KOMPAS - Jumat, 06 Juli 2007
Sekolah Bersejarah
Nasib Sariputra dan Sekolah-sekolah Inggris-China...
Iwan Santosa
Ribuan alumnus menyemut bergantian datang ke Sekolah Sariputra di tepi
Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat, Sabtu (30/6). Mereka berfoto bersama,
gembira bertemu kawan lama sekaligus sedih karena hari itu sekolah yang
menggelar pendidikan TK hingga SMA itu mengakhiri kegiatan untuk selamanya.
Sekolah itu mengakhiri kegiatannya setelah melalui tiga zaman:
penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, dan Republik Indonesia.
Sekolah yang tutup itu memiliki sejarah panjang, seperti sejumlah
sekolah Tionghoa di masa lalu, yakni Ba Hua dan Hua Zhong.
Sebagai catatan, sedemikian tinggi mutu pendidikan sekolah Tionghoa di
Batavia pada awal abad ke-20 sehingga sekolah serupa di Malaya dan Singapura
didirikan dengan mengadopsi model Batavia.
Sekolah jenis ini menghasilkan tenaga profesional di Asia Tenggara
pada awal abad ke-20. Pada periode tersebut, aktivis pergerakan nasional
antikolonialisme seperti Tan Malaka pun sempat mengajar di sekolah Tionghoa
di Singapura.
Seorang sesepuh Tionghoa Pancoran, Tian Li Tang, menjelaskan, bahasa
pengantar pendidikan adalah Inggris dan guru-guru terbaik didatangkan.
Sebagian besar alumni sekolah Tionghoa berkurikulum Inggris itu melanjutkan
pendidikan perguruan tinggi di Singapura, Australia, bahkan Britania Raya!
Riwayat Sariputra berawal pada tahun 1932, didirikanlah Batavia
English School di bilangan Mangga Besar. Bodhiwan (66), mantan guru dan
Kepala Sekolah SMA Sariputra tahun 1969-1999 menjelaskan, sekolah
selanjutnya pindah ke kawasan Jalan Jayakarta sebelum masa kemerdekaan.
"Memasuki masa republik, sekolah itu pun pindah ke Jalan Hayam Wuruk
di lokasi sekarang dan berganti nama menjadi Sariputra. Sariputra adalah
murid terbaik Sang Buddha. Para siswa sekolah itu pun diharap mampu
meneladani kecerdasan dan kebaikan Sariputra," kata Bodhiwan.
Belasan ribu orang telah mengenyam pendidikan di Sariputra. Wirya
Kalyana (62), mantan Kepala Sekolah SMP Sariputra dan guru Elektronik serta
Agama Buddha, menjelaskan, pada awal tahun 1980-an jumlah seluruh siswa
TK-SMA mencapai 1.800 orang.
"Waktu tahun 1980-an jadi masa keemasan Sariputra. Alumni kami
tersebar di pelbagai bidang. Salah satu yang berhasil adalah Ibu Siti
Hartati Murdaya. Banyak keluarga turun-temurun bersekolah di sini," kata
Wirya dengan mata menerawang.
Sepanjang siang, alumni yang berusia separuh abad hingga menjelang 20
tahun berdatangan menyalami para mantan guru mereka. Jabat tangan dan
pelukan tidak kuasa menahan kesedihan sekolah yang bagi sebagian alumninya
adalah lembaga yang mendidik kakek-nenek, orangtua, kakak-adik mereka.
Angel (19), alumnus SMA Sariputra tahun 2006, merasa sedih karena
sekolah tercintanya ditutup. "Kami saling dekat. Apalagi pada tahun 2000-an
jumlah siswa satu angkatan hanya puluhan orang. Bahkan, angkatan saya waktu
lulus hanya 12 orang," kata Angel.
Bodhiwan menjelaskan, pihak pengurus yayasan akhirnya menutup sekolah
tersebut untuk selamanya. Jumlah siswa yang terus turun seolah lesu darah
dan akhirnya tutup, sebuah akhir yang tragis bagi sebuah lembaga pendidikan!
Sekolah tersebut juga memiliki keunikan karena keberadaan wihara
dengan relief perjalanan hidup Sang Buddha, dan yang terutama adalah relik
atau bagian tubuh suci berupa rambut Sang Buddha yang diberi oleh umat
Buddha Sri Lanka.
Relik itu terletak di atas altar utama bersama patung Sang Buddha.
Selebihnya, terdapat altar berikut meja abu Banthe dan keluarganya. Bodhiwan
menambahkan, wihara tersebut merupakan wihara berelief pertama yang
didirikan tahun 1953.
Nasib serupa terlebih dahulu menimpa Ba Hua dan Hua Zhong, yang
terletak di bilangan pecinan Glodok-Pancoran dan kawasan Jayakarta. Belasan
sekolah Tionghoa berbahasa pengantar Inggris harus tutup pada periode akhir
1940-an hingga 1950-an. Pemerintah yang ultranasionalis kala itu menutup.
Kini yayasan penerus sekolah Hua Zhong masih dapat ditemui di Jalan
Bandengan Utara. Para sopir angkutan umum pun masih menyebut daerah di
sekitar sekolah itu dengan sebutan "Huacung".
Dadu sudah bergulir, belum jelas kelak menjadi apa Sekolah Sariputra.
Satu per satu bekas chinese-english school surut pamornya. Apakah nasib
malang yang menimpa gedung Chandranaya (Sin Ming Hui) yang digempur
kepentingan komersial dan kini dikepung pertokoan akan terulang di
Sariputra?
[Non-text portions of this message have been removed]