[budaya_tionghua] FW: sastra mengenai Tionghoa, 98-09. Pak Didi Kwartanada

151 views
Skip to first unread message

ibcindon

unread,
Oct 27, 2009, 11:05:09 PM10/27/09
to budaya_...@yahoogroups.com
 

 

 

 

Dari “Clara” hingga 'Yin Galema':

Tionghoa dalam Karya Fiksi di masa Reformasi

(Juni 1998-Juli 2009)

 

 

Didi Kwartanada***

 

 

 

Pengantar

Salah satu fenomena menarik yang belum banyak disoroti dalam masa Reformasi adalah bermunculannya beragam jenis buku dengan tema ketionghoaan (dalam arti menyangkut segala sesuatu mengenai orang Tionghoa di Indonesia) dalam konteks Indonesia , baik dalam wujud karya fiksi maupun non-fiksi. Berhubung karya-karya non-fiksi sudah banyak dibahas, baik dalam kajian ilmiah maupun populer (misalnya resensi buku di media massa), maka tulisan ini hanya akan menyoroti karya-karya fiksi yang secara spesifik memuat tema atau menyoroti kehidupan etnis Indonesia Tionghoa, buah pena penulis keturunan Tionghoa maupun non-Tionghoa. Adapun karya yang ber-setting Tiongkok tidak dimasukkan di sini, misalnya novel best seller Sanie B. Kuncoro berjudul Ma Yan (2009) tentang seorang anak kecil dari Zhangjiashu yang ingin mendapatkan pendidikan

 

Ariel Heryanto (2008: 71) mengamati bahwa sejak 1998 kita telah melihat “suatu kebangkitan dramatis” (a dramatic emergence) karya-karya tentang ketionghoaan yang mengisi suatu kekosongan yang telah lama tercipta di masa Orde Baru. Pada saat itu segala sesuatu yang berbau SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan) dikekang oleh pemerintah, sehingga relatif tidak banyak tulisan tentang Tionghoa  (bandingkan dengan Heryanto, 1997: 26-45). Tragedi Mei 1998 yang ditafsirkan sebagai suatu “kekerasan rasial” terhadap etnis Tionghoa, menimbulkan respons berupa suatu pengakuan baru atas diri mereka beserta sejarah panjang pemarjinalan mereka. Maka ditambahkan oleh Heryanto (2008: 71), bahwa Tionghoa telah menjadi salah satu ciri populer dalam kesusasteraan, seni rupa dan film kontemporer Indonesia.

 

Hal yang menarik adalah bahwa sebagian besar para penulis fiksi terebut relatif tidak banyak dikenal oleh publik. Pernahkah Anda mendengar nama Anwar Haris, Lalu Mohammad Zaenudin, dan Nisa’ul Kamilah Chisni? Mungkin belum, dikarenakan mereka relatif adalah penulis baru dan berusia muda. Karya-karya fiksi. khususnya yang ditulis oleh penulis non-Tionghoa, kadang bersifat “marginal”,  terbit dari penulis yang debutan dan diterbitkan oleh penerbit baru atau kecil. Jadi tidak mudah untuk menemukan hasil karya mereka, seorang peminat yang serius mesti browsing dengan teliti di toko buku. Kesulitan lainnya, begitu buku diturunkan dari rak di toko-toko buku utama, akan tidak mudah untuk mendapatkannya karena buku-buku tersebut bukanlah karya mainstream ataupun keluaran penerbit yang sudah established. Padahal karya-karya tersebut penting untuk melihat persepsi, opini atau pun harapan penulis non Tionghoa pada golongan Tionghoa. 

 

Total jumlah karya fiksi yang berhasil dikumpulkan dari bulan Juni 1998-Juli 2009 adalah sebagai berikut. Untuk penulis non Tionghoa sebanyak 30 karya dan penulis dari kalangan Tionghoa sebanyak 11 (lihat detilnya pada tabel 1 dan tabel 2). Tentu penulis tidak ingin mengklaim bahwa jumlah 41 karya tersebut sudah mencakup seluruh fiksi ketionghoaan di masa Reformasi ini, karena kemungkinan masih ada karya-karya yang terlewatkan. Buku terbitan dalam negeri cukup susah dilacak keberadaannya, di tengah booming bisnis penerbitan buku di masa pasca Orde Baru. Banyak penerbit belum mempunyai website untuk mempromosikan produk-produk terbaru mereka. Demikian juga buku-buku produk penerbit luar Jawa susah didapatkan di Jawa. Untunglah dewasa ini kehadiran berbagai toko buku online dengan fasilitas mesin pencari sangat banyak membantu.

 

Tulisan ini menelusuri karya fiksi dalam berbagai bentuk buku tercetak. Menarik sekali menjumpai kisah tentang orang Tionghoa sudah muncul dalam berbagai medium: Novel, Cerita Pendek (cerpen), Drama, Nomik (Novel Komik, perpaduan novel dengan komik). Bahkan karya berbentuk Chicklit (bacaan ringan untuk perempuan usia 20-30 tahun) dan maupun komik (cergam=cerita bergambar) yang sering diremehkan kualitasnya pun ternyata ada juga yang membawa isu ketionghoaan yang cukup menarik untuk diteliti.. Berhubung fokus adalah pada karya yang sudah dicetak dan diterbitkan, maka penulis tidak membahas tulisan-tulisan fiksi di website, misalnya di www.cafenovel.com, yang banyak memuat cerpen-cerpen bertema ketionghoaan dari beberapa penulis muda Tionghoa..

 

Kategorisasi pengarang atas dasar etnisitas ini disusun untuk menggambarkan seberapa besar minat masing-masing kelompok atas isu ketionghoaan. Data biografis yang kebanyakan tercatat dalam buku karya penulis yang bersangkutan, ditambah dengan browsing di internet menjadi pijakan untuk menentukan etnisitas seorang penulis. Namun tidak tertutup kemungkinan bahwa terjadi kesalahan dalam pengklasifikasian secara etnis tersebut, berhubung satu dan lain hal yang tidak bisa diatasi oleh penulis. Data yang didapat menunjukkan bahwa penulis non-Tionghoa menunjukkan minat yang jauh lebih besar dalam soal ketionghoaan dibandingkan mereka yang berlatarbelakang Tionghoa.

 

Angka 41 karya di atas sama sekali tidak otomatis berarti kecilnya minat para pengarang pada soal-soal ketionghoaan. Jangan dilupakan kehadiran novel-novel umum, yang tidak bertema khusus Tionghoa, namun memiliki tokoh atau plot yang berhubungan dengan Tionghoa, misalnya tetralogi Laskar Pelangi karya best seller Andrea Hirata. Tokoh A Ling, perempuan Tionghoa asal Belitung, menjadi dambaan sang protagonis. Ikal, yang adalah anak Melayu. Tulisan-tulisan Remy Silado banyak yang memiliki tema Tionghoa, namun mereka relatif sudah dikenal baik oleh khalayak umum, jadi tidak disorot secara khusus dalam tulisan ini. Misalnya Ca Bau Kan (best seller dan sudah dibuat film layar lebar), Sam Poo Kong, 9 Oktober 1740, dan Siau Ling

 

Adapun ke empat puluh satu karya fiksi dari periode Juni 1998 hingga Juli 2009 bisa digolongkan ke dalam delapan tema besar sebagai berikut.

 

1. Kekerasan

Rupanya tema kekerasan cukup dominan dalam corpus ini, baik Tragedi Mei 1998 (yang menarik cukup banyak minat penulis) maupun kekerasan lainnya. Pamela Allen, (2003: 394; 2004: 109) seorang peneliti sastra Tionghoa Indonesia asal Australia menulis ‘The Tragedi Mei has become a cornerstone of much writing about Chinese identity since the fall of Suharto’ ('Tragedi Mei telah menjadi suatu landasan  dari banyak tulisan tentang identitas Tionghoa sejak jatuhnya Suharto'). Pertama akan dibahas karya-karya yang berhubungan dengan Tragedi Mei 1998.

Dalam hal ini sang pelopor adalah Seno Gumira Ajidarma, seorang wartawan serta penulis yang cukup produktif. Hanya selang satu bulan  setelah Tragedi Mei, Seno menulis cerita pendek “Clara atawa Wanita yang Diperkosa” (tertanggal 26 Juni 1998). Tulisan ini dipublikasikan pertama kali ketika dibacakan oleh Adi Kurdi dan Ratna Riantiarno, di Galeri Cipta TIM, 10 Juli 1998, yang kemudian dimuat harian Republika, 26 Juli 1998. Cerpen ini berkisah tentang Clara, seorang perempuan Tionghoa korban perkosaan Mei 1998. Pada waktu itu berkembang polemik yang cukup panas tentang ada tidaknya perkosaan atas perempuan Tionghoa. Pemerintah dengan tegas menolak kemungkinan itu atas dasar tidak adanya laporan yang masuk dari korban. Rupanya Seno cukup geram dengan sikap tersebut dan menulis ‘Clara’ (Allen 2003: 396). Seno sendiri adalah seorang penulis yang sadar bahwa ketika pers tidak bebas untuk mengungkapkan fakta, maka adalah tugas sastra untuk bicara (lihat Ajidarma, 2005). Berikut adalah cuplikan dialog antara Clara dengan polisi yg memeriksanya (Ajidarma, 2001: 108, 109, 110).

 

+ “Jadi kamu mau bilang kamu itu diperkosa?”…

+ “Bagaimana bisa dibuktikan bahwa banyak orang memperkosa kamu?”

+ “Jangan terlalu mudah menyebarkan isyu diperkosa. Perkosaan itu paling sulit dibuktikan. Salah-salah kamu dianggap menyebarkan fitnah”

 

Bahkan sang oknum polisi tersebutpun berkata dalam hati “Rasanya aku juga ingin memperkosanya” (h. 111). Seno terus mengembangkan tema Tragedi Mei dalam komik futuristik dengan gambar oleh Ansar Zacky:  Jakarta 2039: 40 Tahun 9 bulan setelah 13-14 Mei 1998 yang isinya adalah sebagai berikut:

Tanggal 14 Februari 2039, seorang perempuan berusia 40 tahun yang lahir dari hasil perkosaan mempertanyakan ayah-ibunya. Pada saat hampir bersamaan, seorang perempuan renta korban perkosaan juga mempertanyakan, di mana anak hasil perkosaan yang dibuangnya sesaat setelah dilahirkan tanggal 14 Februari 1999 (sekitar sembilan bulan setelah kerusuhan Mei 1998). Di tempat lain, seorang pria uzur yang merupakan pelaku perkosaan mengungkapkan dosanya kepada putri kandungnya sebelum mengembuskan nafas terakhir (Kompas, 16 Mei 2001).

 

Kekuatan tulisan Seno tentang Tragedi Mei 1998 membuat Pamela Allen (2003: 396) menulis:  “Perhaps the writer who has most forcefully expressed outrage at the brutality of May 1998 is Seno Gumira Ajidarma” (“Barangkali penulis yang paling kuat mengekspresikan kemarahan atas kebrutalan di bulan Mei 1998 adalah Seno Gumira Ajidarma”).

Tragedi Mei juga mengilhami tiga penulis best seller perempuan Tionghoa untuk juga menumpahkannya dalam novel-novel mereka. Pertama adalah V. Lestari,   Ketika Barongsai Menari (2000). Cerita ini mengenai pembunuhan―yang adalah spesialisasi Lestari-- yang berlatar belakang Tragedi Mei 1998. Walaupun novel ini semacam cerita detektif, namun pada saat yang sama Lestari, sebagai seorang Tionghoa menunjukkan sikap politiknya seperti tertulis di bawah ini

 

Sebagian besar korban [Tragedi Mei] adalah orang Tionghoa atau orang Indonesia keturunan Cina. Jelasnya kerusuhan itu bermotifkan rasialisme. Serangan ditujukan secara khusus kepada kelompok etnis tertentu. Dalam hal ini Tionghoa. Tragedi luar biasa itu menimbulkan kegemparan di seluruh dunia  (Lestari, 2000: 17)

 

Habis kita [orang Tionghoa] memang tidak pernah dianggap sebangsa. Kalau ada kerusuhan rasial yang disalahkan selalu kita. Katanya ekslusif lah, nggak mau gaul lah, suka menyuap pejabat lah, ini-itu lah. Habis gimana, coba? Gimana mau gaul kalau kita nggak diterima. Kita kan minoritas, Kris. Rasa takut pasti ada. Itu sebabnya kita lebih suka tinggal berkelompok. Supaya punya teman. Supaya lebih kuat. Rasanya itu wajar. Di mana-mana kaum pendatang juga begitu. Kenapa cuma kita yang disalahkan ya, Kris?  (Lestari, 2000: 39).

 

 

Karya yang lebih kuat ditulis oleh S.Mara Gd, seorang perempuan Tionghoa yang juga spesialis penulis cerita detektif (Sidharta 1992: 174-176) dalam Air Mata Saudaraku (2004). Novel ini menceritakan secara kronologis dari tanggal 12-21 Mei 1998 apa yang terjadi di Jakarta pada suatu keluarga Tionghoa. Sang Ibu dibunuh, adik perempuan diperkosa, sehingga membuat sang tokoh, Hasan Tandoyo harus menghadapi kenyataan yang pahit, termasuk kebenciannya pada Dokter Gatot, yang beretnis Jawa, yang telah merawat adiknya. Dua tahun kemudian penulis senior, Marga T (Tjoa) juga tidak ketinggalan dengan Sekuntum Nozomi Jilid 3 (2006) Novel ini sangat panjang, terbit dalam lima jilid dan jilid ke-3 difokuskan pada Tragedi Mei. Sebagai ungkapan keprihatinan Marga, maka seluruh royalti buku ini akan disumbangkan bagi para korban yang cacat akibat tragedi Mei 1998

Novel yang amat menarik tentang Mei 1998 ditulis oleh seorang aktivis perempuan Muslim, Nisa’ul Kamilah Chisni, Andromeda: Repihan Kisah di Balik Suksesi Kepemimpinan Nasional, Mei 1998 (2008). Buku ini menceritakan persahabatan Andromeda, sang protagonis dengan Chang Zou, yang juga aktivis mahasiswi menjelang kejatuhan Orde Baru. Chang Zou adalah puteri Oom Liem, seorang pengusaha Tionghoa kaya. Buku ini sangat menarik karena banyak memuat gugatan Nisa’ul atas posisi “second class citizen” orang Tionghoa, yang disampaikan lewat Chang Zou, misalnya

 

Warga Negara Keturunan. Begitulah identitas yang disematkan padaku dan orang-orang sipit lainnya. kami tak pernah diakui sebagai warga negara asli meski kami lahir dan dibesarkan di bumi Indonesia. Singkek, Amoy dan entah apa lagi yang mereka sandarkan pada diri kami, kami tak peduli. Yang kami tahu, kami warga Indonesia. Apa itu salah?

 

Apakah salah kami jika punya nenek moyang Cina sehingga kami diekslusifkan, diberi tanda khusus pada KTP, dipersulit saat mengurus paspor, SIM dan lain-lain? Kami tidak diperbolehkan memasuki arena politik dan mendapatkan perlakuan diskriminatif dalam hal militer dan menjadi pegawai negeri sipil. Kami pun dilarang menggunakan nama, simbol, bakan perayaan imlek pun dilarang, padahal kami  sungguh ingin melestarikan tradisi nenek moyang kami, apa itu salah? (Chisni, 2008: 51)

 

Mei Hwa, seorang muslimah Tionghoa yang akan menikah dengan pacarnya yang pribumi, namun tewas terbakar dalam Tragedi Mei menjadi tulisan K. Usman, “Mei Hwa Wanita di Seberang Sana” (2008). Cerpen ini pertama terbit di Harian Berita Kota, 30 Juli 2000, dua tahun setelah Tragedi Mei. Peristiwa ini juga menjadi latar belakang novel Liem Hwa (2005) karya Satmoko Budi Santosa. Liem Hwa, seorang Muslim Tionghoa, mendapat musibah dalam Tragedi Mei. Ayahnya yang pengusaha emas “dibunuh secara keji, tubuhnya dicacah-cacah di dalam ruko emas”, sedangkan ibunya “diperkosa oleh sekian banyak orang, sekian banyak penjarah emas di rukonya”. Kakak Liem Hwa bunuh diri karena menanggung malu dan ibunya melahirkan serta membesarkan bayi hasil perkosaan (Santosa 2005: 14-17), 

Tema kekerasan lain juga menjadi karya Sindhunata Putri Cina (2007) dan Lalu Mohammad Zainuddin Bunda…Aku Kembali (2008). Novel pertama berlatarbelakang kerajaan Jawa karya seorang rohaniwan Katolik, seorang peranakan Tionghoa kelahiran Malang, Romo Sindhunata, yang banyak juga menghasilkan karya-karya dalam bahasa Jawa. Tulisan kedua cukup menarik mengenai kehidupan suatu keluarga Muslim Tionghoa di Lombok yang menjadi korban kekerasan. Penulisnya masih berusia muda dan berasal dari daerah yang menjadi setting novelnya tersebut.

 

2. Fiksi Sejarah

Tema kedua yang banyak menarik perhatian adalah fiksi bertemakan sejarah. Yang menarik, figur Cheng Ho, seorang Laksamana Muslim dari Dinasti Ming cukup terkenal dan menginspirasi beberapa penulis non-Tionghoa. Pertama-tama adalah karya monumental Remy Silado, Sam Po Kong - Perjalanan Pertama (2004) dengan ketebalan lebih dari 1,000 halaman. Kemudian TASARO (Taufiq Saptoto Rohadi) menciptakan tokoh Hui Sing, murid perempuan Cheng Ho yang berpetualang di Jawa dalam Samita: Sepak Terjang Hui Sing, Murid Perempuan Cheng Ho Sepak terjang pendekar Muslimah di Tanah Jawa (2004, 2008). Cheng Ho dalam kisah yang gaul dan funky muncul dalam novel komik (nomik) kolaborasi Setiawan G. Sasongko (naskah) dan M.H. Pandan Wangi (ilustrasi), Along ‘n Skateboard: Teror di Kapal Cheng Ho (2007). Riwayat Cheng Ho secara historis dalam bentuk komik dibuat oleh Ulfah M. Siregar, Rendra M. Ridwan dari Sekolah Komik Papilaka, Laksamana Cheng Ho: Laksamana Agung Pembaw Perdamaian (2007)

Masih banyak cerita-cerita fiksi yang bertolak dari figur atau persitiwa sejarah lainnya, misalnya Lauw Pia Ngo, seorang Tionghoa yang membangun masjid di Sumenep Madura, yang ditulis oleh Muhammad Saidi (2007), Pembantaian orang Tionghoa di Batavia tahun 1740 dijadikan naskah drama oleh Remy Silado,  9 Oktober 1740: Drama Sejarah (2005). Kemudian bermunculan pula fiksi sejarah dengan tokoh rekaan sang penulis: Siau Ling,  karya Remy Silado (1999) berupa naskah drama percintaan yang runtuh akibat penindasan penguasa dengan latarbelakang Jawa pada abad ke-15. Dua karya Lan Fang, Reinkarnasi (2003) dan Pei Yin (2004); Rosida, Ichen dan Ichen (2003) ; Leny Helena, Gelang Giok Naga (2006) serta Ian Sancin,  Yin Galema (2009) mempunyai latar belakang hubungan Tiongkok dengan Nusantara. Yang berbeda, namun agak mirip dengan Ca Bau Kan adalah novel Naning Pranoto-Miss Lu : Putri Cina yang Terjebak Konflik Etnik dan Politik (2003) yang berkisah Miss Lu, seorang nona blasteran Tionghoa-Portugis yang berusaha melacak jejak leluhurnya, yang pernah tinggal di Indonesia.

 

3. Kisah Percintaan

Jalinan kasih antara pria dan wanita senantiasa menarik minat banyak penulis untuk mengabadikannya dalam karya mereka. Demikian pula kisah percintaan antara Tionghoa dengan pribumi maupun sesama Tionghoa pun banyak dihasilkan di masa Reformasi. Pertama-tama yang harus disebut adalah masterpiece Remy Silado, Ca-Bau-Kan (1999) yang tiga tahun kemudian difilmkan dengan sutradara Nia di Nata. Buku ini menceritakan romansa Tan Peng Liang, seorang pedagang Tionghoa asal Semarang dengan seorang penari cokek Betawi, Tinung. Kisah cinta yang unhappy ending antara perempuan Tionghoa dengan lelaki pribumi muncul dalam karya S.Satya Dharma (Sugeng Satya Dharma) Lie, Jangan Bilang Aku Cina (2000), yang ber-setting Medan & Jakarta dengan tokoh Dipo, seorang keturunan kuli kontrak dengan Lie, seorang perempuan China Medan.. Novelette Meiliana K (Kristani) Tansri, Kupu-kupu (2002) menceritakan kisah cinta tragis antara pemuda Batak dan pemudi Tionghoa Kristiani dengan setting Jambi, yang adat istiadat Tionghoanya masih cukup kuat. Warna lain muncul dari tulisan almarhum Anwar Haris  Mei Lie (2004). Novel remaja Islami ini diilhami oleh huru-hara anti China di Makassar tahun 1997. Menariknya kisah cinta antara pemudi Tionghoa yang Buddhis dengan pemuda Makassar yang Islam berakhir secara baik-baik tanpa salah satu pihak melakukan konversi religius ke pihak lainnya, seperti yang lazim dalam berbagai cerita lain. 

Novel Yogi Soegyono, Mimpi Dara (2008) yang kemudian dijadikan setting peragaan busana menceritakan jalinan asmara antara pemuda Tionghoa dengan gadis Minang. Novel best seller Bagin (Bachtiar Ginting), Cinta Bersemi di Seberang Tembok (cetakan I 1981, X 2004) berlatar belakang dendam sejarah antara seorang pemuda Melayu yang ayahnya pernah menjadi korban pasukan keamanan Tionghoa (Pao An Tui) di Medan semasa revolusi. Namun kemudian Yusuf, sang pemuda ini jatuh cinta dengan seorang pemudi Tionghoa dan bersama-sama mereka membangun cita-cita untuk Indonesia yang baru. Buku ini disinetronkan ke layar kaca  tahun 2002 dengan judul “Cinta Terhalang Tembok” arahan sutradara Teater Koma yang kondang, Nano Riantiarno dengan pemeran Olga Lydia (sebagai debutan), Alex Komang dan Butet Kartaradjasa.

Percintaan antara pemuda-pemudi Tionghoa hadir dalam novel Marga T, Gema Sebuah Hati (cetakan I 1976, IX 2002). Buku ini terbit pertama kali di masa Orde Baru, namun cukup mengherankan bahwa cerita dengan latar belakang kehidupan mahasiswa Universitas Res Publika (yang didirikan oleh BAPERKI, yang kemudian dilarang oleh Orba) ini bisa terbit. Terakhir adalah novel Sara Tee, Margaku Lauw (2007) yang mengisahkan halangan yang menimpa pernikahan dua sejoli yang memiliki nama keluarga yang sama.

 

4. Persoalan Identitas

Dilarangnya ekspresi ketionghoaan di masa Orde Baru membuat banyak orang Tionghoa yang kemudian mengalami masalah dengan identitas dirinya. Tema ini diangkat dengan baik dalam cerpen-cerpen Veven Sp. Wardana, yang kemudian dibukukan dengan judul Panggil Aku: Pheng Hwa (2002). Kebingungan akan pilihan identitas Tionghoa atau Jawa juga dituliskan oleh Ratna Indraswari Ibrahim, Pecinan Kota Malang (2008). Anggraeni, salah satu tokoh utama di novel ini mengatakan:

 

Sejujur-jujurnya, dia sendiri kadang merasa gamang. Karena bila dia berada di lingkungan etnis Tionghoa, orang bilang dia perempuan Jawa. Sebaliknya kalau berada di komunitas etnis Jawa, mereka akan bilang dia perempuan Tionghoa baba (Ibrahim 2008: 139).

 

Anak-anak hasil perkawinan campuran juga muncul dalam beberapa karya. Pertama adalah Dina F.Al Masyhur (Dina Fitryah Al Masyhur), Bapakku Arab, Ibuku Cina, Aku….Sebuah Novel untuk Bercermin (2007). Barangkali tulisan ini adalah bersifat semi-otobiografis, yang menceritakan kehidupan pribadi penulisnya, yang bergumul dalam dua dunia: Arab (dari ayah) dan Tionghoa (dari garis ibu). Situasi serupa muncul dalam format yang lebih gaul, dalam chicklit karya Tari Danawidjaja, Coincidentia (2005). Walaupun tidak secara khusus bertemakan anak pernikahan campuran, namun penulis banyak memberikan deskripsi yang cukup gaul tentang suka duka sang protagonis yang lahir dari pernikahan Padang (ayah) dengan Cina Palembang (ibu)

 

5. Pluralisme

Penerbit Mizan, salah satu penerbit buku-buku Islam terkemuka, menerbitkan serial Nomik (novel komik) Catatan Harian Olin di tahun 2000. Hingga kini Nomik Olin telah terbit dalam 5 jilid dan mengalami banyak sekali cetak ulang. Yang mengesankan dalam kisah ciptaan Ali Muakhir ini adalah unsur pluralisme yang cukup kental, walau agak stereotipikal. Nomik Olin menceritakan persahabatan trio cewek pluralis: Lina Meliani (Olin) suku Jawa dan Sunda yang beragama Islam; Kristina Maria (Kristin), Batak dan Betawi yang beragama Kristen serta Secilia Huang-Hu (Lia) “Keturunan Tionghoa” yang beragama Budha. Berbeda dengan kisah lain yang menempatkan tokoh Tionghoa hanya sebagai “tempelan”, Nomik Olin jilid 3,  Selalu di Hati (cetakan ke-1 2001; ke-5 April 2003) berfokus pada Secilia Huang Hu, yang gundah karena Omanya akan dititipkan di panti jompo. Munculnya tokoh perempuan Tionghoa beragama Budha dalam novel remaja Islami best seller (lihat tabel I) merupakan sesuatu yang sangat mengesankan, yang mungkin tidak terbayangkan di masa Orde Baru.

 

6. Religius

Tema religius muncul dalam berbagai judul yang sudah disebut di atas, misalnya Nomik Olin atau Novel Remaja Islami dari Mizan. Namun karya Vanny Chrisma W., Wo Ai Ni Allah: Sebuah Novel Pencarian Spiritual Gadis Cina (2008) yang cukup tebal inilah yang jelas mengandung pesan dakwah Islami.

 

7. Antagonisme Rasial

Novel karya Henry Simarmata, Panggil Aku, Jo (Seks, Tubuh, Selingkuh) (2007) ini harus digolongkan ke dalam jenis bacaan dewasa. Temanya adalah saling benci dan permusuhan diantara para tokohnya yang berlatang belakang etnis berbeda: “Cina-Jawa-Batak”. Rasanya tepat sekali kalau novel ini digolongkan dalam kategori “antagonisme rasial”

 

8. Urban Living

Liku-liku kehidupan membuat empat perempuan [Tionghoa] kembar memiliki empat kehidupan yang berbeda. Mereka harus berkumpul mendampingi ayah mereka yang diperkirakan tidak akan lama lagi hidupnya. Disinilah cerita Dim Sum Terakhir karya penulis best seller Clara Ng (2006) dibangun. Menurut Putu Fajar Arcana, wartawan kebudayaan Kompas, yang menulis dalam halaman pengantar, novel ini “membeberkan persoalan seputar kaum keturunan Tionghoa tanpa prasangka. Novel ini tidak lagi tertarik membahas isu-isu diskriminasi serta pribumi-nonpribumi, yang biasanya melekat dalam novel-novel Indonesia dengan tema kaum keturunan Tionghoa sejak tahun 1960-an sampai 1990-an”.

 

Demikianlah delapan tema besar dalam fiksi ketionghoaan di masa Reformasi (Juni 1998-Juli 2009). Sejauh ini ada beberapa hal yang menarik yang sudah bisa disimpulkan:

(1)   Jumlah karya ketionghoaan dari penulis non-Tionghoa yang bisa dikumpulkan berjumlah tiga kali lebih banyak dari karya penulis beretnis Tionghoa.

(2)   Mayoritas para penulis non Tionghoa relatif masih berusia muda, yang menandakan munculnya generasi baru penulis yang berpandangan lebih pluralis.

(3)   Hasil karya fiksi penulis non-Tionghoa mayoritas bersifat simpatik pada etnis Tionghoa

(4)   Latar belakang keagamaan para penulis tersebut adalah agama Islam, dan mereka berasal dari berbagai daerah (termasuk dari luar Jawa)

(5)   Dengan demikian hasil karya tulisan mereka amat kental nuansa keislamannya, namun tidak bersifat dogmatik, justru banyak yang bersifat pluralis.

(6)   Disinilah menariknya pertemuan dua kutub besar (Islam-Tionghoa) tersebut dalam karya-karya fiksi

(7)   Sejumlah tulisan fiksi tersebut telah memenangkan penghargaan dalam lomba penulisan, khususnya dari majalah Femina.

(8)   Beberapa judul dari karya fiksi tersebut, secara mengejutkan, mampu menjadi best seller dan mengalami cetak ulang hingga  beberapa kali

(9)   Salah satu perkembangan menarik dewasa ini adalah ketertarikan penerbit Islami dalam penerbitan buku-buku bertema ketionghoaan.

 

Sebagai penutup, kita patut merenungkan pertanyaan terakhir dan mungkin yang paling penting adalah: di tangan siapakah buku-buku itu akan dibaca dan dinikmati? Apakah hasil tulisan penulis Tionghoa hanya dibaca peminat dari kaumnya dan sebaliknya? Hal ini memerlukan penelitian lebih lanjut, namun... semoga tidak begitu, sehingga kedua belah pihak bisa saling memperluas wawasan dan saling mengenal melalui bacaan fiksi. Dengan saling memahami inilah hubungan golongan Tionghoa dengan mayoritas akan semakin baik. Semoga.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 1. Karya Fiksi Karangan Penulis non-Tionghoa (disusun secara kronologis)

 

Total: 30 tulisan

 

Pengarang

Tempat/

Tgl Lahir

Judul

 

Penerbit/

Tahun

Keterangan

Remy Silado

(Yapi Panda Abdiel Tambayong

alias Yapi Tambayong)

Makassar, 1945

Ca-bau-kan (Hanya Sebuah Dosa)

Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, Yayasan Adikarya IKAPI & The Ford Foundation, ●cetakan I: Maret 1999

404 h (kemudian dicetak ulang berkali-kali, misalnya di tahun 2002 sudah dicetak 8 kali)

 

● Penulis senior serba bisa yang sudah sangat banyak menghasilkan buku, puisi, novel, hingga ensiklopedia.

Pernah dimuat secara bersambung di Republika  tahun 1997

● Best seller, dicetak ulang beberapa kali

● Dibuat film dengan judul yang sama (2002) dengan sutradara Nia di Nata

Seno Gumira Ajidarma

Boston,

1958

“CLARA atawa Wanita yang Diperkosa”, dimuat dalam buku Iblis Tidak Pernah Mati

Jogjakarta: Galang Press

 

Cetakan I, Mei 1999
Cetakan II, Agustus 2001

 

264 h.

●Wartawan dan penulis yang sangat produktif dan sudah banyak memenangkan penghargaan di dalam dan luar negeri. Karya-karyanya sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing.

Dipublikasikan pertama kali ketika dibacakan oleh Adi Kurdi dan Ratna Riantiarno, Galeri Cipta TIM, 10 Juli 1998.

●Dimuat harian Republika, 26 Juli 1998,

●Bersama cerita Jakarta, 14 Februari 2039, diformat ulang menjadi naskah drama Jakarta 2039, dimuat dalam kumpulan naskah Mengapa Kau Culik Anak Kami? (Galang Press, 2001).

● Sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan Jepang

Veven Sp. Wardana

 

Turen, Malang, 1959

‘Panggil Aku: Pheng Hwa’ dalam kumpulan cerpen Veven Panggil Aku: Pheng Hwa (h.3-10)

Jakarta:

Kepustakaan Populer Gramedia, 2002

202 h.

● Wartawan, penulis sekaligus pengamat sastra dan film.

Cerpen ‘Panggil Aku: Pheng Hwa’ pertama kali terbit di Kompas, 11 Oktober 1998

● Bagian pertama buku ini berisi tujuh cerpen bertema Tionghoa Indonesia

Remy Silado

(Yapi Panda Abdiel Tambayong

alias Yapi Tambayong)

Makassar, 1945

Siau Ling

Jakarta: KPG, 1999

136 h.

Naskah drama percintaan yang runtuh akibat penindasan penguasa dengan latarbelakang Jawa pada abad ke-15.

Bagin

(Bachtiar Ginting)

Binjai, Sumatra Utara

1927-2008

Cinta Bersemi di Seberang Tembok

Jakarta:

Balai Pustaka,

 

cetakan:

1-1981

2-1988

3-1992

4-1993

5-1997

6-2000

7-2001

8-2001

9-2002

10-2004

 

143 h.

●Wartawan, penulis dan politikus (penganut Soekarnoisme)

●Buku ini dibuat sinetron tahun 2002

“Cinta Terhalang Tembok” arahan Nano Riantiarno dengan pemeran Olga Lydia, Alex Komang dan Butet Kartaradjasa

S.Satya Dharma (Sugeng Satya Dharma)

Medan, 1962

Lie, Jangan Bilang Aku Cina

Jakarta: Titik Terang, 2000,

v, 152 h.

▲Dipersembahkan untuk “Lou Yun Hap: Lelaki Muda, Mahasiswa Fak. Teknik Elektro Univ. Indonesia yang tewas di ujung  pelor Tentara dalam memperjuangkan tegaknya Demokrasi di Indonesia” (halaman depan)

▲ Penulis adalah Ketua Umum Asosiasi Wartawan Muslim (AWAM) Indonesia

K. Usman (Haji Kurnia Usman)

 

Palembang 1940

“Mei Hwa Wanita di Seberang Sana” dalam

Mei Hwa Wanita di Seberang Sana: Kumpulan Kisah Pendek

Jakarta: Lini Zikrul Remaja, Agustus 2008

160 h

Wartawan dan penulis

senior yang berkarya sejak tahun 1950-an.

Kumpulan cerpen, judul buku diambil dari judul salah satu cerpen bertema Mei 1998

“Mei Hwa Wanita di Seberang Sana” pertama terbit di Harian Berita Kota, 30 Juli 2000

●Ali Muakhir (penulis cerita) 

●Dyotami Febriani (ilustrasi),

● Ali Muakhir:  Tegal, tahun kelahiran dirahasiakan

 

● Dyotami Febriani:  Bandung, 1976

Catatan Harian Olin 1: Pilihan Terakhir

Bandung: Mizan, 2000 (cetakan ke-7 2002)

 

164 h.

●Novel-Komik (NOMIK) Remaja Islami yang Best-Seller

● Ali Muakhir adalah mantan ketua Senat Fakultas Agama Islam UNINUS

● Sejauh ini (2009) sudah terbit sampai jilid ke-5

● Kisah persahabatan tiga cewek SMA dengan latar belakang berbeda: Olin yang Jawa-Sunda-Islam, Kristin yang Batak-Betawi-Kristen serta Lia-“Keturunan Tionghoa”-Budha

● Mendapat penghargaan Adikarya IKAPI untuk kategori Perwajahan Buku Remaja Terbaik III dan kategori Ilustrasi Buku Remaja Terbaik II

 

idem

idem

Catatan Harian Olin 2: Aduh Pusiiing!

Bandung: Mizan, 2000 (cetakan ke-7 2002)

163 h

 

idem

idem

Catatan Harian Olin 3: Selalu di Hati

Bandung: Mizan, Maret 2001 (cetakan ke-5 April 2003)

164 h

Fokus jilid ini ada pada Lia (Secilia Huang Hu), gadis Tionghoa trio Olin, yang gundah karena Omanya akan dititipkan dip anti jompo

●Ali Muakhir (penulis cerita)  ●Dyotami Febriani & Rudy Hardianto (ilustrasi),

idem

Catatan Harian Olin 4: Kekasih Sepenggalah

Bandung: Mizan,

cetakan I September 2002  (cetakan ke-3 Mei 2003)

149 h

 

●Ali Muakhir (penulis cerita) 

●Sinta Sari (gambar)

idem

Catatan Harian Olin  5: Berdebar-debar

Bandung: Mizan, cetakan I September 2005, cetakan II Agustus 2006

156 h.

 

●Seno Gumira Ajidarma (Naskah)

● Gambar: Ansar Zacky

Boston,

1958

Jakarta 2039: 40 Tahun 9 bulan setelah 13-14 Mei 1998

 

Jogjakarta: Galang Press

 

Cetakan I, 2001

80 h.

Komik imajinatif tentang korban dan pelaku Kekerasan Mei 1998 pada empat puluh tahun kemudian

 

 

 

Naning Pranoto

Yogyakarta 1957

Miss Lu: Putri Cina yang Terjebak Konflik Etnik dan Politik

Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia, 2003

260 h.

Seorang wartawati dan penulis senior yang sangat produktif. Tahun 2004 dilaporkan sedang

menempuh S-3 di bidang Chinese Studies di Suzhou University, RRC.

Rosida (Rosidawati)

Sumenep, 1961

Ichen dan Ichen

Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003

141 h.

●Seorang penulis produktif asal Madura, dewasa ini juga menulis skenario sinetron.

●Tulisan ini pernah dimuat bersambung dalam majalah Femina.

Anwar Haris

Cirebon 1974-2003

Novel Remaja Islami: Mei Lie

Bandung: DAR! Mizan, Februari 2004,

98 h

● Alumnus Bahasa arab IAIN Sunan Gunung Djati Cirebon (1996) dan The University of Queensland (2001). Dengan demikian fasih berbahasa Arab dan Inggris.

● Meninggal pada saat menjadi pegawai Departemen Agama Pusat di Jakarta.

●Buku ini adalah Pemenang  ke-2 Lomba Cerita Fiksi Keagamaan DEPAG (2001), yang berlatar belakang kerusuhan anti-Cina di Makassar 1997

TASARO (Taufiq Saptoto Rohadi)

 

Gunung Kidul, Jogjakarta, 1980

Samita: Sepak Terjang Hui Sing, Murid Perempuan Cheng Ho

Sepak terjang pendekar Muslimah di Tanah Jawa

Bandung: DAR! Mizan, 2004 (cetakan 2 2008)

481 h.

Menempuh pendidikan jurnalistik di Universitas Negeri Yogyakarta.

Penulis novel bertema kesejarahan yang cukup produktif, sekaligus juga seorang wartawan.

Berlatar belakang kedatangan misi Laksamana Cheng Ho

di Jawa

Remy Silado

(Yapi Panda Abdiel Tambayong

alias Yapi Tambayong)

Makassar, 1945

Sam Po Kong - Perjalanan Pertama 

Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, Januari 2004

1128 h.

Berlatar belakang kedatangan misi Laksamana Cheng Ho

di Jawa

idem

idem

9 Oktober 1740: Drama Sejarah

Jakarta: KPG, 2005

198 h.

Drama tentang Pembantaian Tionghoa di Batavia 1740 yang diperkirakan menelan korban 10,000 jiwa

Satmoko Budi Santoso

Yogyakarta: 1976

Liem Hwa

Yogyakarta: Gita Nagari, 2005, 138 h

●Penulis adalah seorang cerpenis yang cukup produktif

●Bertema Kekerasan Mei 1998

Tari Danawidjaja (alias Sukma Mentari)

 

Jakarta, 1979

Coincidentia

Jakarta: Grasindo

cetakan I: Agustus 2005

cetakan II: Oktober 2005

188 h

●Pernah kuliah di Perth dan Kuala Lumpur.

● Pernah bekerja sebagai reporter dan copy writer.

●Chicklit bernuansa multikultural

Dina F.Al Masyhur (Dina Fitryah Al Masyhur)

Jakarta, 1982

Bapakku Arab, Ibuku Cina, Aku….Sebuah Novel untuk Bercermin

Jakarta: International Network Publishing, 2007,

407 h

●Penulis dan wartawan yang lahir dari pernikahan campuran Arab-Tionghoa

● Alumnus Universitas Prof.Dr.Moestopo (Beragama)

● Pernah menyabet penghargaan Aktris Terbaik Festival Teater Kampus se-Jakarta 2003

Muhammad Saidi

Sumenep, 1966

Lauw Pia Ngo (Kisah Persahabatan Muslim dan Kong Hu Cu)

Yogyakarta: Pustaka Insan Madani, 2007,

73 h

 

●Sebelumnya pernah diterbitkan

[Jakarta] : Puslitbang Pendidikan Agama dan

Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama, 2006

 

● Magister Pendidikan yang juga dosen dan kepala P3M STKIP PGRI Sumenep

● Salah seorang pendiri Agupena (Asosiasi Guru Penulis seluruh Indonesia)

● Buku ini adalah Pemenang II Perlombaan Nasional Penulisan Fiksi  Keagamaan Balitbang Agama dan Diklat Keagamaan Depag untuk tingkat SLTP/MTs (Madrasah Tsanawiyah) tahun 2005

 

 

●Setiawan G. Sasongko (naskah)

● M.H. Pandan Wangi (ilustrasi)

 

 

Setiawan G. Sasongko lahir di Krapyak, Kujon, Ceper, Klaten, 1968

Along ‘n Skateboard: Teror di Kapal Cheng Ho

Jakarta: Zikrul Hakim, 2007

128 h.

●Alumni Fakultas Filsafat UGM

●Penulis dan pengarang dengan bermacam tema, mulai dari buku anak-anak, umum, agama, dan buku bilingual Inggris-Indonesia.

Henry Simamora

(Henry “Gerby” Simamora S.E.)

Riau (?)

Tidak ada data

Panggil Aku, Jo (Seks, Tubuh, Selingkuh)

Jakarta: Star Gate Publisher, 2007, 336 h

Seorang akuntan, alumnus FE Jurusan Akuntansi UGM 1993. Pernah menjadi dosen & penulis buku-buku teks akuntansi & manajemen

Lalu Mohammad Zaenudin

Desa Ganti, Kecamatan Praya Timur, Kab. Lombok Tengah, NTB, 1986

Bunda…Aku Kembali

Jakarta: Republika, Desember 2008

296 h

Penulis sejak tahun  2004 kuliah di Universitas Gajayana Malang dan dipercaya sebagai Presiden di kampusnya (2007-2008), disamping aktif dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)

Buku ini adalah novel ketiganya.

Drama kekerasan  yang terjadi atas  satu keluarga Tionghoa Muslim di NTB.

Nisa’ul Kamilah Chisni

Jombang, 1984

Andromeda: Repihan Kisah di Balik Suksesi Kepemimpinan Nasional, Mei 1998

Jogjakarta: Garasi,

Juli 2008

202 h.

Aktivis gerakan mahasiswa. Alumnus  Jurusan Tarbiyah UIN Malang dan kini menempuh S2-nya di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Buku ini bertema Kerusuhan Mei 1998, dengan salah satu tokoh utama aktivis mahasiswi Tionghoa, yang kemudian menjadi korban perkosaan

Ratna Indraswari Ibrahim

 

Malang (?)

Pecinan Kota Malang

Malang (?) Human Publishing, 2008, 156 h

Penulis adalah seorang cerpenis dan novelis produktif yang sudah banyak menghasilkan tulisan.

Beliau pernah diprofilkan dalam Suara Baru edisi khusus perempuan-perempuan berprestasi.

Vanny Chrisma W

 

Sidoarjo, Jatim, 1983

Wo Ai Ni Allah: Sebuah Novel Pencarian Spiritual Gadis Cina

Yogyakarta: Diva Press, Mei 2008

356 h.

●Pengarang pernah kuliah di STIE Perbanas Surabaya.

● Seorang penulis Muslim muda yang cukup produktif dan sudah menghasilkan beberapa novel.

● Menyukai kebudayaan Tionghoa, lagu Mandarin dan Korea.

Yogi Soegyono

 

Solok, 1967

Mimpi Dara (Dara’s Dream)

Jakarta: hdtikar, 2008

310 h

Seorang pengusaha yang juga berbakat menulis. Pernah mengenyam pendidikan tekstil di Jakrat.

●Novel bernuansa Minang-Tionghoa ini adalah karya pertamanya

Tidak dijual umum, dibagikan dalam Fashion Performing Arts ‘DARA’ karya Musa Widyatmodjo

Ian Sancin

Tanjung Pandan, 1963.

Yin Galema

Jakarta: Hikmah, 2009

Mulai mempublisir cerpen pertamanya tahun 1986,

Tahun 1990 bergabung dengan kelompok Jurnalis Mandiri Jakarta,

●Tahun 1998 bergabung dengan kelompok kajian Jurnalistik. Ash-Shiddiq Intellectual Forum Bandung.

Tahun 1999 bersama KPSPB ikut mensosialisasikan sastra ke berbagai sekolah lanjutan di Bangka.

Yin Galema merupakan novel pertamanya.

 

Sumber: buku-buku di atas ditambah dengan informasi dari google dan googlebooks

 

Keterangan:

  1. Urutan tabel ini adalah berdasarkan tanggal pertama suatu karya dipublikasikan. Misalnya Ca-Bau-Kan, yang aslinya adalah cerita bersambung dalam harian Republika tahun 1997, maka walaupun terbit sebagai novel di tahun 1999, maka karya ini dianggap sebagai karya tahun 1997. Walau muncul sebelum masa Reformasi, namun berhubung novel tersebut terbit di masa Reformasi dan menjadi best seller (bahkan dijadikan film di tahun 2002), karya tersebut masuk dalam daftar ini.
  2. Daftar ini juga memasukkan karya lama, misalnya Bagin, Cinta Bersemi di Seberang Tembok, yang pertama terbit tahun 1981, namun kemudian dicetak ulang hingga lima kali di masa Reformasi sekaligus diangkat menjadi serial televisi, maka karya tersebut juga diikutkan dalam daftar ini.

 

 

Tabel 2. Karya Fiksi Karangan Penulis Tionghoa (disusun secara kronologis)

 

Total: 11 karya

 

Pengarang

Tempat/Tgl Lahir

Judul

 

Penerbit/

Tahun

Keterangan

Lan Fang

 

Banjarmasin, 1970

Reinkarnasi

Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

 

cetakan I: Desember 2003; II-Juli 2004

111 h

Pendidikan FH Universitas Surabaya (UBAYA)

Pemenang penghargaan Cerber majalah Femina tahun 1997 dan pernah dimuat bersambung dalam Femina

Idem

idem

Pei Yin

Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

cetakan 1: Maret 2004; II-Juli 2004

127 h.

 

Pemenang penghargaan Cerber majalah Femina tahun 1998 dan pernah dimuat bersambung dalam Femina 1999

V Lestari

Bogor, tahun lahir dirahasiakan

Ketika Barongsai Menari

Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

2000

 

388 h.

Ia mengkhususkan diri menulis cerita detektif-kriminal, jenis cerita yang memerlukan ketelitian dan keahlian khusus untuk meramunya. Dan yang lebih khas lagi semua novel-novelnya menampilkan tokoh utama wanitanya sebagai "dektetif"-nya. Novel pertamanya, Yang Tak Terniali, terbit tahun 1982. Sejak itu sudah lebih dari 30 novelnya diterbitkan Gramedia.

Meiliana K (Kristani) Tansri

Jambi, 1974

Kupu kupu

Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, Januari 2002

139 h.

Beberapa karyanya telah memenangkan Sayembara Cerber Femina : Perahu Kertas (Juara I, 1997), Bunga Jambu (Juara II,1999), Kupu-Kupu (Juara II,2000), dan Belajar Terbang (Juara I, 2001)

Marga T

Jakarta, 1943

Gema Sebuah Hati

Jakarta: Gramedia

Pustaka Utama

 

cet 1:  Feb1976

2: Mei 1976

3: Nov 1976

4: Maret 1986

5: Maret 1987

6: Juni 1990

7: Feb 1992

8: Nov 1995

9:  Maret 2002

Semula terbit sebagai cerber di Kompas sejak Oktober 1974

Buku ini terbit pertama kali di masa Orde Baru, namun cukup mengherankan bahwa cerita dengan latar belakang kehidupan mahasiswa Universitas Res Publika (yang didirikan oleh BAPERKI, yang kemudian dilarang oleh Orba) ini bisa terbit.

S. Mara Gd

Tidak ada data

Air Mata Saudaraku

Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

 

Cet I Feb 2004

II Maret 2004

 

408 h.

Penulis karya-karya bertema kriminal, buku ini adalah perkecualian.

 

Nama samaran, nama asli tidak diketahui

Leny Helena

Tidak ada data

Gelang Giok Naga

Bandung: Qanita

Cetakan I: November 2006;

II-Maret 2007

 

319 h.

Alumnus FH UI, kini bermukim di AS. Asal cerita ini adalah tulisannya yang memenangkan Saymebara Cerber Femina 2004 yang kemudian dikembangkan menjadi novel ini.

Clara Ng

Jakarta, 1973

Dimsum Terakhir

Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

 

cetakan 1: April 2006; II- September 2006

361 h.

Salah satu penulis buku fiksi dewasa maupun cerita anak-anak best-seller. Buku ini adalah novelnya yang ketujuh.

Marga T

Jakarta, 1943

Sekuntum Nozomi

Jilid 3

Jakarta: Gramedia

Pustaka Utama

 

Cetakan I: Mei 2006 (sudah dicetak ulang)

 

631 h.

 

Latar belakang pendidikannya adalah dokter. Salah satu penulis novel best-seller Indonesia sejak tahun 1970-an.

Novel bertema Mei 1998

Seluruh royalti buku ini akan disumbangkan bagi para korban yang cacat akibat tragedi Mei 1998

Sara Tee

 

Surakarta, 1977

Margaku Lauw

Yogyakarta: Pustaka Anggrek, 2007

 

114 h.

Penulis cerpen,, novel dan cergam

Sindhunata

(Dr Gabriel Possenti Sindhunata SJ)

Batu,

Malang 1952,

Putri Cina

Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

 

Cetakan 1: September 2007;

cetakan 2: November 2007

304 h.

Wartawan Kompas dan kini pemimpin redaksi majalah Basis.   Mendapat doktor filsafat dari satu universitas di Jerman. Selain menulis banyak buku best-seller, ia juga menerbitkan buku-buku dalam bahasa Jawa:

Sumber: buku-buku di atas ditambah dengan informasi dari google dan googlebooks

 

Keterangan

  1. Urutan tabel ini adalah berdasarkan tanggal pertama suatu karya dipublikasikan. Misalnya Reinkarnasi karya Lan Fang, yang aslinya adalah cerita bersambung dalam majalah Femina tahun 1997, maka walaupun terbit sebagai novelet di tahun 2003, maka karya ini dianggap sebagai karya tahun 1997. Walau muncul sebelum masa Reformasi, namun berhubung novel tersebut terbit di masa Reformasi dan menjadi best seller (sempat dicetak ulang), karya tersebut masuk dalam daftar ini.
  2. Daftar ini juga memasukkan karya lama, misalnya Marga T, Gema Sebuah Hati,  yang pertama terbit tahun 1976, namun kemudian dicetak ulang di masa Reformasi maka karya tersebut juga diikutkan dalam daftar ini.

 

 

Daftar Pustaka

 

Ajidarma, Seno Gumira (2005), Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara. Yogyakarta: Bentang.

 

Allen, Pamela (2003), ‘Contemporary Literature from the Chinese “Diaspora” in Indonesia’, Asian Ethnicity, vol. 4, no.3, October, h.383-99.

 

____________ (2004), 'Diasporic Literature? New Chinese Voices in Indonesia', dalam Leo Suryadinata (ed), Chinese Indonesian: State Policy, Monoculture and Multiculture. Singapore: Eastern Universities Press, h. 101-114.

 

Heryanto, Ariel (1997), ‘Silence in Indonesian Literary Discourse: The Case of the Indonesian Chinese’, Sojourn vol.12 No 1, h. 26-45

 

__________ (2008), ‘Citizenship and Indonesian ethnic Chinese in post-1998 films’, dalam Ariel Heryanto (ed), Popular Culture in Indonesia: Fluid Identities in post-authoritarian politics. London & New York: Routledge, h. 70-92.

 

Sidharta, Myra (1992), ‘Contemporary Peranakan Women Writers’, dalam Claudine Salmon (ed), Le Moment “Sino-Malais” de la Litterature Indonesienne. Paris: Archipel, h. 165-84.

 

 

__._,_.___
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.

.: Website global http://www.budaya-tionghoa.net :.

.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.

Recent Activity
Visit Your Group
Give Back

Yahoo! for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar

Get it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups

Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.

.

__,_._,___
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages