Ada satu versi yang saya dapat dari beberpa orang tua tentang ritual
persembahan semangka.
Ketika jenazah orang tua yang meninggal akan diberangkatkan
meninggalkan rumah duka menuju peristirahatan terakhir, kepala
penggotong peti atau kepala upacara ritual akan membanting semangka
dimuka peti mati sampai hancur berantakan.
Konon, kulit semangka yang tebal kenyal dan kuat melambangkan orang
tua yang melinduingi anak-anaknya dan keturunannya. Biji semangka
melambangkan anak cucu. Daging buah berwarna merah melambangkan kasih
sayang dan segala kebaikan serta kebahagiaan yang diberikan orang tua
kepada anak cucu semua.
Kematian melambangkan semangka yang terpecah sehingga semua isi
terburai melambangkan selesainya tanggung jawab orang tua yang
meninggal untuk mengayomi anak cucu di dunia. Biji yang terburai
kemana-mana melambangkan anak cucu yang harus bisa hidup mandiri
dalam kondisi apapun dan kemudian akan tumbuh sesuai dimana tempat
biji itu terlempar dan tumbuh menghasilkan buah-buah semangka
selanjutnya sehingga philosophy ini berlanjut.
Coba renungkan dengan mendalam. Cukup baik terjmeahn dari ritual ini
kan?