TTM BT semuah,
Hai, apakabar? Sudah makan (sahur)?
Sorry, memang saya pendoyan makan enak, jadi kalau bicara budaya
tempatan (lokal), tentu ujung-ujungnya ya ttg makanan lagi yang sa-
ya bicarakan. Kalau ada yang tidak berkenan, tolong di-skip ajah ya.
Sebelum saya ke Medan, saya besar di Cirebon dan kuliah di Yogya, se-
ring main ke rumah saudara di Solo, teman-teman banyak yang dari
Semarang, Surabaya dan di asrama saya bergaul dengan hampir sega-
la suku di Indonesia dan Tionghua dengan dialek berbeda-beda.
Jadi, kebiasaan kami di Cirebon, juga orang-orang di kota-kota di Ja-
wa adalah dalam tata cara makan bakmi, baik bakmi ayam maupun bak-
mi goreng. Umumnya, kami makan bakmi sebagai 'lauk', jadi bakmi di-
makan bersama nasi. Tentu saja ada perkecualian, dalam arti ada bebe-
rapa teman kita dari kota-kota di Jawa yang cuma 'menggado' bakmi
tanpa nasi waktu makannya. Meng'gado' ada istilah untuk makan lauk
tanpa nasi, misalnya makan sate ayam tanpa lontong, satenya doang.
Waktu saya masih SMP, ya-myen mulai populer di Cirebon, begitu juga
di Bandung. Sebagian teman dari Jawa menyebutnya mie pangsit, walau
tanp tambahan pangsit sekalipun. Ada beberapa variasi ya-myen, ada
yang 'asin' ada yang 'manis' (diberi kecap manis), ini umum di Bandung
dan di Cirebon. Juga ada mie ti-tee, diberi kaki babi masak kecap se-
bagai 'bak'nya, bukan ayam cincang masak kecap. Tapi, itulah, waktu
itu saya dan teman-teman di Cirebon selalu pesan nasi putih lagi un-
tuk makan bersama bakmi-nya. Kalau ada kedai tak menyediakan na-
si putih (biasanya orang dari Sumatera yang berdagang), kami sengaja
bawa nasi dari rumah. Si encek atau encim-nya pasti ketawa dalam hati.
Jadi, waktu saya tinggal di Medan, saudara angkat saya (akhirnya saya
diajak menginap balik ke rumah mereka) merasa heran. Anak-anaknya
yang 5 lelaki semua, memanggil saya dengan 'ciu-ciu' (a-kiu) - paman,
juga mentertawakan saya ketika makan bakmi ayam dikasih nasi. Saya
bilang kenapa? Lha memang begitulah cara kami makan di Jawa.
Tapi, lama kelamaan, saya akhirnya mengikuti gaya mereka makan bak-
mi: tanpa nasi. Bukan apa-apa, sebab biasanya memang kedai bakmi
pan ndak menyediakan nasi putih. Di Medan pula saya mulai belajar ma-
kan bakmi dengan tambahan sayur berupa toge (tokol), pantas orang-2
Medan subur-subur ya, lha katanya toge membuat anda subur, jeh! :D)
Jangan lupa disebut acar cabe rawit hijau dan merah sebagai kondimen
makan bakmi ayam di Medan, aahh, sedapnya itu, bung!
Dan, saya juga belajar makan bakmi ayam sebagai sarapan, agak siang
sudah tidak ada lagi yang jual bakmi ayam. Paling ada beberapa yang
jual bakmi ayam (di Jalan Selat Panjang?) malam hari sebagai 'supper'.
Sementara di Cirebon, tidak ada yang jual bakmi ayam sebagai menu
sarapan. Bukan apa-apa, mereka lebih suka sarapan dengan menu lo-
kal semisal nasi lengko, nasi Jamblang atau docang.
Kwetiau juga saya belajar makannya di Medan. Jarang atau bahkan tidak
ada menu kwetiau di kedai makanan di Jawa (kecuali mungkin jakarta)
pada waktu itu. Sekarang sih, tentu sudah ndak asing lagi orang Jawa
makan kwetiauw, yang suka disebutnya sebagai 'mi-tio' atau mie-tiaw
oleh abang-abang penjaja mie tek-tek keliling door-to-door itu. Saya
Koq menduga, kayaknya kwetiau di Jawa itu pengaruh kuat dari Medan.
Buat saya pribadi, yang paling berkesan ttg Medan adalah makanannya.
Kodok-nya gede-gede (sak-lon?), kerang-nya jangan ditanya, kakap
merah segede tampah, nasi hai-nam-nya pake acar jahe, laksa ikan-
nya sedap sekali oii, dan entah apa lagi, banyak yang sudah lupa.
Begitulah saja ya, kira-kira cuap-cuap dari saya.
Kalau ada salah, tolong diperbaiki, kalau kurang ya sila ditambahkan.
Salam makan enak dan sehat bermanfaat,
Ophoeng
BSD City, Tangerang
Koh Ophoeng,
Setahu saya bakmi yang dimakan pakai nasi adalah yang digoreng,
sedangkan yang dimasak kuah digado saya. Paling tidak itu kebiasaan
yang saya amati di Jawa
Salam
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "Ophoeng" <ophoeng@...> wrote:
> wa adalah dalam tata cara makan bakmi, baik bakmi ayam maupun bak-
> mi goreng. Umumnya, kami makan bakmi sebagai 'lauk', jadi bakmi di-
> makan bersama nasi. Tentu saja ada perkecualian, dalam arti ada bebe-
> rapa teman kita dari kota-kota di Jawa yang cuma 'menggado' bakmi
> tanpa nasi waktu makannya. Meng'gado' ada istilah untuk makan lauk
> tanpa nasi, misalnya makan sate ayam tanpa lontong, satenya doang.
>
> Waktu saya masih SMP, ya-myen mulai populer di Cirebon, begitu juga
> di Bandung. Sebagian teman dari Jawa menyebutnya mie pangsit, walau
> tanp tambahan pangsit sekalipun. Ada beberapa variasi ya-myen, ada
> yang 'asin' ada yang 'manis' (diberi kecap manis), ini umum di Bandung
> Salam makan enak dan sehat bermanfaat,
> Ophoeng
> BSD City, Tangerang
>
Mie "Tiongsim"
Mie jenis ini cukup terkenal. Di Jakarta salah satu tempat makan mie
tiongsim yang ramai adalah di jalan mangga besar. Mie tiongsim
bentuknya lurus-lurus dan agak halus.
Tiongsim / Zhong Xin artinya tengah hati. Maksudnya adalah mie
tiongsim ciri khasnya adalah pusat untaian mie tersembunyi di
tengah-tengah gumpalan (bulatan ?) mie. Jadi kalau mau cari ujung
mienya harus bongkar-bongkar ke tengah.
Barangkali bung Ophoeng STM (spesialis tukang makan) kita ada info
lebih lanjut mengenai berbagai jenis mie ?
Hormat saya,
Yongde
Lamian, bakmi halal.
La-mian, artinya mie yang ditarik-tarik adalah mie khas orang Hui.
Daerah pusat lamian adalah di Lanzhou, provinsi Gansu. Di Indonesia
lamian juga lumayan populer.
Ciri khas la-mian adalah pembuatan mie nya ditunjukkan kepada pembeli.
Lamian langsung dibuat dari adonan ketika dipesan, ditarik-tarik oleh
si koki. Tarikan setiap koki berbeda-beda dan ini mempengaruhi cita
rasa dan kualitas mie-nya. Selain, tentu saja, bahan yang dipakai.
Ciri khas lamian berikutnya adalah memakai kuah kaldu sapi atau
kambing / domba. Sesuai kepercayaan orang Hui, tidak ada lamian yang
memakai kuah babi, kecuali lamian jadi-jadian. Yang memakai kuah ayam
juga jarang. Justru kaldu sapi/kambing/domba dan irisan daging sapi
adalah ciri khas lamian.
Variasi lamian adalah daoxiaomian, adonan dan kuahnya sama. Tetapi
cara pembuatannya bukan ditarik-tarik, melainkan diiris-iris dengan
pisau. Jadi adonan yang bulat diiris-iris menjadi bentuk mie.
Di Jepang, lamian dikenal sejak jaman restorasi meiji dan kemudian
diganti label menjadi Ramen. Nah kalau ramen jepang banyak yang memang
tidak halal. Ramen Jepang juga populer di Indonesia.
Hormat saya,
Yongde
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "Hendri Irawan" <henyung@...>
wrote:
>
> Mie "Tiongsim"
>
> Mie jenis ini cukup terkenal. Di Jakarta salah satu tempat makan mie
> tiongsim yang ramai adalah di jalan mangga besar. Mie tiongsim
> bentuknya lurus-lurus dan agak halus.
>
> Tiongsim / Zhong Xin artinya tengah hati. Maksudnya adalah mie
> tiongsim ciri khasnya adalah pusat untaian mie tersembunyi di
> tengah-tengah gumpalan (bulatan ?) mie. Jadi kalau mau cari ujung
> mienya harus bongkar-bongkar ke tengah.
>
> Barangkali bung Ophoeng STM (spesialis tukang makan) kita ada info
> lebih lanjut mengenai berbagai jenis mie ?
>
> Hormat saya,
>
> Yongde
>
Bung Yongde dan TTM semuah,
Hai, apakabar? Sudah makan (sahur)?
Hehehe.... sesuai dengan julukan yang Bung Yongde beri kepada saya,
STM - Spesialis Tukang Makan, bener adanya bahwa sata mah spesial
tukang makan doang, jadi kalau ditanya asal-usul dan sejarah budaya
bakmi dan makan bakmi-nya, tentu saja cuma bisa pasang senyum.
Bener la-myen (mending pakai 'Y", kalau pake 'I', orang sering bacanya
'min' seperti pada 'amin' gitu ya) itu atraktip banget, makanya suka di-
jadikan acara show demo oleh si resto. Saya pertama lihat demo orang
bikin la-myen ketika ikut city tour di HK. Sekitar tahun 1989-an. Pas
dapat insentip dari kantor, jalan-jalan lihat pameran.
Saya baru tahu kalau la-myen asalnya dari suku Hui yang mayoritas ti-
dak makan babi, sebab mereka muslim? Juga baru tahu nama resminya
'la-mian' kemudian jadi 'ramen' di Jepang. Terima kasih atas info yang
Bung Yongde bagi di milis kita.
Ada sejenis proses yang mirip la-mian, hasilnya lebih lembut, dibuat
dari caramel, yang namanya kalau ndak salah 'dragon beard' candy. Ca-
ra bikinnya persis sama dengan la-mian, hanya saja bahannya gula
caramel(?), yang dihasilkan adalah serat-serat halus, tipis, mirip jeja-
la laba-laba halusnya. Konon merupakan cemilan para bangsawan ja-
man dulu, juga para kaisar tentunya.
Cara membuatnya, sebongkah caramel ditarik-tarik, diurai-urai, de-
ngan batuan tepung, menjadi seutas tali tebal, diurai-urai lagi, dan
seterusnya sampai menjadi benang halus sekali. Perlu latihan dan ke-
tekunan tersendiri yang telaten. Tapi, hasil karya seni yang bisa dise-
but sebagai 'adi luhung' itu pada akhirnya 'cuma' jadi pembungkus ka-
cang tanah tumbuk, jadi mirip moci gitu ajah.
Sila lihat link-nya:
http://www.yuzumura.com/bamboogarden/master8mb.wmv
http://www.youtube.com/watch?v=0UCRthtq49Y
http://en.wikipedia.org/wiki/Dragon's_beard_candy
Back to bak-mie.
Saya baru tahu kalau Bakmi Tiong-sim itu asalanya dari kata 'tengah
hati, saya kira itu cuma nama merek dagang atau nama boss-nya aja.
Rupanya ada filsafat di balik bakmi Tiong-sim.
Saya cuma tahu bakmi berdasarkan yang dagangnya ajah, bakmi Me-
dan misalnya, saya berlangganan yang di Krekot itu (masuk gang) de-
kat Metro Pasar Baru, sejak 1977 ketika pertama kali datang Jakarta.
Belakangan baru tahu kalau mereka punya cabang yang dikelola sau-
daranya di Pasar Pagi (area Jelakeng) dan di Daan Mogot, di ruko de-
kat-dekat Indosiar situ. Katanya ada 2 lagi, satu di Muara Karang (pa-
sar?) dan satu lagi sudah balik Medan.
Ciri khas mereka adalah memakai cincangan babi kecap. Juga disedia-
kan aneka masak kecap seperti sayap ayam, telur, ati-ampela, kulit
babi dan usus(?). Ciri lain adalah mereka tidak memasang papan na-
ma. Tanpa nama begitu. Belakangan baru dipasang nama Bakmi Kre-
kot, itupun cuma yang di Daan Mogot saja. Yang di Krekot dan Jela-
keng tetap tanpa nama.
Bakmi keriting Siantar, yang di Pluit juga termasuk khas. Pakai babi
juga, di samping ayam masak kecap. Juga ada kondimen berupa 'ba-
yu-po' (ampas minyak babi - no good for your health) yang semula
diberikan gratis, belakangan mereka mengenakan biaya 'pengganti'
mengolahnya. Ini bakmi keriting kalau menurut saya pribadi, terma-
suk bakmi 'genit', lha kalau menjadi keriting begitu, tentunya kudu
ke salon dulu tuh ya?
Bakmi Hok-kian termasuk favorit saya. Ini bakmi mirip bihun tapi le-
bih tebal, warnanya putih, lebih lembut dari bakmi kuning biasa. La-
lu yang penting diperhatikan adalah isiannya: kumplit sagalana aya.
Semuanya ada: ada bakso ikan, ayam, babi kecap, kaki babi masak
kecap dirajang, kee-kian, dan lain-lain, jangan lupa togenya, bung!
Mong-omong bakmi berbabi, kayaknya kebanyakan penjaja bakmi
babi, dengan babi panggang merah, biasanya cuma basa-basi saja
menyandingkan di atas bakmi-nya. Dagingnya dicincang kadang ke-
lewat halus, sehingga cuma jadi selilit di gigi, ibaratnya. Di Pasmo
BSD (sorry, ndak bermaksud promosi ya, jangan ada yang tersing-
gung sebab saya suka nyebut BSD), ada satu kedai bernama Akay,
juwalannya all about babi. Bakmi babi merah putih, misalnya, isi
babinya bener-bener 'show off', dengan potongan babi gede-2
ukurannya, samcwan dan char-siu. Juga jual sekba, siomai babi,
bakso babi, pokokna mah babi kararabeh, jeh!
Yah, begitulah sajah kira-kira.
Kalau ada salah tolong dikoreksi, kalau kura sila ditambahkan.
Salam bakmi berbabi nan enak,
Ophoeng
BSD City, Tangerang
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "Ophoeng" <ophoeng@...> wrote:
>
> Bung Yongde dan TTM semuah,
> ---------- deleted----------
**** Mari kita perdalam persilatan per-bakmi-an kita.
Waktu saya kecil, 50an sampai awal 60an, saya terbiasa makan bakmi
yang dijual di resto resto Tionghoa di Jawa, terutama di pantura.
Pekalongan, Cirebon, Semarang. Ehh juga sampai kepedalaman: Jogya,
Madiun, Ngawi..
Bakmienya tebal tapi lembut, pakai kecap manis, pakai tauge. Mohon
info suhu suhu David Kwa dan Kin Hian, apakah ini warisan dapur
Hokkian?
Di luar negeri berPULUH tahun, saya kehilangan jejak, karena di
konfrontasi dengan masakan Tionghoa di LN. Di Jerman, Austria dan
Swiss super tak enak! Mereka ini mengadaptasi bakmi untuk lidah bule
yang semrawut dan menurut saya kurang berbudaya kuliner Asia. Semua
dibanjiri sauce kental tajin kecoklatan. hanya dagingnya ganti ganti:
ayam, babi atau sapi.
Ketika business trip ke pesisir Eropa, Amsterdam, London, dan Paris,
baru saya ketemukan lagi bakmie yang civilized. Terutama di Soho.
Tapi bakminya jauh lebih tipis, daripada yang saya biasa nikmati di
Jateng/Jatim. Tidak pakai sauce tajin ala resto di Jerman-Austria.
dagingnya biasanya babi panggang, putih atau merah, atau saucis
Tionghoa yang coklat kemerahan gendut itu. Kadang kadang saya harus
menyingkir ke resto Vietnam, yang cooknya orang Tionghoa, untuk
mendapatkan fried noodle atau noodle wantan soup.
Di NY, yang namanya China Town, saya temukan bakmi goreng, dimana
noodle-nya tipis sekali, sangat kuning dan liat. Inikah masakan
Guangdong? Ternyata, kalau main ke Jkt, saya datang ke resto seperti
Crystal Jade, Canton Bay dan sejenis, yang background-nya orang
Singapur, ketemu lagi itu bakmi supertipis liat kuning. pakai duck
atau sapi. Saya lalu menghindar ke kweetiauw.
Saya pernah diundang makan sahabat saya, orang Jawa yang istrinya
Tionghoa Jateng, diajak makan Loomie Pinangsia. Terrnyata juga
disiram sauce superkental yang muanisss sekali. Pakai madu ya?
Bakmi yang saya senangi, adalah di Pasar baru: Shuizen. Mirip masa
kecil.
Yang namanya mie Gajahmada dll, saya perhatikan, datang ke Jakarta
awal 1960an, dimana penjual pertamanya digerobak, lewat rumah saya di
Mentang. Penjualnya tak dapat bahasa Indonesia samasekali. wah repot
juga komunikasinya. Tekhniknya tidak digoreng, tetapi diaduk dengan
minyak dan bumbu. Saya juga bingung, yang namanya mie keriting, sebab
hampir semua mie yang tipis itu keriting.
Nah, bagi mereka yang belum pernah coba, saya anjurkan masakan
Minahasa asli, yakni Mie Cakalang. Ini mie rebus, mie-nya tebal
sekali, dengan sayatan daging ikan Cakalang. Mau coba? Silakan datang
ke Chamoe Chamoe, jalan panglima Polim XIX. Katakan yang punya, ibu
Silvy Ratulangie, saya yang rekomendasikan.
Nah, yang namanya Akay itu di BSD persisnya dimana? bakmie goreng?
Oh ya, bytheway per-babi-an, sudah coba sate babi Minahasa? Ada yang
manis, persis sate babi Tionghoa, ada yang pedas, khas makanan orang
gunung alias OrGu (di Jawa kita katakan wong nDeso), enak sekali!
Silakan datang ke Food Court di mal Ambassador di Casablanca. Karena
pembauran Tionghoa Minahasa yang optimal banyak makanan Tionghoa yang
dimodifikasi jadi makanan rakyat. Tentu saja, puncaknya adalah
masakan babi yang dibuat dalam bambu (bahasa Minahasa: di Buluh):
Tino rangsak.
Salam masakan lezat
Danardono
Bagi yang senang bernostalgia, mungkin Restaurant Trio di jalan gondangdiah Menteng perlu dikunjungi. Mungkin Pak Danar sudah pernah kenal?
ZFy
--- In budaya_tionghua@ yahoogroups. com, "Ophoeng" <ophoeng@... > wrote:
>
> Bung Yongde dan TTM semuah,
> ---------- deleted----- -----
> Back to bak-mie.
> Saya baru tahu kalau Bakmi Tiong-sim itu asalanya dari kata 'tengah
> hati, saya kira itu cuma nama merek dagang atau nama boss-nya aja.
> Rupanya ada filsafat di balik bakmi Tiong-sim.
>
> Saya cuma tahu bakmi berdasarkan yang dagangnya ajah, bakmi Me-
> dan misalnya, saya berlangganan yang di Krekot itu (masuk gang) de-
> kat Metro Pasar Baru, sejak 1977 ketika pertama kali datang Jakarta.
> Belakangan baru tahu kalau mereka punya cabang yang dikelola sau-
> daranya di Pasar Pagi (area Jelakeng) dan di Daan Mogot, di ruko de-
> kat-dekat Indosiar situ. Katanya ada 2
lagi, satu di Muara Karang
(pa-
>
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG - http://www.avg.com
Version: 8.0.169 / Virus Database: 270.7.5/1696 - Release Date: 9/28/2008 1:30 PM
Bung ABS, Bung Fy Zhou dan TTM semuah,
Hai, apakabar? Sudah makan (buka)?
Terima kasih atas respon anda berdua, terutama Bung Fy Zhou yang
bilang bukan minatnya terhadap makanan, tapi tetap mau urun rem-
bug ungkapkan ttg resto jadul di Godila - Gondangdia Lama ini. Sa-
ya sangat menghargai respon anda ini, sebab walau ndak minat tapi
tetep ikut bicara.
Kalau boleh saya ikutan nimbrung lagi nih ya...
Saya baru tahu kalau dulu-dulunya Toeng Kwong atawa Tjahaja Kota
itu berlokasi di deket bunderan Patung Tani, dan namanya dulu Kra-
mat Bunder. Memang asyik kalau baca cerita jaman dulu, serasa kita
masuk ke lorong dimensi waktu dan ruang dan tempat lama. Walau
sesudahnya, saya suka merasa pusing ketika balik ke masa sekarang,
tapi tetep sajah asyik sekali mengarungi waktu flash back gitu, jeh!
Trio memang enak-enak makanan-nya, menunya ya itu-itu saja. Sa-
king seringnya anda makan di situ, bisa hapal semua menu yang 'ku-
no' dan khasnya. Katanya dulu Trio didirikan oleh tiga orang sahabat,
saya pernah baca entah di mana. Lalu 2 orang sahabatnya menyerah-
kan ke yang sekarang, untuk terus dikelolanya. Tapi juga ndak jelas
kenapa yang 2 tidak lagi berminat meneruskan kongsinya.
Huzaren sla dan ayam nanking, juga gohiong Trio-nya enak sekali.
Yang unik lagi, waktu seolah berhenti berputar di Trio. background
musiknya masih lagu-lagu lama jaman Patty Sisters, itu kira-kira ta-
hun 1960-an akhir ya?
Resto Trio dan Tjahaja Kota (d/h Toeng Kwong) dua-duanya bisa
terima catering di tempat anda, lengkap peralatan dan orang yang
melayaninya. Dengan order minimal sejumlah tertentu. Waktu saya
masih ngantor di Cikini, suka pesen mereka untuk makan rame-2
di kantor bersama teman-teman termasuk para bule expat-nya.
Resto di sebelahnya yang 'bersaudara', mungkin yang Bung ABS mak-
sud adalah Paramount ya? Agak jauh sekarang lokasinya. Menunya
memang agak-agak mirip, tapi saya tetap lebih suka makan di Trio,
walau panas tanpa AC, dan dikerubungi tukang ngamen dan tukang
semir dan tukang majalah. Paramount banyak yang sewa untuk pes-
ta pernikahan. Tempatnya memang luas dan bertingkat plus AC.
Resto Toeng Kwong benar menunya hampir sama-sama jadul, tapi
lebih ke arah Chinese food condongnya, sementara Trio lebih banyak
condong ke menu 'peranakan'(?) yang ada pengaruh Belanda-nya.
Harga masih lebih murah di Trio, walau sekarang Trio tidak bisa di-
golongkan sebagai resto dengan harga murah lagi.
Yang jadul juga, mungkin bisa disebut Tan Goei di Menteng. Atau ka-
lau mau bergaya sederhana mirip Trio, ada satu di kawasan Senen. Ma-
suk jalan kecil, namanya A-nam (atau Paknam, lupa lagi). Kuno banget
dan menunya tidak banyak. Spesial mereka adalah pangsit masak (lu-
pa nama persisnya). Patut dicoba punya, sebab tidak ada resto yang
menyediakan menu begitu.
Siauw A Tjiap juga mungkin bisa digolongkan jadul. Spesialnya tentu
saja belut cah fumak. Yang otentik kayaknya yang di Pintu Besar Se-
latan. Pernah buka di BSD tapi pas BSD belum berkembang, jadi su-
dah tutup lagi digantikan Resto Padang. Padahal sekarang BSD (sori,
nyambung BSD lagi ya) banyak dikepung resto-resto di mana-mana.
Waktu Glodok Plaza belum dibangun, dulu di kawasan Pinangsia situ,
yang sekarang jadi Plaza Pinangsia(?) pusat komputer itu, ada satu ke-
dai soto ayam Kadipiro atau apa. Lokasinya di rumah-rumah gemeente
yang kayaknya dulu merupakan perumahan eks Belanda (sipir?). Dekat
situ tentu kudu mampir juga ke Resto Panggang Ayam Malang (mana
ada ayam dipanggang merasa 'bahagia' ya?), termasuk jadul juga.
Jangan lupa Eka Ria dan Angke, juga di Kebayuran Lama ada Nico, ka-
tanya Eka Ria dan Nico itu favorit Oom Liem ya. Satu lagi di Gunungsa-
hari, deket showroom Volvo, ada yang jual spesial sekba, kuno juga.
Bagaimana Nasi Tim Baharu di Mangga Besar?
Kalau yang tendaan, saya suka kagum dengan Pinokio, masih bertahan
sampai sekarang, tetap setia menjajakan ayam bakar. Sekarang mereka
mangkalnya di Samanhudi, malam saja, di depan Resto Bakmi Permata.
Juga di sekitar situ ada Nasi Uduk Kota Intan, Soto Kudus, dan sate +
sup kambing bening (sebelah Pinokio) yang sudah ada sejak tahun 70-
an, bertahan terus sampai sekarang mungkin sudah generasi ke-3?
Itu saja yang saya masih ingat, barangkali ada yang bisa dan mau me-
nambahkan? Silakan saja. Eh, barangkali ada yang tahu, kenapa Blue
Ocean (BO) tutup ya? Padahal itu resto dulu kayaknya laris tuh?
Halah, kalau sudah bicara resto, saya selalu senang melanjut-lanjut,
sampai suka ndak ingat ada yang ndak suka ya. Sorry, kalau ternyata
tidak berkenan di hati anda ya.
Begitu ajah sih ya.
Sila koreksi kalau ada yang salah, dan tolong tambahkan kalau kurang.
Salam makan enak dan sehat,
Ophoeng
BSD City, Tangerang
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "Akhmad Bukhari Saleh" <absaleh@...>
wrote:
Restoran Trio ini, langganan saya dari kecil, unik.
Sebetulnya dia sudah meningkat jadi suatu restoran mewah, yaitu yang disebelahnya.
Tetapi untuk yang masih kepingin makan di resto tanpa AC dengan debu jalanan ikut
masuk piring, he he he... resto yang lama masih tetap dibuka.
Menunya agak sedikit beda, tapi dua-duanya enak.
Saingan Trio ini, saingan dalam arti jenis menu mirip, adalah Toeng Kong di bundaran
Kramat Bunder yang sekarang tempat Patung Pak Tani.
Waktu Bung Karno memasang patung tersebut di bundaran itu, resto ini pindah beberapa
ratus meter ke arah Barat dan berganti nama jadi Tjahaja Kota (mempertahankan inisial
"TK"-nya).
Wasalam.
========================
----- Original Message -----
From: Fy Zhou
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Sent: Monday, September 29, 2008 11:41 PM
Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Tahu Makannya Doang, Jeh! (Was: Belajar Makan Bakmi
Tanpa Nasi di Medan)
Bagi yang senang bernostalgia, mungkin Restaurant Trio di jalan gondangdiah Menteng
perlu dikunjungi. Mungkin Pak Danar sudah pernah kenal?
ZFy
Bung Dipodipo dan TTM semuah,
Hai, apakabar? Sudah makan (buka)?
Hehehe.... bener sekali, banyakan sih orang makan bakmi goreng
dijadikan lauk makan nasi, jadi kalau pesen nasi rames, sukaan
ada juga warung nasi yang tarokin bakmi goreng sebagai lauknya.
Mungkin dengan alasan bakmi goreng toh juga mengandung bak-
so, kekian, daging, sayur-mayurnya (dan toge, kalau ala Medan).
Tapi, kami di Cirebon dulu, memang suka makan bakmi ayam (ju-
ga ada sayur dan dagingnya) atau ya-myen dengan nasi. Bahkan
satu teman saya masih ingat dia suka pesen satu porsi bakmi a-
yam dengan 2 porsi nasi putih, supaya kenyang.
Bakmi Jawa, umumnya yang dimaksud adalah bakmi berkuah. Sa-
ya pernah ingat waktu di Solo, ada ibu-ibu yang menjajakan bak-
mi jawa cuma dikasih kubis (kol) dan sawi dan brambang goreng
dimasak kecap kering begitu. Yang beli banyakan abang-abang
becak yang suka antar orang ke Pasar Besar, dimakan dengan
kondimen rawit, diklethis langsung sambil makan bakminya.
Waktu satu pabrik mie instant mau mengembangkan rasa mie
instantnya (waktu itu namanya mie instant adalah mie berkuah),
dalam diskusi, kebetulan saya terlibat, saya usulkan membuat
mie goreng ala jawa yang cuma berkecap dan berbumbu saja.
Rupanya usul itu ditanggapi serius dan dicoba, ternyata 'rasa'
mie goreng dalam bentuk mie instant sekarang populer sekali.
Begitu sajah sih ya kira-kira.
Salam bakmi goreng tanpa nasi,
Ophoeng
BSD City, Tangerang
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "dipodipo" <dipodipo@...> wrote:
Koh Ophoeng,
Setahu saya bakmi yang dimakan pakai nasi adalah yang digoreng,
sedangkan yang dimasak kuah digado saya. Paling tidak itu kebiasaan
yang saya amati di Jawa
Salam
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "Ophoeng" <ophoeng@> wrote:
wa adalah dalam tata cara makan bakmi, baik bakmi ayam maupun bak-
mi goreng. Umumnya, kami makan bakmi sebagai 'lauk', jadi bakmi di-
makan bersama nasi. Tentu saja ada perkecualian, dalam arti ada bebe-
rapa teman kita dari kota-kota di Jawa yang cuma 'menggado' bakmi
tanpa nasi waktu makannya. Meng'gado' ada istilah untuk makan lauk
tanpa nasi, misalnya makan sate ayam tanpa lontong, satenya doang.
Waktu saya masih SMP, ya-myen mulai populer di Cirebon, begitu juga
di Bandung. Sebagian teman dari Jawa menyebutnya mie pangsit, walau
tanp tambahan pangsit sekalipun. Ada beberapa variasi ya-myen, ada
yang 'asin' ada yang 'manis' (diberi kecap manis), ini umum di Bandung
Salam makan enak dan sehat bermanfaat,
Ophoeng
BSD City, Tangerang
Bung Danarhadi dan TTM semuah,
Hai, apakabar? Sudah makan (sahur)?
Hehehe... pancen ndak salah kalau di buku cerita silat selalu dikatakan,
di atas bukit masih ada gunung, dalam hal ini, saya yang menjadi lereng
bukitnya, belum bukitnya, dan Bung Danarhadi adalah gunungnya. Sori,
kalau selama ini saya sudah petentengan cuap-cuap di depan Thay-san.
FLASH BACK
Jaman 50-an dan awal 60-an, saya mah masih piyik atuh. Baru juga di-
lahirkan. Tentu saja tidak masuk dalam dimensi waktu dan ruang yang
sama yang Bung Danarhadi alami.
Disebutkan suka makan bakmi di daerah antara lain Cirebon, kalau bo-
leh saya numpang tanya, apakah Bung Danarhadi ada ingat di Cirebon
dulu katanya ada RM Buseng yang katanya sih lumayan top bakminya.
Saya cuma dengar saja ttg resto ini, sebab akhirnya resto ini tutup dan
tempatnya dibeli oleh papah saya untuk dijadikan toko kelontong. Lo-
kasinya di Jalan Pasar Pagi (Siliwangi) d/h Kejaksan, persis di seberang
Pasar Pagi (Jalan Pamitran).
BAKMI BERTOGE
Terima kasih info-nya ttg bakmi goreng yang dikasih toge. Saya baru
tahu ttg hal ini. Yang saya ingat bahwa bakmi di Jawa barat, termasuk
mie goreng dan mie ayam, tidak memakai toge. Baru setelah ada penga-
ruh dari mie Medan (dan Bangka?), kami mengenal bakmi dengan toge.
Tadinya mah paling juga pakai sayur caisim yang standar itu, jeh!
SAUS KENTAL SOKLAT
Kalau di luar negeri bakminya selalu pakai saus kentel, mungkin juga
itu pengaruh si Wok With Yan yang mengkampanyekan 'wonder flour'.
Coba saja ingat-ingat, si Yan dalam Wok With Yan itu, apa-apa saja
selalu diberi 'wonder flour', yang kayaknya sih tepung kanji atawa aci
diencerkan dengan air sedikit. Saya ndak tahu persis, asalnya gaya
masak bersaus kentel ini dari aliran mana di Tiongkok-nya ya.
UKURAN & BENTUK BAKMI
Bakmi tipis atau tebal, sebenarnya tergantung alat atau mesin penca-
cahnya saja. Apakah itu pengaruh budaya suatu daerah tertentu? Bisa
saja terjadi begitu. Siapa duluan di daerah situ yang membuat bakmi
yang enak dengan ukuran atau bentuk yang bulat, tebal atau tipis, ja-
di akan ditiru para pengekornya. Lama-kelamaan lantas menjadi sema-
cam ciri khas bahwa daerah situ beralrian bakmi ukuran tebal atau ti-
pis, bulat atau pipih. Begitu juga dengan warna-nya.
Sebagai contoh, bakmi GM termasuk populer dengan 'aliran' bakmi
yang agak lembut, agak gepeng. maka banyak lantas yang coba meni-
ru gaya bakmi seperti itu, termasuk warnanya. Pangsit goreng ala GM
ajah, sekarang banyak ditiru, baik bentuk, tekstur dan warnanya. Ta-
pi ya itu tadi, bisa jadi lantas pangsit goreng model begini menjadi ci-
ri khas pangsit goreng Jakarta, misalnya. Sebab banyak kemudian yang
coba meniru pangsit ala GM, hampir semua resto bakmi ayam membuat
pangsit goreng ala GM begitu, kalau tak salah. Kalau tidak hampir se-
mua, setidaknya ada banyak ya. banyaknya ini, tentu saja yang pernah
saya coba makannya.
Tapi, itu tentu saja menurut pendapat saya yang awam. Bisa saja salah.
LOMIE DAN "LOMIE"
Lomie Pinangsia itu yang pakai kangkung dan taburan daging ayam re-
bus dan babi panggang (persisnya babi bakar), juga taburan brambang
goreng yang cukup berlimpah, disirami saus kental coklat? Kayaknya ma-
nisnya itu cuma pakai kecap manis saja. Penjualnya kelihatan bukan tu-
runan Totok, mirip Tionghua Benteng, jadi mungkin saja itu hasil adap-
tasi dari masakan Tiongkok, tapi sudah tidak jelas dari aliran mana.
Sebutan 'lomie' pada Lomie Pinangsia ini, mestinya agak melenceng da-
ri pakem 'lomie' yang lain. Lomie Abadi misalnya, juga Lomie Mikado
di Kebun Jeruk (belakang Hayam Wuruk Plaza), juga mungkin lomie di
resto umum (bukan spesial bakmi), kayaknya isinya adalah mie masak
dengan aneka sayur dan daging yang berlimpah, tidak mesti berkuah
kentel soklat pakai kanji.
Lomie Karet juga menganut faham lomie tidak berkuah kentel, walau
warna kuahnya juga soklat kerana kecap manis.
BAKMI BERKUAH KENTEL
Kalau yang pakai kuah kentel soklat kanji, dari Medan ada emie, yang
diwakili oleh Acuan di Pluit (berjejeran dengan Mie Keriting Siantar itu),
dengan aroma udang (hebi) yang kentel. Mienya dimasak secara 'kocok',
memakai keranjang dari alumunium berlubang-lubang. Kuahnya bener
kentel soklat dari aci (kanji). Diberi sayur (kangkung?) dan toge, diberi
taburan brambang goreng (pengaruh Jawa?) dan telur rebus. Daging-
nya pakai udang walau sekedar basa-basi pakae udang kecil-kecil aja.
Mirip e-mie adalah mie koclok ala Cirebon, pakai siraman kuah kentel
dari aci juga, dengan tambahan santen dan berwarna putih susu. Isinya
tentu saja daging ayam suwir, bawang daun dan brambang goreng dan
sayurnya kol (kubis) dan tokol (toge). Ada kesamaan dalam hal telurnya.
Baik e-mie maupun mie koclok (=kocok) sama-sama setengah telurnya.
saya kadang heran, mungkin ada ya ayam yang bertelur setengah saja?
Hehehe..... just kidding, jeh!
Mie kocok Bandung agak beda, kuahnya encer bening. Pakainya tetelan
sapi dengan urat (koyor?), mirip sotomie di Jakarta (Karang Anyar).
MIE ACEH
Yang sungguh beda mungkin Mie Aceh. memakai mie yang bulat besar,
warnanya kuning. Yang khas mereka adalah rempah bumbunya yang ka-
tanya aneka macam berjumlah puluhan, termasuk daun 'itu'. Variasinya
di isi dagingnya, yang standar adalah daging sapi dan udang ukuran cu-
kup besar (tergantung harga dan restonya), bergaya mie Jawa yang nye-
mek (yang standar) atau bisa kuah dan goreng. Saya pernah lihat di ko-
ran dan di i-net, sekarang ada yang pakai kepiting utuh, dipajang duduk
di atas tumpukan bakmi berrempah dan berkuah nyemek itu.
Sungguh menggiurkan, terutama bagi penggemar kepiting. Ciri khas mie
Aceh itu di rasa pedasnya yang di atas rata-rata. Kalau ndak pedas, ten-
tu itu mah bukan mie Aceh ya. Meniru slogan printer HP: Kalau bukan HP,
itu sih sekedar printer biasa, jeh!
MIE KUAH
Di Hongkong, saya pernah sarapan makan bakmi. Mereka selalu meyi-
rami bakmi dengan kuah yang bisa berwarna soklat (kalau ala angsio)
ataupun bening, tapi selalu pakai kuah. Dan, kalau yang warna soklat,
mestilah aroma saus tiremnya mencolok amis sekali. Apakah itu aliran
bakmi ala Khong-hu (Canton?), saya kira juga tidak. Daging yang dipa-
kai adalah daging babi, dikerat agak besar-lebar-pipih, yang kayaknya
di airport Guang-zhou juga bisa anda temui bakmi ala begitu. Bahkan
bakmi ala Vietnam, khususnya di Pho Hoa Jakarta, bakminya juga ber-
gaya daging keratan lebar tipis begitu.
BAKMI SHUI-ZEN, MIE CAKALANG
Saya ndak ngefans berat ama bakmi, jadi saya baru tahu ada Bakmi Shui-
zen di Pasar Baru. Kapan-kapan kalau pas lewat Pasar Baru dan ingat,
mungkin saya juga mau coba. Juga bakmi Tiongsim di Mangga Besar.
Mie Cakalang, sekarang coba ditiru oleh satu pabrik mie instant, dengan
'rasa' cakalang tapi tentu tidak pakai ikan cakalangnya. Saya pernah coba
tapi ya karena cuma rasanya saja, tidak bisa menentukan apakah itu benar
tiruan yang dekat dengan mie cakalang asli Manado. Cuma aroma amisnya
saja yang paling menonjol. Suatu saat mesti coba mie cakalang yang asli.
Saya mesti catat resto Chamoe-chamoe dengan Ibu Silvy Ratulangie-nya.
Mungkin perlu menyebut nama Bung Danarhadi tiga kali, supaya bisa da-
pat special discount atau bahkan complimentary meals? Hehehe.. kidding!
MIE KERITING & MIE SANTRI
Mie keriting itu sebenernya cuma digulung dan ditekan ketika sudah dica-
cah memakai mesin, jadi mienya memang agak ikal, ndak keriting persis.
Mungkin benar itu semula khas Pematang Siantar? Sebab yang pertama
memperkenalkan mie keriting itu yang di Pluit dengan merek Mie Keriting
P.Siantar. Mungkin juga sekedar taktik dagang bahwa itu mie yang 'beda'.
itu yang saya tahu, bisa saja salah tentu.
Bakmi Permata yang berlokasi di Samanhudi, Kebun Jeruk, Permata Hijau,
kayaknya merupakan 'me too' dari Mie Keriting Siantar. Dengan bakmi ber-
ikal mirip habis dikeriting di salon. Yang unik di Bakmi Permata, mereka
menawarkan menu serba 'santri'. Padahal mereka menjual babi chasauw.
Ketika ditanya apa maksudnya masakan yang diberi 'santri' (ada bakmi go-
reng santri, capcai santri, nasi goreng santri) mereka jawab bahwa itu ma-
sakan tanpa daging, semacam ciacai begitu. Tapi, masaknya mungkin ma-
sih menggunakan minyak babi(?), setidaknya dengan wajan yang sama.
SATE BABI & RESTO AKAY
Sate babi di resto Manado, saya belum pernah coba. Sebab saya kira yang
khas Manado itu bukan di sate babinya. Kalau benar enak, suatu saat saya
mesti coba juga nih.
Sate babi ala Benteng(?), Tangerang, mengkombinasikan sate babai manis
dan sate daging, kulit, usus, ati babi, yang dadak bakar. rasanya sudah per-
nah saya ceritakan waktu ada yang tanya bumbu lengkuas waktu itu. Biasa-
nya mereka memadu-padankan dengan baikut sayur (sawi) asin berkuah.
Dulu di Perniagaan-Kota (dekat pie-oh) di depan gereja ada yang jual, en-
tah sekarang masih ada tidak. Juga di Pecenongan ada yang masih berta-
han. Di Tangerang dan sekitarnya, diwakili oleh Sate Babi Mumu dan Sate
babi Pasar Lama. Dua saingan yang saling bersaing cukup ketat.
Resto Akay persisnya di ruko di kompleks Pasmo BSD - Pasar Moderen BSD.
Dia menjual aneka babi dalam masakan berbeda-beda, bahkan ornamen di
dalam resto-nya, semuanya berbentuk babi aneka gaya yang kocak. Jualan-
nya tidak melulu bakmi, sebab ada nasi juga. Ada sekba yang masak kecap,
bukan sekba 'bektim' yang berkuah itu. Mereka bahkan tidak menjual bakmi
goreng, yang ada mie campur, nasi campur dan bubur. Juga baikut sawi asin.
Sila lihat foto-fotonya di: http://ophoeng.multiply.com/photos/album/206/
SATE LAIN-LAIN
Di Pasmo BSD kalau malam ada banyak penjaja makanan bertenda. Ada bebe-
rapa yang cukup baru jenis makannya: sate tulang (menggunakan tulang pung-
gung ayam yang masih berdaging) yang cukup aneh kerana disandingkan de-
ngan soto Banjar(masin) yang setahu saya tidak pernah berdagang dengan sa-
te ayam, apalagi sate tulang. Juga mulai dipopulerkan adalah nasi bakar, na-
si diberi lauk dan sayur, dibungkus mirip lontong, lalu dibakar. Semacam
pepes nasi yang sudah ada di daerah banten, kalau tak salah.
Sate kuah juga mungkin cukup langka. Ini sate sapi manis, bisa dadak bakar,
bisa pre cooked. Biasany waktu makan, sate itu dipelorotin dulu dari tusuk-
annya, lantas dicelupkan ke dalam kuah soto tangkar yang menjadi hidangan
utama warung soto tangkar ini. Tapi bisa saja sate kuah ini dimakan sebagai
sate biasa, dibumbui kecap saja atau dengan bumbu kacang. Beda dengan sa-
te sapi manis yang ada di Pontianak, misalnya. Sate sapi Ponti ini dihidangkan
(selalu) dengan bumbu kacang dan dimakan dengan lontong, mirip sate ayam
Madura yang sudah lama dikenal.
Sate kambing Bang Wahab di Palem Semi - Karawaci cukup unik, dagingnya di-
buat pipih dan dibakar dengan dua tusukan melebar. Sesudah matang, sate
dilepas dari tusukannya dan digeprek dulu lalu dipotong-potong. Dagingnya
daging kambing, dijual seporsi (sekitar 5-6 tusuk sate kambing normal) dan
ada sup balungan bening. Yang unik lagi adalah mereka cuma buka sore ha-
ri dari pukul 16:00 sampai 18:00 sebab selalu habis dan tidak pernah ada u-
saha untuk menambah kambingnya supaya bisa lebih banyak terima tamu.
BABI DALAM BUMBUNG BAMBU & CHOU-DOUFU
Waktu saya diajak makan seorang teman di Guang-zhou, di satu reto Hunan,
ada juga menu babi dalam bambu, dengan lada sze-chuan yang secara lokal
disebut sebagai 'ma-la' (ma = kebas, la = pedas). Mungkin ada hubungan an-
tara babi dalam bambu di Minahasa dengan masakan ala Hunan tsb.? Saya ti-
dak ingat apakah waktu itu masakannya dihidangkan masih dalam bambu di-
belah atau sudah ditarok di piring, sebab dapurnya menganut sistem tertutup
tidak bisa dilihat dari ruang makan. Juga waktu itu saya justru fokus kepada
hidangan yang cukup melegenda: my first encounter with Chou-doufu, the
stinky tofu.
Chou-doufu ini agak unik, ada satu pakar kuliner yang gandrung pada si ta-
hu mambu (bacin) atawa tahu bau, secara harafiah memang 'chou' = bau (tak
sedap). jadi di milis sebelah, ada yang posting dengan mengatakan bahwa
itu cho tofu (begitu beliau menyebutnya) itu tahu bau. Padahal tu orang me-
mosting juga dari copy paste suatu news blog dari Singapura atau HK. Eh,
nampaknya sang pakar cukup tersentak (kaget) dan tersinggung(?) bahwa
chou doufu disebut tahu bau, tahu mambu. Beliau tidak mengerti huruf kan-
ji, katanya, jadi beliau tidak tahu apa arti cho tofu, tapi dia tidak yakin kalau
itu artinya tahu bau (busuk). padahal mah, kalau saja beliau mau nyari di
google, bung wiki akan menjelaskan ttg si tahu bau itu dalam basa Inggris.
Satu lagi, menurut sang pakar, tahu busuk ini dihidangkan dengan dideh
(darah beku) bebek. jadi mestinya tidak pantas menawarkan cho tofu dalam
suasana puasa. Muslim pan tidak makan darah. Setahu saya sih, umumnya
chou doufu ya dimasak tanpa dideh.
GUNUNG THAYSAN DI DEPAN MUKA TIDAK KELIHATAN.
Dalam hal perbakmian, rasanya saya benar-benar cuma lereng paling bawah
dari sebuah gunung, dibandingkan dengan Bung Danarhadi. Terima kasih se-
kali atas info yang sungguh membuka wawasan saya ini. Kalau tidak berga-
bung dalam milis BT, mungkin selamanya saya tidak tahu ttg sate babi Mina-
hasa yang mirip sate babi manis Tionghua, juga babi dalam bambu itu.
Begitulah saja kira-kira ya.
kalau ada salah tolong dikoreksi, kalau kuran sila ditambahkan.
Terima kasih.
Salam bakmi buatan sendiri tanpa kie,
Ophoeng
BSD City, tangerang
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "danarhadi2000" <danarhadi2000@...>
wrote:
Restaurant Trio??? Iyalahhhhh!
Lha wong saya ajak makan pacar saya doeloe tahun 60an (yang kini jadi
istri) di resto itu. Duit pas pasan tapi petetang petetng ha ha ha
Diawal 60an kalau ayah almarhum traktir kami sekeluarga makan,
kebanyakan di Tung Kong, yang lalu dalam rangka indonesiasi dijadikan
Tjahaja Kota (baca Cahaya Kota).
Tung Kong ini waktoe itoe sudah top topnya. Sekarang Siauw A Ciap
kali ya? atau A Mien di Cipanas? Resto Central di Tomang juga OK.
Salam nostalgia
Danardono
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, Fy Zhou <zhoufy@...> wrote:
>
> Bagi yang senang bernostalgia, mungkin Restaurant Trio di jalan
gondangdiah Menteng perlu dikunjungi. Mungkin Pak Danar sudah pernah
kenal?
>
> ZFy
>
>
>
> ----- Original Message ----
> From: danarhadi2000 <danarhadi2000@...>
> To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
> Sent: Monday, September 29, 2008 7:35:53 PM
> Subject: [budaya_tionghua] Re: Tahu Makannya Doang, Jeh! (Was:
Belajar Makan Bakmi Tanpa Nasi di Medan)
>
>
> --- In budaya_tionghua@ yahoogroups. com, "Ophoeng" <ophoeng@ >
wrote:
> >
> > Bung Yongde dan TTM semuah,
> > ---------- deleted----- -----
>
> > Back to bak-mie.
> > Saya baru tahu kalau Bakmi Tiong-sim itu asalanya dari
kata 'tengah
> > hati, saya kira itu cuma nama merek dagang atau nama boss-nya aja.
> > Rupanya ada filsafat di balik bakmi Tiong-sim.
> >
> > Saya cuma tahu bakmi berdasarkan yang dagangnya ajah, bakmi Me-
> > dan misalnya, saya berlangganan yang di Krekot itu (masuk gang)
de-
> > kat Metro Pasar Baru, sejak 1977 ketika pertama kali datang
Jakarta.
> > Belakangan baru tahu kalau mereka punya cabang yang dikelola sau-
> > daranya di Pasar Pagi (area Jelakeng) dan di Daan Mogot, di ruko
de-
> > kat-dekat Indosiar situ. Katanya ada 2 lagi, satu di Muara Karang
> (pa-
> >
> .
>
What does real food
mean to you?
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "Ophoeng" <ophoeng@...> wrote:
>
> Bung Dipodipo dan TTM semuah,
>
> Hai, apakabar? Sudah makan (buka)?
> Waktu satu pabrik mie instant mau mengembangkan rasa mie
instantnya (waktu itu namanya mie instant adalah mie berkuah),
dalam diskusi, kebetulan saya terlibat, saya usulkan membuat
mie goreng ala jawa yang cuma berkecap dan berbumbu saja.
Rupanya usul itu ditanggapi serius dan dicoba, ternyata 'rasa'
mie goreng dalam bentuk mie instant sekarang populer sekali.
----deleted-------
*** karena saya sangat suka makan, dan tak mau selalu ke resto, maka
saya kembangkan resp pribadi ha ha. Ini juga untuk menghindari makan
Monosodium Glutamate.
Kalau saya mau buat mie goreng, maka saya goreng dulu ayam atau
samcan dengan minyak yang no kolesterol. Saya masukkan bawang merah
(disni bawang Bombay), bawang putih. Lalu saya rebus mie, yang enak
mie basah. Lalu saya masukkan kedalam gorengan ayam atau daging tadi,
saya aduk. Baru saya campur kecap asin, atau minayk ikan (anchovy
sauce), dan finally sayur, kailan atau sawi hijau. kailan disini
mahal atuhh. taburi bawang goreng kering. Bumbu mie instant itu tak
saya pakai. Gak pakai garam, hanya merica.
Salam
Danardono
Kemarin dulu saya baru makan burung dara goreng di Siauw A Ciap yg di
Gajah Mada. Jam 3 sore sepi, hanya saya sendiri pengunjungnya. Tapi
masih enak kok. Kalau Central saya menurut saya rasanya agak lain
dengan Siauw A Ciap, meskipun enak juga.
Menjadi pertanyaan, mengapa tempat2 seperti Siauw A Ciap, dan
sepertinya Tung Kong, menjadi sepi sedangakan makananya masih enak,
menurut saya. Apakah karena selera sekarang sudah berubah, atau ada ha
lain ?
Salam
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "danarhadi2000"
<danarhadi2000@...> wrote:
>
.![]()
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG - http://www.avg.com
Version: 8.0.173 / Virus Database: 270.7.5/1697 - Release Date: 9/29/2008 7:40 AM
Oh ya, Itu Sekbak yang di Gunung sahari dekat Volvo masih buka ngak sih
??, Menurut saya itu Sekbak yang terenak.
Siaw A Tjiap, Lindung Cah Fumak leboh enak di Cahaya Lestari, itu loh
yang dulu dibawah pasar Glodok yang terbakar sehingga pecah jadi dua, di
Tiang Bendera dan di Hawam Wuruk, dekat Hotel Mecury. Sekarang Siaw A
Tjiap dah ada di dekat Puri Indah dan ada di Pluit, tempatnya yang asli
di dekat Glodok ( ada 2 ) masih tetap. Saklon ( kodok batu ) dua2nya
juga enak, tapi kalau Babat lebih enak di Siaw A Tjiap.
Didaerah Pinangsian ada Lo Mie Pinangsia, kata orang yang asli adalah
didepan Gereja Pinangsia, cuma sampai hati ini gua belen ketemu tuh
tempat. Tentunya Lo Mie karet tidak kalah enaknya. Disamping itu Hok
Kien Mie ala Medan di Hayam Wuruk ( ngak jauh dari Delisius or Kopi
Warung Tinggi ) dan Bakmie Pangsit Tiong Sim di Mangga besar, ngak jauh
dari per4an Olimo, itu juga asli medan.
Salam Makan enak he he he
> condong ke menu 'peranakan'( ?) yang ada pengaruh Belanda-nya.
Bung Budiman dan TTM semuah,
Hai, apakabar? Sudah makan?
Sekba-nya saya ndak tahu juga. Sudah lama ndak lewat Gunung Sahari sih.
Yang saya agak lupa-lupa ingat itu Jit Lok Joen, katanya dulu di Jl. KH Wahid
Hasyim, deket Menteng. Juga ingat Tung Lok ndak? Apakah kedua resto ini
masih ada dan ganti nama jadi apa ya?
Babat di Cahaya Lestari (Hayam Wuruk - deket Olimo) enak juga. Tapi katanya
Cahaya Lestari spesialnya di sup gurame-nya ya. Yang di Tiang Bendera nama-
nya bukan Cahaya Lestari, ada nama sendiri kalau tak salah. Sesama mereka
tak ada hubungan kayaknya sih.
Lomie Pinangsia yang tempatnya jelek di depan gereja persis itu, sudah bubar.
Gantinya ada di dekat situ, di deretan ruko di seberang gereja, tapi agak ke a-
rah Pinangsia Raya. Satu lagi kalau ndak salah buka di Hayam Wuruk, dekat to-
ko Disc Tara atau bank apa gitu. Dulu di Pinangsia situ, pas tikungan seberang
toko buah (Koh De - alm.) ada pakmei yang dagang lauk-pauk Hak-ka sudah
matang, bisa makan di tempat, bukanya sore-malam hari saja. Tahu masih gak?
Lomie Karet beda aliran ama lomie Pinangsia. Lomie Pinangsia cuma pake kang-
kung dan ayam rebus + babi panggang (bakar), lantas disirem saus kentel so-
klat dan brambang goreng. Kalau lomie Karet, pan kayak lomi Abadi yang di
Angke dan BSD (juga Gading Serpong), pake hebi dan daging laen-laen, kekian,
sayurnya macem-macem, kuah agak kentel. Sealiran ama lomie Mikado.
Lomie Mikado di belakang Hayam Wuruk Plaza sudah tahu? Bakmi Orpa bagai-
mana? Ngefans ndak? Mereka jual siomai yang enak juga tuh. Deket Orpa, se-
belum belok ke Orpanya, ada resto Chuan Tin, kayaknya resto jadu juga tuh.
Pernah coba ndak? Apa yang jadi spesial mereka ya? Dulu banget saya pernah
nyoba, sudah lupa, kayaknya sup apa gitu yang enak. Pake hi-pio (perut ikan?).
Hok-kien Mie di Warung Tinggi enak, cuma cu-kiok (tite)nya suka kebawa tu-
langnya, lembut, jadi suka kegigit. Bakmi Tiongsim, lupa-lupa ingat, pernah
nyoba atau belum. kayaknya sih pernah, mereka suka jual Tiong-chiu-phia?
Mie pangsit di Pinangsari (tikungan Pinangsia Timur) mayan juga, sayurnya
pake selada segar. Sama ama mie ayam di tikungan Jembatan Batu-Pinangsia
Timur, ini asal mula pembuat sambel asli yang sekarang jadi sambel Belibis
dan sambel Cap Pohon Cabe.
Deket-deket situ dulu ada panggang babi King's, ada bebek dan ayam pang-
gangnya juga. Tapi sudah tutup. Padahal babi panggangnya (merah-putih)
lumayan enak, nasinya bisa pilih nasi biasa atau nasi hainam. Mereka pernah
buka beberapa cabang, juga di kantin gedung Bank Mandiri, kalau tak salah.
Begitu sajah sih ya, kira-kira.
Salam makan enak selalu,
Ophoeng
BSD City, Tangerang
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, BUD'S 1 <bsugih2007@...> wrote:
Oh ya, Itu Sekbak yang di Gunung sahari dekat Volvo masih buka ngak sih
??, Menurut saya itu Sekbak yang terenak.
Siaw A Tjiap, Lindung Cah Fumak leboh enak di Cahaya Lestari, itu loh
yang dulu dibawah pasar Glodok yang terbakar sehingga pecah jadi dua, di
Tiang Bendera dan di Hawam Wuruk, dekat Hotel Mecury. Sekarang Siaw A
Tjiap dah ada di dekat Puri Indah dan ada di Pluit, tempatnya yang asli
di dekat Glodok ( ada 2 ) masih tetap. Saklon ( kodok batu ) dua2nya
juga enak, tapi kalau Babat lebih enak di Siaw A Tjiap.
Didaerah Pinangsian ada Lo Mie Pinangsia, kata orang yang asli adalah
didepan Gereja Pinangsia, cuma sampai hati ini gua belen ketemu tuh
tempat. Tentunya Lo Mie karet tidak kalah enaknya. Disamping itu Hok
Kien Mie ala Medan di Hayam Wuruk ( ngak jauh dari Delisius or Kopi
Warung Tinggi ) dan Bakmie Pangsit Tiong Sim di Mangga besar, ngak jauh
dari per4an Olimo, itu juga asli medan.
Salam Makan enak he he he
From: "BUD'S 1" <bsugih2007@gmail.com>
>
> Didaerah Pinangsian ada Lo Mie Pinangsia, kata orang yang asli adalah
> didepan Gereja Pinangsia, cuma sampai hati ini gua belen ketemu tuh
> tempat.
+++
Mungkin bukan gereja Pinangsia, melainkan gereja Ayam di dekat Pasar Baru,
yang aku ingat Lomie di situ enak dan cukup tersohor ( hanya aku lupa nama
restaurantnya apa, dan masih eksis apa kagak, maklum terakhir makan di situ
tahun 87 an )
sur.
Benar, Lomie Pinangsia memang bekend sejak dulu. Entah masih ada
ngga sekarang.
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "gsuryana" <gsuryana@...>
wrote:
>
> From: "BUD'S 1" <bsugih2007@...>
> >
> > Didaerah Pinangsian ada Lo Mie Pinangsia, kata orang yang asli
adalah
> > didepan Gereja Pinangsia, cuma sampai hati ini gua belen ketemu
tuh
> > tempat.
> +++
> Mungkin bukan gereja Pinangsia, melainkan gereja Ayam di dekat
Pasar Baru,
> yang aku ingat Lomie di situ enak dan cukup tersohor ( hanya aku
lupa nama
> restaurantnya apa, dan masih eksis apa kagak, maklum terakhir
makan di situ
> tahun 87 an )
>
> sur.
>
Chat over IM with
group members.
Ikut Nimbrung,
Ada sejenis Mie, bentuknya gepeng dan lebar, kayak usus ayam yang telah
dibelah gitu. Kalau orang Hakka bilang Ap Chong Mie ( terjemahan secara
harafiah = Mie Usus Bebek ), kadang2 orang suka billang mie lebar.
Disamping itu ada juga Lo Su Pan, kalau diterjemahkan secara harafiah =
Kue Tikus. Mie nya terbuat dari Tepung beras ( kayak Kwee tiau ) tapi
bentuknya kayak cendol, cuma agak besar dan bewarna putih. Cara sajinya
ya kayak Bakmie ayam gitu. Makanan jenis ini masih bisa ditemukan di
Gloria dan merupakan makanan orang Hakka, sama dengan Mi Kau Pan ( Kue
Tepung beras yang dimakan sama Kecap manis dan Minyak bawang putih ),
kue ini juga masih bisa ditemukan didaerah Gloria.
LOMIE PINANGSIA.
Kalau dilihat cerita dari Ophoeng, kayak Mie Kangkung nya orang Tionghua
Benteng, Waktu itu sekitar Roxy ada yang jual pikulan. Menurut cerita
dia, dulu memang pakai daging babi ( Kayak babi kecap gitu ), kuahnya
kental kayak kuah kaki babi. Mie nya diberi Kangkung, Toge trus disiram
Kuah Kental. Tapi kebetulan Encek yang juga tersebut ( Tionghua Benteng
) adalah seorang Muslim makan daging babi tersebut diganti dengan Udang.
Tapi rasanya jadi sedap bukan main, kayak E-mie nya / Mie Rebusnya
Medan, atau Mie Celornya Palembang.
Ada lagi LoMie ala orang Sumatera, tepatnya Bagan Siapi-api ( Kayaknya
gaya Tio Chiu or Hai Lok Hong ). Masakannya kayak Mie siram gitu. Tapi
isinya jangan dibilang, Full spec. dam Non-Halal, bagi yang ingin
mencobanya bisa didapatkan di RM Tua Thao, Bandengan Utara ( sudah dekat
ujung ) dan diseberangnya juga ada, namanya Lo Mie Bandengaan. Lebih
enak yang di Tua Thao untuk Lo Mienya. Kalau kerang Bambu masak Tauco,
lebih enak yang di LoMie Bandengan
MIE ACEH.
Sebetulnya Mie Aceh yang berbentuk Bulat besar itu adalah Mie Medan,
kalau anda ke Medan dan makan mie disana ya itu Mie yang bulat besar,
baik untuk E-mie, Mie Goreng maupun Mie Hok Kie. Kecuali Mie Pangsit
Untuk mie sebetulanya ada 2 macam yang disebut Mie Telor ( yang biasa
untuk mie pangsit dan mie Goreng Jakarta / Jawa ) dan satu lagi mie yang
proses pembuatannya pakai air Merang / air Abu / Ki Cui, Mie ini yang
biasanya di Medan untuk mie goreng, Mie Aceh, E-mie, Hok Kien Mie atau
kalau di Jakarta suka diapakai untuk Mie Bakso atau sering disebut Mie
Kuning. Super Mie, Indomie dll termasuk kelompok Mie Telor.
Mungkin dalam proses pembuatannya menggunakan telor, tapi Mie Kuning tidak.
Salam mie mie an
Budiman
Share photos while
you IM friends.
on Yahoo! Groups
find out more.
Bung Budiman dan TTM semuah,
Hai, apakabar? Sudah makan?
Wah, makin menarik nih perbincangan ttg bakmie aneka bentuk dan warna,
aneka bahan dan nama.
Coba anda ke Pontianak, atau setidak ke Little St. Quentien di bilangan Pang-
jay (deket markas BT?) yang deket-deket Pecah Kulit, Reklame Panca Warna,
kalau malam. Di situ bener-bener jadi Kampung Ponti. Ada makanan yang
menurut anda disebut sebagai Mi Kau Pan (?) yang dibuat dari tepung beras,
dibuat seperti dodol kue yang digoreng dengan kecap manis dan minyak ba-
wang putih.
Apakah Mi Kau Pan ini bukan seperti di Singapura yang disebut 'carrot cake'
itu? Sebab deskripsinya hampir sama, diperlakukan sebagai 'kwe-tiauw' ju-
ga, dimasak dengan daging dan sayur, dengan potongan agak besar dan ko-
tak memanjang mirip french fries yang crinkle cut itu.
CHOI-PAN & CHU-CHONG FAN
Kalau sudah ke Little St. Quentien, jangan lupa cobalah juga Choi-pan ane-
ka isi. Bisa cuma bengkuang, talas, kucai, yang dicampur ebi atau just vegi.
Jangan lupa minta tambah taburan minyak + bawang putihnya (apakah ini
khas aliran Tio-chew ya? Bakso Afung juga pake ini tuh). Choi-pan dibentuk
mirip pangsit rebus tapi digulung memanjang, tidak dibentuk bulat pangsit.
Kalau ala Medan, saya suka ama Chu-chong Fan(?). Itu lho, yang dibuat da-
ri tepung beras, dibuat lembaran tipis mirip crepe tapi ndak kering, dikukus,
dan waktu disajikan digunting-gunting, disiram kuah kecap + bumbu encer.
Saya pernah sarapan di Guang-zhou, ada satu kedai khusus juwalannya Chu-
chong Fan (agak aneh namanya: chu-chong = usus babi?), bisa minta aneka
variasi: original plain, with egg, with vegi or with meat. Bisa juga gabungan
dari semua isinya. Penyajiannya cuma digulung ajah kayak crepe begitu.
MIE KANGKUNG vs LOMIE
Kalau mie kangkung abang-abang, dulu sih ada yang jual pakai pikulan dan
ada yang pakai gerobak ala tukang bakso tanpa lemari display etalase kaca.
Biasanya racikan babi (tetelan doang, banyakan kulitnya) yang dicincang alus,
masak kecap itu ditarok dalam periuk tanah. Kangkung dan toge(?)nya dise-
duh sebentar di panci yang diisi air rebus (bawa kompor). Tapi, kalau yang
biasa beredar di Jakarta dulu (paling tidak di kampung Jelambar POLRI) kuah-
nya ndak kentel-kentel gitu, encer saja, mungkin kelamaan direbus, lantas
keluar colagen (?) dari kulit dan tulang babinya, maka terkesan kentel ya?
Tapi, kayaknya mereka ndak mencampurkan aci (tepung kanji) secara senga-
ja supaya kentel seperti 'kuah' e-mie ala Medan, atau mie celor Palembang.
Mie koclok ala Cerebon pakenya ayam, dengan kuahnya kentel diberi santan.
Lha, kalau babinya sudah diganti hebi, ya mesti namanya e-mie juga dong.
"E" pada 'e-mie' itu pan merujuk ke 'he' atau udang.
Kalau lomie ala Sumatra seperti dicontohkan lomie Bagan dan Tua-tauw, itu
memang aliran lo-mie lain. Juga diwakili oleh Lomi Abadi yang di Angke, ju-
ga Mikado di belakang Hayam Wuruk Plaza. Lomie Mikado patut dicoba, mere-
ka sedia cuka item untuk kondimennya. Juga ada hekeng yang garing gurih.
Selamat mencoba!
Begitulah saja ya.
Salam mie koclok ala Cerebonan,
Ophoeng
BSD City, Tangerang
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, BUD'S 1 <bsugih2007@...> wrote:
Om, kalo di daerah sy ada makanan yg sangat khas yaitu sun pan ( kue rebung) n su fun pan ( mirip kayak sun pan tp ga ada isi) bentuknya mirip apa choi pan. Katanya seh ini makanan khas org taipu di jkt sy cari2 ga ada yg jual. Di lampung pun cuma 1 org pedagang keliling yg udah jualan puluhan tahun. Sedang su fun pan biasanya dimakan klo ada acara kumpul bareng di rumah abu marga thung atau ada acara sembayang imlek or ceng beng. Di luar itu jarang sekali ada yg buat.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Bung David Kwa, Bung G.Suryana, Bung Budiman dan TTM semuah,
Hai, apakabar? Sudah makan?
Lomie Pinangsia, memang pertama kali bukanya di Pinangsia, depan gereja
dan sekolah. Ciri khasnya adalah mie + kangkung, ditaroki panggang babi
samcwan agak manis (kayaknya sih dibakar, bukang dipanggang) dan ayam
rebus. Boleh pilih mau campur babi + ayam, atau satu di antara dua, juga
boleh minta dicampur bakminya atau dipisah, atau makan pakai nasi seba-
gai gantinya bakmi. Siraman kuah kesoklatan agak kental + brambang go-
reng yang berlimpahan.
Ini Lomie sejujurnya menyalahi pakem seumumnya lomie yang biasanya pa-
ke sayur mayur dan aneka daging, keekian, bakso, dan.... hebi! Agaknya ini
khasnya lomie. Kuahnya memang agak kental, tapi warnanya tetap putih.
Yang di Pinangsia itu kayaknya yang menjadi pelopor 'lomie' nan beda itu.
Sampai sekarang mereka masih berdagang di bilangan Pinangsia itu, tidak
lagi di depan gereja dan sekolah, tapi agak bergeser di jejeran ruko di se-
berang tempat lama. Tapi, kayaknya mereka terpecah menjadi 2, satu la-
gi (dulu) buka di Hayam Wuruk, dekat rumah produksi Disc/Naga Tara.
Cirinya yang jual di Hayam Wuruk itu, ada si engko yang (sorry) agak ca-
cad syarafnya, sehingga sering menggerak-gerakkan kepalanya tidak
terkontrol. Katanya, ini yang 'asli'. Mereka pernah buka di Ciputra Mall di
Grogol, tapi kayaknya sudah ndak ada lagi. Juga yang di Hayam Wuruk.
Katanya sih yang lebih enak yang di Hayam Wuruk, tapi itu terserah sele-
ra sajah. Seperti dulu di Senen ada Nasi Campur + Sate babi manis dadak
bakar bernama Kenanga, seatap dengan bakmie babat ala Bogor. Waktu
warung lama di Senen digusur, akhirnya mereka 'pecah'. Yang semula ju-
alan nasi campur, lantas jualan bakmi babat, buka warungnya di ruko di
kompleks Atrium Senen itu, dekat tempat lama. Cirinya yang jual itu en-
ci kehitaman (manis), kayaknya sih Tiong-beng, Tionghua Benteng.
Sementara yang jual bakmi babat, lantas buka di bilangan Kramat Raya,
dekat apotik Titi Murni dan Bakmi Naga. Sekarang mereka jual juga nasi
campur lengkap dengan sate babi manis (berketumbar) dadak bakar. Ci-
rinya adalah si enci yang jual, pake kacamata, ndak pernah pake rok, pa-
kenya selalu pantalon aka celana panjang.
Yang mana yang enak antara kedua-duanya? Susah dibilang, sebab yang
di Kramat, aslinya jual bakmi babat, ternyata ya bisa mengolah satenya
sama enaknya ama yang di Senen (aslinya dagang nasi campur + sate).
SEdang bakmi babatnya yang di Senen itu, saya ndak tahu juga. Sorry, se-
bab saya mah bukan pendoyan makan babat sih, jeh! :D)
Back to lomie Gereja Ayam, saya baru tahu kalau di Gereja Ayam - Pasar
Baru itu ada juga yang jual lomie.
Katanya sih anda bisa menemukan 'mie kangkung' ala lomie Pinangsia,
dengan kangkung, toge dan kuah agak kentel + babi, di resto Panggang
Ayam Malang (selalu saya mesem kalau nulis nama resto ini: lha, jelas sa-
ja ayam dipanggang itu mestilah malang nasibnya, ndak usah disebut-2
juga semua orang tahu ya?), tapi saya mah ndak pernah mau makan lomie
kangkung di situ. Bukan apa-apa, lha resto itu yang top pan justru ayam
panggangnya, jeh! Kabarnya tu ayam di situ, dibakar secara 'tandoor', di-
panggang dengan api konstan di dalam tungku besar )segede kamar) de-
ngan api konstan, sehingga menghasilkan ayam nan COJI - crunchy out-
side & juicy inside. Bumbu sausnya juga khas sang resto tuh, jeh!
Begitulah saja ya.
Sila tambah kalau kurang, tolong koreksi kalau salah.
Salam makan enak & sehat,
Ophoeng
BSD City, Tangerang
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "David Kwa" <david_kwa2003@...> wrote:
Benar, Lomie Pinangsia memang bekend sejak dulu. Entah masih ada
ngga sekarang.
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "gsuryana" <gsuryana@>
wrote:
From: "BUD'S 1" <bsugih2007@>
Didaerah Pinangsian ada Lo Mie Pinangsia, kata orang yang asli
adalah didepan Gereja Pinangsia, cuma sampai hati ini gua belen ketemu
tuh tempat.
+++
Mungkin bukan gereja Pinangsia, melainkan gereja Ayam di dekat
Pasar Baru, yang aku ingat Lomie di situ enak dan cukup tersohor
( hanya aku lupa nama restaurantnya apa, dan masih eksis apa kagak,
maklum terakhir makan di situ tahun 87 an )
sur.
Send up to 1GB of
files in an IM.
Sun Pan, kayaknya hampir sama dengan Choi-pan ( Choi = sayur, Pan = Kue,
Bahasa Hakka ) nya orang Ponti, cuma isinya mungkin beda atau Chai Pau
( Chai = Sayur , Pau = Bungkus, Bahasa Hok Kien ) nya orang Medan. Kalau
mau cari ala orang Ponti ya di Pangjay, kalau mau cari ala Medan ya di
Mangga besar dekat olimo.
Mi Kau Pan, seperti yang saya sebut ada di Gloria juga ada di Pangjai,
tapi setahu saya tidak digoreng Maklum Makanan orang Hakka ( Kalau tidak
salah Ponti dibagi 2 bagian yang dibatasi oleh sungai, sebelah berbahasa
Hakka dan sebelah lagi berbahasa Tio Chiu, ) jadi jangan heran makanan
orang Tio Chiu, Kue Chiap bisa ditemukan di Ponti dan tetunya Pangjai,
Singapura dan Thailand.
Yang disebut Carrot Cake itu lain lagi, itu adalah Kue Lobak atau orang
medan bilang Chai Thau Kue ( Chai Thau = Lobak, Kue ya kue, mungkin
bahasa Indonesia Kue dari bahasa Hok Kien kali ya ).emang bahan dasarnya
adalah Lobak, Tepung beras dan Ebi. Biasanya setelah jadi, dipotong2
baru di goreng panas2 dan dicocol sama sambel dengan bawang putih, cuka,
gula dikit. Orang Medan memang doyan makan ini. Variasinya ya digoreng
kayak Kwee Tiau, tentunya setelah di potong2 4 persegi panjang. Chai
Thau Kue bisa didapat di Mabes dekat Olimo.
Chi Chong Fan / Kayaknya dari Bahasa Kong Hu., atau disingkat Chong Fan,
kayaknya di Indonesia ini adanya di Medan Saja, tapi saat ini sudah ada
dijakarta, selain dijajankan keliling ( Bersama Choi Pau / Chai Pau dan
Carrot Cake ), juga bisa ditemukan di Pluit dan Mabes. Tapi pernah saya
temukan di salah satu tempat waktu Makan Dim Sum, cuma bentuknya sudah
digulung kayak Kue dadar gitu. Kalau dimedan biasanya Polos, Cha Siu
atau daging Kepiting. Tadi baru makan Chi Chong Fan goreng ( Pakai
Udang, Bakso dll ) A Chiu di Muara karang, dekat Sup Ikan Jony, cuma sup
Ikan Jony ini dah Tutup dan Pindah ke Gunung Sahari, ya telat deh. Dia
Pindah mulai habis Lebaran ini, jadi ngak bisa lagi bandingi sama Sup
Ikan Batam
Betul, Mie Kangkung yang saya maksud itu adalah seperti itu, tapi pada
kemana ya ?? dah ngak kelihatan pikulan yang lalu lalang, Kalau yang
pakai udang memang hampir sama dengan E-Mie, tapi tidak sekental E-mie
lah, dan E- Mie itu asalnya dari India E itu menang artinya udang dalam
bahasa Tamil kalau tidak salah. Makanya sekarang orang India / Tamil /
Keling yang jualan E-mie di medan sudah jarang, tapi itu yang asli,
rasanya juga beda. Ketangnya bukan hanya kentang rebus saja tapi
berbumbu, dan ada campuran macan2 penganan selain udang. Kalau di Medan
mau cari E-mie ( sekarang sudah berganti nama Mie Rebus ) yang jualan
orang Keling dan susah, banyakan Orang Jawa, Aceh dan Tionghua. Tapi aku
lebih suka yang orang India, terpaksa deh nyarinya di Kampung keling,
Dekat Jembatan yang dibangun oleh Abang nya Chong A Fie dan merupakan
peninggalan sejarah Oarng Tionghua dalam ikut serta membangun Kota
Medan. Karena dalam kepercayaan Membangun Jembatan adalah perbuatan amal.
E-mie dan Mie kangkung udang agak beda bumbunya, karena asal dari Kuah
Mie kangkung adalah sama dengan Kaki Babi, dan ada Go Hiong nya. kalau
E-mie ngak pakai, juga kecapnya ngak semanis kecap masak Mun Cu Kiok (
Masak Kaki Babi he he he ). Saya pernah bikin kok dan bayang Putih
tumisnya juga banyak agar wangi, sedangkan E-Mie tidak.
Ngomong2 Lo Mie Mikado dimana sih ??. Emangnya dibelakang HW plaza ada
jalan dan masuknya dari mana ???
Lo Mie Abadi dan Karet adalah Hok Kien Lo Mie, jadi Mienya gede2,
sedangkan yang Tua Thau alirannya lain, Mienya Kecil, seperti mie
Pangsit gitu dan banyak Seafoodnya, Kayak aliran Shaulim Utara VS
Selatan gitu. Apapun aliranya dua duanya Mantap booo.
Salam,
Budiman.
PS : dari pada omongin Agama, enakan omongin makanan, San Cai San Cai,
Namo Amitaba.
agoen...@yahoo.com wrote:
>
> Om, kalo di daerah sy ada makanan yg sangat khas yaitu sun pan ( kue
> rebung) n su fun pan ( mirip kayak sun pan tp ga ada isi) bentuknya
> mirip apa choi pan. Katanya seh ini makanan khas org taipu di jkt sy
> cari2 ga ada yg jual. Di lampung pun cuma 1 org pedagang keliling yg
> udah jualan puluhan tahun. Sedang su fun pan biasanya dimakan klo ada
> acara kumpul bareng di rumah abu marga thung atau ada acara sembayang
> imlek or ceng beng. Di luar itu jarang sekali ada yg buat.
>
> Sent from my BlackBerry®
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>
> *From*: "Ophoeng" <ophoeng@yahoo. com>
> *Date*: Sat, 04 Oct 2008 05:07:28 -0000
> *To*: <budaya_tionghua@ yahoogroups. com>
> *Subject*: [budaya_tionghua] Juga Choi-pan Chu-chong Fan. (Was: Wah!
> <mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com>, BUD'S 1 <bsugih2007@ ...>
------------------------------------
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
.: Website global http://www.budaya-tionghoa.org :.
.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.
.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:budaya_tion...@yahoogroups.com
mailto:budaya_tionghu...@yahoogroups.com
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
budaya_tiongh...@yahoogroups.com
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Pernah sewaktu kerja dulu, makan siang di ajak ke Bogor, ternyata setelah
nyampe Bogor hanya makan mie Bogor yang berlokasi di dekat restaurant
Lautan.
Kadang heran, koq bisa yah demen icip icip yang ini enak nya apa yang ini
enak nya apa.
Aku tinggal di Bogor, malah kalah dengan seorang temanku yang baru datang
dari Surabaya, dia dalam waktu setahun sudah tahu tempat makan enak di Bogor
dimana saja, sedang aku sampai saat ini suka bingung tempat makan enak di
Bogor dimana saja.
Pernah mencoba untuk meresapi dan menikmati enaknya sebuah masakan sesuai
dengan nama nya yang tersohor, hasilnya tetap saja hanya kenyang.
Aku sendiri yang namanya makan, bukan mencari enak tidak nya makanan itu
sendiri, melainkan tempat menjadi prioritas utama, semisal rumah makan yang
tidak boleh merokok, terpaksa menjadi tidak enak, di pinggir jalan biarpun
enak menjadi prioritas kesekian, maklum kadang suka bingung melihat situasi
sekelilingnya yang kadang kotor ( juga sudah bosen makan di pinggir jalan ).
Eniwe Lomie Mikado memang terkenal sejak tahun 70-an, bila tidak keliru bisa
masuk dari Taman Sari, bisa juga disampingnya HW Plaza ada jalan kecil koq.
( sorry bila lokasinya pun lupa, maklum bukan tukang makan ).
Ada lagi restaurant Fajar ( dulu di Lokasari, sekarang ber kembang kemana
mana ), tersohor dengan hainan ciefan nya.
( aku malah demen dengan bebek nya )
sur.
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, BUD'S 1 <bsugih2007@...>
wrote:
> Ngomong2 Lo Mie Mikado dimana sih ??. Emangnya dibelakang HW plaza
ada
> jalan dan masuknya dari mana ???
>
Tanggapan ;
Seingat saya Mikado ada di gang Mesjid, Hayam Wuruk, ada petunjuknya
kok. Masuk gang mesjid lalu belokan pertama belok kanan.
Salam,
Anton W
Chat over IM with
group members.
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "Ophoeng" <ophoeng@...> wrote:
Seperti dulu di Senen ada Nasi Campur + Sate babi manis dadak
> bakar bernama Kenanga, seatap dengan bakmie babat ala Bogor.
Tahun70an saya sering menikmanti mie babat di Warung Kopi Kenanga, pas
dipojokan jalan Kenanga kalau nggak salah. Tahun 87 hingga beberapa
tahun lalu kalau lewat sekitar Kramat atau Pasar baru dan Taman
Anggrek saya kadang coba makan mie babat tapi kok rasanya nggak seenak
dulu. Tapi sekarang kayaknya saya sudah tobat untuk makan babat,
soalnya ingat umur.
Salam,
Anton W
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "Tantono Subagyo"
<tantono@...> wrote:
Omong-omong kalau Babat sudah ndak
> mau makan kok masih pakai email address pempek ?. Pempek (katanya)
juga
> bahaya untuk orang usia indah lho ?. Saya sudah hati-hati makan
pempek
> karena sering sakit maag, dan dulu katanya yang enak pempek Pasar
Cinde
> (bawah jembatan, masuk kampung) en pempek jalan Dempo (dekat MDP) di
> Palembang. Sojah, Tan Lookay
Tanggapan ;
Gimana nggak pakai e-mail address pempekd9 wong itu yang menghidupi
saya :). Justru karena sering makan pempek baru sekitar sepuluh hingga
lima belas menit langsung sakit perut melilit saya bikin formula cuko
yang khusus hasil riset literatur kesehatan.
Sebenarnya simpel saja berapa persen kadar asam dalam cuko . Asam yang
biasa digunakan adalah acetic acid, tapi apakah acetic acid nya memang
food grade. Banyak yang menggunakan cuka kampung yang nggak jelas
ikatan kimia nya dan kadarnya, maklum harganya lebih murah. Saya
justru lebih takut dengan vetsin, bisa kena chinese restaurant
syndrome jadi saya olah makanan di rumah baik untuk makan ataupun
untuk dijual tanpa vetsin. Kalau cuka kan bisa dihindari, pempek yang
enak pasti enak juga dimakan tanpa cuka dan tidak perlu digoreng.
Kalau dulu kadang ke Palembang saya suk amakan di lorong Ali Leman,
yang punya seorang guru, kebetulan tante saya atasannya. Kabarnya
sekarang yang di lorong Ali Leman ini hanya terima pesanan, yang
meneruskan anaknya dikenal sebagai pempek Mey Mey, tapi pempek Mey Mey
yang di jakarta bukanya cabang dari situ. Maklum saja merek terkenal
sering dibajak, kan nggak di register. Jadi beberapa bulan lalu saya
register merek baru saya biar bisa tidur tenang merek nggak boleh
dibajak. Kalau dibajak pun saya bisa tuntut dan dapat keuntungan
finansial.
Ngomong ngomong pempek ini turunan panganan Tionghoa sejenis baso,
kekian dll ya ?
Salam,
Anton W
Share pictures &
stories about cats.
Pempek kok jelek buat usia om? Bukannya bahan dasarnya ikan yg katanya sangat baik buat kesehatan dibanding daging laennya?
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Pempek kok jelek buat usia om? Bukannya bahan dasarnya ikan yg katanya sangat baik buat kesehatan dibanding daging laennya?
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
w/ Real Food lovers.
Bung Danarhadi dan TTM semuah,
Hai, apakabar? Sudah makan?
Sorry, baru respon lagi.
Saya ndak tahu di mana Bung Danarhadi tinggal. Tapi kalau tak salah, shallot bisa
menggantikan bawang merah. Walau tentu saja agak beda. Bawang merah mung-
kin lebih gembul dibandingkan dengan shallot yang lebih ceking. Rasa dan aroma
keduanya hampir sama saja, walau mungkin tidak persis banget.
Memasak sendiri, memang bisa 'mengurangi' asupan MSG melalui makanan. Saya
cuma bilang 'mengurangi', sebab kalau anda masih memakai mie-nya dari yang
ada di toko, itu MSG masih terdapat di dalam mie-nya. Baik mie basah, kering a-
tau jenis mie lain. Hampir tidak ada makanan yang benar-benar bebas dari MSG.
Kalau anda menemukan makanan dalam kemasan hasil produksi pabrik, dan di
kemasan mencantumkan bahwa mereka tidak memakai MSG, jangan dulu ber-
senang hati bahwa anda sudah mengurangi asupan MSG. Sebab bisa saja mere-
ka tidak memakai MSG, tapi menggantinya dengan I+G. (Disodium) Inosinate +
(Disodium) Guanylate, kombinasi dari keluarga MSG juga. Yang kadarnya kalau
tak salah justru lebih kuat lagi dari MSG yang sudah kita kenal dan menimbul-
kan 'after meals effect' berupa CRS - Chinese Restaurant Syndrome, bagi bebe-
rapa orang yang peka dan sensitip terhadap penguat rasa ini.
Sila lihat link ini:
http://www.truthinlabeling.org/nomsg.html
http://en.wikipedia.org/wiki/Disodium_inosinate
Sebagai penyedap rasa, mungkin anda bisa tambahkan sedikit terasi atau shrimp
paste ke dalam mie goreng anda. Buat orang Indonesia (dan semenanjung?) bela-
can atau terasi ini memang adalah penyedap rasa nan sejati buat kita. Tapi tentu
saja anda mungkin mendapatkan terasi yang sudah ditambahi MSG pula, jeh!
Kebalikan dari anda, anak-anak kawan saya yang pada belajar di Tiongkok, suka
sangu bumbu mie instant dalam kemasan. Mie-nya ditinggal di Indonesia, supaya
tidak berat bawaannya. Lalu di Tiongkok mereka beli mie instant untuk diambil
mie-nya saja, bumbunya diganti dengan yang mereka bawa dari Jakarta. Sebab
'rasa' bumbu mie instant di Tiongkok tentu tidak bisa lolos 'fit & proper test' da-
ri lidah mereka.
Makanan, memang begitu kuat pengaruhnya kepada manusia ya. Sampai orang
rela berrepot-repot demi memenuhi selera lidah dan mulut. Padahal mah kalau
sudah masuk ke dalam perut, sudah tidak lagi ber-rasa semua makanan itu.
Kalau anda suka makan dan sudah berhasil mengembangkan resep pribdai, bi-
sa saja anda mulai koleksi dan catat resepnya. Siapa tahu muncul resep modifi-
kasi baru yang menambah perbendaharaan resep masakan Indonesia? Saya ra-
sa, banyak resep makanan sekarang yang asalnya juga hasil modifikasi oleh pa-
ra koki di rumah.
Begitulah saja kira-kira.
Salam makan enak & sehat selalu,
Ophoeng
BSD City, Tangerang
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "danarhadi2000" <danarhadi2000@...>
wrote:
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "Ophoeng" <ophoeng@> wrote:
Bung Dipodipo dan TTM semuah,
Hai, apakabar? Sudah makan (buka)?
Waktu satu pabrik mie instant mau mengembangkan rasa mie
instantnya (waktu itu namanya mie instant adalah mie berkuah),
dalam diskusi, kebetulan saya terlibat, saya usulkan membuat
mie goreng ala jawa yang cuma berkecap dan berbumbu saja.
Rupanya usul itu ditanggapi serius dan dicoba, ternyata 'rasa'
mie goreng dalam bentuk mie instant sekarang populer sekali.
----deleted-------
*** karena saya sangat suka makan, dan tak mau selalu ke resto, maka
saya kembangkan resp pribadi ha ha. Ini juga untuk menghindari makan
Monosodium Glutamate.
Kalau saya mau buat mie goreng, maka saya goreng dulu ayam atau
samcan dengan minyak yang no kolesterol. Saya masukkan bawang merah
(disni bawang Bombay), bawang putih. Lalu saya rebus mie, yang enak
mie basah. Lalu saya masukkan kedalam gorengan ayam atau daging tadi,
saya aduk. Baru saya campur kecap asin, atau minayk ikan (anchovy
sauce), dan finally sayur, kailan atau sawi hijau. kailan disini
mahal atuhh. taburi bawang goreng kering. Bumbu mie instant itu tak
saya pakai. Gak pakai garam, hanya merica.
Salam
Danardono
Join the challenge
and lose weight.
Karna asamnya atau karna cukanya pak Tan???????/
kalau hanya tdk tahan rasa cuka diganti dg jeruk limau atau asam biasa,masih enak juga
rasa saucenya pempek,maksudnya kalau buat sendiri.
--- On Mon, 6/10/08, Tantono Subagyo <tantono@gmail.com> wrote: |
From: Tantono Subagyo <tantono@gmail.com> |
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com |
|
|