"Martha J." <marth...@yahoo.com> wrote: saya jadi ingat jaman dulu tahun 1980, ada seorang anak buah saya,
> Sharing :
Seharusnya tidak, jadi ukuran cinta tanah air dan bangsa tidak harus dilihat dari status dua tadi ( TNI/PNS). Menurut saya sepanjang orang itu bisa berbuat baik minimal buat dirinya, maka itu sudah termasuk cinta tanah dan bangsa. Yah...tentu saja yang adalah kebaikan yang bersifat "umum" mana semua orang akan senang dengan hal itu, misalnya saja : Ketika ada tamu mengetuk pintu, dia malah suruh pembantu yang lagi nyeterika pakaian di lantai 3, sementara dia cuma duduk baca koran..dengan muka curiga, padahal jelas2 tamu mencari dia....hehehe...:) Menyapa tetangga tidak berlebih2an dalam artian terlalu "over informasi" atau sebaliknya tidak pernah ketahuan apa maunya..semuanya kan kontraproduktif.
Membukakan pintu bagi tamu....itu sudah termasuk baik sekali terutama di kota-kota besar yang sangat sibuk and individual. Mempersilakan tamu masuk ke rumah, "kalo memungkinkan" , menanyakan keperluan tamu dengan tidak terlalu banyak basa-basi atau penuh kecurigaan. Umumnya tuan2 besar di Indonesia ini ; kalau tidak BASA-BASI YANG BERLEBIHAN, atau CURIGA YANG BERLEBIHAN. Baik "sikap basa-basi yang berlebihan" maupun " kecurigaan berlebihan " merupakan sikap yang tidak ilmiah dan tentu saja tidak dapat dikategorikan sebagai orang yang cinta tanah air dan bangsa.
Untuk TNI/PNS atau underbownya memang ada aturan dan standar yang ditetapkan. Sehingga diharapkan mereka dapat bertutur dengan lebih baik dibanding dengan yang non TNI/PNS.
Faktanya adalah ; kebanyakan abdi negara apakah itu PNS/TNI/Polisi dan sebagainya masih jarang yang dapat memperlihatkan perilaku diharapkan oleh masyarakat,..sehingga meskipun disisi kanan/kiri costum mereka berlambangkan BURUNG GARUDA atau atribut apapun juga....tetapi masalah yang mendasar dalam hal ini melayani masyarakat tidak dilakukan/direalisasikan, sehingga masyarakat kecewa yah..tidak sepantasnya disebut cinta tanah air dan bangsa...dan kalau mereka ngaku cinta NKRI dsb.... itu sih namanya GR..hehehe...:-)
Untuk mendapat predikat cinta tanah air dan bangsa segampang itu, apalagi dengan bercostum pula. Dan karena abdi negara maka mereka harus dituntut lebih dari itu..jadi tidak sekedar janji2 tetapi harus ada realisasi.
Sebaliknya orang tidak berseragampun bisa di kategorikan cinta tanah air dan bangsa sekalipun bicaranya tidak terlalu "santun" , tetapi ujung2nya dia baik jujur, tidak usil, tidak suka bikin polemik sehingga tidak mebuat masyarakat resah, panik lalu menimbun sembako dsbnya...:-)), itu sudah bisa disebut cinta tanah air dan bangsa karena minimal sudah dapat memange dirinya...iya kan.
Intinya adalah bahwa kalau yang punya seragam persyaratan utuk disebut cinta tanah air lebih berat dari yang biasa la.
Giaman dengan para netter ???
Para netter disini sekalipun mungkin ada yang bukan PNS/TNI ( kareta takut masuk TNI...:-)) tetapi tidak termasuk kategori masyarakat biasa karena punya kelebihan2. Dengan demikian maka persyaratan untuk mendapat predikat CINTA TANAH AIR DAN BANGSA identik dan bahkan mungkin ( MUNGKIN LHO )lebih berat dengan PNS/TNI. Bahkan banyak para netter sangat briliant misalnya yang menganalisis melebihi analisis TNI/PNS bahkan government sekalipun. Jadi dengan sendirinya persyaratan bagi para netter yang cerdas untuk masuk kategori cinta tanah air harus lebih dari PNS/TNI.
TNI yang baru berkarir dan dilantik aja belom ada ber- gelar Doktor (Dr)apalagi professor (Prof). Sementara para netter yang sudah melanglang buana di bursa saham, riset, edukatif, busniss, dokter, pengacara sudah pasti memiliki pengalaman & analisis yang jauh ke depan dan pengetahuannya sudah sama dengan professor.
Kalau TNI/PNS paling banter kan baru dilantik di Magelang ketika lulus dari AKMIL ..yah itu masih dibawah Strata 1. Yang ada dalam benaknya nasionalisme ala di sekolah mereka.....yah sekitar lembah Tidar.!!! Coba kalau langsung ke Aceh...akan tersa khasiatnya karena mungkin kalo di sekitar Magelang "people-nya" santun penuh senyum dan keris diselip dibelakang, lain halnya ketika di Aceh dimana mungkin saja dianggap sebagai penjajah (tentunya bagi oknum separatis)...hehehe...sementara menurut kurikulum pendidikan yang disebut penjajah menurut guru-guru sejarah Indonesia ( mudah2an tidak salah karena ada yang mengatakan bahwa Sejarah Indonesia sudah diputar balikkan...:-)) adalah Belanda (kecuali Belanda Depok) dan Jepang. Belanda menjajah tanah air kita selama 3,5 abad dan Jepang menjajah kita selama 3,5 tahun, katanya.
Selanjutnya dalam masa damai TNI/PNS juga selalu berhadapan dengan masyarakat yang pintar2 bahkan kadang2 yang iseng...:-) misalnya bekas petualang dari berbagai kalangan yang mana pola pikirnya bersebrangan dan kadang2 aneh tapi nyata. Jadi bisa dibayangkan apa yang akan terjadi bila TNI/PNS tidak segera membenahi diri dalam artian "belajar,belajar dan belajar" untuk meningkatkan kualitas pekerjaan mereka, maka selamanya akan selalu berseberangan dengan orang2 di luar PNS/TNI.
Sayangnya hal ini mungkin tidak tersosialisasi dengan baik sehingga rata-rata PNS/TNI tidak bertambah ilmunya, karena yang disebut menambah ilmu tidak hanya mengikuti lokarya, seminar atau kursus (kalo itu sih banyak) tetapi yang lebih penting adalah development dan aplikasi.
mmmm......Saya pernah iseng bertanya kepada seorang teman baik saya seorang perwira TNI dengan pertnyaan begini : "
" Bisa ga kamu menangkap udang tanpa menggunakan benda tajam dan tanpa pukat tetapi hanya dengan satu helai rambut dan sebatang lidi , sehingga udang itu bisa kamu bawa hidup2. Teman saya jadi heran dan balik nanya : Buat apa, lu ada-ada aja? Akhirnya dia ga jawab dan saya ajari gimana caranya menangkap udang tanpa benda tajam dan tanpa pukat, hanya dengan sebatang lidi dan sehelai rambut.
Teman saya ini tidak mau berpikir yang rumit2 jadi ilmu itu-itu aja, yang dia "uber" adalah WIBAWA dan fulus/duit....ngapain lagi belajar kan sudah lulus..dia bilang begitu.....yah mungkin sudah tradisi...kaya iklan aja. Akhirnya karena ilmunya apa "adanya" = "cetek" hehehe...jadinya hanya wibawa semu, bukan wibawa yang sebenarnya.
Seorang (siapapun dia, TNI/PNS atau apalah) yang cinta tanah air dan bangsa seharusnya memiliki wibawa yang sebenarnya. Mudah2an TNI/PNS dan kita2 ini termasuk kategori cinta tanah dan bangsa dan termasuk yang memiliki wibawa sebenar2nya.
Ini semata-mata opini saya dan kalo banyak kekurangan mohon diperbaiki, kalau ada yang tersirat mohon direnungi. Mari kita terus belajar..!
salam damai,
Nasir Tan
---------------------------------
Yahoo! Mail
Bring photos to life! New PhotoMail makes sharing a breeze.
[Non-text portions of this message have been removed]