Gue berharap anak muda era reformasi meninggalkan tradisi 'politik
kambing hitam' yang kerap menyalahkan orang lain atas segala
ketidakmampuan diri.
Membaca satu alinea artikel dibawah, lagi lagi gue bertanya, betulkah
kita tionghoa sedemikian merana nya sehingga tidak bisa berkembang?
di akhir tahun 60-an mungkin. Tapi setelah tahun 1980 an rasanya kita
tidak sebegitu terkekangnya deh.
Dan sepuluh tahun terakhir, buset, kurang bebas bagaimana lagi tionghoa.
Mau belajar bahasa mandarin, banyak menjamur.
Chinese Centre, untuk belajar kesenian berjibun.
Mo belajar lukis, tari, alat musik, barongsai, apa yang nggak ada. Apa
yang nggak bisa??
Tapi kenapa terus menerus disebut 32 tahun ... bla bla bla..... seperti
ratapan yang tiada akhirnya. Padahal sudah hampir 10 tahun lewat!!
Memoria passiona????
Sudah waktunya kita sadari, berhenti menyalahkan masa lalu kelabu.
Berhenti meratapi yang dulu dulu.
Yang penting adalah ke depannya, kita mau apa???
Gak bisa mandarin, stop menyalahkan orde baru, belajar! Bisa kok kalau
mau!
Pengen bisa kaligrafi, juga ga usah menekankan kekangan jaman buhul, gue
kenal asuk-asuk yang sudah 20 taon belajar kaligrafi. Berarti mulainya
diantara 32 tahun terkekang itu khan. Kok bisa? jadi apanya yang
terkekang?
Barangkali minatnya, hehehe. Kalau anak muda sekarang enggak tertarik
belajar kaligrafi, enggak minat mempelajari batik peranakan, lebih suka
melangsungkan pernikahan cara barat, itu bukan salah 32 tahun terkekang.
Hampir semua suku mengeluhkan hal serupa, bedanya yang ributin 32 tahun
cuman kita tionghoa,
yang lain sudah sadar duluan bahwa masalahnya adalah pada minat, minat,
minat!!!
Bagaimana menumbuhkan minat di kalangan anak muda untuk menjaga warisan
budaya? Bagaimana supaya minat budaya dapat berkembang ditengah maraknya
online gaming, tontonan yang lebih menarik, hiburan yang lebih keren?
Itu yang perlu dibahas, 32 tahun lewat ga ada urusannya.
Satu lagi yang gue masih bingung, apakah tionghoa Indonesia punya
kewajiban menjaga warisan budaya China? Why??
Sementara gue masih krisis Identitas sibuk mencari batas membedakan yang
mana budaya tionghoa dan mana budaya China,
dan mana yang menjadi kewajiban gue untuk melestarikannya????
----------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------
-------------
HUMANIORA
Kompas , Kamis 6 Desember 2007 hlm 12
Satu Generasi Tionghoa Terancam Putus Budaya
Akibat terkekang selama lebih dari 32 tahun, satu generasi komunitas
Tionghoa terancam putus budaya.
Saat ini, sebagian besar generasi muda Tionghoa di Indonesia tidak lagi
mampu berkomunikasi dalam bahasa Mandarin dan atau menghasilkan karya
seni Tionghoa seperti kaligrafi maupun lagu-lagi klasik China.
Kekhawatiran tersebut diungkapkan oleh pelukis kaligrafi China, Abidin
Tane (73), di sela-sela makan siang bersama Jin Yang, pelukis asal
China, di Jakarta, Rabu (5/12).
Kedatangan Jin Yang, yang juga terkenal dengan teknik melukis warna
tebal, adalah untuk memamerkan 80 lukisannya di Jakarta pada 7-11
Desember mendatang. Menurut lelaki yang bernama Tionghoa Chin Lik Hui
itu, sekarang ini tinggal generasi berusia lebih dari 60 tahun ke atas
yang masih mampu berkomunikasi dalam bahasa Mandarin maupun bisa
mempraktikkan kesenian Tionghoa (A10)
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.16.15/1173 - Release Date:
12/5/2007 9:29 PM
[Non-text portions of this message have been removed]
Gw juga setuju sama si uly
Gw lihat orang belajar sejarah tuh buat cari2 kesalahan dan menghibur diri
Dan berusaha menempatkan Tiongkok diatas segalanya
Misalkan karena masa lalu ada yang menyebut Jepang bangsa biadab?. Saya
Tanya apa generasi jepang sekarang ikut bertanggung jawab? Kalau dulu
pendatang2 arab juga pernah mengalami perlakuan tak pantas dari era2 dinasti
? masak kita generasi sekarang ikut bertanggung jawab?
Kalau dicari2 terus gak ada habisnya , buat apa belajar sejarah hanya untuk
mengisi mimpi buruk.......mending anda sekalian mulai belajar bahasa kek
Daripada belajar sejarah orde baru hehehehe
# Mohon selalu berbahasa santun dan sopan, kunjungi rumah kita di
http://tionghoa-net.blogspot.com #
Subscribe : tionghoa-net-subscribe@yahoogroups.com, Unsubscribe :
tionghoa-net-unsubscribe@yahoogroups.com
Motto : Persahabatan, Perdamaian dan Harmoni
Yahoo! Groups Links
kata terkekang mungkin masih bukan merupakan kata yang tepat untuk
menggambarkan pengalaman-pengalaman kelompok-kelompok masyarakat di
indonesia, salah satunya Tionghoa. terkekang masih terkesan ringan dan
bisalah cincai-cincai kita lupakan, seperti karakter masyarakat tionghoa
yg telah terbentuk saat ini, toh kekangannya udah dilepaskan, walau
masih lom sepenuhnya, namun cukuplah u/ bisa bernapas lebih lega,
membentuk milis-milis yang bisa memaki sana dan sini (walau tetap
diawasi, awas! ;)), mengeluh dan meratap sana sini :P.
kata kunci yang tepat menurutku adalah kekerasan yang dilakukan secara
sistematis dan terstruktur, yang bukan hanya sekedar tidak boleh main
barongsai, merayakan imlek ato berbahasa mandarin, atau membentuk
lembaga negara secara khusus untuk mengkoordinasikan masalah cina
(berbanggalah karena kita dipandang sebagai sekelompok masalah kekeke)
tapi juga penghilangan nyawa. bukan satu, tapi sudah mendekati angka
juta. dan ini merupakan pelanggaran HAM tingkat tinggi yang tentu saja
tidak akan pernah bisa dilupakan begitu saja.
sepakat untuk berhenti meratapi kehidupan berbudaya dan identitas
Tionghoa yang selain dihancurkan secara terstruktur oleh sistem negara
yang korup, juga semakin tergerus oleh arus "modernisasi", dan jgn
melupakan fakta bahwa budaya tionghoa juga "dihancurkan" oleh orang (yg
mengaku) tionghoa sendiri. Menjadi tionghoa bukan hanya sekedar memiliki
marga ataupun nama 3 huruf kanji atau bisa nyanyi lagu mandarin, atau
berbahasa mandarin, hebat main barongsai, berkung-fu atau hafal silsilah
keluarga dari A ampe Z atau bergaya hidup ala orang dari negeri leluhur
sana.
manifestasi/materi-materi budaya masih dapat direvitalisasikan kembali,
seperti mandarin yang kursusnya udah menjamur kemana2 (walau lebih
mementingkan aspek ekonomis pasar daripada revitalisasi budaya itu
sendiri), kelompok2 barongsai dan naga yg juga mulai tumbuh, kelompok2
untuk belajar taiji, dll, juga sudah diinisiatifi oleh BT, cm terakhir
menurut info kawan2, partisipan yang ikut sedikit sekali ya...nah
loh...siapa lagi nih yg mau disalahkan :P...
suku yang lain ada juga yang masih mengutip-ngutip kekuasaan despotik
dan korup 32 tahun itu hehe hanya bedanya dengan kita, mereka bertindak
dan melakukan sesuatu yang riil dan membumi, tidak hanya sekedar
mengeluh dan memaki kemana-mana, tapi praktek nol besar.
namun tidak sepakat jika kekerasan dan pelanggaran2 HAM oleh negara yang
dialami oleh masyarakat seluruh indonesia, termasuk Tionghoa itu
dilupakan. tindak kekerasan dan penghilangan satu nyawa saja sudah
merupakan pelanggaran yang amat besar, apalagi terhitung juta. dan
hebatnya, sampai sekarang, di indonesia, masalah seperti ini seperti
angin lalu. ternyata karakter apatis dan "ga mau cari masalah" udah
mendarah daging di semua suku di indonesia, bukan hanya tionghoa aja.
nyawa manusia di dunia saat ini sudah jatuh ke posisi obral akhir tahun,
demi memperebutkan minyak, kehilangan beberapa ratus ribu nyawa itu
bukanlah persoalan bagi sekelompok orang. demi pertarungan ideologis
(tentu saja u/ kepentingan ekonomis) di indonesia, darah ratusan ribu
mencapai juta rakyat juga dialirkan...dan itu sampai hari ini!
sepertinya sebelum kita meributkan lebih jauh lagi mengenai budaya yang
hilang, akan lebih baik kita bertanya terlebih dahulu, sudahkah hari ini
kita semua melakukan sesuatu untuk menghargai manusia dan kemanusiaan
kita?
Penting untuk belajar sejarah agar kita lebih memahami siapa kita dan
sejauh mana kita telah terbentuk pada hari ini, sebagai patokan dasar
agar kita mampu menentukan arah perkembangan2 yang kita inginkan,
belajar jangan sampai peristiwa2 lalu terulang kembali, ga ada yg mau
kasus tahun 65 dan mei 98, maupun kerusuhan2 yang lain terulang kembali.
sebelum kita menjadi lebih cerdas dan awas, hukum sejarah cenderung akan
berulang (histoire c'est repete). jadi pertanyaannya...sudahkah tionghoa
indonesia menjadi lebih cerdas? ;) untuk mengeluarkan diri dari
lingkaran setan sejarah yang memerangkap.
ul, soal kewajiban melestarikan itu...keknya jargon kewajiban
melestarikan itu mesti diganti, bunyi kewajiban itu biasanya lekat
dengan keterpaksaan, dan segala sesuatu yang terpaksa, tidak akan pernah
maksimal, ganti dengan "panggilan untuk melestarikan" aja kekeke dan
pertanyaanmu baru akan bisa terjawab disaat pertanyaan siapa itu
tionghoa? apa itu budaya tionghoa? siapa itu cina? apa itu budaya cina?
juga sudah terjawab. sudah adakah bahasan dan kesimpulan utk keempat
pertanyaan itu?
kl aku sendiri krn merasa tertarik dan sayang aja jika budaya lokal kita
hilang begitu saja, selain memang aku lahir dan tumbuh dalam kebudayaan
itu, akan ada pengetahuan2 berharga yang ikut hilang jika tidak ada
proses revitalisasi dan pelestarian yang proporsional dan tepat.
Julia
So Far belum ada tuh Jul, bahasan tentang pertanyaan kita... hehehhee,
tentang siapakah tionghoa?
siapa itu cina ?
tentang yang mana kebudayaan tionghoa ?
dan yang mana kebudayaan China ?
belum ada bahasan dan belum ada kesimpulan,
barangkali banyak orang sama bingungnya sama kita,
dan tidak bisa menarik garis batasnya,
krrrrrkkkkkeekekekekekeke.........
-----Original Message-----
From: budaya_...@yahoogroups.com
[mailto:budaya_...@yahoogroups.com] On Behalf Of @};-PurpleRose};--
Sent: Saturday, December 08, 2007 5:02 PM
To: budaya_...@yahoogroups.com
Subject: Re: [budaya_tionghua] kembali ke budaya, bosen debat kusir
kata terkekang mungkin masih bukan merupakan kata yang tepat untuk
menggambarkan pengalaman-pengalaman kelompok-kelompok masyarakat di
indonesia, salah satunya Tionghoa. terkekang masih terkesan ringan dan
bisalah cincai-cincai kita lupakan, seperti karakter masyarakat tionghoa
yg telah terbentuk saat ini, toh kekangannya udah dilepaskan, walau
masih lom sepenuhnya, namun cukuplah u/ bisa bernapas lebih lega,
membentuk milis-milis yang bisa memaki sana dan sini (walau tetap
diawasi, awas! ;)), mengeluh dan meratap sana sini :P.
kata kunci yang tepat menurutku adalah kekerasan yang dilakukan secara
sistematis dan terstruktur, yang bukan hanya sekedar tidak boleh main
barongsai, merayakan imlek ato berbahasa mandarin, atau membentuk
lembaga negara secara khusus untuk mengkoordinasikan masalah cina ...
<skip>
sepakat untuk berhenti meratapi kehidupan berbudaya dan identitas
Tionghoa yang selain dihancurkan secara terstruktur oleh sistem negara
yang korup, <skip>
ul, soal kewajiban melestarikan itu...keknya jargon kewajiban
melestarikan itu mesti diganti, bunyi kewajiban itu biasanya lekat
dengan keterpaksaan, dan segala sesuatu yang terpaksa, tidak akan pernah
maksimal, ganti dengan "panggilan untuk melestarikan" aja kekeke dan
pertanyaanmu baru akan bisa terjawab disaat pertanyaan siapa itu
tionghoa? apa itu budaya tionghoa? siapa itu cina? apa itu budaya cina?
juga sudah terjawab. sudah adakah bahasan dan kesimpulan utk keempat
pertanyaan itu?
kl aku sendiri krn merasa tertarik dan sayang aja jika budaya lokal kita
hilang begitu saja, selain memang aku lahir dan tumbuh dalam kebudayaan
itu, akan ada pengetahuan2 berharga yang ikut hilang jika tidak ada
proses revitalisasi dan pelestarian yang proporsional dan tepat.
Julia
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.16.17/1178 - Release Date:
12/8/2007 11:59 AM
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
.: Website global http://www.budaya-tionghoa.org :.
.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.
.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:budaya_tion...@yahoogroups.com
mailto:budaya_tionghu...@yahoogroups.com
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
budaya_tiongh...@yahoogroups.com
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
"jadi lebih terkekang?" >>> ga jelas neh ul maksud loe mau merujuk kemana...
sistematis dan terstruktur itu berarti terencana, yg dalam hal ini
dituangkan melalui perangkat negara dengan berbagai bentuk
legitimasinya, misalnya melalui perangkat peraturan (PP 10, pembentukan
BKMC (stigmatisasi sistematis tionghoa sbg warga negara "kelas 2", dll),
respon2 negara dengan dalih keamanan, pemberantasan gerakan separatis,
komunis, menjaga persatuan dan kesatuan (mis. kasus tahun 65, integrasi
papua dan timor leste ke indonesia).
dalam kasus Mei 98, banyak pertanyaan dimanakah aparat keamanan disaat
mereka paling dibutuhkan untuk mejalankan fungsi melindungi warga
negara? >>> asumsi2 yg bisa dibuat, a.l, kekurangan aparat atau emang
aparat takut terhadap massa yg beringas atau emang ada unsur kelalaian
(sengaja (kelalaian)? atau tidak sengaja (melalaikan)?).
kasus tindak kekerasan negara secara sistematis dan terstruktur terhadap
masyarakat yang lain misalnya penerapan program "pembangunan" yang
tidak transparan (bahkan KaDes pun ga tau ada proyek pembangunan
tertentu didesanya), yg diimplementasikan dengan pembenaran "untuk
kesejahteraan rakyat" dan "pembangunan" bahkan dengan dalih menjaga
kesatuan dan kedaulatan NKRI. Kl tidak setuju, maka siap2 aja untuk
dituduh separatis dan berhadapan dengan moncong senjata. Praktek-praktek
pemerintahan orba yang masih tetap diterapkan dalam masa repotmasi ini.
UU terbaru yg dengan sukses ditetaskan itu adalah UU Penanaman Modal
yang menghilangkan akses masyarakat lokal terhadap tanah yang menghidupi
mereka selama 95 tahun (utk dikuasai oleh investor), yg efek lanjutannya
adalah pemiskinan (krn masyarakat kehilangan sumber kehidupan) dan
berentet ke pecahnya konflik (horisontal dan vertikal).
untuk pola, memang akan menarik untuk dicermati lebih lanjut bagaimana
pola tindak kekerasan negara terhadap rakyat ini dilakukan, yg kemudian
menciptakan pola budaya kekerasan yang sama yg dipraktekkan oleh rakyat.
keknya udah dilakukan ama Rieke Diah Pitaloka di thesisnya yg
diterbitkan oleh Galang Press, yg judulnya kira2 "kekerasan negara yang
menurun ke rakyat", sebuah kajian yg berlandaskan teori dari Hannah
Arendt. mungkin ada kawan2 milis yang udah membaca tulisan Rieke?
Tulisan Om Chan yang merespon situasi kekerasan "antar-etnis" di
Pontianak itu juga menceritakan praktek kekerasan negara sebagai
strategi kontrol terhadap rakyat dan pelanggengan kekuasaan, yg pola
"kerja" seperti ini kemudian ditiru oleh rakyatnya.
menarik untuk mencermati, bagaimana korban kekerasan (dalam hal ini
rakyat) yang dalam satu sisi bergerak merespon/melawan tindakan
kekerasan yang dialami, namun pada sisi lain, juga menggunakan pola
kekerasan yang dialaminya untuk melakukan tindak kekerasan kepada pihak
lain (yg biasanya secara sosial memiliki hubungan derajat yang setara
dengannya atau lebih "rendah").
> So Far belum ada tuh Jul, bahasan tentang pertanyaan kita... hehehhee,
> tentang siapakah tionghoa?
> siapa itu cina ?
> tentang yang mana kebudayaan tionghoa ?
> dan yang mana kebudayaan China ?
>
> belum ada bahasan dan belum ada kesimpulan,
> barangkali banyak orang sama bingungnya sama kita,
> dan tidak bisa menarik garis batasnya,
> krrrrrkkkkkeekekekekekeke.........
>
Respon:
wah PR dunk kl geto....mesti dibahas dunk ;)) krn keknya pertanyaan2 itu
merupakan pertanyaan fundamental sebelum kita bisa lanjut membahas yang
lain. kl pertanyaan fundamental ini lom terjawab, ga mengherankan jika
diskusi2 yg lain itu cukup diawang2, dan antara kelompok2 yg memiliki
perspektif masing2, ga akan pernah ketemu diskusinya...akhirnya jadi
debat para kusir lageeeee :D
emang udah waktunya bagi kita untuk ambil bagian secara aktif dalam
pembenahan sistem negara kita agar menjadi lebih manusiawi dan lebih
bersahabat dengan rakyat. terutama saat ini dimana tionghoa sudah
memiliki peluang yang lebih besar untuk ikut serta dalam pembaharuan
sistem. sistem negara ini walau korup, namun masih ada pintu-pintu yang
bisa kita gunakan untuk mendorong pembenahan dan perbaikan. salah
satunya melalui Komnas HAM, dan juga sesungguhnya kalau kita lebih aktif
sedikit dan mau mencoba, audiensi2 dengan instansi2 pemerintah juga
memungkinkan untuk dilakukan. yang terpenting adalah sinergisitas upaya
dari berbagai pihak untuk perbaikan sistem (jadi tionghoa ga mungkin
bekerja sendiri, perlu dukungan dari komunitas lainnya). terakhir yg
juga ga kalah penting adalah utk selalu ingat bahwa upaya itu pasti akan
memakan waktu dan energi (bahkan uang) yg tidak dalam hitungan
sehari-dua hari, bahkan dalam hitungan tahun. jadi emang harus melatih
diri u/ tidak mudah patah arang, dan siap2 u/ menjadi orang gila hehe ;P.
eh hari ini adalah peringatan Hari HAM sedunia...semoga di hari
perenungan ini, semangat untuk perbaikan akan dibaharui, dan kita akan
belajar untuk menjadi semakin manusiawi, pada akhirnya
ras/etnis/kebangsaan/nasionalitas satu-satunya yang paling berarti di
dunia adalah KEMANUSIAAN.
salam damai...
Julia
Jangan paksakan istilah Cina disini. kalau anda sangat cinta dng istilah
ini, pakailah untuk diri sendiri!
Ini adalah millis Budaya Tionghoa, kalau anda kurang sreg dng istilah
Tionghoa, boleh dirikan millis Budaya Cina sendiri, kumpulkan teman2 anda
yang sehati!
ZFy
waaaa... asiknya akhirnya bisa join juga milis yang konon huebat ini :D
Ikutan komen ya,
Nurut ngai neh, budaya tionghoa itu didefinisikan sebagai panca budaya
tionghoa yaitu:
1. DUIT !!!
Lu berhasil ato gak jadi orang diukurnya dari duit tuh ! Aneh tuh !
Kata om-om sih tionghoa itu keturunan imigran alias orang afkiran /
tersingkir dari sononya dan gak makan sekolahan, jadi yah ke mana-mana
cari duit dulu ! Parahnya lage abis udah sekolah maseh aja ngukur
sukses ato gak nya dari DUIT ! Ngajarin anak sekolah pintar-pintar
supaya bisa jadi orang kaya. Gimana tuh budaya kayak gini. Harusnya
ngajarin orang itu buat terus memperbaiki diri dan mendorong apa pun
kemampuan orang demi kemanusiaan, bukannya pake ukuran akumulasi DUIT !
2. Penjilat !!!
Kata pepatah pepitih ke mana angin bertiup ke situ angin berkembang.
Dulu katanya pas orang kulit putih berkuasa, pada berlomba-lomba jadi
kulit putih. Tidak cukup mengadopsi budaya eropa, kalau perlu turut
menghujat budaya asal. Terus lagi sekarang jamannya orang sipit di
utara mulai unjuk gigi, ramai-ramai berlomba menunjukkan diri paling
sipit. Padahal sebelumnya mati-matian tuh mata dibuka gede2 :D Entar
kalau suatu saat orang afrika berkuasa, pasti tuh ramai-ramai beli
arang buat itemin muka. Contoh lain lagi, produk impor pasti lebih oke
! Liat tuh enci-enci engko-engko rambut pada dicat kuning merah,
soalnya malu kali atau gak pede rambut item. ANEH !
3. Traumatis !!!
Jelas-jelas hubungan antar budaya selalu ada perbedaan dan benturan
dan juga selalu ada rasisme. Jelas-jelas selalu komplain
di-diskriminasi, tapi kalau ajak untuk berbincang antar budaya sering
nolak sambil pake alasan gak mau ah politiiiiiiikkkkkk, oweee
takuuuttt loh.
4. Munafik !!!
Contoh neh: kalau ngurus surat-surat selalu pake perantara dan
alasannya kalau ngurus sendiri diperes, dilecehkan, petugasnya rasis,
di-diskriminasi. Padahal udah dijelasin bahwa syarat-syarat nya ini
itu ini itu tetap aja gak mau. Mending ngai neh ngaku terus terang
kalau ngai itu kerja dari pagi sampe sore dan akhir minggu itu kantor
pemerintah pada gak buka, jadinya mending urus pake calo titik, soalny
kalau nyewa pengacara resmi gak punya DUIT !!! Ngaku donk terus
terang, jangan bersembunyi di balik label korban !
5. MISTIK !!!
Sukanya yang ramalan peruntungan nasib nasib hongsui-hongsuian, minta
jimat segala. Susahnya tuh ilmu begitu sebenarnya ilmu luhur yang
dipake buat bantu orang yang susah. Kalo udah cukup hidup dan bisa
makan setiap hari ngapain nyari-nyari jimat hongsui buat kaya ?
Serakah atuh. Ngapain sukanya ramal-ramal nasib, toh tukang ramalnya
kalo bener mah gak mungkin jadi tukang ramal. Bego amat seh. Udah
gitu, ada yang sok lagi udah meluk agama tertentu, membuang yang
begituan. Padahal di mobilnya, di kamarnya, di rumahnya tetap tuh
simbol-simbol agama dipajang buat nentramin hati, alias sama aja tuh
dengan jimat terus kalo ke toko buku mampirnya ke BEST SELLER Almanak,
Ramalan Nasib Tahun 3000, Peruntungan Shio Dinosaurus alias MISTIK !!!
Nah, habis baca pasti reaksi anda:
- kaget, menyangkal, nganggap ini tukang cari ribut: SELAMAT ! Anda
lebih Tionghoa dari pada yang saya duga
- sedikit setuju, tapi bilang dalam hati ah gak semuanya begitu,
generalisasi itu, buktinya saya tidak: SELAMAT ! Anda ternyata juga
Tionghoa
- mengakui bahwa memang begitu adanya dan mengakui bahwa diri anda
juga ada yang begituan namun sadar dan malu, syukur-syukur berbenah
diri: Luar binasa ! selamat bergabung dengan ngai sebagai binatang
yang terbuang dari kumpulannya !
Peace >:)
haiyaaahhhhhhhhhhhhhhhh empe sick-e...latang-latang udah malah-malah
maki-maki...latang-latang udah melatap-latap maki sana sini....
aiyooohhhhhh empe...sapa bilanglah budaya tionghoa itu cm panca, jangan
dikolupsi lah...empe neh dasal tionghoa suka kolupsi ooo...
ada sapta budaya tionghoa noohhhhhhhh
neh yg dua lagi neeehhhhhh:
6. sebelum perang lawan musuh, bacok2an antar sesama anggota sendiri
dulu!!! (mengutip dari sumber yg terpercaya kekekeke)
kek empe neh, latang2 udah maki-maki hantam kili kanan sana sini
...haiyaahhhhhhhhhhhhhhhhh
7. kolupsi!!!!
ada sapta budaya tionghoa, dikolupsi jadi panca
aja...aiyooohhhhhhhhhhhhhhhhhhhh
huayooooo empe...abis baca ini, apapun reaksi empe...emang empe tionghoa
ASLI LI LI ditanggung ga luntur dah kekekeke
salam tionghoa asli dari ngai ;))
Julia
> <mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com>, \"Ulysee\"
Saya bolak-balik baca message ulysee dibawah. Dimana ada paksaan istilah
Cina ?
Kalimat mana yang mengarah kesana??
Membaca e-mail berbeda dengan berkomunikasi secara lisan.
Ketika kita berkomunikasi lisan (tatap-muka), kita masih dapat melihat emosi
yang terkandung dalam setiap pengucapan. Hal ini berbeda saat membaca
e-mail. Kata-kata di dalam e-mail seringkali tidak mampu menampilkan emosi
dari penulisnya dengan baik. Sehingga, pada saat kita membaca e-mail, yang
berperan banyak sebenarnya adalah emosi dan asumsi kita sendiri.
Prometheus
Uly,
ZFy
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.16.17/1179 - Release Date: 9/12/2007
11:06 AM
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
.: Website global http://www.budaya-tionghoa.org :.
.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.
.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
kl bahasa indonesia ku masih tepat, emang ga ada kalimat yg memaksakan
istilah cina di tulisan uly. interpretasiku adalah aspirasi utk
dibukanya ruang diskusi ttg siapa itu tionghoa...apa itu budaya
tionghoa...siapa itu cina....apa itu budaya cina....
dengan pemikiran biar kita sampai kepada suatu dasar pijak yg sama utk
memulai diskusi yg lebih jauh ttg tionghoa....
julia
------------- telah disunting ----------------
Bahas itu aja dah,
BEDAnya budaya tionghoa sama budaya China aka Tiongkok, tuh DIMANA gitu
lhoh, lebih afdol kayaknya.
-----Original Message-----
From: budaya_...@yahoogroups.com
[mailto:budaya_...@yahoogroups.com] On Behalf Of Skalaras
Sent: Monday, December 10, 2007 8:54 PM
To: budaya_...@yahoogroups.com
Subject: Re: [budaya_tionghua] kembali ke budaya, bosen debat kusir
Uly,
Jangan paksakan istilah **** disini. kalau anda sangat cinta dng istilah
ini, pakailah untuk diri sendiri!
Ini adalah millis Budaya Tionghoa, kalau anda kurang sreg dng istilah
Tionghoa, boleh dirikan millis Budaya **** sendiri, kumpulkan teman2
anda
yang sehati!
ZFy
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "Emn Shikce" <bu_ren_zi@...>
wrote:
>
> waaaa... asiknya akhirnya bisa join juga milis yang konon huebat
ini :D
>
Kenken:
Ini sih ngeledek...!!
Emn Shikce:
> Ikutan komen ya,
>
> Nurut ngai neh, budaya tionghoa itu didefinisikan sebagai panca
budaya
> tionghoa yaitu:
>
Kenken:
Panca Budaya? rujukannya apa nih? harusnya
ditambahin Panca Budaya versi ELO.
Emn Shikce:
> 1. DUIT !!!
>
> Lu berhasil ato gak jadi orang diukurnya dari duit tuh ! Aneh tuh !
> Kata om-om sih tionghoa itu keturunan imigran alias orang afkiran /
> tersingkir dari sononya dan gak makan sekolahan, jadi yah ke mana-
mana
> cari duit dulu ! Parahnya lage abis udah sekolah maseh aja ngukur
> sukses ato gak nya dari DUIT ! Ngajarin anak sekolah pintar-pintar
> supaya bisa jadi orang kaya. Gimana tuh budaya kayak gini. Harusnya
> ngajarin orang itu buat terus memperbaiki diri dan mendorong apa
pun
> kemampuan orang demi kemanusiaan, bukannya pake ukuran akumulasi
DUIT !
>
Kenken:
Budaya "duit" mah berasal dari "protestan ethic"
dan "the spirit of capitalism" karya Max Weber yg
orang Jerman (salah 1 suku-bangsa Eropa, bukan
Tionghoa).
Nah, menurut keterangan Weberian ini, capitalism
itu berkembang karena dipicu oleh orang Kristen
terutama Calvinist. ELo kan tau artinya "capitalism"
itu apa, berasal dari akar kata 'capital' yg
berarti DUIT.
Kalo SEJAHTERA itu yg berarti KAYA itu spt
omongan Deng Xiao Ping itu artinya kemakmuran
bersama alias bersifat SOSIALISTIK bukan bersifat
individualis spt semangat puritan cari duit
Eropa Kristen.
Lo pikir sendiri deh, mana pernah sech bangsa
Tionghoa melakukan ekspansi dan eksploitasi
global dgn sembonyan Gold, Gospel, Glory. kalo
bekerja dengan keras dan giat Lo samakan
dgn gila duit, maka lo adalah seorang Romantis
dan genius yg bermotto: HIDUP UNTUK BERMALAS-MALASAN.
karena Lo terlalu pintar untuk bekerja keras.
Emn Shikce:
> 2. Penjilat !!!
>
> Kata pepatah pepitih ke mana angin bertiup ke situ angin
berkembang.
> Dulu katanya pas orang kulit putih berkuasa, pada berlomba-lomba
jadi
> kulit putih. Tidak cukup mengadopsi budaya eropa, kalau perlu turut
> menghujat budaya asal. Terus lagi sekarang jamannya orang sipit di
> utara mulai unjuk gigi, ramai-ramai berlomba menunjukkan diri
paling
> sipit. Padahal sebelumnya mati-matian tuh mata dibuka gede2 :D
Entar
> kalau suatu saat orang afrika berkuasa, pasti tuh ramai-ramai beli
> arang buat itemin muka. Contoh lain lagi, produk impor pasti lebih
oke
> ! Liat tuh enci-enci engko-engko rambut pada dicat kuning merah,
> soalnya malu kali atau gak pede rambut item. ANEH !
>
Kenken:
Setiap bangsa ada unsur compradornya. ELo kira
cuma di Tionghoa aja yg dulu ada hubungan dgn
pemerintah kolonial Belanda?
Yg bantai Tionghoa di tahun 1740 an itu tentara
Belanda beretnis Ambon tuh. tentara KNIL itu banyak
yg juga etnis Melayu. Mantan Presiden Soeharto itu
mantan sersan KNIL sewaktu Belanda berkuasa. begitu
Jepang berkuasa, Soeharto juga jadi tentara Jepang
tuh.
Nah kalo lo ngerti dikit sejarah Indonesia maka
lo bisa ngerti kalo di perjanjian antara Belanda
dan Indonesia itu dihadiri oleh wakil delegasi
Belanda ya terdiri dari pribumi Indonesia yg
mengabdi pada Ratu Belanda.
Lo pernah liat gak video Bung Karno yg menghormat
dgn membungkuk badan ke pada orang jepang waktu
Bung Karno melapor ke Saigon? lalu, lo ngerti
kagak siapa aja operator dan yg menyerukan
romusha Jepang? lah, bangsa dewek tuh.
Emn Shikce:
> 3. Traumatis !!!
>
> Jelas-jelas hubungan antar budaya selalu ada perbedaan dan benturan
> dan juga selalu ada rasisme. Jelas-jelas selalu komplain
> di-diskriminasi, tapi kalau ajak untuk berbincang antar budaya
sering
> nolak sambil pake alasan gak mau ah politiiiiiiikkkkkk, oweee
> takuuuttt loh.
>
Kenken:
Lah, lo gak ngalamin keganasan Angkatan Darat
Soeharto sech. jadi bisa ngebacot dgn enteng
menertawakan orang-orang Tionghoa yg trauma
politik.
lah wong, ada 3 juta rakyat Indonesia yg disembelih
Soeharto kok. 10 ribunya Tionghoa. nah kalo
Harto begitu ganas sama bangsa dewek, lo bisa
bayangin gimana ke Tionghoa.
ngomong sih asyik lo, gak takut politik. karena
lo gak pernah diculik sama Kopassus. gak pernah
disiksa dibalok es, dan penis lu gak pernah distrum
oleh TNI. mendingan lo coba tanya anak PRD yg
pernah diculik tentara akibat berpolitik. atau
paling sedikit lo kontak si Fadjroel Rahman yg
pernah mengalami siksaan psikologis di penjara
tentara.
lagipula, yg lo undang ke seminar politik itu siapa?
kalo encek-encek apolitis yg memang gak ada
minat di politik ya lo salah orang lah.
coba lo undang si Suma Mihardja yg pernah jadi
korlap di tahun 98. atau lo undang tuh anak-anak
muda Tionghoa CSIS, pasti getol berpolitik tuh
mereka. atau coba deh lo undang bang Lius
Sungkarisma, Eddy Kusuma, Tenggono, Ahok bupati
Belitung Timur, Hasan Karma walikota Singkawang,
Benny G Setiono dsb.
Emn Shikce:
> 4. Munafik !!!
>
> Contoh neh: kalau ngurus surat-surat selalu pake perantara dan
> alasannya kalau ngurus sendiri diperes, dilecehkan, petugasnya
rasis,
> di-diskriminasi. Padahal udah dijelasin bahwa syarat-syarat nya ini
> itu ini itu tetap aja gak mau. Mending ngai neh ngaku terus terang
> kalau ngai itu kerja dari pagi sampe sore dan akhir minggu itu
kantor
> pemerintah pada gak buka, jadinya mending urus pake calo titik,
soalny
> kalau nyewa pengacara resmi gak punya DUIT !!! Ngaku donk terus
> terang, jangan bersembunyi di balik label korban !
>
Kenken:
btw, yg dimaksud dgn 'diskriminasi' terhadap
golongan minoritas bukan sebatas masalah dokumen.
masalah Mei 98 yg tidak pernah dimeja-hijaukan
itu salah 1 contoh ketidak-patutan negara dalam
melindungi rakyat dan warga-negaranya. itu yg
dipertanyakan oleh Tionghoa.
maksud dari tekanan untuk mencabut begitu banyak
peraturan dan undang-undang yg diskriminatif itu
sepenuhnya demi tegaknya sistem perundang-undangan
yg benar di republik ini.
contohnya begini nih: Barong sai dilarang tampil
di tempat umum, cuma bole di ruang privat. alasannya
adalah demi untuk melindungi masyarakat tionghoa
dari serangan kelompok rasis (entah siapa yg
dimaksud kelompok rasis tersebut).
nah logika si pembuat peraturan ini kan aneh.
kok untuk melindungi barongsai malah barongsainya
dibredel? sama persis dgn ketidak mampuan pemerintah
daerah DKI Jakarta yg tidak mampu membersihkan
pengemis dan pedagang kaki 5 malah mengeluarkan
aturan yg menindak para pembeli dan donatur pengemis.
Emn Shikce:
> 5. MISTIK !!!
>
> Sukanya yang ramalan peruntungan nasib nasib hongsui-hongsuian,
minta
> jimat segala. Susahnya tuh ilmu begitu sebenarnya ilmu luhur yang
> dipake buat bantu orang yang susah. Kalo udah cukup hidup dan bisa
> makan setiap hari ngapain nyari-nyari jimat hongsui buat kaya ?
> Serakah atuh. Ngapain sukanya ramal-ramal nasib, toh tukang
ramalnya
> kalo bener mah gak mungkin jadi tukang ramal. Bego amat seh. Udah
> gitu, ada yang sok lagi udah meluk agama tertentu, membuang yang
> begituan. Padahal di mobilnya, di kamarnya, di rumahnya tetap tuh
> simbol-simbol agama dipajang buat nentramin hati, alias sama aja
tuh
> dengan jimat terus kalo ke toko buku mampirnya ke BEST SELLER
Almanak,
> Ramalan Nasib Tahun 3000, Peruntungan Shio Dinosaurus alias
MISTIK !!!
>
Kenken:
Nah Lo gak pernah ke banten atau pedaleman
Cirebon deh. trus juga sekali-kali ke hutan
kalimantan ketemu Dayak di sono. trus juga
kalo ke Bali lo perhatiin betapa mistiknya
orang-orang Bali. trus kalo Toraja juga lo
liat apakah mereka mistik atau gimana gitu.
trus kalo setiap malem 1 suro lo ngomong
deh kalo orang Jawa Solo dan Jogja itu mistik
semua karena gak ke gereja dan menyembah
Jesus Christ.
budaya ruwat untuk keselamatan juga dikenal
oleh masyarakat Jawa. gunanya dipercaya untuk
selaras dgn alam sehingga orang bisa makmur
dan sejahtera, cukup sandang dan pangan kalo
bisa anaknya jadi pejabat karisedenan atau
abdi dalem keraton.
sur.( masih ada sih budaya Tionghoa 5, 6, 7, 8 dst maklum Tionghoa ntu
petualang yang bisa dibilang ada dimana mana )
----- Original Message -----
From: "Ulysee" <ulyse...@yahoo.com.sg>
> Catatan moderator untuk semuanya:
> Jeda diskusi istilah penamaan masih berlaku. Yang terlibat sesuai
> keputusan yang lalu telah dirubah statusnya.
>
> ------------- telah disunting ----------------
>
> Bahas itu aja dah,
> BEDAnya budaya tionghoa sama budaya China aka Tiongkok, tuh DIMANA gitu
> lhoh, lebih afdol kayaknya.
>
Melihat kutiban diatas, kita memang harus terus menyalahkan politik orde
baru selama 35 tahun. Apakah terus menyesali ini cengeng? sama sekali tidak!
buat saya sendiri, meski bahasa dan budaya Tionghoa telah diberangus selama
35 tahun, secara sembunyi2, saya masih terus bergerelya untuk mempelajari
dan mendalami, sehingga berhasil survive. jelas penyesalan ini bukanlah
untuk saya sendiri, tapi untuk semua generasi muda Tionghoa yang telah
berkembang menjadi anak hilang. contoh yang nyata adalah anak2 muda Tionghoa
yang masih senang untuk ber CINA2. hasil didikan Pak Harto patut diakui
sangatlah berhasil.
ZFy
----- Original Message -----
From: "@};-PurpleRose};--" <purpl...@gmail.com>
To: <budaya_...@yahoogroups.com>
Sent: Tuesday, December 11, 2007 12:51 AM
Subject: Re: [budaya_tionghua] kembali ke budaya, bosen debat kusir
> iya, saya jg mengalami kebingungan yang sama....
>
> kl bahasa indonesia ku masih tepat, emang ga ada kalimat yg memaksakan
> istilah cina di tulisan uly. interpretasiku adalah aspirasi utk
> dibukanya ruang diskusi ttg siapa itu tionghoa...apa itu budaya
> tionghoa...siapa itu cina....apa itu budaya cina....
> dengan pemikiran biar kita sampai kepada suatu dasar pijak yg sama utk
> memulai diskusi yg lebih jauh ttg tionghoa....
>
> julia
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
Catatan moderator untuk saudara KenKen:
Karena sudah melenceng jauh, pembahasan ini cukup sampai di sini saja.
================================================================
Mempelajari sejarah negara di mana kita
tinggal adalah keharusan. <<Ada>> yang menuduh <<Tionghoa>> apolitis. Padahal, apakah perlu semua
orang Tionghoa memahami politik, apalagi
politik atas. Apakah setiap orang tionghoa
perlu menguasai sejarah sampai mencapai
kualifikasi spt Asvi Warman Adam? KAN KAGAK..!!
Tentu saja, Koh Skalaras benar sekali bahwa
perjalanan setiap bangsa (termasuk Indonesia)
pasti ada noda hitamnya. Orde baru adalah salah satu noda hitam sejarah yg patut
disesali untuk tidak diulang kembali. agar
Rakyat dan Penduduk RI itu tidak mengalami
kesengsaraan dan mampu berdiri bermartabat
di antara semua bangsa.
Sejarawan Ong Hok Kam dalam suatu
kesempatan pernah menyampaikan bahwa, jika
dibandingkan antara jumlah korban saat kekuasaan
kolonial Belanda selama 350 tahun dengan kekuasaan
Orde Baru selama 32 tahun maka jumlah korban saat
Orde Baru berkuasa jauh lebih besar dibandingkan
dengan saat kolonial Belanda menjajah Indonesia.
<<Order baru>> juga menciptakan sejenis rantai kroni yg terlalu banyak
melakukan tindak korupsi dan merampok rakyat.
Semua itu dilakukan oleh rezim Orde Baru dgn
sistem yg legal yaitu PEMILU.
setting penyelenggaraan pemilu Orde Baru
itu diwarnai dengan bentrokan. Wajarlah
ada akhirnya, jika praktek penyelenggaraan
pemilu-pemilu Orde Baru digambarkan oleh
seorang Indonesianis, William Liddle,
dalam buku Pemilu-pemilu Orde Baru: Pasang
Surut Kekuasaan Politik (Jakarta, 1992)
sebagai berikut:
"Pemilu-pemilu Orde Baru bukanlah alat yang
memadai untuk mengukur suara rakyat. Pemilu-peilu
itu dilakukan melalui sebuah proses yang
tersentralisasi pada tangan-tangan birokrasi.
Tangan-tangan itu tidak hanya mengatur hampir
seluruh proses pemiu, namun juga berkepentingan
untuk merekayasa kemenangan bagi "partai
milik pemerintah". Kompetisi ditekan seminimal
mungkin, dan keragaman pandangan tidak memperoleh
tempat yang memadai."
saya kira, kita patut menyesali periode masa
pemerintah Orde Baru itu.
best regards
Kenken
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "Skalaras" <skalaras@...>
wrote:
ttg asumsi anda yang lain, bahwa anak2 muda tionghoa yang masih senang
berXXXX2, perlu diklarifikasi lebih lanjut, apakah memang hanya
berdasarkan kesenangan seperti yang anda pikirkan, ataukah ada hal lain
yang membuat kami, sekelompok generasi muda tionghoa ini, masih memiliki
pertanyaan2 yang kami rasakan perlu mendapatkan jawaban yang lebih
memadai dan memuaskan. kl misalnya juga dianggap sebagai generasi muda
tionghoa yang bolot....ya mungkin itulah kami, untuk itulah kami ingin
belajar dan sering bertanya dan mempertanyakan.
terima kasih kepada ketanggapan moderator untuk membuka ruang diskusi
bagi isu yang buat kami masih menjadi hal yang perlu didiskusikan untuk
memperoleh pemahaman yg benar. walau saya sendiri sangat
menyayangkan karena kemungkinan tidak akan bisa ikut (krn beda wilayah
domisili), saya berharap diskusi bulan januari nanti akan memberikan
hasil yang meningkatkan pemahaman bersama ttg realitas komunitas kita,
dan moga2 dapat menghasilkan sebuah dasar pemahaman bersama ttg tionghoa.
dan sebagai generasi tionghoa yang lebih muda, saya minta maaf jika
telah lancang...
Julia
Skalaras wrote:
> "" dibukanya ruang diskusi ttg siapa itu tionghoa...apa itu budaya
> tionghoa...siapa itu XXXX....apa itu budaya XXXX....""
>
> Melihat kutiban diatas, kita memang harus terus menyalahkan politik orde
> baru selama 35 tahun. Apakah terus menyesali ini cengeng? sama sekali tidak!
> buat saya sendiri, meski bahasa dan budaya Tionghoa telah diberangus selama
> 35 tahun, secara sembunyi2, saya masih terus bergerelya untuk mempelajari
> dan mendalami, sehingga berhasil survive. jelas penyesalan ini bukanlah
> untuk saya sendiri, tapi untuk semua generasi muda Tionghoa yang telah
> berkembang menjadi anak hilang. contoh yang nyata adalah anak2 muda Tionghoa
> yang masih senang untuk ber XXXX2. hasil didikan Pak Harto patut diakui
> sangatlah berhasil.
>
> ZFy
>
>
Konjungsi kata milis BUDAYA + TIONGHOA , memang baik adanya ......
Akan tetapi seringkali perbincangan menyimpang dari budaya ..........
Terlalu menekankan pada T capital >> Tionghoa
Dan lupa menekankan pada "budaya"
Robby Wirdja
Sampai kapan fenomena "membajak" ke belakang akan terus berlangsung!!!!!
Mulai dari krisis ekonomi , pemberangusan budaya dan bahasa , dan seterusnya
semuanya di alamatkan pada era orde baru. Semuanya seperti pohon tauge dalam
topless melirik gerhana muram orde baru sebagai bahan energy , sebagai
pijakan yang sah untuk menghibur diri......
Untung ada Orde Baru , demikian pikiran kerajaan Belanda dan Kekaisaran
Jepang yang pernah menjajah Indonesia. Jadi gua gak di salah2in amat ? Upss
ada juga diskusi yang sempat nyasar ke Jepang , tentang "Cina"
Bayangkan kalau generasi muda pasca WW II Jerman , ramai2 menghibur diri dan
menyalahkan Hitler , energy akan terbuang sia - sia , terlihat melangkah
maju akan tetapi 'moon walk'. Ramai ramai melarikan diri dari AKIBAT kepada
SEBAB. Bukannya berarti itu hal yang salah , akan tetapi terlalu banyak
menatap ke belakang , alhasil orang tionghoa lebih pandai belajar sejarah
orde baru dalam satuan SKS hehehe. Coba kalau waktunya di pergunakan untuk
belajar budaya dan bahasa tionghoa.
Patut di renungkan yang menjadi "korban" Suharto itu orang yang masih terus
menyalahkan Suharto atas kegagalan apapun yang menimpa dirinya ATAU anak2
muda yang ada mulai membaktikan dirinya untuk mulai belajar ke depan?
Akhir Kata
Wah , perut saya tiba2 sakit , ini pasti gara2 Suharto hehehe
Wah , hari ini panas sekali , ini pasti gara2 Suharto........
Demikianlah cara orang melestarikan namanya , dengan sering menyebut
namanya.......
Padahal terlalu sering menyebut nama Suharto , dengan dalih apapun bisa di
tuduh anteknya Suharto loh hehehe
*sabar sabar , becanda
Robby Wirdja
-----Original Message-----
From: budaya_tionghua@yahoogroups.com
[mailto:budaya_tionghua@yahoogroups.com] On Behalf Of Skalaras
Sejarah memang bisa menjadi beban, ini bisa terjadi justru kalau kita terus
menolak mengorksi kesalahan2 masa lalu. Misalnya di keluarga saya dulu para
sesepuh paling suka menggunakan istilah Huana, menurut saya ini mengandung
konotasi negatif ( minimum membuat garis batas orang dalam-orang luar). dulu
saya tak menyadari hal ini, sekarang setelah sadar saya harus berani
meninggalkan kebiasaan mengucapkan istilah ini. Meskipun saya belum juga
menemukan istilah yang pas menggantikan istlah ini, toh saya tak segan2
mengoreksi kesalahan keluarga saya sendiri di masa lalu, dengan demikian,
saya akan bebas dari beban sejarah. Ibaratnya Rakyat Jerman yang berani
mengakui kesalahan masa lalunya thd bangsa Yahudi, berhasil lepas dari beban
sejarah, sebaliknya Jepang yang terus bekelit thd kejahatan perangnya di
Tiongkok, tetap terbebani sejarah.
Jika Rakyat Tiongkok tetap menuntut Jepang mengakui pembantaian Nanjing, apa
ini merupakan balas dendam sejarah? apakah di zaman reformasi ini rakyat
Indonesia yang menuntut dicabutnya berbagai kebijakan salah di masa lalu,
seperti Dwi fungsi Abri, sistem kepartaian dll merupakan balas dendam
sejarah?
Sekarang kembali masalah nama, apakah saya bisa seenaknya mengganti nama
anda dengan nama lain, misalnya Yurika atau Yuni ? pasti tidak bisa , karena
nama Julia telah anda pakai sekian lama, dan telah dikenal oleh orang2 yang
yang berhubungan dng anda. nama ini bagi anda sudah mempunyai catatan
SEJARAH. sehingga sangat mustahil menghilangkan aspek sejarah dari
penggunaan sebuah nama.
Saya kira, penjelasan2 para sesepuh sudah cukup banyak, tapi tetap dianggap
tidak sah, hanya karena ditinjau dari aspek sejarah dan sosial. sekarang
saya ingin tahu, penjelasan seperti apa yang dituntut? apa hanya mau
murni2an dari segi bahasa? sekarang saya tanya, bagaimana jika kita
menjuluki seorang pemimpin Hitler, menjuluki sebuah partai dng sitilah Nazi?
anda boleh menganalisa murni dari segi bahasa, Hitler maupun Nazi tidak ada
konotasi negatifnya. tapi apa mereka mau menerima logika ini???
Salam,
ZFy
----- Original Message -----
From: "@};-PurpleRose};--" <purpl...@gmail.com>
To: <budaya_...@yahoogroups.com>
Sent: Wednesday, December 12, 2007 6:44 PM
Subject: Re: [budaya_tionghua] kembali ke budaya, bosen debat kusir
Anak2 muda Jerman jelas memilih menyalahkan Hitler, mereka bahkan membangun monumen pembantaian Auswiz!
Setelah melakukan koreksi, mereka baru melangkah kedepan dng wajah tegar! Lihatlah, setelah semua mengakui kesalahan pendahulunya, mereka tidak lagi menghabiskan energi untuk berdebat dan berkelit, tidak seperti Jepang! mereka justru dapat berkonsentrasi penuh thd masa depan!
Karena kita menyalahkan Soeharto, kita baru bisa kritis mengoreksi kesalahan2 yang dia buat, dan melakukan hal2 yang benar untuk melawan kebijakannya. Jika kita tak menyalahkan Suharto, apa alasannya mencabut PP pelarangan budaya Tionghoa? apa perlunya mempelajari budaya Tionghoa?
Saya sangat sering menyalahkan Suharto, bahkan ini saya lakukan semasa Orde Baru lagi jaya2nya, maka saya bisa tetap membandel mempelajari budaya Tionghoa, pelarangan membawa buku2 beraksara kanji dari luar negeripun saya langgar, bukan terangan2 tentunya, tapi dng cara penyelundupan. ini juga salah satu bentuk perlawanan. Kalau saya tidak menalahkan Suharto, saya tidak akan mau ambil resiko ini!
Coba perhatikan, disini yang paling sering menyoroti kesalahan Suharto justru mereka2 yang relatif lebih menguasai budaya Tionghoa, sedangkan yang sering menghindar saat diajak menyalahkan suharto dan orde baru kebanyakan justru mereka yang penguasan budaya Tionghoanya relatif kurang.
ini menunjukkan : untuk memacu diri belajar lebih semangat, manusia memang membutuhkan "Api Dendam"!!! Jjika kita dendam pada kebodohan masa lalu, kita akan lebih giat belajar dibandingkan yang lain, jika kita dendam pada kemiskinan, kita akan terpacu semangatnya dalam bekerja.
Selamat Menyalahkan,
[Non-text portions of this message have been removed]
Anak2 muda Jerman jelas memilih menyalahkan Hitler, mereka bahkan membangun
monumen pembantaian Auswiz!
Setelah melakukan koreksi, mereka baru melangkah kedepan dng wajah tegar!
Lihatlah, setelah semua mengakui kesalahan pendahulunya, mereka tidak lagi
menghabiskan energi untuk berdebat dan berkelit, tidak seperti Jepang!
mereka justru dapat berkonsentrasi penuh thd masa depan!
Prom:
Alur pikir ini sama seperti yang dilakukan oleh Soeharto.
Dia menyalahkan PKI dan membuat hari peringatan khusus untuk mengingat
dendam akan kebiadaban PKI.
Dengan "api dendam" ini Soeharto mengajak orang-orang untuk maju.
Soekarno juga membakar "api dendam" terhadap kolonialisme Belanda.
Dengan "api dendam" ini Soekarno (dan pejuang lainnya) mengajak orang-orang
untuk maju bergerak melawan penjajahan dan lepas dari kemiskinan.
Sekarang, karena "api dendam" sudah mulai padam, kita nyalakan kembali ?
Live by the sword, die by the sword
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.17.1/1182 - Release Date: 12/12/2007
11:29 AM
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
.: Website global http://www.budaya-tionghoa.org :.
.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.
.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
Sejarah memang bisa menjadi beban, ini bisa terjadi justru kalau kita terus
menolak mengorksi kesalahan2 masa lalu. Misalnya di keluarga saya dulu para
sesepuh paling suka menggunakan istilah Huana, menurut saya ini mengandung
konotasi negatif ( minimum membuat garis batas orang dalam-orang luar). dulu
saya tak menyadari hal ini, sekarang setelah sadar saya harus berani
meninggalkan kebiasaan mengucapkan istilah ini. Meskipun saya belum juga
menemukan istilah yang pas menggantikan istlah ini, toh saya tak segan2
mengoreksi kesalahan keluarga saya sendiri di masa lalu, dengan demikian,
saya akan bebas dari beban sejarah.
Prom:
Ini pengalaman menarik yang patut ditiru.
BTW, kalau Anda belum menemukan istilah yang pas menggantikan istilah
"huana", lalu bagaimana jika Anda bermaksud mengucapkan "huana"? Apakah
diganti dengan kode tertentu, atau dengan "xxxxx" (seperti bahasa tulisan) ?
Atau ada istilah sementara lainnya yang Anda gunakan?
Bagaimana dengan pandangan keluarga Anda ? Apakah mereka mengikuti jejak
Anda ? Saya yakin tentu penuh suka-duka untuk mengubah itu, bukan ? Bisa
diceritakan bagaimana Anda menyiasatinya ?
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.17.1/1182 - Release Date: 12/12/2007
11:29 AM
Sorry... kelewatan beberapa posting.. soalnya males baca debat kusir
yang adu ngotot he he..
Cuma mau nimbrung, kalau kami sih menyebut "Indonesia asli" ya dengan
"Inniren", atau "Intonesia ren".
Walau, kalau lagi di luar negeri, kami pun jadi "Intonesia ren".
Kalau ditanya orang "Ni shi chungkuo ren?" "Pushi, wo shi Intonesia
ren". "You look Chinese" "Well yes, I am from Chinese descendant, but
I am Indonesian".
Ya kan?
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "Prometheus"
<prometheus_promise@...> wrote:
>
>
> BTW, kalau Anda belum menemukan istilah yang pas menggantikan istilah
> "huana", lalu bagaimana jika Anda bermaksud mengucapkan "huana"? Apakah
> diganti dengan kode tertentu, atau dengan "xxxxx" (seperti bahasa
tulisan) ?
> Atau ada istilah sementara lainnya yang Anda gunakan?
>
> Bagaimana dengan pandangan keluarga Anda ? Apakah mereka mengikuti jejak
> Anda ? Saya yakin tentu penuh suka-duka untuk mengubah itu, bukan ? Bisa
> diceritakan bagaimana Anda menyiasatinya ?
Dari apa yang aku alami.......untuk mengatakan ( dalam hal berkata ),
Inniren/ingniren sangat jarang aku dengar, yang paling dominan adalah Hoanna
dan Fankwie.
Inniren/Ingniren/Ingnijen bisa dibilang diucapkan disaat ngobrol dengan
orang asing.
Sejak aktif di millis tetangga 1999 lalu, istilah ini memang bisa dibilang
paling sulit dirubah, dan seperti biasa diskusi tak menghasilkan
apapun......alias kembali ke habitat awal........sabodo teuing.
Beda dengan Tionghoa, selain xxxx ada Tenglang, Cungkuoren, Chinesse, pokoke
makna yang menyakiti hanya xxxx, diluar itu gak ada.
sur.
----- Original Message -----
From: "Ray Indra" <anthonyrayindra@yahoo.com>
> Sorry... kelewatan beberapa posting.. soalnya males baca debat kusir
> yang adu ngotot he he..
>
> Cuma mau nimbrung, kalau kami sih menyebut "Indonesia asli" ya dengan
> "Inniren", atau "Intonesia ren".
> Walau, kalau lagi di luar negeri, kami pun jadi "Intonesia ren".
> Kalau ditanya orang "Ni shi chungkuo ren?" "Pushi, wo shi Intonesia
> ren". "You look Chinese" "Well yes, I am from Chinese descendant, but
> I am Indonesian".
>
> Ya kan?
Chat over IM with
group members.
Ya, Koh Fuyen benar. banyak anak muda
Tionghoa yg kurang berpendidikan tidak
mengetahui sejarah dgn baik sehingga
konklusi & solusi mereka mengenai "masalah
Tionghoa" menjadi sedemikian kabur, ngaco,
dan keliru.
ditambah distorsi sejarah yg sering dilakukan
oleh rezim Orde Baru maka kejahatan Mei 98
menjadi bias (menyebut salah 1 contoh
kerusuhan anti-tionghoa yg sering terjadi di RI).
jangankan Mei 98 yg skalanya relatif kecil
pabila dibandingkan dgn pembantaian Nazi Jerman
terhadap Yahudi, bhk kejahatan bangsa cebol
Jepang terhadap Tiongkok bisa "dimaafkan" dan
lebih parah "dilupakan" dengan memuja bangsa
Jepang hanya karena "harajuku" dan si agnes
monica perna bergaya urakan ala J-Rock.
padahal, bangsa biadab Jepang juga bersalah
terhadap bangsa Indonesia dgn penjajahan,
pembantaian, romusha dan Jugun Ianfu. tetapi
karena tidak terdidik dan salah gaul, anak-anak
muda Tionghoa ini lupa fakta sejarah kejahatan
Jepang (& Soeharto) tersebut.
kita tau bahwa pendudukan Jepang atas Nanking
yg saat itu ibu kota Republik Nasionalis
Tiongkok merupakan salah 1 horor paling
mengerikan di dunia.
Pembantaian Nanking merupakan kejahatan
paling keji dan menakutkan yg pernah dilakukan
oleh sebuah bangsa dalam sejarah peradaban
manusia. sayangnya, sekalipun bukti-bukti
tak terbantahkan, beberapa orang Jepang
termasuk pejabat Jepang dan so called
"historian" berani menyangkal Pembantaian
Nanking tersebut dan berusaha melakukan
white-washing sejarah kejahatan besar Jepang
tersebut.
Sejak tahun 70-an smp 90-an, Jepang secara
resmi mulai berusaha berbohong mengenai
Pembantaian Nanking. politisi sayap-kanan
Jepang merekayasa 3 bentuk denial ketika
mereka berhasil berkuasa di tahun 72.
1. Mereka mendistorsi fakta-fakta.
2. Menolak luas cakupan pembantaian
3. Membantah adanya pembantaian
bhk Menteri Pendidik Jepang mengepalai
projek untuk mendistorsi dan menulis ulang
sejarah di buku-buku sejarah. beberapa kata
diganti, spt kata "agresi" menjadi "bergerak
maju". keseluruhan pembantaian diberi label
"minor incident", atau sekedar "insiden
Nanking".
salah 1 usaha white-wash oleh Japanese
barbarian dapat kita lihat di buku karya
Hata Ikuhiko yg berjudul "Nanking Incident".
di buku ini, Hata barbarian mengklaim jumlah
korban hanya 38 ribu sehingga membantah
begitu banyak sumber fakta yg menyebut bahwa
jumlah korban pembantaian Nanking tidak kurang
berjumlah 300 ribu orang Tionghoa.
2 artikel berjudul "Reply to Katsuichi Honda"
dan "The Phantom of Nanking Massacre" yg ditulis
oleh Massaki Tanaka membantah bahwa pembantaian
itu tidak pernah terjadi. bahkan penulis barbar
Massaki Tanaka ini lebih jauh menulis dalam buku
"Fabrication of Nanking Massacre" menyalahkan
pasukan Tiongkok dalam fenomena pembantaian
Nanking tersebut.
mirip sekali dgn bocah kecil bernama Fadli Zon
yg menulis buku tentang tragedi Mei 98.
bhk majalah Playboy pernah mengutip pernyataan
politisi Jepang bernama Shintaro Ishihara yg
berkata "People saya that the Japanese made
a HOLOCAUST there, but that is not true. is is
a stroy made up by the Chinese."
pernyataan ini persis serupa dgn pernyataan-pernyataan
yg seringkali kita baca di Tionghoa-Net.
best regards,
Kenken
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "Skalaras" <skalaras@...>
wrote:
>
Setuju sekali bahwa analisa dan konklusi akan menjadi sangat absurd
ketika sejarah dan informasi tidak dipelajari dengan benar dan baik.
Lebih berbahaya lagi jika analisis dan konklusi dikemas dengan
hatred atau api dendam.
Hata Ikuhiko termasuk kelompok yang moderat di masyarakat Jepang
dalam memandang peristiwa Nanking. Salah satu tulisan-nya yang
menarik untuk dibaca dapat dilihat di
http://www.wellesley.edu/Polisci/wj/China/Nanjing/nanjing2.html
Sedangkan Masaaki Tanaka (pengarang buku "Nankin gyakusatsu" no
kyokÙ ) termasuk kelompok yang menganggap korban di peristiwa
Nanking sangat sedikit.
Di kelompok yang lain, ada Hora Tomio, yang menyebutkan estimasi
jumlah korban lebih dari 200.000 di bukunya, Nankin daigyakusatsu.
Jadi, di masyarakat Jepang sendiri ada 3 kelompok yang menyikapi
peristiwa Nanking secara berbeda.
Prometheus
Ps.
Jika mengacu pada situs
http://www.centurychina.com/wiihist/njmassac/nmjapv.htm, 2 artikel
berjudul "Reply to Katsuichi Honda" dan "The Phantom of Nanking
Massacre" bukan dikarang oleh Masaaki. Tapi oleh Shichihei Yamamoto
dan Akira Suzuki, respectively.
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "extrim_bluesky"
<Extrim_bluesky@...> wrote:
>
> Ya, Koh Fuyen benar. banyak anak muda
> Tionghoa yg kurang berpendidikan tidak
> mengetahui sejarah dgn baik sehingga
> konklusi & solusi mereka mengenai "masalah
> Tionghoa" menjadi sedemikian kabur, ngaco,
> dan keliru.
<cut>
<cut>
>
> bhk majalah Playboy pernah mengutip pernyataan
> politisi Jepang bernama Shintaro Ishihara yg
> berkata "People saya that the Japanese made
> a HOLOCAUST there, but that is not true. is is
> a stroy made up by the Chinese."
Analisi dan konklusi fakta sejarah menjadi
kebohongan apabila ada motif politis dari
penguasa/rezim untuk white-wash kejahatan.
efeknya, generasi muda yg tidak mengalami
langsung peristiwa kejam di masa lalu menjadi
bias dan absurd. contohnya, generasi muda
yg masih menggunakan istilah <<tertentu>> hasil
brain-washing tersistematis Orba.
di Jepang, Hard-liner sayap kanan menuding
bahwa Tragedi Nanking sbg Propaganda Komunis
Tiongkok. Busyet gak tuh...?!! lebih jauh,
kelompok hard-liner Jepang ini mengangkat
isu kebudayaan dan tradisi mereka yg tidak
mungkin melakukan pembantaian sekeji itu.
faktanya, tentara Dai Nippon itu
membantai wanita dan anak kecil dalam jumlah
kelewat batas. wanita hamil pun dibantai.
di saat pembantaian terjadi, semua media
pers meliput termasuk media pers Jepang yg
bersemangat memberitakan pembantaian tersebut
sebagai "war victory" bagi Jepang. sekarang,
para pejabat negara Jepang hendak membantah
fakta sejarah dgn distorsi.
Padahal, di bulan Desember 1937 ketika
Pembantaian Nanking itu terjadi, terdapat
sekelompok orang asing di sana. sedikitnya,
ada 20 orang Amerika dan Eropa yg menetap
di Nanking. mereka terdiri dari misionaris,
dokter dan pengusaha. mereka terlindungi di
International Safety Zone dgn menaikan bendera
palang merah.
orang-orang Barat ini menjadi saksi kekejaman
tentara Jepang itu. tulisan mereka banyak
dimuat oleh buletin dan newslater internasional.
mereka menyebut pembantaian Nanking sbg
"Hell on Earth" sambil bilang "I did not imagine
that such cruel people existed in modern world".
LALU BAGAIMANA PERNYATAAN RESMI JEPANG SEBAGAI
NEGARA terhadap Tragedi itu? 3 kelompok yg
beropini tidak bisa menjadi rujukan resmi pihak
Jepang. PERNYATAAN PEMERINTAH-lah yg seharusnya
menjadi pegangan dan rujukan resmi untuk menilai
sikap sejati Jepang terhadap kejahatan yg mereka
lakukan in the past.
INGAT, berbeda dgn sikap Jerman, pemerintah
Jepang tidak pernah secara formal mengajukan
PERMOHONAN MAAF kepada Bangsa Tionghoa dan Korea
terhadap kejahatan yg pernah mereka lakukan
selama masa perang.
apabila Jepang masih mencoba melindungi
para penjahat perang itu maka artinya
mereka pun mendukung perbuatan keji itu.
sekalipun, tidak ada 1 orang waras pun hendak
menghukum seluruh bangsa Jepang atas perbuatan
para anggota senior kekaisaran Jepang spt
Hirohito yg membuat semua keputusan final,
termasuk keputusan menginvasi Tiongkok di
tahun 37, atau Pangeran Asaka yg mengeluarkan
perintah "Kill all captives" dan arsitek
dari pembantaian Nanking, atau Jenderal
Yanagawa Hesuke dan Letjen Nakajima Kesago
yg mengomandoi divisi ke 16 sekaligus supervisor
pemenggalan kepala para tawanan dengan menggunakan
pedang.
apakah publik masyarakat Jepang tidak bisa
disebut barbarian ketika membiarkan usaha
sadar dilakukan oleh unsur pemerintah untuk
merevisi kejahatan mereka??
di bulan September 86, Menteri Pendidikan Jepang,
Fujio Masayuki mengerdilkan pembantaian Nanking
hanya sebagai "just a part of war", menghapus semua
referensi buku mengenai jumlah korban tionghoa
di Nanking. Lah, kalau tidak ada something fishy,
kenapa pula para petinggi Jepang itu berusaha
sekuat tenaga untuk membuat perubahan-perubahan
yg hanya menguntungkan pihak militer Jepang??
bhk, langkah paling gila yg mutakhir dilakukan
oleh Mizushima Satoru baru-baru ini.
setelah melalui apa yg ia katakan sebagai
"exhaustive research", Mizushima menawarkan
angka paling pasti jumlah korban Nanking
yaitu ZERO, NOL, NIHIL.
"bukti pembantaian itu palsu" katanya di Saluran
Sakura yg dikenal sebagai channel sayap kanan.
"semua itu adalah propaganda komunis Tiongkok"
teriaknya. ia menampilkan 1 foto mayat tionghoa
yg kepalanya dipenggal. kepala mayat tionghoa itu
masih menghisap rokok. Mizushima bilang "orang
Jepang tidak memperlakukan mayat seperti itu.
ini jelas bukan budaya kita yg santun. jadi
semua ini adalah bohong." BUSYET GAK TUH...!!
saya jadi curious, apakah orang-orang spt
Fadli Zon dan sejenisnya belajar dari
bangsa Jepang itu dalam
memecahkan kebuntuan Mei 98??
best regards,
Kenken
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "prometheus_promise"
> <Extrim_bluesky@> wrote:
> >
> > Ya, Koh Fuyen benar. banyak anak muda
> > Tionghoa yg kurang berpendidikan tidak
> > mengetahui sejarah dgn baik sehingga
> > konklusi & solusi mereka mengenai "masalah
> > Tionghoa" menjadi sedemikian kabur, ngaco,
> > dan keliru.
>
--------------------- dipotong ----------------------------
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "extrim_bluesky"
<Extrim_bluesky@...> wrote:
>
> LALU BAGAIMANA PERNYATAAN RESMI JEPANG SEBAGAI
> NEGARA terhadap Tragedi itu? 3 kelompok yg
> beropini tidak bisa menjadi rujukan resmi pihak
> Jepang.
Prom:
Jika demikian halnya, tidak perlulah berpanjang-panjang dengan
komentar-komentar penulis buku seperti Masaaki Tanaka, Hora Tomio,
bahkan sampai ke komentar film director, Mizushima Satoru, yang tidak
bisa dijadikan rujukan.
Bagaimana official statement terakhir yang Anda dengar dari pemerintah
Jepang untuk hal ini ?
Maaf kepada moderator dan member lain, rasanya ini sudah melenceng
dari diskusi semula. Tapi saya masih tertarik untuk mengetahui
sebenarnya apa official statement dari pemerintah Jepang untuk
peristiwa Nanking ini.
From: budaya_tionghua@yahoogroups.com
[mailto:budaya_tionghua@yahoogroups.com] On Behalf Of Skalaras
Sent: Wednesday, December 12, 2007 11:17 PM
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Subject: Re: [budaya_tionghua] kembali ke budaya, bosen debat kusir
Anak2 muda Jerman jelas memilih menyalahkan Hitler, mereka bahkan membangun
monumen pembantaian Auswiz!
Dada :
Hmm , dengan membangun monumen pembantaian apakah itu indikasi menyalahkan
Hitler, atau terkesan seperti salibkan beliau , untuk "menebus dosa" Jerman
.
Hmm seandainya anda rakyat Jerman tentu akan berkata lain. Jerman yang
bangkrut pasca WW I, dimana kekalahan tidaklah mutlak, militer Jerman masih
utuh, akan tetapi dipaksa menerima kekalahan. Dan harus membayar "upeti"
terhadap Prancis dkk ditambah masa resesi dunia saat itu. Jerman benar2
bangkrut , dan seperti negara besar yang harus berlutut terhadap negeri2
Prancis dkk. Bagaimanakah perasaan anda sebagai warga jerman? Suka atau
tidak suka , Hitler mampu memberikan kontribusi bagi kejayaan Jerman "dengan
cara apapun".
Lalu anda akan beralih kepada dampak kekejamannya, iyah khan? Lalu apa
bedanya dengan dampak kekejaman masa Revolusi Kebudayaan di Tiongkok , atau
jauh ke belakangnya lagi , rejim Stalin jauh lebih kejam dari Lenin saat
membangun kepulauan "Gulag" , dengan kamp - kamp yang notabene adalah warga
mereka sendiri , kaum minoritas negara Kaukasus , Tartar , segelintir Mongol
, segelintir Korea ? Apa bedanya? Hanya karena Stalin pemenang perang?
Lalu anda akan beralih pada pertanyaan balik , lalu bagaimana jika saya
menjadi orang yahudi ,slavia dan gypsi yang menjadi korban kamp2 Nazi?
Maka saya akan menjawab dua opsi. Yaitu disatu sisi Nazi membantai mereka
seperti nyamuk, akan tetapi di satu sisi membawa dan mendorong mereka , atau
mendesak mereka mendirikan Israel. Yang dari sudut pandang iman mereka ,
adalah sesuai janji Tuhan. Padahal Inggris hampir menempatkan "Israel" di
tanah Afrika.
Anda bilang API DENDAM bisa membuat anda giat , kenapa anda tidak berpikir ,
bahwa BENCANA mendatangkan berkah? Bahwa letusan gunung berapi menyuburkan
tanah sekitarnya, atau anda akan berkonfrontasi dengan sang gunung berapi ,
karena kematian kerabat anda , lantas mengembalikan debu2 vulkanik ke
tempatnya semula :-D
Lantas akan ada pertanyaan selanjutnya , lalu bagaimana jika saya menjadi
orang Palestina , dan menjadi korban gusuran? Dan seterusnya.
============================================================================
=================
Setelah melakukan koreksi, mereka baru melangkah kedepan dng wajah tegar!
Lihatlah, setelah semua mengakui kesalahan pendahulunya, mereka tidak lagi
menghabiskan energi untuk berdebat dan berkelit, tidak seperti Jepang!
mereka justru dapat berkonsentrasi penuh thd masa depan!
Dada : Saya tidak ragu anda paham sejarah tiongkok , akan tetapi saya ragu
kalau anda memahami konteks sejarah secara luas. Yang hanya bisa di pahami ,
jika anda melepas UNTUK SEMENTARA , tiongkok dengan huruf T Kapital .
Anda kira cukup dengan menggantung mayat Clara Pettachi dan Mussolini ,
rakyat Italia dengan serta merta melangkah dengan wajah tegar. Atau dengan
"menyalibkan" Hitler ?
Anda bilang tidak seperti Jepang. Maka terlihat sekali bahwa KEBETULAN
Jepang yang menyerbu Tiongkok , bukan Jerman dan Tiongkok KEBETULAN adalah
negri leluhur anda.
Secara sinis saya katakan, untung pemerintah Russia , dan pemerintah Baghdad
tidak menuntut pemerintah Mongol , akibat Moskow diduduki mereka hingga abad
16 , dan Baghdad di obrak-abrik satu abad setelah era Salahuddin.
----------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------
-----------
Karena kita menyalahkan Soeharto, kita baru bisa kritis mengoreksi
kesalahan2 yang dia buat, dan melakukan hal2 yang benar untuk melawan
kebijakannya. Jika kita tak menyalahkan Suharto, apa alasannya mencabut PP
pelarangan budaya Tionghoa? apa perlunya mempelajari budaya Tionghoa?
Saya sangat sering menyalahkan Suharto, bahkan ini saya lakukan semasa Orde
Baru lagi jaya2nya, maka saya bisa tetap membandel mempelajari budaya
Tionghoa, pelarangan membawa buku2 beraksara kanji dari luar negeripun saya
langgar, bukan terangan2 tentunya, tapi dng cara penyelundupan. ini juga
salah satu bentuk perlawanan. Kalau saya tidak menalahkan Suharto, saya
tidak akan mau ambil resiko ini!
Dada :
Tidak ada yang meragukan dedikasi anda di masa orde baru! Akan tetapi anda
salah menangkap apa yang saya maksud. Menurut saya , sudah terlalu banyak
usaha melirik ke belakang dan sangat membazir waktu. Seolah - olah menjadi
tempat propaganda politik anti orde baru , dan melenceng dari tujuan semula
milist ini. Dan saya lihat beberapa orang tertentu ,sepanjang musim hanya
melakukan perulangan , repetisi , itu2 saja. Bukankah lebih baik energy yg
terbuang di pakai untuk mencuci otak warga milist ini dengan pengetahuan
yang anda miliki dalam bidang bahasa misalkan.
Coba perhatikan, disini yang paling sering menyoroti kesalahan Suharto
justru mereka2 yang relatif lebih menguasai budaya Tionghoa, sedangkan yang
sering menghindar saat diajak menyalahkan suharto dan orde baru kebanyakan
justru mereka yang penguasan budaya Tionghoanya relatif kurang.
ini menunjukkan : untuk memacu diri belajar lebih semangat, manusia memang
membutuhkan "Api Dendam"!!! Jjika kita dendam pada kebodohan masa lalu, kita
akan lebih giat belajar dibandingkan yang lain, jika kita dendam pada
kemiskinan, kita akan terpacu semangatnya dalam bekerja.
Dada :
Akan selalu terjadi pengkotak-kotakkan. Dan yang seolah2 berdiri di garis
depan adalah pahlawan , sementara yang anda anggap menghindar ke seksi dapur
, logistic , dll adalah bukan rakyat jelata. Bahwa yang menguasai high
culture adalah "kasta" tertinggi , dan yang menguasai pop culture adalah
rakyat jelata. Hindarilah pemikiran seperti itu, karena tanpa sadar seperti
membangun sebuah kelas , kasta , dan akhirnya kerajaan.
Soal api dendam, komentar saya hanya satu . Dualisme !!!
Catatan moderator untuk saudara Robby:
Terima kasih atas masukannya. Tulisan di bawah memang melenceng dari topik semula, tetapi masih dalam lingkup sejarah Tiongkok.
===============================================================
Saudara moderator.
Saya kira tulisan dibawah ini sudah melenceng jauh dari topic. Dan mengambil
sikap bermusuhan dengan negara lain (dalam hal ini Jepang)
Contoh , silahkan ketik kata Agnes Monica , dalam database milist ……akan
terlihat bahwa serangan pribadi ini hanya dilakukan orang tertentu2 saja…….
Saya tanya , apa hubungan fashion harajuku , music J-rock , agnes monica ,
dalam pembahasan budaya tionghoa ini?
Kenapa gak sekalian di singgung inventaris pribadi buatan Jepang , motor
televise ,radio dstnya yang buatan Jepang juga?
Robby Wirdja
Banyak kosa kata yang beredar di pasar untuk pengganti kata huana, tapi tak ada yang memuasakan saya, misalnya istilah Pribumi dan Indonesia Asli . kedua2nya secara politis bermasalah , maka saya sementara menggunakan kata Non Tionghoa, Non Chinese dan Bendi Ren /orang lokal atau Yuan Zhu Min / penduduk asal (dlm mandarin.]
Soal mempengaruhi keluarga, saya melakukan pendekatan alamiah, yang tua2 biarkan saja, toh mereka akan segera hilang ditelan waktu, untuk yang sepantaran, termasuk dng teman2 sesama Tionghoa, meski lawan bicara saya mengeluarkan istilah ini, saya terus menjawab dng istilah lain, bertahan tak memakai kata Huana, lama kelamaan, karena saya konsisten, lawan bicara saya juga mengikuti cara saya menggunakan istilah, minimal di depan saya. dng cara ini, ternyata orang2 sekitar saya yang memakai istilah Huana juga ikut berkurang. Jika generasi saya saja sudah jarang memakai istilah ini, generasi yang lebih muda pasi akan semakin asing dng istilah ini bukan?
Saya rasa, pendekatan diatas juga bisa kita pakai untuk istilah XXX., misalnya kita bicara dng orang yang suka memakai istilah XXX, saat dia bertanya: " bagaimana dulu kalian orang XXX Semarang merayakan sincia?", kita bisa menjawab: " Kami orang Tionghoa Semarang biasanya........", lama kelamaan dia akan mulai menyesuaikan diri. kalau kita sendiri tak mulai berubah, jangan harap orang lain berubah.
Salam,
ZFy
----- Original Message -----
From: "Prometheus" <prometheus_promise@yahoo.com.sg>
To: <budaya_tionghua@yahoogroups.com>
Sent: Thursday, December 13, 2007 1:03 AM
Subject: RE: [budaya_tionghua] kembali ke budaya, bosen debat kusir
> -----Original Message-----
> From: budaya_tionghua@yahoogroups.com
[Non-text portions of this message have been removed]
Saya setuju dengan bung Prometheus , bahaya kalau mempelajari sejarah , apa
lagi dengan bibit dendam
Bagi saya masalah perang dunia II tidak perlu diungkit-ungkit hanya untuk
mencari kesalahan sebuah negara.
Makanya saya lebih tertarik melihat perang dunia II murni dari segi militer.
Jepang dengan Kuribayashi yang di kagumi petinggi militer Amerika Serikat.
Masalah pearl harbor dan Hiroshima itu hanya bumbu2 yang kalau dicari siapa
duluan gak ada habisnya. Misalkan Jepang melakukan serangan itu ada
sebabnya. Karena USA melakukan blockade terhadap Jepang di kawasan Asia
Tenggara, sementara pergerakan Jepang di Tiongkok itu mandek.Butuh karet dan
minyak di kawasan Asia Tenggara. Dan USA membom atom Jepang dengan alasan,
jika perang di lakukan secara konvensional dan berlarut2. Rakyat Jepang bisa
melawan sampai titik darah penghabisan, dan memakan korban jiwa lebih banyak
lagi. Jika Tiongkok menjadi korban serangan Jepang begitu "mudah" apa
sebabnya? Kenapa gak membahas Chiang Kai Sek , yang menganggap Jepang hanya
penyakit kulit , dan Mao penyakit kanker. Jika Tiongkok sendiri bersatu ,
apa dengan mudah Jepang menyerbu Tiongkok? Jadi coba di renungkan kalau
Tiongkok sendiri ada kesalahan yang harus ditanggung karena perang saudara.
Lantas bicara Eropa, Kiprah militer Jerman pun ada sebabnya. Ada adegan
pendahuluan WW II yaitu WW I , dan ada adegan pendahulu dari WW I yaitu
konflik - konflik yang terjadi sebelumnya yang begitu kompleks untuk di
jabarkan. Kalau dicari yang salah siapa , tidak akan ada habisnya. Kamp
Konsentrasi Yahudi? Just It? Tidak ada yang memperhatikan bahwa Hitler
menganggap Inggris sebagai "saudara" akibat kekerabatan raja2 Inggris dengan
bangsa Jerman , sehingga menimbang - nimbang , "siapa tahu" Inggris bisa
dibujuk untuk menjadi sekutu Jerman. Sehingga pasukan Jerman seperti
membiarkan ratusan ribu pasukan Prancis dan Inggris yang telah terkepung di
Durkirk.
Itu hanya secuil dari apa yang terjadi di WW.
Kalau terlalu focus pada Nanking ,kamp - kamp Nazi Kepulauan Gulag , Pearl
Harbor, Hiroshima. Itu biasanya orang yang hobby belajar sejarah hanya untuk
menikmati adegan adegan terrornya saja serasa nonton film horror,apalagi
dengan semangat supporter atau tifosi , yang benar atau salah , itu CLUB GW
, NEGARA GW.........yang tiongkok rajin mempelajari kebiadaban Jepang , Yang
Jepang lantas membela diri , tidak ada habisnya . Yang Prancis mempelajari
kebiadaban Jerman , yang Jerman lantas tidak mau kalah menuding Napoleon.
Dan seterusnya. Belum lagi konflik2 lain seperti Russo-Finnish, Italia -
Yunani. Korea - Jepang. Dan seterusnya? Apa mau terus2 di bahas, begitu yang
satu menuding , yang lain akan membela diri , sampai akhirnya telur dan ayam
siapa duluan?
Nanti hasil akhirnya akan menjadi dendam berkepanjangan seperti Israel -
Palestina.
Kalau saya sih lebih tertarik melihat kiprah Rommel - Guderian, Kuribayashi,
Patton , Montgomery.
Bagaimana cara Jerman menyiasati keunggulan Inggris di lautan?
Bagaimana cara Sovyet menyiasati keunggulan Jerman di darat?
Bagaimana cara Finlandia negara mini menahan serangan raksasa Sovyet?
Dst nya
Jauh lebih menarik , daripada .........uhuk2 melantur hingga ke Agnes Monica
Robby2 Wirdja
From: budaya_tionghua@yahoogroups.com
[mailto:budaya_tionghua@yahoogroups.com] On Behalf Of prometheus_promise
Sent: Thursday, December 13, 2007 3:47 PM
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Subject: [budaya_tionghua] Re: Koh Fuyen mesti belajar dari Jepang
Mas Prom, tolong kalo berdiskusi itu
tidak sepenggal-penggal. saya kewalahan
menghadapi anda yg cenderung membaca
secara partial dan setengah-setengah.
perilaku anda mengingatkan saya akan
pola yg sering ditampilkan oleh milis
t-net. harap anda jangan bawa kultur anda
di milis Budaya Tionghoa ini.
Tema sentral masalah yg kita bicara adalah
anak-anak muda Tionghoa hasil produk
"brain-wash" Orde Baru. referensi kasus
pembantaian Nanking oleh Jepang dan bagaimana
sikap dan usaha "white-wash" masyarakat
dan pemerintah Jepang hanya merupakan 1
rujukan untuk mengamati sikap yg sama
yg diadobsi oleh masyarakat dan pemerintah
Indonesia Orde Baru.
nah, bagi saya referensi Jepang ini sangat
diperlukan untuk mempelajari bagaimana
kita merespon counter-attack terhadap
masalah keadilan bagi masyarakat Tionghoa di
Indonesia.
denial masyarakat dan pemerintah Jepang atas
kejahatan perang Jepang diadobsi secara
kasar oleh sebagian masyarakat dan pemerintah
RI dalam menghadapi banyak kasus persekusi
terhadap rakyat Indonesia, khususnya Tionghoa.
Mas Prom mesti tau bhw pemerintah Jepang
mengontrol secara ketat media pers yg
berkaitan dgn pembahasan masalah pembantaian
nanking dan umumnya masalah kejahatan Perang
Jepang selama perang dunia.
sehingga masyarakat Jepang terilusi dan tidak
mengetahui secara jelas tentang kejahatan
militer Jepang itu. hasilnya, patriotisme
masyarakat Jepang yg membela kejahatan perang
Jepang menjadi bahan tertawaan internasional.
masyarakat Jepang masih memandang para
'war criminal' Jepang sebagi 'their heroes'.
bhk Pengadilan Tokyo yg digelar oleh
International Military Tribunal untuk
kawasan Far East yg mengungkap kejahatan
pembantaian Nanking hanya mampu mengejutkan
masyarakat Jepang untuk sesaat. karena
kemudian unsur pemerintah Jepang melaksanakan
konter propaganda untuk mendistorsi dan
mem-brain wash masyarakat Jepang. sebelum
tahun 1970, tidak pernah ada 1 pun "open
danial" terhadap Tragedi Nanking dari
orang-orang Jepang spt Mizushima Satoru
yg bilang korban pembantaian Nanking
adalah ZERO. Lah? itu kuburan massal
yg ditemukan di nanking itu apa? foto-foto
mayat anak-anak, perempuan dan kakek-kakek
Tionghoa yg dibantai Jepang itu apa?
Faktanya, terdapat banyak buku berbahasa Jepang
yg memuat pengakuan atau diary dari tentara
Jepang yg mengkonfirmasi dan memberi detail tentang
bagaimana mereka melakukan Pembantaian. fakta
ini lantas hendak dibantah oleh para politisi
Jepang saat ini. bantahan itu disupport dan
dilindungi oleh penguasa Jepang scara total.
makanya tidak heran apabila Menteri Kehakiman
Jepang dan Kepala Staff Militer Jepang,
Shigeto Nagano bersikeras bahwa kejahatan
perang Jepang di masa lalu adalah fabrikasi
semata.
atau contoh kasus seorang Konsul Jepang di Houston
yang pernah bersikera bahwa menurut sumber dari
Jepang "the Nanjing Massacre never occurred".
La iyalah, menurut "sumber Jepang" kan...??
persis spt omongan orang sejenis Fadli Zon gak
sech, terkait kasus Mei 98?
best regards,
Kenken
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "prometheus_promise"
<prometheus_promise@...> wrote:
>
> --- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "extrim_bluesky"
> <Extrim_bluesky@> wrote:
> >
> > LALU BAGAIMANA PERNYATAAN RESMI JEPANG SEBAGAI
> > NEGARA terhadap Tragedi itu? 3 kelompok yg
> > beropini tidak bisa menjadi rujukan resmi pihak
> > Jepang.
>
> Prom:
> Jika demikian halnya, tidak perlulah berpanjang-panjang dengan
> komentar-komentar penulis buku seperti Masaaki Tanaka, Hora Tomio,
> bahkan sampai ke komentar film director, Mizushima Satoru, yang
tidak
> bisa dijadikan rujukan.
>
> Bagaimana official statement terakhir yang Anda dengar dari
pemerintah
> Jepang untuk hal ini ?
>
>
> Maaf kepada moderator dan member lain, rasanya ini sudah melenceng
> dari diskusi semula. Tapi saya masih tertarik untuk mengetahui
> sebenarnya apa official statement dari pemerintah Jepang untuk
> peristiwa Nanking ini.
>
Share photos while
you IM friends.
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "extrim_bluesky"
<Extrim_bluesky@...> wrote:
> sehingga masyarakat Jepang terilusi dan tidak
> mengetahui secara jelas tentang kejahatan
> militer Jepang itu. hasilnya, patriotisme
> masyarakat Jepang yg membela kejahatan perang
> Jepang menjadi bahan tertawaan internasional.
> masyarakat Jepang masih memandang para
> 'war criminal' Jepang sebagi 'their heroes'.
Prom:
Salah besar.
Seperti yang saya jelaskan dalam posting sebelumnya, bahwa response
masyarakat jepang, sekarang ini, terbagi dalam tiga kelompok. Sebagian
besar dari mereka cukup moderat memandang hal ini.
Tidak perlu membesar-besarkan kelompok yang extreme, dan menganggap
masyarakat jepang seperti itu.
> Faktanya, terdapat banyak buku berbahasa Jepang
> yg memuat pengakuan atau diary dari tentara
> Jepang yg mengkonfirmasi dan memberi detail tentang
> bagaimana mereka melakukan Pembantaian. fakta
> ini lantas hendak dibantah oleh para politisi
> Jepang saat ini. bantahan itu disupport dan
> dilindungi oleh penguasa Jepang scara total.
Prom:
Kembali saya tanyakan, apa sikap pemerintah Jepang saat ini terhadap
issue Nanking ?
> makanya tidak heran apabila Menteri Kehakiman
> Jepang dan Kepala Staff Militer Jepang,
> Shigeto Nagano bersikeras bahwa kejahatan
> perang Jepang di masa lalu adalah fabrikasi
> semata.
Prom:
Itu di tahun 1994.
Shigeto Nagano juga mengkritik pernyataan bekas Perdana Menteri Jepang
sebelumnya, Morihiro Hosokawa, yang menyebutkan bahwa invasi Jepang ke
Asia adalah tindakan agresi perang.
Mengapa tidak mengangkat ucapan Morihiro Hosokawa?
(Bisa dilihat di
http://www.mofa.go.jp/announce/press/pm/murayama/state9408.html)
Mengapa Anda selalu meng-highlight hanya perkataan dari right-wing
Jepang ?
Apakah Anda mencoba melakukan brain-wash (atau black-wash) terhadap
kenyataan bahwa banyak politikus dan masyarakat Jepang yang
meng-acknowledge kejadian tsb, mempunyai sympathi dan meminta maaf
thdp kejadian tsb ?
Dalam peringatan peristiwa Nanking kemarin, juru bicara Kementrian
Luar Negeri RRC, mengatakan "Pemerintah China berharap sejarah itu
akan dijadikan sebagai cermin demi kebaikan masa depan. Ini perlu
untuk mengembangkan sikap bertetangga yang baik dan demi kerja sama
jangka panjang dengan Jepang,"
Seperti ada pepatah mengatakan, pemimpin yang baik saling bertemu dan
berbicara untuk menghindarkan perang yang besar, tapi provokator
berbicara untuk menghidupkan peperangan.
Rupanya Mas Prom tidak memahami ajakan
saya agar anda berdiskusi secara holistik
dan tidak partial/sepenggal-penggal.
di awal tulisan saya tentang sikap Jepang
terhadap Pembantaian Nanking, saya pun
sudah membagi 3 kategori persepsi masyarakat
Jepang. anda mungkin tidak baca paragraf itu
sehingga mengulangi penjabaran saya.
Ajakan untuk melihat masa depan juga dikatakan
oleh seorang penduduk Nanjing bernama Xue Dejiang
yg diliput South China Morning Pos. dia berkata
"...we want to look to the future. of course,
it can never be forgiven". apakah Mas Prom
bisa membedakan pernyataan apologetik dan
pernyataan konstruktif spt yg dikatakan oleh
Xue Dejiang itu??
sekali lagi saya jelaskan, bahwa tema
sentral diskusi ini adalah seputar masalah
"brain-washing" Orde Baru terhadap generasi
muda tionghoa. masalah sikap pemerintah Jepang
atas tragedi Nanking, anda bisa datang
ke kedutaan besar Jepang di Jl. Sudirman-Thamrin.
saya bukan orang kedutaan Jepang.
bagi saya, sikap pemerintah Jepang tetap
tidak memperlihatkan rasa malu. Perdana
Menteri masih memuja para penjahat perang
di kuil Yasukuni.
berbeda dgn Jerman yg menerima perjanjian
Versailles dengan menyatakan BERSALAH sebagai
penyebab Perang Dunia I.
TENTU SAJA, kita akan sulit melihat orang
Jepang melakukan perbuatan seperti yg dilakukan
oleh Jerman.
Jerman Barat pernah menawarkan pernyataan
permintaan maaf secara resmi di tahun 90an
atas peran jerman dalam kasus HOLOCAUST. para
pemimpin Jerman secara terus menerus memperlihatkan
penyesalan mereka, yg paling menonjol adalah
Chancellor Willy Brandt yg pernah bersimpuh
di depan Holocaust Memorial di Warsawa.
sedangkan Jepang, di mulut ngomong menyesal
tapi kaki masih saja melangkah dgn pride
menghormati para penjahat perang di kuil Yasukuni.
Sistem pendidikan Jerman pun berbeda dgn
usaha departemen pendidikan Jepang yg
menulis ulang sejarah, menutup fakta pembantaian
Nanking, mendistorsi informasi dsb. Institusi
Pendidikan Jerman mengutuk Holocaust dan The
Third Reich. Nazi dilarang dan buku Mein Kampf
dicaci-maki. bahkan simbol swastika pun dipandang
dgn jijik. berbeda dgn penghormatan besar jepang
terhadap Hirohito dan simbol-simbol fasistis
Jepang lainnya.
ketika tidak sedang tersudut oleh opini
internasional, para pemimpin Jepang dgn seenaknya
mengeluarkan komentar. contohnya si Shinzo Abe
yg menantang para korban Jugun Ianfu dgn
menyatakan:
"The fact is, there is no evidence to prove
there was coercion (terhadap perempuan-perempuan
Jugun Ianfu"
Nah, perempuan Indonesia juga banyak yg jadi
korban Jugun Ianfu. terserah kepada hati-nurani
masing-masing untuk menyingkapi pernyataan
PM Jepang itu terkait masalah Jugun Ianfu.
sekalipun Jepang pernah memberi Indonesia
kompensasi sebesar US$ 223,080,000 di tahun
1958 sebagai kompensasi penjajahan atas RI.
tetapi korban kejahatan Jugun Ianfu pantas
memperoleh keadilan yg semestinya mereka
harapkan.
best regards,
Kenken
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "prometheus_promise"
<prometheus_promise@...> wrote:
>
> --- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "extrim_bluesky"
Chat over IM with
group members.
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "extrim_bluesky"
<Extrim_bluesky@...> wrote:
> sekali lagi saya jelaskan, bahwa tema
> sentral diskusi ini adalah seputar masalah
> "brain-washing" Orde Baru terhadap generasi
> muda tionghoa.
Prom:
Ya. Mari kita kembali ke tema sentral "brain-washing" Orde Baru
terhadap generasi muda tionghoa.
Apa point yang ingin Anda sampaikan?
Mengenai Jepang, Jerman, dll, kita batasi dahulu..kita bisa bicarakan
di lain waktu atau di lain forum.
Chat over IM with
group members.
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "prometheus_promise"
<prometheus_promise@...> wrote:
>
> Prom:
> Ya. Mari kita kembali ke tema sentral "brain-washing" Orde Baru
> terhadap generasi muda tionghoa.
>
> Apa point yang ingin Anda sampaikan?
>
> Mengenai Jepang, Jerman, dll, kita batasi dahulu..kita bisa bicarakan
> di lain waktu atau di lain forum.
>
Kenken:
Rupanya anda masih belum memahami kaitan
antara tema sentral generasi muda Tionghoa
dgn contoh referensi bantahan Jepang
terhadap Pembantaian Nanking.
saya terangkan secara lebih rinci, sekalipun
saya agak malas berdialog dgn anda. tetapi
untuk menghormati diskusi maka saya tulis
email terakhir ini untuk anda Mas Prom.
Generasi muda saat ini jelas merupakan
produk BRAIN WASH pemerintah Orde Baru.
sehingga generasi muda saat ini tidak
mengerti lagi tentang posisi dirinya
dgn latar belakang sejarah etnisnya di
Indonesia. contoh, penggunaan istilah
"C!N@" oleh segelintir kecil pemuda/i di milis
ini adalah contoh produk afkir tersebut.
Mereka tidak mengetahui bahwa
Indonesia pernah sedemikian brutal dan
antagonis terhadap komunitas Tionghoa. Pembantaian
Tionghoa di Mei 98 adalah contoh terdekat
tentang gerakan riil tersebut. Pasca Mei 98,
gerakan yang mengarah pada persekusi Tionghoa
masih dapat kita dengar. Sebut saja peristiwa
sweeping Mahasiswa HMI Makasar (2 x), spanduk
Ki Gendeng Pamungkas di Bogor, rencana kalangan
islam berjihad apabila A-hok menjadi gubernur
Ba-Bel, rencana penjarahan pasca banjir Jakarta,
kasus Go Chong Phing Tuban dsb.
Beberapa pahlawan nasional yang namanya harum
di buku sejarah nasional ternyata memiliki
prilaku rasis-anti tionghoa. Sebut saja nama
Bung Tomo, Jenderal Soemitro dsb. Bahkan
sampai di abad modern, tokoh-tokoh pemimpin
Indonesia masih tidak ragu-ragu memperlihatkan
sentiment anti-Tionghoa, sebut saja Baramuli,
Habibie, Jusuf Kalla, Fadli Zon dan tentu saja
beberapa jenderal angkatan darat.
Bung Tomo sebagai pemimpin besar Barisan
Pemberontak Rakyat Indonesia memiliki peran
yang sangat besar bagi kemerdekaan Republik
Indonesia . Ia dikenal sebagai "jenderal radio".
Pidatonya yang bergemuruh membangkitkan gelora
perjuangan sampai ke telinga rakyat melalui
radio di Surabaya. Namun sayangnya, pidato-pidato
Bung Tomo itu tidak bebas dari sikap rasialis
anti-Tionghoa. Tema-tema anti Tionghoa membangkitkan
sentiment anti-tionghoa di kalangan masyarakat
pribumi Jawa Timur.
Melihat dampak dari provokasi anti-tionghoa
oleh Bung Tomo ini, Go Gien Tjwan sebagai
jurubicara Angkatan Muda Tionghoa pernah
memberi penjelasan lewat pidato bahwa musuh
rakyat Indonesia bukan etnis tionghoa tetapi
Belanda. Ia juga menyatakan bahwa etnis Tionghoa
juga menjadi bagian korban penjajahan.
Siauw Giok Tjhan bersama kawan-kawannya
pernah pergi menemui Bung Tomo agar mengubah
sikap anti-tionghoanya. Namun Bung Tomo tetap
berkeyakinan bahwa sebagian besar etnis Tionghoa
adalah kalangan pro-Belanda.
Akhirnya, di bulan Oktober 45, Siauw Giok
Tjhan memimpin delegasi pemuda Tionghoa untuk
bertemu dengan Bung Tomo dan sejumlah tokoh kiri
dari PESINDO antara lain Soemarsono dan Soedisman
(akhirnya menjadi Politbiro PKI di tahun 60-an).
Pertemuan itu berhasil menyepakati penggabungan
barisan perjuangan antara pemuda Tionghoa,
Badan Pemberontak Rakyat Indonesia dan PESINDO.
Pasca kemerdekaan 45, terjadi pembantaian
massal terhadap Tionghoa. Aksi polisinil
Belanda menambah kekisruhan keadaan pada
saat itu. Pasukan republic yang terdesak,
mundur ke dalam hutan. Dalam perjalanan mundur
itu, pasukan Indonesia membumi hanguskan apa
saja yang mereka temui. Di berbagai tempat di
Jawa Barat, Jateng, Jatim terjadi perampokan,
penjarahan dan pembakaran rumah-rumah, toko,
bengkel, perusahaan, pabrik dan berbagai harta
benda milik etnis Tionghoa.
Aksi bung Tomo dan laskar rakyat Indonesia
itu tidak menghitung dan tidak memandang
adanya Tionghoa yang pro-Indonesia seperti
Tony Wen yang memimpin organisasi Barisan
Pemberontak Tionghoa di Surakarta atau aksi
memperingati Kemerdekaan Indonesia pada tanggal
17 Juni 46 di mana 6 ribu orang Indonesia dan
Tionghoa melakukan upacara bendera di Stasiun
Serang. Saat itu, bendera RI dan Tiongkok
dikibarkan secara bersamaan dan berdampingan.
Tetapi, pembunuhan di beberapa daerah tetap
berlangsung. Orang-orang Tionghoa tak berdosa
diperkosa dan dibunuh dengan tuduhan menjadi
agen atau mata-mata NICA.
Di medan terjadi gelombang pembunuhan massal,
perampokan dan penjarahan yang dilakukan
oleh gangster, kriminil dibantu oleh organisasi
pemuda dan oknum Tentara Keamanan Rakyat (TKR).
Di bulan Januari 46, terjadi demonstrasi 10 ribu
Tionghoa memprotes aksi brutal laskar pemuda
Indonesia . Orang-orang Tionghoa itu membawa
mayat-mayat korban kebiadaban kaum ekstrimis Indonesia .
Era awal kemerdekaan Indonesia itu
dikenal sebagai "zaman bersiap". Di daerah
pendalaman, apabila terdengar seruan: "Siap, Siap!"
maka penduduk Tionghoa akan gemetaran ketakutan,
karena seruan itu seringkali berarti
perampokan dan penjarahan.
Pada tanggal 3 Juni 46, terjadi pembunuhan
besar-besaran terhadap Tionghoa di Tangerang.
Peristiwa pembantaian sadis ini sempat diberitakan
oleh harian The New York Times. Memorandum Chung
Hua Tsung Hui menyatakan bahwa sesuai dengan
notulen rapat di Tangerang yang diselenggarakan
oleh Djoenaedi, anggota eksekutif kabinet
Republik Indonesia (Badan Pekerja KNI),
Laskar Rakyat telah merencanakan sebuah
Perang Sabil (Perang Suci) dan sebagai akibatnya,
Tionghoa dibantai di Tangerang.
Seluruh korban dan peristiwa pembantaian tionghoa
di Tangerang dicatat dalam Laporan Palang
Merah Rumah Sakit Yang Seng Ie Jakarta.
Lelaki Tionghoa disunat dan dibunuh. Tidak
hanya itu, perempuan dan anak kecil Tionghoa
pun dibantai tanpa perasaan. Bahkan penganiayaan
terhadap perempuan Tionghoa itu sulit dilukiskan
dengan kata-kata. Pembantaian meluas ke kota-kota
lain seperti Mauk, Serpong, Bayur dan Krawang.
Di Rawa Cina, seorang perempuan Tionghoa yang
sedang hamil ditusuk dan rahimnya dibuka sehingga
menyebabkan bayi lahir premature dan mati. 25
ribu Tionghoa diharuskan mengungsi ke gedung
Sin Ming Hui di Jl. Gajah Mada no. 188 akibat
keberutalan itu.
Menanggapi Peristiwa Tangerang ini, Perdana
Menteri Sutan Sjahrir menyatakan penyesalan
tetapi tidak pernah menyebutkan tindakan apa
yang akan diambil terhadap otak dan pelaku
pembantaian. Persis seperti Peristiwa Mei 98
di mana tidak ada satu pun tindakan diambil
oleh pemerintah Indonesia dalam mengadili
otak dan pelaku penjarahan dan pembunuhan.
Di Bagan Siapi-api lain lagi kisahnya. Pada
bulan September 46, Bagan Siapi-api diserbu
oleh orang-orang Indonesia yang tergabung dalam
Angkatan Laut Republik, Angkatan Darat dan Polisi
Republik. Jumlahnya hampir 5 ribu pasukan. Ratusan
Tionghoa tewas, tetapi mereka yang selamat
melakukan perlawanan dengan menggunakan senjata
seadanya. Tanpa perlawanan senjata itu, dipastikan
Tionghoa akan disapu bersih dari Bagan Siapi-api
saat itu.
Karena serangan laskar Indonesia itu gagal, tetapi
jiwa pejuang mereka tidak pudar. Aksi brutal laskar
Indonesia itu berlanjut dengan blockade dan isolasi
hingga 14 ribu orang Tionghoa Bagan hampir
mati kelaparan. 2 ribu orang TIonghoa menjadi
pengungsi di Malaka. Pembunuhan terus meluas di
daerah-daerah seperti Bangko, Djembra, Telok
Poelau, Mentega dsb.
Masih banyak lagi pembantaian terhadap Tionghoa
pada masa itu yang terjadi di berbagai kota
seperti Jember, Salatiga, Bobotsari, Purbalingga,
Cilacap, Gombong, Lumajang, Tegal, Pekalongan,
Jalaksana, Purwokerto, Malang dsb. Daftarnya
akan sangat panjang.
Menyadari kegawatan situasi ini, Konsul
Jenderal Tiongkok berusaha membangun berbagai
zona aman di mana orang-orang Tionghoa dapat
berkumpul dan terlindungi. Ketika situasi
semakin memburuk, Konsul Jenderal Chiang
Chia-Tung menginstruksikan kepada orang
tionghoa untuk berkumpul bersama di bangunan
sekolah dan mengibarkan bendera Tiongkok
bersama bendera Palang Merah. Di beberapa daerah
pedalaman, adanya bendera Tiongkok dan gambar
bendera Tiongkok cukup mampu melindungi orang-orang
Tionghoa dari amukan massa dan laskar liar Indonesia .
Situasi semakin gawat, tentara republic semakin liar tak terkendali.
Menjarah, memperkosa dan membunuh orang-orang Tionghoa. Akhirnya,
sebagai hasil pembicaraan antara perdana menteri Sjahrir dan Oey Kim
Sen, dibentuklah Pao An Tui engan tugas melindungi jiwa dan harta
orang Tionghoa.
Dalam perjalanannya, Pao An Tui menjadi sangat anti-Belanda. Di
Surabaya, Pao An Tui bahu-membahu dengan tentara republic Indonesia
melawan belanda. Tetapi anehnya dan sungguh LUCU, kemudian public
pribumi Indonesia memojokan Pao An Tui sebagai elemen pro-NICA.
Bagaimana mungkin sebuah organisasi keamanan yang disetujui oleh
Perdana Menteri Republik Indonesia bisa dinyatakan sebagai elemen anti-
Indonesia???
Terima kasih atas tanggapannya dalam e-mail terakhir Anda ini.
Saya hargai dan saya yakin Anda akan penuhi kata-kata Anda tersebut.
Sebagian besar generasi muda sekarang tumbuh dan besar dalam masa orde
baru, yang tentunya sedikit-banyak telah membentuk cara dan pola pikir
tertentu, yang mungkin masih kita rasakan sekarang.
Dalam masa itu, pengetahuan generasi muda terhadap sejarah, politik
dan budaya tionghoa, tentu amat berbeda dengan apa yang dialami oleh
generasi sebelumnya. Selain kondisi geopolitik dunia yang saat itu
sangat mengacu ke barat (hegemoni US yang sangat kuat), kondisi
politik dalam negeri pun tidak menyediakan ruang yang cukup untuk
mengakses informasi dan mengekspresikan secara leluasa akan tradisi
dan budaya yang mungkin sudah turun-temurun diwariskan.
Walaupun demikian, dengan berbagai cara dan keterbatasan, sekelompok
generasi muda mampu tetap mempertahankan budaya dan tradidi (yang
mungkin juga sudah di-adaptasi, sedikit-demi-sedikit, dengan
nilai-nilai yang baru). Ini patut dihargai.
Berubahnya geopolitik dunia, dengan munculnya RRC sebagai kekuatan
ekonomi/politik baru, dan perubahan dinamika politik dalam negeri,
telah membawa perubahan dalam 9 tahun terakhir ini. Akses terhadap
informasi sejarah tionghoa di Indonesia dan nilai-nilai tradisi/budaya
tionghoa dan dinamika-nya dengan negara RRC/Tiongkok pun terbuka lebar.
Banyaknya buku-buku yang mengupas sejarah tionghoa di Indonesia pun
semakin membuka minat dan wawasan generasi muda akan apa yang pernah
terjadi. Beberapa yang cukup lengkap, misalnya buku-buku dari Leo
Suryadinata, Benny G.Setiono dan Denys Lombard, mengupas dinamika
keterlibatan Tionghoa Indonesia dalam pembentukan negara Indonesia.
Generasi muda mulai mengenal kembali sepak terjang Kwee Hing Tjiat,
Lim Koen Hian, Siauw Giok Tjhan, Yap Thiam Hien, dll.
Peristiwa-peristiwa yang tadinya tabu dibicarakan, sekarang dapat
diketahui publik dengan lebih mudah.
Perubahan kesadaran ini, membuat generasi muda tionghoa bersemangat
kembali untuk menggali jati diri dan budaya yang mungkin terpendam,
dan terlibat aktif dalam masyarakat.
Munculnya Buku Purnama di Bukit Langit (karangan Zhou Fuyen),
misalnya, merupakan wujud meningkatnya minat kalangan tionghoa muda
terhadap sastra dan budaya tionghoa. Demikian juga adanya
diskusi-diskusi yang berlangsung di beberapa milis.
Keikutsertaan beberapa tionghoa dalam pilkada juga menunjukkan
perkembangan yang positif dalam dunia politik.
Bagi mereka yang memahami suatu proses perubahan (kalau dalam filsafat
tiongkok, bisa dipelajari dalam buku I Ching), tentunya memahami jika
perubahan ini akan diikuti dengan beberapa ekses yang harus di-manage
dalam koridor yang benar.
Jangan sampai ekses-ekses kecil ini menarik mundur atau membuat
perubahan menjadi kebablasan.
Ya, orde baru sedikit banyak telah membentuk dan masih menyisakan
persepsi dan cara pikir kita (tidak hanya kelompok tionghoa, tapi juga
kelompok masyarakat lainnya). Tapi, waktu yang banyak tersedia
didepan, dan ruang yang sudah diberikan, dapat dimanfaatkan dengan
bijaksana untuk mengikuti laju perubahan persepsi dan cara pikir yang
sekarang sedang terjadi.
Tidak hanya inward dan backward looking, tapi menjadi outward dan
forward looking.
Prometheus
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "extrim_bluesky"
<Extrim_bluesky@...> wrote:
> saya terangkan secara lebih rinci, sekalipun
> saya agak malas berdialog dgn anda. tetapi
> untuk menghormati diskusi maka saya tulis
> email terakhir ini untuk anda Mas Prom.
>
> Generasi muda saat ini jelas merupakan
> produk BRAIN WASH pemerintah Orde Baru.
> sehingga generasi muda saat ini tidak
> mengerti lagi tentang posisi dirinya
> dgn latar belakang sejarah etnisnya di
> Indonesia. contoh, penggunaan istilah
> "C!N@" oleh segelintir kecil pemuda/i di milis
> ini adalah contoh produk afkir tersebut.
Share photos while
you IM friends.
Share with others
Help the Planet.
"apa sikap pemerintah Jepang saat ini terhadap issue Nanking ?"
Karena memang segan untuk mengakui kesalahan masa lampau, pemerintah Jepang tidak pernah mau secara resmi menangapi issue Nanjing, mereka lebih memilih diam menghindar. Tapi dalam berbagai kesempatan, pemimpin2 pemerintahan "secara pribadi" mengeluarkan pernyataan2 yang memungkiri fakta tsb atau mengecilkannya,
Memang tidak semua rakyat Jepang setuju dng sikap Kelompok kanan ini, tapi kita harus waspada melihat gejala makin menguatnya kelompok kanan dalam pemerintahan Jepang ini. Ini pasti akan berdampak ke sikap masyarakatnya.
ZFy
----- Original Message -----
From: prometheus_promise
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Sent: Friday, December 14, 2007 11:07 AM
Subject: [budaya_tionghua] Re: Koh Fuyen mesti belajar dari Jepang
Prom:
Kembali saya tanyakan, apa sikap pemerintah Jepang saat ini terhadap
issue Nanking ?
Recent Activity
a.. 16New Members
Visit Your Group
Search Ads
Get new customers.
List your web site
in Yahoo! Search.
Yahoo! Groups
Latest product news
Join Mod. Central
stay connected.
Real Food Group
Share recipes,
restaurant ratings
and favorite meals.
.
[Non-text portions of this message have been removed]
Dada :
Hmm , dengan membangun monumen pembantaian apakah itu indikasi menyalahkan
Hitler, atau terkesan seperti salibkan beliau , untuk "menebus dosa" Jerman.
ZFy :
Untuk menebus dosa, harus mengakui dosa dulu. intinya sama.
Dada:
Hmm seandainya anda rakyat Jerman tentu akan berkata lain. Jerman yang
bangkrut pasca WW I, dimana kekalahan tidaklah mutlak, militer Jerman masih
utuh, akan tetapi dipaksa menerima kekalahan. Dan harus membayar "upeti"
terhadap Prancis dkk ditambah masa resesi dunia saat itu. Jerman benar2
bangkrut , dan seperti negara besar yang harus berlutut terhadap negeri2
Prancis dkk. Bagaimanakah perasaan anda sebagai warga jerman? Suka atau
tidak suka , Hitler mampu memberikan kontribusi bagi kejayaan Jerman "dengan
cara apapun".
ZFy
Ini justru kebesaran rakyat Jerman, mereka berani menanggung sakit untuk menebus dosa. kecuali kelompok ultra nasioanalis Neo Nazi, kebanyakan orang Jerman membenci Hitler. Jika saya orang Jerman, saya berharap saya bisa semulia mereka.
Dada:
Lalu anda akan beralih kepada dampak kekejamannya, iyah khan? Lalu apa
bedanya dengan dampak kekejaman masa Revolusi Kebudayaan di Tiongkok , atau
jauh ke belakangnya lagi , rejim Stalin jauh lebih kejam dari Lenin saat
membangun kepulauan "Gulag" , dengan kamp - kamp yang notabene adalah warga
mereka sendiri , kaum minoritas negara Kaukasus , Tartar , segelintir Mongol
, segelintir Korea ? Apa bedanya? Hanya karena Stalin pemenang perang?
ZFy
Setiap kekejaman harus ditolak, siapa yang bilang revolusi kebudayaan tak pantas dikritik? buktinya banyak korban yang sudah direhabilitasi namanya oleh pemerintah, ini menandakan partai komunis masih mau melakukan koreksi atas kesalahan masa lalu. Meski, koreksinya juga dinilai masih belum tuntas benar, maka pemerintah Tiongkok sekarangbelum sepenuhnya bebas dari beban kesalahan masa lampaunya, untuk itu, banyak kalangan mengusulkan untuk membangun Museum Revolusi Kebudayaan.
Dada
Lalu anda akan beralih pada pertanyaan balik , lalu bagaimana jika saya
menjadi orang yahudi ,slavia dan gypsi yang menjadi korban kamp2 Nazi?
Maka saya akan menjawab dua opsi. Yaitu disatu sisi Nazi membantai mereka
seperti nyamuk, akan tetapi di satu sisi membawa dan mendorong mereka , atau
mendesak mereka mendirikan Israel. Yang dari sudut pandang iman mereka ,
adalah sesuai janji Tuhan. Padahal Inggris hampir menempatkan "Israel" di
tanah Afrika.
Anda bilang API DENDAM bisa membuat anda giat , kenapa anda tidak berpikir ,
bahwa BENCANA mendatangkan berkah? Bahwa letusan gunung berapi menyuburkan
tanah sekitarnya, atau anda akan berkonfrontasi dengan sang gunung berapi ,
karena kematian kerabat anda , lantas mengembalikan debu2 vulkanik ke
tempatnya semula :-D
ZFy
Ini pandangan yang absurd, anda tak akan berkata demikian jika keluarga dekat anda atau anda sendiri yang menjadi korban langsung!
Dada
Anda kira cukup dengan menggantung mayat Clara Pettachi dan Mussolini ,
rakyat Italia dengan serta merta melangkah dengan wajah tegar. Atau dengan
"menyalibkan" Hitler ?
ZFy
hanya dengan mengantung mayat saja tentu tidak cukup, harus dilanjutkan dng langkah2 selanjutnya, Tapi, yang lebih parah adalah langkah pertama menggantung mayat saja tak berani memulai, bagaimana mau melangkah tegar?
Dada
Anda bilang tidak seperti Jepang. Maka terlihat sekali bahwa KEBETULAN
Jepang yang menyerbu Tiongkok , bukan Jerman dan Tiongkok KEBETULAN adalah
negri leluhur anda.
Secara sinis saya katakan, untung pemerintah Russia , dan pemerintah Baghdad
tidak menuntut pemerintah Mongol , akibat Moskow diduduki mereka hingga abad
16 , dan Baghdad di obrak-abrik satu abad setelah era Salahuddin.
ZFy
Jika Jerman seperti Jepang tak mau mengaku kesalahan2 masa lampau, tetap akan saya kritik! Seperti halnya, saya juga mengkritik invasi Amerika di Irak, meski ini tak ada hubungannya dng negara leluhur. sebaliknya, mengapa anda ngotot membela jepang? apa ada darah jepang?
Dada :
Tidak ada yang meragukan dedikasi anda di masa orde baru! Akan tetapi anda
salah menangkap apa yang saya maksud. Menurut saya , sudah terlalu banyak
usaha melirik ke belakang dan sangat membazir waktu. Seolah - olah menjadi
tempat propaganda politik anti orde baru , dan melenceng dari tujuan semula
milist ini. Dan saya lihat beberapa orang tertentu ,sepanjang musim hanya
melakukan perulangan , repetisi , itu2 saja. Bukankah lebih baik energy yg
terbuang di pakai untuk mencuci otak warga milist ini dengan pengetahuan
yang anda miliki dalam bidang bahasa misalkan.
ZFy:
Sebenarnya, jika semua pihak sudah menyepakati kesalahan masa lampau, seperti tindakan bangsa Jerman mendirikan monumen pembantaian, kita disini tentu tak perlu terus berkutat membicarakan masa lampau, masalahnya dianggap telah selesai. sedangkan disini, masih banyak pihak yang tak mau bersepakat, dan terus berkelit seperti Jepang, tak mau jelas mengatakan iya atau tidak, selalu dng pernyataan "untuk apa bicara masa lampau? "dsb dsb ....... saya pribadi tak pernah mau menjadi orang yang memulai membicarakan masa lampau, semua pernyataan saya merupakan reaksi thd pernyataan2 orang lain yang memungkiri masa lalu.
Dada :
Akan selalu terjadi pengkotak-kotakkan. Dan yang seolah2 berdiri di garis
depan adalah pahlawan , sementara yang anda anggap menghindar ke seksi dapur
, logistic , dll adalah bukan rakyat jelata. Bahwa yang menguasai high
culture adalah "kasta" tertinggi , dan yang menguasai pop culture adalah
rakyat jelata. Hindarilah pemikiran seperti itu, karena tanpa sadar seperti
membangun sebuah kelas , kasta , dan akhirnya kerajaan.
ZFy:
Tidak ada yang merasa menjadi pahlawan! Saya juga tak ada digaris depan untuk melawan Suharto kok, saya bisanya hanya menghimbau lewat millis, apa yan mau disombongkan?
Apakah anda tidak bisa melihat apa yang ada dibalik pernyataan ber-panjang2 sesepuh seperti Pak Chan dan Pak Liang U? mereka bukanlah menyombongkan diri akan pengetahuan mereka, mereka2 yang paham sejarah dan paham budaya Tionghoa ini hanyalah sedang menunjukkan kegelisahan mereka, bahwa dng tak mau peduli dng sejarah kaum muda banyaklah yang telah tercerabut dari akarnya! Jika kita merasa masih banyak yang kurang, kita seharusnya mau menyerap pengetahuan mereka, tentunya temasuk pengetahuan mereka terhadap sejarah..
ZFy
[Non-text portions of this message have been removed]
saya tidak akan memperpanjang debat penggunaan istilah "cina vs
tionghoa" di milis, karena diskusi/debat secara tertulis mengenai isu
ini di milis ini sudah terbukti tidak pernah memberi hasil yang
signifikan bagi perkembangan diskusi. dan juga moderator milis telah
menyediakan waktu untuk melakukan diskusi secara terbuka pada bulan
januari 2008. berikut ini saya sertakan pemikiran saya tentang isu ini
yang pernah saya posting beberapa waktu lalu di milis JTM, saya juga
menyertakan pemikiran rekan Rinto Jiang yang juga pernah merespon isu
yang sama (msg # 17400) di milis Budaya Tionghoa ini, yang mungkin bisa
rekan2 jadikan bahan pemikiran juga untuk diskusi bulan Januari nanti.
pemikiran saya sendiri pernah direspon oleh Pak ZFy di JTM yang walau
secara "halus" juga dianggap tidak sah oleh beliau.
hal yang lain yang ingin saya sampaikan adalah mengenai isu yang
dilemparkan oleh saya dan ulysee beberapa waktu lalu, sesungguhnya
melampaui dari sekedar perdebatan penggunaan istilah "Cina vs Tionghoa",
tapi lebih jauh kepada penjabaran siapakah yang kita maksud dengan
tionghoa (siapakah yang "berhak" menyandang label anggota komunitas
etnis tionghoa), apa yang kita maksud dengan budaya tionghoa. dan lebih
jauh lagi, jawaban yang ingin ulysee peroleh adalah dimanakah letak
perbedaan (dan persamaan) antara budaya tionghoa (indonesia) dengan
budaya cina/china (tiongkok). Peringatan rekan Benny Lin yang diposting
beberapa waktu lalu juga merespon hal yang sama, dan kupikir akan
terjawabkan disaat kita membahas pertanyaan2 kunci itu. karena itu,
moderator dapat menggarisbawahi isu-isu yang akan dibahas dalam diskusi
bulan januari nanti, bahwa bukan hanya sekedar perdebatan penggunaan
istilah "cina vs tionghoa".
dibawah ini saya sertakan tulisan yang saya sebutkan di atas:
1. Postingan rekan Rinto Jiang
Cina atau Tionghoa?
Sebenarnya, diskusi tentang istilah Cina atau Tionghoa ini sudah sering
didiskusikan, baik secara terbuka maupun tertutup. Saya jadikan posting
tersendiri karena ingin menanggapi sekaligus Bung Chan, Bung Min Hui dan KT.
Daripada membahas dan menekankan penggunaan kata "Tionghoa" yang
dianggap lebih "tinggi" derajatnya daripada kata "Cina", saya sendiri
lebih suka menggunakan sudut pandang bias untuk meneliti masalah ini.
Sosialisasi kata "Tionghoa" untuk menggantikan kata "Cina" yang memang
dipolitisir untuk maksud menghina di masa lalu nampaknya menjadi jalan
satu2nya untuk mengurangi dan mengimbangi kesalahan sejarah di masa
lalu. Namun saya rasa, sosialisasi kata "Tionghoa" ini hanyalah akan
menambah dalam politisasi kata "Cina" tadi. Menjadikan sesuatu menjadi
dipantangkan itu malah akan menjadikan objek menjadi tidak kebal akan
pantangan tadi.
Istilah Cina dan Tionghoa menjadi sensitif di Indonesia karena fenomena
khusus yang terjadi di Indonesia yang membedakan Tionghoa di Indonesia
lain dan lebih spesifik daripada Tionghoa di negara lainnya. Namun,
apakah kita akan terus memelihara dan meneruskan tradisi sensitivitas
ini? Perlukah kata "Cina" dihilangkan dari peredaran dan dimuseumkan
dalam kosa kata hubungan antar-etnis di Indonesia. Saya pribadi merasa
tidak perlu, sengaja menekankan penggunaan kata "Tionghoa" hanya akan
menambah polarisasi antara "Cina" dan "Tionghoa". Di masa depan, "Cina"
akan tetap menjadi sebuah kata yang dapat menyebabkan orang yang diejek
menjadi senewen dan bad-mood. Coba bandingkan saja dengan kondisi sosial
masyarakat di Singapura, Malaysia yang sama2 menggunakan bahasa Melayu.
Di sana, tidak ada masalah Tionghoa vs Cina.
Jadi, melihat beberapa point penting ini, saya sendiri menyarankan untuk:
1. Tidak usah terus memelihara kontroversi dan polarisasi Tionghoa vs
Cina. Artinya, tidak usah menekankan bahwa Tionghoa adalah lebih baik
daripada Cina atau Cina lebih buruk daripada Tionghoa. Bila tak dapat
dilakukan pada generasi kita, lakukan pada generasi mendatang. Tanamkan
bahwa Tionghoa dan Cina tak ada bedanya. Bila seseorang mau mengejek,
mengucapkan "Tionghoa" juga bisa bernada mengejek. Bandingkan saja dua
kalimat ini, "Aduh, Rinto itu memang Tionghoa jahanam" dan "Mas Lim itu
Cina dermawan koq".
Nah, ada yang tanya mengapa nama milis tidak menggunakan budaya_cina,
yah mudah saja jawabannya, karena Tionghoa dan Cina itu sama saja,
mengapa harus menggunakan Cina? Demikian pula vice versa (sebaliknya).
2. Mulai dari kita sendiri, yang merasa diejek akan terus merasa diejek
dan yang tidak merasa akan tidak merasa. Sebagai analogi, anggap saja
Cina sebagai ejekan adalah sebuah penyakit influenza. Flu yang dianggap
penyakit kecil di zaman sekarang sulit dibayangkan pernah jadi epidemi
di tahun 1918. Sekarang ini, jarang ada orang yang meninggal karena flu
(kecuali flu burung). Mengapa? Karena kita sudah punya imun. Melenyapkan
virus flu dari bumi ini adalah tidak mungkin, mengapa kita tidak
berusaha untuk hidup damai dengan sang virus dengan punya perisai imun?
Demikian pula kata Cina, tidak akan mungkin dilenyapkan dari bumi ini,
dari kosa kata dalam kamus bahasa Indonesia, jadikanlah sendiri
ber-imun, bertelinga tebal untuk tidak merasa Cina adalah ejekan walau
digunakan lawan bicara untuk mengejek.
Saya kira, politisasi Tionghoa itu juga sama saja dengan politisasi
Cina. Cina tidak bermasalah sampai dipolitisir, nah, mengapa kita harus
memelihara masalah tersebut dengan berusaha menggantikan Tionghoa untuk
Cina? Sejarah boleh mencatat Cina pernah dikonotasikan merendahkan,
namun jangan teruskan konotasi rendah tersebut dengan mengangkat sebuah
konotasi tinggi Tionghoa. Biarkan keduanya bersanding bersama. Saya
yakin, ini adalah sebuah jalan terbaik untuk pemecahan jangka panjang
masalah Cina vs Tionghoa di Indonesia.
Rinto Jiang
2. Postingan saya
Fenomena CINA, CHINA dan TIONGHOA
Aku sendiri terganggu dengan pemakaian kata CHINA ini, aku membacanya kalau
masyarakat, terutama non-tionghoa, sedang 'kebingungan' utk menyebut
masyarakat Tionghoa. China itu ibarat masa transisi dari Cina ke Tionghoa,
menyebut Cina merasa ga enak lagi, tapi lidah juga belum sampe ke
Tionghoa/Tiongkok.
Muncullah istilah 'aneh' China ini (dengan lafal bahasa Inggris terselip
diantara belantara kata bahasa Indonesia). 'fenomena' ini kutangkap sejak
penggunaan Tionghoa mulai dipopulerkan. Aku mendapatkannya bukan hanya di
metroTV, tapi juga di koran lokal Kal-Bar. Kata 'China' terutama digunakan
utk merujuk ke RRT, karena sampai saat ini, istilah Tiongkok hanya 'populer'
diinteren masyarakat Tionghoa saja.
Sehingga apakah fenomena 'China' ini muncul karena belum populernya istilah
Republik Rakyat Tiongkok ato Tiongkok?
Sampai kapan istilah 'China' ini akan terus muncul ditengah perdebatan
'Cina' dan 'Tionghoa'.
Setelah melihat program Padamu Negeri, tampak perdebatan ttg penggunaan
istilah Cina atau Tionghoa yang belum selesai.
Yang keberatan dengan penggunaan Cina adalah para senior Tionghoa yang
direpresentasikan oleh INTI, dan juga sekelompok anak muda Tionghoa yang
aktif dalam isu ke-Tionghoa-an yang direpresentasikan oleh JTM. Sedangkan
utk kaum muda Tionghoa 'kebanyakan' yang direpresentasikan oleh mahasiswa
Binus dan Untar, terlihat 'netral'.
Memang betul, istilah 'Cina' di Indonesia mengambil start yang kelam, dan
meninggalkan trauma sangat tidak menyenangkan bagi sekalangan masyarakat
Tionghoa yang sempat merasakan proses transisi penggunaan 'Tionghoa' ke
'Cina', namun proses perjalanan waktu (dan perubahan generasi) telah membuat
istilah 'cina' juga mengambil nuansa yang berbeda dibanding saat pertama
istilah itu wajib digunakan, nuansa itu muncul dalam generasi tionghoa saat
ini yang secara kasar dicerminkan dari pendapat yang muncul di sekelompok
mahasiswa Untar dan Binus yang mewakili kalangan Tionghoa muda pada umumnya
(maksudnya yang tidak terlibat aktif dalam isu advokasi ke-Tionghoa-an).
Nuansa itu juga muncul di masyarakat non-tionghoa.
Istilah 'Cina' tidak lagi hanya semata-mata menjadi alat yang digunakan utk
merendahkan/menghancurkan secara mental sekelompok masyarakat yang
leluhurnya berasal dari Tiongkok, namun sudah menjadi suatu istilah 'umum'
utk merujuk ke masyarakat tersebut. Masyarakat non-tionghoa sudah terbiasa
dengan kata 'Cina'.
Menurutku saat in, kata 'Cina' tidak lagi hanya menggambarkan
umpatan/hinaan/pelecehan, namun juga menjadi kata yang terlekat makna
positif (selain utk merujuk identitas etnis). Aku mengambil contoh di
kal-bar, dimana jika seorang anak dikatakan seperti anak cina, maka itu
berarti anak yang cantik/manis . Dalam konsep pemikiran masyarakat
non-tionghoa di kalbar, orang cina itu cantik dan tampan (mungkin itu yang
menyebabkan kosmetika berpemutih laku keras di indonesia ;P). Juga orang
cina itu dikenal dengan keuletan dalam bekerja, dan menabung. cuman ya
stereotype orang cina itu kaya juga ada, namun dalam keseharian, masyarakat
non-tionghoa kalbar juga bisa melihat orang cina yang ekonominya menengah ke
bawah, dan jumlah itu juga tidaklah sedikit. Ada pengalaman waktu aku masih
kuliah (di universitas negeri), saat mengumpulkan lembar hasil studi (LHS)
ke tata usaha, waktu itu jamannya mahasiswa masih mengetik sendiri hasil
ujian ke dalam lembaran itu, sehingga penghitungan rata-rata IPK juga
dilakukan secara manual oleh mahasiswa bersangkutan, saat aku mengumpulkan,
staff tata usaha-nya menyelutuk, "kalo orang cina, aku percaya dengan
penghitungannya, pasti sesuai" (maksudnya ga akan berbuat curang dengan
menambah rata2 IPK yang menggunakan pembulatan), sehingga pencocokan nilai
hasil ujian yang tercantum di kartu kehadiran dengan yang diketikkan ke
dalam LHS dilakukan dengan cepat oleh staff TU itu.
Karena penggunaan kata 'cina' yang telah terbiasa selama beberapa puluh
tahun, penggunaannya dalam percakapan sehari2 juga menjadi lumrah sebagai
identitas etnis. Kita punya sense yang bisa merasakan kapan saat kita
diumpat, ato disindir, ato disapa biasa. Sehingga kita juga tau kapan kita
merasa biasa saja atau marah saat disebut sebagai orang cina. Dalam contoh
situasi yang kusebut tadi, tidaklah mungkin kita merasa tersinggung saat
disebut sebagai orang cina. Situasi seperti itu pulalah yang dijelaskan oleh
mahasiswa Binus dan Untar.
Memang sebagian besar anak muda tionghoa sekarang 'buta sejarah' ttg diri
mereka (termasuk aku dulunya :P), namun kupikir kita juga jangan
mengesampingkan perkembangan kondisi yang ada sekarang yang menyangkut
penggunaan kata 'cina'.
Pengalaman masyarakat Dayak di Kalimantan
Mungkin kita bisa mengambil pengalaman masyarakat Dayak di Kalimantan
sebagai pembelajaran. Menurutku, kehidupan sosial budaya masyarakat Dayak di
Kalimantan mengalami tekanan yang hampir sama besarnya dengan masyarakat
Tionghoa. Tekanan terhadap identitas Dayak begitu besarnya sampai pada suatu
waktu, orang Dayak menjadi malu menyebut dirinya Dayak dan untuk menjadi
Dayak. Orang Dayak yang menjadi muslim akan mengidentifikasikan dirinya
sebagai Melayu ('kasta' etnis yang lebih bergengsi saat itu, terutama masa
kesultanan Melayu di kal-bar) dan memalingkan muka terhadap komunitas
asalnya. Pada thn 60an, pemerintah melakukan penghancuran besar2an terhadap
rumah-rumah panjang orang Dayak, secara terstruktur, aspek2 budaya Dayak
perlahan2 dihabisi. 'Pembenaran' yang digunakan saat itu adalah dengan
memandang masyarakat Dayak dan budayanya sebagai masyarakat terbelakang,
pemuja berhala, pemakan orang, pemenggal kepala, yang harus diperadabkan.
Pencitraan dan sterotyping yang negatif menempatkan masyarakat Dayak sebagai
warga negara kelas 2. bahkan di jawa, istilah Dayak digunakan utk merujuk ke
hal yang kotor, jorok dan bodoh.
Penghinaan yang besar terhadap nama Dayak membuat masyarakat ini mengalami
krisis identitas yang parah, melahirkan generasi yang tidak lagi mengenal
adat budaya warisan nenek moyangnya. Doraemon menjadi tokoh yang lebih
dikenal dibanding Bidik Menggaling (Tokoh legendaris kepahlawanan dalam
cerita tradisi lisan salah satu sub-suku masyarakat Dayak di Kal-Bar), Disco
lebih populer dibanding tarian komunal bejonggan. Bidik Menggaling dan
Bejonggan adalah kampungan, dan anak muda Dayak merasa malu utk mengenal
atau menarikan tarian tradisi mereka. Krisis identitas Dayak berimplikasi
sangat besar terhadap lingkungan alam mereka. Generasi yang tidak lagi
mengenal adat budaya Dayak menjadi generasi yang tidak lagi menghargai
lingkungan alam sekitar, itu salah satu hal yang memberikan sumbangan
terhadap kerusakan hutan kalimantan (maraknya illegal logging, perkebunan
skala besar, dll).
Krisis identitas itu kemudian berlanjut dengan munculnya beberapa istilah
yang menjadi polemik internal masyarakat itu, karena harus memilih nama yang
pantas utk mereka gunakan sebagai identitas suku mereka, mulai dari kata
"Dayak", "Daya", "Daya'", dan "Dajak". Pertentangan yang sengit mewarnai
penggunaan istilah2 itu. Kelompok yang memilih 'Dayak' berargumen bahwa
itulah nama yang sesungguhnya yang telah ada sejak masyarakat itu dikenal,
sedangkan kelompok yang memilih "Daya" berargumen bahwa istilah itu akan
menghilangkan label-label negatif terhadap mereka, terutama dalam bahasa
Indonesia, Daya itu bisa berarti kekuatan, mirip dengan istilah "Daya'" dan
"Dajak" (ejaan lama Belanda). Hanya kemudian pada tahun 1992, saat
diselenggarakannya Expo Kebudayaan Dayak di Kal-Bar, dimana perwakilan2 dari
seluruh sub-suku masyarakat Dayak pulau Kalimantan (termasuk Sabah dan
Sarawak, Malaysia) hadir, dan disaat itulah disepakati untuk menggunakan
(kembali) satu istilah 'Dayak' untuk merujuk ke masyarakat adat (asli)
Kalimantan itu, yang walau saat itu masih melekat kuat stereotyping negatif
Dayak. Seiring dengan lahirnya NGO2 yang dibentuk oleh masyarakat Dayak
sendiri untuk memperjuangkan hak-hak hidup mereka. Stereotyping Dayak yang
terbelakang, jorok, pemakan orang, pemuja berhala, perlahan2 luntur.
Sekarang 'Dayak' menjadi nama identitas yang dibanggakan oleh masyarakatnya,
dan juga tidak lagi hanya dipandang sebelah mata oleh masyarakat non-Dayak.
Hal yang aku pelajari dari masyarakat Dayak adalah label-label negatif dari
sebuah istilah utk identitas etnis bisa dilunturkan dengan 'menunjukkan
diri' siapa kita. Dalam kasus masyarakat Dayak, mereka bisa menunjukkan
bahwa mereka tidaklah seperti yang distereotypekan selama ini.
Bedanya, istilah 'Dayak' tidaklah diwajibkan/dilegalkan oleh sistim hukum
positif di Indonesia.
Selanjutnya
Aku pernah sepesawat dengan sepasang suami istri yang (sepertinya) suaminya
itu adalah mantan tentara (yang pasti adalah pegawai negeri) yang memiliki
jabatan yang cukup tinggi. Mereka duduk disebelahku. Ngobrol ngalor ngidul,
kemudian si Bapak menanyai identitas etnis ku. Walau masih ada rasa 'deg',
aku mencoba menjawab dengan tegas "aku orang cina". Bapak itu kemudian
tersenyum "bagus, kamu harus menjawab dengan tanpa ragu" (Kata 'Tionghoa'
masih (kembali) baru saat itu, sehingga masih terasa agak tersendat di lidah
:P).
Akhir kata, makna negatif/derogatif sebuah kata yang merujuk ke identitas
etnis ternyata dapat dikikis dengan kepercayaan diri masyarakat yang
bersangkutan terhadap identitas etnisnya, yang juga dicerminkan dari sikap
perbuatan masyarakat tersebut (melalui kegiatan2 advokatif seperti yang
dilakukan oleh masyarakat Dayak).
Aku pribadi ingin makna derogatif yang melekat pada kata 'cina' dapat
dihilangkan, karena katakanlah Tionghoa menjadi istilah yang harus dipakai
utk merujuk ke masyarakat kita (sudah ada peraturannya kan?), namun siapa
yang bisa menjamin bahwa saat seorang non-tionghoa marah, maka dia tidak
akan kembali menggunakan istilah "Cina Loe!".
Sehingga saat ini, aku lebih seperti seekor bunglon, Tionghoa kugunakan saat
berbicara dengan saudara-saudaraku yang lebih memilih istilah Tionghoa. Dan
menggunakan kata Cina, saat berbicara dengan sahabat2ku yang lidahnya telah
terbiasa menggunakan kata 'Cina'. Dengan menggunakan kata 'Cina' dengan
netral, aku mengharapkan dapat mengikis kenegatifan yang tergantung dalam
kata itu, membuatnya sama dengan nama utk etnis lainnya, seperti Dayak,
Batak, dll.
Lagipula, kalau melongok ke negara tetangga, Malaysia, kata 'Cina' disana
digunakan secara netral (aku tidak tahu sejarah penggunaan istilah 'Cina' di
Malaysia). Sejak kecil saat nonton TV malaysia, terutama saat imlek, maka
ucapan yang muncul di televisi adalah "Selamat Tahun Baru Cina", sampai
sekarang.
Tabik,
julia
Pemerintah Jepang dianggap tidak secara tulus mengakui kesalahan dan meminta
maaf terhadap korban perang, walaupun pemimpin Jepang (PM dan/atau Kaisar
Jepang) berulangkali mengeluarkan pernyataan-pernyataan penyesalan dan
permintaan maaf.
Anggapan ini muncul karena beberapa hal:
Pertama, pemimpin Jepang masih berulang kali mengunjungi Kuil Yasukuni, yang
dianggap sebagai penghormatan terhadap penjahat perang.
Kedua, pernyataan permintaan maaf oleh pemimpin pemerintahan Jepang dianggap
hanya mewakili pribadi (Padahal kalau saya baca sebenarnya dalam beberapa
pernyataan tsb, digunakan kata "kami" atau dengan menyebut Jepang.)
Ketiga, tidak pernah ada pernyataan dari legislative jepang sehingga
pernyataan pemimpin pemerintah dianggap tidak resmi/tidak mewakili.
Oleh karena itulah, saya cukup penasaran sebenarnya apa sikap resmi
pemerintah Jepang (atau apa yang seharusnya disebut resmi), sehingga hal ini
kok terus menerus disinggung/diminta.
Sikap kelompok kanan/ultra nasionalist baik di Jepang atau di RRC memang
harus diwaspadai oleh pemerintahannya masing-masing. Apalagi kedua
pemerintahan sudah sepakat untuk saling melakukan kunjungan awal tahun
depan. Bahkan dalam peringatan Nanjing tahun ini, pemberitaan di RRC juga
diawasi dengan ketat, agar tidak meningkatkan ketegangan antar kedua negara.
Prometheus
-----Original Message-----
From: budaya_...@yahoogroups.com
[mailto:budaya_...@yahoogroups.com] On Behalf Of Skalaras
Sent: Friday, 14 December, 2007 7:03 PM
To: budaya_...@yahoogroups.com
Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Koh Fuyen mesti belajar dari Jepang
"apa sikap pemerintah Jepang saat ini terhadap issue Nanking ?"
Karena memang segan untuk mengakui kesalahan masa lampau, pemerintah Jepang
tidak pernah mau secara resmi menangapi issue Nanjing, mereka lebih memilih
diam menghindar. Tapi dalam berbagai kesempatan, pemimpin2 pemerintahan
"secara pribadi" mengeluarkan pernyataan2 yang memungkiri fakta tsb atau
mengecilkannya,
Memang tidak semua rakyat Jepang setuju dng sikap Kelompok kanan ini, tapi
kita harus waspada melihat gejala makin menguatnya kelompok kanan dalam
pemerintahan Jepang ini. Ini pasti akan berdampak ke sikap masyarakatnya.
ZFy
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.17.1/1183 - Release Date: 13/12/2007
9:15 AM
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
.: Website global http://www.budaya-tionghoa.org :.
.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.
.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.
----- Original Message -----
From: extrim_bluesky
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Sent: Friday, December 14, 2007 1:56 PM
Subject: [budaya_tionghua] Re: "Brain-washing" terhadap generasi muda
tionghoa...
> Situasi semakin gawat, tentara republic semakin liar tak terkendali.
> Menjarah, memperkosa dan membunuh orang-orang Tionghoa.
"Tentara republic" itu maksudnya apa? TNI? TRI? TKR? BKR?
Tolong disebut batalyon apa, divisi apa?
Kayaknya ini sih "brain-washing" fitnah terhadap generasi muda nih...
- - - - - - - -
> Bagaimana mungkin sebuah organisasi keamanan yang disetujui
> oleh Perdana Menteri Republik Indonesia bisa dinyatakan
> sebagai elemen anti-Indonesia???
Dinyatakan oleh siapa?
"Brain-washing" fitnah terhadap generasi muda lagi nih...
Bagaimana pun, namanya perjalanan sejarah suatu organisasi, siapa tahu!
Lihat saja Hizbullah, yang awalnya pasukan perjuangan kemerdekaan RI,
berakhir sebagai pasukan pemberontak yang ditumpas TNI.
- - - - - - -
Tetapi tetap saja di berbagai posting sang pianhoa ponsoe ini nggak nyambung
cerita contoh-contohnya yang panjang melebar kemana-mana dengan judul
posting-nya.
Wasalam.
discuss everything
The Rape of Nanking - buku yg ditulis oleh Iris Chang adalah suatu keharusan sebelum berdiskusi secara mendalam. Iris Chang adalah journalis-historian yg kelahiran US. OT-nya adalah asal Taiwan[Mainland] Iris sebelum membunuh diri tinggal diSan Jose -California. Menurut buku ini yg dibunuh adalah antara 300-5000 000 dan ini dibuktikan diInternational Military Tribunal. {semacem Nuerenberg utk Japan]
Setelah membaca buku ini silahkan kalian membandingkannya dgn pernayataan pemerintah Jepang mengenai persoalan ini dan jikalau mungkin silahkan membaca buku
Nanjing Incident oleh Hata Ikuhiko - dimana dia menulis bahwa berita2 mengenai massacre adalah propaganda China dan yg terbunuh hanya 30 -42000. Sejak 1970 ini adalah versi resmi dari Japan. Ini dibantu melalui article2 yg ditulis oleh Katsuichi Honda didalam aticlenya A journey to China. Shintaro Ishihara seorang anggota terkenal dari Diet Japan malah mengatakan dlm thn 1990 - ini semua adalah bohong dan hanya ciptaan China.
Utk yg ingin tahu siapa yg benar dan siapa yg mendusta silahkan membaca report dlm bah. Ingeris
Andreas
http://www.centurychina.com/wiihist/njmassac/japaccou.htm
[Non-text portions of this message have been removed]
Wow luar biasa argument anda tersebut.
To quote :
ZFy
Ini justru kebesaran rakyat Jerman, mereka berani menanggung sakit untuk
menebus dosa. kecuali kelompok ultra nasioanalis Neo Nazi, kebanyakan orang
Jerman membenci Hitler. Jika saya orang Jerman, saya berharap saya bisa
semulia mereka.
Dada :
Jadi menurut anda , seketika setelah Stalin mengejar dateline hari buruh
sedunia dan memerintahkan Zhukov dkk untuk menduduki Berlin tanggal 1 Mei ,
agar para buruh sedunia dapat berpesta kemenangan. Dan seketika itu juga
rakyat Jerman membenci Hitler , saat itu juga !!! hehehe , artinya
sepertinya anda "memuji" patriotism bangsa Jerman , misalkan kebanyakan
orang Jerman membenci Hitler ....itu setelah kapan? Setelah USA mencuci otak
warga jerman barat , dan Sovyet mencuci otak warga jerman timur...?
ZFy
Setiap kekejaman harus ditolak, siapa yang bilang revolusi kebudayaan tak
pantas dikritik? buktinya banyak korban yang sudah direhabilitasi namanya
oleh pemerintah, ini menandakan partai komunis masih mau melakukan koreksi
atas kesalahan masa lalu. Meski, koreksinya juga dinilai masih belum tuntas
benar, maka pemerintah Tiongkok sekarangbelum sepenuhnya bebas dari beban
kesalahan masa lampaunya, untuk itu, banyak kalangan mengusulkan untuk
membangun Museum Revolusi Kebudayaan.
........ Sebenarnya, jika semua pihak sudah menyepakati kesalahan masa
lampau, seperti tindakan bangsa Jerman mendirikan monumen pembantaian, kita
disini tentu tak perlu terus berkutat membicarakan masa lampau, masalahnya
dianggap telah selesai. sedangkan disini, masih banyak pihak yang tak mau
bersepakat, dan terus berkelit seperti Jepang, tak mau jelas mengatakan iya
atau tidak, selalu dng pernyataan "untuk apa bicara masa lampau? "dsb dsb
....... saya pribadi tak pernah mau menjadi orang yang memulai membicarakan
masa lampau, semua pernyataan saya merupakan reaksi thd pernyataan2 orang
lain yang memungkiri masa lalu.
Dada :
Hehehe anda kira saya tidak tahu detail kekejaman Jerman Under Nazi , Sovyet
Under Stalin lengkap dengan detail metode penyiksaannya, atau Revolusi
Kebudayaan , atau Civil War ?
Khusus di Sovyet jelas berkaitan dengan agregasi saya selain tionghoa ,
yaitu agama , bagaimana perlakuan Stalin terhadap biarawati/wan disana. Akan
tetapi buat apa menyajikan , membaktikan waktu mencari-cari kesalahan dari
sejarah suatu negara?
Saya juga tahu apa yang terjadi di era revolusi kebudayaan. Bergidik melihat
dampak kekejamannya. Akan tetapi di sudut pandang lain, Revolusi Kebudayaan
memiliki peran penting bagi kemajuan Tiongkok ke depannya. Ibaratnya
revolusi betapapun kejamnya , seperti membakar ladang hingga tuntas, dan
Deng membangun dari suatu "ladang kosong" dengan mudah , ibarat membangun
satu kota dari tanah kosong , segalanya lebih terstruktur.
Saya mengajak anda untuk belajar sejarah yah sebagai tujuannya semula ,
mengambil hikmah di masa lampau melihat secara keseluruhan bagi perjalanan
suatu bangsa. Kalau anda tertarik sejarah Jepang , yah anda pelajari saja
apa yang membuat Jepang bisa semaju sekarang, bukan melulu pada sejarah
kekejaman mereka semata. Sekali lagi saya ingatkan anda , kalau soal
mencari2 kesalahan sejarah negara lain , sayapun sanggup, Bukannya saya
ingin menyombongkan diri lebih banyak tahu dari anda tentang sejarah dunia.
Camkan hal ini. Bahkan Revolusi Prancis yang terhormat itu juga tidak
terlepas dari dampak kekejaman dan kekacauan kelas, jadi anda ingin
mempelajari dampak kekejamannya atau produk positif dari Revolusi Prancis
itu.
Atau anda ingin mengikuti jejak orang2 picik dari bangsa lain , yang
kerjanya mencari atau menciptakan sebuah topic dibalik langkah raksasa
Tiongkok , mengutak-ngatik issue Ham Tiongkok, atau issue2 lain dibalik
efisiensi bangsa tiongkok dalam bidang produksi.
Silahkan anda pilih?
Anda bilang API DENDAM bisa membuat anda giat , kenapa anda tidak berpikir ,
bahwa BENCANA mendatangkan berkah? Bahwa letusan gunung berapi menyuburkan
tanah sekitarnya, atau anda akan berkonfrontasi dengan sang gunung berapi ,
karena kematian kerabat anda , lantas mengembalikan debu2 vulkanik ke
tempatnya semula :-D
ZFy
Ini pandangan yang absurd, anda tak akan berkata demikian jika keluarga
dekat anda atau anda sendiri yang menjadi korban langsung!
Dada :
Absurd ??? hehehe
Coba saya ajukan suatu pertanyaan. Jika anda warga tiongkok , dan untuk
suatu alasan , pemerintah tiongkok harus membungkam mulut anda , dan
mengirim2 agennya untuk mengeksekusi anda. Anda akan membenci tiongkok? Atau
anda sebagai tionghoa Indonesia yang penuh suka cita kembali ke Tiongkok di
era Revolusi Kebudayaan , dan nasib menentukan anda menjadi korban
penyiksaan disana. Anda akan membenci Tiongkok?
Kerahkan kembali seluruh daya tangkap anda . Saya ulang .
Jika keluarga anda menjadi korban letusan gunung berapi , anda marah
terhadap gunung berapi? Atau dengan kedua tangan anda yang kecil , ingin
mengembalikan seluruh debu vulkanik ke tempat semula , kawah gunung berapi .
anda ingin menantang alam?.menghajar gunung?
Pergolakan besar seperti perang dunia , revolusi besar , perang besar itu
ibarat letusan gunung berapi, sebuah bencana dashyat , yang disatu sisi
kejam , disatu sisi adalah katalis, yang memang sudah seharusnya terjadi.
ZFy
Jika Jerman seperti Jepang tak mau mengaku kesalahan2 masa lampau, tetap
akan saya kritik! Seperti halnya, saya juga mengkritik invasi Amerika di
Irak, meski ini tak ada hubungannya dng negara leluhur. sebaliknya, mengapa
anda ngotot membela jepang? apa ada darah jepang?
[Dada]
Saya ada darah Jepang? Jika iya kenapa , jika tidak kenapa?
Saya tanya balik
Anda ada darah Korea? Kenapa begitu ngotot membangkitkan kemarahan orang2
tionghoa di milist ini , dengan menyajikan berulang-ulang sejarah kelam
Jepang ?
Anda ada darah Tiongkok? Kenapa pakai produk2 Jepang? Melecehkan kemampuan
dan produk Tiongkok?
Hehehe itu diatas hanya permainan pingpong , kembali ketopik semula.
Kalau begitu saya jejalkan kembali ke benak anda. Perang skala besar itu
adalah ibarat gunung berapi , tidak terhindarkan , benturan peradaban ,
benturan kekuatan , sama seperti lempengan benua yang selalu bergerak
menghasilkan bencana , disatu sisi menghasilkan keseimbangan.
Berusaha mengkritik sebuah perang skala besar adalah usaha menjaring angin.
Dan kenapa tidak di lakukan Tiongkok saat Jepang menyerah , atau Deng dan
Chiang lagi sibuk bermesraan , sesuai hobby bangsa tiongkok yang gemar
perang saudara?
Robby Wirdja
From: budaya_tionghua@yahoogroups.com
[mailto:budaya_tionghua@yahoogroups.com] On Behalf Of Skalaras
Sent: Friday, December 14, 2007 8:14 PM
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Subject: Re: [budaya_tionghua] kembali ke budaya, bosen debat kusir
Dada :
Akan selalu terjadi pengkotak-kotakkan. Dan yang seolah2 berdiri di garis
depan adalah pahlawan , sementara yang anda anggap menghindar ke seksi dapur
, logistic , dll adalah bukan rakyat jelata. Bahwa yang menguasai high
culture adalah "kasta" tertinggi , dan yang menguasai pop culture adalah
rakyat jelata. Hindarilah pemikiran seperti itu, karena tanpa sadar seperti
membangun sebuah kelas , kasta , dan akhirnya kerajaan.
ZFy:
Tidak ada yang merasa menjadi pahlawan! Saya juga tak ada digaris depan
untuk melawan Suharto kok, saya bisanya hanya menghimbau lewat millis, apa
yan mau disombongkan?
Apakah anda tidak bisa melihat apa yang ada dibalik pernyataan ber-panjang2
sesepuh seperti Pak Chan dan Pak Liang U? mereka bukanlah menyombongkan diri
akan pengetahuan mereka, mereka2 yang paham sejarah dan paham budaya
Tionghoa ini hanyalah sedang menunjukkan kegelisahan mereka, bahwa dng tak
mau peduli dng sejarah kaum muda banyaklah yang telah tercerabut dari
akarnya! Jika kita merasa masih banyak yang kurang, kita seharusnya mau
menyerap pengetahuan mereka, tentunya temasuk pengetahuan mereka terhadap
sejarah..
ZFy
[Non-text portions of this message have been removed]
[Non-text portions of this message have been removed]
ZFy
Ini pandangan yang absurd, anda tak akan berkata demikian jika keluarga
dekat anda atau anda sendiri yang menjadi korban langsung!
***
Memangnya keluarga dekat anda atau anda sendiri yang menjadi korban
langsung, sehingga anda bisa menulis demikian, absurd ya, cerita dong biar
kita ga absurd lagi....
----- Original Message -----
From: "Skalaras" <skalaras@cbn.net.id>
To: <budaya_tionghua@yahoogroups.com>
Sent: Friday, 14 December, 2007 20:14
Subject: Re: [budaya_tionghua] kembali ke budaya, bosen debat kusir
> .: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
>
> .: Website global http://www.budaya-tionghoa.org :.
>
> .: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.
>
> .: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.
>
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
Dari tema sentral brainwash orde baru lama kelamaan menjadi etalase
weirdopedia , alih alih bertujuan holistic , integral , dan akhirnya
menjelma menjadi kolom Stephen King dalam tabloid misteri.
Dan setelah penerbangan yang melelahkan dari Tokyo - Nanking - akhirnya
menempatkan kembali tionghoa antara tionghoa afkir dan tidak , antara
tionghoa berkasta tinggi , dan berkasta rendah....
Robby Wirdja
From: budaya_tionghua@yahoogroups.com
[mailto:budaya_tionghua@yahoogroups.com] On Behalf Of extrim_bluesky
Sent: Friday, December 14, 2007 1:56 PM
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Subject: [budaya_tionghua] Re: "Brain-washing" terhadap generasi muda
tionghoa...
cutt
Generasi muda saat ini jelas merupakan
produk BRAIN WASH pemerintah Orde Baru.
sehingga generasi muda saat ini tidak
mengerti lagi tentang posisi dirinya
dgn latar belakang sejarah etnisnya di
Indonesia. contoh, penggunaan istilah
"C!N@" oleh segelintir kecil pemuda/i di milis
ini adalah contoh produk afkir tersebut.
[Non-text portions of this message have been removed]
Share with others
Help the Planet.
Untuk mempelajari lebih dalam, sebaiknya tinggalkan buku Iris Chang, dan
melangkah lebih jauh dengan mempelajari dokumen-dokumen yang dijadikan
referensi oleh Iris Chang dalam penulisan bukunya, seperti Catatan Harian
John Rabe (yang juga dibuat buku "The Good Man of Nanking"), dokumen putusan
Tokyo Trial, dll. Disisi lain, pelajari juga tulisan-tulisan / research dari
pihak Jepang, seperti oleh Hata Ikuhiko, Prof Hora Tomio, sampai ke yang
sangat ekstrim seperti 'rebuttal' dari sayap-kanan Jepang, dan kemungkinan
propaganda nationalist RRC masa tsb.
Salah satu point yang sering disebut dalam perdebatan adalah jumlah korban
di Nanjing.
Selain Buku Rape of Nanking yang menyebutkan angka antar 260-350ribu,
terdapat buku-buku lain di Jepang yang memuat angka 200ribu lebih, seperti :
Buku textbook/pelajaran sekolah, di antaranya :
Shinpen--Atarashii shakai: Rekishi (New Social Studies: History, New
Edition) Tokyo, 1998.
Chšgaku shakai: Rekishiteki bun'ya (Middle School Social Studies: The Field
of History), Osaka, 1998.
Bisa dilihat di
http://www.wellesley.edu/Polisci/wj/China/Nanjing/nanjing3.html.
Buku Nankin daigyakusatsu, oleh Hora Tomio
Buku-buku tsb, jika ditelusuri lebih jauh, bersumber dari dokumen dan bukti
di Tokyo Trial (disebut juga International Military Tribunal for the Far
East, sebuah Internatioal trial untuk war criminal Jepang). Evidence yang
digunakan oleh Tokyo Trial, bersumber dari informasi jumlah penguburan yang
dilakukan oleh Red Swastika Society, dan Chung Shan Tang. Dokumen bisa
dilihat di http://www.ibiblio.org/hyperwar/PTO/IMTFE/IMTFE-8.html. Di dalam
putusan final Tokyo Trial, disebutkan angka 200ribu.
Buku "History of the Sino-Japanese War" yang dipublish di Taiwan menyebutkan
angka sekitar 100ribu.
Mana angka yang benar ?
Saya rasa masalah utamanya bukan itu. Pemerintah RRC dan Jepang pasti tahu.
Prometheus
-----Original Message-----
From: budaya_...@yahoogroups.com
[mailto:budaya_...@yahoogroups.com] On Behalf Of ANDREAS MIHARDJA
Sent: Saturday, 15 December, 2007 2:12 AM
To: budaya_...@yahoogroups.com
Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Koh Fuyen mesti belajar dari Jepang
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.17.2/1184 - Release Date: 14/12/2007
11:29 AM
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
.: Website global http://www.budaya-tionghoa.org :.
.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.
.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.
Setelah membaca tulisan anda, saya hanya bisa mengelus dada:
Anda benar2 berpegang pada prinsip : Yang Menag menjadi Raja, yang kalah menjadi gerombolan.
anda benar2 memuja hukum rimba. yang anda hormati adalah pihak yan kuat, yang anda lihat hanya menang kalah, anda sudah mengesampingkan masalah benar salah, baik buruk.
Saya tidak berharap, Indonesia maupun Tiongkok setelah menjadi kuat belajar dari sifat2 agresif negara2 kuat di masa lalu: yang kuat menindas yang lemah! di mana nilai2 kemanusiaan?
----- Original Message -----
From: Dada
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Memangnya untuk memahami penderitaan orang lain kita sendiri yang harus menjadi korban? ini pertanyaan yang semakin absurd!
ZFy
----- Original Message -----
From: Liquid Yahoo
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Sent: Saturday, December 15, 2007 6:44 PM
Subject: Re: [budaya_tionghua] kembali ke budaya, bosen debat kusir
ZFy
Ini pandangan yang absurd, anda tak akan berkata demikian jika keluarga
dekat anda atau anda sendiri yang menjadi korban langsung!
***
Memangnya keluarga dekat anda atau anda sendiri yang menjadi korban
langsung, sehingga anda bisa menulis demikian, absurd ya, cerita dong biar
kita ga absurd lagi....
----- Original Message -----
From: "Skalaras" <skalaras@cbn.net.id>
To: <budaya_tionghua@yahoogroups.com>
Sent: Friday, 14 December, 2007 20:14
Subject: Re: [budaya_tionghua] kembali ke budaya, bosen debat kusir
Recent Activity
a.. 15New Members
b.. 1New Links
Visit Your Group
Y! Messenger
All together now
Host a free online
conference on IM.
Need traffic?
Drive customers
With search ads
on Yahoo!
Moderator Central
Yahoo! Groups
Join and receive
produce updates.
.
[Non-text portions of this message have been removed]
Send up to 1GB of
files in an IM.
pertama ZFY bilang :
Ini pandangan yang absurd, anda tak akan berkata demikian jika keluarga
dekat anda atau anda sendiri yang menjadi korban langsung!
kedua, ZFY bilang :
Memangnya untuk memahami penderitaan orang lain kita sendiri yang harus
menjadi korban?
ini pertanyaan yang semakin absurd!
tanya:
Pernyataan kedua ini apa untuk menihilkan pernyataan yang pertama???
Maksudnya pernyataan pertama itu contoh absurd apa bagaimana????
Kok ZFY menkontradiktifkan pernyataan sendiri? atau apakah ada kesalahan
kutipan disitu,
apa dua duanya pernyataan ZFY atau ada yang salah kasih nama???
-----Original Message-----
From: budaya_...@yahoogroups.com
[mailto:budaya_...@yahoogroups.com] On Behalf Of Skalaras
Sent: Tuesday, December 18, 2007 8:11 PM
To: budaya_...@yahoogroups.com
Subject: Re: [budaya_tionghua] kembali ke budaya, bosen debat kusir
Memangnya untuk memahami penderitaan orang lain kita sendiri yang harus
menjadi korban? ini pertanyaan yang semakin absurd!
ZFy
----- Original Message -----
From: Liquid Yahoo
To: budaya_...@yahoogroups.com
Sent: Saturday, December 15, 2007 6:44 PM
Subject: Re: [budaya_tionghua] kembali ke budaya, bosen debat kusir
ZFy
Ini pandangan yang absurd, anda tak akan berkata demikian jika keluarga
dekat anda atau anda sendiri yang menjadi korban langsung!
***
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.17.4/1188 - Release Date:
12/17/2007 2:13 PM
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
.: Website global http://www.budaya-tionghoa.org :.
.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.
.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.
HIhihihihi, gak usah mengelus si dada, ntar si Dada ke ge-eran di elus
elus, hahahahahaha.
Gue membaca lagi sekali lagi hati hati dan pelan pelan, enggak tuh
enggak melihat si Dada pake hukum rimba.
tapi kok Anda bisa menilai kejauhan sampai menuduh mengesampingkan
masalah baik buruk apa segala?
ini rasanya sudah terlalu menyerang ke pribadi doank melenceng
jauuuuuhhhhhh sekali dari topiknya.
Dan kemanusiaan dibawa bawa... oalaaaaahhhh, sejak kapan kita diskusi
kemanusiaan?
kaga nyambung aaaaahhhhh.
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.17.4/1188 - Release Date:
12/17/2007 2:13 PM
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.17.4/1188 - Release Date:
12/17/2007 2:13 PM
[Non-text portions of this message have been removed]
Bung Skalaras sedang bermain catur seorang sendiri.... Entah siapa
pemenangnya ,
ZFy
Ini pandangan yang absurd, anda tak akan berkata demikian jika keluarga
dekat anda atau anda sendiri yang menjadi korban
langsung!.................................................( 1)
ZFy
Memangnya untuk memahami penderitaan orang lain kita sendiri yang harus
menjadi korban? ini pertanyaan yang semakin absurd!
......( 2)
Robby Wirdja
From: budaya_tionghua@yahoogroups.com
[mailto:budaya_tionghua@yahoogroups.com] On Behalf Of Skalaras
Pernyataan pertama ditujukan buat orang yang tidak mau memahami penderitaan
orang lain.
Pernyataan kedua ditujukan kesemua orang, yang masih memiliki hati nurani.
Salam
Mungkin harus dibuat ilustrasi nyata, mirip sebuah anekdot, untuk menjelaskan dua pernyataan dibawah:
Si A anaknya mati kecelakaan, dia mendapat ganti rugi material yang besar. tapi dia tetap sedih, tak bisa melupakan hal ini.
Si B berkomentar ringan: mengapa masih bersedih? toh udah dapat ganti rugi, yang gedenya bisa untuk membeli rumah.
Si C menyanggah : Anda tak akan berkata demikian jika anda sendiri yang kehilangan anak kesayangan.
Si B balik bertanya : apa anda sendiri pernah kehilangan anak? kok berani bilang begitu?
Si C berkata : Saya tak seperti anda, saya belajar menjadi orang yang peka, yang punya kepedulian sosial tinggi, meskipun saya tak mengalami sendiri, saya belajar memahami penderitaan orang lain. saya kira, semua orang yang memiliki nurani tak perlu menjadi korban untuk bisa merasakan penderitaan orang lain.
Cukup jelas bukan? dua pernyataan ini saling memperkuat, intinya menandaskan: Si B adalah orang yang tak punya nurani, yang baru bisa merasakan penderitaan orang lain jika dia sendiri juga mengalami hal serupa.
of what Yahoo!
Groups has to offer.
Quote
Anda tak akan berkata demikian jika keluarga dekat anda atau anda sendiri
yang menjadi korban
langsung!..............................................(1)
Memangnya untuk memahami penderitaan orang lain kita sendiri yang harus
menjadi korban? ini pertanyaan yang semakin absurd!.........(2)
Dialog :
Si A anaknya mati kecelakaan, dia mendapat ganti rugi material yang besar.
tapi dia tetap sedih, tak bisa melupakan hal ini.
Si B berkomentar ringan: mengapa masih bersedih? toh udah dapat ganti rugi,
yang gedenya bisa untuk membeli rumah.
Si C menyanggah : Anda tak akan berkata demikian jika anda sendiri yang
kehilangan anak kesayangan.
Si B balik bertanya : apa anda sendiri pernah kehilangan anak? kok berani
bilang begitu?
Si C berkata : Saya tak seperti anda, saya belajar menjadi orang yang peka,
yang punya kepedulian sosial tinggi, meskipun saya tak mengalami sendiri,
saya belajar memahami penderitaan orang lain. saya kira, semua orang yang
memiliki nurani tak perlu menjadi korban untuk bisa merasakan penderitaan
orang lain.
Si B menangkis : Orang yang menabrak anak itu mungkin tidak sengaja
melakukannya ,akan tetapi anda telah dengan sengaja menabrak harga diri saya
dengan menyebut diri saya tidak peka?
Si C mengernyit : Loh anda kok jadi balik menuduh saya?
Si B menegaskan: Dengan bermodalkan segelintir pertanyaan anda mengklaim
diri anda peka. Anda bilang anda belajar memahami penderitaan orang lain,
akan tetapi saat belajar anda telah berlagak menjadi guru? Ada spirit
kesombongan dalam diri anda.
Si C melompat : Saya tidak seperti anda !!!
Si B tersenyum : Anda tidak akan berkata demikian jika anda pelakunya yang
menabrak anak si A!
Si C mulai berkerut dahi: Loh Loh Memangnya kalau saya pelakunya saya tidak
bisa memahami penderitaan orang lain menjadi korban? Kenapa saya harus
merasa dihantui perasaanbersalah, Saya toh bisa saja memberi ganti rugi ,
yang gedenya bisa untuk membeli rumah
Si B tersenyum terkekeh2 :hihihihihi
Ini sih debat kusir!
Sayang, karena berprasangka buruk thd saya, anda terpaksa mengeluarkan serangkaian pernyataan2 yang melebar tak karuan, yang akhirnya tak bisa anda pertanggung jawabkan sendiri!!! karena saya mengkritik Jepang, anda terpaksa membela Jepang dng cara berbelit2, karena saya memuji rakyat Jerman, anda berusaha membantah dng menyatakan rakyat Jerman tdk rela dan diindoktriasi.
----- Fokus kita adalah empati terhadap korban! mengapa anda belokkan menjadi simpati thd sang penyebab derita?
----- di contoh kecelakaan, kita tidak bicara penyebab kecelakaan. karena fokusnya bukan kesitu
----- dalam kasus perang dunia ke 2, sudah jelas kejahatan Hitler dan militer jepang. apa alasan kita untuk bersimpati thd mereka?
Hihihihi, beginilah kalau orang dengan fokus berbeda berusaha berdiskusi
dengan mendefinisikan fokusnya masing-masing.
Seperti sekawanan orang buta yang mendefinisikan gajah dengan meraba
raba.
Lalu tiba tiba nuduh yang lain debat kusir, hihihihi.
Lihat judulnya, yang kasih judul pengen kembali ngomongin budaya,
tapi ada yang melenceng sampe ke HITLER dan JEPANG
terus tiba-tiba bilang fokusnya adalah EMPATI terhadap korban???
Lhoh lhoh lhoh jauh banget khan???
siapa duluan yang melebar coba, ha ha ha ha.
Prasangka buruk? Malah ada yang berprasangka lawan debatnya keturunan
Jepang!!
Hohohoho, gue nggak habis-habisnya ngakak.
Kasus perang dunia ke 2, kejahatan Hitler dan Jepang adalah karena
mereka KALAH.
Dan sejarah selalu bilang, bahwa PAHLAWAN adalah mereka YANG MENANG
perang.
Dalam perang mana ada baik jahat, cuman ada menang kalah. That is the
fact.
Mau merembet sampai ke 'Penyebab Perang'???
Monggo, hehehehehe.
-----Original Message-----
From: budaya_tionghua@yahoogroups.com
[mailto:budaya_tionghua@yahoogroups.com] On Behalf Of Skalaras
Sent: Thursday, December 20, 2007 1:24 PM
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Subject: Re: RE: [budaya_tionghua] kembali ke budaya, bosen debat kusir
Ini sih debat kusir!
Sayang, karena berprasangka buruk thd saya, anda terpaksa mengeluarkan
serangkaian pernyataan2 yang melebar tak karuan, yang akhirnya tak bisa
anda pertanggung jawabkan sendiri!!! karena saya mengkritik Jepang, anda
terpaksa membela Jepang dng cara berbelit2, karena saya memuji rakyat
Jerman, anda berusaha membantah dng menyatakan rakyat Jerman tdk rela
dan diindoktriasi.
----- Fokus kita adalah empati terhadap korban! mengapa anda belokkan
menjadi simpati thd sang penyebab derita?
----- di contoh kecelakaan, kita tidak bicara penyebab kecelakaan.
karena fokusnya bukan kesitu
----- dalam kasus perang dunia ke 2, sudah jelas kejahatan Hitler dan
militer jepang. apa alasan kita untuk bersimpati thd mereka?
----- Original Message -----
From: Dada
To: HYPERLINK
"mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"budaya_tionghua@-yahoogroups.-
com
Sent: Wednesday, December 19, 2007 10:02 PM
Subject: OOT: RE: [budaya_tionghua] kembali ke budaya, bosen debat kusir
Quote
Anda tak akan berkata demikian jika keluarga dekat anda atau anda
sendiri
yang menjadi korban
langsung!...-.........-.........-.........-.........-.......(1)
Memangnya untuk memahami penderitaan orang lain kita sendiri yang harus
menjadi korban? ini pertanyaan yang semakin absurd!.....-....(2)
com] On Behalf Of Skalaras
Sent: Wednesday, December 19, 2007 1:35 PM
To: HYPERLINK
"mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"budaya_tionghua@-yahoogroups.-
com
To: HYPERLINK
"mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"budaya_tionghua@-yahoogroups.-
com
<mailto:budaya_-tionghua%-40yahoogroups.-com>
Sent: Wednesday, December 19, 2007 5:12 AM
Subject: RE: [budaya_tionghua] kembali ke budaya, bosen debat kusir
Bung Skalaras sedang bermain catur seorang sendiri.... Entah siapa
pemenangnya ,
ZFy
anda tak akan berkata demikian jika keluarga
dekat anda atau anda sendiri yang menjadi korban
langsung!...-.........-.........-.........-.........-.........-.( 1)
ZFy
Memangnya untuk memahami penderitaan orang lain kita sendiri yang harus
menjadi korban? ini pertanyaan yang semakin absurd!
......( 2)
Robby Wirdja
<mailto:budaya_-tionghua%-40yahoogroups.-com> ] On Behalf Of Skalaras
Sent: Tuesday, December 18, 2007 8:11 PM
Subject: Re: [budaya_tionghua] kembali ke budaya, bosen debat kusir
Memangnya untuk memahami penderitaan orang lain kita sendiri yang harus
menjadi korban? ini pertanyaan yang semakin absurd!
ZFy
----- Original Message -----
From: Liquid Yahoo
To: HYPERLINK
"mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"budaya_tionghua@-yahoogroups.-
com
<mailto:budaya_-tionghua%-40yahoogroups.-com>
<mailto:budaya_-tionghua%-40yahoogroups.-com>
Sent: Saturday, December 15, 2007 6:44 PM
Subject: Re: [budaya_tionghua] kembali ke budaya, bosen debat kusir
ZFy
Ini pandangan yang absurd, anda tak akan berkata demikian jika keluarga
dekat anda atau anda sendiri yang menjadi korban langsung!
***
Memangnya keluarga dekat anda atau anda sendiri yang menjadi korban
langsung, sehingga anda bisa menulis demikian, absurd ya, cerita dong
biar
kita ga absurd lagi....
----- Original Message -----
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.17.5/1190 - Release Date:
12/19/2007 7:37 PM
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.17.5/1190 - Release Date:
12/19/2007 7:37 PM
[Non-text portions of this message have been removed]
Coba anda periksa urut2an perkara:
masalah beban sejarah ---- contoh sikap Jepang dan Jerman dalam menghadapi dosa masa lalunya ----- ungkapan bahwa bangsa yahudi harus bersyukur karena disiksa Jerman mereka bisa mendirikan negara israel ------ tuduhan tak peka karena tak mengalami sendiri penderitaan orang lain ----- yang peka tak perlu mengalami sendiri pendertaan orang ----- contoh korban kecelakaan ---- mau dibelokkan ke penyebab kecelakaan????
Ini yang namanya berusaha mengalihkan fokus, rasa empati tak perlu melihat penyebab kecelakaan, mungkin saja dia kecelakaan karena pesawat udara jatuh, meski orang tuanya dapat ganti rugi sebuah rumah mewah, tak mungkin dia disuruh BERSYUKUR! apalagi kalau anaknya matikarena dibunuh.
Berprasangka keturunan Jepang? Uly, tahu tidak anda artinya bahasa ironi? karena saya tidak habis pikir, orang menyalahkan invasi Jepang dianggap subyektif, karena yang diserbu Jepang adalah negeri leluhur. jadi menurut dia Jepang sebenarnya tidak salah2 amat?
Ternyata Uly juga berpikir sama ( pantesan bersemangat membela yang "benar" ), bahwa Jepang tidak salah menginvasi Tiongkok dan Asia Tenggara? sehingga tidak perlu mengaku salah? Astaga! inilah yang saya sebut : orang2 penganut hukum rimba! tahunya cuman menang kalah, kuat lemah, sudah mengabaikan benar salah, baik buruk. sudah mengabaikan nilai2 kemanusiaan! ( -----sekali lagi mengelus dada-----sambil begidik )
Dalam perang, yang menginvasi jelas adalah pihak yang salah, yang meakukan pembantaian rakyat sipil adalah jahat, telepas dia menang kalah! Tingkah Amerika di Irak pun bisa kita kategorikan seperti ini.
discuss everything
related to cats.
Ya memang debate kusir kalo sampe anda bilang ngelus dada, kecuali anda
perempuan maka si dada ga bakalan marah, tapi dada ini khan laki2 tulen
menurut KTPnye.
Emang sebaiknya focus saja, jangan melenceng sampe nulis "keluarga dekat
anda atau anda sendiri", atau tulisan "Ngelus dada" itu ilmu ngeles
namanya....
Dan topicnye bener2 salah, seharusnye kemaren2 ditulis "Kembali ke
millis, ayo debate kusir", hehehehe....
> .: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
>
> .: Website global http://www.budaya-tionghoa.org :.
>
> .: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.
>
> .: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.
>
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
(1) Ratapan Qin Shi
---------------
Ketika Lao Zi menginggal, Qin Shi datang pada waktu penguburannya. Ia
mengucapkan tiga seruan, kemudian berlalu.
Seseorang bertanya "Bukankah tuan teman Guru? Pantaskah tuan meratapinya
seperti itu ?". Qin Shi menjawab "Bagi saya cukup meratapinya sedikit saja.
Lao Zi datang, karena memang waktunya ia berbuat demikian. Ia pergi karena
ia mengikuti kehendak alam. Hidup pada waktunya dan pergi dengan
kehendaknya. Jadi, saya tidak perlu berduka cita karena itu"
Ketika pengikut Lao Zi mendengar ini, mereka menghentikan ratapannya.
(2) Istri Zhuang Zi meninggal
-------------------------
Ketika istri Zhuang Zi meninggal, Hui Zi datang dan mengucapkan bela
sungkawa, tapi dilihatnya Zhuang Zi sedang bermain tambur dan menyanyi.
Hui Zi bertanya "Istrimu yang mengurus rumah tangga. Sekarang setelah ia
meninggal kamu tidak menangis, malah bermain tambur dan bernyanyi. Ini
keterlaluan!"
Zhuang Zi menjawab "Bukan begitu. Mulanya, ketika ia meninggal, saya sema
sekali tidak merasakan apa-apa. Kemudian saya merenung:Pada awalnya manusia
itu tidak dilahirkan untuk hidup, tidak memiliki bentuk tubuhdan kekuatan
vital. Dalam proses perubahaan alami, ada tenaga vital, lalu bentuk tubuh
dan kelahiran dan kehidupan."
"Sekarang terjadi perubahan. Hubungan kejadian-kejadian ini seperti
perputaran musim. Ia sekarang telah beristirahat di alam lain. Bila saya
bersedih dan meratap, saya seperti orang yang tidak tahu terjadinya proses
alam. Karena itu saya berhenti menangis. "
---------------------------
Baik dan jahat?
Banyak peperangan yang disebabkan karena orang sok merasa lebih baik dan
asal menuduh orang lain lebih jahat. Bukankah seperti itu ? Yang kemarin
merasa lebih baik karena sudah menyerang dan membasmi orang yang dianggap
lebih jahat, akan kemudian selanjutnya di-cap jahat oleh orang lain lagi
yang merasa lebih baik. Begitu seterusnya. Jika demikian, apa bedanya dengan
menang dan kalah ?
Prometheus
-----Original Message-----
Ternyata Uly juga berpikir sama ( pantesan bersemangat membela yang "benar"
), bahwa Jepang tidak salah menginvasi Tiongkok dan Asia Tenggara? sehingga
tidak perlu mengaku salah? Astaga! inilah yang saya sebut : orang2 penganut
hukum rimba! tahunya cuman menang kalah, kuat lemah, sudah mengabaikan benar
salah, baik buruk. sudah mengabaikan nilai2 kemanusiaan! ( -----sekali lagi
mengelus dada-----sambil begidik )
Dalam perang, yang menginvasi jelas adalah pihak yang salah, yang meakukan
pembantaian rakyat sipil adalah jahat, telepas dia menang kalah! Tingkah
Amerika di Irak pun bisa kita kategorikan seperti ini.
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.17.5/1190 - Release Date: 19/12/2007
7:37 PM
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
.: Website global http://www.budaya-tionghoa.org :.
.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.
.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.
Apakah karena anda merelatifkan baik jahat, benar salah, anda mau menegaskan
invasi Jepang di Tiongkok, Korea, Indonesia dan asia Tenggara tidak bisa
dinilai benar salah? apakah pembantaian Nanjing, Romusa dan Yugen nanfu
tidak bisa dinilai jahat?
Apakah pembantaian kaum Yahudi oleh Jerman tidak bisa dinilai baik atau
jahat, tergantun sapa yang menang?
Apakah tuntutan kaum refomasi agar Suharto diadili tidak ada dasar moral?
penculikan dan penghilangan aktivis juga tergantung dari mana kita
memandang?
Lagi, contoh orang yang meninggal secara wajar tak bisa disejajarkan dng
orang yang meninggal karena dibunuh. apakah anekdot kaum Dao dibawah pantas
anda ajukan ke Suciwati, istri Munir? berharap dia merelakan kematian
suaminya, tak usah menuntut pengusutan siapa otak pembunuhan?
----- Original Message -----
From: "Prometheus" <prometheu...@yahoo.com.sg>
To: <budaya_...@yahoogroups.com>
Sent: Friday, December 21, 2007 7:32 AM
Subject: RE: RE: [budaya_tionghua] kembali ke budaya, bosen debat kusir
Apakah karena anda merelatifkan baik jahat, benar salah, anda mau menegaskan
invasi Jepang di Tiongkok, Korea, Indonesia dan asia Tenggara tidak bisa
dinilai benar salah? apakah pembantaian Nanjing, Romusa dan Yugen nanfu
tidak bisa dinilai jahat?
Apakah pembantaian kaum Yahudi oleh Jerman tidak bisa dinilai baik atau
jahat, tergantun sapa yang menang?
Apakah tuntutan kaum refomasi agar Suharto diadili tidak ada dasar moral?
penculikan dan penghilangan aktivis juga tergantung dari mana kita
memandang?
Lagi, contoh orang yang meninggal secara wajar tak bisa disejajarkan dng
orang yang meninggal karena dibunuh. apakah anekdot kaum Dao dibawah pantas
anda ajukan ke Suciwati, istri Munir? berharap dia merelakan kematian
suaminya, tak usah menuntut pengusutan siapa otak pembunuhan?
----- Original Message -----
From: "Prometheus" <prometheu...@yahoo.com.sg>
To: <budaya_...@yahoogroups.com>
Sent: Friday, December 21, 2007 7:32 AM
Subject: RE: RE: [budaya_tionghua] kembali ke budaya, bosen debat kusir
Salah satu bentuk Debat kusir:
Ketika kita sedang bicara kelakuan buruk Jepang, yang diskusi tidak mengiyakan atau membantah, tapi berkelit, mencoba memperlebar masalah, mengalihkan fokus. dengan cara mempertanyakan mengapa tak membahas kelakuan buruk Stalin di Rusia dan revolusi kebudayaan di RRT !
Apakah hubungannya? apakah kelakuan Stalin menyebabkan Jepang menginvasi Indonesia? apakah revolusi kebudayaan menyebabkan pembantaian Nanjing? semakin Absurd ------
and nominate your
group to be featured.
Apakah karena anda merelatifkan baik jahat, benar salah, anda mau menegaskan
invasi Jepang di Tiongkok, Korea, Indonesia dan asia Tenggara tidak bisa
dinilai benar salah? apakah pembantaian Nanjing, Romusa dan Yugen nanfu
tidak bisa dinilai jahat?
Apakah pembantaian kaum Yahudi oleh Jerman tidak bisa dinilai baik atau
jahat, tergantun sapa yang menang?
Apakah tuntutan kaum refomasi agar Suharto diadili tidak ada dasar moral?
penculikan dan penghilangan aktivis juga tergantung dari mana kita
memandang?
Lagi, contoh orang yang meninggal secara wajar tak bisa disejajarkan dng
orang yang meninggal karena dibunuh. apakah anekdot kaum Dao dibawah pantas
anda ajukan ke Suciwati, istri Munir? berharap dia merelakan kematian
suaminya, tak usah menuntut pengusutan siapa otak pembunuhan?
----- Original Message -----
From: "Prometheus" <prometheu...@yahoo.com.sg>
To: <budaya_...@yahoogroups.com>
Sent: Friday, December 21, 2007 7:32 AM
Subject: RE: RE: [budaya_tionghua] kembali ke budaya, bosen debat kusir
ZFY:
Apakah karena anda merelatifkan baik jahat, benar salah, anda mau menegaskan
invasi Jepang di Tiongkok, Korea, Indonesia dan asia Tenggara tidak bisa
dinilai benar salah? apakah pembantaian Nanjing, Romusa dan Yugen nanfu
tidak bisa dinilai jahat?
Prom:
Bisa. Pembantain Nanjing, Romusa, dll, bisa dinilai jahat.
Bisa juga dinilai baik, tergantung siapa yang melihat.
ZFY:
Apakah pembantaian kaum Yahudi oleh Jerman tidak bisa dinilai baik atau
jahat, tergantun sapa yang menang?
Prom:
Bisa dinilai baik atau jahat.
Tergantung siapa yang melihat (bukan tergantung siapa yang menang).
Point yang ingin saya sampaikan bukanlah mengenai emphaty (apalagi sampai
urusan mati wajar atau tidak wajar), tapi adalah memberikan ilustrasi bahwa
kita sering menilai (men-judge) orang lain dengan nilai kita sendiri
(seperti yang dilakukan oleh murid Lao Zi dan Hui Zi dalam kisah dibawah,
ketika mereka berkomentar terhadap Qin Shi dan Zhuang Zi).
Lebih jauh lagi, menilai diri sendiri lebih unggul/lebih baik (atau
mengganggap orang lain lebih jahat), sering dijadikan dasar(atau alasan)
untuk melakukan invasi/penyerangan/pembunuhan.
"Good vs Evil" sering dijadikan alasan berperang. Ironi?
Seperti gambar karikatur dari sebuah majalah Indonesia terbitan tahun 1972,
yang baru saja saya baca.
Digambarkan seorang wanita Vietnam yang sedang duduk sambil melambaikan
tangan. Pertama, dituliskan "Greetings, French Liberators!", kemudian
dilanjutkan dengan "Greetings, Nationalist Liberators!" , kemudian
"Greetings, Viet Cong Liberators!" dimana wanitanya digambarkan semakin
menua, dilanjutkan lagi dengan "Greetings, American Liberators!", lalu
"Greetings, Government liberators!", kemudian ditutup dengan "Greetings,
North Vietnamese Liberators!" dimana wanita nya hanya mampu menekuk sikunya
untuk melambaikan tangannya yang sudah keriput.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
Bung Skalaras ,
============================================================================
===================================
masalah beban sejarah ---- contoh sikap Jepang dan Jerman dalam menghadapi
dosa masa lalunya ----- ungkapan bahwa bangsa yahudi harus bersyukur karena
disiksa Jerman mereka bisa mendirikan negara israel ------ tuduhan tak peka
karena tak mengalami sendiri penderitaan orang lain ----- yang peka tak
perlu mengalami sendiri pendertaan orang ----- contoh korban kecelakaan ----
mau dibelokkan ke penyebab kecelakaan????
Dada :
Anda tidak mengetahui apa yang terjadi dalam perang Dunia II secara umum.
Itu terlihat dari tulisan anda. Saya ajak lebih dalam , anda menarik diri
dengan mengelus2 dada. Dan itu tidak perlu anda klaim lawan diskusi anda itu
debat kusir , buktikan saja tulisan saya dengan bantah argument saya satu
persatu.
Banyak sejarah pembantaian dan kematian - kematian besar-besaran dengan
dalih revolusi atau perang antar negara? Anda mau mulai dari mana?
1. Sovyet dibawah Lenin dan Stalin. Chile dibawah Pinochet? Kamboja
dibawah Pol Pot?
2. Polandia dibawah pendudukan Jerman (dan negara2 lain dalam
pendudukan Jerman)
3. Manchuria dibawah Jepang? Korea di bawah Jepang? Tiongkok di bawah
Jepang?
4. Pembantaian penduduk pribumi di era kolonialisme? Indian di Amerika
, Aborigin di Australia?
5. Peperangan antar agama ? Perang Salib.
6. Atau terus mau menarik ke masa lampau , invansi Mongol, perang
Salib , dan seterusnya.
7. Saya persingkat sampai disini saja . Mau mulai darimana? Kalau
sejarah tiongkok banyak pakarnya disini , saya hanya menyodorkan sisi lain
kepada anda yaitu sejarah bangsa lain.
Saat anda bicara Jerman dan WW II , apakah anda tahu latar belakang
sejarahnya ? Dan apa yang terjadi di Jerman pasca kekalahannya?Atau hanya
ASBUN . Hitler jauh lebih popular hanya karena dia kalah perang. Coba saya
tanya terhadap anda , apa yang terjadi di negara Sovyet? Semasa Nazi
melakukan kekejaman dimana2? Anda tahu tidak?
Dan pemenang perang yang menentukan sejarah dunia. Hal Ini bertentangan
dengan apa yang anda kemukakan
"...Dalam perang, yang menginvasi jelas adalah pihak yang salah, yang
meakukan pembantaian rakyat sipil adalah jahat, telepas dia menang kalah!
Tingkah Amerika di Irak pun bisa kita kategorikan seperti ini..."
Darimana pihak salah dan benar? Yang ada adalah pihak yang kalah dan menang.
Anda kira perubahan batas negara dan bangsa itu tetap selama ribuan tahun?
Apa yang merubah batas negara menjadi makin besar atau makin kecil? Anda
lihat Irak menginvasi Kuwait , dan Amerika menginvasi Irak? Jadi mana pihak
yang benar menurut anda? Anda sebagai orang Kuwait, Amerika , Irak , atau
posisi pengamat (orang luar)..
Mengenai korban sipil , Anda boleh telusuri data-data korban perang dunia ,
militer atau sipil? Sang pemenang perang pun tidak akan luput meraih
kemenangan dengan hujan artileri , korbannya siapa? Amerika membom
Hiroshima? Korbannya siapa. Bagaimana cara Sovyet memenuhi kebutuhan2 mesin
perangnya?
Fakta menunjukkan Perang Dunia meletus di Polandia , siapa yang menyerang?
Jerman dari Barat , dan Sovyet dari Timur? Apa u bisa tarik kesimpulan dari
situ? Sovyet ikut menyerbu Polandia ? Kenapa Inggris hanya mengumumkan
perang pada Jerman , bukan Sovyet? Sovyet ikut menginvasi Polandia ? Dia
pihak yang salah? Nopeeeeeeee , dia toh keluar sebagai pemenang perang.
Front Eropa dimulai dari invasi ke Polandia oleh Sovyet dan Jerman dan
diakhiri oleh serdadu Sovyet yang menguasai Berlin. Blab la blab la bla ,
Anda bisa melacak benang kusutnya disini? Kalau belum , jangan gegabah
mengambil kesimpulan.. .
Saya paparkan singkat saja , sebelum saya bawa jauh kemana2 Durkirk ,
Ploesti , Warsawa , dan ketempat lain, karena toh saya bahas pun percuma ,
anda hanya bisa mengelus-ngelus dada.
Belum lagi bicara perang saudara , yang jelas2 lebih kejam , karena yang
bantai adalah tetangga sendiri , teman sendiri , saudara sendiri.
============================================================================
======================
Berprasangka keturunan Jepang? Uly, tahu tidak anda artinya bahasa ironi?
karena saya tidak habis pikir, orang menyalahkan invasi Jepang dianggap
subyektif, karena yang diserbu Jepang adalah negeri leluhur. jadi menurut
dia Jepang sebenarnya tidak salah2 amat?
Dada :
Tidak usah anda berdalih pada majas - majas ironi. Jikapun saya menggunakan
bahasa ironi , nantipun anda membenarkan diri dengan menggunakan sarkasme
(seperti kasus kasta ) , kalau saya ladeni dengan sarkasme nanti anda
memakai dengan sinisme dan seterusnya.
Saya mengeluarkan kritikan secara umum , karena minat dan pengetahuan
belajar sejarah yang saya lihat pada umumnya berbicara tentang
korban-korban perang , korban-korban revolusi, sejarah pembantaian.
Mendengar cerita sejarah pembantaian yang terjadi adalah permainan emosi
bukan lagi rasio .
============================================================================
===============================
Ternyata Uly juga berpikir sama ( pantesan bersemangat membela yang "benar"
), bahwa Jepang tidak salah menginvasi Tiongkok dan Asia Tenggara? sehingga
tidak perlu mengaku salah? Astaga! inilah yang saya sebut : orang2 penganut
hukum rimba! tahunya cuman menang kalah, kuat lemah, sudah mengabaikan benar
salah, baik buruk. sudah mengabaikan nilai2 kemanusiaan! ( -----sekali lagi
mengelus dada-----sambil begidik )
Dada :
Kembali ke perkataan saya diatas . Coba bahas perang dunia II , jangan
melarikan topic ke debat kusir.
Mengenai kemanusiaan anda instrospeksi diri mengenai , "cina" sebagai tamu
luar dan kasta rendah , dan majas sarkasme anda..
Robby Wirdja
on Yahoo! Groups
Cara diskusii yang sehat itu harus fokus. jangan terus melebar kemana2. anda boleh saja membicarakan bebagai issue HAM di seluruh dunia, tapi tolong tanggapi dulu masalah yang saya kemukakan. jangan diambangkan, anda bukannya memberi timbangan Masalah Jepang dan Jerman, malah memperluas wilayah pembicaraan ke Rusia, RRT dsb dsb.
Bila di seluruh dunia pernah terjadi pembantaian2 karena perang, bila setiap negara pernah melakukan kejahatan kemanusiaan, tetap saja tak boleh mengangap kejahatan sejenis adalah sah. Kejahatan tetap kejahatan, bukan karena banyak pihak melakukannya lantas menjadi lumrah dan boleh dimaklumi. Seperti saat kita berbuat salah dimarahi orang tua, apa kita harus membalas: "kakak dan adik juga melakukan kok "
Kita hendak membahas kejahatan perang, mau mulai dari mana? boleh dari mana saja, tentu dari bahan2 yang kita akrabi. jika ada peneliti yang akrab dng sejarah pendudukan Jepang di Indonesia, lantas dia menulis buku tentang itu, tentu tak boleh anda serang dng pertanyaan mengapa dia tak bicara pendudukan Jerman di Perancis, atau kiprah Amerika di Vietnam. anda harus fokus ke masalah yang dia lontarkan. lain halnya jika anda yang memulai topik pembicaraan, bisa anda pilih yang anda suka.
Anda menuduh saya tak memahami masalah2 diluar Tiongkok, itu harus anda buktikan dng paparan2 yang anda kemukakan, anda harus langsung memaparkan data2, yang menyanggah satu persatu kekeliruan saya. bukan dng cara gertak sambal: "anda kan tidak memahami masalah, sebaiknya diam saja." Jika saya sedikit lebih tahu terhadap satu masalah, saya tak akan menegur orang seperti itu, saya akan utarakan data2 untuk menyanggah. Jika saya sama tidak tahunya dng lawan bicara, tapi meragukan kapasitasnya, saya bisa menghimbau yang lebih tahu untuk ikut menjawab, jika tak ada yang mau menanggapi, meski tidak sreg, ya terpaksa diam saja,
salam,
Hanya di sini, di forum ini, saya tidak sedang berbicara dengan " Berbagai
Pihak", saya sedang bicara dng salah satu pihak, bahkan lebih sempit lagi,
dengan satu orang!
Seperti saat ini, saya hanya bertanya pada anda SEORANG, menurut anda
pribadi, Jepang dan Jerman salah tidak dalam perang dunia kedua? terutama
dalam kasus pembantaian kaum Yahudi dan pembantaian Nanjing? anda bisa
menjawab : salah, benar, atau tidak tahu, tapi tak bisa menjawab
"tergantung"......
ZFy
----- Original Message -----
From: "Prometheus" <prometheu...@yahoo.com.sg>
To: <budaya_...@yahoogroups.com>
Sent: Friday, December 21, 2007 9:16 PM
Subject: RE: RE: [budaya_tionghua] kembali ke budaya, bosen debat kusir
Mungkin ada sedikit kesalahpahaman disini.
Sebelumnya, saya mencoba menanggapi pertanyaan Anda yang seperti ini :
" Apakah karena anda merelatifkan baik jahat, benar salah, anda mau
menegaskan invasi Jepang di Tiongkok, Korea, Indonesia dan asia Tenggara
tidak bisa dinilai benar salah?"
Pertanyaannya: "Apakah tidak bisa (dinilai benar salah)?"
Pendapat saya (jawaban saya ) adalah "Bisa!. Invasi Jepang di Tiongkok, dll,
tetap BISA DINILIAI benar salah. Dan untuk menilai benar - salah tentu
tergantung siapa yang melihat"
Nah, jika ternyata Anda ingin tahu pendapat saya, pandangan saya seperti
ini:
Saya, dengan nilai moral saya, tidak pernah suka terhadap
invasi/peperangan/pembunuhan.
Walaupun, sekali lagi, bukan itu point yang ingin saya sampaikan dalam
posting sebelumnya. Supaya tidak berpanjang-panjang, silakan lihat message
yang lalu. Silakan ditanggapi atau direnungkan sendiri, bila perlu.
Sebenarnya akan lebih menarik jika kita bisa membuka diskusi membahas
peperangan ini dari berbagai sudut, diantaranya bagaimana perbedaan
filsafat/orang Timur dan Barat dalam memahami/menanggapi perang. Buku Wages
of Guilt nya Ian Buruma mungkin bisa menjadi opening case yang menarik untuk
mendalami hal ini lebih lanjut.
Prometheus
-----Original Message-----
From: budaya_...@yahoogroups.com
[mailto:budaya_...@yahoogroups.com] On Behalf Of Skalaras
Sent: Sunday, 23 December, 2007 6:45 PM
To: budaya_...@yahoogroups.com
ZFy
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.17.6/1193 - Release Date: 22/12/2007
2:02 PM
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
.: Website global http://www.budaya-tionghoa.org :.
.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.
.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
salam,
Salam
Prometheus
salam,
ZFy
Yahoo! Groups Links
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.17.7/1194 - Release Date: 23/12/2007
5:27 PM
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.17.7/1194 - Release Date: 23/12/2007
5:27 PM
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
.: Website global http://www.budaya-tionghoa.org :.
.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.
.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
Bung Skalaras ,
Silahkan anda buat account Yahoo Messenger . kalau tidak tahu caranya
tanyakan pada saudara moderator.
[Non-text portions of this message have been removed]
Dear All
Dialog singkat tapi paling menarik terjadi saat Hitler didesak oleh
petinggi2 NAZI lainnya untuk meninggalkan Berlin , dan Hitler saat itu
meminta pendapat Albert Speer..
Adolf Hitler : "Speer, What do you say"
Albert Speer " You must be on stage when the curtain falls"
Jadi saat pertunjukan berakhir, saat tentara Merah(Sovyet) memberikan
"applaus" meriah dengan hujan artillery, Hitler harus tetap berada di
"panggung" sampai tirai kelam keputus-asaan tiba.
Bulan April 1945 menjadi akhir yang tragis dari pemerintahan NAZI, yang dari
partai kecil dengan anggota hanya setengah lusin di tahun 1920-an , dan
momentum 'Great Depresion' membuat NAZI menjadi partai berkuasa dan mutlak
berkuasa saat presiden Hindenburg meninggal dan Hittler mengambil alih
jabatan presiden, dirangkap dengan kanselir. Kamp konsentrasi Dachau adalah
kamp konsentrasi pertama yang langsung didirikan beberapa minggu setelah
Hitler berkuasa. (Kamp ini sempat menjadi salah satu setting dalam film
"Hitler, The Rise of Evil).
Di bulan April 1945 ini pula, pasukan Merah yang dipimpin oleh Konev dan
Zhukov sudah berada di pinggir kota Berlin dan mulai menghujani kota Berlin
dengan tembakan artillery, Konev dan Zhukov juga saling berlomba untuk
menjadi yang tercepat menguasai kota Berlin, karena Joseph Stalin sudah
memberi target pada mereka untuk paling lambat tanggal 1 Mei, kota Berlin
harus sudah jatuh . Tanggal 1 Mei adalah hari paling kudus bagi Sovyet
karena merupakan perayaan hari buruh dunia(seperti demo buruh yang baru2 ini
marak di Indonesia). Semakin dekatnya pasukan Sovyet berarti mimpi buruk
bagi rakyat, tentara dan petinggi Jerman. Karena pasukan Sovyet terkenal
dengan kebrutalannya dan dikhawatirkan melakukan aksi balas dendam atas
Invansi Jerman ke Sovyet di musim panas tahun 1941. Jika boleh memilih tentu
Jerman lebih suka menyerah pada pihak barat daripada pihak Sovyet.
Sebagai gambaran, sebelum pasukan Sovyet melakukan offensive balik memasuki
wilayah Jerman, hujan bom dari angkatan udara Inggris di kota Berlin tidak
begitu mencemaskan rakyat Jerman sekalipun 30.000 ton bom dijatuhkan ke kota
itu. Rakyat Jerman masih tetap melakukan aktivitas seperti biasa, pesta ,
salon dan tempat hiburan masih ramai dikunjungi. Tapi begitu pasukan Sovyet
mendekati kota Berlin, antrean makanan mulai terjadi. Fakta bahwa Hitler
sendiri mengorbankan rakyatnya, itulah tujuan dari adegan gory dalam film
ini (dimana dokter sampai harus menggergaji tangan rakyat sipil yang menjadi
korban). Membuka medan peperangan hingga dalam kota Berlin yang penuh dengan
warga sipil adalah salah satu kebiadaban Hitler.
Bayangan tentang nasib mengerikan yang akan menanti jika seandainya mereka
berada di tangan tentara Merah (Sovyet) sesungguhnyalah yang membuat suasana
di bunker Hitler menjadi begitu mencekam. Begitu Hitler di umumkan resmi
meninggal, maka berbagai aksi bunuh diri pun marak dilakukan terutama para
petinggi NAZI dan Schutzstaffel (SS), salah satunya adalah Joseph Goebbels
sang mentri Propaganda yang mengajak serta istri dan keenam anaknya, sebab
nasib para penjahat perang nantinya akan berakhir(Nurnberg Trials 1945-1946)
, sementara Angkatan Darat Jerman (Wehrmacht) relative bersih dari kejahatan
kemanusiaan. Dan sesungguhnya diantara tiga angkatan militer , Hitler selalu
penuh curiga terhadap jendral-jendral angkatan daratnya, yang dinilai selalu
membangkang , keterlibatan Rommel dalam usaha pembunuhan Hittler di tahun
1944 makin membuat Hittler selalu curiga terhadap mereka. Kita bisa melihat
beberapa makian histeris Hitler yang frustasi terhadap beberapa jendralnya
dalam film ini...
Di saat-saat terakhir Hitler masih menaruh harapan dibalik keputus-asaannya
; bahwa Jerman masih memiliki harapan. Terutama saat presiden Amerika ,
Roosevelt meninggal dunia seminggu sebelum ulang tahun Hittler . Dan Joseph
Goebbels, mentri propaganda-nya bahkan sempat menghibur Hitler bahwa
horoskopnya sedang baik, seperti tahun 1933. Dan juga senjata rahasia
militer Jerman yang selangkah lebih maju dari pihak sekutu, pesawat jet
misalkan, atau kapal selam elektronik. Disaat-saat terakhir Hitler masih
berharap akan kesetiaan dari tangan kanannya, tapi Herman Goering kepala
Angkatan Udara dan Heinrich Himmler kepala SS berkhianat .Pada tanggal 28
April 1945 , kolega fasisnya , Bennito Musollini tewas mengenaskan ditembak
partisan Italia dan mayatnya digantung di kota Milan bersama kekasihnya
Clara. 30 April 1945, Hitler bersama Eva Braun yang baru dinikahinya
akhirnya memutuskan untuk melakukan bunuh diri dengan meminta ajudannya
membakar sampai habis mayatnya agar tidak bisa dipermalukan oleh pihak
musuh.
Walaupun film ini berusaha menghadirkan sosok Hitler secara objektif dan
lebih manusiawi serta mengundang simpati tapi tidak menampik kemungkinan pro
dan controversial serta bahaya laten dari bangkitnya pengagum2 potensial
Hitler, Neo Nazi.
Der Krieg Ist Verlorene ...
ini tulisan saya diatas mengenai hari - hari terakhir Hitler sekaligus
review Der Untergang di forum lain.
Ini belum lagi membahas mengenai militer Jerman , banyak orang awam sejarah
mengira , militer Jerman yang melakukan kekejaman - kekejaman seperti itu.
Padahal ? Saya sebut saja satu contoh : Front Afrika Utara , Rommel Vs
(Montgommery - Omar Bradley - Patton), adalah perang yang terjadi secara
"FAIR" , Berbicara mengenai Jerman pasca PD II , tidak bisa tidak, akan
melibatkan Sovyet. Bahwa sangat menarik fakta bahwa rakyat dari pendudukan
Jerman di daerah Sovyet saat operasi Barbarossa lebih suka berada dalam
kekuasaan Berlin daripada Moskow.
Robby Wirdja
NB:
Kalau ada yang tertarik silahkan bahas sejarah Jerman , kalau ada yang salah
silahkan ralat , kalau tidak tertarik dan tidak tahu sama sekali lebih baik
diam saja., bukan menuduh saya membela kejahatan , membela pemenang perang ,
Yang mau membantah saya persilahkan ajukan dengan fakta , bukan dengan
omelan dan pedoman "cara berdiskusi yang sehat" blab la bla
kalau bahas perang sih saya asyik2 saja , Cuman saran saya , lebih baik
kembali ke bahasan budaya ...
[Non-text portions of this message have been removed]
Learn how to
increase endurance.