Beda yang mendasar/hakiki peranakan ama Totoq ape sih?! Saya sendiri ga
jelas tapi yang pasti saya sering dibilang ChiaoSen or QiaoSheng oleh temen
karena ga bisa bahasa Hokkien/KwoIe, jadi saya menyebut orang2 itu adalah
Totoq.
Saya sendiri punya tunangan mungkin bisa dibilang Totoq!
----- Original Message -----
From: "ChanCT" <SA...@netvigator.com>
To: "Komunitas-Tionghoa" <komunitas...@googlegroups.com>;
<budaya_...@yahoogroups.com>
Sent: Friday, 03 November, 2006 14:38
Subject: [budaya_tionghua] Re: totok-peranakan
> Ya, apapun kreteria yang diberikan "totok" dan "peranakan" dalam menilai
> komunitas Tionghoa di Indonesia, hendaknya tidak hanya karena perbedaan
> "totok" vs "peranakan" terjadi pengkotak-kotakan bahkan perpecahan
> didalam
> komunitas Tionghoa.
>
> Dan saya yakin, seiring dengan perkembangan dan keterbukaan budaya yang
> diterima komunitas ini, sudah tidak lagi mengakibatkan ganjelan-berat
> antara
> "totok" dan "peranakan". Dimana ketika jaman kakek-nenek kita, yang
> "totok"
> enggan bahkan keberatan mengawinkan putrinya pada pemuda baba, yang
> "peranakan". Tapi sekarang ini, sudah bisa menerima kenyataan perbedaan
> yang
> ada, baik antara "totok", "peranakan" bahkan juga terhadap suku-suku lain
> adalah sama derajat sebagai manusia yang hidup didunia ini. Sama-sama
> berhak
> menikmati kehidupan bermasyarakat yang harmonis, bisa memberikan toleransi
> setinggi-tingginya, bisa saling menerima dan menghargai segala perbedaan
> yang ada. Bisa melihat kenyataan adanya saling susup, saling terima
> budaya,
> adat-istiadat pihak-pihak yang berinteraksi dalam kehidupan masyarakat
> ini,
> bahkan juga kawin silang sudah terjadi secara wajar, tanpa adanya ganjelan
> perasaan apalagi rintangan-halangan dalam kehidupan bermasyarakat, ...
> sudah
> menjadi sesuatu yang wajar dan bukan lagi merupakan kejadian khusus yang
> aneh.
>
> Salam,
> ChanCT
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
.: Website global http://www.budaya-tionghoa.org :.
.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.
.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:budaya_tion...@yahoogroups.com
mailto:budaya_tionghu...@yahoogroups.com
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
budaya_tiongh...@yahoogroups.com
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Sebelumnya barangkali masih bisa dibedakan, yang di rumah pake bahasa
impor itu yang totok, yang di rumah pake bahasa melayu itu peranakan.
Sekarang gue ngga yakin apa masih bisa dibagi seperti itu. Sebab ada
kejadian, temen gue, masih pake bahasa mandarin di rumah, tapi segala
macem aturan udah nggak tahu dan enggak pake. Wah, otomatis gue anggap
dia BUKAN totok gitu.
Tapi ada lagi yang sudah tidak pakai bahasa mandarin nor hokkian di
rumahnya, tapi masih pakai aturan aturan baku jaman dulu, kayak misalnya
anak cucunya nggak boleh pake baju yang enggak ada warna merahnya. Warna
hitam dan putih polos paling pantang. Dan waktu mau kawin, aduuuhhh
aturannya bejibun. Nah yang begitu gue sebut totok, biarpun dia baru
bisa bahasa mandarin setelah tahun 1998 mendadak belajar bahasa di
Xiamen, huehuehuehue.
Makin kesini, kayaknya batas antara totok dan peranakan makin tipis deh.
Malah mungkin sudah enggak ada lagi, dan sepertinya juga enggak perlu
lagi gitu lhoh.
Kalau waktu jaman dulu sih, jaman Indonesia baru merdeka kali perlu,
untuk membedakan yang mana yang 'baru datang' dengan yang 'sudah lama
menetap'. Apalagi waktu itu banyak juga 'pelarian' kuo mintang,
huehuehuehue. Jaman sekarang.. buat apa ya, memisahkan totok dan
peranakan?
Selain kalau buat ngincer anak orang, wah si Nonik bapaknya masih totok
tuh, jadi kalau ngapelin dia malem minggu, kali bagusnya bawa apel dan
jeruk yang masing masing jumlahnya genap, biar ijin wakuncar dari
bokapnya lancar, kyahahahaha.
[Non-text portions of this message have been removed]
Sekedar menambahkan pembicaraan mengenai istilah
"totok" dan "peranakan" atau "chiauw sen."
Bagi yang lahir dan dibesarkan di Jakarta, setahu saya
yang diistilahkan dengan "totok" adalah kalangan yang
masih kuat tradisi Tionghoa nya, dan umumnya masih
dapat berkomunikasi dengan kuo ie (mandarin) dan atau
dialek (hokkian, khek, kong hu, tio ciu, dll nya).
Istilah "peranakan" ditujukan bagi kalangan yang sudah
tidak begitu kuat lagi tradisi Tionghoa nya, dan
umumnya sudah tidak menggunakan bahasa mandarin dan
atau dialect dalam pembicaraan sehari-hari. Terkadang
istilah ini ditujukan bagi masyarakat Tionghoa yang
ada di daerah sekitar Tangerang. Lebih dikenal dengan
sebutan "orang Benteng".
Bagi orang-orang Tionghoa dari daerah (dari Sumatera
dan Kalimantan)yang pindah dan bermukim di Jakarta
lain lagi pendapatnya. Mereka malah menganggap
orang-orang Tionghoa di Jakarta sebagai "peranakan"
atau "chiauw sen." Terlepas apakah masih atau tidak
nya dapat berkomunikasi dalam bahasa mandarin dan
dialek. Jadi bagi mereka (orang-orang daerah yang ke
Jakarta), mereka lah yang menganggap diri mereka
sebagai "totok" dan semua Tionghoa yang asli Jakarta
ialah "peranakan."
Jadi pemberian istilah "totok" dan "peranakan"
tidaklah jelas kriterianya. Tergantung dari siapa dan
bagaimana latar belakangnya.
____________________________________________________________________________________
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail
(http://advision.webevents.yahoo.com/mailbeta/)
Best,
Richard
Dear pak ChanCT;
Beda yang mendasar/hakiki peranakan ama Totoq ape sih?! Saya sendiri ga
jelas tapi yang pasti saya sering dibilang ChiaoSen or QiaoSheng oleh temen
karena ga bisa bahasa Hokkien/KwoIe, jadi saya menyebut orang2 itu adalah
Totoq.
Saya sendiri punya tunangan mungkin bisa dibilang Totoq!
[Non-text portions of this message have been removed]
Bagi gue mungkin ini imbas dari revolusi kebudayaan TiongKok dulu!
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
Saya mungkin termasuk peranakan, tapi kalo soal jaga tradisi keluarga,
Ibu saya bisa nyebutin knape harus begini begitu, banyak temen saya dari
daerah dateng ke Jakarta. Mereka bilang saya peranakan, jadi inget waktu
bokap saya meninggal saya masih ngikutin tradisi penguburan orang tua,
mereka malah bilang, "oh eloe masih ikutin begituan toh, kalo gue sih ude
modern", sekali lagi busyet, ngikutin tradisi berarti orang kuno kali yeee!
Mungkinkah ini imbas dari revolusi kebudayaan di Tiongkok?
----- Original Message -----
From: "Russell Lim" <lim_...@yahoo.com>
To: <budaya_...@yahoogroups.com>
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
perfect_h...@yahoo.com wrote:
Sdr.Chan,
saya membawa masalah totok dan peranakan itu bukan untuk membuat suatu
jurang atau permasalahan.
Saya baru saja mendapat pinjaman majalah Intisari, kebetulan peminjam
itu menanyakan kepada saya beberapa hal yang berkaitan dengan
pengobatan.
Saya iseng-iseng membaca, ternyata majalah Intisari terbitan tahun 2006
masih saja membawa istilah totok dan peranakan.
Yang membuat hati agak sesak mengenai totok adalah mengenai bahasa ibu,
kebiasaan makan serta berbudaya Tionghoa.
Saya lantas merenung, apakah saya bisa disebut sebagai totok ?
Saya makan sambal, bisa bahasa daerah tempat saya dilahirkan, lantas
apakah salah jika dalam kehidupan di keluarga saya itu, saya
menggunakan bahasa mandarin ? Apakah salah jika saya merayakan Imlek ?
Dikotomi seperti itu sebenarnya membuat benteng pemisah yang rancu.
Apalagi melihat kehidupan masyarakat Tionghoa di Kalimantan, apakah
mereka termasuk totok ?
Sayangnya para ahli peranakan atau Tionghoa Indonesia masih
membawa-bawa istilah totok dan peranakan hingga saat ini. Atau mereka
hanya terpatri pada istilah itu yang mereka baca atau mereka tidak bisa
menganalisa data ?
Sungguh parah jika para ahli peranakan atau Tionghoa Indonesia sekedar
membaca dan menjiplak karya orang lain tanpa bisa menganalisa.
Hormat saya,
Xuan Tong
ChanCT menuliskan:
> Menarik juga pembicaraan mengenai "totok" dan "peranakan" yang berbeda
> dengan apa yang saya ketahui dimasa 40-60-an itu. Dikatakan "totok" karena
> mereka tergolong generasi pertama, dan dengan sendirinya kurang fasih bhs.
> Indonesia dan menggunakan bhs. Tionghoa atau dealek daerah, Hokkian, Hakka,
> Tiochu dsb., ... sedang yang dikatakan "pernakan" adalah mereka yang sudah
> bergenerasi lahir dan hidup di Indonesia, banyak diantara mereka yang sudah
> tidak bisa berbahasa Tionghoa, ... Jadi, yang mengkotak-kotakan mereka
> ketika itu, bukan terutama masalah bahasa ibu, tapi sikap politik, sesuai
> dengan pendirian membela Belanda, Tiongkok Nasionalis atau Kemerdekaan RI.
> Bukan masalah perbedaan "totok", atau "peranakan" itu sendiri.
>
> Cukup menarik pengalaman hidup di Kalimantan Barat, dimana etnis Tionghoa
> tetap berbahasa ibu, Hakka, sekalipun sudah turunan ke 6-7. Tetap
> berkemampuan mempertahankan bahasa ibu didalam keluarga, dengan keyakinan
> bagi anak-anak mudanya tentu juga tidak masalah dengan kemahiran ber-bahasa
> Indonesia. Bisa diajukan kira-kira apa yang menyebabkan begitu kuatnya
> perasaan ke-sukuan disana? Yang tentunya, sulit bisa dibayangkan itu terjadi
> di Jawa, karena tidak lebih dari generasi ke3 saja sudah cukup banyak yang
> tidak lagi menguasai bhs. Tionghoa, apalagi yang lahir setelah G30S, ditahun
> 66 diberlakukan ketentuan membuang segala yang berbau Cina, ...
>
> Namun saya-pun sangat setuju, dewasa ini tidak seharusnya kita teruskan
> mengangkat perbedaan "totok" dan "peranakan", apalagi yang benar-benar
> "totok" dalam pengertian pendatang baru dari Tiongkok daratan itu juga perlu
> kita perhatikan dan dipersatukan sebaik-baiknya. Dengan tidak merasa diri
> lebih superior dengan memandang yang lain rendah, termasuk suku-suku lain
> yang ada di Nusantara ini. Setelah merasa kita semua sama derajat inilah,
> kita semua bisa memberikan toleransi, untuk menerima dan menghargai segala
> perbedaan yang ada dalam kehidupan bermasyarakat.
>
> Selanjutnya, saya dari jauh mengharapkan bung Hasan berhasil baik, dalam
> percalonan Walikota Singkawang di Pilkada tahun 2007 yad. Berperan
> sebaik-baiknya tidak hanya sebatas mewakili komunitas Tionghoa, tapi
> menunjukkan kebolehan dalam membawa masyarakat Singkawang lebih makmur,
> sejahtera dan tentram-aman. Menjadi kebanggan kita bersama dan teladan
> Walikota terbaik seluruh Indonesia.
>
> Salam,
> ChanCT
>
>
---------------------------------
Get your email and see which of your friends are online - Right on the new Yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
sekedar info... 'perjalanan' totok dan peranakan cina pada masa
kolonial, ditulis dengan sudut pandang sejarah di buku Ibu Mona
Lohanda: Growing Pains.
menurut saya menarik...
salam
=== message truncated ===
____________________________________________________________________________________
Cheap Talk? Check out Yahoo! Messenger's low PC-to-Phone call rates
(http://voice.yahoo.com)
aboah <ab...@yahoo.com> wrote:
halo,
menurut saya menarik...
salam
__________________________________________________________
Cheap Talk? Check out Yahoo! Messenger's low PC-to-Phone call rates
(http://voice.yahoo.com)
---------------------------------
Get your email and see which of your friends are online - Right on the new Yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
Dan saya yakin, seiring dengan perkembangan dan keterbukaan budaya yang
diterima komunitas ini, sudah tidak lagi mengakibatkan ganjelan-berat antara
"totok" dan "peranakan". Dimana ketika jaman kakek-nenek kita, yang "totok"
enggan bahkan keberatan mengawinkan putrinya pada pemuda baba, yang
"peranakan". Tapi sekarang ini, sudah bisa menerima kenyataan perbedaan yang
ada, baik antara "totok", "peranakan" bahkan juga terhadap suku-suku lain
adalah sama derajat sebagai manusia yang hidup didunia ini. Sama-sama berhak
menikmati kehidupan bermasyarakat yang harmonis, bisa memberikan toleransi
setinggi-tingginya, bisa saling menerima dan menghargai segala perbedaan
yang ada. Bisa melihat kenyataan adanya saling susup, saling terima budaya,
adat-istiadat pihak-pihak yang berinteraksi dalam kehidupan masyarakat ini,
bahkan juga kawin silang sudah terjadi secara wajar, tanpa adanya ganjelan
perasaan apalagi rintangan-halangan dalam kehidupan bermasyarakat, ... sudah
menjadi sesuatu yang wajar dan bukan lagi merupakan kejadian khusus yang
aneh.
Salam,
ChanCT
Mario
----- Original Message ----
From: richardwu9 <richa...@gmail.com>
To: budaya_...@yahoogroups.com
Sent: Sunday, November 5, 2006 8:46:00 PM
Subject: Qiao Sheng, was: RE: [budaya_tionghua] Re: totok-peranakan
Saya ingin bertanya tentang istilah Qiao Sheng (chiau sheng), istilah ini
kalau di Taiwan, artinya adalah Overseas Chinese atau lebih banyak dipakai
untuk menunjuk Overseas Chinese Students. Nah di Indo kog bisa di pakai
untuk menunjuk kalangan Chinese tertentu ? Kalau ada yang tau sejarahnya.
Best,
Richard
Dear pak ChanCT;
Beda yang mendasar/hakiki peranakan ama Totoq ape sih?! Saya sendiri ga
jelas tapi yang pasti saya sering dibilang ChiaoSen or QiaoSheng oleh temen
karena ga bisa bahasa Hokkien/KwoIe, jadi saya menyebut orang2 itu adalah
Totoq.
Saya sendiri punya tunangan mungkin bisa dibilang Totoq!
[Non-text portions of this message have been removed]
[Non-text portions of this message have been removed]
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
[Non-text portions of this message have been removed]
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
Namun kadang saya sendiri malu menjadi bagian etnis Cina Indonesia
ketika menemukan bahwa sejumlah warganya memang menyebalkan,
memalukan, TAK TAHU ADAB/TIDAK BERADAB, tapi sekaligus cengeng(*):
sepertinya memang paling bisa kalau urusan menghina kelompok lain: ada
hoana lah, ciao-sen/kiau-seng lah, lalu ada lagi sie-kiok (kaki empat?
entah apa lagi maksudnya!).
I.
(*) Cengeng, karena sementara sejumlah diantaranya sampai nangis2 pilu
teriak2 sebagai korban rasisme, diskriminasi (saya sendiri menentang
rasisme dan diskriminasi terhadap Cina Indonesia), dalam dirinya
sendiri (sejumlah orang Cina Indonesia tersebut) rasis dan
diskriminatif terhadap orang lain. MEMALUKAN!
Tidak semua tradisi masih relevan. Ada yang sudah
tidak sesuai dengan keadaan jaman. Tetapi ada juga
yang masih dan pantas dilakukan.
Semuanya berpulang kepada bagaimana kita di besarkan
dan latar belakang keluarga dan pergaulan. Tidak boleh
dilupakan pula, faktor kepercayaan juga menentukan
apakah tradisi perlu / boleh dijalankan atau tidak.
Soal istilah "totok" dan "peranakan" itu sangat sulit
untuk diterapkan kepada seseorang atau sekelompok
orang. Belum ada batasan yang jelas.
Ada yang sudah tidak bisa berbicara dan mengerti
sepatah pun bahasa mandarin, tetapi dalam menjalankan
tradisi masih kuat. Sebaliknya ada yang masih lancar
dalam berkomunikasi dalam dialek atau mandarin, tetapi
sudah lebih rileks dalam mengikuti tradisi.
Ada yang secara fisik masih kental sekali ke
Tionghoaan nya, tetapi tingkah lakunya dan cara
hidupnya sudah tidak. Ada juga yang sudah tidak
kelihatan (secara fisik) ke Tionghoaannya, tetapi
masih kuat dalam menjalankan tradisi.
Jadi istilah "totok" dan "peranakan" itu tidak
signifikan. Tidak mudah untuk mengklaim diri kita
masih "totok" atau "peranakan".
Satu hal yang pasti, jika kita berkunjung ke Tiongkok
maka kita semua adalah "hua qiau" ("orang Tionghoa di
perantauan").
____________________________________________________________________________________
Sponsored Link
Mortgage rates near historic lows:
$150,000 loan as low as $579/mo. Intro-*Terms
https://www2.nextag.com/
Orang2 kalau ketemu saya tidak akan mengira bahwa saya adalah org
keturunan....
Tapi, lama2 mereka pasti bertanya..dikarenakan mata saya yang masih
sipit..
tapi penampakan luar tidak karena saya tidak berkulit putih maupun kuning
seperti saudara2 saya..
Karena, ayah saya orang benteng yang berkulit hitam legam....
Pada kenyataannya, orang tua saya masih berbicara mandarin dan
mengharuskan kami anak2nya untuk bisa.
Dan untuk segala macam yang berhubungan dengan kebiasaan masih di
laksanakan..
seperti tata cara dalam melakukan sembahyang imlek atau ceng beng..
kebetulan kakek - nenek dari pihak ibu masih budha..jadi kami masih
melakukan sembahyang..
dan 1 org kakak dari ayah juga masih ada yg beragama budha..jadi beliaulah
yang setiap tahun repot dengan segala atribut sembahyang.
Kalau sudah begitu, rasa2nya totok & peranakan gak relevan yach...
Dan betul juga yg Russell bilang, kalau kita pergi ke cina maka kita
adalah hua qiao...
-Oline-
Russell Lim <lim_...@yahoo.com>
Sent by: budaya_...@yahoogroups.com
11/07/2006 07:10 AM
Please respond to
budaya_...@yahoogroups.com
To
budaya_...@yahoogroups.com
cc
Subject
[budaya_tionghua] Re: totok-peranakan
Dear all,
____________________________________________________________________________________
Sponsored Link
Yahoo! Groups Links
[Non-text portions of this message have been removed]
==========================================================
Salah satu faktor yang menyebabkan mengapa tradisi, adat istiadat
dan budaya Tionghoa hingga kini masih tetap hidup dikalangan
masyarakat yang sering disebut sebagai Cina Benteng adalah faktor
sistim kepercayaan yang mereka anut sejak jaman generasi
pendahulunya atau kakeknya yang datang bermukim disekitar
Tangerang. Mayoritas masyarakat Cina Benteng adalah penganut
kepercayaan Taoisme, Konghucu dan Buddhisne.
Kecuali Buddhisme yang berasal dari India, Taoisme dan Konghucu
bersumber dan berasal dari Tiongkok. Kedua kepercayaan (Taoisme &
Konghucu) ini dianggap sebagai dasar dan fondasi utama peradaban
orang Tionghoa sejak dua milenium yang lalu, dan kepercayaan inilah
yang menjadi jangkar peradabannya. Tradisi ini tetap hidup dan hadir
dalam kehidupan orang Cina Benteng sehari-hari yang tak
terpisahkan, walaupun mereka sudah tidak dapat menguasai bahasa
Mandarin lagi, karena banyak yang sudah hidup lebih dari 7 generasi
menetap di wilayah Tangerang.
Hadirnya tradisi kebudayan Tionghoa ini didalam masyarakat Cina
Benteng, dapat dijumpai dengan "meja abu" yang terletak didalam
rumah masing-masing, dimana para anggauta keluarga dapat
menjalankan ritual penghormatan kepada arwah atau spirit anggauta
keluarga yang sudah meninggal. Arsitektur rumah kayu tradisionil
mereka juga mudah dikenali dengan konstruksi kuda-kuda atap
bangunan yang menyerupai konstruksi kuda-kuda atap kelenteng.
Kebudayaan mereka dapat dikatakan sebagai kebudayaan sub-kultur
Tionghoa yang unik, karena mereka tetap memelihara dan hidup dalam
alam budaya tersebut, tetapi tidak dapat berbahasa Mandarin dan
penampilan fisiknya juga lebih mendekati ke fisik penduduk pribumi
setempat daripada fisik orang Tionghoa lainnya. Hal ini disebabkan
salah satunya oleh perkawinan campur antara masyarakat Tionghoa
dengan masyarakat pribumi lokal yang kerap terjadi.
Menjadi warga negara Indonesia dan sekaligus memelihara identitas
budaya ketionghoannya bukanlah dinilai sebagai dua hal yang saling
bertentangan oleh masyarakat Cina Benteng dan pribumi setempat.
Kedua kelompok etnis ini sudah hidup berdampingan dalam beberapa
generasi dengan damai selama lebih dari 200 tahun yang lalu, selama
perjalanan sejarah telah terjadi interaksi budaya dan akulturasi
diantara mereka seperti pada bidang seni suara, tari, panggung,
musik, instrumen musik, kostum, masakan, upacara perkawinan dan
sampai kepada konstruksi bangunan rumah dll.
Pada upacara pesta perkawinan pasangan cina benteng ini, biasanya
dilakukan dua kali pestanya, satu hari untuk tamu-tamu yang datang
dari masyarakat pribumi yang Muslim dan satu hari lagi untuk
masyarakat yang non-muslim (biasanya Tionghoa), hal ini dilakukan
karena perbedaan makanan yang akan disajikan. Bagi yang non-Muslim
biasanya disajikan panggang Babi Tangerang yang terkenal dan minuman
Bir.
Pada pesta perkawinan tradisional ini biasanya diramaikan juga
dengan musik Gambang Keromong (dengan lagunya yang populer
seperti, cinte manis berdiri, pecah piring, semar gurem dan onde-
onde, dll) serta tarian Cokek yang umummya datang dari daerah
sekitar Krawang dan pesta ini dianggap belum "afdol" kalau tidak ada
penari cokek yang sensual itu.
Proses interaksi dan akulturasi budaya ini berjalan secara alamiah
dan damai selama tidak bertentangan dengan tabu-tabu budaya dan
tradisi lokal atau kepercayaan masing-masing. Pertukaran budaya
ini telah memperkaya kebudayaan masing-masing pihak dan menjadi
aset budaya Tangerang, sehingga Pemda Tangerang menyelenggarakan
pesta-pesta budaya Tionghoa setiap tahunnya dalam festival
Cisadane, seperti pesta lomba perahu naga pada perayaan Pecun.
Perayaan Cap Go Meh juga dirayakan setiap tahunnya dengan dukungan
Pemda Tangerang.
Mungkin sebutan Cina Benteng dapat dikategorikan sebagai
nama "generik" yang mengacu pada pola budaya tertentu dan unik,
karena yang didefiniskan sebagai lingkup budaya Cina Benteng ini
tidak terbatas hanya masyarakat Tionghoa yang tinggal di wilayah
Tangerang saja, melainkan juga tersebar mulai dari Mauk, Tanjung
Pasir, Teluk Naga, Balaraja, Legok, Curug, Tigaraksa, Cikupa, Batu
Ceper, Serpong, Parung, Cileungsi sampai Jonggol. Pusat grafitasi
dan spiritual budaya "Cina benteng" terletak di Pasar Lama
Tangerang, dimana kelenteng Boen Tek Bio (Padumuttara) yang
dikatakan didirikan tahun 1750 terletak.
Daalm perjalanan sejarahnya, masyarakat cina benteng juga mengalami
gelombang pasang surut kehidupan. Pada jaman revolusi di
tahun 1946 telah terjadi gelombang pembunuhan massal yang kejam
terhadap warga Cina Benteng ini dan banyak yang mengungsi untuk
menyelamatkan hidupnya lari ke Jakarta dan sebagian ditampung di
gedung Sin Ming Hui (Chandra Naya).
Pada jaman Suharto, mereka juga mengalami tekanan politis dan budaya
selama 30 tahun. Selama periode "Sinophobia" ini, semua bentuk
ekspresi dan identitas budaya Tionghoa diharamkan, termasuk
masyarakat Cina Benteng, meraka tidak dapat merayakan Pecun, Cap Go
Meh, main Barongsai dll. dan bahkan nama-nama Kelenteng diharuskan
ganti nama dan tidak boleh beraksara Tionghoa lagi.
Tetapi Suharto dan pemerintahannya tidak berhasil untuk
menghapus ciri-ciri dan identitas budaya Cina Benteng ini, mereka
dengan pasif tetap mempertahankan identitas dan tradisi budaya
serta ritual kepercayaannya secara sembunyi-sembunyi, dirumah atau
di kelenteng, yaitu wilayah yang tidak dapat dikontrol langsung
oleh aparat pemerintahan Orba.
Disini kelenteng berperan dan berfungsi sebagai benteng sosial-
budaya yang terakhir dalam mempertahankan identitas kebudayaannya
serta memberikan perlindungan spiritual. Didalam wilayah kompleks
kelenteng ini, mereka relatif bebas dapat mengekspresikan
kebudayaannya dalam batas-batas tertentu, seperti pertunjukkan
Barongsai dan Wayang Potehi dll. Ditempat yang sama pula generasi
muda Cina Benteng mewarisi nilai-nilai budaya masyarakatnya melalui
pendidikan dan pertemuan sosial yang kerap diselenggarakan dalam
kompleks bangunan tersebut.
Secara umum, mata pencaharian utama masyarakat Cina Benteng lebih
dikenal sebagai petani, nelayan atau peternak babi yang
berpenghasilan rendah dan miskin, terutama yang hidup dipedesaan.
Banyak diantaranya tidak memiliki bukti kewarganegaraan Indonesia
(walaupun sudah hidup ratusan tahun di Tangerang), sehingga sukar
mendapatkan KTP, mendapatkan pekerjaan, atau nikah di catatan sipil
dll.
Kondisi ini diperburuk lagi oleh tingkat pendidikan mereka yang
masih relatif rendah, sehingga terjebak dalam lingkaran setan
ekonomi. Jadi stereotipe mereka bertolak belakang dengan stereotipe
warga Tionghoa lainnya yang menjadi opini publik selama ini.Selain
itu mereka juga jarang mendapatkan fasilitas yang bersumber dari
program bantuan pemerintah.
Itu adalah pandangan umum terhadap masyarakat Cina Benteng hingga
sekarang. Tetapi seiring dengan perkembangan jaman serta pergeseran
lapangan pekerjaan dari sektor tradisionil ke sektor modern, tidak
sedikit orang-orang Cina Benteng mencapai sukses dibidang usaha
atau profesi lainnya, menjadi pengusaha penggalian pasir, jasa
transportasi, peternakan unggas, tambak udang, kontraktor,
peternakan burung walet, industri kecil dan menengah, agen
kendaraan dll. Mereka juga memasuki sektor tenaga kerja
profesional seperti dokter, pengacara, insinyur, ahli keuangan dan
ilmu pengetahuan (seperti Mona Lohanda yang berkerja sebagai
peneliti di LIPI).
Masa depan
Karena lokasi geografisnya berdekatan dengan Jakarta, maka lokasi
mereka lambat laun mendapatkan imbas dari perkembangan kota Jakarta
yang meluas dan merambah sampai ke Tangerang. Tempat-tempat yang
dahulu dikenal sebagai lokasi-lokasi pemukiman Cina benteng mulai
terdesak dengan perkembangan kompleks perumahan modern, seperti
Lippo Karawaci, BSD, Alam Sutera, Citra Raya dll.
Perkembangan kawasan industri didaerah sekitar Tangerang juga
membawa perubahan kehidupan mereka, lahan-lahan yang sebelumnya
digunakan sebagai sawah oleh mereka, kini telah dijadikan kawasan
industri baru termasuk perluasan bandara Soekarno-Hatta di
Cengkareng. Peternakan Babi juga sudah drastis dikurangi. Proses
perkembangan kota Jakarta, industrialisasi, modernisasi telah
mempengaruhi pola kehidupan mereka. Generasi muda Cina Benteng
lambat laun telah meninggalkan sektor pekerjaan tradisionil dan
memasuki sektor modern yang lebih menjanjikan masa depannya.
Dengan perubahan ini, maka mereka juga mulai menyerap dan
mengadaptasi nilai-nilai budaya modern yang kosmopolitan dan
universal sifatnya, nilai-nilai dan tradisi lama Cina Benteng mulai
ditinggalkan secara lambat laun. Perubahan nilai budaya ini juga
terjadi ketika generasi muda pindah dari kepercayaan dan agama
tradisionil yang dianutnya sebelumnya (Taoisme, Konghucu, Buddha
dan Sam Kaw) ke kepercayaan lainnya seperti Islam atau Kristen,
seperti yang tak jarang terjadi selama ini sebagai akibat pendidikan
(pendidikan sekolah Kristen ) atau perkawinan dengan etnis lainnya
yang berlainan agama. Perubahan ini akan berdampak atas kontinuitas
budaya Cina Benteng dimasa depannya.
Sampai kini, diketahui ada beberapa peneliti yang telah mempelajari
dan mendokumentasikan sosial-budaya masyarakat Cina Benteng ini,
tetapi belum ada yang resmi diterbitkan sampai sekarang. Tulisan
sejarah dan sosial-budaya tentang mereka juga masih bersifat
fragmentasi, belum didokumentasikan secara lengkap dalam entuk
buku, sehingga dikhawatirkan akan dilupakan orang atau generasi
penerusnya dimasa depan.
Kebudayaan Cina Benteng adalah salah satu kebudayaan sub-kultur
Tionghoa Indonesia yang unik. Disebut unik, karena mereka
dianggap "terlalu Pribumi kalau dikatakan sebagai orang Tionghoa
dan terlalu Tionghoa kalau dikatakan sebagai orang Pribumi",
seperti yang pernah dikatakan oleh wartawan kawakan Kwee Kek Beng
pada sebelum perang dunia kedua yang lalu. Mereka adalah hasil
produksi dari sebuah sintesa dua kebudayaan (Tionghoa dan pribumi
lokal) dan merupakan bagian integral dan aset kekayaan dari
kebudayaan Indonesia yang majemuk.
Bagaimana dengan kontinuitas budaya mereka dimasa depannya? Apakah
arus perubahan dan modernisasi ini akan berdampak negatif akan
pelestarian budayanya ataukah akan mengalami revitalisasi di era
reformasi ini ? Pertanyaan yang masih bersifat spekulatif ini
hanya dapat dijawab oleh generasi muda Cina Benteng sendiri. Budaya
Gambang Kromong masih tetap dirindukan orang, ia dapat hidup
berdampingan dengan musik-musik rock yang modern secara harmonis.
GH.
Diferensiasi itu hal yang wajar terjadi, walaupun di dalam lingkup simetris,
di dalamnya tetap ada perbedaan. Kalo mau ditilik dalam sejarah Chinese,
"kasta-mengkasta" ini, sudah merupakan tradisi orang Chinese sendiri dari
jaman nenek moyang.
Best,
Richard
Saya kadang ikut ber'capek-capek' 'tempur' di sana-sini membela etnis
saya (untuk hal2 yang perlu dibela).
Namun kadang saya sendiri malu menjadi bagian etnis Cina Indonesia
ketika menemukan bahwa sejumlah warganya memang menyebalkan,
memalukan, TAK TAHU ADAB/TIDAK BERADAB, tapi sekaligus cengeng(*):
sepertinya memang paling bisa kalau urusan menghina kelompok lain: ada
hoana lah, ciao-sen/kiau-seng lah, lalu ada lagi sie-kiok (kaki empat?
entah apa lagi maksudnya!).
I.
(*) Cengeng, karena sementara sejumlah diantaranya sampai nangis2 pilu
teriak2 sebagai korban rasisme, diskriminasi (saya sendiri menentang
rasisme dan diskriminasi terhadap Cina Indonesia), dalam dirinya
sendiri (sejumlah orang Cina Indonesia tersebut) rasis dan
diskriminatif terhadap orang lain. MEMALUKAN!
[Non-text portions of this message have been removed]
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
Best,
Richard
Dik Richard,
Qiaosheng berasal dari qiao, yang berarti perantauan, Huaqiao adalah
Tionghoa perantauan. Sedang sheng bisa singkatan dari xuesheng atau pelajar,
bisa juga berarti lahir/kelahiran, ingat shengri berarti hari lahir. Jadi
Qiaosheng bisa diartikan:
1. Lahir di perantauan, akhirnya diterjemahkan peranakan atau
2. Pelajar dari perantauan.
Mudah-mudahan jelas, pengenai istilah peranakannya sangat tergantung tiap
orang, sudah dibahas oleh teman-teman lain
Salam
Liang U
Saya ingin bertanya tentang istilah Qiao Sheng (chiau sheng), istilah ini
kalau di Taiwan, artinya adalah Overseas Chinese atau lebih banyak dipakai
untuk menunjuk Overseas Chinese Students. Nah di Indo kog bisa di pakai
untuk menunjuk kalangan Chinese tertentu ? Kalau ada yang tau sejarahnya.
Salam,
Ida Khouw
--- In budaya_...@yahoogroups.com, "richardwu9" <richardwu9@...>
wrote:
>
> Dear Idakhouw,
Kalo mau ditilik dalam sejarah Chinese,
> "kasta-mengkasta" ini, sudah merupakan tradisi orang Chinese sendiri
dari
> jaman nenek moyang.
>
>
>
> Best,
>
>
>
> Richard
>
>
>
> Saya kadang ikut ber'capek-capek' 'tempur' di sana-sini membela etnis
> saya (untuk hal2 yang perlu dibela).
>
> Namun kadang saya sendiri malu menjadi bagian etnis Cina Indonesia
> ketika menemukan bahwa sejumlah warganya memang menyebalkan,
> memalukan, TAK TAHU ADAB/TIDAK BERADAB, tapi sekaligus cengeng(*):
> sepertinya memang paling bisa kalau urusan menghina kelompok lain: ada
> hoana lah, ciao-sen/kiau-seng lah, lalu ada lagi sie-kiok (kaki empat?
> entah apa lagi maksudnya!).
>
> I.
>
> (*) Cengeng, karena sementara sejumlah diantaranya sampai nangis2 pilu
> teriak2 sebagai korban rasisme, diskriminasi (saya sendiri menentang
> rasisme dan diskriminasi terhadap Cina Indonesia), dalam dirinya
> sendiri (sejumlah orang Cina Indonesia tersebut) rasis dan
> diskriminatif terhadap orang lain. MEMALUKAN!
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
Istilah "totok", "peranakan" atau apapun istilah lain
yang terkadang diberikan kepada seseorang dan atau
sekelompok orang, belum tentu tepat dan dapat dipakai
untuk menggeneralisasi.
Karena semuanya akan berpulang kembali kepada siapa
yang memberikan istilah nya.
Akan lebih positif dan bermanfaat jika kita (masuk
kategori "totok" maupun "peranakan") menyadari akar
kita dan mempertahankan hal-hal positif dari budaya
kita. Dan jangan lupa memperbaiki hal-hal yang
negatif.
Salam sejahtera.
____________________________________________________________________________________
Sponsored Link
Try Netflix today! With plans starting at only $5.99 a month what are you waiting for?
http://www.netflix.com/Signup?mqso=80010030
Valiant Virtue
--- In budaya_...@yahoogroups.com, "richardwu9" <richardwu9@...>
wrote:
>
Di Malaysia, tepatnya di Malakka, ada museum "Baba-Nonya", yang
menggambarkan budaya peranakan dipantai barat tanah Malayu. Ciri
cirinya, adalah bahasa, makanan, busana, interieur rumah, dsb.
Peranakan Tionghoa, baik di Malaysia ataupun Indonesia, adalah
mereka, yang biasanya menggunakan batik putih, menggunakan bahasa
Melayu Tionghoa, atau Belanda (di Malaysia Inggris), dengan makanan
khas, sebagian Tionghoa sebagian makanan Melayu, seperti satay, gado
gado, yang cukup pedas. Di Minahasa, kaum peranakan rata rata
menggunakan Melayu Manado.
Ini sama dengan peranakan Belanda, yang menggunakan banyak bahasa
Melayu, makan makanan lokal, juga banyak yang pakai kebaya. Sekali
setahun ada pasar Tongtong, yang adalah khas bagi kenangan lama
masyarakat peranakan.
Di Malakka, ada juga peranakan Portugis, yang menggunakan bahasa
khusus, Christao, yang tak dipahami lagi oleh orang Portugis. Mereka
sekali setahun menarikan tari tarian Portugis dengan baju tradisi
Portugis.
Salam
danardono
--- In budaya_...@yahoogroups.com, Russell Lim <lim_russ@...>
wrote:
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "RM Danardono HADINOTO"
<rm_danardono@...> wrote:
>
> ........................
> .......................
> Peranakan Tionghoa, baik di Malaysia ataupun Indonesia, adalah
> mereka, yang biasanya menggunakan batik putih, menggunakan bahasa
> Melayu Tionghoa, atau Belanda (di Malaysia Inggris), ......
>......................
>........................
>........................
=================================================
Mungkin yang dimaksudkan dengan batik putih yang digunakan oleh
Peranakan Tionghoa adalah kain kebaya putih?, karena pada umumnya
kain batik itu bermotif dan mempunyai warna yang menarik dan
artistik. Wanita peranakan Tionghoa yang berbusana kebaya batik
merupakan ciri khas dan identitas utama dari wanita peranakan
Tionghoa di pulau Jawa dahulunya.
Salah satu pengaruh kebudayaan peranakan Tionghoa yang paling
menonjol dalam karya seni Indonesia adalah seni batik, terutama
yang dinamakan sebagai batik pesisir. Dinamakan pesisir, karena kota-
kota yang menghasilkan kain batik ini seperti Indramyu, Cirebon,
Pekalongan, Lasem dan Tuban terletak pada pesisir utara pantai pulau
Jawa. Dan orang Tionghoa yang datang ke pulau Jawa pertama-tama
dan sebagian besar tinggal di kota-kota pesisir ini dan telah
terjadi proses akulturasi dengan kebudayaan lokal selama itu.
Berbeda dengan batik-batik dari pedalaman Jawa, atau disebut juga
sebagai batik "vorstenlanden" seperti batik Solo (Surakarta) dan
Jogya yang berwarna "sogan" sebagai unsur warna dominannya. Batik
pesisir lebih ceria, berani menggunakan warna, bermotif flora dan
fauna atau binatang-binatang mitologi serta kaya akan corak ragam
hiasnya (motif).
Motif-motif binatang mitologi, folklor, dan simbol kebudayaan
Tionghoa, seperti burung hong (phoenix), liong (naga), kupu-kupu,
kilin, banji (swastika atau simbol kehidupan abadi), dll banyak
menghiasi seni karya batik pesisir ini atau yang disebut sebagai
batik peranakan. Motif-motif atau corak ragam hias Tionghoa ini
banyak mendapatkan inspirasi dari motif benda keramik atau
porselin (Ming dan Ching) serta kain sutera Tiongkok .
Setiap kota memiliki corak ragam hias dan keunikan yang berbeda
dan khusus, seperti motif Mega-mendung, Peksi naga liman, Wadasan,
dan Banji pada batik Cirebon, motif batik Encim, Pagi-Sore, dan
Sam Pek Eng Tay yang bermotifkan kupu-kupu, sebagai lambang
kesetiaan dan pernikahan bahagia pada batik Pekalongan dan motif
Tiga negeri, Bangbiru, Lok-Chan pada batik Lasem. Batik Lasem
adalah salah satu batik pesisir yang indah dan bernilai artistik,
serta digemari banyak orang, dalam dan luar negeri.
Pengaruh motif Tionghoa yang paling dominan adalah pada batik Lasem
terutama dengan motif Lok Chan, secara harafiah berarti sutera
biru, mungkin karena untuk pertama kalinya kain ini dibuat dari
sutera, yang pada saat itu didatangkan dari Tiongkok dan berwarna
biru.(pengaruh dari keramik atau porselin Ming), tetapi warna
dominan dari batik Lasem adalah warna merah darah.
Pengaruh ragam hias Tionghoa yang dominan pada batik Lasem ini,
disebabkan karena jumlah penduduk Tionghoanya yang relatif banyak
dan telah bermukim lama di kota ini. Dalam sejarahnya, Lasem
adalah salah satu kota pertama di pulau Jawa yang didatangi dan
dikunjungi oleh komunitas Tionghoa. Di Lasem masih banyak bangunan-
bangunan bergaya arsitektur tradisionil Tiongkok yang dikelilingi
oleh tembok tinggi. Sineas Remy Silado bahkan mengambil shooting
film "Ca Bau Kan" di Lasem sebagai salah satu lokasinya yang
terpilh, karena suasana komunitas Tionghoanya yang masih kental.
Batik peranakan dari Lasem ini sangat digemari dan populer pada
masyarakat Sumatra Barat dan digunakan sebagai syal oleh kaum
prianya dalam upacara adat di Sumatera Barat. Demikian juga di Bali,
Lombok dan Sumbawa, batik Lok Chan ini dipakai dalam upacara adat,
pelengkap busana dan lambang atau status kedudukan seseorang.
Batik-batik pesisir yang mempunyai nilai seni dan artistik ini
banyak menghiasi museum-musem dan kolektor pribadi di mancanegara.
Fungsi batik peranakan pesisir ini, bukan hanya digunakan sebagai
busana, seperti kebaya saja atau upacara adat saja, melainkan juga
digunakan sebagai alas meja sembahyang atau disebut Tokwi pada
masyarakat peranakan Tionghoa.
Mungkin yang paling populer di kalangan masyarakat peranakan
Tionghoa, adalah batik Encim dari Pekalongan yang banyak dipakai
oleh wanita-wanita peranakan Tionghoa sebagai kebaya (kebaya
Encim) pada waktu dahulu. Motif batik Encim sebenarnya adalah
batik yang dipengaruhi oleh campuran budaya Tionghoa dan budaya
Belanda (Eropah). Warnanya diinspirasikan oleh warna
porselin "famille rose" dan "famille verte" (porselin dari periode
dinasti Ching) yang berwarna pastel dadu (pink) dan biru, sedangkan
motifnya dari Eropah, yaitu "buketan" atau segenggam bunga (berasal
dari kata bouquet).
Batik Encim ini adalah identitas utamanya wanita peranakan
Tionghoa. Pada jaman sekarang wanita peranakan Tionghoa hanpir
jarang memakai kebaya Encim lagi, kecuali pada acara-acara
tertentu. Tetapi ini bukan berarti bahwa batik Encim sudah dilupakan
orang sama sekali. Beberapa fashion disainer muda berbakat telah
menemukan kembali warisan budaya batik Encim ini dan mendisain
kembali bahan batik Encim ini menjadi busana modern dengan
interpretasi kontemporer.
Mungkin pria terkenal yang sering mengenakan busana batik adalah
Gus Dur dan Nelson Mandela dari Afrika Selatan, dan bahkan kadang-
kadang presiden SBY juga mengenakannya. Terakhir terlihat SBY
mengenakan batik pesisir Cirebon dengan motif Megamendung yang
indah. Hal ini berbeda dengan anggauta-anggauta DPR-RI kita yang
sekarang lebih berbangga mengenakan busana modern Jas yang dibuat
dari bahan wol, daripada busana batik yang dibuat dari kain mori.
GH.
Saya hanyalah penjual bakmi, bukanlah kaum akademis, jadi sulit untuk bisa
memaparkan seperti yang anda inginkan. "Kasta-mengkasta" atau kelas
masyarakat ngga sama ya? atau apalah istilahnya, kan sudah terjadi sejak
jaman kaisar, kalau jadi pejabat sastra / jenderal perang bisa menginjak
rakyat kecil seperti manusia menginjak kecoak saja. Ini yang kesan yang saya
dapatkan dari beberapa kali menonton film2x klasik Mandarin di sela2x waktu
istirahat menjual bakmi, seperti Samkok, hong lou meng, qin shi huang.
Best,
Richard
Kasta atau kelas masyarakat ? Bisa tolong dipaparkan secara akademis
sejarah yang mana tentang "kasta-mengkasta" merupakan tradisi sejak
jaman nenek moyang ?
Valiant Virtue
[Non-text portions of this message have been removed]
Nah ini baru informasi namanye, sekarang jelas bahwa totoq & peranakan
bukan karena diskriminasi, tapi dibedain karena keragaman BUDAYA TiongHua di
luar Tiongkok!
With the all-new
Yahoo! Mail Beta
Nimbrung sedikit,
Mungkin yang disebut batik putih itu hanya membedakan dengan batik Indonesia lain yang kebanyakan berlatar coklat, baik coklat muda, maupun coklat tua. Sedang batik peranakan dasarnya putih, dihiasi kembang dan hiasan lain yang berwarna merah, biru atau hijau. Meskipun sama-sama batik, bedanya kontras. Karena yang memakai batik ini biasanya berbeda, batik corak putih ini yang dikenal batik Nonya, dan hanya dipakai oleh orangt Tionghoa.
Baju kebayanya biasanya berwarna polos, kebanyakan putih, tapi ada yang berwarna muda, misalnya merah muda, hijau muda dan sebagainya, tapi pasti polos, bagian bawahnya tidak rata, tapi panjang di depan, jadi ujungnya agak lancip, biasanya diberi renda atau sulaman lain.
Kebaya berkembang ada, latar putih kembang biasanya biru, ini untuk orang tua, nenek-nenek. Singapore mempunyai musium yang memamerkan budaya peranakan. Bahkan tahun lalu ada pesta perkawinan peranakan yang disponsori biro turis dan diadakan upacara besar di musium. Penonton banyak, terutama turis. Memang tujuannya menarik turis.
Pernah saya katakan saya sendiri tak senang menggunakan istilah peranakan dan totok, semua Tionghoa, tapi kalau untuk penamaan budaya, agar mudah dibedakan bolehlah, asal tidak untuk diskriminasi. Jangan lupa budaya di Tiongkok sendiri tiap daerah berbeda. Budaya kita di Indonesia kebanyakan berasal dari budaya Hokkian dan Kheq yang dominan. Orang Tiociu , Hainan, Jasirah Leizhou, Taiwan adalah turunan imigran Hokkian yang pindah ke sana. Orang Kheqpun terdapat di Taiwan, Hunan, Sichuan di Tiongkok barat.
Semoga menambah penjelasan.
Salam
Liang U
----- Original Message ----
From: Golden Horde <ha19wir@yahoo.com>
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Sent: Thursday, November 9, 2006 3:21:37 AM
Subject: [budaya_tionghua] Re: totok -peranakan & batik peranakan
--- In budaya_tionghua@ yahoogroups. com, "RM Danardono HADINOTO"
<rm_danardono@ ...> wrote:
>
> ............ ......... ...
> ............ ......... ..
> Peranakan Tionghoa, baik di Malaysia ataupun Indonesia, adalah
> mereka, yang biasanya menggunakan batik putih, menggunakan bahasa
> Melayu Tionghoa, atau Belanda (di Malaysia Inggris), ......
>........... ......... ..
>........... ......... ....
>........... ......... ....
============ ========= ========= ========= ========= =
__________________________________________________________
Sponsored Link
Talk more and pay less. Vonage can save you up to $300 a year on your phone bill.
Sign up now. http://www.vonage.com/startsavingnow/
[Non-text portions of this message have been removed]
Mungkinkah yang dimaksud "batik putih" ini bukanlah batik, tapi baju kemeja bordiran putih yang biasa dipakai para nyonya perankan, dikombinasikan dengan kebaya batik dibawahnya?
ZFy
----- Original Message -----
From: liang u
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Sent: Thursday, November 09, 2006 11:16 AM
Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: totok -peranakan & batik peranakan
Nimbrung sedikit,
Mungkin yang disebut batik putih itu hanya membedakan dengan batik Indonesia lain yang kebanyakan berlatar coklat, baik coklat muda, maupun coklat tua. Sedang batik peranakan dasarnya putih, dihiasi kembang dan hiasan lain yang berwarna merah, biru atau hijau. Meskipun sama-sama batik, bedanya kontras. Karena yang memakai batik ini biasanya berbeda, batik corak putih ini yang dikenal batik Nonya, dan hanya dipakai oleh orangt Tionghoa.
Baju kebayanya biasanya berwarna polos, kebanyakan putih, tapi ada yang berwarna muda, misalnya merah muda, hijau muda dan sebagainya, tapi pasti polos, bagian bawahnya tidak rata, tapi panjang di depan, jadi ujungnya agak lancip, biasanya diberi renda atau sulaman lain.
Recent Activity
a.. 21New Members
Visit Your Group
SPONSORED LINKS
a.. Indonesian languages
b.. Dan
c.. Indonesian
d.. Indonesian language course
e.. Indonesian language learn
Ads on Yahoo!
Learn more now.
Reach customers
searching for you.
Yahoo! Mail
Get on board
You're invited to try
the all-new Mail Beta.
Y! Messenger
Talk it up - free!
Call your friends
worldwide - free!
.
[Non-text portions of this message have been removed]
Call your friends
worldwide - free!
Saat ini perbedaan totok dan peranakan memang ditentukan berdasarkan bahasa. Orang totok adalah orang Tionghoa yang menggunakan bhs Tionghoa sebagai ibu (bhs antara orang tua dengan anaknya, di rumah). Sedangkan Peranakan adalah orang Tionghoa yang menggunakan bhs lokal (bhs Melayu, Jawa, Sunda, Indonesia, Madura, Bali, dll) sebagai bhs ibu.
Dalam menjalankan tradisi/ritual Tionghoa, orang totok tidak selalu lebih tahu/mengerti dibandingkan orang peranakan. Contohnya: orang peranakan di daerah Tangerang mungkin lebih ketat dalam melaksanakan ritual dalam perkawinan dan kematian secara Tionghoa dibandingkan orang totok di Medan.
Menurut saya, unsur yang lebih menentukan apakah seorang Tionghoa 'masih' menjalankan tradisi Tionghoa, adalah agama, bukan perbedaan totok dan peranakan.
Orang Tionghoa Peranakan di Tangerang yang 'masih' mengikuti tradisi Tionghoa sebagian besar adalah penganut Khonghucu atau Tridharma. Mereka akan 'lebih banyak' mengikuti tradisi Tionghoa dibanding orang totok (atau bahkan orang Tionghoa di RRT, Hongkong, Taiwan) yang beragama Kristen atau Islam atau Buddha Theravada.
salam,
KH
Recent Activity
23
New Members
Visit Your Group
SPONSORED LINKS
Indonesian languages
Dan
Indonesian
Indonesian language course
Indonesian language learn
New business?
Get new customers.
List your web site
in Yahoo! Search.
Yahoo! Mail
Next gen email?
Try the all-new
Yahoo! Mail Beta.
Y! Messenger
All together now
Host a free online
conference on IM.
.
---------------------------------
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.
[Non-text portions of this message have been removed]
Betul sekali. Waktu saya masih kecil, saya seringkali diajak ibu
bertamu ke teman teman beliau. nah, baiasalah, ibu ibu ketemu, yang
ngobrol mengenai masalah wanita. Terutama masalah batik.
Kami di Jawa, walau batik hampir semua berlatarkan warna cokelat,
membedakan antara batik Solo dan Jogya. dari mendengarkan siibu dan
tante tante mengobrol, saya tahu mengenai batik Pekalongan, yang
adalah busana wanita Tionghoa (tepat, dengan kebaya putih). Dari
sana saya tahu, kalau batik Pekalongan itu, bahannya lain dari batik
Jawa, yakni sutra. Dimata saya, anak yang masih kecil, batik
Pekalongan lebih menarik polanya, lalu tanya ibu, kok tidak memakai
batik Pekalongan? Ibu menjawab, itu tergantung kebaya yang dipakai.
Kini, menikah dengan wanita Minahasa, saya tahu, bahwa kebaya wanita
Minahasa, adalah diambilkan dari kebaya wanita peranakan, yakni
putih. Demikian pula di Malukku. Ini terjadi, karena pembauran di
Minahasa lebih intensif daripada di Jawa. Ini kita lihat pula, dari
makam tradisonal Minahasa (dari masa pra Kristiani), yang
dinamakan "Waruga", kebanyakan diisi dengan pot pot dan bahan rumah
tangga keramik Tionghoa.
Kebaya ini saya lihat juga di Malakka, terutama di-gambar gambar
dimuseum Baba-Nonya.
Budaya campuran ini juga dapat kita lihat di Lasem, pemukiman
Tionghoa yang termasuk tertua di pantai utara Jawa.
Salam
Danardono
With the all-new
Yahoo! Mail Beta
Host a free online
conference on IM.