupi oleh hal2 yg jasmaniah, tapi setelah berjalan sekian lama akan menjadi masalah. Dibutuhkan usaha yg lebih keras utk saling menerima.
>
> Tapi memang semua tdk mutlak, tergantung pribadi masing2. Yg penting hrs dipikir matang2 dulu, dlm perkawinan antar golongan anda menghadapi tantangan yg lebih besar.
>
> Satu hal yg penting: bagi para orangtua, perkawinan bukan hanya antar dua orang saja, tapi juga merupakan perkawinan antar dua keluarga. Jika dua keluarga tradisinya sangat berlainan, sulit untuk bisa benar2 menyatu. Misalnya saat merayakan sincia yg satu sedang puasa, kan repot.
>
> Sent from my BlackBerry®
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>
>
> From: "cristine_mandasari " <cristine_mandasari@ yahoo.com>
> Date: Sat, 24 Oct 2009 21:32:09 -0000
> To: <budaya_tionghua@ yahoogroups. com>
> Subject: [budaya_tionghua] perkawinan campur
>
>
>
> selamat pagi,
> semoga hari ini menjadi hari yg baik untuk anda semua :D
> sy anggota baru milis ini, salam kenal :)
>
> ada yg mengganjal dalam pikiran sy tentang kawin campur:
> 1. mengapa kawin campur antara etnis tionghoa dan etnis bumiputra lain, terutama jawa (maapkan jika istilah sy kurang tepat atau terkesan rasis)masih dianggap tabu hingga sekarang, dan mendapatkan halangan yg berat dari pihak orangtua?
> bukankah hal itu merupakan proses asimilasi yg wajar jika pasangan beda etnis sama2 mencintai?
> 2. sy melihat adanya diskriminasi gender...
> jika yang menikah adalah pria tionghoa dan wanita jawa, misalnya, hal itu tidak akan bermasalah sebab anak yg lahir akan mengikuti seh (marga) si ayah...
> namun, tidak demikian halnya, jika pria jawa dan wanita tionghoa, seringkali dianggap menyalahi aturan dengan adanya mitos (dalam adat jawa)bahwa abu orang tionghoa lebih tua daripada jawa sehingga pernikahan mereka akan pamali atau bernasib buruk?
> 3. bagaimana cara mengubah pola pikir generasi lama?
> terima kasih & mohon tanggapannya :D
>
Mohon maaf, saya ikut nimbrung.....!!!
Sebelum pelaksanaan " kawin campur " bagi yang akan melaksanakan, tentunya terlebih dahulu harus memahami persyaratan-persyaratan yang diinginkan oleh kedua belah pihak. Kalau yang melamar dalam hal ini pihak laki-laki ( etnis Jawa ) yang pendidikan menengah kebawa trus kerjanya pegawai kelurahan yah pasti akan mengalami hambatan ( terutama di Pulau Jawa ). Blom apa-apa mama/papa dah mencak2 palagi yang merasa sering dipersulit di kelurahan...hehehe...hehehe ( 2x ketawa ).
Tetapi coba, kalo Orang Jawa yang kerja di NASA, General Electric, ato yang punya hak paten dan diakui secara internasional, Orang Tionghoa besar kemungkinan akan mempertimbangkan..hehehe. Ini bukan karena faktor materi juga, tetapi adalah faktor experience, pendidikan dan pergaulan yang luas. Saya gak tau kalau di daerah perbatasan dengan negara-negara tetangga, atau di luar Pulau Jawa hal ini bisa saja terjadi.Saya ada kenalan ( yang pasti ce Tionghoa ) di suatu daerah di luar Jawa dia merid ama guru SD. Gak usah saya jelaskan gimana keadaan guru SD kan...???!!! Yang jelas bukan guru Karate atau guru balet...:-). Saya gak bisa membayangkan apa yang terjadi waktu dia merid, karena tidak diundang, tapi nyatanya sukses...hehehe.Contoh lain; teman cici sepupu saya nikah ama polisi. Walau bukan perwira disetujui dan pernikahannya ramai. Kebetulan orang tua polisi itu punya sawah yang luas, jadi udah diolah ama istrinya bisnis
agro dan macam-macam, tapi bukan karena itu disetujui..karena kalo ukuran finansial masih jauhlah dari kemampuan financial teman cici saya.
Saya menduga jangan-jangan yang naksir ama ce Tionghoa cara pendekatannya tidak meyakinkan ya, sehingga mungkin tidak mendapat respek dari ce ato ortu...hehehe.
Ingat pesan iklan, KESAN PERTAMA BEGITU MENGGODA, SELANJUTNYA TERSERAH ANDA. Ada juga kesan ( menurut pengamatan pribadi saya ) bahwa etnis Jawa itu terkadang suka menggurui dan menganggap dia lebih tau dari segalanya. Sebaliknya, etnis luar Jawa yang non Tionghoa ( termasuk Ambon, Aceh, Manado, Minang dll ) pada dasarnya kita ini sama saja dengan yang lain yakni kita semua Bangsa Indonesia "baru tahap belajar alias menilai negatif: Saya kemukakan karena saya yakin tidak tertulis di dalam buku pelajaran sekolah tetapi kenyataannya terjadi seperti itu. Ini saya dengar sewaktu saya masih aktif di kepemudaan di Jakarta beberapa tahun lalu. Nah kalau etnis non Tionghoa aja berpendapat seperti ini, apalagi yang etnis Tionghoa...hehehe.Jadi
masalahnya, bukan soal mitos atau non mitos tetapi banyak faktor yang mempengaruhi sebagaimana yang dikemukakan sama Bro Zhoufy, bahwa ada korelasi antara pernikahan dengan kesetaraan pendidikan, harta, budaya, agama dll ....bahwa kesemuanya ini memang betul adanya. Tetapi semua itu juga tergantung nasib dan garis tangan seseorang.
Nasir Tan |
|
|
|
1.Mungkin yg dimksd KGPA Radityo prabukusuma putra tertua dr mangunegara VIII yg menikah dengan emma santoso seorang artis peranakan china/tionghoa?benar
perang diponegoro merupakan titik tolak hubungan etnis jawa-tionghoa. Paham perempuan china sbg pembaw sial sebenarnya hanya kambing hitam krn kekalah dlm beberapa perang.
Sebenarnya dulu china dianggap istimewa bahkan banyak org jawa senang beristri china. Namun keadaan terbalik krn org china terlibat dlm kehidupan ekonomi org jawa spt sbg penarik tol dan pedagang candu yg dianggap memiskin masyarakat oleh dipanegara.
Namun ada hal.
2.Mungkin bisa ditambahkan sesuai pendpt bung zufai(mhn maaf klo salah) diliat dr sudut pandang orang tua.
3.Betul golongan mudalah yg harus memulai asimilasi dgn pergaulan. Tanpa ada kecurigaan terhadap etnis tertentu. Sy selalu salut dgn soe hok gie jika mebaca memoarnya bagamana seorang keturunan tionghoa bisa seberani itu menyuarkan tuntutan serta pergaulan yg luas.
Menurut sy pendidikan adalah salah satu faktor dimana org bs bergaul sedemikian luas tanpa meninggalkan identitasnya.
Perkawinan kaka sy bukan tanpa halangan terutama dari pihak kaka 2 ayah sy(walau papah dan mamah sy menerima). Dikarenakan kaka sy menikah dgn seorg guru agama islam yg jelas berbeda sekali dgn kami yg kristen namun krn keteguhan hati mrk dan kaka ipar sy yg bisa meneguhkan hati keluraga ayah sy dgn komunikasi dan sering sowan akhirnya mrk menerima juga.
Memang terjadi culture shock ketika sincia ato kaka ipar sy dtg kmi tdk lagi menyajikan babi panggang. Ato ketika lebaran tiba keluarganya berkunjung kermh kami.
Sebenarnya hal ini bs terjadi jika kt saling menghormati dan menghargai. Sy yakin jika komunikasi terjalin dgn baik orang tua anda akan menrima pasangan anda.
Prasangka antar etnis sebenarnya bs hilang dgn sendirinya jika kt bergaul lsg dan berkomunikasi hanya saja rasa bangga diri dan perasaan curiga terhadap etnis lain kdg2 menghalangi hingga kesalahan satu dua org bs menyebabkan 1 etnis tercemar.
Makasi saranya sy pribadi mengakui bahwa pergaulan sy lebih bnyak teman2 diluar etnis tionghoa(sdh dr kecil)mungkin itu salah satu penyebabnya walaupun ada beberapa faktor laen spt ketdk percayaan calon mertua sy bahwa sy org tionghoa bahkan ada yg mengatakan sy tiko(sy sendiri kurang tau arti istilah ini) tapi sy yakin Tuhan slalu memberikan yg terbaik bagi umatnya mk sy ga musingin mau china ato bkn yg penting sehati hehe
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Coba kalau yg melamar itu anak presiden! Pertimbangannya pasti lain.
Kedudukan bung ....
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
masalah yang timbul dalam persilangan antara non Tionghoa dan Tionghoa adalah a) etnisitas dan b) agama. sekali pukul dua ha ha ha.
jadi kalau agama sama, misalnya sama sama Kristen atau sama sama Islam, sudah berkurang halangan.
halangan dalam bentuk tingkat sosial ada dimana-mana, juga antar non Tionghoa, atau antar Tionghoa.
lain hal, bro Nasir (atau Natsir?), bagaimana dengan anda: diantara Muslim non Tionghoa, dan Tionghoa non Muslim. OK OK saja?
supir saya, pemuda Tionghoa Muslim (ibunya non Tionghoa), dia tak ada masalah dengan penduduk setempat, tetapi repot dengan saudara saudara pihak Tionghoa yang Konghucu.
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, Nasir Tan <hitaci2002@...> wrote:
>
>
> Mohon maaf, saya ikut nimbrung.....!!!
> Sebelum pelaksanaan " kawin campur " bagi yang akan melaksanakan, tentunya terlebih dahulu harus memahami persyaratan-persyaratan yang diinginkan oleh kedua belah pihak. Kalau yang melamar dalam hal ini pihak laki-laki ( etnis Jawa ) yang pendidikan menengah kebawa trus kerjanya pegawai kelurahan yah pasti akan mengalami hambatan ( terutama di Pulau Jawa ). Blom apa-apa mama/papa dah mencak2 palagi yang merasa sering dipersulit di kelurahan...hehehe...hehehe ( 2x ketawa ).
> Tetapi coba, kalo Orang Jawa yang kerja di NASA, General Electric, ato yang punya hak paten dan diakui secara internasional, Orang Tionghoa besar kemungkinan akan mempertimbangkan..hehehe. Ini bukan karena faktor materi juga, tetapi adalah faktor experience, pendidikan dan pergaulan yang luas. Saya gak tau kalau di daerah perbatasan dengan negara-negara tetangga, atau di luar Pulau Jawa hal ini bisa saja terjadi.Saya ada kenalan ( yang pasti ce Tionghoa ) di suatu daerah di luar Jawa dia merid ama guru SD. Gak usah saya jelaskan gimana keadaan guru SD kan...???!!! Yang jelas bukan guru Karate atau guru balet...:-). Saya gak bisa membayangkan apa yang terjadi waktu dia merid, karena tidak diundang, tapi nyatanya sukses...hehehe.Contoh lain; teman cici sepupu saya nikah ama polisi. Walau bukan perwira disetujui dan pernikahannya ramai. Kebetulan orang tua polisi itu punya sawah yang luas, jadi udah diolah ama istrinya bisnis agro dan macam-macam,
> tapi bukan karena itu disetujui..karena kalo ukuran finansial masih jauhlah dari kemampuan financial teman cici saya.
> Saya menduga jangan-jangan yang naksir ama ce Tionghoa cara pendekatannya tidak meyakinkan ya, sehingga mungkin tidak mendapat respek dari ce ato ortu...hehehe.
> Ingat pesan iklan, KESAN PERTAMA BEGITU MENGGODA, SELANJUTNYA TERSERAH ANDA. Ada juga kesan ( menurut pengamatan pribadi saya ) bahwa etnis Jawa itu terkadang suka menggurui dan menganggap dia lebih tau dari segalanya. Sebaliknya, etnis luar Jawa yang non Tionghoa ( termasuk Ambon, Aceh, Manado, Minang dll ) pada dasarnya kita ini sama saja dengan yang lain yakni kita semua Bangsa Indonesia "baru tahap belajar alias menilai negatif: Saya kemukakan karena saya yakin tidak tertulis di dalam buku pelajaran sekolah tetapi kenyataannya terjadi seperti itu. Ini saya dengar sewaktu saya masih aktif di kepemudaan di Jakarta beberapa tahun lalu. Nah kalau etnis non Tionghoa aja berpendapat seperti ini, apalagi yang etnis Tionghoa...hehehe.Jadi masalahnya, bukan soal mitos atau non mitos tetapi banyak faktor yang mempengaruhi sebagaimana yang dikemukakan sama Bro Zhoufy, bahwa ada korelasi antara pernikahan dengan kesetaraan pendidikan,
> harta, budaya, agama dll ....bahwa kesemuanya ini memang betul adanya. Tetapi semua itu juga tergantung nasib dan garis tangan seseorang.
>
>
>
> Nasir Tan
>
>
>
>
>
> --- On Sun, 10/25/09, cristine_mandasari <cristine_mandasari@...> wrote:
>
>
>
>
>
>
> terima kasih atas tanggapannya bung zhoufy.
> (maap jika sy salah sebut)
> sy jadi lapar membaca "nasi campur & es campur"
> memang yg anda katakan benar 100% jika persamaan & kesamaan latar belakang akan membuat hubungan lebih langgeng,
> namun adakah solusi yg tepat untuk meruntuhkan dinding prasangka antar kedua etnis ini
> terima kasih.
Kalo ada ce Tionghoa trus dilamar ama putra Presiden yah pasti respeknya bagus. Dah ada contohnya koq, anaknya Om Lim kan merid ama anak Pak Harto ( mantan presiden )....
Sayang waktu anaknya Om Lim dilamar ama anak Pak Harto, blom ada milist Tionghoa...kalo ada gak bisa ngebayangin diskusi di miling list ini kayak apa yak..??? .hehehe. |
--- On Sun, 10/25/09, zhoufy@yahoo.com <zhoufy@yahoo.com> wrote: |
|
|
|
|
|
|
Own a business?
Connect with others.
Perlu diingat juga kalau Pangeran Diponegoro memiliki satu hulubalang dari marga Oey yang salah satu keturunannnya bernama Oey Tjoe Tat.
Tampaknya Babat Dipanegara harus dibaca dalam konteks agama Islam, jangann dibaca secara letterlijk kesialan disebabkan Diponegoro menjadikan seorang wanita yang bukan muhrim menjadi tukang pijat. Atau Sasradilaga berhubungan seksual dengan yang bukan istri.
Salam,
Anton W
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, hendibowana@... wrote:
> Silahkan baca babad dipanegara(pangeran diponogoro) pada suatu saat ia kalah perang di gowok diluar surakarta(15 okt 1826) ia telah diruntuhkan oleh gadis china yg kemudian dijdkan tukang pijat . Disamping ia menyalahkan sasradilaga iparnya yg kalah perang krn berhubungan seksual dgn perempuan china lengkapnya. Bagi org cina sendiri pd saat itu timbul ketakutan terhdp dipanegara dan pengikutnya yg telah melakukan penyerangan dilasem.silahkan bc buku orang china bandar tol, candu dan perang jawa karangan peter carey terbitan komunitas bambu.
Bukan Natsir, tapi Nasir..:). Kalo saya pribadi gak ada masalah, saya fleksibel aja, walau di kalangan keluarga ( sepupu, ii, dll terdapat banyak paham ). Di rumah juga terdapat perbedaan mashab walo sama2 Isalm ( N.U dan Muhammadiah ), tetapi tidak pernah diperdebatkan, padahal kalau mau mencari sumber perdebatannya,byk lho. Mayoritas masyarakat Indonesia etnis Tionghoa yang beragama Islam, adalah Muhammadiah, tapi yah ada aja Tionghoa Muslim yang ikut paham N.U. Saya gak pernah komentari yang seperti itu. Mmmm.....Ce Tionghoa "biasanya" kurang respek sama Co Muslim, sekalipun dia seorang yang berdarah Tionghoa...kecuali kalo emang ganteng bangat yah..mungkin lain soal...hehehe. Tetapi semuanya itu juga tentunya tergantung pendekatan satu sama lain antara co dan ce. Karena banhyak kejadian percintaan berawal dari cuek..lama-lama bisa jadi benaran, kalo ada pihak yang agresif. Ada kasus spt : Sepupu saya Katolik, ditaksir sama etnis non Tionghoa Kristen yang udah punya anak dua...akhirnya jadi merid juga anaknya dah 3 malah. Padahal, si suami ini..yah cuma karena modal Kristen aja, waktu dia naksir sepupu, rumah juga gak punya, apa-apa gak punya. Gak tau gimana cara pendekatannya..sehingga sepupu saya yang punya posisi di tempat kerjanya bisa mau gitu lho. Sebelum mereka merid, saya ditanya ama family juga, dan saya tegas tidak setuju, tapi kalo kedua belah pihak sudah setuju atau papa/mama/ setuju..yah silakan saja. Kalo adik kandung saya pasti menentang habis2an...tapi sepupu sih...nanti dikiranya saya mempersulit...hehehe.
--- On Sun, 10/25/09, younginheart5000 <crv118@yahoo.com> wrote: |
|
Date: Sunday, October 25, 2009, 9:05 AM |
|
|
|
|
|
siaaaap, bung anton ![]()
terima kasih atas sarannya...
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "pempekd9" <pempekd9@...> wrote:
>
> Perlu diingat juga kalau Pangeran Diponegoro memiliki satu hulubalang dari marga Oey yang salah satu keturunannnya bernama Oey Tjoe Tat.
>
> Tampaknya Babat Dipanegara harus dibaca dalam konteks agama Islam, jangann dibaca secara letterlijk kesialan disebabkan Diponegoro menjadikan seorang wanita yang bukan muhrim menjadi tukang pijat. Atau Sasradilaga berhubungan seksual dengan yang bukan istri.
>
> Salam,
> Anton W
>
> --- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, hendibowana@ wrote:
>
> > Silahkan baca babad dipanegara(pangeran diponogoro) pada suatu saat ia kalah perang di gowok diluar surakarta(15 okt 1826) ia telah diruntuhkan oleh gadis china yg kemudian dijdkan tukang pijat . Disamping ia menyalahkan sasradilaga iparnya yg kalah perang krn berhubungan seksual dgn perempuan china lengkapnya. Bagi org cina sendiri pd saat itu timbul ketakutan terhdp dipanegara dan pengikutnya yg telah melakukan penyerangan dilasem.silahkan bc buku orang china bandar tol, candu dan perang jawa karangan peter carey terbitan komunitas bambu.
>
Love cars? Check out the
Auto Enthusiast Zone
@ bung nasir: sy suka dengan argumen anda.
memang seharusnya dikembalikan ke pribadi masing2 tanpa melihat identitas kesukuan ![]()
@ bung zoufy: wah, sy juga ga bakal nolak tuh, hehehe...![]()
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, zhoufy@... wrote:
>
> Coba kalau yg melamar itu anak presiden! Pertimbangannya pasti lain.
> Kedudukan bung ....
>
>
> Sent from my BlackBerry®
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>
> -----Original Message-----
> From: Nasir Tan hitaci2002@...
> Date: Sun, 25 Oct 2009 04:26:11
> To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
> Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: perkawinan campur...nimbrung
>
> Â
> Mohon maaf, saya ikut nimbrung.....!!!
> Sebelum pelaksanaan " kawin campur " bagi yang akan melaksanakan, tentunya terlebih dahulu harus memahami persyaratan-persyaratan yang diinginkan oleh kedua belah pihak. Kalau yang melamar dalam hal ini pihak laki-laki ( etnis Jawa ) yang pendidikan menengah kebawa trus kerjanya pegawai kelurahan yah pasti akan mengalami hambatan ( terutama di Pulau Jawa ). Blom apa-apa mama/papa dah mencak2 palagi yang merasa sering dipersulit di kelurahan...hehehe...hehehe ( 2x ketawa ). Â
> Tetapi coba, kalo Orang Jawa yang kerja di NASA, General Electric, ato yang punya hak paten dan diakui secara internasional, Orang Tionghoa besar kemungkinan akan mempertimbangkan..hehehe. Ini bukan karena faktor materi juga, tetapi adalah faktor experience, pendidikan dan pergaulan yang luas. Saya gak tau kalau di daerah perbatasan dengan negara-negara tetangga, atau di luar Pulau Jawa hal ini bisa saja terjadi.Saya ada kenalan ( yang pasti ce Tionghoa ) di suatu daerah di luar Jawa dia merid ama guru SD. Gak usah saya jelaskan gimana keadaan guru SD kan...???!!! Yang jelas bukan guru Karate atau guru balet...:-). Saya gak bisa membayangkan apa yang terjadi waktu dia merid, karena tidak diundang, tapi nyatanya sukses...hehehe.Contoh lain; teman cici sepupu saya nikah ama polisi. Walau bukan perwira disetujui dan pernikahannya ramai. Kebetulan orang tua polisi itu punya sawah yang luas, jadi udah diolah ama istrinya bisnis agro dan macam-macam,
> tapi bukan karena itu disetujui..karena kalo ukuran finansial masih jauhlah dari kemampuan financial teman cici saya.Â
> Saya menduga jangan-jangan yang naksir ama ce Tionghoa cara pendekatannya tidak meyakinkan ya, sehingga mungkin tidak mendapat respek dari ce ato ortu...hehehe.
> Ingat pesan iklan, KESAN PERTAMA BEGITU MENGGODA, SELANJUTNYA TERSERAH ANDA.  Ada juga kesan ( menurut pengamatan pribadi saya ) bahwa etnis Jawa itu terkadang suka menggurui dan menganggap dia lebih tau dari segalanya. Sebaliknya, etnis luar  Jawa yang non Tionghoa ( termasuk Ambon, Aceh, Manado, Minang dll ) pada dasarnya kita ini sama saja dengan yang lain yakni kita semua Bangsa Indonesia "baru tahap belajar   alias menilai negatif: Saya kemukakan karena saya yakin tidak tertulis di dalam buku pelajaran sekolah tetapi kenyataannya terjadi seperti itu. Ini saya dengar sewaktu saya masih aktif di kepemudaan di Jakarta beberapa tahun lalu. Nah kalau etnis non Tionghoa aja berpendapat seperti ini, apalagi yang etnis Tionghoa...hehehe.Jadi masalahnya, bukan soal mitos atau non mitos tetapi banyak faktor yang mempengaruhi sebagaimana yang dikemukakan sama  Bro Zhoufy, bahwa ada korelasi antara pernikahan dengan kesetaraan pendidikan,
> harta, budaya, agama dll ....bahwa kesemuanya ini memang betul adanya. Tetapi semua itu juga tergantung nasib dan garis tangan seseorang.
> Â
> Â
> Â
> Nasir Tan
> Â
> Â
> Â
>
>
> --- On Sun, 10/25/09, cristine_mandasari cristine_mandasari@... wrote:
>
>
> Â
>
>
>
> terima kasih atas tanggapannya bung zhoufy.
> (maap jika sy salah sebut)
> sy jadi lapar membaca "nasi campur & es campur"
> memang yg anda katakan benar 100% jika persamaan & kesamaan latar belakang akan membuat hubungan lebih langgeng,
> namun adakah solusi yg tepat untuk meruntuhkan dinding prasangka antar kedua etnis ini
> terima kasih.
>
> --- In budaya_tionghua@ yahoogroups. com, zhoufy@ wrote:
> >
> > Kawin campur? Kok seperti jenis makanan dan minuman saja! Ada nasi campur dan es campur.
> >
> > Janganlah memandang keberatan orang tua dng kacamata negatif. Orang tua manapun akan lebih senang anaknya kawin dng orang segolongan, kalau bukan golongan etnis, ya golongan pendidikan, atau golongan agama, atau golongan pendapatan.
> >
> > Semua itu ada dasarnya. Perkawinan adalah persekutuan seumur hidup, membutuhkan penyesuaian total dari dua pribadi yg berlainan. Dua orang dng latar belakang sama saja belum tentu bisa akur dlm segala hal, apalagi dng latar budaya yg sangat jauh! Inilah pertimbangan para orangtua.
> >
> > Pada saat jatuh cinta, perbedaan2 ini biasanya tertutupi oleh hal2 yg jasmaniah, tapi setelah berjalan sekian lama akan menjadi masalah. Dibutuhkan usaha yg lebih keras utk saling menerima.
> >
> > Tapi memang semua tdk mutlak, tergantung pribadi masing2. Yg penting hrs dipikir matang2 dulu, dlm perkawinan antar golongan anda menghadapi tantangan yg lebih besar.
> >
> > Satu hal yg penting: bagi para orangtua, perkawinan bukan hanya antar dua orang saja, tapi juga merupakan perkawinan antar dua keluarga. Jika dua keluarga tradisinya sangat berlainan, sulit untuk bisa benar2 menyatu. Misalnya saat merayakan sincia yg satu sedang puasa, kan repot.
> >
> > Sent from my BlackBerry®
> > powered by Sinyal Kuat INDOSAT
> >
> > -----Original Message-----
> > From: "cristine_mandasari " cristine_mandasari@ ...
> > Date: Sat, 24 Oct 2009 21:32:09
> > To: budaya_tionghua@ yahoogroups. com
> > Subject: [budaya_tionghua] perkawinan campur
> >
> > selamat pagi,
> > semoga hari ini menjadi hari yg baik untuk anda semua :D
> > sy anggota baru milis ini, salam kenal :)
> >
> > ada yg mengganjal dalam pikiran sy tentang kawin campur:
> > 1. mengapa kawin campur antara etnis tionghoa dan etnis bumiputra lain, terutama jawa (maapkan jika istilah sy kurang tepat atau terkesan rasis)masih dianggap tabu hingga sekarang, dan mendapatkan halangan yg berat dari pihak orangtua?
> > bukankah hal itu merupakan proses asimilasi yg wajar jika pasangan beda etnis sama2 mencintai?
> > 2. sy melihat adanya diskriminasi gender...
> > jika yang menikah adalah pria tionghoa dan wanita jawa, misalnya, hal itu tidak akan bermasalah sebab anak yg lahir akan mengikuti seh (marga) si ayah...
> > namun, tidak demikian halnya, jika pria jawa dan wanita tionghoa, seringkali dianggap menyalahi aturan dengan adanya mitos (dalam adat jawa)bahwa abu orang tionghoa lebih tua daripada jawa sehingga pernikahan mereka akan pamali atau bernasib buruk?
> > 3. bagaimana cara mengubah pola pikir generasi lama?
> > terima kasih & mohon tanggapannya :D
> >
>
Mang napa ya bahas masalah orang mau kawin ??
Mau kawin sama siapa saja ya sama saja, selama yg mau di kawinin itu masi manusia ya ??
Daripada di luar negeri ada orang yang kawin ma bantal nya ????? wkwkwkwk....
Selama dua orang yang berkomitmen untuk bersama sampai usia tua, dan bersama sama bisa bahagia saat hidup bersama, merasakan suka duka bersama sama, Seorang suami bersikap sebagai suami dan seorang istri bersikap sebagai istri, anak sebagai anak, semuanya tidak akan jadi masalah, apakah mau kawin ama orang tionghoa, atau jawa atau batak, atau bule, atau negro, atau orang eskimo ???
Tidak perlu bahas masalah masalah yang lain lah yg tidak berhubungan langsung.
Setuju rekan rekan ???
Kalau setuju, ya case close, daripada ntar diskusinya malah mengarah ke topik SARA.
--- On Sun, 10/25/09, younginheart5000 <crv118@yahoo.com> wrote:
> From: younginheart5000 <crv118@yahoo.com>
> Subject: [budaya_tionghua] Re: perkawinan campur...nimbrung
> To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
> ------------------------------------
>
> .: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
>
> .: Website global http://www.budaya-tionghoa.net :.
>
> .: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.
>
> .: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
> mailto:budaya_tionghua-fullfeatured@yahoogroups.com
>
>
>
Ga setuju, kenapa dikit2 harus dianggap SARA, hubungan antar manusia itu termasuk antar etnis kan? Jd apa salahnya dibahas, asal sama2 terbuka dan jgn pake prinsip "g mau begini lo mau apa" pasti ga masalah kok.
Mang napa ya bahas masalah orang mau kawin ??
Bener mang, anda gak ada masalah kawin ama siapa aja. Yang ada masalah mungkin yang anda mau kawini? ha ha ha
kawin ama bantal kayaknya lebih gak bermasalah mang..
emang gak ada guna bahas masalah yang gak ada hubungan langsung, tapi yang nanyain ini ada masalah, kalau nggak dia nggak nanya..
setuju mang Tarto?
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, Tarto Waseto <twasey@...> wrote:
>
> Mang napa ya bahas masalah orang mau kawin ??
> Mau kawin sama siapa saja ya sama saja, selama yg mau di kawinin itu masi manusia ya ??
>
> Daripada di luar negeri ada orang yang kawin ma bantal nya ????? wkwkwkwk....
>
> Selama dua orang yang berkomitmen untuk bersama sampai usia tua, dan bersama sama bisa bahagia saat hidup bersama, merasakan suka duka bersama sama, Seorang suami bersikap sebagai suami dan seorang istri bersikap sebagai istri, anak sebagai anak, semuanya tidak akan jadi masalah, apakah mau kawin ama orang tionghoa, atau jawa atau batak, atau bule, atau negro, atau orang eskimo ???
>
> Tidak perlu bahas masalah masalah yang lain lah yg tidak berhubungan langsung.
>
> Setuju rekan rekan ???
> Kalau setuju, ya case close, daripada ntar diskusinya malah mengarah ke topik SARA.
>
>
>
> --- On Sun, 10/25/09, younginheart5000 <crv118@...> wrote:
>
> > From: younginheart5000 <crv118@...>
> > Subject: [budaya_tionghua] Re: perkawinan campur...nimbrung
> > To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
> > Date: Sunday, October 25, 2009, 8:05 PM
> > masalah yang timbul dalam persilangan
> > antara non Tionghoa dan Tionghoa adalah a) etnisitas dan b)
> > agama. sekali pukul dua ha ha ha.
> >
> > jadi kalau agama sama, misalnya sama sama Kristen atau sama
> > sama Islam, sudah berkurang halangan.
> >
> > halangan dalam bentuk tingkat sosial ada dimana-mana, juga
> > antar non Tionghoa, atau antar Tionghoa.
> >
> > lain hal, bro Nasir (atau Natsir?), bagaimana dengan anda:
> > diantara Muslim non Tionghoa, dan Tionghoa non Muslim. OK OK
> > saja?
> >
> > supir saya, pemuda Tionghoa Muslim (ibunya non Tionghoa),
> > dia tak ada masalah dengan penduduk setempat, tetapi repot
> > dengan saudara saudara pihak Tionghoa yang Konghucu.
> >
> >
> >
> > --- In budaya_tionghua@yahoogroups.com,
Nanya ama yang menanyakan soal ini..
emang sama aja, tapi tetap ada yang menghadapi masalah, buktinya ada yang nanya..
bahas Sara? si Yuni Sara?
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, Tarto Waseto <twasey@...> wrote:
>
> Mang napa ya bahas masalah orang mau kawin ??
> Mau kawin sama siapa saja ya sama saja, selama yg mau di kawinin itu masi manusia ya ??
>
> Daripada di luar negeri ada orang yang kawin ma bantal nya ????? wkwkwkwk....
>
> Selama dua orang yang berkomitmen untuk bersama sampai usia tua, dan bersama sama bisa bahagia saat hidup bersama, merasakan suka duka bersama sama, Seorang suami bersikap sebagai suami dan seorang istri bersikap sebagai istri, anak sebagai anak, semuanya tidak akan jadi masalah, apakah mau kawin ama orang tionghoa, atau jawa atau batak, atau bule, atau negro, atau orang eskimo ???
>
> Tidak perlu bahas masalah masalah yang lain lah yg tidak berhubungan langsung.
>
> Setuju rekan rekan ???
> Kalau setuju, ya case close, daripada ntar diskusinya malah mengarah ke topik SARA.
>
>
>
> --- On Sun, 10/25/09, younginheart5000 <crv118@...> wrote:
>
> > From: younginheart5000 <crv118@...>
> > Subject: [budaya_tionghua] Re: perkawinan campur...nimbrung
> > To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
> > Date: Sunday, October 25, 2009, 8:05 PM
> > masalah yang timbul dalam persilangan
> > antara non Tionghoa dan Tionghoa adalah a) etnisitas dan b)
> > agama. sekali pukul dua ha ha ha.
> >
> > jadi kalau agama sama, misalnya sama sama Kristen atau sama
> > sama Islam, sudah berkurang halangan.
> >
> > halangan dalam bentuk tingkat sosial ada dimana-mana, juga
> > antar non Tionghoa, atau antar Tionghoa.
> >
> > lain hal, bro Nasir (atau Natsir?), bagaimana dengan anda:
> > diantara Muslim non Tionghoa, dan Tionghoa non Muslim. OK OK
> > saja?
> >
> > supir saya, pemuda Tionghoa Muslim (ibunya non Tionghoa),
> > dia tak ada masalah dengan penduduk setempat, tetapi repot
> > dengan saudara saudara pihak Tionghoa yang Konghucu.
> >
> >
> >
> > --- In budaya_tionghua@yahoogroups.com,
selamat sore semua ![]()
mohon maap jika ada kata menyinggung atau berkesan sara,
intinya sy berterima kasih atas semua apresiasi yg diberikan terhadap pertanyaan sy...
dengan pertimbangan agar tidak terjadi perselisihan yg lebih lanjut,
sy memutuskan untuk menutup topik ini...
semoga hari ini menjadi hari yg baik untuk anda semua ![]()
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "younginheart5000" <crv118@...> wrote:
>
> Nanya ama yang menanyakan soal ini..
>
> emang sama aja, tapi tetap ada yang menghadapi masalah, buktinya ada yang nanya..
>
> bahas Sara? si Yuni Sara?
>
>
>
> --- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, Tarto Waseto twasey@ wrote:
> >
> > Mang napa ya bahas masalah orang mau kawin ??
> > Mau kawin sama siapa saja ya sama saja, selama yg mau di kawinin itu masi manusia ya ??
> >
> > Daripada di luar negeri ada orang yang kawin ma bantal nya ????? wkwkwkwk....
> >
> > Selama dua orang yang berkomitmen untuk bersama sampai usia tua, dan bersama sama bisa bahagia saat hidup bersama, merasakan suka duka bersama sama, Seorang suami bersikap sebagai suami dan seorang istri bersikap sebagai istri, anak sebagai anak, semuanya tidak akan jadi masalah, apakah mau kawin ama orang tionghoa, atau jawa atau batak, atau bule, atau negro, atau orang eskimo ???
> >
> > Tidak perlu bahas masalah masalah yang lain lah yg tidak berhubungan langsung.
> >
> > Setuju rekan rekan ???
> > Kalau setuju, ya case close, daripada ntar diskusinya malah mengarah ke topik SARA.
> >
> >
> >
> > --- On Sun, 10/25/09, younginheart5000 crv118@ wrote:
Tenang, tenang, zis.
Tak ada masalah sara disini. Pertanyaan anda sangat wajar. tokoh Nabil juga bicara mengenai "penerbukan silang".
Tak ada pertemuan etnis di Indonesia tanpa ada yang berani persilangan. unsur sara selalu ada, dimanapun, juga di Eropa dan USA.
Hadapi, jangan kita sembunyi..
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "cristine_mandasari" <cristine_mandasari@...> wrote:
>
> selamat sore semua [:)]
> mohon maap jika ada kata menyinggung atau berkesan sara,
> intinya sy berterima kasih atas semua apresiasi yg diberikan terhadap
> pertanyaan sy...
> dengan pertimbangan agar tidak terjadi perselisihan yg lebih lanjut,
> sy memutuskan untuk menutup topik ini...
> semoga hari ini menjadi hari yg baik untuk anda semua [:)]
>
>
>
>
> --- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "younginheart5000" <crv118@>
Kids, family & home
Join the discussion
Check out the Auto Enthusiast Zone.
Kalo gak salah anak Pak Harto yang bernama Sigit itu merid ama anaknya OmLiem ( cewek ), makanya biasa kan orang2 bilang Pak Harto ama Om Liem besanan...:-). Demikian yang saya dengar teman-teman. Kalo ini salah, berarti informasi ini bisa diralat.
--- On Mon, 10/26/09, Akhmad Bukhari Saleh <absaleh@indo.net.id> wrote:
|
|
| Untung aja saya gak dekat ama Pak Sigit, kalo dekat dah ditertawain..tapi banyak tau seperti itu. Pak Harto dan Om Liem besanan....hehehe |
--- On Mon, 10/26/09, Akhmad Bukhari Saleh <absaleh@indo.net.id> wrote: |
|
Date: Monday, October 26, 2009, 10:51 PM |
|
|
|
Kalau teman2 saya yg tahu sigit beristri elsye, masih men duga2: mungkin dijadikan isteri keduanya..
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Check out the Auto Enthusiast Zone.
hehehehe... sy jadi bingung mw ngomong apa![]()
mungkin frasa "dikembalikan ke pribadi masing2" dapat dijadikan argumen yg tepat? terutama untuk diri sy ![]()
makasih atas semua sarannya ![]()
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "younginheart5000" <crv118@...> wrote:
>
Host a free online
conference on IM.
soal kawin campur menurut gue itu sangat manusiawi ketertarikan antar lawan jenis itu wajar apalagi dengan beda bangsa dan agama.menurut saya yang terpenting dari kawin campur atau kawin sama sesama adalah jangan terlalu ego alias mau menang sendiri.suatu perkawian yang terpenting adalah saling memahami baik kelebihan da kekurangan serta saling mencintai. Tuhan menciptakan manusia berbeda beda tapi sama.
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "cristine_mandasari" <cristine_mandasari@...> wrote:
>
> hehehehe... sy jadi bingung mw ngomong apa [:p]
> mungkin frasa "dikembalikan ke pribadi masing2" dapat dijadikan argumen
> yg tepat? terutama untuk diri sy [:)]
> makasih atas semua sarannya [:x]
>
>
>
> --- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "younginheart5000" <crv118@>
Sebelum menikah, sebenarnya ada satu ujian penting bagi pasangan lintas golongan, untuk menguji apakah mereka bisa saling toleransi atas perbedaan yg ada, yakni: masalah perbedaan agama!
Jika untuk menikah, salah satu pihak mensyaratkan calon pasangannya pindah agama, ini sudah merupakan indikasi kuat tidak adanya toleransi! Tak usah bicara toleransi untuk hal2 lain2 yg lebih kecil.
Mungkin alasan pindah agama adalah untuk memenuhi persyaratan orang tua, tapi bagi orang yg menghargai pasangannya, untuk mempertahankan prinsip toleransi, dia hrs berani melawan kehendak orang tuanya sendiri. Ini ujian bagi dia, apakah tulus atau tidak?
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Connect and share with
dog owners like you
Yang mau menang sendiri itu malah justru keluarga, terutama ortu. Pasangan yang bersangkutan biasanya siap saling mengalah. Jadi perkawinan silang seringkali sudah terganjal sebelum terjadi.
Kalau halangan tembus, nah giliran pasangan bersangkutan tunjukkan kemampuan bisa menghadapi rintangan yang ada. Biasanya, kalau strata sosialnya sama, lebih mudah, walau agama dan etnis beda.
Tuhan memang menciptakan manusia sama, tetapi demikian lahir, masing masing manusia dikelompokkan beda beda, dari lahir, akta berbeda (dizaman Belanda kantornya juga terpisah antara Eropa, Pribumi dan Timur Asing), kalau menikah berbeda kantor dan akta, kalau mati berbeda akta dan kuburan. Sekarang sekolahpun beda, ada yang banyak peribumi, ada yang kebanyakan bule, ada yang mayo Tionghoa, ada yang untuk anak India. Sekolah yang dikunjungi anak Tionghoa juga beda beda, ada yang Tionghoa Katholik (Ursula), ada yang Tionghoa Kristen (Penabur, IPEKA), ada yang Tionghoa Konghucu (Pahoa).
Wilayah hunian juga beda beda, ada yang kebanyakan pribumi, ada yang 90% Tionghoa, ada yang banyak bulenya (rata rata Expat di Jakarta selatan).
Ada juga hunian baru yang khas untuk Muslim: Konsep lingkungan tempat tinggal yang Islami sejak dua tahun lalu dikonsep oleh Ustaz Arifin Ilham, pengasuh dan pimpinan Majelis Zikir Az Zikra. Bersama sejumlah aktivis lainnya, Arifin Ilham membuat konsep sebuah hunian yang didesain secara Islami, baik arsitekturnya maupun lingkungan kehidupannya. Di dalamnya terdapat simbol-simbol keislaman sekaligus tata pergaulan dan kehidupan yang Islami.
Makin menarik aja ni diskusi. EMANG IYA , pertama-tama toleransi memang harus baik. Tapi saya ada pengalaman unik dengan sodara sepupu saya di Jawa Tengah. Dia Katolik, kebetulan ada Orang Jawa asli teman gereja dia naksir ama dia. Orang Jawa itu baik bangat, tapi tante saya gak mau...ini jeleknya ortu. Mmm....kira2 beberapa tahun berselang sepupu saya itu ketemu dengan Orang Sumatra ( Islam). Entah siapa yang lebih dulu jatuh cinta yang jelas lamaran sampai ke rumah. Eh...malah diterima dan sepupu saya menikah ama Orang Sumatra itu. Walau beda agama tapi sangat harmonis rumah tangganya. Selain harmonis, dengar2 usahanya juga makin maju. Ato jangan2 tante saya bisa meramal juga sehingga dia tau sepupu saya bakal happy ama yang Sumatera itu yak? hehehe...sebab kalo dilihat hubungan sosial , logikanya tante saya harus menerima yang Jawa karena selain sudah menetap di Jawa dari generasi ke generasi, mereka kan masih saling kenal satu sama lain. Nah kalo yang Sumatra kan jauh di mato...tapi mungkin
faktor lain yang sangat menentukan, seperti yang saya pernah katakan... mungkin karena faktor pendekatan yang kurang meyakinkan.......makanya langsung direject......hehehe....ampe segitunya. |
|
--- On Tue, 10/27/09, zhoufy@yahoo.com <zhoufy@yahoo.com> wrote: |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Host a free online
conference on IM.
Ada beberapa kasus tragedy yang terjadi pada beberapa petempuan Tionghoa yang dinikahi oleh pria beragama tertentu. Setelah “digituin” dan diporotin hartanya, barulah sang istri malang dipaksa memeluk agama terakhir dan terbenar menurut sebagian pemeluknya dan yang keterlaluan lagi adalah harta porotan itu dipakai untuk menikahi istri kedua. Betapa sengsaranya sang istri yang telah terlanjur “ternoda” dan terbenam dalam lumpur kehinaan keluarga besarnya sendiri. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Tapi ada juga sih kasus sukses berumah tangga antara perempuan Tionghoa dan etnis Jawa Islam. Sang suami tetap membiarkan istrinya beragama semula dan hidup tenteram damai bersama beberapa anak yang beberapa di antaranya telah berhasil menjadi sarjana (hasil beasiswa), meskipun mereka hidup secara sederhana. J
Sebelum menikah, sebenarnya ada satu ujian penting bagi pasangan lintas golongan, untuk menguji apakah mereka bisa saling toleransi atas perbedaan yg ada, yakni: masalah perbedaan agama!
Jika untuk menikah, salah satu pihak mensyaratkan calon pasangannya pindah
agama, ini sudah merupakan indikasi kuat tidak adanya toleransi! Tak usah
bicara toleransi untuk hal2 lain2 yg lebih kecil.
Mungkin alasan pindah agama adalah untuk memenuhi persyaratan orang tua, tapi
bagi orang yg menghargai pasangannya, untuk mempertahankan prinsip toleransi,
dia hrs berani melawan kehendak orang tuanya sendiri. Ini ujian bagi dia,
apakah tulus atau tidak?
Sent from
my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
From: "Bagus" <bagussugiono@yahoo.com>
Date: Wed, 28 Oct 2009 02:34:08 -0000
To: <budaya_tionghua@yahoogroups.com>
Subject: [budaya_tionghua] Re: perkawinan campur...nimbrung
soal kawin campur menurut gue itu sangat manusiawi
ketertarikan antar lawan jenis itu wajar apalagi dengan beda bangsa dan
agama.menurut saya yang terpenting dari kawin campur atau kawin sama sesama
adalah jangan terlalu ego alias mau menang sendiri.suatu perkawian yang
terpenting adalah saling memahami baik kelebihan da kekurangan serta saling
mencintai. Tuhan menciptakan manusia berbeda beda tapi sama.
| Iya, sebaiknya begitu. Kalau misalnya Anda mempunyai masalah di perkawinan/pernikahan Anda, mungkin jangan di diskusikan secara ramai ramai. Sebaiknya mencari seorang konsultan atau seseorang yang dapat dipercaya. (Atau pertanyaan Anda adalah iseng, sekedar ikut ber partisipasi ? :p Ok, gpp ) Di setiap perkawinan/pernikahan, pasti selalu terdapat masalah (biasanya dianggap sebagai 'bumbu' pernikahan :p ). Bukan berarti apabila kita melakukan pernikahan/perkawinan yang mungkin dari suku yang sama, atau agama yang sama, atau mungkin pandangan yang sama atau "jenis yang sama" ??? (hahahah... becanda).. maka kita tidak akan menghadapi masalah apapun. Dulu Yana Julio pernah menulis di lagunya : "Bukankah cinta datang untuk menyatukan dua hati (dunia) yang berbeda"... Ada juga yang pernah menyatakan bahwa " Berbeda itu Indah"., dst.. PS : Pisss utk rekan2 yg sudah memberikan tanggapan. Salam Kenal :) Yoi ... ^_^ --- On Mon, 10/26/09, cristine_mandasari <cristine_mandasari@yahoo.com> wrote: |