----quote----
T : Memimpin begitu lama, Anda pasti mengalami diskriminasi atau pengekangan
saat kebudayaan Tionghoa coba diberangus. Seperti apa?
J : (Akiong tak langsung menjawab). Saya pribadi berpendapat bahwa tidak ada
diskriminasi. Buktinya, tempat ibadah Tri Dharma masih tetap ada. Saya punya
wayang potehi (wayang boneka khas Tiongkok) yang juga masih tiap hari
tampil. Barongsai saya pun masih bisa tampil untuk upacara-upacara ritual.
T : Tapi, apakah itu berarti tidak ada masalah selama ini?
J : Saya tidak mengatakan itu. Tapi, apakah saya harus mengatakan bahwa ada
diskriminasi, padahal saya tidak merasa didiskriminasi.
----end quote----
Apakah cerita Ong Khing Kiong sudah terdistorsi ? (Silakan diklarifikasi)
Atau mungkin pikiran kita yang terdistorsi ? Hanya mau mendengar apa yang
sudah kita percaya ?
* BTW, di milis ini pernah ada yang mengatakan klenteng ditutup (pada masa
orba). Saya tertarik untuk mengetahui lebih lanjut. Jika ada yang mengalami
bisa tolong diceritakan. Supaya tidak terdistorsi. Terimakasih.
Prometheus
-----Original Message-----
JAWA POS, Minggu, 03 Feb 2008,
Ong Khing Kiong, tentang Perayaan Imlek dan Tradisi Tionghoa
Saya Merasa Tidak Didiskriminasi
Ong Khing Kiong menjadi ketua Perhimpunan Tempat Ibadah Tri Dharma Seluruh
Indonesia sejak 1983. Bagi umat Tri Dharma, dia adalah salah seorang penjaga
tradisi suci agama tersebut.
Apa sesungguhnya makna Imlek bagi umat?
Memang, saya mengakui bahwa masih banyak salah kaprah dan salah sangka
tentang Imlek atau tentang berbagai hal. Misalnya, ada omongan bahwa Imlek
terkait dengan festival-festival atau kue keranjang. Bukan itu. Memang, saat
Imlek, toko-toko, plaza, dan hotel berhias merah. Saya tidak memungkiri dan
tidak mempermasalahkan. Boleh-boleh saja para pedagang memanfaatkan
momen-momen hari raya tertentu. Tapi, makna Imlek yang sejati bukan itu.
Bagaimana penggambaran makna Imlek tersebut?
Imlek (Sin Cia Wan Tan) amat penting. Itu adalah hari pertama dan timbulnya
matahari pertama. Itu berbarengan juga dengan detik terakhir tahun yang
lama. Peredaran satu tahun adalah lingkaran yang dikatakan wan. Artinya,
permulaan dan titik pertama. Itu berarti permulaan kehidupan atau dunia baru
yang baru saja meninggalkan malapetaka. Dapat juga dikatakan sebagai
penyucian alam. Pada saat itu, alam menurunkan banyak air yang seakan-akan
mencuci semua yang lama, yang membawa pergi kotoran dan menjadi suci bersih.
Irama alam juga berbentuk lingkaran. Karena itu, umat meniru alam yang baru
saja menyelesaikan lingkaran satu tahun dengan sempurna. Demikian pula, umat
mengadakan penyatuan kembali. Antaranggota keluarga bersatu. Mulai yang
paling tua hingga yang baru lahir, disambung yang akan lahir dan menghubungi
yang wafat. Itulah yang dinamakan lingkaran besar dan pada saat itulah
dikatakan manunggaling kawula gusti.
Karena itu, Imlek selalu hujan?
(Akiong tertawa). Betul. Tapi, secara hukum alam tidak bisa dijelaskan
begitu. Imlek adalah awal musim semi. Musim yang dihitung dengan perhitungan
peredaran bulan yang cocok dengan peredaran musim. Musim semi kan berarti
hujan. Artinya, kalau musim semi tidak hujan, ya berarti ada yang tidak
benar dalam siklus alam tersebut.
Terkait dengan tahun yang baru, apa arti terbesar Imlek?
Rek rek sin, yu rek sin. Ada hari, ada pembaruan. Semangat pembaruan itulah
yang penting. Tapi, pembaruan yang bagaimana? Jin ai sin ming. Pembaruan
yang positif, yang mewujudkan cinta kasih, layaknya orang tua dan anak atau
raja dengan rakyat.
Rojo iku lak onok sanepane. Apa sanepa raja? Rojo itu Roh kang ngejawantah,
Tuhan yang menjelma. Itulah makanya ada sabdha pandhita ratu. Titah raja itu
suci. Dalam bahasa Mandarin, Raja itu wang. Tulisannya, tiga garis mendatar
dihubungkan satu garis tegak. Raja itu menghubungkan langit (Tuhan),
manusia, dan bumi.
Lha kalau romo (ayah) itu berarti roh kang utama. Itu sebabnya anak harus
berbakti kepada orang tuanya.
Anda sudah mengetuai Perhimpunan Tempat Ibadah Tri Dharma (PTITD) Seluruh
Indonesia selama lebih dari 20 tahun. Bagaimana ceritanya?
Saya juga tidak tahu. Itu mungkin bagian dari karma saya. Memang, kebetulan,
Pak Ong Kie Tjay adalah ayah saya. (Ong Kie Tjay adalah penggagas dan
pendiri PTITD. Pada 15 Mei 1967, PTITD tingkat Jatim lahir. Setahun
kemudian, pada 25 Desember 1968, PTITD seluruh Indonesia didirikan. Dengan
itu, PTITD resmi menjadi wadah tunggal TITD (kelenteng-kelenteng) di
Indonesia. Ong Kie Tjay lantas menjadi ketua PTITD seluruh Indonesia hingga
wafat pada 1985. Dia pun digelari Bapak Tri Dharma Indonesia.)
Tapi, meski begitu, pemilihan ketua tersebut berlangsung sangat demokratis.
Walaupun Papa saya menjadi ketua begitu lama, pemilihannya juga tetap
menjunjung demokrasi. Itu juga terjadi pada saya. Padahal, dalam perhimpunan
tersebut, banyak yang lebih senior dan berpengalaman dibandingkan saya. Saya
juga tidak tahu mengapa saya terpilih. Namun, saya tetap berusaha
menjalankan tugas dan kepercayaan ini sebaik mungkin. Wong saya ini kalau
ndak ada kertas suara ya ndak berani jalan.
Memimpin begitu lama, Anda pasti mengalami diskriminasi atau pengekangan
saat kebudayaan Tionghoa coba diberangus. Seperti apa?
(Akiong tak langsung menjawab). Saya pribadi berpendapat bahwa tidak ada
diskriminasi. Buktinya, tempat ibadah Tri Dharma masih tetap ada. Saya punya
wayang potehi (wayang boneka khas Tiongkok) yang juga masih tiap hari
tampil. Barongsai saya pun masih bisa tampil untuk upacara-upacara ritual.
Tapi, apakah itu berarti tidak ada masalah selama ini?
Saya tidak mengatakan itu. Tapi, apakah saya harus mengatakan bahwa ada
diskriminasi, padahal saya tidak merasa didiskriminasi. Tapi, saya dan
rekan-rekan memang pernah memperjuangkan untuk menghapus Inpres No 14/1967
yang dalam pelaksanaannya banyak distorsi. (Inpres No 14/1967 mengatur
tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat China. Dalam inpres itu, warga
Tionghoa memang diistilahkan sebagai China. Salah satu poin dalam inpres,
pelaksanaan tata cara ibadat Tionghoa harus dilakukan secara intern dalam
hubungan keluarga atau perorangan. Perayaan pesta agama dan adat istiadat
pun tidak boleh dilakukan secara mencolok di depan umum. Dalam
perkembangannya, inpres tersebut ditindaklanjuti Keputusan Bersama Medagri
dan Jaksa Agung No 76/1980 dan Inmendragri No 455.2-360).
Apa yang Anda nilai tidak pas pada inpres tersebut?
Dalam inpres disebut tentang agama, kepercayaan, dan adat istiadat China.
Artinya, apakah ada agama China (Tionghoa). Itu yang saya rasa harus
diperbaiki. (Inpres tersebut akhirnya dicabut dengan Kepres No 6/2000 pada
masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid).
Banyak yang mengkritik, anak muda sekarang kian jauh dari agama. Bagaimana
menurut Anda?
Itu tidak benar. Wong tempat-tempat ibadah agama di mana-mana semakin
banyak. Tapi, yang membikin saya prihatin justru anak-anak muda yang tidak
menjalankan nilai-nilai agama dan adatnya. Yang pesta narkoba lah, dan
sebagainya.
Sebagai warga Tionghoa, Anda terlihat menyukai bahkan menguasai filosofi
Jawa.
Haha... (Akiong tertawa lepas). Saya kan dilahirkan di tanah Jawa. Saya ini
tidak berpendidikan. Pendidikan saya rendah. Tapi lha kok iso koyok ngene?
Itu karena saya banyak belajar secara otodidak. Saya pengusaha. Saya sering
mendapat kesempatan berkeliling ke daerah-daerah. Itu juga saya gunakan
untuk bertemu orang-orang pandai, orang-orang yang dituakan. Saya banyak
belajar dari mereka.
Apa saja yang Anda pelajari?
Ada petuah yang saya terima begini, "Ngger, kowe ojo bodho-bodho. Kowe iki
kudu ngerti papan pancer. Kudu ngerti papan dununge." Apa maksudnya?
Artinya, saya harus menyadari tempat saya berpijak. Saya harus menyadari
karma-karma saya.
Anda dikenal sebagai pribadi yang tidak suka diekspos, tidak suka tampil di
media. Mengapa?
(Akiong tersenyum) Saya ini bukan siapa-siapa. Saya ini pelayan, bukan
tokoh. Saya memang tidak suka tampil di media. Tapi, saya sempat kecolongan.
Saat saya memimpin upacara, besoknya ada foto saya di koran. (Akiong
tersenyum lagi). Saya sebenarnya kaget. Bagaimana bisa ada foto saya? Tapi,
ternyata ada umat yang berkata, "Lha, ngene gelem masuk koran." Artinya apa?
Kadang ada juga umat yang ingin pemimpinnya tampil. Itu juga karma saya.
Jadi, meski saya tidak bersekolah, saya juga punya karma untuk memberikan
pencerahan. (doan widhiandono)
Tentang Ong Khing Kiong
Nama lengkap : Ong Khing Kiong
Nama akrab : Akiong
Alamat: : Jl Urip Sumoharjo
Istri : dra Oei Kong Mee MPd
Anak : 1. Ming Shan Wang
2. Ming Tan Wang
Pendidikan : SD Si Hwa
SMP Sin Cung
Jabatan : - Ketua I (Bidang Keagamaan) dan Ketua Harian Perhimpunan Tempat
Ibadah Tri Dharma Indonesia.
- Ketua I dan Ketua Harian Tempat Ibadah Tri Dharma Hong Tik Hian, Jalan
Dukuh.
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.20/1259 - Release Date: 4/2/2008
8:42 PM
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
.: Website global http://www.budaya-tionghoa.org :.
.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.
.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:budaya_tion...@yahoogroups.com
mailto:budaya_tionghu...@yahoogroups.com
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
budaya_tiongh...@yahoogroups.com
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
pada waktu saya meneliti klenteng di Jakarta (kurang lebih 30 buah menurut daftar Salmon), saya banyak ngobrol dengan pengurus klenteng.
ada beberapa klenteng kecil yang khawatir kalau setelah pengurus (yang rata rata sudah tua) itu sudah meninggal, trus tidak ada yang mampu meneruskan, juga tidak ada sokongan dana dari pengunjung (yang mungkin sudah pindah ke tempat lain... atau tidak ada regenerasi - banyak faktor) maka klenteng tersebut harus ditutup (tentu juga atas persetujuan Kongco "pemilik" klenteng). Pemerintah setempat hanya menyokong pengurusan administrasi - tekanan untuk menutup hanya karena pemerintah tidak mau atau tidak mampu menyokong berlangsungnya klenteng bersangkutan (mungkin saja itu dianggap bukan urusan mereka kan). jadi penutupan klenteng karena pemaksaan sih belum pernah denger....
yang pasti di bandengan selatan mestinya selain klenteng untuk Ma Co Po, selang beberapa rumah mestinya ada klenteng lain (di daftar Salmon ada). tapi ternyata sudah tertutup, tidak berpenghuni (walaupun saya melihat masih ada mobil parkir di halamannya). saya coba ketok waktu itu ga ada orang. akhirnya nyerah.....
sesuai hukum alam, kadang penutupan klenteng terjadi secara alami.....
greysia
----- Original Message ----
From: Prometheus <prometheus_promise@yahoo.com.sg>
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Sent: Tuesday, February 5, 2008 6:13:55 AM
Subject: [budaya_tionghua] FW: "Saya Merasa Tidak Didiskriminasi"
* BTW, di milis ini pernah ada yang mengatakan klenteng ditutup (pada masa
orba). Saya tertarik untuk mengetahui lebih lanjut. Jika ada yang mengalami
bisa tolong diceritakan. Supaya tidak terdistorsi. Terimakasih.
Prometheus
__________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals?
Find them fast with Yahoo! Search. http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping
[Non-text portions of this message have been removed]
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, greysia susilo junus
<greysiagreysia@...> wrote:
>
> pada waktu saya meneliti klenteng di Jakarta (kurang lebih 30 buah
menurut daftar Salmon), saya banyak ngobrol dengan pengurus klenteng.
> ada beberapa klenteng kecil yang khawatir kalau setelah pengurus
(yang rata rata sudah tua) itu sudah meninggal, trus tidak ada yang
mampu meneruskan, juga tidak ada sokongan dana dari pengunjung (yang
mungkin sudah pindah ke tempat lain... atau tidak ada regenerasi -
banyak faktor) maka klenteng tersebut harus ditutup (tentu juga atas
persetujuan Kongco "pemilik" klenteng). Pemerintah setempat hanya
menyokong pengurusan administrasi - tekanan untuk menutup hanya
karena pemerintah tidak mau atau tidak mampu menyokong berlangsungnya
klenteng bersangkutan (mungkin saja itu dianggap bukan urusan mereka
kan). jadi penutupan klenteng karena pemaksaan sih belum pernah
denger....
> yang pasti di bandengan selatan mestinya selain klenteng untuk Ma
Co Po, selang beberapa rumah mestinya ada klenteng lain (di daftar
Salmon ada). tapi ternyata sudah tertutup, tidak berpenghuni
(walaupun saya melihat masih ada mobil parkir di halamannya). saya
coba ketok waktu itu ga ada orang. akhirnya nyerah.....
>
> sesuai hukum alam, kadang penutupan klenteng terjadi secara
alami.....
>
> greysia
>
>
Sebuah referensi yang menarik mengenai nasib kelenteng dimasa lalu:
Klenteng, vihara dan Orde Baru
Banyak umat awam yang tidak mengerti perbedaan dari klenteng dan
vihara. Klenteng dan vihara pada dasarnya berbeda dalam arsitektur,
umat dan fungsi. Klenteng pada dasarnya beraritektur tradisional
Tionghoa dan berfungsi sebagai tempat aktivitas sosial masyarakat
selain daripada fungsi spiritual. Vihara berarsitektur lokal dan
biasanya mempunyai fungsi spiritual saja. Namun, vihara juga ada yang
berarsitektur tradisional Tionghoa seperti pada vihara Buddhis aliran
Mahayana yang memang berasal dari Tiongkok.
Perbedaan antara klenteng dan vihara kemudian menjadi rancu karena
peristiwa G30S pada tahun 1965. Imbas peristiwa ini adalah pelarangan
kebudayaan Tionghoa termasuklah itu kepercayaan tradisional Tionghoa
oleh pemerintah Orde Baru. Klenteng yang ada pada masa itu terancam
ditutup secara paksa. Banyak klenteng yang kemudian mengadopsi nama
Sansekerta atau Pali, mengubah nama sebagai vihara dan mencatatkan
surat izin dalam naungan agama Buddha demi kelangsungan peribadatan.
Dari sinilah kemudian umat awam sulit membedakan klenteng dengan
vihara.
Setelah Orde Baru digantikan oleh Orde Reformasi, banyak vihara yang
kemudian mengganti nama kembali ke nama semula yang berbau Tionghoa
dan lebih berani menyatakan diri sebagai klenteng daripada vihara.
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Klenteng
Salam
Danardono
Waktu kecil saya tinggal selisih satu rumah dng Klenteng. Jadi saya tahu
persisi perkembangan klenteng diwaktu pergantian rezim ORla ke Orba itu.
Peristiwa yang ditulis di bawah ini benar2 saya saksikan sendiri. ketika
itu simbol2 agama budha tiba2 hadir mendominasi seluruh ruang klenteng.
pengurusnya pun berganti pakaian khusus agama Budha.
salam,
ZFy
Cuman nanya untuk menegaskan aja.
Jadi penutupan Kelenteng secara sepihak oleh pemerintah mah kaga ada
ya??
> Sumber: HYPERLINK
"http://id.wikipedia.org/wiki/Klenteng"http://id.wikipedia-.org/wiki/-Kl
enteng
>
> Salam
>
> Danardono
>
>
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.20/1259 - Release Date:
2/4/2008 8:42 PM
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.20/1259 - Release Date:
2/4/2008 8:42 PM
[Non-text portions of this message have been removed]
Tapi di Wikipedia juga nggak ada penjelasan isu penutupan kelenteng oleh
pemerintah.
Gue cuman sekedar penasaran aja, isu itu gue pernah dengar, tapi nggak
pernah temukan ceritanya,
jadi begitu ditanya, "Oh ya, dimana tuh? Gimana cerita lengkapnya?"
Orang selalu menghindar dengan jawaban melat-melit dan berujung
"katanya..."
Makanya gue bilang, akhirnya semua masalah ujungnya percaya percayaan,
kita percaya apa yang INGIN kita dengar,
dan menolak untuk percaya apa yang TIDAK SESUAI dengan keinginan kita.
Mencoba keluar dari frame tersebut, untuk berpijak pada data dan fakta,
seringkali butuh effort besuaaarrrrr...... yang kadang prosesnya tidak
menyenangkan.
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Klenteng
Salam
Danardono
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.20/1259 - Release Date:
2/4/2008 8:42 PM
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.20/1259 - Release Date:
2/4/2008 8:42 PM
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
.: Website global http://www.budaya-tionghoa.org :.
.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.
.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.
Ulysee: "Makanya gue bilang, akhirnya semua masalah ujungnya percaya
percayaan,kita percaya apa yang INGIN kita dengar"
Percaya? kayak dirumah ibadat dong? pulau Buru, Tanjung priok, DOM di
Aceh, soal SBKRI, peristiwa Mei kan cuman soal percaya nggak,. gitu
yahhh? kita gak percaya, swuppp, gak terjadi...ini sejarah apa kisah
takhyul?
Kita gak percaya harga kedelai dan sembako naik, swupp, harga kedelai
gak naik...
Mari menyanyi "Sorak sorak bergembira, bergembira kita semua..."
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "Ulysee" <ulysee_me2@...>
wrote:
ini bukan katanya, tapi ada dikoran kompas atau majalah tempo ya di
taon 80an.
Lu khan orang Bandung, coba ke jalan kelenteng sono en tanya ama yg
tua2. Ada gak yg mo segel kelenteng ?
Untung aje pengurusnye berani ngelawan.
Nasib kelenteng gak beda ama org Samin hehehehehehehe
Dipaksa masuk agama Buddha tuh. Belon lage temen2 lu yg antek2nya
Sindhunata yg maki2 budaya tenglang terus2an.
En kemana2 koar2 budaya tenglang, kelenteng bla bla bla itu najis,
ngehambat persatuan, intoleransi , ekslusif segala amcem.
Lu tanya agamanya ape tuh ? Sodara seiman lu bukan ?
Gak percaya ? loe cari aja SK MENDAGRI taon 1968 en lu baca isinya.
Terus jg lu cari apa yg disebut DEWI alias DEWAN WIHARA INDONESIA.
Trus soal larangan bahasa MANDARIN , loe cari SK DEWAN GRAFITI dan
PERS taon 1988.
Trus lu baca tuh tulisan DANANJAYA, lu liat ada BRIGJEN ( POL )
Soekisman. Yg nama lengkapnye seh W.D Soekisman.
Nah loe ke kantor Harian Indonesia di Kota sono, tanya sapa Soekisman ya.
UDAH JGN BANYAK CUAP2, CARI SENDIRI.
Nah itoe gak ada tuh di buku sakti loe ygn judulnye "TIONGHOA DALAM
PUSARAN POLITIK"
Yg megang data getu2an itoe org Kongkaw. Tanya ame W.S INDARTO dah.
Kalu die gak megang ya lu mesti ke SOERABAJA sono.
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "Ulysee" <ulysee_me2@...> wrote:
>
Wah kok 'diskusinya' jadi kayak gini ya.
Para Moderator, saya protes. Tulisan seperti dibawah ini apa tidak
menjurus ke penghinaan/pembenturan antar agama? ("Lu tanya agamanya
ape tuh ? Sodara seiman lu bukan ?")
Sdr Ardian, btw, pak Ong Khing Hiong (yg masuk feature "saya tidak
merasa didiskriminasi") itu pengurus salah satu klenteng tertua di
surabaya lho. Please note, saya tidak meragukan data bahwa ada
klenteng yg dipaksa tutup. Tetapi yg saya ragukan adalah "semua
klenteng mengalami hal tersebut". Diskriminasi memang ada, walau
kadarnya mungkin berbeda2 antar tempat.
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "ardian_c" <ardian_c@...> wrote:
>
> Nasib kelenteng gak beda ama org Samin hehehehehehehe
> Dipaksa masuk agama Buddha tuh. Belon lage temen2 lu yg antek2nya
> Sindhunata yg maki2 budaya tenglang terus2an.
> En kemana2 koar2 budaya tenglang, kelenteng bla bla bla itu najis,
> ngehambat persatuan, intoleransi , ekslusif segala amcem.
> Lu tanya agamanya ape tuh ? Sodara seiman lu bukan ?
Apalagi kalau tidak salah, sdr Ardian adalah salah satu anggota tim
moderator bukan? Apakah maksud sdr Ardian, bahwa karena Sindhunata
beragama XYZ, maka sindhunata berusaha 'menghabisi' agama/kepercayaan ABC?
Saya heran bagaimana mungkin seorang moderator (bila benar moderator
lho ya, kalo bukan moderator, mohon maap) melakukan ad hominem dan
melontarkan opini yg jelas2 berbau SARA. Bukankah milis ini
'mengharamkan' opini yg menjelek2an SARA?
Mohon perhatian dari moderator.
salam,
jimmy
emang kenyataannya begitu kok.
Liat aja ada org LPKB di Surabaya yg taon 60an terang2an nulis di
majalah Liberty soal getu.
Masak gak tau seh ?
Ataw pura2 gak tau ?
Ataw emang gak tau ?
Ini kenyataannya, lagian yg namanya others itu selalu serang
kepercayaan org laen secara alus tuh. Apalagi kepercayaan orang
tionghoa. Lagian kalu org mo percaya ama kwamia kek ape kek nape die
mesti repot2 bawa2 nama Tuhan segala macem ?
Biarin aja toh !!!!! Emangnye kalu dia gak percaya ama kwamia2an mesti
paksa pake cara alus biar org laen ikut kayak dia ? Emangnye die bisa
bantu org laen yg mo tanya ame tukang kwamia ? Org aje kalu kesulitan
pasti minta bantuan ame yg laen, mo yg keliatan kek, yg kagak kek.
Nah sekarang mulai keliatan kalu emang ada segelintir tenglang yg
jelas2 anti budaya tenglang en dia org itu nangkring di LPKB.
Duh betapa cepetnya dunia berubah en ngelupain kelakuan dia org.
Pinternya lage die org bikin Suharto jadi bempernya en die org
berlindung tenang en nyaman tuh.
Apalagi Sindhunata yg dapet bintang penghargaan dari pemerintah jaman
Habibie. Apa die org mo minta maaf ke tenglang2 yg jadi korban politik
dia org ?
Urusan pelarangan tulisan mandarin aje dibawa2 ke urusan RRT, lha
jaman sebelon kejadian G30S aje dah ada keinginan mo ngelarang tulisan
mandarin tuh. Trus jg mo ngelarang kegiatan2 budaya tenglang. Yg
semuanya itu nangkring di LPKB.
En faktanya emang pada jaman getu khan yg ikut2an ngehujat budaya
tenglang itu banyak, dari yg agamanya Kristen sampe yg Buddha
Theravada ala Thailand.
Yg kesian itu para tenglang penganut kepercayaan tradisinya tjoema
bisa diem ngelus dada ngedengerin aja diledekin dimana2.
INI FAKTA BOENK !!!!!
Sayangnya dia org gak bisa bikin data base yg canggih kayak org laen.
Emang ada bbrp yg bantu en ngedukung integrasi, tapi jg disisihkan
secara alus. Tau father Zhang di semarang ? Pendiri sekolah Theresiana
tuh. Itu father aja masih hormat ama Kong Zi en Kwan Kong. Gambarnya
aja dipasang dikamarnya. Berjuang ngebelain anak2 ex sekolah zhongwen
yg ditolak ataw dipersulit dibanyak tempat.
kondisi waktu itu lebih banyak yg ngehujat daripada yg simpati ama
berempati. Parahnya lage itu banyak dilakukan oleh para agamawan
hehehehehehehehehe. Artinye toleransi itoe tjoema dimulut doank. Kalu
Hok Im tong mah sama jg boenk, mana mau hormatin leluhurnye sendiri
semodel Kong Zi.
Malah gw belon lama dapet tulisan dari gak tau "agama" mana yg bawa2
nama Meng Zi ame Kong Zi tapi ujung2nye ngejatoin nama itu 2 org.
Entar kalu gw tulis agamanya ape, dianggepnye ngehina lage.
OPO TUMON ? Masak kalah ama kata Kong Zi yg bilang "SESAMA PENGANUT
JALAN SUCI DILARANG SALING MENGHUJAT".
Terus terang gw mulai geregetan ngeliat perilaku2 yg kadang nyebelin
dari umat agama laen. Mulutnye ngomonk toleransi tapi prakteknya
nendang2in agama laen. Nah ente termasuk yg mana ?
Termasuk pengikut kata2 Kong Zi ape termasuk yg nendangin agama2 laen ?
Emang pada jualan kecap kale ya.
Baca sono tulisan prof James Dananjaya en telaah pelan2 sambil ngopi
ataw ngeteh getu. Trus bandingin ama tulisan kamu yg awal2 itu yg
bicara GAK ADA DISKRIMINASI di universitas negri en so on. Dia aja
tadinye pendukung asimilasi tapi bisa berubah pikiran jadi pendukung
integrasi. Tulisannya itu termasuk tulisan yg jujur.
Urusan tulisan itu urusan pribadi ,bedain tulisan waktu nulis pribadi
sama tulisan yg bawa2 nama moderator.
Dahlah dah mo Xinnian. Xinnian Kuaile Wanshi Ruyi
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "Jimmy Tanaya"
<tanaya.geo@...> wrote:
>
> Wah kok 'diskusinya' jadi kayak gini ya.
>
> Para Moderator, saya protes. Tulisan seperti dibawah ini apa tidak
> menjurus ke penghinaan/pembenturan antar agama? ("Lu tanya agamanya
> ape tuh ? Sodara seiman lu bukan ?")
>
> Sdr Ardian, btw, pak Ong Khing Hiong (yg masuk feature "saya tidak
> merasa didiskriminasi") itu pengurus salah satu klenteng tertua di
> surabaya lho. Please note, saya tidak meragukan data bahwa ada
> klenteng yg dipaksa tutup. Tetapi yg saya ragukan adalah "semua
> klenteng mengalami hal tersebut". Diskriminasi memang ada, walau
> kadarnya mungkin berbeda2 antar tempat.
>
> --- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "ardian_c" <ardian_c@> wrote:
> >
> > Nasib kelenteng gak beda ama org Samin hehehehehehehe
> > Dipaksa masuk agama Buddha tuh. Belon lage temen2 lu yg antek2nya
> > Sindhunata yg maki2 budaya tenglang terus2an.
> > En kemana2 koar2 budaya tenglang, kelenteng bla bla bla itu najis,
> > ngehambat persatuan, intoleransi , ekslusif segala amcem.
> > Lu tanya agamanya ape tuh ? Sodara seiman lu bukan ?
>
> Apalagi kalau tidak salah, sdr Ardian adalah salah satu anggota tim
> moderator bukan? Apakah maksud sdr Ardian, bahwa karena Sindhunata
> beragama XYZ, maka sindhunata berusaha 'menghabisi'
agama/kepercayaan ABC?
>
> Saya heran bagaimana mungkin seorang moderator (bila benar moderator
> lho ya, kalo bukan moderator, mohon maap) melakukan ad hominem dan
> melontarkan opini yg jelas2 berbau SARA. Bukankah milis ini
> 'mengharamkan' opini yg menjelek2an SARA?
>
> Mohon perhatian dari moderator.
>
>
> salam,
> jimmy
>
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "Jimmy Tanaya" <tanaya.geo@...>
wrote:
>
>> --- deleted--------
> Sdr Ardian, btw, pak Ong Khing Hiong (yg masuk feature "saya tidak
> merasa didiskriminasi") itu pengurus salah satu klenteng tertua di
> surabaya lho. Please note, saya tidak meragukan data bahwa ada
> klenteng yg dipaksa tutup. Tetapi yg saya ragukan adalah "semua
> klenteng mengalami hal tersebut". Diskriminasi memang ada, walau
> kadarnya mungkin berbeda2 antar tempat.
>
*** Ooooo ada yang ditutup to? Kata si mbak Ulysee berita bohong tu,
ada kelenteng di tutup? jangan lupa, SEMUA kelenteng terancam ditutup
kala itu, andai tidak diganti nama menjadi vihara (bukan kelenteng
lagi) dan bernama bahasa Sanskrit, bukan dalam bahasa Tionghoa. Tapi
ini menurut si mbak Ulysee "kepentingan negara" kali ya? bagaimana mbak
Grey?
Chat over IM with
group members.
Ardian heng, syuuusyaaahhh, nanti dikatakan, kita hanya percaya yang
kita mau percaya. Jadi kalau dia percaya kelenteng tak pernah ditutup
atau diancam tutup, ya dianggap tidak terjadi.. ha ha ha
Salam sejarah
Danardono
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "ardian_c" <ardian_c@...>
wrote:
>
Maklumlah Ardian Xiong, biasanya keturunan langsung suku kaninbal yang baru dapat penceahan justru yang ngaku paling beradab.
----- Original Message -----
From: ardian_c
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Sent: Wednesday, February 06, 2008 2:02 PM
Subject: [budaya_tionghua] Re: sdri Greysia: kelenteng dan masa reformasi
emang kenyataannya begitu kok.
Liat aja ada org LPKB di Surabaya yg taon 60an terang2an nulis di
majalah Liberty soal getu.
Masak gak tau seh ?
Ataw pura2 gak tau ?
Ataw emang gak tau ?
Ini kenyataannya, lagian yg namanya others itu selalu serang
kepercayaan org laen secara alus tuh. Apalagi kepercayaan orang
tionghoa. Lagian kalu org mo percaya ama kwamia kek ape kek nape die
mesti repot2 bawa2 nama Tuhan segala macem ?
Biarin aja toh !!!!! Emangnye kalu dia gak percaya ama kwamia2an mesti
paksa pake cara alus biar org laen ikut kayak dia ? Emangnye die bisa
bantu org laen yg mo tanya ame tukang kwamia ? Org aje kalu kesulitan
pasti minta bantuan ame yg laen, mo yg keliatan kek, yg kagak kek.
Nah sekarang mulai keliatan kalu emang ada segelintir tenglang yg
jelas2 anti budaya tenglang en dia org itu nangkring di LPKB.
Recent Activity
a.. 19New Members
Visit Your Group
New web site?
Drive traffic now.
Get your business
on Yahoo! search.
Dog Zone
on Yahoo! Groups
Join a Group
all about dogs.
Weight Loss Group
on Yahoo! Groups
Get support and
make friends online.
.
----------------------------------------------------------
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.20/1261 - Release Date: 05/02/2008 20:57
[Non-text portions of this message have been removed]
Pak Danar,
Jangan pakai kata2 pelarangan, ditutup, memberangus dll, ini menyalahi bahasa santun Orde baru lho! menurut kamus pantas Pak Harto, bukan "ditangkap", yang benar adalah "diamankan" ( siapa yang tak mau dibuat aman?) , jangan pakai kata "penjara", yang benar adalah "Lembaga pemasyarakatan" dll dll.
Kalau menyebut klenteng ditutup, pasti akan diprotes oleh para pembela orba. kalau masih ada orang yang bisa menyelinap masuk, ya bukan ditutup. paling dibatasi. paling pengurusnya dimintai keterangan, kalau masih ngeyel paling diamankan( aman2 saja). kalau bahasa Tionghoa tidak boleh di tempat umum, kan masih boleh nyanyi di kamar mandi, berarti hanya "sekedar" dibatasi, bukan diarang, gitu aja kok ngeluh. Kalau saya tidak bisa menerbitkan dan menjual buku di muka umum, itu juga bukan pelarangan, kan saya masih boleh mengedarkan buku saya diantara saudara2 saya yang serumah. jangan cengeng gitu.
Hanya saya sering masih bingung, orang2 yang menganggap kebijakan2 Tionghoa suharto di masa lalu sangat tepat dan bijaksana, mengapa kok ikut2an bersuka ria di millis " budaya Tionghoa " ini ya? apa tak takut nanti dicap pengkhianat nantinya? dari namanya saja sudah sangat menantang: Budaya Tionghoa ! ----Budaya Cina saja sudah menyalahi peraturan pemerintah, malah pakai istilah Tionghoa yang sudah diinstruksikan untuk diganti (bukan dilarang lho). Inikan kan nama yang sangat Subversib!
Salam,
ZFy
----- Original Message -----
From: RM Danardono HADINOTO
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
----------------------------------------------------------
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.21/1265 - Release Date: 07/02/2008 11:17
[Non-text portions of this message have been removed]
Host a free online
conference on IM.
Iya deh mas, "di-aman-ken".
Lha mbak Greysia iki piye to? Tadinya berpantun ria mau buktikan
semua kelenteng masih kompelit, lalu toh katakan, ada yang ditutup.
Lha wong paman saya, jendral Sumantri*) almarhum, orang Jawa yang
menghormati Kwankong, dan pernah bertakhta sebagai pimpinan Walubi
(walau lahir sebagai Muslim Jawa), menceritakan, bahwa kelenteng
kelenteng "dirangkul" umat Buddha, disulap jadi Tridharma, diberi
nama Vihara dan nama berbahasa Sanskerta, tak boleh pakai nama
Tionghoa, kalau tidak, dilarang, bisa bisa didatangi Koramil, kok ada
yang ngeyel?
Syusah mas, syusyahh..
Salam sejarah dan budaya
Danardono
PS: mbak Grey-nya kemana ya?
*) Beliauw adalah mantan ajudan almarhun jendral Gatot Subroto yang
menganut Buddha, yang dengan lantang selalu mengatakan "Saya beragama
Buddha" (walau sebaliknya banyak penganut Konghucu yang disaat indah
gemilang itu lintang pukang mengambil kepercayaan lain, tapi ada yang
balik lagi, malah beberapa yang jadi bikkhu).
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "Skalaras" <skalaras@...>
wrote:
Pak danardono,
Apakah klenteng Hong tiek hian -surabaya, pernah berganti nama menjadi
vihara XYZ? Pak danardono, anda katakan semua kan, jadi harusnya
klenteng HTH tersebut juga berganti nama menjadi Vihara xyz. Tolong
dong, saya dimutakhirkan datanya.
saya tunggu jawaban anda.
salam,
jimmy
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "RM Danardono HADINOTO"
<rm_danardono@...> wrote:
>
> *** Ooooo ada yang ditutup to? Kata si mbak Ulysee berita bohong tu,
> ada kelenteng di tutup? jangan lupa, SEMUA kelenteng terancam ditutup
> kala itu, andai tidak diganti nama menjadi vihara (bukan kelenteng
> lagi) dan bernama bahasa Sanskrit, bukan dalam bahasa Tionghoa. Tapi
> ini menurut si mbak Ulysee "kepentingan negara" kali ya? bagaimana mbak
> Grey?
>
Para moderators, terutama bung Ardian,
1. Saya menunggu jawaban dari moderator mengenai protes saya dalam hal
reply sdr Ardian (ada di bagian 'ekor' message ini).
2. Saya menanyakan kembali, apakah milis budaya_tionghua masih 'setia'
pada rel-nya utk tidak mendiskusikan (apalagi menjelek2an) SARA?
Bung Ardian, menulis sebagai pribadi dan moderator itu memang beda.
Saya juga moderator/owner di beberapa milis, maka, dalam batas2
tertentu, saya juga mengerti pembedaan tersebut. Namun, sebagai
moderator (dan penulis) ada 'kewajiban tidak tertulis' utk menjaga
dengan amat sangat agar tulisan 'moderator/pribadi' tersebut tidak
melanggar aturan milis. Lah kan jadinya lucu, masak moderator
melanggar aturan milisnya sendiri? Bila pelanggar lain diberi sanksi,
lalu apa sanksi bagi moderator yg melanggar? Nah, sekali lagi, karena
kerumitan2 yg mungkin ditimbulkan oleh pelanggaran 'moderator' itulah;
maka para moderator/owner sangat berhati2 dalam menulis.
Bila orang lain melakukan kesalahan, bukan berarti kita juga 'boleh'
melakukan kesalahan yg sama. Bukankah demikian bung Ardian?
salam,
jimmy
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "ardian_c" <ardian_c@...> wrote:
>
---cut----
> Urusan tulisan itu urusan pribadi ,bedain tulisan waktu nulis pribadi
> sama tulisan yg bawa2 nama moderator.
>
> Dahlah dah mo Xinnian. Xinnian Kuaile Wanshi Ruyi
>
> --- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "Jimmy Tanaya"
moderator laennya lagi pada off alias libur panjang, banyak yg pada
pulang kampoenk. Sementara ini saat2 sincia, ogut the only one yg bisa online.
So yg dituntut itu apa ?
Permintaan maaf dari saya ?
Kalu emang itu yg dituntut, oke sy minta maap.
Tapi gak abis pikir yg bikin ente pundung itu apa ?
AD HOMINEM buat sapa ? si uly atau Sindhunata ?
Ataw tersinggung gara2 tulisan "Lu tanya agamanya ape tuh ? Sodara
seiman lu bukan ?"
Soal tulisan yg ngejelek2in budaya Tionghoa ataw agama Khonghucu mah
bejibun. Coba numpank tanya, ente tau gak tulisan2 kayak getu ?
En kenapa seh bisa ada begituan ? Oknum ya ? Kalu jawaban ente oknum
ya wis toh, mo apalagi.
Tapi mbok ya dipikir , apa ada tulisan dari org agama KHC yg jelek2in
agama laen ?
Nah sekarang kita lari kekasus LPKB ama kegiatannya yg anti budaya
Tionghoa termasuk agama org Tionghoa.
Tau apa kata Sindhunata ? MENYALAHKAN AGAMA KHONGHUCU !!!!
Trus tau gak kalu LPKB itu ada yg mengkoordinir ? Namanye pater Joop
Beek. Tau nama M.F Lim Hok Liong dari Surabaya ? Coba cari tau tuh
gimana pandangan die soal agama Khonghucu.
Lha emangnya salah apa agama Khonghucu ama Sindhunata en Lim Hok
Liong. Terang2an tuh ngobarin semangat anti agama Khonghucu.
Lagian kok aneh ya satu pater bisa2nya ikut2an ama satu lembaga yg
jelas2 anti satu budaya laen.
Eits, ntar gw dituduh menghina agama lage.
Kenapa oh kenapa mrk yg darahnya tionghoa begitu bencinya sama agama KHC ? Ada yg bisa jelasin kenapa ?
Yg jelas sampe hari ini belon ada pernyataan minta maap atas perlakuan yg tidak menyenangkan utk org2 KHC dari grup mereka.
Gw yakin si uyl tau SK Dirjen Grafiti & Pers 1988, gw yakin die jg tau
urusan custom decleare en so on, lha die jg bukunya bejibun en tukang
baca jg. Kok bisa2nye melintat melintut seh ?
Kalu saya nyinggung sara ataw kalu mo pake bahasa laen anti agama
tertentu, ngapain bawa2 nama alm.pater zhang seh ?
Justru pater itu yg hebat, waktu jaman budaya tionghoa disikat, dia
diem2 berani ngelawan lewat ngebangun sekolaan.
Bisa bedain ama perilaku pater Zhang yg pendiri sekola THERESIANA gak ?
Ntar kalu gw tulis soal paus Pius ke 12 , bisa2 dituduh anti Katolik
lage. Boenk kenyataan sejarah itu mesti diterima jgn mentang2
"sesama", mo sesama suku kek, agama kek, apa kek, kita langsung tutup
mata.
Tapi biar ada bahasan, ayo bahas kenapa ada oknum2 LPKB begitu
bencinya ama budaya Tionghoa apalagi ama agama Khonghucu.
Itu bukannya biang keluarnya kebijakan Soeharto utk org Tionghoa ?
Kenape seh yg dibahas itu selalu aje SOEHARTO anti TIONGHOA ?
Tapi gak pernah mikir kalu LPKB itu yg mulai kegiatan anti budaya
tionghoa dari sebelon adanya G30S ?
Berani bahas ini ?
Ataw pada diem semua , belagak gak tau, trus cari kambing itemnya bernama SOEHARTO ?
Napa pada gak berani singgung ataw diskusi soal LPKB yg isinye banyak
org2 tenglang yg anti budaya tionghoa ?
Kalu gw seh setuju ame satu tulisan dimilist ini yg bilang kalu
biangnye itu LPKB yg pengaruhin Soeharto.
Gw jg kaget ada tulisan Danajaya yg terang2an bilang ada diskriminasi di UMPTN, yg lucunya ada yg ngaku bilang gak ada tuh.
Sekali lagi , maap aja kalu tulisan "Lu tanya agamanya ape tuh ?
Sodara seiman lu bukan ?" bikin boenk tersinggung.
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "Jimmy Tanaya"
<tanaya.geo@...> wrote:
>
> Para moderators, terutama bung Ardian,
>
> 1. Saya menunggu jawaban dari moderator mengenai protes saya dalam hal
> reply sdr Ardian (ada di bagian 'ekor' message ini).
> 2. Saya menanyakan kembali, apakah milis budaya_tionghua masih 'setia'
> pada rel-nya utk tidak mendiskusikan (apalagi menjelek2an) SARA?
>
> Bung Ardian, menulis sebagai pribadi dan moderator itu memang beda.
> Saya juga moderator/owner di beberapa milis, maka, dalam batas2
> tertentu, saya juga mengerti pembedaan tersebut. Namun, sebagai
> moderator (dan penulis) ada 'kewajiban tidak tertulis' utk menjaga
> dengan amat sangat agar tulisan 'moderator/pribadi' tersebut tidak
> melanggar aturan milis. Lah kan jadinya lucu, masak moderator
> melanggar aturan milisnya sendiri? Bila pelanggar lain diberi sanksi,
> lalu apa sanksi bagi moderator yg melanggar? Nah, sekali lagi, karena
> kerumitan2 yg mungkin ditimbulkan oleh pelanggaran 'moderator' itulah;
> maka para moderator/owner sangat berhati2 dalam menulis.
>
> Bila orang lain melakukan kesalahan, bukan berarti kita juga 'boleh'
> melakukan kesalahan yg sama. Bukankah demikian bung Ardian?
>
>
> salam,
> jimmy
>
Judulnya boleh gede "saya merasa tidak didiskriminasi" tapi isi
tulisannya kok beda hehehehehehe
coba aja baca
"Saya tidak mengatakan itu. Tapi, apakah saya harus mengatakan bahwa ada
diskriminasi, padahal saya tidak merasa didiskriminasi. Tapi, saya dan
rekan-rekan memang pernah memperjuangkan untuk menghapus Inpres No 14/1967
yang dalam pelaksanaannya banyak distorsi. (Inpres No 14/1967 mengatur
tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat China. Dalam inpres itu,
warga
Tionghoa memang diistilahkan sebagai China. Salah satu poin dalam inpres,
pelaksanaan tata cara ibadat Tionghoa harus dilakukan secara intern dalam
hubungan keluarga atau perorangan. Perayaan pesta agama dan adat istiadat
pun tidak boleh dilakukan secara mencolok di depan umum. Dalam
perkembangannya, inpres tersebut ditindaklanjuti Keputusan Bersama Medagri
dan Jaksa Agung No 76/1980 dan Inmendragri No 455.2-360).
Apa yang Anda nilai tidak pas pada inpres tersebut?
Dalam inpres disebut tentang agama, kepercayaan, dan adat istiadat China.
Artinya, apakah ada agama China (Tionghoa). Itu yang saya rasa harus
diperbaiki. (Inpres tersebut akhirnya dicabut dengan Kepres No 6/2000 pada
masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid)."
isi judul wawancara emang kadang bisa dibikin semaunya ama redaksi seh :D
Itu khan jawaban diplomatis daripertanyaannya
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "Prometheus"
Chat over IM with
group members.
Ya, didalam wawancara Ong Khing Kiong (OKK) menyebutkan masalah dalam inpres
no. 14/1967 tsb.
---quote---
T: Apa yang Anda nilai tidak pas pada inpres tersebut?
J: Dalam inpres disebut tentang agama, kepercayaan, dan adat istiadat China.
Artinya, apakah ada agama China (Tionghoa). Itu yang saya rasa harus
diperbaiki. (Inpres tersebut akhirnya dicabut dengan Kepres No 6/2000 pada
masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid).
---end quote---
Yang saya tangkap adalah OKK menganggap istilah "agama Cina/Tionghoa" tidak
pas didalam inpres tsb, karena tidak ada yang namanya "agama Cina/Tionghoa".
Saya tidak tertarik untuk menduga-duga apakah jawaban dia ("merasa tidak
didikriminasi") diplomatis atau tidak. Menurut saya, tiap orang punya
pengalaman sendiri-sendiri, ada yang merasa di-diskriminasi (untuk aspek
yang berbeda-beda, misalnya, kebebasan menyelenggarakan ibadah, atau akses
mendapat buku mandarin, dll), ada juga yang tidak. Dan pengalaman tsb tidak
bisa disamaratakan.
Prometheus
--- In budaya_...@yahoogroups.com, "Prometheus"
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
.: Website global http://www.budaya-tionghoa.org :.
.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.
.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.
Yahoo! Groups Links
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.21/1267 - Release Date: 8/2/2008
8:12 PM
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.21/1267 - Release Date: 8/2/2008
8:12 PM
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
.: Website global http://www.budaya-tionghoa.org :.
.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.
.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.
Ini yang saya juga pernah dengar yang terjadi di Jawa Timur, di sekitar
tahun 1968. Oleh penguasa militer Jawa Timur waktu itu, papan nama klenteng
yang beraksara mandarin, diwajibkan untuk diganti dengan aksara latin. Jika
tidak dilakukan, klentengnya terancam ditutup. Oleh karena itu, papan nama
kemudian dipindahkan ke dalam (agar tidak kelihatan di luar) dan papan luar
nya diganti dengan aksara latin. Apakah kejadian ini kemudian merembet ke
daerah lain, saya kurang tahu. Sempat disebutkan pula bahwa pemerintah pusat
tidak merestui tindakan penguasa militer di Jawa Timur ini.
Mungkin harus dicermati pula apa alasan-alasan/latar belakang klenteng
terancam "mau-ditutup". Antara satu klenteng dengan klenteng yang lain,
mungkin bisa berbeda-beda alasan. Saya pun pernah mendengar, persaingan
antar yayasan/organisasi masyarakat dan keagamaan (budha, sam kauw, khong
kauw ?) kadang ikut mempengaruhi.
Silakan rekan-rekan yang pernah mengalami/mendengar bisa ikut cerita dan
koreksi.
Prometheus
-----Original Message-----
From: budaya_...@yahoogroups.com
[mailto:budaya_...@yahoogroups.com] On Behalf Of ardian_c
Sent: Wednesday, 6 February, 2008 12:48 PM
To: budaya_...@yahoogroups.com
Subject: [budaya_tionghua] Re: sdri Greysia: kelenteng dan masa reformasi
ini bukan katanya, tapi ada dikoran kompas atau majalah tempo ya di
taon 80an.
Lu khan orang Bandung, coba ke jalan kelenteng sono en tanya ama yg
tua2. Ada gak yg mo segel kelenteng ?
Untung aje pengurusnye berani ngelawan.
<cut>
Gak percaya ? loe cari aja SK MENDAGRI taon 1968 en lu baca isinya.
Terus jg lu cari apa yg disebut DEWI alias DEWAN WIHARA INDONESIA.
Trus soal larangan bahasa MANDARIN , loe cari SK DEWAN GRAFITI dan
PERS taon 1988.
Trus lu baca tuh tulisan DANANJAYA, lu liat ada BRIGJEN ( POL )
Soekisman. Yg nama lengkapnye seh W.D Soekisman.
Nah loe ke kantor Harian Indonesia di Kota sono, tanya sapa Soekisman ya.
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.21/1267 - Release Date: 8/2/2008
8:12 PM
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
.: Website global http://www.budaya-tionghoa.org :.
.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.
.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "Jimmy Tanaya" <tanaya.geo@...>
wrote:
>
> Pak danardono,
>
> Apakah klenteng Hong tiek hian -surabaya, pernah berganti nama menjadi
> vihara XYZ? Pak danardono, anda katakan semua kan, jadi harusnya
> klenteng HTH tersebut juga berganti nama menjadi Vihara xyz. Tolong
> dong, saya dimutakhirkan datanya.
>
> saya tunggu jawaban anda.
>
> salam,
> jimmy
Menurut kebijakan pemerintah masa itu, agama Konghucu dilarang, dan
semua tempat peribadatannya juga terancam ditutup. Bahwa ada satu dua
tempat ibadah yang "lolos" adalah fakta, tetapi tidak menyatakan, bahwa
peraturan kala itu, s e m u a tempat peribadatan Konghucu terancam
tertutup.
Anda punya theori lain?
Chat over IM with
group members.
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "RM Danardono HADINOTO"
<rm_danardono@...> wrote:
>>
> Menurut kebijakan pemerintah masa itu, agama Konghucu dilarang, dan
> semua tempat peribadatannya juga terancam ditutup. Bahwa ada satu
dua
> tempat ibadah yang "lolos" adalah fakta, tetapi tidak menyatakan,
bahwa
> peraturan kala itu, s e m u a tempat peribadatan Konghucu terancam
> tertutup.
>
> Anda punya theori lain?
>
SEHARUSNYA:
Menurut kebijakan pemerintah masa itu, agama Konghucu dilarang, dan
semua tempat peribadatannya juga terancam ditutup. Bahwa ada satu dua
tempat ibadah yang "lolos" adalah fakta, tidak menyatakan, bahwa
peraturan kala itu, s e m u a tempat peribadatan Konghucu TIDAK
terancam tertutup.
Anda punya theori lain?
Share photos while
you IM friends.
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "Prometheus"
<prometheus_promise@...> wrote:
>
>------- deleted---
Menurut saya, tiap orang punya pengalaman sendiri-sendiri, ada yang
merasa di-diskriminasi (untuk aspek yang berbeda-beda, misalnya,
kebebasan menyelenggarakan ibadah, atau akses mendapat buku mandarin,
dll), ada juga yang tidak. Dan pengalaman tsb tidak bisa
disamaratakan.
**** Mengenai pengalaman pengalaman yang berbeda saya kira banyak
benarnya. Saya kenal beberapa sahabat konglo dan hampir konglo, yang
bukan main bahagia di era itu, malah menjadi kaya karena situasi kala
itu.
Tetapi dapatkah pengelaman group ini dijadikan thesa umum, bahwa
kondisi budaya Tionghoa dan kehidupan ke Tionghoaan sangat disambut
kala itu?
Antara peraturan dan pemberlakuan peraturan seringkali ada
diskrepansi. Tergantung yang melaksanakan peraturan. Bahwa peraturan
diperlunak, atau tak dijalankan sepenuhnya, tidak berarti tak ada
peraturan itu. Kitapun membahas situasi umum budaya Tionghoa kala
itu, bukan pengalaman orang per orang.
Juga dizaman Hindia Belanda banyak kelompok warga kita yang justru
mendapat peluang dalam bidang pendidikan, posisi sosial, business,
dll. Tetapi secara umum kebijakan pemerintah Belanda TIDAK memanjakan
bangsa kita.
Share photos while
you IM friends.
Ada 2 kemungkinan orang macam ini: Pertama orang tsb. berkulit badak jadi tidak terasa disenggol maupun di-injak kakinya, ... tidak merasakan dirinya didiskriminasi; Kedua, tergolong orang khusus yang justru oleh Oeba-Soeharto diuntungkan, ...
Jadi, sekalipun tidak hendak menyatakan adanya politik diskriminatif terhadap Tionghoa, cengli-nya dia masih mau ikut memperrjuangkan dihapusnya Inpres No. 14/1967. Sekalipun dirinya tidak merasakan didiskriminasi, tapi tetap[ melihat kenyataan Inpres No. 14/1967 itu tidak menguntungkan mayoritas Tionghoa di Indonesia. Adalah satu kebijaksanaan salah yang perlu dikoreksi.
Salam,
ChanCT
----- Original Message -----
From: ardian_c
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Sent: Saturday, February 09, 2008 6:35 AM
Subject: [budaya_tionghua] Re: FW: "Saya Merasa Tidak Didiskriminasi"
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
.: Website global http://www.budaya-tionghoa.org :.
.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.
.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.
Yahoo! Groups Links
--
Internal Virus Database is out-of-date.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.18/1255 - Release Date: 2008/2/1 _W__ 09:59
[Non-text portions of this message have been removed]
Yang jelas dan pasti disaat itu, tahun-tahun 65-67 itu, ada usaha keras untuk menghilangkan segala yang berbau Tionghoa yang dipelopori oleh LPKB. Siapa dibelakang LPKB? Saya tidak bisa pastikan, yang jelas banyak tokoh-tokoh dari Katholik. Dan, apakah dengan demikian bisa kita seret Agama Katholik begitu busuk dan anti-Tionghoa? Biarlah Agama Katholik itu sendiri mengambil kesimpulan dan memperbaiki diri kalau salah. Sampai dimana keterlibatan tokoh Katholik dan usaha menghilangkan budaya-tradisi Tionghoa, ...
Jadi, saya berpendapat akan lebih bijaksana seandainya kita tidak menyeret-nyeret Agama Katholik dalam masalah usaha menghilangkan segala yang berbau-Tionghoa.
Adalah juga satu kenyataan, LPKB ketika itu dibentuk oleh Angkatan Darat yang bertujuan menandingi BAPERKI yang ketika itu populer dan nyaris merupakan organisasi yang berhasil menyatukan Tionghoa di Indonesia, makin membesar dan kuat, dan, ... adalah juga kenyataan konsep "ASIMILASI-TOTAL" yang dibawakan LPKB itu, diambil oper menjadi kebijaksanaan Pemereintah Orba-Soeharto. Yang dimulai deengan gebrakan gerakan "GANTI-NAMA" sebagai langkah menghilangkan segala yang berbau-Tionghoa itu, dan itu diembel-embeli ganti-nama sebagai "PERNYATAAAN SETIA pada RI". Itulah yang manjadi celaka bagi komunitas Tionghoa. Artinya, bagi yang tidak ganti-nama itu "TIDAK SETIA RI". Dan dalam situasi ketika itu tahun 66-67, dimana orang bisa hilang begitu saja dengan tuduhan komunis-PKI, membuat mayoritas Tionghoa tidak berani dan tidak ada perlu melawan arus gerakkan ganti-sama. Berbondong-bondong mayoritas mutlak orang Tionghoa ganti-nama.
Ternyata, gerakan ganti-nama yang dilancarkan itu, bukan bertujuan untuk menghilangkan perbedaan warga Tionghoa dan warga yang dinamakan "Pribumi", agar kehidupan bermasyarakat lebih harmonis. Karena setelah begitu banyaknya Tionghoa ganti-nama menjadi nama-nama yang biasa digunakan "pribumi", Pemerintah yang berkuasa ketika itu merasa kewalahan, tidak lagi bisa atau menjadi sulit membedakan mana yang Tionghoa dan non-Tionghoa. Lalu? Dibuatlah tanda khusus di setiap KTP bagi komunistas Tionghoa. DASAR!
Jelas dan pasti peranan tokoh-tokoh LPKB ketika itu dalam usaha menghilangkan segala yang berbau-TIonghoa dan akhirnya menjadi kebijaksanaan Pemerintah Orba yang berkuasa, beberapa tokoh utama yang seharusnya bertanggungjawab juga sudah tiada, dan karena kebijaksanaan LPKB sudah diambil oper pemerintah yang berkuasa, ... tentunya yang paling bertanggungjawab adalah Soeharto, selaku Presiden RI ke-2. Sayang seribu sayang, tokoh-tokoh yang paling bertanggungjawab, termasuk Soeharto sudah keburu meninggal-dunia sebelum bertobat, mengakui segala kesalahan yang dilakukan terhadap Tionghoa di Indonesia. Tapi, kita juga sudah bisa melihat, Inpres No. 14/1967 sudah dicabut, UUK No.12/2006 juga sudah diundangkan, mari kita konsekwenkan pelaksanaannya dalam masyarakat nyata. Jadi, yang lebih perlu diutamakan bagi kita yang masih harus meneruskan hidup yang panjang ini, adalah mengkoreksi kebijaksanaan yang diskriminatif ada, berusaha mewujudkan kesamaan hak dan kewajiban bagi setiap warga dalam kenyataan hidup. Dengan tidak membeda-bedakan perbedaan ras, perbedaan suku, perbedaan etnis dan perbedaan Agama yang ada. Ber-BHINEKA TUNGGAL IKA dalam kehidupan nyata dalam masyarakat di Nusantara ini.
Salam,
ChanCT
----- Original Message -----
From: ardian_c
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Sent: Saturday, February 09, 2008 5:16 AM
Subject: [budaya_tionghua] Re: sdri Greysia: kelenteng dan masa reformasi
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
.: Website global http://www.budaya-tionghoa.org :.
.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.
.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.
Yahoo! Groups Links
--
Internal Virus Database is out-of-date.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.18/1255 - Release Date: 2008/2/1 _W__ 09:59
[Non-text portions of this message have been removed]
Send up to 1GB of
files in an IM.
ck..ck..ck...tulisan si ardian iki betul2 nonsense. *geleng-geleng kepala*
tetapi baiklah, saya coba menjelaskan argumen saya yang sampe sekarang ngga
bisa ente
pahami dengan baik.
reply ini panjang lho...bagi yang ngga suka panjang-panjang, saya kasih
versi pendeknya:
"Dihimbau untuk tidak percaya ramalan, mengingat nasehatnya bersifat
relatif non absolut
Tidak semua suhu percaya omongannya sendiri. If they don't, why do you?
bekerjalah, berusahalah, beramalah. Jangan lupa mohon rido dan doa restu
dari Tuhan
sesuai dengan iman dan kepercayaan saudara".
Selesai. Jika ada yang ingin tahu alasannya, ya silahkan baca versi
panjangnya :P Hehehe...
Catatan: Versi panjang ada dibagian bawah...
Gong Xi Fa Choi
Selamat Hari Raya Imlek
Mohon Maaf Lahir Batin
ASN.
===[ VERSI PANJANG] ===
=====
numpang tanya, apa seh yg dimaksud MAHA KUASA itoe ?
ama ape seh parameter2nya yg terlalu banyak en bla bla bla ?
Loe kok kayak Harun Yusuf yg cuap2 mantan tukang kwamia yg jago pekji
tapi ngedongeng nangkep roh org en ditanyain nasibnya ?
Itoe mah sama aje bikin nyengir org yg bisa ngitung bazhi.
FAKTANYA banyak org yg sakit TETEP USAHA CARI DOKTER , DOEKOEN,
Sinshe, pengobatan alternatif en segala macemnya.
Yg semuanye jg paramaternya kompleks ame itung2annya yg bikin lier
kepala org awam.
Kalu semua berserah ama tuhan wae mah, suruh tutup tuh RUMAH SAKIT.
Lha kalu meleset jg gimana atuh itu dokter2nye ? Lu yakin yg ke dokter
itu pasti sembuh ?
Ape kalu dah getu gak yakin pasti sembuh, udah aje lu gak usah
kedokter , biar aje lu pasrah ame tuhan. Daripada ketemu hal yg gak
yakin terus buang2 duit khan. Ataw gampangnye ada ortu yg dah sekarat
nafas senen kemis, ngapain bawa kerumah sakit, buang2 duit toh, biarin
aje die sekarat ampe mampus, pasrahkan aje ame tuhan. Nah kalu getu ,
lu ke UGD ataw ICU sono, lu khotbahin geh di ICU.
Org ngatasin masalah idupnya ya macem2 donk, ada yg ke dukun yg pake
kemenyan, ada yg ke psikolog, ada yg ke tukang ramal, ketempat ibadah
, ke pemuka agama en segala macem.
Lagian jg tetep khan bayar hehehehe alias kasih angpao ataw ada yg
pake bahasa alusnya kasih uang pengganti bensin ataw rokok.
LHA ITU KHAN PARAMETERNYA SEMUA GAK JELAS
Jgn suka belagu pake ukuran kacamata lu sendiri. Lu bisa atasin
masalah org pake jampe2 lu ?
Ape jampe2 lu itu bisa atasin semua masalah org idup ?
Lu mesti inget org idup itu mesti ada usahanya, biar die ke dukun kek,
ke pendeta kek , ke setan kek , ke tuhan kek, ke mbah kek, ke tukang
ramal kek.
Die dah nunjukin usahanya. Emangnye mesti disuruh bengong aje ? Ntar
kalu bengong berpasrah melulu disalahin lagi hehehehe
So org usaha itu macem2, lu emang ada hak menjudge org2 getu ?
Lu sapa ? Tuhan ape HANTU ?
Jampe2 yg ampuh itu pake nama TUHAN. Neh contoh ampuhnye.
Ada org sakit yg minta didoain ame pendeta.
Kalu sembuh , horeeeeeeee mujizat tuhan tuh, lu mesti cuap2 kemana2 ya
kalu sembuh.
Kalu masih sakit, ampun nak, lu masih ditest ame tuhan tuh atau tuhan
ngerencanain ape getu yg pendetanye aje gelap.
Kalu mampus, horeeeeeeee lu diterima disisi tuhan.
See hehehehehe kemana2 menang terus khan huahahahahahaha
Menang oponye ?
Kalu ada dari genk laen yg doain aje, en kalu sembuh, pasti kasak
kusuk itu kuasa gelap.
Kalu mati aje disebut diambil ame IBLIS, kalu masih sakit aje disebut
itu seh percaya ama IBLIS.
DODOL AH !!!!!!! Kalu yg getu ape bukannye mo menang sendiri en maen
CAP IBLIS ke orang laen ?
Kalu bicara duit hehehehe brp banyak pemuka agama yg mobilnye LEXUS,
MERCY ???????
Menjual Tuhankah ?
Masih mending tukang bazhi yg gak jual2 nama TUHAN
===
ente tahu pepatah "ora et labora" atau "do the best God do the rest"? Kalo
ngga tahu,
ente balik dulu geh ke SD atau jualan dodol, terserah :P. saya males cerita.
Yang pasti
ada perbedaan besar antara "Believe in God" dengan "Believe in someone who
PLAYS God!".
anyway, berikut adalah point-point yang hendak ana sampaikan:
1. baguslah ente angkat isu tentang Harun Yusuf. saya sih pengen cerita
tentang hal ini tapi
ngga jadi. biar argumen ana lebih neutral, mending cerita kisah nyata
lain yang seharusnya
udah ente baca.
trus juga, sekedar saran, kalau ente belum pernah belajar ilmu kua mia,
ataupun jika punya
tapi masih dalam tahap ilmu ecek-ecek, ngga usah cuap-cuap deh. kok
bisa-bisane ente
bilang aji rogo sukmo itu dongeng. sekali sampeyan dirogoh sukmo baru
tahu! nah, mau
nantang ya? Hehehe...ngga semua ahli kua mia punya ilmu ini (ada namanya
dalam bahasa
cina). satu hal lagi, Harun Yusuf is not the only one.
2. Saya mengakui dan percaya (*dan saya bangga akan hal ini*) bahwa ada
sebuah super entity
yang merupakan penguasa absolut, dikenal dengan istilah Tuhan.
ente ga percaya bahwa super entity ini exist? Mo bukti? buanyak. salah
satu contoh aja.
Memangnya sapa yang kasih ente muncul di dunia? memangnya ente berasal
dari tumpukan
sampah di loteng rumah yang tiba-tiba "oek oek" jadi sampeyan?
Hehehe...itu mah aliran
"generatio spontanea" yang udah basi, masuk tong sampah lalu ke
incinerator.
Mr. Hawking dkk sebagai pakar fisika kosmologi juga tidak berdaya untuk
mengakui bahwa
ada permulaan alam semesta (ie. "creation" - sebuah penciptaan), yang
menjadi sumber
singularitas dari big bang. tanpa ini, bagaimana alam semesta bisa
bermula? Mereka adalah
kaum intelektual yang penuh dengan rasionalitas dan logika.
3. Imlek lalu saya silahturahmi dengan mertua yang orang tiong hwa
(kebetulan saya menikahi
gadis tiong hwa yang cantik :P). disana kami kongkow-kongkow. di tv ada
para suhu yang
memberikan ilmunya, pencerahannya. But the problem is, ada kontradiksi
yang significant
antara ucapan suhu tersebut dengan ucapan suhu lain yang menulis buku.
kan bikin mumet.
Who should you believe at? full of contradiction. Ini lho masalahnya.
Bahkan, tidak semua
suhu percaya ama omongannya. If they don't, why do you? simple logic,
eh?
4. Anti budaya tionghwa? a cheap conclution from a loser. saya tertarik
dengan budaya tionghwa
tetapi tidak tahu banyak, makanya saya ikutan milis ini. saya suka liat
barongsai dan liang liong.
bahkan saya sangat menyukai gadis tiong hwa sampai saya nikahi :P saya
mengagumi ilmu
fengshui NON KLENIK dan mertua saya menerapkan ilmu ini saat membuka
pabrik barunya
(tetap NON KLENIK, pure ancient architectural science). tetapi yang saya
kurang suka, secara
pribadi, adalah kebiasaan percaya pada ramalan alias kua mia. kalau ente
tetap suka, ya itu urusan
anda. ente ikut suhu sampe nyemplung jurang ya itu pilihan ente. tapi
saya boleh donk kalau
cuman sekedar berkomentar dengan pondasi pemikiran yang jelas? ngga
semua orang seperti
ente mas. pasti ada yang kemudian sadar dan stop wasting money.
Mending uang tadi buat amal...
menebar pahala menuai berkat. Yes? Tidak ada lagi ciong-ciong. ngga
perlu ribet dengan ciswak.
5. Pemuka agama bermobil Lexus memangnya kenapa? ada yang salah? Meminjam
istilah istri saya,
itu namanya diberkati. Hehehe...melayani Tuhan mereka dan diberi berkat.
so what gitu loh? Wah..
saya tahu, saya tahu. ente iri ya? iri karena ente ga mampu beli lexus?
iri tanda tak mampu mas.
kesian deh loe...
Menjual Tuhan? Ya saya sih ngga tahulah. Tapi saya yakin bahwa Tuhan
ngga bisa dipermainkan.
Nama Beliau tidak bisa diperjualbelikan. Jika ada pemuka agama yang
demikian, tentu membuat
Tuhan mereka marah dan mencabut berkat. Betul toh? kalau tetap dapet
berkat, ya berarti
pemuka agama itu tulus melayani Tuhan mereka. Masa logika simple kayak
gini aja ngga ngerti?
Hati anda penuh iri dengki yah sampai "buta rohani" ! wah wah ...
6. Selamat Hari Raya Imlek. Ging Xi Fa Choi. Mohon Maaf Lahir Batin...
[Non-text portions of this message have been removed]
Host a free online
conference on IM.
Mas, ada sahabat saya keluarga Manado, suami dari Tompaso istri dari
Airmadidi. "Tulen" Minahasa nihhh. Tapi ya itu, mata mereka agak
berbentuk mata Tionghoa, dan sangat kuning langsat. Ketika putri
mereka, yang cantik seperti pilem bintang Hong Kong minta passport di
imigrasi Jakarta Timur, ditanya: :Bapakmu keturunan ya?". ketika
dijawab "bukan", dia malah dibentak " bohong, pasti bapakmu
keturunan". Besoknya tak datengi kepala kanim (kantor imigrasi) itu,
tak damprat habisss..sangat memaluken kelakuannya..
Dia minta minta maaf, lalu keluarlah sang passport. Lha diminta SBKRI
padahal keluarga ini tak pernah memilikinya sejak sebelum zaman nabi
Musa lahir...
Tapi ya, ada yang bangga tu, teriak teriak " nggak ada diskri kok"...
Syusyahhh..
Salam
Danardono
Pak Tanaya,
Untuk point 1, saya baca bung Ardian sudah mejawabnya sendiri.
Untuk point 2, ada sedikit yang mau saya komentari:
SARA ? Tentu saja milis ini berkutat masalah SARA, selama SARA itu
Suku Agama Ras Antargolongan. Wong namanya milis Tionghoa. Kalau yang
anda maksud adalah saling cerca antara golongan/agama tertentu, maaf
saja. Anda coba lihat di arsip milis ini dari awal sudah bersifat
defensif terhadap serangan dari golongan tertentu yang dulunya gemar
mensetan-setankan budaya Tionghoa. Anehnya sekarang malah golongan ini
yang gembar-gembor memeluk budaya Tionghoa. Benar-benar cina ! Jadi
kalau ada sentimen tertentu, tolong anda lihat bahwa banyak anggota
lama adalah mereka-mereka yang dari dulu (ada yang bahkan sampai
sekarang) melakukan counter terhadap pemelintiran informasi (baca:
mensetan-setankan) kebudayaan Tionghoa.
Lalu, mengenai tulisan moderator. Perlu saya sampaikan bahwa dalam
sejarah milis ini ada moderator yang sampai harus di-ban karena
tulisannya yang dianggap terlalu keras.
Terakhir, saya mau menyoroti sikap tidak dewasa dari beberapa member.
Setiap kali terjadi diskusi yang panas, ada saja member yang merasa
dirinya harus diistimewakan dengan mengirimkan japri kepada moderator
baik melalui jalur email moderator ataupun langsung ke moderator
tertentu. Yang paling lucu adalah beberapa bulan yang lalu,
masing-masing pihak yang berdebat saling mengirimkan email pribadi
yang intinya meminta agar pihak lawannya di-ban. Mungkin mereka merasa
kepentingannya terusik, sehingga merasa perlu memberikan email-email
tersebut. Sungguh lucu.
Hormat saya,
Yongde
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "Jimmy Tanaya"
<tanaya.geo@...> wrote:
>
> Para moderators, terutama bung Ardian,
>
> 1. Saya menunggu jawaban dari moderator mengenai protes saya dalam hal
> reply sdr Ardian (ada di bagian 'ekor' message ini).
> 2. Saya menanyakan kembali, apakah milis budaya_tionghua masih 'setia'
> pada rel-nya utk tidak mendiskusikan (apalagi menjelek2an) SARA?
>
> Bung Ardian, menulis sebagai pribadi dan moderator itu memang beda.
> Saya juga moderator/owner di beberapa milis, maka, dalam batas2
> tertentu, saya juga mengerti pembedaan tersebut. Namun, sebagai
> moderator (dan penulis) ada 'kewajiban tidak tertulis' utk menjaga
> dengan amat sangat agar tulisan 'moderator/pribadi' tersebut tidak
> melanggar aturan milis. Lah kan jadinya lucu, masak moderator
> melanggar aturan milisnya sendiri? Bila pelanggar lain diberi sanksi,
> lalu apa sanksi bagi moderator yg melanggar? Nah, sekali lagi, karena
> kerumitan2 yg mungkin ditimbulkan oleh pelanggaran 'moderator' itulah;
> maka para moderator/owner sangat berhati2 dalam menulis.
>
> Bila orang lain melakukan kesalahan, bukan berarti kita juga 'boleh'
> melakukan kesalahan yg sama. Bukankah demikian bung Ardian?
>
>
> salam,
> jimmy
>
Nah sekarang lari ke domain lu aje sendiri, sapa yg lari jadi GOD ?
Ada gak ?
Trus kalu dokter bilang penyakit si A dah parah tinggal tunggu mati,
ape belagak jadi tuhan ? Ataw org memprediksi keadaan perekonomian
satu negara bakalan jeblok getu ? ape jg ngedahuluin tuhan ?
Semua pake parameternya kalu ngomong, nah pekji jg ada parameternya so
bukan maen2 bedol2 roh.
Semua jg bicara USAHA SAMBIL DOA ALIAS ORA ET LABORA.
Dah pernah tau apa rumusan CISWAK ?
Tau kitab2 ape yg dipake buat ciswak ?
Nah dia org jg khan NGEBANTU kok, apa bedanya ame PSIKOLOG ?
Justru DIA ORG NGEBANTU BERDASARKAN parameternya yg dipelajarin dong.
Kok lucu ya lu ketemu psikolog tapi mesti berakting jadi dokter gigi
getu , itu mah jaka sembung
> trus juga, sekedar saran, kalau ente belum pernah belajar ilmu
kua mia,
> ataupun jika punya
> tapi masih dalam tahap ilmu ecek-ecek, ngga usah cuap-cuap deh. kok
> bisa-bisane ente
> bilang aji rogo sukmo itu dongeng. sekali sampeyan dirogoh sukmo
baru
> tahu! nah, mau
> nantang ya? Hehehe...ngga semua ahli kua mia punya ilmu ini (ada
namanya
> dalam bahasa
> cina). satu hal lagi, Harun Yusuf is not the only one.
Huahahahahahahahaha mana ada ilmu ngerogoh sukmo si TUTI HARUN YUSUF ?
Lu baca bae2 statement die , yg bilang pake pekji tapi kok lucunye
malem2 mesti ngebedol roh sipasiennye buat ditanyain hehehehehehe
Lu tanya parameternya die waktu itung pekji alias bazhi, ntar kalu gw
tanya TIANDE ame YUEDE itoe ape, bisa jawab gak tuh siharun yusuf ?
Ataw ama dia dianggep satu jampe2 buat bedol roh ? ih lucu dah.
Gw kasih tau ame lu ya ada satu org yg bisa kwamia jg aliran maoshan
aje ampe nyengir dengerin khotbahnye die.
Gak percaya ? Sini bawa itu anaknye harun yusuf, kite test
kemampuannya bikin hu.
Gampang aje suruh bikin hu GUAN LUO YIN , bisa gak ?
Ataw tes aje yg disebut qiao itu ape aje ? kalu gak isa, jgn belagu
nepu2in orglah.
kalu gak bisa , jgn cuap2 kemana2 tipu2in org yg gak ngerti.
Apalagi lu yg boro2 belajar ilmu ecek2, ngerti jg kagak.
>
> 2. Saya mengakui dan percaya (*dan saya bangga akan hal ini*) bahwa ada
> sebuah super entity
> yang merupakan penguasa absolut, dikenal dengan istilah Tuhan.
> ente ga percaya bahwa super entity ini exist? Mo bukti? buanyak.
salah
> satu contoh aja.
> Memangnya sapa yang kasih ente muncul di dunia? memangnya ente
berasal
> dari tumpukan
> sampah di loteng rumah yang tiba-tiba "oek oek" jadi sampeyan?
> Hehehe...itu mah aliran
> "generatio spontanea" yang udah basi, masuk tong sampah lalu ke
> incinerator.
>
hehehehehehehehehehe SUPER ENTITIY itu bisa lu kasih nama apa aje, lu
pernah denger nama super entitiy TAO ? tau pandangan org tao soal
super entity itoe ? Mo tau ? jgn tanya ame org2 di indolah, minimal
loe tanya ame org2 tao yg pegang garis sesepuh, boekan yg ngaku2 doank.
> Mr. Hawking dkk sebagai pakar fisika kosmologi juga tidak
berdaya untuk
> mengakui bahwa
> ada permulaan alam semesta (ie. "creation" - sebuah penciptaan),
yang
> menjadi sumber
> singularitas dari big bang. tanpa ini, bagaimana alam semesta bisa
> bermula? Mereka adalah
> kaum intelektual yang penuh dengan rasionalitas dan logika.
>
hehehehehe stephen hawking khan bilang gini lho, ada 4 forsa, ada 2
quark hehehehehe
GW PAKE ISTILAH DI BAZHI ataw mo lebih ngejelimet pake istilah keren
XUANXUE, sixiang ama yinyang.
Nah sekarang ini khan katanya stephen hawking lagi diragukan kebenaran
teorinye.
Kalu bicara Stephen Hawking itu mah bilang ada big bang ame big crunch
en antara big bang en big crunch itu ZERO alias NIBBANA bisa gak ya ?
Soalnye si Hawking itu bilang gak ada bigbang ame bigcrunch tuh di
kondisi itoe.
Super ENTITIY ya lu bisa kasih getu , gw bisa kasih nama laen.
Apa TUHAN BERMAIN DADU ? inget pertanyaan ini ?
Inget kata2 TUHAN telah mati ?
> 3. Imlek lalu saya silahturahmi dengan mertua yang orang tiong hwa
> (kebetulan saya menikahi
> gadis tiong hwa yang cantik :P). disana kami kongkow-kongkow. di
tv ada
> para suhu yang
> memberikan ilmunya, pencerahannya. But the problem is, ada
kontradiksi
> yang significant
> antara ucapan suhu tersebut dengan ucapan suhu lain yang menulis
buku.
> kan bikin mumet.
> Who should you believe at? full of contradiction. Ini lho
masalahnya.
> Bahkan, tidak semua
> suhu percaya ama omongannya. If they don't, why do you? simple
logic,
> eh?
>
hehehehehehe lu gw kasih tau ya suhu2 itu mah suhu2 ecek2. gw kasih
contoh neh ada satu suhu yg pake topi satu agama tapi gak matching ame
bajunya wakakakkakakakka
ada yg ngaku2 ketua agama anu trus bicara bla bla bla, lutjunya ngaku
aliran A tapi topinye aliran B en bajune ?Belon lage ada suhu nyang
ngaku2 aliran maoshan tapi maen pelet2an weleh. Weihua Yuanjun bisa
muntah darah toeh.
Loe aje ngeliatnye di TIPI yg jadi KORBAN suhu2 ECEK2.
Gw belon lama nyengir sambil ngomel2 depan tipi ngedengerin ocehan
suhu ecek2 yg bilang item itu di budaya tionghoa lambang kesuraman,
jelek, jahat de el el. Weleh2 itu soehoe berani ngomong getu en
sialnye di tipi banyak yg nelpon tanya , soehoenye jawabnye ciswak aje
ciswak aje.
Ciswak aje ape belon tentu tau.
Lagian kalu loe mo belajar ilmu yg lu bilang gw masih belajar ecek2. Gw
kasih tau ada 2 cara itung taon, satu pake NAYIN satunye pake JIAZI.
nah itu aje bikin beda. Belon lage ada bbrp cara itung badan, itu
tergantung alirannye BOENK !!!!!
So loe tau apa yg mesti suhu2 peramal itu pegang kata2nye ?
Gini aje lu tanya ame HARUN YUSUF kek, Daud Tony kek Theodore Tabareka
kek ataw Eddy Tattimu kek, pernah denger pepatah "MEMPELAJARI TAO
MANUSIA UNTUK MEMPELAJARI TAO ALAM SEMESTA ?"
kalu itu para 378 bilang iya, tanya kata SUHU ataw MASTER TAO sape, en
ape artinye ?
Kalu gak bisa artinye die org belajar ilmu ecek2 trus belagu en jualan
kesaksian palsu. Nah lu percaya kesaksian palsu begini ?
> 4. Anti budaya tionghwa? a cheap conclution from a loser. saya tertarik
> dengan budaya tionghwa
> tetapi tidak tahu banyak, makanya saya ikutan milis ini. saya
suka liat
> barongsai dan liang liong.
> bahkan saya sangat menyukai gadis tiong hwa sampai saya nikahi
:P saya
> mengagumi ilmu
> fengshui NON KLENIK dan mertua saya menerapkan ilmu ini saat membuka
> pabrik barunya
> (tetap NON KLENIK, pure ancient architectural science). tetapi
yang saya
> kurang suka, secara
> pribadi, adalah kebiasaan percaya pada ramalan alias kua mia.
kalau ente
> tetap suka, ya itu urusan
> anda. ente ikut suhu sampe nyemplung jurang ya itu pilihan ente.
tapi
> saya boleh donk kalau
> cuman sekedar berkomentar dengan pondasi pemikiran yang jelas? ngga
> semua orang seperti
> ente mas. pasti ada yang kemudian sadar dan stop wasting money.
>
hahahahahah FENGSHUI itu BICARA LIQI boenk !!!!!
TJOBA tanya ame suhunye, LIQI itu gimana ?
Ataw loe jelasin ape itu LIQI ? Trus gimana kaitannye pergerakan Qi
itu ame YUAN ? Nape mesti bergeser terus ?
ataw suhu yg diminta bantuan ame mertua lu itu aliran Luan Tou ?
Nah tanya aje ape yg disebut bangunan sifat 5 unsur ?
Klenik ape kagak khan tergantung org ngeliatnye. Yg lu maksud klenik
itoe pake kertas jimat ? jhehehehehehe pake hio ?
fengshui mah emang kaga pake kayak getu boenk, kecuali loe belajar
qizhen, nah itoe ada jampe2nye. Tanya lage dah ape itu qizhen en
gimana boekanya kok bisa ampe tau ada mayat dibawah tanah getu.
Kalu gw seh gak tau , maklum gw masih belajar ecek2 en sering tanya2
ame sesepuh milist ini buat urusan2 kayak gene seh.
> Mending uang tadi buat amal...
> menebar pahala menuai berkat. Yes? Tidak ada lagi ciong-ciong. ngga
> perlu ribet dengan ciswak.
>
hehehehehe tau ape ciswak gak ?
tau ape yg dimaksud TIAN GAN ame DIZHI trus hubunganye ame ruang dan
waktu ?
Wong org usaha kok lu bilang gak berguna ?
Namanya jg usaha boenk, mo usaha pake doa ala CISWAK jg kenapa lu
mesti pandang HINA ?
Loe tau asal muasal CISWAK itoe agama APA ?
Kalu loe tau, loe sebutin agama ape, en dikitab ape, alesan ape, trus
salah kalu org agama tertentu percaya dirinya bisa dapet keselamatan
dgn ciswak ? Ape aje syaratnye kalu mo ciswak ?
Lu bisa jawab gak ? kalu gak bisa ya shut up aje, gak usah banyak
komentar donk.
Lu itu dah menghina AGAMA LAEN TAU GAK ?
Tapi emang seh suhu2 yg asli dari agama itoe belon ada yg bener2 masuk
sini. Nah pemalsu ciswak buat cari duit ya banyak !!!!
Yg termasuk masih lurus2 seh nurut gw ya para caima tuh, tjoema die org ngkale keputus ame pengajaran dari sumbernya.
Org kalu mo ciswak itu gak sembarangan boenk, minimal mesti diitung, itu jg ada parameternye. Nah loe tanya ame pendeta 378 yg namanya harun yusuf, ape parameternye ? Apa yg diitung ?
Kalu gak isa jawab, jgn ngaku2 ahli ramal pekji.
Yg bisa bazhi aje belon tentu tau rumusan itungnye.
Gw kasih kesempetan buat lu tanya2 ame pendeta penipu umat itu buat jawab ini pertanyaan, biar mata lu kebuka kalu banyak penipu yg jualan ex "budaya" tionghoa, tujuannya seh gak jelas tuh, buat cari duit kale.
Maklum kalu yg mistik seh laku dijual. Mo mistik dari sudut yg bener kek dari yg salah kek.
> 5. Pemuka agama bermobil Lexus memangnya kenapa? ada yang salah?
Meminjam
> istilah istri saya,
> itu namanya diberkati. Hehehe...melayani Tuhan mereka dan diberi
berkat.
> so what gitu loh? Wah..
> saya tahu, saya tahu. ente iri ya? iri karena ente ga mampu beli
lexus?
> iri tanda tak mampu mas.
> kesian deh loe...
>
huahahahaha melayani tuhan ampe beli lexus, ya gampangnye gini aje itu
pendeta lempar duit persembahan umat, trus ngomong "TUHAN AMBILLAH
SESUKAMU, YANG JATUH MILIKKU"
Daripada beli LEXUS nape gak disumbangin ame org yg gak mampu ?
Wong namanya mobil ya sama aje dong hehehehehehehehe pake avanza jg
sama khan ame lexus , yg penting bisa jalan itu mobil ama ada AC kalu takut kepanasan.
Yesus aje sederhana idupnya gak bermewah2an, lha kok para gembala mo idup enak2an ? ape itu bukannye ngejual nama tuhan buat kenikmatan idup ?
Kalu gw seh gak naek LEXUS tapi naek HONDA kadang TOYOTA !!! hehehehehe
LEXUS khan TOYOTA jg hehehehehe jadi ngapain sirik seh
> Menjual Tuhan? Ya saya sih ngga tahulah. Tapi saya yakin bahwa Tuhan
> ngga bisa dipermainkan.
> Nama Beliau tidak bisa diperjualbelikan. Jika ada pemuka agama yang
> demikian, tentu membuat
> Tuhan mereka marah dan mencabut berkat. Betul toh? kalau tetap dapet
> berkat, ya berarti
> pemuka agama itu tulus melayani Tuhan mereka. Masa logika simple
kayak
> gini aja ngga ngerti?
> Hati anda penuh iri dengki yah sampai "buta rohani" ! wah wah ...
>
Aih ada tuh yg nipu2 tapi ampe sekarang masih rame dikerubutin org.
Inget nama GILBERT ? Yg bilang ngadu elmu ame Ki Gendeng Pamungkas di
Changi Airport ?
Trus lucunya KGP khan waktu kesaksian bersama bareng DAUD TONY ama
EKKU HIDAYAT gak bilang2 getu tuh !!!!!!
Semua yg belajar kejawen tau kalu ilmu lembu sekilan itu ilmu beladiri boekan ilmu pelet kayak daud tony ngomong tuh bareng KGP.
Gw liat aje muka KGP nyengir waktu denger ilmu lembu sekilan buat melet ampe sapi aje dijentikin langsung kepincut.
Nah loe !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Tuhan dipermainkan ama umatnya banyak kok hehehehehe, berapa banyak
perang atas nama tuhan , pembasmian etnis jg atas nama tuhan.
Termasuk jg ame HARUN YUSUF, DAUD TONY !!!!
> 6. Selamat Hari Raya Imlek. Ging Xi Fa Choi. Mohon Maaf Lahir Batin...
>
pak Chan,
jelas gak bisa ilangin peran mereka yg begitu menyakitkan.
Inget kasus kejadian mei bandung ? LPKB langsung mencap ESKLUSIF
sebagai biang keladinya.
Lha kalu getu Yap Tjwan Bing khan kabur ke AMRIK abis kejadian gitu.
Apa pak Yap itoe ekslusif ?
Khan gak tuh. Makanye bener kata ngkong PH, hukuman massal itu yg jelek.
LPKB ama BAPERKI tujuannya sama tapi cara2nya LPKB gak simpatik, gak
beda ama BAKOM PKB yg secara langsung ataw gak langsung bilang kalu mo
apus rasialisme thdp tionghoa mesti pindah agama.
Doeloe ada yg Katolik jg yg berbudaya Tionghoa kayak pater Zhang, tapi
dia itu kalu kita bilang ya termasuk TOTOK soalnye kelahiran SHANGHAI
en beremigrasi ke Indonesia taon 30an ape 40an ya. Moga2 ada ex
Theresiana Semarang yg mo cerita lebih banyak ape peran pater Zhang
trus yg katanya jg sempet dikucilkan oleh bbrp org. Tapi org2 model
pater Zhang khan kelindes ame yg laennya alias suaranya gak kedengeran.
BAPERKI itu khan tujuannya membuat seluruh WNA keturunan Tionghoa
menjadi WNI, nah khan BAPERKI awalnya dibentuk tujuannya getu.
Ngkale BAPERKI ada salah arah angin politik waktu itu.
Tapi kita mesti inget ikut arus arah angin politik jg gak semata2
timbul begitu aja. Apalagi BAPERKI bikin banyak sekolaan buat ex
Tionghoa yg skulnya kena tutup taon 50an akhir. Ape skulnya ada
afiliasi ame PKI ? Gak jelas dah, moga2 ada yg mo jelasin demi
meleknya sejarah buat generasi muda.
Rasanya pak Chan tau kenapa BAPERKI bisa ikut arus politik, yg kalu
nurut saya karena ada bbrp parpol yg tidak simpatik thdp kejadian
diskriminasi sedangkan ada bbrp parpol yg simpatik dan berempati serta
mau menghapus, yg ngkale juga itu tjoema salah satu siasat parpol buat
tarik dukungan.
Mohon pak Chan kasih lampu buat yg muda2 ini.
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "ChanCT" <SADAR@...> wrote:
>
Send up to 1GB of
files in an IM.
Soal diskriminasi atau tidak, soal apakah ada pelarangan klenteng
oleh pemerintah atau tidak, apalagi kalau hal-hal tsb untuk
dipublikasikan, saya rasa tentu orang-orang yang ditanya akan
berusaha menjawab sediplomatis mungkin, atau bahkan ada kecenderungan
untuk tidak menjawab sesuai dengan kata hatinya.
Saya tidak menuduh orang-orang tersebut berbohong, tetapi ada baiknya
jika kita membaca yang tersirat, atau bahkan menggali lebih jauh akan
pendapat yang dikemukakan tersebut.
Sewaktu saya di Tiongkok, saya pernah bertanya dengan Yinni Guiqiao
(orang-orang Tionghoa dari Indonesia yang kembali ke Tiongkok karena
satu dan lain hal) apakah mereka senang ketika kembali ke Tiongkok.
Jawaban mereka adalah tentu saja mereka senang karena kembali ke
negeri leluhur, apalagi waktu itu (thn 1950-60an) di Indonesia ada
banyak kejadian anti-Tionghoa. Tetapi saya jadi bertanya-tanya kalau
memang senang di sana, kenapa banyak Yinni Guiqiao yg lari ke Hong
Kong.
Selang beberapa waktu saya bertanya lagi kepada orang-orang yang
sama. Kali ini saya bertanya bagaimana pengalamannya di tahun-tahun
pertama ketika mereka kembali. Jawabanya adalah bahwa pengalaman
mereka tidak menyenangkan. Bahkan ada yang ingin kembali ke Indonesia
waktu itu.
Jika ada yang ingin kembali ke Indonesia, bagaimana bisa dibilang
bahwa kembali ke negeri leluhur pada saat itu menyenangkan?
Oleh karena itu dalam setiap interview, saya kira kita perlu
memverifikasi jawaban yang kita dapat karena mungkin untuk
politically or socially correct mereka tidak memberikan jawabana yang
sesuai dengan suara hati nuraninya.
Soal pelarangan klenteng oleh pemerintah Orde Baru, saya kira mungkin
pemerintah tidak main kasar. Sama halnya dengan penggantian nama dari
nama Tionghoa menjadi nama Indonesia. Tidak ada undang-undang yang
mengharuskan orang Tionghoa di Indonesia untuk mengganti namanya.
Yang ada hanyalah himbauan dari pemerintah. Kalau himbauan, berati
boleh dituruti boleh tidak. Tetapi himbauan pemerintah itu adalah
bahasa halusnya "perintah." Kalau tidak dituruti, tentu ada
konsekuensinya. Bisa saja pemerintah Orde Baru mempersulit orang-
orang Tionghoa yang tidak mengganti namanya menjadi nama Indonesia.
Saay kira soal larang-melarang itu, Orde Baru bermain sangat cantik,
dan tidak main kayu.
Andrew
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "RM Danardono HADINOTO"
<rm_danardono@...> wrote:
>
> --- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "Prometheus"
discuss everything
related to cats.
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "Andrew Lim"
<andrewlim98@...> wrote:
>
>> Soal pelarangan klenteng oleh pemerintah Orde Baru, saya kira
mungkin
> pemerintah tidak main kasar. Sama halnya dengan penggantian nama
dari
> nama Tionghoa menjadi nama Indonesia. Tidak ada undang-undang yang
> mengharuskan orang Tionghoa di Indonesia untuk mengganti namanya.
> Yang ada hanyalah himbauan dari pemerintah. Kalau himbauan, berati
> boleh dituruti boleh tidak. Tetapi himbauan pemerintah itu adalah
> bahasa halusnya "perintah." Kalau tidak dituruti, tentu ada
> konsekuensinya. Bisa saja pemerintah Orde Baru mempersulit orang-
> orang Tionghoa yang tidak mengganti namanya menjadi nama Indonesia.
>
> Saay kira soal larang-melarang itu, Orde Baru bermain sangat
cantik,
> dan tidak main kayu.
>
> Andrew
>
>
>
Mas Andrew, mengenai topik peraturan perundangan mengenai penggantian
nama ada sebuah tulisan menarik. Selamat membaca:
Ganti Nama di Kalangan Keturunan Tionghoa
Peraturan dan Kebebasan
Irzanti Sutanto
Benarkah pernyataan William Shakespeare yang berbunyi What is in a
name? Dalam artikel ini, name yang dikaji adalah nama orang.
Pernyataan tesebut dapat disetujui atau tidak disetujui. Mungkin
benar, siapa pun nama presiden pertama Republik Indonesia, sosoknya
tetap sosok "Soekarno." Namun, ditinjau dari pemberian nama, pada
umumnya, pemilihan nama tidak dilakukan sembarang. Misalnya,
seseorang diberi nama Sugiharto dengan harapan kelak ia kaya raya
sesuai dengan makna namanya. Apa pun alasannya, pemilihan sebuah nama
pasti tidak sembarang. Demikian pula halnya dengan penggantian nama.
Cukup banyak artis mengganti atau diminta mengganti namanya agar
sesuai dengan dunia komersial, seperti Roy Wicaksono menjadi Roy
Martin, Cucu Suryaningsih menjadi Evie Tamala, Marjolein Tambayong
menjadi Rima Melati, Sudarwati menjadi Titik Puspa, Wahyu Setyaning
Budi menjadi Yuni Shara (Sotyati 2002: 1). Dalam hal ini bukan makna
nama yang menjadi pertimbangan utama, melainkan wujud fisik nama
tersebut. Selain alasan komersial, ada pula alasan ketidakcocokan
antara nama dan penyandangnya yang menimbulkan hal-hal buruk. Karena
itu nama orang tersebut diganti.
Berbeda dengan alasan-alasan tersebut, pada 1966, keturunan Tionghoa
berkewarganegaraan Indonesia dikejutkan oleh keputusan pemerintah No.
127/U/Kep/12/1966 yang dikeluarkan oleh Ketua Presidium Kabinet
(lihat Lampiran). Tidak asing lagi, peraturan tersebut mengenai
penggantian nama Tionghoa yang terdiri dari tiga suku terpisah
menjadi nama bercirikan Indonesia. Pada surat keputusan itu, ada dua
hal yang berkenaan langsung dengan pokok bahasan tulisan ini, yaitu
Bab I Pasal 1 ayat 1 dan 2. Peraturan itu ditaati hampir oleh semua
WNI keturunan Tionghoa, tetapi ada yang tetap mempertahankan nama
Tionghoanya, misalnya Kwik Kian Gie dan Yap Thiam Hien, dua orang
yang cukup dikenal di Indonesia. Keputusan Presidium Kabinet tersebut
tidak memuat sanksi apabila seorang WNI keturunan Tionghoa tidak
menaati peraturan itu. Oleh karena itu, peraturan tersebut dapat
dianggap sebagai suatu imbauan berdasarkan ketiga butir yang
tercantum pada bagian Menimbang.
Tulisan ini mengkaji keleluasaan pemilihan nama Indonesia
(selanjutnya disingkat NI) sebagai pengganti nama Tionghoa
(selanjutnya disingkat NT). Data yang berjumlah 810 pasang nama (NT
dan NI) diambil dari berita duka dalam harian Suara Pembaruan tahun
2001. Pada berita duka tersebut masih cukup banyak orang Tionghoa
yang mencantumkan NT-nya, terutama mereka yang berusia 50 tahun ke
atas (baik yang almarhum maupun kerabatnya). Pada tingkat cucu dan
cicit, tidak ada lagi yang mencantumkan NT (mengingat jarak 35 tahun
antara penerbitan harian itu dan dikeluarkannnya peraturan ganti nama
pada 1966). Oleh karena data diambil dari sumber tertulis, artikel
ini mengesampingkan alasan pemilihan NI. Setiap orang mempunyai
alasan pribadi yang tidak penting bagi orang lain meskipun menarik
untuk diketahui. Dari analisis data tersurat beberapa hal mungkin
merupakan alasan pemilihan NI.
NAMA DIRI
Pernyataan bahwa "bahasa menunjukkan bangsa" berlaku juga bagi nama
diri. Yang dimaksud dengan nama diri mencakup antara lain nama orang
(misalnya Reagan, Homère, Johan), nama hewan (misalnya Belang, Putih,
Bruno), nama tempat (misalnya Roma, Malaysia, Bekasi, Ancol), nama
waktu (misalnya Senin, Januari, pagi, Zaman Batu, Idul Fitri), nama
lembaga (misalnya Toyota, DPR, UI, PPP), dan nama karya (misalnya
Layar Terkembang, Indonesia Raya, Monalisa). Dalam tulisan ini, nama
diri yang dibahas adalah nama orang yang digunakan secara resmi,
bukan nama panggilan akrab. Istilah yang mengacu pada nama diri orang
adalah anthroponymes1 [diindonesiakan menjadi antroponim] (Molino
1982: 6).
Setiap masyarakat memiliki kekhasan antroponim seperti beberapa
contoh berikut.
• nama etnik Batak: Nasution, Harahap, Hutagalung, Napitupulu,
Situmorang.
• nama etnik Jawa Tengah: Retno, Setyawati, Wijanarko, Djoko.
• nama etnik Sunda: Suparna, Djaka, Neneng, Eep Saefullah, Aang
Kunaefi.
• nama etnik Jerman: Kluge, Strauss.
• nama etnik Belanda: Ernest van Zoest, Hofman.
• nama etnik Jepang: Nakamura, Kensuke, Yumiko.
• nama etnik Korea: Choi Yun So, Kim Dae Jung.
• nama etnik Prancis: Yves, Guy, Beauvilain, Le Gall, François.
FUNGSI ANTROPONIM
Benveniste (dikutip oleh Bromberger 1982: 105) menyatakan bahwa antro-
ponim merupakan tanda konvensional, dalam hal pengidentifikasian
sosial, yang merujuk secara tetap pada satu individu. Namun, pada
kenyataaannya, dalam berbagai masyarakat, sebuah antroponim tidak
selalu hanya merujuk pada satu orang.
Pada kajian mengenai antroponim Prancis kuno, antara lain
memperlihatkan bahwa pada 1760 terdapat 128 kepala keluarga di Haute-
Provence (Prancis) memiliki 29 nama keluarga (patronim). Ada empat
nama kecil yang dimiliki oleh dua pertiga dari jumlah tersebut.
Di samping itu, kajian memperlihatkan bahwa pada masyarakat tertentu
ada pemberian nama berbeda pada tahap kehidupan tertentu. Misalnya,
pada masyarakat Guidar, di Kamerun Utara, setiap orang menerima dua
nama semasa hidupnya, yakni pertama, ketika ia lahir ia mendapat nama
yang menunjukkan anak ke berapa; kedua, empat bulan kemudian, ia baru
mendapat nama yang bersifat pribadi. Nama pertama sama bagi semua
orang Guidar yaitu Tizi bagi anak sulung (sistem ini juga terdapat
pada masyarakat Bali). Perbedaan nama antara anak laki-laki dan
perempuan baru terlihat pada anak ke-4. Anak ke-5, baik laki-laki
maupun perempuan mendapat nama Madi, anak ke-6 Todou.
Pada masyarakat lain, seseorang dapat memperoleh nama berbeda pada
setiap tahap kehidupannya. Tentu saja, hal itu dapat mempersulit
sistem perujukan dan administrasi yang berkaitan dengan nama menjadi
lebih rumit. Dengan demikian, sebenarnya secara umum dapat dikatakan
bahwa sistem antroponim tidak jauh berbeda dengan penomoran.
Kenyataan ini menggugurkan pernyataan Benveniste karena sebuah nama
tidak selalu secara tetap hanya merujuk pada satu individu serta
dapat berubah. Bromberger (1982: 106) menyimpulkan dua hal; pertama,
ada antroponim yang memiliki ciri semantis yang sama dengan kategori
nomina. Tizi dapat dianalisis atas beberapa komponen makna,
yaitu 'anak' + 'sulung dari pihak ibu' (tidak harus dari pihak ayah);
sama seperti analisis semantis nomina manusia, yaitu 'makhluk
hidup', 'berakal budi'. Kedua, seperti terlihat pada ilustrasi,
sistem tersebut mengandung dua fungsi antagonis, yakni fungsi
klasifikasi yang merujuk pada ciri yang sama dan fungsi identifikasi
personal. Makin mudah antroponim diklasifikasi makin kecil fungsi
identifikasinya; makin sulit diklasifikasi makin besar fungsi
identifikasinya.
MAKNA DAN SIMBOL
Kemaknawian nama sering menjadi pertimbangan utama. Sebagai ilustrasi
dapat diambil beberapa contoh nama dari etnik Jawa Tengah. Sama
halnya dengan masyarakat Tionghoa, nama dapat diambil dari benda atau
hal dalam kehidupan sehari-hari. Nomina dan adjektiva berikut diambil
dari Kamus Basa Jawa (2000): bambang bermakna 'pemuda putra seorang
satria pertapa', mulat bermakna 'intan', pitaya
bermakna 'kukuh; 'sentosa'; 'dapat diandalkan', ratih
bermakna 'bulan', raditya bermakna 'matahari; sunu bermakna 'cahaya',
dan supangat bermakna 'doa nabi'.
Selain mengandung makna, nama merupakan simbol dengan berbagai latar
belakang; misalnya untuk mengenang ibunya, seseorang memberi nama
anaknya sama dengan nama ibu tersebut; kecantikan seorang anak
diharapkan setara dengan bunga dahlia sehingga nama itu pun diberikan
kepadanya; keperkasaan seorang putra diharapkan setara dengan guruh,
guntur atau tokoh pewayangan Bima sehingga ia pun menyandang nama
tersebut; orang tua menginginkan putranya terkenal seperti seorang
presiden, maka diberinyalah nama Washington, Soekarno; sebagai simbol
cinta mereka, orang tua menyatukan suku kata dari namanya masing-
masing, misalnya Andrevi adalah singkatan dari anak (dari) Eko dan
Fiona, Kuntari singkatan dari Kuntjoro dan Tariwiyani.
PERATURAN PEMBERIAN NAMA
Dalam masyarakat tertentu, penggunaan nama harus tunduk pada per-
aturan, misalnya di kalangan masyarakat Yanõmani, ada larangan
pemberian nama ayah atau ibu yang sudah meninggal. Hal tersebut
didasarkan pada pemikiran bahwa nama seseorang merupakan manifestasi
dirinya. Dengan demikian, ada kepercayaan bahwa pemberian nama orang
tua yang sudah meninggal kepada keturunannya dapat menyebabkan umur
pendek. Namun, di kalangan lain, seperti masyarakat Florence pada
zaman Renaissance, hal sebaliknya berlaku. Pemberian nama orang tua
dilakukan secara sistematik, bukan saja sebagai simbol garis
keturunan melainkan juga sebagai harapan akan terjadinya reinkarnasi
(Bromberger 1982: 119).
Dalam masyarakat Tionghoa, pemilihan nama memperhatikan: (a) delapan
aksara penanda waktu kelahiran (antara lain tahun, bulan, tanggal,
dan jam); (b) lima unsur: logam, kayu, air, api, dan tanah; dan (c)
prinsip keseimbangan antara yin dan yang yang diwujudkan melalui
guratan (aksara Cina). Namun, ada tabu untuk memilih nama yang sama
dengan nama hari, bulan, penyakit, wilayah, gunung, atau sungai
(Patadungan, 1993: 22, 29). Hal sebaliknya terjadi pada masyarakat
Jawa Tengah seperti nama Legiyem dan Wagiman yang diambil dari nama
hari pasaran legi dan wage.
ANTROPONIM ETNIK TIONGHOA
Bertolak dari lingkup pembauran, sebuah penelitian pernah dilakukan
untuk mengkaji NT dari segi makna dan fungsinya pada masa tradisional
serta alasan pemilihan NI.2 Di dalam karya tersebut dikatakan bahwa
NT mempunyai makna dan dikaitkan dengan tiga hal, yaitu: (a)
keyakinan bahwa nama dapat menentukan nasib dan bahwa nama yang tepat
dapat mengubah nasib buruk yang menjadi takdir seseorang; (b) nama
adalah harga diri, seseorang dapat bangga terhadap namanya yang
mempunyai arti yang baik; dan (c) nama memberi pengaruh psikologis
kepada penyandangnya, sifat dan emosinya dibentuk oleh makna namanya.
Penamaan bersumber pada benda atau hal dalam kehidupan, misalnya Jia
Zhu adalah nomina yang bermakna 'tiang keluarga', Jing Guo adalah
nomina yang bermakna 'pemegang kekuasaan di sebuah negara'. Hasil
penelitian memperlihatkan bahwa pada umumnya orang Tionghoa
mempertahankan nama keluarga mereka dengan penyesuaian grafis dan
fonis; ada yang mempertahankan NT dengan menerapkan maknanya pada NI,
beberapa tetap mencantumkan nama keluarga asli mereka—dengan alasan
bahwa keturunan mereka harus mengenal nenek moyang mereka—dan NI
lainnya sama sekali tidak terkait lagi dengan NT-nya.
ANTROPONIM INDONESIA
Seperti diketahui, masyarakat Indonesia terdiri atas berbagai etnik
yang masing-masing memiliki sistem antroponimi sendiri.3 Di samping
antroponim yang berciri kedaerahan, ada antroponim yang dapat
dianggap berciri Indonesia, tanpa ciri etnik tertentu. Antroponim
tersebut sering diambil dari kata biasa yang mengacu pada benda atau
hal, misalnya indah, cahaya, mustika, intan, mutiara, hening, ratna,
guruh, guntur, bayu, topan, fajar, dan surya.
Dengan menuliskan huruf pertama dengan huruf besar, kata-kata
tersebut menjadi nama orang. Demikian pula halnya dengan antroponim
yang merupakan kata serapan dari bahasa Arab, pada umumnya
mencerminkan ciri keagamaan (Islam), misalnya Akbar, Akhyar, Amaliah,
Ambar, Amir, Ardi, Arif, Aziz, Firmansyah, Fitri, Firdaus, Gani,
Kafi, Kamil, Taslim, Taufik, dan Wahid. Ada pula antroponim—dari nama
nabi—yang mencerminkan agama Kristen, misalnya Habil, Ester, Paulus,
Yakobus, Lukas, Markus, Yohanes, dan Yosua. Kata biasa wahyu dan
antroponim Yunus terdapat dalam kitab suci Al-quran dan Injil
sehingga ciri keagamaan nama tersebut bergantung pada penyandangnya.
Tidak ada peraturan secara umum mengenai antroponim bagi masyarakat
Indonesia. Cukup banyak orang yang memberi nama kepada anak-anak
mereka sesuai dengan yang mereka inginkan, termasuk antroponim asing,
seperti Yuriko, Deryl, Natalia, Nikita, Robin, Nefertiti, Ricy,
Natasha, Andre, Albert, dan Marilin.
NAMA PENGGANTI NAMA TIONGHOA
Penulisan NT biasanya didahulukan daripada NI. Pada data masih
terdapat NT (tanpa NI) pada isteri, saudara sekandung atau anak.
Contoh:
a. Lie Jin Sien (74 tahun)
(Joseph Liman Insan)
Isteri: Ny. Jd. Lie Jin Sien (Yong Mei Lan)
Adik: Lie Siung Sien
Lie Lai Ching
b. Lim A Lin (73 tahun)
(Leman Solihin)
Anak: Lim Jin Liang
Lim Mei Lan
Usia orang yang meninggal berkisar antara 42 sampai 88 tahun. Usia
tersebut memperlihatkan bahwa keturunan pertama, isteri atau saudara
kandungnya seharusnya sudah terkena peraturan ganti nama, tetapi ada
yang belum atau mungkin tidak mengganti namanya. Dari hasil
klasifikasi NI yang disusun berdasarkan kedekatan antara NT dan NI
ditemukan ada yang NT-nya masih terlihat, NT mengalami penyesuaian
grafis atau fonis, sampai yang NT-nya sama sekali tidak terdeteksi
pada NI.
NI yang dipilih dapat dibedakan atas tujuh kelompok berikut.
1. Nama keluarga dipertahankan sebagaimana adanya (25 nama/3,08%).
Ada nama keluarga yang dicantumkan di muka, ada yang di belakang,
seperti Ng Soesilo Gunawan (Ng Sien Fa), Suherman Thio (Thio Soe
Tong). Pada kelompok ini, penggunaan nama keluarga diterapkan pula
pada anak dan cucu (dari anak laki-laki), seperti Ng Hadi Santoso
Soesilo, Ng Hendra Soesilo (nama anak laki-laki); Ng Yulie Indrawati,
Ng Vinna Indrawati (nama cucu). Terdapat juga usaha mempertahankan
suku lain dengan penyesuaian grafis, seperti Tan Samsudin Anwar (Tan
Seng An), Arifin Tjhai (Tjhai Kim Phin).
2. Nama keluarga dipertahankan sebagaimana adanya, menjadi suku
pertama yang digabung dengan suku lain (43 nama/4,3%). Sebagian besar
NI lazim digunakan, seperti Loekito (Loe); Gozali, Gondo (Go);
Tanamal, Tantra (Tan); Tjokro (Tjo); Soeganda (Soe); Narmawan (Na);
Hadisurya (Ha); Sofian (So); Pangestu (Pang); Sungkono (Sung);
Gandamiharja (Gan). Namun, ada pula yang kurang lazim, seperti
Lokasari, Lofunta (Lo); Yapina (Yap); Chendana (Chen); Limawan (Lim);
Angwar (Ang); Oenkiriwang (Oen); Lauwidjaja, Lauwita (Lauw).
3. Nama keluarga dipertahankan secara fonetis sebagai suku pertama
dalam NI dengan penyesuaian grafis dan digabung dengan suku lain (91
nama/11,23%). Contoh untuk kategori ini adalah Widjaja, Winata,
Widagdo, Wiharto, Widianingsih, Widodo, Wikarta, Widjoseno, Wibowo,
Wiharja (Oey); Wibawa (Whie); Hidayat (Hie); Kusnadi, Kurnia, Kusiana
(Khoe); Teja, Tejamulia (The); Chandra, Tjandra (Chen, Tjan); Kosasih
(Kho); Djohan (Jo); Anggraeni (Ang); Tanti (Tan) Tamin (Tham), Leman
(Lie). Pada kelompok ini tampak bahwa suku kata wi cukup produktif
dalam pembentukan NI yang lazim. Ada beberapa nama yang terasa
berbeda dengan NI pada umumnya, misalnya Lohananta, Lohanda (Loa);
Mercu Buwono (Tjung); Tamira (laki-laki; Tham); Liman, Lisan,
Libriyani (Lie); Tandri, Tanu, Tandra (Tan, Tjhin). Kelompok ini
dibedakan dari kelompok (4 berikut ini) karena suku pertama dapat
dianggap sebagai tempat yang sama dengan nama keluarga.
4. Nama keluarga dipertahankan pada suku kedua atau ketiga NI dengan
penyesuaian grafis (88 nama/10,86%). Contoh untuk kategori ini adalah
Susilo, Pranolo (Lo); Halim, Musalim, Salim (Lim, Liem); Muliana,
Rusli, Mursali, Muslina, Ali, Mulia, Soelistio, Darmali (Lee, Lie);
Hartanti, Hartanto, Sutanto, Intan, Hartani, Kristanto (Tan);
Prasetio, Susantio (Thio); Sugimin (Gim); Sukowidono (Wie); Otong
(Ong); Supandi (Phan); Wigono (Go); Nawangwulan (Wang) Suyapto (Yap);
Supangat (Pang). Terdapat nama yang kurang lazim seperti Sulim (Lim);
Aly, Taruli (Lie).
5. Dua suku NT dipertahankan pada NI dengan penyesuaian grafis (40
nama/4,93%). Salah satu suku dapat merupakan nama keluarga, seperti
Sotiniwati (Lie So Tin), Suwandi Kosim (Kho Chuan Suan), Asnawi Halim
(Lim Thian Wie). Ditemukan satu nama yang mempertahankan ketiga suku
NT-nya yakni Setyo Setiawan (Thio She Wen), Meilina Hardjali (Lie Mei
Ling). Ada nama yang gabungannya kurang lazim, seperti Firmansyah
Aluwi (Liauw Yuk Tjong); Pikman Wibisono (Oei Wie Pik); Tanin Djuhari
(Tan Tek Djoe).
6. Salah satu NT (bukan nama keluarga) dipertahankan (163
nama/20,12%). Ada nama yang memang sesuai dengan ejaan NI seperti
Sukidjan (Tjo Tiang Djan), Landriyati (Tjo Giok Lan), Iping Jaya
(Kang Siu Ping). Ada nama yang ditulis dengan penyesuaian grafis,
misalnya Yohanes Warsono (Tjan Kiem Hwa), Wirya Sentoso (Gim Wei I),
Suhita Tandra (Tjhin Men Sui), Leonard Sailan (Lim Tjing Say).
7. NT tidak terlihat lagi dalam NI (349 nama/43, 08%). Nama yang
dipilih pada umumnya NI yang lazim, yang diambil dari kitab suci atau
nama yang berciri Barat. Contoh:
a. Hendrik Irawan (Lay Foek Nam), Suryadi Sunarso (Tjoa Bun Seng),
Diany Agustin (Tjoa Kiok Nio), Asam Basrie (Hiu Nen Kiong), Dwiratna
Suhardjo (Oen Tjuk Yoen). Harum Budiningsih (Oey Kwie Hiang).
b. Yohanes Hidayat (Lie King Heng), Fransisca (Pang Siang Nio),
Thomas Budiman (Chuang Sin Fat), Henoch Setiawan (Lauw Tjoei Hin).
c. Claudia Christina (Tan Moei Tjin ), Brian Herabadi (The Eng Goan),
Hendrik Irawan (Lay Foek nam).Jenny Andelma (Thian Khai Shien).
Ada beberapa nama yang dirasakan kurang lazim, seperti Budi Sawahanto
(Thian Jie Jim), Thomas Nagazaki (Liong Tjoen Hian), Freddy Baguna
(Ong Boen Hong), Petrus Otto Toindo (Ang Sioe Leng). Sebaliknya,
ditemukan nama keluarga terkenal, seperti Melani Iskandar Dinata (Tan
Beng Giok), G. Th. Mangundap (Thio Giok Tjioe), George Wenas (Jan
Khik Kay). Memang terbuka kemungkinan bahwa sebuah keluarga Indonesia
memberikan nama keluarganya untuk orang keturunan Tionghoa.
Selain ketujuh pola tersebut, ditemukan dua kasus yang cukup menarik
berikut ini.
(1) NI ayah: Tjahyadi Mulyawan (Tjia Tjie Kian), sedangkan anak-
anaknya menyandang nama yang sama di belakang nama kecil mereka,
yaitu Tjandra. Padahal, nama NT mereka pasti mengikuti marga ayah
mereka, tetapi pada NI mereka tidak memakai salah satu dari NI ayah
mereka. Dari segi ejaan (perhatikan huruf Y dan J), ada
kesimpangsiuran pada nama Tjahyadi Mulyawan yang seharusnya Tjahjadi
Muljawan atau Tyahyadi Mulyawan.
(2)NI ayah: Mulia Hadiwinata (Oey Wie Say). Enam orang anaknya (dari
9 orang) memakai nama Hadiwinata di belakang nama kecil mereka,
seperti Yos Hadiwinata, Erick Hadiwinata; sedangkan yang 3 orang
lainnya menyandang nama kedua yang berbeda-beda, yaitu: Bun Winarto,
I Made S.Wiguna, dan Irena Winata. Pada tiga nama yang terakhir ini
marga NT Oey dipertahankan pada suku pertama dengan penyesuaian
grafis.
Tampak bahwa jumlah terbesar pola penggantian NT terdapat pada
kelompok terakhir. Cukup banyak WNI keturunan Tionghoa yang
meninggalkan semua identitas namanya secara grafis. Ternyata, banyak
suku kata Indonesia yang secara fonis bisa cocok dengan suku kata
nama Tionghoa. Meskipun demikian, masih ada NI yang kurang lazim.
Penambahan—wati (yang dianggap sebagai ciri keindonesiaan) dilakukan
tanpa memperhatikan keserasian, seperti pada Hildawati, Pingkowati,
Sotiniwati, Mariawati, Luciawati, Ellywati.
PENUTUP
Seperti dapat dibaca pada SK Presidium Kabinet RI, peraturan ganti
nama tidak memberi batasan secara rinci dan tidak mencantumkan
sanksi. Sanksi yang mungkin dihadapi dapat berupa sanksi psikologis,
mengingat WNI keturunan Tionghoa sering menjadi obyek diskriminasi.
Dari NI yang demikian beraneka ragam, terlihat betapa luasnya
kebebasan hak pilih dan hak cipta yang diberikan pemerintah
Indonesia. Di pihak lain, makin besar pula fungsi deiktis antroponim
di Indonesia. Sekarang, nama Djoko atau Wenas tidak lagi hanya pada
seorang yang berasal dari etnik Jawa atau Manado, tetapi dapat juga
pada WNI keturunan Tionghoa; Firmansyah tidak lagi harus mengacu pada
seseorang yang beragam Islam karena dapat saja merupakan nama seorang
WNI keturunan Tionghoa yang beragama lain. Sehubungan dengan itu,
tercapailah tujuan asimilasi seperti tercantum pada klausul Menimbang
angka 2 dalam SK Presidium Kabinet tentang peraturan ganti nama
tersebut.
DAFTAR ACUAN
Bromberger, Christian (1982), "Pour une analyse anthropologique des
noms de personnes," Langages, No. 66, Juni.
Molino, Jean (1982), "Le nom propre dans la langue," Langages. No.
66, Juni.
Patadungan, Chrstine Naomi D. (1993), "Makna dan Fungsi Nama
Tionghoa: Suatu Tinjauan Umum mengenai Tradisi Penggunaan Nama di
Jakarta dan Sekitarnya," Skripsi Sarjana, Program Studi Cina,
Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
Sotyati (2002), "Nama Lahir, Nama Komersial, Apalah Arti Sebuah
Nama," Suara Pembaruan, 2 Juli 2002.
LAMPIRAN
KEPUTUSAN PRESIDIUM KABINET
No.127/U/Kep.12/1966
KETUA PRESIDIUM KABINET
Menimbang : 1. Bahwa dalam rangka nation dan character building
Indonesia; proses asimilasi warga negara Indonesia "keturunan asing"
kedalam tubuh bangsa Indonesia harus dipertjepat;
2. Bahwa penggantian nama dari orang Indonesia keturunan asing dengan
nama jang sesuai dengan nama Indonesia "asli" akan dapat mendorong
usaha asimilasi ini;
3. Bahwa oleh karena itu bagi warga negara Indonesia jang masih
memakai nama Tjina, jang ingin mengubah namanja jang sesuai dengan
nama Indo- nesia asli perlu diberikan fasilitas jang seluas-luasnya
dengan diadakan prosedur jang chusus;
Mengingat : Undang-Undang No. 4 tahun 1961.
MEMUTUSKAN
Menetapkan : Peraturan ganti nama bagi warga negara Indonesia jang
memakai nama Tjina sbb:
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
(1) Warga negara Indonesia jang masih memakai nama2 perseorangan dan
nama keluarga Tjina jang ingin mengganti namanja dengan nama jang
sesuai dengan nama jang lazim dipergunakan oleh masjarakat Indonesia,
dapat menjatakan keinginannja setjara tertulis kepada Kepala Daerah
Tingkat II atau pedjabat jang ditundjuknja;
(2) Nama2 jang dipilih tidak boleh melanggar adat sesuatu daerah atau
tidak boleh dianggap sebagai sesuatu gelar, dan tidak boleh melanggar
tata-kesusilaan;
(3) Kepala Daerah atau pedjabat jang ditundjuknja atas nama Menteri
Kehakiman memberikan tanda menerima atas surat pernjataan ganti nama
jang dimaksud;
(4) Sedjak jang bersangkutan menerima surat tanda penerima seperti
jang tersebut dalam ajat (3) ia dapat memakai nama jang baru;
(5) Apabila dalan djangka waktu 3 bulan sedjak ia menerima surat
tanda penerima jang dimaksud dalam ajat (3) diatas, tidak terdapat
sanggahan atau gugatan atas pemakaian nama baru itu dari siapa pun
jang disalurakan melalui Kepala Daerah Tingkat II jang bersangkutan,
maka ia dapat menggunakan nama tersebut seterusnja dan dianggap telah
mendapat izin dari Menteri Kehakiman seperti yang dimaksud dalam
pasal Undang-Undang No.4 tahun 1961.
BAB II
PROSEDUR
Pasal 2
(1) Untuk menampung pelaksanaan penggantian nama setjara tersebut
diatas, diadakan prosedur chusus jang menjimpang dari prosedur biasa
untuk djangka waktu terbatas.
(2) Penggantian nama menurut ketentuan ini dilakukan dengna tjara
mengisi surat pernjataan dalam rangkap 3 (tiga) dimana harus
ditjantumkan nama lengkap lama, tanggal dan tempat lahir serta alamat
disamping nama lengkap jang baru dari jang bermaksud mengganti
namanja.
(3) Setiap surat Pernjataan harus disertai surat bukti
kewarganegaraan R.I. jang bersangkutan.
(4) Penggantian nama dari anak dibawah umumr 18 tahun dilakukan oleh
orang tua atau walinja dalam Surat Pernjataan jang sama atau Surat
Pernjataan tersendiri.
(5) Surat Pernjataan diadjukan kepada Bupati/KDH atau Walikota/KDH
setempat untuk didaftar, diberikan nomor daftar dan disahkan.
(6) Satu helai dikirim kepada Menteri Kehakiman R.I. di Djakarta
melalui Kantor Bupati/Walikota KDH jang bersangkutan.
Satu helai disimpan dalam arsip Kantor Bupati atau Walikota KDH jang
bersangkutan.
Satu helai Surat Pernjataan segera dikembalikan kepada jang
bersangkutan, untuk diusahakan perubahan akte kelahiran dan, djika
ada, akte perkawinanja pada Kantor Tjatatan Sipil jang bersang-kutan.
(7) Surat Pernjataan jang telah didaftar diberi nomor dan disahkan
oleh Bupati/KDH atau Walikota/KDH jang bersangkutan mempunjai
kekuatan hukum jang sah.
BAB III
LAIN-LAIN
Pasal 3
(1) Dalam melaksanakan keputusan ini para Bupati dan Walikota KDH
jang bersangkutan supaja menjediakan fasilitas2 jang seringan-
ringannja kepada para pengganti nama guna memperlantjarkan prosedur.
(2) Untuk biaja administrasi tidak boleh dipungut biaja lebih dari
Rp.25,- ub (dua puluh lima rupiah ub) untuk setiap pernjataan.
(3) Hal2 jang belum diatur dalam keputusan ini akan diatur kemudian
oleh Menteri Dalam Negeri.
(4) Keputusan ini mulai berlaku tanggal 1 Djanuari 1967 dan berachir
pada tanggal 1 Maret 1968.
Ditetapkan di : D j a k a r t a.
Pada tanggal : 27 Desember 1966.
PRESIDIUM KABINET AMPERA
K e t u a,
ttd.
S O E H A R T O
DJENDERAL T.N.I.
(Sumber: Dikutip dari dokumen Departemen Luar Negeri Republik
Indonesia.)
--
Best Regards,
Eddy
Sepertinya masyarakat karena lama tidak ada kehidupan politik jadinya tidak
peka lagi pada hal-hal yang berkaitan dengan politik.
Kebijakan politis pun tidak dianggap sebagai persoalan politik, seperti
kebijakan pada masyarakat tionghoa ini.
salam,
khanis
Send up to 1GB of
files in an IM.
for moderators
of Yahoo! Groups.
Mengenai discriminasie harap kalian melihatnya open mind.
Diseluruh dunia kita akan menemukan diskriminasi yg disebabkan termasuknya suatu individue didalam group yg tertentu. Ini adalah sesuatu yg diciptakan oleh alam instinct setiap manusia. Orang kulit putih akan mendiskriminasi mereka yg berwarna hitam atau coklat atau mongolian type. Sebaliknya orang mongolian type akan mendiskriminasi terhadap lain bangsa. Semua ini terjadi visa versa.
Yang sekarang tidak diterima oleh masa diseluruh dunia dan yg kurang lebih ditentukan UN sebagai pelangaran HAM adalah diskriminasi yg diciptakan oleh pemerintah suatu negara atau suatu instansi. Disini jikalau ada pembunuhan masal atau kcil2an sering istilah genocide dipakai - ump.nya keadaan diex-Yugo atau dulu diKampuchea. Untuk menghukum pelangaran HAM ini hingga kini tetap tidak mudah dijalankan karena tidak ada suatu negarapun yg bersedia menjadi polisi negara lain dan persoalan genocide hanya dpt diadili intern negara. --- Sebagai bukti genocide terhadp yg berpikiran kommunis/proSukarno diIndonesia tidak ada yg dihukum meskipun dunia tahu genocide terjadi.
Diskriminasi lain yg kita sering lihat dan yg dilakukan oleh pemerintah adalah diskriminasi terhadap sesama penduduk oleh pemerintah suatu negara berdasarkan agama dan kesukuan. Sebagai contoh yg paling jelas disini adalah genocide yg kita ketemukan diGafur-Sudan atau yg sering tidak tercatat diskriminasi terhadap orang hitam diUSA atau antara Shiya dan Sunni diIraq dan negara kelilingnya.
Di-Indonesia kita lihat antara agama2 dan antara suku2 Ini diskriminasi berdasarkan ketidak percayaan sesama penduduk adalah yg paling sulit untuk diberantas. Jikalau ini ditambah dgn peraturan yg se-wenang2-nya dari pemerintah dgn kartu identifikasi ini malah sangat berbahaya.[keadaan analog dgn orang Yahudi sewaktu jaman Nazi]
Ini yg saya kira dapat kita ketemukan diIndonesia dan meskipun ini tidak termasuk genocide ini termasuk oppression dari pemerintah dan dapat menghancurkan kedamaian disuatu daerah. Mencegah keadaan demikian ini memerlukan openmindednya suatu pemerintah yg bersedia memberikan koreksi keadaan. Ini sebetulnya tidak sesuai dgn UUD dari negara Indonesia tetapi jikalau ada suatu group seperti FPI atau MUI menguasai pemerintah - inilah sesuatu yg sering terjadi.
Jikalau pemerintah tidak bertenaga untuk memberantas diskriminasi semacem ini - well negara tidak akan dapat maju. Setiap group akan merusak lain group yg lebih makmur sedikit dan achirnya setiap group akan melarat bersama. Buktinya umat Ahmadiyah oleh karena progresive thinking maju didalam banyak bidang dan umat mereka cukup beruang untuk memnbangun keperluan perumahan bagi umat mereka - yg sekarang dgn ribuan alasan2 yg irihati merusaknya dan mensitanya dgn persetujuan pemerintah setempat.
Achirnya mereka sesama hilang basis kemajuan mereka.
Jadi jikalau pemerintah tidak insjaf bahwa kondisi ini tidak sehat development negara tidak mungkin - suatu bukti lain ump. suku dayak dan madura diKalimanten Penduduk kristen dan muslim diPoso atau suku ket, china dikota2 besar. Setiap group akan mengisolasikan diri sebagai selfpreserving dan diskriminasi akan dipertingkat sehingga menjadi bloody.
Dgn analisa saya ini silahkan kalian pilih sendiri apa yg kalian ingin capai. Jikalau kalian tidak ingin bertobat well konskwensinya sudah jelas sekali dan dapat kalian rasakan didalam kemajuan ekonomie dan tehnology negara. Untuk banyak pindah kerantau adalah solutionnya tetapi ini adalah temporary jikalau rantau keadaannya sama.
Andreas
[Non-text portions of this message have been removed]
Send up to 1GB of
files in an IM.
ana ngga akan banyak komentar dah.
1). Motivasi ente apa bawa-bawa tokoh agama di Indonesia? Ana berusaha
netral ente malah
dragged ke polemik agama neh. Hehehe... Sorry dude, I am not
interested.
But anyhow...
saya bisa dapatkan kontak Bpk. Pdt. Gilbert Lumoindong, Ev. Daud Tony,
dll (mungkin sekalian
Bpk. Eku Hidayat yang mantan suhu) dari rekan saya yang beragama
kristen.
ente mungkin perlu kontak beliau-beliau secara langsung untuk
meluruskan hal-hal yang
ente serang itu. Apakah ente bersedia? supaya menghindari fitnah
murahan yang terus ente
tulis di forum ini. kalau ente bermaksud baik, tentu bersedia. kalau
tidak wah berarti ente
takut pada kebenaran yach !!! ntar saya japri kontak-kontak beliau kl
elo bersedia (both side
of the story-lah, kira-kira demikian maksud ana). Mungkin ana bisa
dapatkan kontak loe?
Siapa tahu mereka bisa menghubungi ente secara pribadi buat meluruskan
fitnah.
sekalian tanyakan juga "menjual Tuhan" seperti yang ente tuduhkan itu.
jangan asal cuap-cuap
mengumbar omongan pake style yang ngga lucu trus menfitnah orang tanpa
orang tersebut
mampu membela diri sehingga orang yang ngga ngerti akan menganggap
fitnah ente adalah
suatu kebenaran. saya ngga akan berpolemik lagi.
silahkan pilih, mo kontak beliau2 lalu luruskan sendiri atau menolak
dan takut pada kebenaran.
2). Stephen Hawking dkk menggunakan scientific formulation untuk
meng-hipotesiskan
beberapa fenomena kosmik seperti black hole, singularitas bing bang
dll. saya sudah baca buku
beliau dan isinya sangat menarik. formula ini jika dihitung oleh seribu
orang yang berbeda akan
menghasilkan yield yang sama (absolut). kalau perhitungan yang ente
maksud, seribu orang yang
menghitung bisa menghasilkan seribu kombinasi hasil yang berbeda-beda.
relatif non absolut.
Ngerti bedanya? kl mo komparasi ya apple-to-apple donk.
3). Suhu di TV yang ente sebut "ecek-ecek" itu adalah Bpk. Kang Hong Kian
dan beberapa
suhu lain yang oleh bagian editor TV dianggap terkenal.
Hehehe...sampeyan sok banget
berani omong kl gw korban suhu ecek2 di tipi, dimana Bpk. Kang Kong
Kian lah yang saya
liat waktu itu. Kalo mulut besar loe ditampar bisa monyong tujuh
turunan, tahu ngga !
Saya yang tidak percaya pada shio aja ngga berani bilang beliau adalah
suhu ecek-ecek
karena itu berarti menghina orang secara pribadi dimuka umum, apalagi
kita ngga begitu
mengenal "sepak-terjang" beliau. Wooo....nekat bener ente ! ngawur !
nih gw quote tulisan loe, sapa tau ente ngga ngaku, menghindar lalu
muter2 kasih
argumen yang ga lucu.
===
Loe aje ngeliatnye di TIPI yg jadi KORBAN suhu2 ECEK2.
===
Anton Syafii N (ASN).
_____
.
<http://geo.yahoo.com/serv?s=97359714/grpId=11328156/grpspId=1705329729/msgI
d=30545/stime=1202585822/nc1=3848643/nc2=3848578/nc3=5202322>
[Non-text portions of this message have been removed]
setuju banget.
jadi lu bisa undang mrk bahas dimuka umum terutama model harun yusuf,
eddy tattimu ama ekku hidayat trus theodore tabareka.
jgn model theodore tabareka yg dah dituntut minta maap ama hikmabudhi
tapi diem2 aje.
Ayo kapan kita adain debat terbuka itu ?
biar bisa ngeliat kalu harun yusuf itu bawa2 ilmu pekji pake bedol2
roh, kita adepin ama yg bisa ngerti ilmu pekji beneran.
trus soal eddy tattimu ngaku2 agama tao, kita temuin ama tosu beneran.
trus ekku hidayat yg bilang2 shio2 itu kayak binatang, biar die
berhadapan ama ahli kalender chinese. Jgn bilang lagi RAJA NERAKA TEE
CONG ONG POSAT hehauahahahahahahaha
Jadi nti mrk berhadapan ama dari agama KHC, Tao ama Buddha ya !!!
You adain itu kapan dan gelar dimana ?
nanti gw dateng , ngkale dari temen2 laen jg mo dateng ngedengerin tuh.
kapan yuk adain gelar terbuka.
biar mata lu melek kalu lu dicipoain.
suhu ecek2 di tipi mah banyak tapi gak artinya semua ecek2.
Akino gak termasuk ecek2, Kang Hongkian jg gak termasuk ecek2.
Tapi banyak yg ecek2 tuh. Nama gw gak usah sebutin tapi kalu lu ngerti
dikit aja, lu bakalan bisa ngeliat yg ecek2 yg mana.
discuss everything
related to dogs.
Celakanya permainan cantik orde baru ini bagi sebagian orang dijadikan bukti bahwa Orde baru memang Cuantik. ----- Huebat tenan......
ZFy
----- Original Message -----
From: Andrew Lim
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Sent: Sunday, February 10, 2008 10:58 AM
Subject: [budaya_tionghua] Re: FW: "Saya Merasa Tidak Didiskriminasi"
Soal pelarangan klenteng oleh pemerintah Orde Baru, saya kira mungkin
pemerintah tidak main kasar. Sama halnya dengan penggantian nama dari
nama Tionghoa menjadi nama Indonesia. Tidak ada undang-undang yang
mengharuskan orang Tionghoa di Indonesia untuk mengganti namanya.
Yang ada hanyalah himbauan dari pemerintah. Kalau himbauan, berati
boleh dituruti boleh tidak. Tetapi himbauan pemerintah itu adalah
bahasa halusnya "perintah." Kalau tidak dituruti, tentu ada
konsekuensinya. Bisa saja pemerintah Orde Baru mempersulit orang-
orang Tionghoa yang tidak mengganti namanya menjadi nama Indonesia.
Saay kira soal larang-melarang itu, Orde Baru bermain sangat cantik,
dan tidak main kayu.
Andrew
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "RM Danardono HADINOTO"
<rm_danardono@...> wrote:
>
> --- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "Prometheus"
> <prometheus_promise@> wrote:
> >
.
----------------------------------------------------------
[Non-text portions of this message have been removed]
Kalau tidak diskriminatif dan dianggap sudah benar, untuk apa Inpres2 tsb harus dicabut ?
Kalau hanya pelaksanaannya yang terdistorsi, ya tegur pejabat2nya saja, dan awasi pelaksanaannya. kok peraturan yang sudah benar yang diutak utik?
----- Original Message -----
From: ardian_c
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Sent: Saturday, February 09, 2008 3:05 AM
Subject: [budaya_tionghua] Re: FW: "Saya Merasa Tidak Didiskriminasi"
Judulnya boleh gede "saya merasa tidak didiskriminasi" tapi isi
tulisannya kok beda hehehehehehe
coba aja baca
"Saya tidak mengatakan itu. Tapi, apakah saya harus mengatakan bahwa ada
diskriminasi, padahal saya tidak merasa didiskriminasi. Tapi, saya dan
rekan-rekan memang pernah memperjuangkan untuk menghapus Inpres No 14/1967
yang dalam pelaksanaannya banyak distorsi. (Inpres No 14/1967 mengatur
tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat China. Dalam inpres itu,
warga
.
----------------------------------------------------------
[Non-text portions of this message have been removed]
----- Original Message -----
From: "Prometheus" <prometheu...@yahoo.com.sg>
To: <budaya_...@yahoogroups.com>
Sent: Saturday, February 09, 2008 7:05 AM
Subject: RE: [budaya_tionghua] Re: sdri Greysia: kelenteng dan masa
reformasi
> >
> Mungkin harus dicermati pula apa alasan-alasan/latar belakang klenteng
> terancam "mau-ditutup". Antara satu klenteng dengan klenteng yang lain,
> mungkin bisa berbeda-beda alasan. Saya pun pernah mendengar, persaingan
> antar yayasan/organisasi masyarakat dan keagamaan (budha, sam kauw, khong
> kauw ?) kadang ikut mempengaruhi.
>
> Silakan rekan-rekan yang pernah mengalami/mendengar bisa ikut cerita dan
> koreksi.
>
> Prometheus
>
>
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
Analisa kawan2 tentang LPKB, angkatan darat dll, sekali lagi membuktikan, memang ada Kalangan2 tertentu dengan motif ber-beda2 yang ikut mendorong lahirnya serangkaian kebijakan " Anti Tionghoa"nya rezim Orde Baru! dan bukan hanya faktor "anti RRT" semata yang jadi tameng selama ini.
ZFy
----------------------------------------------------------
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.2/1270 - Release Date: 10/02/2008 12:21
[Non-text portions of this message have been removed]
Pak Hadinoto,
Terima kasih Bapak berbagi artikel ttg penggantian nama. Artikel tsb
sangat menarik, apalagi juga ada lampiran perpunya, yang saya tidak
punya.
Peraturan pemerintah (perpu) tsb memang TIDAK MENYATAKAN bahwa orang
Tionghoa HARUS mengganti nama Tionghoa mereka, hanya bagi mereka
yang INGIN saja.
Masalahnya, ini khan bahasa pemerintah. Yang tersirat adalah bahwa
orang Tionghoa harus mengganti nama mereka dengan nama Indonesia.
Ada juga orang Tionghoa yang mbalelo, yang tidak mengganti nama
mereka. Seperti kwik Kian Gie, misalnya. Kalau Kwik Kian Gie mungkin
tidan mengalami masalah yg berarti, tetapi saya tidak tahu bagaimana
dengan mereka yang tidak mempunyai "capital" (kuasa, pengaruh, dll)
seperti Kwik Kian gie.
Ada artikel di the Jakarta Post tempo hari yg menulis kesulitan yg
dihadapi oleh mereka yang mempunyai nama Tionghoa.
Salam,
Andrew
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "RM Danardono HADINOTO"
<rm_danardono@...> wrote:
>
> --- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "Andrew Lim"
>------- deleted---
Menurut saya, tiap orang punya pengalaman sendiri-sendiri, ada yang
merasa di-diskriminasi (untuk aspek yang berbeda-beda, misalnya,
kebebasan menyelenggarakan ibadah, atau akses mendapat buku mandarin,
dll), ada juga yang tidak. Dan pengalaman tsb tidak bisa
disamaratakan.
**** Mengenai pengalaman pengalaman yang berbeda saya kira banyak
benarnya. Saya kenal beberapa sahabat konglo dan hampir konglo, yang
bukan main bahagia di era itu, malah menjadi kaya karena situasi kala
itu.
Tetapi dapatkah pengelaman group ini dijadikan thesa umum, bahwa
kondisi budaya Tionghoa dan kehidupan ke Tionghoaan sangat disambut
kala itu?
Prom:
Pengalaman sekelompok orang tentu tidak dapat serta-merta dijadikan suatu
thesis yang berlaku umum. Demikian pula sebuah thesis yang berlaku umum
tidak dapat pula menafikkan adanya pengalaman-pengalaman yang berbeda dari
masing-masing orang yang tetap patut di-acknowledge.
Saya sependapat bahwa pada masa orde baru, budaya tionghoa tidak mendapatkan
kesempatan untuk diekspresikan secara leluasa dibandingkan masa sebelumnya.
Walaupun saya melihatnya tidak diberangus total (sebagian orang menilai ini
adalah hasil dari 'perlawanan' yang dilakukan dan 'toleransi' atau
'kompromi' yang diberikan oleh pemerintah). Pembatasan serupa inipun tidak
hanya dialami komunitas masyarakat tionghoa, tapi juga elemen masyarakat
lainnya.
Dalam beberapa thread belakangan ini, saya tidak menemukan ada yang tidak
sependapat dengan pandangan diatas (mungkin ada sedikit perdebatan pada
details dan fakta). Perbedaan pendapat sebenarnya muncul pada (diawali oleh)
pertanyaan apakah kebijakan-kebijakan tersebut "anti-tionghoa" karena
intention ingin memberangus budaya/komunitas tionghoa, ataukah
"anti-pengaruh RRT" yang merupakan response terhadap kondisi politik pada
masa itu. Saya sendiri berpendapat yang kedua. Perbedaan keduanya ini tentu
tidak menegasikan dampak yang dialami oleh (sebagian) komunitas tionghoa.
Akan tetapi, setidaknya bagi saya, perbedaan kedua pendapat ini lebih kepada
upaya memilah dan memahami apakah kebijakan orde baru tersebut adalah buah
pertikaian politik, ataukah sesungguhnya dilandasi semangat rasialis.
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.2/1271 - Release Date: 11/2/2008
8:16 AM
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
.: Website global http://www.budaya-tionghoa.org :.
.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.
.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.
Dalam agama pun ada diskriminasi dan denganjelas dianjurkan misalnya dalam
Al Quran 5:51 dikatakan "tidak boleh mengambil orang Yahudi dan Kristen
menjadi teman dan pemimpin". Jadi pendeknya repot, melawan dikriminasi dari
segi etnik bisa saja melalui pendidikan dan peraturan pemerintah seperti di
USA, tetapi bagaimana dengan diskirminasi yang diwahyukan oleh Allah.
Apakah jalan untuk mengatasinya diskriminasi jenis ini ialah negara harus
memisahkan urusannya dari urusan agama, sebab kalau urusan agama negara
dicampur aduk bisa agaknya diskriminasi berazaskan agama ini tidak mungkin
diatasi. Sedikit contoh selama kekuasaan Pak Harto yang manis itu kurang
lebih 400 gereja dibakar, tidak ada urusan apa-apa. Pada kantor Gubernur
Maluku di Ambon, sejumlah pegawai beragama Kristen diberhentikan dan pada
tempat mereka ditaruh pegawai-pegawai baru dari agama lain.
Mudah-mudahan diskriminasi apa pun akan hilang, berkat ketekunan kita semua
untuk membasminya.
----- Original Message -----
From: "Prometheus" <prometheu...@yahoo.com.sg>
To: <budaya_...@yahoogroups.com>
> --
> No virus found in this incoming message.
> Checked by AVG Free Edition.
> Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.2/1270 - Release Date: 2/10/2008
> 12:21 PM
Wah Bung Andrew, Anda rupanya cukup jeli menyimak perpu yang dibawa tsb.
memang tidak ada kata HARUS, kata DIHIMBAU pun tidak ada.
Menurut cerita engkong2 yang mengikuti arus pergerakan politik tahun
1965 itu,
katanya, perpu urusan ganti nama tersebut baru dibuat setelah banyak
orang tionghoa yang ingin mengganti namanya,
berhubung nggak ada juklak yang seragam, padahal fenomena itu terjadi di
banyak tempat,
membuat simpang siur aturan yang dipakai petugas untuk meluluskan
permintaan ganti nama tersebut,
maka keluarlah keputusan tsb yang hampir mirip dengan inpres,
seperti diketahui instruksi presidan sifatnya lebih cepet untuk bisa
dijalankan ketimbang menyusun dulu aturan undang undang yang bisa makan
banyak waktu.
Jadi justeru dengan keputusan presidium kabinet ini MEMUDAHKAN untuk
mereka yang INGIN ganti nama.
Mengenai usulan untuk mengganti nama Tionghoa menjadi nama yang lebih
berbau INDONESIA sendiri sebetulnya sudah beredar dari semenjak SEBELUM
pecah G30S, hanya sesudah kejadian tersebut, orang lebih antusias untuk
ganti namanya jadi lebih ngindonesia gituh. Kalau engkong sih suruh gue
perhatikan beberapa artikel pro-kontra mengenai ganti nama di jaman
tersebut, dan bandingkan TANGGALNYA dengan tanggal keluarnya keputusan
presidium ini.
Enaknya belajar sama engkong, gue nggak disuapin info, dan gak dipaksa
untuk percaya, tapi disuruh melihat, mengamati, mikir sendiri baru
diskusi soal argumen kesimpulan, heheheh.
Temen SD gue masih banyak yang pake nama Cina, ada yang dua atau tiga
suku kata,
yang satu malah masuk perguruan tinggi negri, kesulitannya mengurus
surat tidak beda dengan gue, cina yang pakai nama Belanda. Jadi asumsi
bahwa kalau pakai nama tionghoa bisa 'dipersulit' kayaknya sekedar
kekhawatiran aja, ada yang merasa demikian ada juga yang tidak.
Tapi FAKTA adanya kesulitan kalau pake nama cina, adalah pada SPELLING
nya, seperti sudah pernah saya ceritakan di milis ini juga, nama satu
orang bisa diketik dengan tiga cara, itu bisa bikin repot deh ujungnya.
Tanpa kesengajaan untuk "mempersulit" juga memang udah "sulit" dari
sononya, karena kita ngga punya aturan baku yang bisa dipakai untuk
mengeja nama tionghoa.
-----Original Message-----
From: budaya_tionghua@yahoogroups.com
[mailto:budaya_tionghua@yahoogroups.com] On Behalf Of Andrew Lim
Sent: Monday, February 11, 2008 10:01 PM
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Subject: [budaya_tionghua] Re: FW: "Saya Merasa Tidak Didiskriminasi"
Pak Hadinoto,
Terima kasih Bapak berbagi artikel ttg penggantian nama. Artikel tsb
sangat menarik, apalagi juga ada lampiran perpunya, yang saya tidak
punya.
Peraturan pemerintah (perpu) tsb memang TIDAK MENYATAKAN bahwa orang
Tionghoa HARUS mengganti nama Tionghoa mereka, hanya bagi mereka
yang INGIN saja.
Masalahnya, ini khan bahasa pemerintah. Yang tersirat adalah bahwa
orang Tionghoa harus mengganti nama mereka dengan nama Indonesia.
Ada juga orang Tionghoa yang mbalelo, yang tidak mengganti nama
mereka. Seperti kwik Kian Gie, misalnya. Kalau Kwik Kian Gie mungkin
tidan mengalami masalah yg berarti, tetapi saya tidak tahu bagaimana
dengan mereka yang tidak mempunyai "capital" (kuasa, pengaruh, dll)
seperti Kwik Kian gie.
Ada artikel di the Jakarta Post tempo hari yg menulis kesulitan yg
dihadapi oleh mereka yang mempunyai nama Tionghoa.
Salam,
Andrew
> 127/U/Kep/12/-1966 yang dikeluarkan oleh Ketua Presidium Kabinet
> nama/11,23%)-. Contoh untuk kategori ini adalah Widjaja, Winata,
> Widagdo, Wiharto, Widianingsih, Widodo, Wikarta, Widjoseno,
Wibowo,
> Wiharja (Oey); Wibawa (Whie); Hidayat (Hie); Kusnadi, Kurnia,
Kusiana
> (Khoe); Teja, Tejamulia (The); Chandra, Tjandra (Chen, Tjan);
Kosasih
> (Kho); Djohan (Jo); Anggraeni (Ang); Tanti (Tan) Tamin (Tham),
Leman
> (Lie). Pada kelompok ini tampak bahwa suku kata wi cukup produktif
> dalam pembentukan NI yang lazim. Ada beberapa nama yang terasa
> berbeda dengan NI pada umumnya, misalnya Lohananta, Lohanda (Loa);
> Mercu Buwono (Tjung); Tamira (laki-laki; Tham); Liman, Lisan,
> Libriyani (Lie); Tandri, Tanu, Tandra (Tan, Tjhin). Kelompok ini
> dibedakan dari kelompok (4 berikut ini) karena suku pertama dapat
> dianggap sebagai tempat yang sama dengan nama keluarga.
> 4. Nama keluarga dipertahankan pada suku kedua atau ketiga NI
dengan
> penyesuaian grafis (88 nama/10,86%)-. Contoh untuk kategori ini
> nama/20,12%)-. Ada nama yang memang sesuai dengan ejaan NI seperti
> No.127/U/Kep.-12/1966
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.20/1261 - Release Date:
2/5/2008 8:57 PM
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.20/1261 - Release Date:
2/5/2008 8:57 PM
[Non-text portions of this message have been removed]
Hmmmm, jaaaadiiiiii........
Diskriminasi itu jangan jangan sebenarnya urusan PERASAAN aja???
Soalnya kok ada yang merasa di diskriminasi dan ada yang merasa tidak di
diskriminasi???
Cabut Inpres bukan melulu hanya karena alasan diskriminatif aja euy!
Bisa juga karena sudah tidak seusai dengan sikon masa sekarang.
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.20/1261 - Release Date:
2/5/2008 8:57 PM
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.20/1261 - Release Date:
2/5/2008 8:57 PM
[Non-text portions of this message have been removed]
Pemaksaan kesimpulan!
Sebetulnya masih bisa didiskusikan / diperdebatkan, tapi saya lihat Anda
sudah nggak ada argumen, cuman tersisa ad hominem, jadi kayaknya percuma
debat sama Anda.
Gak level, hihihihi.....
-----Original Message-----
From: budaya_tionghua@yahoogroups.com
[mailto:budaya_tionghua@yahoogroups.com] On Behalf Of Skalaras
Sent: Monday, February 11, 2008 9:50 PM
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Subject: {Disarmed} Re: [budaya_tionghua] Re: sdri Greysia: kelenteng
dan masa reformasi
Analisa kawan2 tentang LPKB, angkatan darat dll, sekali lagi
membuktikan, memang ada Kalangan2 tertentu dengan motif ber-beda2 yang
ikut mendorong lahirnya serangkaian kebijakan " Anti Tionghoa"nya rezim
Orde Baru! dan bukan hanya faktor "anti RRT" semata yang jadi tameng
selama ini.
ZFy
----- Original Message -----
From: ardian_c
To: HYPERLINK
"mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"budaya_tionghua@-yahoogroups.-
com
--- In HYPERLINK
"mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"budaya_tionghua@-yahoogroups.-
> To: HYPERLINK
"mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"budaya_tionghua@-yahoogroups.-
com
> --- In HYPERLINK
"mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"budaya_tionghua@-yahoogroups.-
com, "Jimmy Tanaya"
> > --- In HYPERLINK
"mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"budaya_tionghua@-yahoogroups.-
com, "ardian_c" <ardian_c@>
wrote:
> > >
> > ---cut----
> > > Urusan tulisan itu urusan pribadi ,bedain tulisan waktu nulis
pribadi
> > > sama tulisan yg bawa2 nama moderator.
> > >
> > > Dahlah dah mo Xinnian. Xinnian Kuaile Wanshi Ruyi
> > >
> > > --- In HYPERLINK
"mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"budaya_tionghua@-yahoogroups.-
com, "Jimmy Tanaya"
> > > <tanaya.geo@-> wrote:
> > > >
> > > > Wah kok 'diskusinya' jadi kayak gini ya.
> > > >
> > > > Para Moderator, saya protes. Tulisan seperti dibawah ini apa
tidak
> > > > menjurus ke penghinaan/pembentu-ran antar agama? ("Lu tanya
agamanya
> > > > ape tuh ? Sodara seiman lu bukan ?")
> > > >
> > > > Sdr Ardian, btw, pak Ong Khing Hiong (yg masuk feature "saya
tidak
> > > > merasa didiskriminasi"-) itu pengurus salah satu klenteng
tertua di
> > > > surabaya lho. Please note, saya tidak meragukan data bahwa ada
> > > > klenteng yg dipaksa tutup. Tetapi yg saya ragukan adalah "semua
> > > > klenteng mengalami hal tersebut". Diskriminasi memang ada, walau
> > > > kadarnya mungkin berbeda2 antar tempat.
> > > >
> > > > --- In HYPERLINK
"mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"budaya_tionghua@-yahoogroups.-
> .: Website global HYPERLINK
"http://www.budaya-tionghoa.org"http://www.budaya--tionghoa.-org :.
>
> .: Pertanyaan? Ajukan di
HYPERLINK
"http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua"http://groups.-yahoo.com/
-group/budaya_-tionghua :.
>
> .: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua HYPERLINK
"http://iccsg.wordpress.com"http://iccsg.-wordpress.-com :.
>
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
> --
> Internal Virus Database is out-of-date.
> Checked by AVG Free Edition.
> Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.18/1255 - Release Date:
2008/2/1 _W__ 09:59
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
----------------------------------------------------------
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.2/1270 - Release Date:
10/02/2008 12:21
[Non-text portions of this message have been removed]
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.20/1261 - Release Date:
2/5/2008 8:57 PM
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.20/1261 - Release Date:
2/5/2008 8:57 PM
[Non-text portions of this message have been removed]
Yang perlu dipertanyakan :
Apakah ADA kelenteng yang ditutup OLEH pemerintah???
KALAU ada, kapan, dimana dan apa sebabnya?
Itu khan inti thread soal kelenteng ini? kok jadi melebar kemana mana?
(siapa tuh yang pertama bawa soal kelenteng ditutup, tanggung jawab
duuunks, krrrrkkkkekekekekekeke )
Yahoo! Groups Links
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.20/1261 - Release Date:
2/5/2008 8:57 PM
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.20/1261 - Release Date:
2/5/2008 8:57 PM
Apa latar belakang dari " ada usaha keras untuk menghilangkan segala
yang berbau Tionghoa yang dipelopori oleh LPKB." ??
kalau sekian lama Tionghoa sudah hidup berdampingan di Indonesia dan
baik baik saja, kenapa kok ujug-ujug ada upaya menghilangkan
ketionghoaan???
Ada kejadian apa atau sikon politik apa sehingga ada orang-orang yang
menganggap 'menghilangkan ketionghoaan' sebagai salah satu solusi?
-----Original Message-----
From: budaya_...@yahoogroups.com
[mailto:budaya_...@yahoogroups.com] On Behalf Of ChanCT
Sent: Saturday, February 09, 2008 11:33 AM
To: budaya_...@yahoogroups.com
Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: sdri Greysia: kelenteng dan masa
reformasi
Salam,
ChanCT
--- In budaya_...@yahoogroups.com, "Jimmy Tanaya"
<tanaya.geo@...> wrote:
>
> Para moderators, terutama bung Ardian,
>
> 1. Saya menunggu jawaban dari moderator mengenai protes saya dalam hal
> reply sdr Ardian (ada di bagian 'ekor' message ini).
> 2. Saya menanyakan kembali, apakah milis budaya_tionghua masih 'setia'
> pada rel-nya utk tidak mendiskusikan (apalagi menjelek2an) SARA?
>
> Bung Ardian, menulis sebagai pribadi dan moderator itu memang beda.
> Saya juga moderator/owner di beberapa milis, maka, dalam batas2
> tertentu, saya juga mengerti pembedaan tersebut. Namun, sebagai
> moderator (dan penulis) ada 'kewajiban tidak tertulis' utk menjaga
> dengan amat sangat agar tulisan 'moderator/pribadi' tersebut tidak
> melanggar aturan milis. Lah kan jadinya lucu, masak moderator
> melanggar aturan milisnya sendiri? Bila pelanggar lain diberi sanksi,
> lalu apa sanksi bagi moderator yg melanggar? Nah, sekali lagi, karena
> kerumitan2 yg mungkin ditimbulkan oleh pelanggaran 'moderator' itulah;
> maka para moderator/owner sangat berhati2 dalam menulis.
>
> Bila orang lain melakukan kesalahan, bukan berarti kita juga 'boleh'
> melakukan kesalahan yg sama. Bukankah demikian bung Ardian?
>
>
> salam,
> jimmy
>
> --- In budaya_...@yahoogroups.com, "ardian_c" <ardian_c@> wrote:
> >
> ---cut----
> > Urusan tulisan itu urusan pribadi ,bedain tulisan waktu nulis
pribadi
> > sama tulisan yg bawa2 nama moderator.
> >
> > Dahlah dah mo Xinnian. Xinnian Kuaile Wanshi Ruyi
> >
> > --- In budaya_...@yahoogroups.com, "Jimmy Tanaya"
> > <tanaya.geo@> wrote:
> > >
> > > Wah kok 'diskusinya' jadi kayak gini ya.
> > >
> > > Para Moderator, saya protes. Tulisan seperti dibawah ini apa tidak
> > > menjurus ke penghinaan/pembenturan antar agama? ("Lu tanya
agamanya
> > > ape tuh ? Sodara seiman lu bukan ?")
> > >
> > > Sdr Ardian, btw, pak Ong Khing Hiong (yg masuk feature "saya tidak
> > > merasa didiskriminasi") itu pengurus salah satu klenteng tertua di
> > > surabaya lho. Please note, saya tidak meragukan data bahwa ada
> > > klenteng yg dipaksa tutup. Tetapi yg saya ragukan adalah "semua
> > > klenteng mengalami hal tersebut". Diskriminasi memang ada, walau
> > > kadarnya mungkin berbeda2 antar tempat.
> > >
> > > --- In budaya_...@yahoogroups.com, "ardian_c" <ardian_c@>
Yahoo! Groups Links
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.20/1261 - Release Date:
2/5/2008 8:57 PM
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.20/1261 - Release Date:
2/5/2008 8:57 PM
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
.: Website global http://www.budaya-tionghoa.org :.
.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.
.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
*** Untuk menyegarkan ingatan mengenai masa lalu yang kabur:
Daniel HT: PBB Serukan RI untuk Segera Realisasi Penghapusan SBKRI
Indonesia Media
Ternyata masalah SBKRI menjadi perhatian serius juga oleh PBB. Di
dalam Sidang Komite PBB untuk Penghapusan Diskriminasi Rasial di
Geneva, Swiss, pada 31 Juli-18 Agustus 2007 lalu hal ini sempat
menjadi perhatian Sidang Komite. Terbukti dengan adanya seruan dari
Sidang Komite PBB itu kepada Pemerintah RI untuk benar-benar
menjalankan penghapusan terhadap kewajiban adanya SBKRI. Karena
meskipun UU No. 12 Tahun 2006 telah disahkan. Dalam prakteknya masih
saja banyak instansi pemerintah yang meminta SBKRI ini dengan
berbagai alasan. Mungkinkah orang Indonesia Tionghoa yang selama ini
gigih memprotes soal SBKRI di Indonesia, telah juga berhasil mendesak
PBB mengeluarkan seruan tersebut? Luar biasa kalau memang begitu.
Saya ajukan pertanyaan sindiran ini karena selama ini oleh sebagian
Indonesia Tionghoa selalu menertawakan dan mengejek orang Tionghoa
yang menyatakan dan memprotes perihal SBKRI ini sebagai salah satu
bentuk diskriminasi warisan Orde Baru yang masih terbawa-bawa sampai
sekarang. Mereka beranggapan bahwa protes perihal SBKRI itu hanya
rengekan cengeng orang Tionghoa, dan diskriminasi yang disebutkan
Tionghoa itu hanya ilusi dan menyudutkan serta menjelek-jelekkan
Indonesia. SBKRI sama sekali bukandiskriminasi, melainkan memang
merupakan sesuatu yang sangat perlu.
Setelah pemerintah bersama-sama DPR mengesahkan UU No. 12 Tahun 2006
yang antara lain berisi ketentuan penghapusan SBKRI karena dipandang
sebagai bentuk diskriminasi terhadap etnis tertentu. Muncul reaksi
yang terasa aneh. Mungkin karena kecewa juga pemerintah mau mengakui
SBKRI sebagai salah satu bentuk diskriminasi (yang bertentangan
dengan pernyataan mereka) dan mau menuangkan dalam bentuk ketentuan
UU (lepas dari bagaimana implementasinya). Salah satu reaksinya
adalah pernyataan bernada sindiran: "Selamat kepada orang Indonesia
Tionghoa karena berhasil mendesak pemerintah menghapus SBKRI."
Salah satu alasan yang sering dikemukakan memang adalah bahwa SBKRI
harus tetap ada karena untuk menghindari terjadinya pemalsuan
identitas Kewarganegaraan. Tetapi anehnya, kewajiban SBKRI itu hanya
diterapkan pada etnis Keturunan Tionghoa, sedangkan etnis keturunan
lainnya, seperti Arab, tidak pernah diminta.
Alasan ini pun sebenarnya tidak bisa diterima. Apa iya kalau ada
SBKRI maka lebih menjamin identitas kewarganegaran seseorang tidak
dipalsukan? Bahkan SBKRI itu sendiripun bisa dipalsukan, bukan?
Jangankan SBKRI, paspor, pun bisa dipalsukan. Uang saja bisa
dipalsukan. Jadi, apa argumen tentang harus tetap ada SBKRI untuk
lebih menjamin kebenaran status kewarganegaraan seseorang itu bisa
dipertahankan?
Ariel Heryanto dalam tulisannya yang berjudul: SBKRI (Kompas, Minggu,
02 mei 2004) -- selengkapnya baca di http://www.kompas.com/kompas-
cetak/0405/02/naper/999727.htm, menceritakan pengalaman seorang WNI
Keturunan Tionghoa bernama Enin ketika berhadapan dengan birokrasi
pemerintah untuk mengurus surat-suratnya, dan tetap diminta SBKRI-
nya.
Di sebuah instansi pemerintah dia diminta SBKRI oleh pegawai yang
melayaninya. Terjadi percakapan antara Enin yang WNI Keturunan
Tionghoa dengan sang birokrat.
"Saudara punya SBKRI?"
"Punya."
"Mana?"
"Tidak saya bawa. Ada di rumah."
"Kenapa tidak Saudara bawa? Untuk mengurus ini Saudara harus bisa
menunjukkan SBKRI Saudara. Kalau tidak tidak bisa diteruskan karena
perlengkapan admnistrasinya tidak lengkap."
"Harap maklum, Pak. SBKRI itu adalah dokumen yang paling saya
sayangi. Sehingga saya simpan rapat-rapat di rumah...."
Hening sejenak. Tak lama kemudian, Enin mengajukan pertanyan yang
menohok logika Orde Baru.
"Bapak sendiri punya SBKRI?"
"Apa?"
"Saya tanya, bapak punya SBKRI?"
"Tidak. Untuk apa? Saya pribumi."
"Apakah Bapak warganegara Indonesia?"
"Jelas. tentu saja!!"
"Mana buktinya?"
"Maksud Saudara ini apa?!!
"Bagaimana kita bisa yakin kalau Bapak ini warganegara Indonesia.
Bagaimana Bapak bisa mengaku-ngaku sebagai orang Indonesia,
warganegara Indonesia, sedangkan Bapak tidak punya dokumen resmi yang
dapat membuktikan itu?"
"???"
"Jelek-jelek begini, saya orang Indonesia. Saya ini warganegara
Indonesia. Saya tidak asal mengaku saja seperti bapak. Karena saya
punya dokumen resmi yang dapat membuktikan hal ini. Namanya SBKRI."
Cerita di atas memang benar-benar menohok logika Orde Baru. Kalau
memang SBKRI adalah dokumen yang paling sahih untuk membuktikan
kewarganegraan seseorang, kenapa hanya etnis Tionghoa saja yang
mempunyai kewajiban untuk itu? Padahal mereka sudah turun-temurun
dilahirkan sebagai WNI. Lain halnya kalau orang tersebut apapun
etnisnya semula WNA dan hendak menjadi WNI.
Dalam kasus-kasus seperti ini dokumen seperti Akta Kelahiran dan KTP
pun dirasakan tidak cukup. Padahal kedua dokumen negara ini dengan
jelas-jelas menyatakan bahwa orang tersebut dilahirkan dan mempunyai
kewarganegaraan Indonesia. Apakah ini tidak sama dengan instansi yang
tetap minta SBKRI itu tidak percaya, atau tidak mengakui pernyataan
di dalam Akta Kelahiran dan KTP tersebut?
Seseorang yang mempunyai etnis pribumi (misalnya etnis Jawa), tidak
absolut mutlak dia pasti seorang WNI. Bisa saja dia telah berubah
kewarganegaraan menjadi warganegara asing. Jadi kewarganegaraan
seseorang tidak bisa dilihat semata-mata hanya dari etnisitas saja.
Orang-orang Jawa di Suriname, apakah mereka juga WNI? Jelas, bukan.
Sebab sejak turun-temurun mereka adalah Warganegara Suriname
sekalipun dari bentuk fisik, ras, etnis dan budaya mereka adalah
Jawa. Dan. mereka tetap bangga sebagai orang Jawa, tanpa mengurangi
nasionalismenya sebagai Warganegara Suriname.
Sudah entah berapa banyak UU yang disahkan, yang bagus di atas
kertas, tetapi tidak dalam implementasinya. Tidak terkecuali dengan
UU No. 12 Tahun 2006 ini. Berbagai alasan biasa dikemukakan.
Misalnya, belum ada juklak, dan sejenisnya. Padahal jika memang punya
itikad baik, atau tidak kaku dalam bersikap para birokrat yang masih
tetap bersikukuh untuk minta SBKRI itu bisa saja untuk tidak lagi
mewajibkan SBKRI ini. Tidak harus menunggu juklak atau sejenisnya.
Yang terpenting adalah dapat menghayati esensi dari ketentuan hukum
tersebut.
Walaupun kewajiban melampirkan SBKRI masih kerap ada, tetapi
keadaaanya tidak separah di era Orde Baru lagi. Sebagai instansi
pemerintah kelihatannya sudah mempunyai itikad baik untuk mengubahnya
dalam birokratisasi dokumen/administarsi kenegaraan yang dulunya
selalu mewajibkan SBKRI bagi WNI Keturunan Tionghoa. Yang terpenting
bagi WNI Keturunan Tionghoa sendiri harus berani melawan, apabila
dalam mengurus administrasi kenegaraan, seperti di Catatan Sipil dan
Imigrasi, masih diminta SBKRI. Bikin surat pembaca, atau lapor ke
atasannya, bilamana perlu sampai ke level Menteri. Seperti Menteri
Hukum dan HAM. Mudah-mudahan Indonesia tidak harus terus-menerus
mendapat tekanan dari luar baru mau benar2 bertindak.
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "Ulysee" <ulysee_me2@...>
wrote:
and nominate your
group to be featured.
Salam,
Kasus-kasus berhubungan dengan aparat ini mengapa tidak dilaporkan
saja kepada Ombudsman (www.ombudsman.go.id) yang megurusi hubungan
antara warga dengan negara. Atau bisa juga kirim ke surat pembaca di
pelbagai media massa yang berpengaruh seperti Media Indonesia atau Kompas.
Adik saya (keturunan Jawa) juga dipersulit ketika mengurus
perpanjangan KTP kelurahan. Kadang2 persoalannya di aparat yang korup
juga sih, walaupun prasangka rasial masih ada. Birokrasi memang
sisa-sisa Orde Baru yang harus dibenahi dan terus diawasi, menurut saya.
Salam
Junarto
Http://www.semestanet.com
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "RM Danardono HADINOTO"
<rm_danardono@...> wrote:
>
Betul mas.
Untuk membenahi hal hal yang miring, harus mengakui dahulu, ada yang
miring. Kalau terus terusan teriak " tak ada itu, tak ada itu, semua
OK, kata engkong", ya mau benahi apa?
Salam
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "jip_id" <jip_id@...> wrote:
>
> Salam,
>
> Kasus-kasus berhubungan dengan aparat ini mengapa tidak dilaporkan
> saja kepada Ombudsman (www.ombudsman.go.id) yang megurusi hubungan
> antara warga dengan negara. Atau bisa juga kirim ke surat pembaca di
> pelbagai media massa yang berpengaruh seperti Media Indonesia atau
Kompas.
>
> Adik saya (keturunan Jawa) juga dipersulit ketika mengurus
> perpanjangan KTP kelurahan. Kadang2 persoalannya di aparat yang
korup
> juga sih, walaupun prasangka rasial masih ada. Birokrasi memang
> sisa-sisa Orde Baru yang harus dibenahi dan terus diawasi, menurut
saya.
>
>
>
>
> Salam
>
> Junarto
> Http://www.semestanet.com
>
>
> --- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "RM Danardono HADINOTO"
Ide yang cemerlang pak, boleh juga undang nama2 yg disebut.
Jangan lupa undangan jg diberi kepada Y.A Dharma Sagaro, Y.A Arya
Maitri, W.S Indarto, W.S Tjie Tjai Ing, ketua Tao Zhengyi master Zhang
Jinyuan, ketua China Taoism Association Zhang Jinfa , ketua Taoism
Mission Li Zhiwang, ketua Taoism Federation Singapore, ketua Majelis
Tao Indonesia bpk.Kusumo, bpk.Budiono Tantrayoga pakar pekji,bpk.
Susanto Chandramulya,bpk. Akino , bpk.Taning, pakar Kejawen.
Sekalian minta hadir Ki Gendeng Pamungkas, pendeta Filemon yg
menghilang begitu saja pas majalah Gamma bongkar kebohongannya juga
patut diundang. Kalau sudah begitu undang juga Kyai2 sama org MUI
saran saya buat bbrp sesi
sesi pertama Theodore Tabareka berdialog dgn wakil agama Buddha
sesi kedua Ekku Hidayat berdialog dgn wakil agama Khonghucu, Tao dan
agama Buddha
sesi ketiga Ekku Hidayat berdialog dgn wakil agama Khonghucu, Tao dan
Buddha
sesi keempat Harun Yusuf berdialog dgn para pakar pekji dan hongshui
sesi kelima Gilbert Lumoindong berdialog dgn ki Gendengpamungkas
sesi keenam Filemon berdialog dengan wakil agama Islam
sesi ketujuh Daud Tony berdialog dgn pakar kejawen dan wakil dari tiga
agama
Ini penting sekali pak buat mengcounter fitnahan dari mereka yg
pentang bacot dimilis
Kapan pak ?
Perlu biaya ? kasih tahu saya nomor accountnya, nanti saya bantu sebisanya
Saya tunggu kabar dari bapak secepatnya
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "Others" <others@...> wrote:
>
Share photos while
you IM friends.
Nah kalau menurut saya, DISKRIMINASI itu ADA,
tapi lebih kepada diskriminasi ekonomi ketimbang rasial.
Maksudnya, kemaren ngalamin nih, sama sama tionghoa,
urusan birokrasi,
yang ngasih amplop mah cepeeet,
gue yang kaga mau kasih amplop mah ditunda-tunda mulu.
Nah itu khan diskriminasi sama yang ngga mau ngasih duit,
apalagi sama yang NGGAK PUNYA duit.
Dan urusan sama birokrat, lebih condong ke urusan KORUPSI ketimbang
kepada DISKRIMINASI,
itu yang pengen gue share,
Tapi terlanjur lebih banyak orang lebih senang gembar-gembor
diskriminasi tanpa dipisahkan dari korupsi.
Jadinya muteeerrrr nggak pernah ketemu jalan keluar, wong salah diagnosa
penyakit, heheheh.
-----Original Message-----
From: budaya_tionghua@yahoogroups.com
[mailto:budaya_tionghua@yahoogroups.com] On Behalf Of jip_id
Sent: Tuesday, February 12, 2008 12:41 PM
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Subject: [budaya_tionghua] Re: Saya Merasa Tidak Didiskriminasi" -
beneeeerrr?
Salam,
Kasus-kasus berhubungan dengan aparat ini mengapa tidak dilaporkan
saja kepada Ombudsman (www.ombudsman.-go.id) yang megurusi hubungan
antara warga dengan negara. Atau bisa juga kirim ke surat pembaca di
pelbagai media massa yang berpengaruh seperti Media Indonesia atau
Kompas.
Adik saya (keturunan Jawa) juga dipersulit ketika mengurus
perpanjangan KTP kelurahan. Kadang2 persoalannya di aparat yang korup
juga sih, walaupun prasangka rasial masih ada. Birokrasi memang
sisa-sisa Orde Baru yang harus dibenahi dan terus diawasi, menurut saya.
Salam
Junarto
--- In HYPERLINK
"mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"budaya_tionghua@-yahoogroups.-
com, "RM Danardono HADINOTO"
> UU (lepas dari bagaimana implementasinya)-. Salah satu reaksinya
> adalah pernyataan bernada sindiran: "Selamat kepada orang Indonesia
> Tionghoa karena berhasil mendesak pemerintah menghapus SBKRI."
>
> Salah satu alasan yang sering dikemukakan memang adalah bahwa SBKRI
> harus tetap ada karena untuk menghindari terjadinya pemalsuan
> identitas Kewarganegaraan. Tetapi anehnya, kewajiban SBKRI itu hanya
> diterapkan pada etnis Keturunan Tionghoa, sedangkan etnis keturunan
> lainnya, seperti Arab, tidak pernah diminta.
>
> Alasan ini pun sebenarnya tidak bisa diterima. Apa iya kalau ada
> SBKRI maka lebih menjamin identitas kewarganegaran seseorang tidak
> dipalsukan? Bahkan SBKRI itu sendiripun bisa dipalsukan, bukan?
> Jangankan SBKRI, paspor, pun bisa dipalsukan. Uang saja bisa
> dipalsukan. Jadi, apa argumen tentang harus tetap ada SBKRI untuk
> lebih menjamin kebenaran status kewarganegaraan seseorang itu bisa
> dipertahankan?
>
> Ariel Heryanto dalam tulisannya yang berjudul: SBKRI (Kompas, Minggu,
> 02 mei 2004) -- selengkapnya baca di HYPERLINK
"http://www.kompas.com/kompas-"http://www.kompas.-com/kompas-
> cetak/0405/02/-naper/999727.-htm, menceritakan pengalaman seorang WNI
> dalam birokratisasi dokumen/administars-i kenegaraan yang dulunya
> selalu mewajibkan SBKRI bagi WNI Keturunan Tionghoa. Yang terpenting
> bagi WNI Keturunan Tionghoa sendiri harus berani melawan, apabila
> dalam mengurus administrasi kenegaraan, seperti di Catatan Sipil dan
> Imigrasi, masih diminta SBKRI. Bikin surat pembaca, atau lapor ke
> atasannya, bilamana perlu sampai ke level Menteri. Seperti Menteri
> Hukum dan HAM. Mudah-mudahan Indonesia tidak harus terus-menerus
> mendapat tekanan dari luar baru mau benar2 bertindak.
>
>
>
>
>
>
> --- In HYPERLINK
"mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"budaya_tionghua@-yahoogroups.-
com, "Ulysee" <ulysee_me2@->
> wrote:
> >
> > Hmmmm, jaaaadiiiiii.-.......
> > Diskriminasi itu jangan jangan sebenarnya urusan PERASAAN aja???
> > Soalnya kok ada yang merasa di diskriminasi dan ada yang merasa
> tidak di
> > diskriminasi?-??
> >
> > Cabut Inpres bukan melulu hanya karena alasan diskriminatif aja
> euy!
> > Bisa juga karena sudah tidak seusai dengan sikon masa sekarang.
> >
> >
> >
> > -----Original Message-----
com] On Behalf Of Skalaras
> > Sent: Monday, February 11, 2008 9:24 PM
> > To: HYPERLINK
"mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"budaya_tionghua@-yahoogroups.-
com
Send up to 1GB of
files in an IM.
Di bawah ini adalah keterangan resmi dari juru bicara orde baru? mengapa senantiasa sibuk untuk membedaki dan mendandani rezim yang sudah almarhum ini ya? apa memang pernah jadi juru rias jenasah?
Bolehlah dianalisa, mengapa tiba2 dalam satu tahun terjadi trend "ganti nama" ya? dan mengapa trend ini tidak menjangkiti orang India dan orang Arab yang sama2 asing2 ?
> . nama etnik Batak: Nasution, Harahap, Hutagalung, Napitupulu,
> Situmorang.
> . nama etnik Jawa Tengah: Retno, Setyawati, Wijanarko, Djoko.
> . nama etnik Sunda: Suparna, Djaka, Neneng, Eep Saefullah, Aang
> Kunaefi.
> . nama etnik Jerman: Kluge, Strauss.
> . nama etnik Belanda: Ernest van Zoest, Hofman.
> . nama etnik Jepang: Nakamura, Kensuke, Yumiko.
> . nama etnik Korea: Choi Yun So, Kim Dae Jung.
> . nama etnik Prancis: Yves, Guy, Beauvilain, Le Gall, François.
> beberapa tetap mencantumkan nama keluarga asli mereka-dengan
alasan
> bahwa keturunan mereka harus mengenal nenek moyang mereka-dan NI
> lainnya sama sekali tidak terkait lagi dengan NT-nya.
>
> ANTROPONIM INDONESIA
>
> Seperti diketahui, masyarakat Indonesia terdiri atas berbagai
etnik
> yang masing-masing memiliki sistem antroponimi sendiri.3 Di
samping
> antroponim yang berciri kedaerahan, ada antroponim yang dapat
> dianggap berciri Indonesia, tanpa ciri etnik tertentu. Antroponim
> tersebut sering diambil dari kata biasa yang mengacu pada benda
atau
> hal, misalnya indah, cahaya, mustika, intan, mutiara, hening,
ratna,
> guruh, guntur, bayu, topan, fajar, dan surya.
>
> Dengan menuliskan huruf pertama dengan huruf besar, kata-kata
> tersebut menjadi nama orang. Demikian pula halnya dengan
antroponim
> yang merupakan kata serapan dari bahasa Arab, pada umumnya
> mencerminkan ciri keagamaan (Islam), misalnya Akbar, Akhyar,
Amaliah,
> Ambar, Amir, Ardi, Arif, Aziz, Firmansyah, Fitri, Firdaus, Gani,
> Kafi, Kamil, Taslim, Taufik, dan Wahid. Ada pula antroponim-dari
nama
> nabi-yang mencerminkan agama Kristen, misalnya Habil, Ester,
> Penambahan-wati (yang dianggap sebagai ciri keindonesiaan)
----------------------------------------------------------
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.2/1272 - Release Date: 11/02/2008 17:28
[Non-text portions of this message have been removed]
Host a free online
conference on IM.
Bagi orang yang hanya mementingkan diri sendiri, memang hanya menilai semua hal berdasarkan perasaannya sendiri, dan lagi2 hanya berdasarkan pengalaman pribadi yang sempit.
Apakah kita harus menjadi rakyat Aceh dulu untuk bisa merasakan derita rakyat Aceh? Apakah kalau kita tak pernah diculik aparat berarti tak ada penculikan aktivis?
Absurd!!!
----- Original Message -----
From: Ulysee
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
----------------------------------------------------------
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.2/1272 - Release Date: 11/02/2008 17:28
[Non-text portions of this message have been removed]
Jika pemeintah tak berpihak, tegas menegakkan peraturan, mustahil hal ini
terjadi. Ingat: Pemerintah yang membiarkan kejahatan tejadi, sama2 melanggar
HAM, seperti halnya peristiwa Mei.
> --
> No virus found in this incoming message.
> Checked by AVG Free Edition.
> Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.2/1272 - Release Date:
> 11/02/2008 17:28
>
>
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
Pasti engkongnya Uly ini orang kepercayaan Pak Harto. semua omongannya bisa dipercaya, hehehe...
----- Original Message -----
From: RM Danardono HADINOTO
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Sent: Tuesday, February 12, 2008 10:39 AM
Subject: [budaya_tionghua] Re: Saya Merasa Tidak Didiskriminasi" - beneeeerrr?
----------------------------------------------------------
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.2/1272 - Release Date: 11/02/2008 17:28
[Non-text portions of this message have been removed]
of what Yahoo!
Groups has to offer.
Pak, kalau semua yang tak menyenangkan kita, atau tidak sesuai dengan
kepentingan of our Master, anggap saja DIS informasi, ha ha ha
Gampang kan?
Salam
Danardono
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "Skalaras" <skalaras@...>
wrote:
>
> Pasti engkongnya Uly ini orang kepercayaan Pak Harto. semua
omongannya bisa dipercaya, hehehe...
>
>
> ----- Original Message -----
> From: RM Danardono HADINOTO
> To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
> Sent: Tuesday, February 12, 2008 10:39 AM
> Subject: [budaya_tionghua] Re: Saya Merasa Tidak Didiskriminasi" -
beneeeerrr?
>
>
> Betul mas.
>
> Untuk membenahi hal hal yang miring, harus mengakui dahulu, ada
yang
> miring. Kalau terus terusan teriak " tak ada itu, tak ada itu,
semua
> OK, kata engkong", ya mau benahi apa?
>
> Salam
>
Host a free online
conference on IM.
Seru pak, kalau orang suka melintir pendapat orang.
Kita bandingkan pak:
a) Pelintiran neng Uly:
" Wah Bung Andrew, Anda rupanya cukup jeli menyimak perpu yang dibawa
tsb. memang tidak ada kata HARUS, kata DIHIMBAU pun tidak ada"
b) Kalimat mas Andrew yang authentis:
"Peraturan pemerintah (perpu) tsb memang TIDAK MENYATAKAN bahwa orang
Tionghoa HARUS mengganti nama Tionghoa mereka, hanya bagi mereka
yang INGIN saja.
Masalahnya, ini khan bahasa pemerintah. Yang tersirat adalah bahwa
orang Tionghoa harus mengganti nama mereka dengan nama Indonesia"
===> Jadi, mas Andrew justru berpendapat, bahwa pemerintah secara tak
langsung mengharuskan penggantian nama (dengan bahasa yang manis).
Cilokooo
Salam
Danardono
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "Skalaras" <skalaras@...>
wrote:
>
> <rm_danardono@> wrote:
> >
> > --- In HYPERLINK
> "mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"budaya_tionghua@-
yahoogroups.-
> com, "Andrew Lim"
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "Skalaras" <skalaras@...>
wrote:
>
> Bolehlah dianalisa, mengapa tiba2 dalam satu tahun terjadi
trend "ganti nama" ya? dan mengapa trend ini tidak menjangkiti orang
India dan orang Arab yang sama2 asing2 ?
*** ha ha ha, ada pergantian nama juga pak, hanya terbalik, pribumi
yang ganti nama Arab. Saudara saudara India tetap bertahan dengan
nama sesuai budaya mereka. Kayaknya gak ada yang menghimbau mereka
kok pak..baik via undang undang ataupun melalui rayuan suling bambu..
Salam bingung
Danardono
> "mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"budaya_tionghua@-
yahoogroups.-
> com, "RM Danardono HADINOTO"
> <rm_danardono@> wrote:
> >
> > --- In HYPERLINK
> "mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"budaya_tionghua@-
yahoogroups.-
> com, "Andrew Lim"
Kalau menurut neng Uly sih ngak ada yang menghimbau tuh, entah kalau merayu, rayuan pulau kelapa jangan2. Yang paling mendekati logikanya uly rasanya adalah Kaum Tionghoa sedang kejangkitan wabah ganti nama, semacam tempo hari kaum muda kejangkitan wabah F4 (itu bintang2 film seri Taiwan) gitu. Tapi wabah semacam F4 ini bertahannya tak lama, demamnya paling 1tahun, setelah itu ganti lagi wabahnya. sedangkan wabah ini lebih hebat lho....sampai anak cucu. jangan2 ini wabah yang dibawa E.T ke bumi?
Mungkin sekarang gantian kita yang pakai gaya innocent nya Uly bertanya : " mengapa ya ?"
----------------------------------------------------------
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.2/1272 - Release Date: 11/02/2008 17:28
[Non-text portions of this message have been removed]
Bung Ardian & neng Uli yb,
Ya saya akan mencoba mengajukan apa yang saya ketahui, tentu tidak bermaksud menggurui, hanya sekadar mengajukan situasi ketika itu sesuai dengan daya pandang saya untuk direnungkan dan dipertimbangkan saja, ya. Tak dapat disangkal banyak peristiwa telah dilalui bangsa ini tidak hanya menyakitkan hati banyak orang, bahkan terlalu banyak korban jiwa telah berjatuhan untuk itu. Masalah menjadi lebih parah bagi bangsa ini, karena banyak peristiwa tetap mentah dan gelap, tiada kejelasan dan kepastian bagaimana peristiwa itu terjadi, dan dengan demikian tidak berhasil menjerat tokoh-tokoh yang harus bertanggungjawab. Dan itupulalah tantangan berat bagi muda-mudi anak bangsa ini untuk menyimpulkan sebaik-baiknya pengalaman perjalanan bangsa yang pahit ini, jangan sampai berulang apalagi membuat jatuh korban lebih besar.
Saya melihatnya begini, situasi di Indonesia ketika itu tidak terlepas dari pengaruh makin menghangatnya "Perang Dingin" didunia internasional. Pertarungan antara kubu imperialisme yang dikepalai AS dan kubu sosialisme yang dikepalai Uni Sovyet. Sedang ditahun-tahun 60-an AS betul-betul mulai terjepit dalam medan perang di VietNam. Untuk membendung pengaruh komunis, khususnya dari Tiongkok yang hubungan makin dekat-sangat bersahabat dengan RI-Soekarno, maka tidak bisa tidak AS gunakan cara-cara licik untuk merusak keakraban yang terjadi itu. Jadi tidak aneh komunitas Tionghoa yang hidup di Indonesia dijadikan tumbal. Tidak aneh, ketika itu hangat diisuukan Tionghoa sebagai kolone ke-5 RRT. Kecurigaan terhadap komunitas Tionghoa diangkat, dimulai dengan usaha membatalkan stelsel pasif, UU No.3/1946 yang menetapkan Tionghoa yang lahir di Indonesia otomatis menjadi warganegara Indonesia.
BAPERKI ketika itu, lahir terbentuk ditahun 54 justru menghadapi masalah kewarganegaraan yang dimunculkan kembali ini. Menghadapi sementara pejabat yang berusaha keras merubah stelsel pasif menjadi stelsel aktif, yang berusaha menghendaki Tionghoa sekalipun lahir di Indonesia tidak otomatis menjadi WNI, tapi harus lebih dahulu secara aktif memilih, membatalkan WN-asing/Tiongkok dan sumpah setia pada RI dahulu untuk menjadi WNI. Memang betul, BAPERKI sejak didirikan memperjuangkan atau berusaha keras agar lebih banyak Tionghoa jadi WNI, oleh karena itu selalu menekankan dan berusaha untuk mempertahankan UU No.3/1946 yang berasaskan ius-soli dengan stelsel pasif, menentukan warganegara berdasarkan tempat lahir itu. Siapa saja yang lahir di Indonesia, sejak tahun 46 itu juga otomatis menjadi warganegara Indonesia dengan sendirinya. Disamping dengan demikian semua warga diwilayah Nusantara menjadi warganegara Indonesia dalam waktu bersamaan, tidak ada warga yang merasa lebih dahulu menjadi WNI sedang kelompok lain belakangan, dan dengan adanya perasaan bersamaan waktu menjadi WNI demikian tentunya akan lebih mudah memperlakukan sama hak dan kewajiban sebagai warganegara Indonesia.
Tapi kita menghadapi kenyataan lain, sementara pejabat mempunyai pikiran lain, mereka selalu mencurigai kebanyakan Tionghoa yang ada, yang dianggapnya eksklusif yang masih setia pada negeri leluhur dan tidak loyal pada RI. Dan oleh karenanya baru merasa "aman" kalau mereka menjadi WNI setelah menyatakan sumpah setia pada RI lebih dahulu, tanpa mempedulikan kerumitan administrasi negara yang akan terjadi, dan tidak memperhitungkan kesulitan yang terjadi kalau lebih banyak Tionghoa menjadi WN-asing. Dan, ... akhirnya mereka berhasil dengan dikeluarkannya UU No.62/1958, yang akhirnya menimbulkan banyak masalah rumit bagi Tionghoa yang selalu diminta menunjukkan SBKRI dan belum juga tuntas sampai tahun lalu itu.
Tentu saja, usaha-usaha untuk merongrong kebaikan hubungan persahabatan RI-RRT dilakukan terutama oleh anasir kanan yang diwakili oleh Angkatan Darat, dimana ketika itu sering dikategorikan beroposisi dengan Presiden Soekarno yang kiri. Salah satu cara yang paling ideal dan mudah terlaksana, tentu diletupkan kerusuhan anti-Tionghoa, sekelompok minoritas Tionghoa yang berposisi lemah. Baik deengan dikeluarkannya PP-10 yang mengakibatkan penderitaan luar-biasa pada ratusan ribu Tionghoa yang harus hijrah meninggalkan kehidupan dan mata-pencaharian di pedesaan. Tanpa ada pengaturan penampungan dan memberi jalan keluar yang baik dari Pemerintah, mereka-mereka harus segera meninggalkan pedesaan dan ngungsi kekota-kota kabupaten. Jelas, kebijaksanaan demikian ini, pertama mempersulit Pemerintah RI sendiri, sedikit banyak ekonomi nasional dirugikan dan kedua, juga mempersulit pemerintah Tiongkok yang disaat menghadapi bencana alam berat, harus menampung warga Tionghoa begitu banyaknya. Dan, dalam kenyataan Tionghoa perantau yang sudah lama hidup diluar, untuk kembali kekampung halaman deengan kehidupan yang sangat berbeda, itu tidak mudah. Banyak persoalan yang harus diatasi.
Tidak lama, ditahun 63 bulan Mei meletup kerusuhan anti-Tionghoa, yang diawali pertengkaran mahasiswa ITB, Bandung dan merebah ke beberapa kota, disaat terjadi pengrusakan-pembakaran di kota Bandung, rumah Yap Tjwan Bing ikut jadi korban. Atas desakan keluarga dan untuk mengejar kehidupan yang aman-tentram, Yap sekeluarga mengambil putusan hijrah ke AS. Dan, ... Presiden Soekarno ketika itu juga dengan tegas menyatakan kerusuhan-kerusuhan anti-Tionghoa itu merupakan tindakan reaksioner yang ditujukan untuk mendongkel dan merusak pembangunan ekonomi nasional.
Yang perlu diperhatikan dan menjadi pegangan kita untuk selanjutnya, setiap bangsa didunia ini hendaknya mempunyai semangat kemandirian yang kuat, tidak dan jangan mau dikendalikan bangsa lain untuk berbuat sesuatu yang menguntungkan mereka sendiri dan jelas merugikan bangsa sendiri! Banyak contoh sejarah bangsa-bangsa didunia menunjukkan itu, saya berikan contoh bagaimana Mao Tse-tung berkeras melaksanakan garis politik yang jadi keputusan Partai Komunis Tiongkok dan tidak mau menuruti perintah Sovyet Uni yang sama-sama komunis itu. Pada saat Perang Pembebasan melawan Kuo Min Tang, tahun 48, Sovyet menurunkan "Perintah" agar PKT menghentikan penyerangan ke Selatan Sungai Yang-tze. Stop dan biarkan Kuo Min Tang tetap menguasai Tiongkok bagian selatan sungai Yang Tse saja. Dengan alasan, kuatir AS tidak akan tinggal diam, akan mengirim pasukan besar-besaran dan akan pecah PD-III sebelum Sovjet kuat, ... Mao tidak mempedulikan "PERINTAH" Sovyet itu, dan terus menyerbu Kuo Min Tang sampai dia lari ke Taiwan dan RRT di-Proklamasikan pada 1 Oktober 1949. Pertengkaran dan perselisihan dengan PKUS menjadi lebih sengit pada tahun-tahun 60-an, Tiongkok tidak mau tunduk untuk mengikuti pembangunan yang telah ditargetkan berdasarkan kehendak PKUS, akhirnya segala bantuan PKUS yang telah ditandatangani dibatalkan, baik yang sedang dalam proses pelaksanaan maupun yang masih dalam rencana, bahkan serentak mencabut kembali semua ahli-ahli yang semula diperbantukan pada Tiongkok dalam berbagai proyek-proyek. Sekalipun RRT harus menelan banyak kerugian akibat banyak proyek mandeg ditengah jalan, tapi semangat Mao yang mengutamakan berddikari dan tidak tunduk pada tekanan bangsa lain, patut diacungi jempol. Justru dengan semangat berdikari itulah Mao membawa seluruh rakyat Tiongkok tegak berdiri mengatasi segala kesulitan dan penderitaan bencana alam yang dihadapi. Bangun dan berdiri membangun negaranya maju terus, dan tradisi itulah yang diteruskan pimpinan-teras Tiongkok sampai sekarang ini membawa maju/makmur rakyat Tiongkok dengan gemilang.
Sebenarnya semangat mandiri demikian juga ada pada Presiden Soekarno, membawa rakyat Indonesia berani tegak berdiri melawan segala tekanan dari Belanda dan AS. Tidak tunduk ditekan untuk merebut Irian yang masih berada dibawah kekuasaan Belanda, tidak tunduk pada perintah-perintah AS dengan seruan "Go to Hell with your aids". Disaat itu, bangsa Indonesia sangat dipandang dan terhormat, khususnya bagi negara-negara berkembang Asia-Afrika. Tapi, ... setelah Soeharto berkuasa segalanya terjadi terbalik. Bersandar sepenuhnya pada modal asing untuk mengolah, menguras habis-habisan kekayaan alam bumi Indonesia yang kaya raya itu. Tambang emas Freeport dikontrakan dalam jangka waktu panjang hanya sebagai tambang tembaga saja, modal asing dibiarkan menguras minyak-bumi dengan menmggunakan pipa-pipa raksasa ketengah laut tanpa bisa dikontrol, hutan-hutan digunduli tanpa bisa dicegah, dan,... semua itu tentu lebih menguntungkan modal-asing dengan menggendutkan sementara perut penguasa saja. Yang menjadi celaka, sedikit keuntungan yang didapat dengan menguras hasil kekayaan alam, oleh Soeharto tidak digunakan untuk membangun dasar ekonomi nasional sebaik-baiknya, tidak digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan Rakyat banyak. Kemudian, jalan keluar mengatasi gempuran krismon diakhir 97, juga semata-mata nuruti tekanan IMF dengan BLBI, yang akhirnya membuat ekonomi nasional lebih terpuruk lagi, dan sampai sekarang setelah lewat lebih 11 tahun belum nampak pulih kembali. Itulah hasil kebijaksanaan mantan Presiden Soeharto yang sempat dijuluki bapak "PEMBANGUNAN" dan semua itu hanya menuruti kehendak AS dan untuk kepentingan AS saja.
Apa latar belakang dari "ada usaha keras untuk menghilangkan segala yang berbau Tionghoa yang dipelopori oleh LPKB." ?? Tanya Neng Uli. Mestinya pertanyaan itu diajukan pada tokoh LPKB, dan mereka-merekalah yang berhak memberikan jawaban. Saya hanya bisa mengajukan bahwa berdasarkan konsep "ASIMILASI" yang populer ketika itu, ya memang menghilangkan segala ciri-ciri yang berbeda untuk mendapatkan satu ciri baru. Jadi ya memang berusaha menghilangkan yang berbau Tionghoa untuk meleburkan jadi satu dengan yang dinamakan pribumi. Memang sulit untuk menuduh begitu saja tokoh-tokoh LPKB itu penghianat yang anti-Tionghoa, barangkali mereka sebenarnya juga ingin menyelesaikan masalah Tionghoa yang memang cukup ribet. Atau tidak sadar kalau mereka digunakan untuk membuat rumit masalah dan ditampilkan hanya untuk melawan BAPERKI yang dituduh kiri saja.
Tapi, kalau kita perhatikan pandangan atau pemikiran ketika itu untuk membuat masyarakat hidup harmonis, harus menghilangkan segala perbedaan yang ada. Mengumpamakan malting pot, yang melumatkan berbagai jenis sayur-sayuran sampai tidak lagi berbentuk dan rasa sayur asal dengan rasa yang samasekali baru. Dari pengertian itulah orang dalam kehidupan bermasyarakat, lalu mengejar untuk lebih dahulu mengusahakan menghilangkan segala perbedaan yang ada, menghilangkan ciri-ciri asal yang ada untuk menjadi sesusatu yang baru. Dengan tidak ada lagi perbedaan dan menjadi sesuatu yang baru itulah diharapkan terjadi kehidupan yang harmonis. Tapi orang lupa, pertama proses "penghilangan" ciri-ciri asal itu, baik budaya-tradisi termasuk Agama maupun biologis harus berlangsung secara alamiah, sedikitpun tidak boleh mengandung paksaan apalagi kekerasan; kedua, proses untuk mencapai sesuatu yang baru itu memerlukan waktu yang sangat-sangat panjang, yang tidak akan tercapai dalam beberapa bahkan ratusan generasi tentunya.
Jadi, akan lebih baik dan nampaknya begitulah yang diterima banyak negara maju sekarang, yang lebih menitik beratkan atau memberi penekanan agar setiap umat manusia yang hidup didunia ini bisa saling menerima dan menghormati segala perbedaan yang ada. Bukan menghilangkan perbedaan yang ada, tapi menerima dan menghormati perbedaan yang ada. Pengertian inilah yang saya kira lebih tepat dan lebih ideal untuk diwujudkan dalam kehidupan nyata bermasyarakat majemuk. Ber-BHINEKA TUNGGAL IKA, sebagaimana ditetapkan dalam lambang negara RI. Hanya saja pelaksanaannya disana-sini jadi melenceng karena ulah sementara pejabat. Jadi, didunia juga terjadi perubahan dari malting-pot yang berusaha menghilangkan segala perbedaan menjadi salad-bowl, dimana setiap jenis sayur masih berbentuk dan rasa asal yang dicampur jadi satu dengan rasa baru yang lebih enak, ... itulah yang sekarang dinamakan MALTIKULTURALISME.
Nah, sementara sekian saja dahulu. Sudah berkepanjangan, maaf.
Salam,
ChanCT
> ----- Original Message -----
> From: ardian_c
> To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
> Sent: Saturday, February 09, 2008 5:16 AM
> Subject: [budaya_tionghua] Re: sdri Greysia: kelenteng dan masa
reformasi
>
>
> --- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "Jimmy Tanaya"
> > --- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "ardian_c" <ardian_c@>
wrote:
> > >
> > ---cut----
> > > Urusan tulisan itu urusan pribadi ,bedain tulisan waktu nulis
pribadi
> > > sama tulisan yg bawa2 nama moderator.
> > >
> > > Dahlah dah mo Xinnian. Xinnian Kuaile Wanshi Ruyi
> > >
> > > --- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "Jimmy Tanaya"
> > > <tanaya.geo@> wrote:
> > > >
> > > > Wah kok 'diskusinya' jadi kayak gini ya.
> > > >
> > > > Para Moderator, saya protes. Tulisan seperti dibawah ini apa
tidak
> > > > menjurus ke penghinaan/pembenturan antar agama? ("Lu tanya
agamanya
> > > > ape tuh ? Sodara seiman lu bukan ?")
> > > >
> > > > Sdr Ardian, btw, pak Ong Khing Hiong (yg masuk feature "saya
tidak
> > > > merasa didiskriminasi") itu pengurus salah satu klenteng
tertua di
> > > > surabaya lho. Please note, saya tidak meragukan data bahwa ada
> > > > klenteng yg dipaksa tutup. Tetapi yg saya ragukan adalah "semua
> > > > klenteng mengalami hal tersebut". Diskriminasi memang ada, walau
> > > > kadarnya mungkin berbeda2 antar tempat.
> > > >
> > > > --- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "ardian_c" <ardian_c@>
> wrote:
> > > > >
> > > > > Nasib kelenteng gak beda ama org Samin hehehehehehehe
> > > > > Dipaksa masuk agama Buddha tuh. Belon lage temen2 lu yg
antek2nya
> > > > > Sindhunata yg maki2 budaya tenglang terus2an.
> > > > > En kemana2 koar2 budaya tenglang, kelenteng bla bla bla
itu najis,
> > > > > ngehambat persatuan, intoleransi , ekslusif segala amcem.
> > > > > Lu tanya agamanya ape tuh ? Sodara seiman lu bukan ?
> > > >
> > > > Apalagi kalau tidak salah, sdr Ardian adalah salah satu
anggota tim
> > > > moderator bukan? Apakah maksud sdr Ardian, bahwa karena
Sindhunata
> > > > beragama XYZ, maka sindhunata berusaha 'menghabisi'
> > > agama/kepercayaan ABC?
> > > >
> > > > Saya heran bagaimana mungkin seorang moderator (bila benar
moderator
> > > > lho ya, kalo bukan moderator, mohon maap) melakukan ad
hominem dan
> > > > melontarkan opini yg jelas2 berbau SARA. Bukankah milis ini
> > > > 'mengharamkan' opini yg menjelek2an SARA?
> > > >
> > > > Mohon perhatian dari moderator.
> > > >
> > > >
> > > > salam,
> > > > jimmy
> > > >
> > >
> >
>
>
>
>
> .: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
>
> .: Website global http://www.budaya-tionghoa.org :.
>
> .: Pertanyaan? Ajukan di
http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.
>
> .: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.
>
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
> --
> Internal Virus Database is out-of-date.
> Checked by AVG Free Edition.
> Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.18/1255 - Release Date:
2008/2/1 _W__ 09:59
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
.: Website global http://www.budaya-tionghoa.org :.
.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.
.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.
Yahoo! Groups Links
--
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.21/1267 - Release Date: 2008/2/8 _U__ 08:12
[Non-text portions of this message have been removed]
Bedakin wayang Potehi kali! wakakakaka.
Monggo di analisa deh, khan situ sudah lahir di jaman itu sementara gue
belon lahir.
hihihihi.....
Coba mau lihat data dan analisanya, keluarin donk, dari kemaren
ditungguin neeeh!
-----Original Message-----
From: budaya_tionghua@yahoogroups.com
[mailto:budaya_tionghua@yahoogroups.com] On Behalf Of Skalaras
Sent: Tuesday, February 12, 2008 7:04 PM
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Internal Virus Database is out-of-date.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.20/1261 - Release Date:
2/5/2008 8:57 PM
Internal Virus Database is out-of-date.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.20/1261 - Release Date:
2/5/2008 8:57 PM
Share photos while
you IM friends.
Anda ini hobi sekali melebarkan masalah ke hal hal yang enggak ada
hubungan.
mbok ya FOKUS donk sama diskusi.
Sekarang mau ngomongin masalah Aceh?
Nanti disahutin, tahu-tahu keluar pernyataan "saya tidak tertarik
diskusi masalah Aceh"
padahal Anda yang Bawa bawa soal Aceh duluan, hayo!
Coba di fokuskan dulu, masalah yang mau diomongin apa???
-----Original Message-----
From: budaya_tionghua@yahoogroups.com
[mailto:budaya_tionghua@yahoogroups.com] On Behalf Of Skalaras
Sent: Tuesday, February 12, 2008 7:30 PM
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Subject: {Disarmed} Re: {Disarmed} Re: [budaya_tionghua] Re: FW: "Saya
Merasa Tidak Didiskriminasi"
Bagi orang yang hanya mementingkan diri sendiri, memang hanya menilai
semua hal berdasarkan perasaannya sendiri, dan lagi2 hanya berdasarkan
pengalaman pribadi yang sempit.
Apakah kita harus menjadi rakyat Aceh dulu untuk bisa merasakan derita
rakyat Aceh? Apakah kalau kita tak pernah diculik aparat berarti tak ada
penculikan aktivis?
Absurd!!!
----- Original Message -----
From: Ulysee
To: HYPERLINK
"mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"budaya_tionghua@-yahoogroups.-
com
Sent: Tuesday, February 12, 2008 7:08 AM
Subject: RE: {Disarmed} Re: [budaya_tionghua] Re: FW: "Saya Merasa Tidak
Didiskriminasi"
Hmmmm, jaaaadiiiiii.-.......
Diskriminasi itu jangan jangan sebenarnya urusan PERASAAN aja???
Soalnya kok ada yang merasa di diskriminasi dan ada yang merasa tidak di
diskriminasi?-??
Internal Virus Database is out-of-date.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.20/1261 - Release Date:
2/5/2008 8:57 PM
Internal Virus Database is out-of-date.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.20/1261 - Release Date:
2/5/2008 8:57 PM
[Non-text portions of this message have been removed]
Host a free online
conference on IM.
Tugas Pemerintah adalah mengatur, dan meminimalkan kejahatan, disitu
peranannya.
Tapi bukan berarti segala sesuatu lantas menyalahkan pemerintah dooonk,
apalagi menganggap pemerintah sebagai 'dalang' atas segala sesuatu,
haduuuhhhhh itu sih teori konspirasi yang kebablasen.
Dikaji satu-satu, dibedah biar jelas, supaya mengerti,
jangan cenderung cari kambing hitam menyalahkan pihak lain aje, gitu
lhooohhh!
Itu sih kebiasaan jaman ORBA tuh cari kambing item!
Jangan dibawa ke jaman sekarang!!! Basi!!
Yahoo! Groups Links
Internal Virus Database is out-of-date.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.20/1261 - Release Date:
2/5/2008 8:57 PM
Internal Virus Database is out-of-date.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.20/1261 - Release Date:
2/5/2008 8:57 PM
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
.: Website global http://www.budaya-tionghoa.org :.
.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.
.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
Pasti mau kenalan! Hehehehe......
Silahkan tebak tebak, bilang aja orang kepercayaan Suharto, atau
kepercayaan Sukarno atau kepercayaan Mbah Jambrong atau kepercayaan
Kaisar Pu Yi... hihihi ngga efek.
Yang penting, omongannya bisa di crosscheck toohhhhhh..... nggak
maksa-maksa orang percaya buta, weks!
* bangga jadi cucu murid engkong
-----Original Message-----
From: budaya_tionghua@yahoogroups.com
[mailto:budaya_tionghua@yahoogroups.com] On Behalf Of Skalaras
Sent: Tuesday, February 12, 2008 7:45 PM
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Subject: {Disarmed} Re: [budaya_tionghua] Re: Saya Merasa Tidak
Didiskriminasi" - beneeeerrr?
Pasti engkongnya Uly ini orang kepercayaan Pak Harto. semua omongannya
bisa dipercaya, hehehe...
----- Original Message -----
From: RM Danardono HADINOTO
To: HYPERLINK
"mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"budaya_tionghua@-yahoogroups.-
com
Sent: Tuesday, February 12, 2008 10:39 AM
Subject: [budaya_tionghua] Re: Saya Merasa Tidak Didiskriminasi" -
beneeeerrr?
Betul mas.
Untuk membenahi hal hal yang miring, harus mengakui dahulu, ada yang
miring. Kalau terus terusan teriak " tak ada itu, tak ada itu, semua
OK, kata engkong", ya mau benahi apa?
Salam
--- In HYPERLINK
"mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"budaya_tionghua@-yahoogroups.-
com, "jip_id" <jip_id@...> wrote:
>
> Salam,
>
> Kasus-kasus berhubungan dengan aparat ini mengapa tidak dilaporkan
> saja kepada Ombudsman (www.ombudsman.-go.id) yang megurusi hubungan
> antara warga dengan negara. Atau bisa juga kirim ke surat pembaca di
> pelbagai media massa yang berpengaruh seperti Media Indonesia atau
Kompas.
>
> Adik saya (keturunan Jawa) juga dipersulit ketika mengurus
> perpanjangan KTP kelurahan. Kadang2 persoalannya di aparat yang
korup
> juga sih, walaupun prasangka rasial masih ada. Birokrasi memang
> sisa-sisa Orde Baru yang harus dibenahi dan terus diawasi, menurut
saya.
>
>
>
>
> Salam
>
> Junarto
> HYPERLINK "Http://www.semestanet.com"Http://www.semestan-et.com
>
>
> --- In HYPERLINK
"mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"budaya_tionghua@-yahoogroups.-
com, "RM Danardono HADINOTO"
> > UU (lepas dari bagaimana implementasinya)-. Salah satu reaksinya
> > adalah pernyataan bernada sindiran: "Selamat kepada orang
Indonesia
> > Tionghoa karena berhasil mendesak pemerintah menghapus SBKRI."
> >
> > Salah satu alasan yang sering dikemukakan memang adalah bahwa
SBKRI
> > harus tetap ada karena untuk menghindari terjadinya pemalsuan
> > identitas Kewarganegaraan. Tetapi anehnya, kewajiban SBKRI itu
hanya
> > diterapkan pada etnis Keturunan Tionghoa, sedangkan etnis
keturunan
> > lainnya, seperti Arab, tidak pernah diminta.
> >
> > Alasan ini pun sebenarnya tidak bisa diterima. Apa iya kalau ada
> > SBKRI maka lebih menjamin identitas kewarganegaran seseorang
tidak
> > dipalsukan? Bahkan SBKRI itu sendiripun bisa dipalsukan, bukan?
> > Jangankan SBKRI, paspor, pun bisa dipalsukan. Uang saja bisa
> > dipalsukan. Jadi, apa argumen tentang harus tetap ada SBKRI untuk
> > lebih menjamin kebenaran status kewarganegaraan seseorang itu
bisa
> > dipertahankan?
> >
> > Ariel Heryanto dalam tulisannya yang berjudul: SBKRI (Kompas,
Minggu,
> > 02 mei 2004) -- selengkapnya baca di HYPERLINK
"http://www.kompas.com/kompas-"http://www.kompas.-com/kompas-
> > cetak/0405/02/-naper/999727.-htm, menceritakan pengalaman seorang
> > dalam birokratisasi dokumen/administars-i kenegaraan yang dulunya
> > selalu mewajibkan SBKRI bagi WNI Keturunan Tionghoa. Yang
terpenting
> > bagi WNI Keturunan Tionghoa sendiri harus berani melawan, apabila
> > dalam mengurus administrasi kenegaraan, seperti di Catatan Sipil
dan
> > Imigrasi, masih diminta SBKRI. Bikin surat pembaca, atau lapor ke
> > atasannya, bilamana perlu sampai ke level Menteri. Seperti
Menteri
> > Hukum dan HAM. Mudah-mudahan Indonesia tidak harus terus-menerus
> > mendapat tekanan dari luar baru mau benar2 bertindak.
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > --- In HYPERLINK
"mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"budaya_tionghua@-yahoogroups.-
com, "Ulysee" <ulysee_me2@->
> > wrote:
> > >
> > > Hmmmm, jaaaadiiiiii.-.......
> > > Diskriminasi itu jangan jangan sebenarnya urusan PERASAAN
aja???
> > > Soalnya kok ada yang merasa di diskriminasi dan ada yang merasa
> > tidak di
> > > diskriminasi?-??
> > >
> > > Cabut Inpres bukan melulu hanya karena alasan diskriminatif aja
> > euy!
> > > Bisa juga karena sudah tidak seusai dengan sikon masa sekarang.
> > >
> > >
> > >
> > > -----Original Message-----
com] On Behalf Of Skalaras
> > > Sent: Monday, February 11, 2008 9:24 PM
> > > To: HYPERLINK
"mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"budaya_tionghua@-yahoogroups.-
com
Internal Virus Database is out-of-date.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.20/1261 - Release Date:
2/5/2008 8:57 PM
Internal Virus Database is out-of-date.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.20/1261 - Release Date:
2/5/2008 8:57 PM
[Non-text portions of this message have been removed]
Share photos while
you IM friends.
Informasi khan seharusnya bisa di check kebenarannya.
kalau nggak bisa di crosscheck ya boleh aja dicurigai sebagai
disinformasi.
Susah ngadepin produk jaman ORBA,
asal dipertanyakan, asal beda, aja, langsung ngasih cap macem-macem.
Udah era REFORMASI neeeh, kebiasaan buruk jaman dulu nggak usah dibawa
nape!
-----Original Message-----
From: budaya_tionghua@yahoogroups.com
[mailto:budaya_tionghua@yahoogroups.com] On Behalf Of RM Danardono
HADINOTO
Sent: Tuesday, February 12, 2008 8:15 PM
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Subject: {Disarmed} Re: [budaya_tionghua] Re: Saya Merasa Tidak
Didiskriminasi" - beneeeerrr?
Pak, kalau semua yang tak menyenangkan kita, atau tidak sesuai dengan
kepentingan of our Master, anggap saja DIS informasi, ha ha ha
Gampang kan?
Salam
Danardono
--- In HYPERLINK
"mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"budaya_tionghua@-yahoogroups.-
com, "Skalaras" <skalaras@..-.>
wrote:
>
> Pasti engkongnya Uly ini orang kepercayaan Pak Harto. semua
omongannya bisa dipercaya, hehehe...
>
>
> ----- Original Message -----
> From: RM Danardono HADINOTO
> To: HYPERLINK
"mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"budaya_tionghua@-yahoogroups.-
com
> Sent: Tuesday, February 12, 2008 10:39 AM
> Subject: [budaya_tionghua] Re: Saya Merasa Tidak Didiskriminasi" -
beneeeerrr?
>
>
> Betul mas.
>
> Untuk membenahi hal hal yang miring, harus mengakui dahulu, ada
yang
> miring. Kalau terus terusan teriak " tak ada itu, tak ada itu,
semua
> OK, kata engkong", ya mau benahi apa?
>
> Salam
>
> --- In HYPERLINK
"mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"budaya_tionghua@-yahoogroups.-
com, "jip_id" <jip_id@> wrote:
> >
> > Salam,
> >
> > Kasus-kasus berhubungan dengan aparat ini mengapa tidak
dilaporkan
> > saja kepada Ombudsman (www.ombudsman.-go.id) yang megurusi
hubungan
> > antara warga dengan negara. Atau bisa juga kirim ke surat
pembaca di
> > pelbagai media massa yang berpengaruh seperti Media Indonesia
atau
> Kompas.
> >
> > Adik saya (keturunan Jawa) juga dipersulit ketika mengurus
> > perpanjangan KTP kelurahan. Kadang2 persoalannya di aparat yang
> korup
> > juga sih, walaupun prasangka rasial masih ada. Birokrasi memang
> > sisa-sisa Orde Baru yang harus dibenahi dan terus diawasi,
menurut
> saya.
> >
> >
> >
> >
> > Salam
> >
> > Junarto
> > HYPERLINK "Http://www.semestanet.com"Http://www.semestan-et.com
> >
> >
> > --- In HYPERLINK
"mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"budaya_tionghua@-yahoogroups.-
com, "RM Danardono HADINOTO"
> > > UU (lepas dari bagaimana implementasinya)-. Salah satu
> > > cetak/0405/02/-naper/999727.-htm, menceritakan pengalaman
> > > dalam birokratisasi dokumen/administars-i kenegaraan yang
dulunya
> > > selalu mewajibkan SBKRI bagi WNI Keturunan Tionghoa. Yang
> terpenting
> > > bagi WNI Keturunan Tionghoa sendiri harus berani melawan,
apabila
> > > dalam mengurus administrasi kenegaraan, seperti di Catatan
Sipil
> dan
> > > Imigrasi, masih diminta SBKRI. Bikin surat pembaca, atau
lapor ke
> > > atasannya, bilamana perlu sampai ke level Menteri. Seperti
> Menteri
> > > Hukum dan HAM. Mudah-mudahan Indonesia tidak harus terus-
menerus
> > > mendapat tekanan dari luar baru mau benar2 bertindak.
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > --- In HYPERLINK
"mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"budaya_tionghua@-yahoogroups.-
com, "Ulysee"
<ulysee_me2@->
> > > wrote:
> > > >
> > > > Hmmmm, jaaaadiiiiii.-.......
> > > > Diskriminasi itu jangan jangan sebenarnya urusan PERASAAN
> aja???
> > > > Soalnya kok ada yang merasa di diskriminasi dan ada yang
merasa
> > > tidak di
> > > > diskriminasi?-??
> > > >
> > > > Cabut Inpres bukan melulu hanya karena alasan diskriminatif
aja
> > > euy!
> > > > Bisa juga karena sudah tidak seusai dengan sikon masa
sekarang.
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > -----Original Message-----
com] On Behalf Of
Skalaras
> > > > Sent: Monday, February 11, 2008 9:24 PM
> > > > To: HYPERLINK
"mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"budaya_tionghua@-yahoogroups.-
com
Internal Virus Database is out-of-date.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.20/1261 - Release Date:
2/5/2008 8:57 PM
Internal Virus Database is out-of-date.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.20/1261 - Release Date:
2/5/2008 8:57 PM
[Non-text portions of this message have been removed]
kalo pemerintah ri konsisten mah, jgn berangkatkan org
keturunan tionghua ke berbagai event internasional
dengan bawa2 nama indonesia. ajukan keberatan ke
berbagai panitia n organisasi internasional yg telah
memberikan pernghargaan n apresiasi org keturunan
tionghua di indo, cabut berbagai macam medali
olimpiade, asean games, sea games dll.
--- RM Danardono HADINOTO <rm_danardono@yahoo.de>
wrote:
=== message truncated ===
__________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
pak Chan,
rasanya sih awal2nya itu gara2 ekonomi dah. Kalu liat kejadian waktu
clash 45-49 seh belon ada urusan blok timur vs blok barat.
nah abis 49 baru mulai ada urusan perang dingin apalagi waktu perang
korea dimulai, waktu Indonesia jaman parlementer khan ada bbrp yg pro
Amrik. Minta bantuan dana dari Amrik tapi salah satu syaratnya khan
mesti babat aliran kiri di Indonesia. Jadi bantuan dari Amrik itu ya
penuh syarat sampe sekarang ini hehehehehehe
Syarat yg paling nyebelin ya HAM demokrasi !!!!
Lha negara2 Barat lage ngejarah itu ape pikir HAM ame DEMOKRASI ?
Wong ISA ACT Malaysia aje warisan Inggris, Hongkong sebelon 1997 emang
pernah gubjendnya dipilih rakyat Hongkong ?
Tapi dari bbrp kasus awal , seperti Hatta segala macem , mrk mau
naikkan kemampuan ekonomi rakyat Indonesia secara umum, pada khususnya
"pribumi". Tapi ada yg kebablasan urusan ekonominya, pake urusan
gampang, usir aja semua.
Kalu maen usir seh bisa tapi bisa2 kayak Uganda jaman Idi Amin yg usir
semua India darisana, akhirnya ekonominya berantakan. Nah para
nasinalist yg masih mikir panjang ngerti urusan ekonomi gak bisa maen
gampang usir2an aja. Inget kasus nasinalisme perusahaan2 belanda ? Yg
banyak dipegang ama militer plus sipil ? Berantakan gara2 mrk gak
ngerti bisnis itu gimana.
Justru kalau UU warganegara 1946 diperpanjang, makin banyak WN
Tionghoa yg jadi WNI, so secara hukum mereka jg sah dan mendapat
perlindungan hukum dong. Jg kemampuan ekonomi mrk bisa dimanfaatkan
sebaik2nya buat kepentingan negara.
Sayangnya perang dingin BARAT vs TIMUR bikin kisruh urusannya.
So jadi dari ekonomi jadi merambah kemana2.
Yg bikin geli ya itu omongan kalu KHC itu menghambat.
Lha pada prakteknya mrk yg non KHC aje banyak yg pro Belanda kok trus
jadi kebelanda2an.
Ape urusannya ya KHC ame nasionalisme ?
Sistem demokrasi parlementer itu jg bikin Indonesia waktu awal2 malah
jadi bukan ngurus ekonomi tapi malah perang2an rebutan kekuasaan,
kabinet bisa ngebugrak dalam hitungan hari.
Hari ini pro A besok bisa ganti pro B.
Belon lagi urusan PRRI PERMESTA, makanya Soekarno ambil keputusan gak
mo blok sana sini.
Selaen urusan Irian jg ada satu urusan yg bikin keki itu ngkale
bayaran sebesar 4 milyard gulden utk kemerdekaan Indonesia, yg
ngedukungnya antara lain ya Amrik itu.
Jg gara2 prinsip mengayomi seluruh anak bangsa, Soekarno gak mo babat
musuh AMRIK ataw kapitalisme yaitu komunisme.
So nurut saya sih awalnya itu ekonomi, trus faktor ekonomi jadi tameng
jg sampe hari ini.
Soeharto mau kikis masalah ekonomi itu tapi sayangnya kasus yg 2% gak
jelas jg gimana.
Sebenernya buat masalah pemerataan itu gampang kok, pake alat yg
namanya PAJAK !!!!!
Istilahnya BAYAR PAJAKNYA AWASI PENGGUNAANNYA.
gampang tapi susah jg khan.
FAKTA : dalam keputusan tersebut memang tidak ada kata HARUS, tidak ada
kata DIHIMBAU, yang ada adalah "bagi mereka yang INGIN"
Apa yang mau disangkal????
Mengutip kata kata Jonatahan Goeij kemaren dulu :
"tetapi jelas banyak sekali fakta2 peristiwa dan/atau produk hukum
serta kebijakan yg dihasilkan. kesemuanya itu bisa dianalisa dengan
jelas."
Faktanya sudah jelas, dalam keputusan presidium tersebut tidak ada kata
HARUS, tidak ada dikenakan SANGSI untuk yang tidak ganti nama
Melintir pendapat??? hihihi...
lebih seru yang melintir fakta kaliiiiiii.....
-----Original Message-----
From: budaya_tionghua@yahoogroups.com
[mailto:budaya_tionghua@yahoogroups.com] On Behalf Of RM Danardono
HADINOTO
Sent: Tuesday, February 12, 2008 8:24 PM
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Internal Virus Database is out-of-date.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.20/1261 - Release Date:
2/5/2008 8:57 PM
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.4/1275 - Release Date:
2/12/2008 3:20 PM
sudah banyak kok orang yang memberi data dan analisa, Percuma saja, tak berani menanggapi satu persatu, bisanya cuman berkelit, paling kalau kepepet, ngomong:"datanya belum mencukupi" mungkin kalau Engkong belum ngomong belumlah cukup!
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.4/1275 - Release Date: 12/02/2008 15:20
[Non-text portions of this message have been removed]
and nominate your
group to be featured.
Pantesan! Anda Lulusan " akademik" sih, makanya tak tahu yang dinamakan " Analogi" itu apa, coba kalau lulusan S D, SMP, SMA, pasti ngerti deh...
----- Original Message -----
From: Ulysee
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.4/1275 - Release Date: 12/02/2008 15:20
[Non-text portions of this message have been removed]
> Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.4/1275 - Release Date:
> 12/02/2008 15:20
>
>
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
Di tunggu2, kapan Crosscheck nya? kok selama ini tidak pernah melihat anda melakukan ya? adanya cuman menyangkal, meragukan melulu
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.4/1275 - Release Date: 12/02/2008 15:20
[Non-text portions of this message have been removed]
Maaf ,
Numpang tanya,memang siapa sih tuh engkong kok kayanya
sakti sekali
Terima Kasih
Get the name you always wanted with the new y7mail email address.
www.yahoo7.com.au/y7mail
Host a free online
conference on IM.
Crosscheck ajaran engkong?
atau crosscheck ajaran Anda yang maksa?
Ajaran Anda mah belum di crosscheck - baru ditanya mengapa aja udah
gugur bunga, hihihihi....
-----Original Message-----
From: budaya_tionghua@yahoogroups.com
[mailto:budaya_tionghua@yahoogroups.com] On Behalf Of Skalaras
Sent: Wednesday, February 13, 2008 8:10 PM
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Subject: {Disarmed} Re: {Disarmed} Re: [budaya_tionghua] Re: Saya Merasa
Tidak Didiskriminasi" - beneeeerrr?
Di tunggu2, kapan Crosscheck nya? kok selama ini tidak pernah melihat
anda melakukan ya? adanya cuman menyangkal, meragukan melulu
----- Original Message -----
From: Ulysee
To: HYPERLINK
"mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"budaya_tionghua@-yahoogroups.-
com
Sent: Wednesday, February 13, 2008 6:05 AM
Subject: RE: {Disarmed} Re: [budaya_tionghua] Re: Saya Merasa Tidak
Didiskriminasi" - beneeeerrr?
Pasti mau kenalan! Hehehehe....-..
Silahkan tebak tebak, bilang aja orang kepercayaan Suharto, atau
kepercayaan Sukarno atau kepercayaan Mbah Jambrong atau kepercayaan
Kaisar Pu Yi... hihihi ngga efek.
Yang penting, omongannya bisa di crosscheck toohhhhhh...-.. nggak
maksa-maksa orang percaya buta, weks!
* bangga jadi cucu murid engkong
-----Original Message-----
From: HYPERLINK
"mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"budaya_tionghua@-yahoogroups.-
com
[mailto:HYPERLINK
"mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"budaya_tionghua@-yahoogroups.-
com] On Behalf Of Skalaras
Sent: Tuesday, February 12, 2008 7:45 PM
To: HYPERLINK
"mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"budaya_tionghua@-yahoogroups.-
com
Subject: {Disarmed} Re: [budaya_tionghua] Re: Saya Merasa Tidak
Didiskriminasi" - beneeeerrr?
Pasti engkongnya Uly ini orang kepercayaan Pak Harto. semua omongannya
bisa dipercaya, hehehe...
----- Original Message -----
From: RM Danardono HADINOTO
To: HYPERLINK
"mailto:budaya_-tionghua%-40yahoogroups.-com"budaya_-tionghua@--yahoogro
ups.--
com
Sent: Tuesday, February 12, 2008 10:39 AM
Subject: [budaya_tionghua] Re: Saya Merasa Tidak Didiskriminasi" -
beneeeerrr?
Betul mas.
Untuk membenahi hal hal yang miring, harus mengakui dahulu, ada yang
miring. Kalau terus terusan teriak " tak ada itu, tak ada itu, semua
OK, kata engkong", ya mau benahi apa?
Salam
--- In HYPERLINK
"mailto:budaya_-tionghua%-40yahoogroups.-com"budaya_-tionghua@--yahoogro
ups.--
com, "jip_id" <jip_id@...> wrote:
>
> Salam,
>
> Kasus-kasus berhubungan dengan aparat ini mengapa tidak dilaporkan
> saja kepada Ombudsman (www.ombudsman.--go.id) yang megurusi hubungan
> antara warga dengan negara. Atau bisa juga kirim ke surat pembaca di
> pelbagai media massa yang berpengaruh seperti Media Indonesia atau
Kompas.
>
> Adik saya (keturunan Jawa) juga dipersulit ketika mengurus
> perpanjangan KTP kelurahan. Kadang2 persoalannya di aparat yang
korup
> juga sih, walaupun prasangka rasial masih ada. Birokrasi memang
> sisa-sisa Orde Baru yang harus dibenahi dan terus diawasi, menurut
saya.
>
>
>
>
> Salam
>
> Junarto
> HYPERLINK "HYPERLINK
"Http://www.semestanet.com"Http://www.semestan-et.com"HYPERLINK
"Http://www.semestan-et.com"Http://www.semestan--et.com
>
>
> --- In HYPERLINK
"mailto:budaya_-tionghua%-40yahoogroups.-com"budaya_-tionghua@--yahoogro
ups.--
com, "RM Danardono HADINOTO"
> > UU (lepas dari bagaimana implementasinya)--. Salah satu reaksinya
> > adalah pernyataan bernada sindiran: "Selamat kepada orang
Indonesia
> > Tionghoa karena berhasil mendesak pemerintah menghapus SBKRI."
> >
> > Salah satu alasan yang sering dikemukakan memang adalah bahwa
SBKRI
> > harus tetap ada karena untuk menghindari terjadinya pemalsuan
> > identitas Kewarganegaraan. Tetapi anehnya, kewajiban SBKRI itu
hanya
> > diterapkan pada etnis Keturunan Tionghoa, sedangkan etnis
keturunan
> > lainnya, seperti Arab, tidak pernah diminta.
> >
> > Alasan ini pun sebenarnya tidak bisa diterima. Apa iya kalau ada
> > SBKRI maka lebih menjamin identitas kewarganegaran seseorang
tidak
> > dipalsukan? Bahkan SBKRI itu sendiripun bisa dipalsukan, bukan?
> > Jangankan SBKRI, paspor, pun bisa dipalsukan. Uang saja bisa
> > dipalsukan. Jadi, apa argumen tentang harus tetap ada SBKRI untuk
> > lebih menjamin kebenaran status kewarganegaraan seseorang itu
bisa
> > dipertahankan?
> >
> > Ariel Heryanto dalam tulisannya yang berjudul: SBKRI (Kompas,
Minggu,
> > 02 mei 2004) -- selengkapnya baca di HYPERLINK
"HYPERLINK
"http://www.kompas.com/kompas-"http://www.kompas.-com/kompas-"HYPERLINK
"http://www.kompas.-com/kompas-"http://www.kompas.--com/kompas-
> > cetak/0405/02/--naper/999727.--htm, menceritakan pengalaman seorang
> > dalam birokratisasi dokumen/administars--i kenegaraan yang dulunya
> > selalu mewajibkan SBKRI bagi WNI Keturunan Tionghoa. Yang
terpenting
> > bagi WNI Keturunan Tionghoa sendiri harus berani melawan, apabila
> > dalam mengurus administrasi kenegaraan, seperti di Catatan Sipil
dan
> > Imigrasi, masih diminta SBKRI. Bikin surat pembaca, atau lapor ke
> > atasannya, bilamana perlu sampai ke level Menteri. Seperti
Menteri
> > Hukum dan HAM. Mudah-mudahan Indonesia tidak harus terus-menerus
> > mendapat tekanan dari luar baru mau benar2 bertindak.
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > --- In HYPERLINK
"mailto:budaya_-tionghua%-40yahoogroups.-com"budaya_-tionghua@--yahoogro
ups.--
com, "Ulysee" <ulysee_me2@-->
> > wrote:
> > >
> > > Hmmmm, jaaaadiiiiii.--.......
> > > Diskriminasi itu jangan jangan sebenarnya urusan PERASAAN
aja???
> > > Soalnya kok ada yang merasa di diskriminasi dan ada yang merasa
> > tidak di
> > > diskriminasi?--??
> > >
> > > Cabut Inpres bukan melulu hanya karena alasan diskriminatif aja
> > euy!
> > > Bisa juga karena sudah tidak seusai dengan sikon masa sekarang.
> > >
> > >
> > >
> > > -----Original Message-----
> > > From: HYPERLINK
com] On Behalf Of Skalaras
> > > Sent: Monday, February 11, 2008 9:24 PM
> > > To: HYPERLINK
"mailto:budaya_-tionghua%-40yahoogroups.-com"budaya_-tionghua@--yahoogro
ups.--
2/12/2008 3:20 PM
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.4/1275 - Release Date:
2/12/2008 3:20 PM
[Non-text portions of this message have been removed]
Definisi analogi sih tahu,
Tapi kalau analogi dari Anda, sumpah gue kaga ngarti, soalnya seringkali
buah jatuh terlalu jauh dari pohon, hehehe
Kali nimpuknya terlalu bersemangat sehingga melenceng jauh dari sasaran
ya
Makanya membidiknya FOKUS donk biar kena ke sasaran. Hihihihihi.....
Subject: {Disarmed} Re: {Disarmed} Re: [budaya_tionghua] Re: FW: "Saya
Merasa Tidak Didiskriminasi"
Bagi orang yang hanya mementingkan diri sendiri, memang hanya menilai
semua hal berdasarkan perasaannya sendiri, dan lagi2 hanya berdasarkan
pengalaman pribadi yang sempit.
Apakah kita harus menjadi rakyat Aceh dulu untuk bisa merasakan derita
rakyat Aceh? Apakah kalau kita tak pernah diculik aparat berarti tak ada
penculikan aktivis?
Absurd!!!
----- Original Message -----
From: Ulysee
To: HYPERLINK
"mailto:budaya_-tionghua%-40yahoogroups.-com"budaya_-tionghua@--yahoogro
ups.--
com
Sent: Tuesday, February 12, 2008 7:08 AM
Subject: RE: {Disarmed} Re: [budaya_tionghua] Re: FW: "Saya Merasa Tidak
Didiskriminasi"
Hmmmm, jaaaadiiiiii.--.......
Diskriminasi itu jangan jangan sebenarnya urusan PERASAAN aja???
Soalnya kok ada yang merasa di diskriminasi dan ada yang merasa tidak di
diskriminasi?--??
Cabut Inpres bukan melulu hanya karena alasan diskriminatif aja euy!
Bisa juga karena sudah tidak seusai dengan sikon masa sekarang.
-----Original Message-----
From: HYPERLINK
"mailto:budaya_-tionghua%-40yahoogroups.-com"budaya_-tionghua@--yahoogro
ups.--
com
"mailto:budaya_-tionghua%-40yahoogroups.-com"budaya_-tionghua@--yahoogro
ups.--
2/12/2008 3:20 PM
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.4/1275 - Release Date:
2/12/2008 3:20 PM
[Non-text portions of this message have been removed]
Share photos while
you IM friends.
Yahoo! Groups Links
2/12/2008 3:20 PM
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.4/1275 - Release Date:
2/12/2008 3:20 PM
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
.: Website global http://www.budaya-tionghoa.org :.
.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.
.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
Anda kapan memberi data dan analisa???
Ayo! ayo dibahas ayo! Bawa sini donk bawa kesini.
Topik apa? jangan topik pengalaman pribadi nyelundupin buku di bandara
lagi yah, hihihi, bosen lah.
Lagian tidak membuktikan apa apa itu mah.
Topik itu aja tuh, "Agama Tionghoa". Yang itu gue belon pernah bahas
tuh.
-----Original Message-----
From: budaya_tionghua@yahoogroups.com
[mailto:budaya_tionghua@yahoogroups.com] On Behalf Of Skalaras
Sent: Wednesday, February 13, 2008 7:58 PM
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Subject: {Disarmed} Re: {Disarmed} Re: [budaya_tionghua] Re: FW: "Saya
Merasa Tidak Didiskriminasi"
sudah banyak kok orang yang memberi data dan analisa, Percuma saja, tak
berani menanggapi satu persatu, bisanya cuman berkelit, paling kalau
kepepet, ngomong:"datanya belum mencukupi" mungkin kalau Engkong belum
ngomong belumlah cukup!
----- Original Message -----
From: Ulysee
To: HYPERLINK
"mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"budaya_tionghua@-yahoogroups.-
com
Sent: Wednesday, February 13, 2008 5:47 AM
Subject: RE: {Disarmed} Re: [budaya_tionghua] Re: FW: "Saya Merasa Tidak
Didiskriminasi"
Bedakin wayang Potehi kali! wakakakaka.
Monggo di analisa deh, khan situ sudah lahir di jaman itu sementara gue
belon lahir.
hihihihi....-.
Coba mau lihat data dan analisanya, keluarin donk, dari kemaren
ditungguin neeeh!
-----Original Message-----
com] On Behalf Of Skalaras
Sent: Tuesday, February 12, 2008 7:04 PM
To: HYPERLINK
"mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"budaya_tionghua@-yahoogroups.-
com
Subject: {Disarmed} Re: [budaya_tionghua] Re: FW: "Saya Merasa Tidak
Didiskriminasi"
Di bawah ini adalah keterangan resmi dari juru bicara orde baru? mengapa
senantiasa sibuk untuk membedaki dan mendandani rezim yang sudah
almarhum ini ya? apa memang pernah jadi juru rias jenasah?
Bolehlah dianalisa, mengapa tiba2 dalam satu tahun terjadi trend "ganti
nama" ya? dan mengapa trend ini tidak menjangkiti orang India dan orang
Arab yang sama2 asing2 ?
----- Original Message -----
From: Ulysee
To: HYPERLINK
"mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"budaya_tionghua@-yahoogroups.-
com
com] On Behalf Of Andrew Lim
Sent: Monday, February 11, 2008 10:01 PM
To: HYPERLINK
"mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"budaya_tionghua@-yahoogroups.-
com
Subject: [budaya_tionghua] Re: FW: "Saya Merasa Tidak Didiskriminasi"
Pak Hadinoto,
Terima kasih Bapak berbagi artikel ttg penggantian nama. Artikel tsb
sangat menarik, apalagi juga ada lampiran perpunya, yang saya tidak
punya.
Peraturan pemerintah (perpu) tsb memang TIDAK MENYATAKAN bahwa orang
Tionghoa HARUS mengganti nama Tionghoa mereka, hanya bagi mereka
yang INGIN saja.
Masalahnya, ini khan bahasa pemerintah. Yang tersirat adalah bahwa
orang Tionghoa harus mengganti nama mereka dengan nama Indonesia.
Ada juga orang Tionghoa yang mbalelo, yang tidak mengganti nama
mereka. Seperti kwik Kian Gie, misalnya. Kalau Kwik Kian Gie mungkin
tidan mengalami masalah yg berarti, tetapi saya tidak tahu bagaimana
dengan mereka yang tidak mempunyai "capital" (kuasa, pengaruh, dll)
seperti Kwik Kian gie.
Ada artikel di the Jakarta Post tempo hari yg menulis kesulitan yg
dihadapi oleh mereka yang mempunyai nama Tionghoa.
Salam,
Andrew
--- In HYPERLINK
"mailto:budaya_-tionghua%-40yahoogroups.-com"budaya_-tionghua@--yahoogro
ups.--
com, "RM Danardono HADINOTO"
<rm_danardono@--...> wrote:
>
> --- In HYPERLINK
"mailto:budaya_-tionghua%-40yahoogroups.-com"budaya_-tionghua@--yahoogro
ups.--
com, "Andrew Lim"
> 127/U/Kep/12/--1966 yang dikeluarkan oleh Ketua Presidium Kabinet
> nama/11,23%)--. Contoh untuk kategori ini adalah Widjaja, Winata,
> Widagdo, Wiharto, Widianingsih, Widodo, Wikarta, Widjoseno,
Wibowo,
> Wiharja (Oey); Wibawa (Whie); Hidayat (Hie); Kusnadi, Kurnia,
Kusiana
> (Khoe); Teja, Tejamulia (The); Chandra, Tjandra (Chen, Tjan);
Kosasih
> (Kho); Djohan (Jo); Anggraeni (Ang); Tanti (Tan) Tamin (Tham),
Leman
> (Lie). Pada kelompok ini tampak bahwa suku kata wi cukup produktif
> dalam pembentukan NI yang lazim. Ada beberapa nama yang terasa
> berbeda dengan NI pada umumnya, misalnya Lohananta, Lohanda (Loa);
> Mercu Buwono (Tjung); Tamira (laki-laki; Tham); Liman, Lisan,
> Libriyani (Lie); Tandri, Tanu, Tandra (Tan, Tjhin). Kelompok ini
> dibedakan dari kelompok (4 berikut ini) karena suku pertama dapat
> dianggap sebagai tempat yang sama dengan nama keluarga.
> 4. Nama keluarga dipertahankan pada suku kedua atau ketiga NI
dengan
> penyesuaian grafis (88 nama/10,86%)--. Contoh untuk kategori ini
> nama/20,12%)--. Ada nama yang memang sesuai dengan ejaan NI seperti
> No.127/U/Kep.--12/1966
2/12/2008 3:20 PM
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.4/1275 - Release Date:
2/12/2008 3:20 PM
[Non-text portions of this message have been removed]
Send up to 1GB of
files in an IM.
gimanapun cara nimpuknya pasti akan meleset, wong hobbynya berlindung di ketiak engkong kok.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.4/1277 - Release Date: 13/02/2008 20:00
[Non-text portions of this message have been removed]
> Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.4/1277 - Release Date:
> 13/02/2008 20:00
>
>
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
Catatan moderator untuk saudara Zhou dan saudari Yuliana:
Cukup sampai di sini saja.
Untuk saudara Zhou, dimohon mengecek komputernya dengan anti virus ataupun anti spyware karena oleh Yahoo email anda difilter dan diberi tag {Disarmed}
============================================================
Saya tak perlu memberi perkuliahan baru ke anda, wong bahan2 kuliah saya juga sama dengan yang diungkap para teman2 disini, sudah cuku banyak dan komplit, yang semuanya anda acuhkan, hanya gara2 anda mematuhi ajaran engkong.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.4/1277 - Release Date: 13/02/2008 20:00
[Non-text portions of this message have been removed]
> Catatan moderator untuk saudara Zhou dan saudari Yuliana:
> Cukup sampai di sini saja.
--------------------------------
Repotnya, yang nyontohin bermilis cara begini, moderator juga...
Wasalam.
Pak ABS,
Terima kasih atas kritikannya.
Hormat saya,
Yongde
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "Akhmad Bukhari Saleh"
<absaleh@...> wrote:
>
> > Catatan moderator untuk saudara Zhou dan saudari Yuliana:
> > Cukup sampai di sini saja.
>
> --------------------------------
>
> Repotnya, yang nyontohin bermilis cara begini, moderator juga...
>
> Wasalam.
>
Share photos while
you IM friends.
Memang betul bahwa usulan ganti nama di kalangan komunitas tionghoa sudah
muncul sebelum orde baru, paling tidak, sejak tahun 1960, setelah kekacauan
akibat dikeluarkannya PP-10 (pada masa Orde Lama). Usulan ganti nama ini
merupakan salah satu bagian dari gerakan asimilasi yang dilancarkan melalui
pernyataan oleh 10 orang tionghoa dalam majalah Star Weekly (Maret 1960).
Kemudian, di tahun 1961 (masih masa Orde Lama), Pemerintahan Sukarno
menerbitkan UU Perubahan atau Penambahan Nama Keluarga, i.e UU No. 4/1961.
Salah satu tujuan dari UU tsb adalah "untuk tidak membeda-bedakan lagi
antara nama yang lazim dipakai oleh suatu golongan dan yang dipakai oleh
golongan yang lain yang merupakan suatu penghalang bagi asimilasi", seperti
yang tercantum di dalam bagian penjelasan UU tsb. (Selengkapnya dapat
dilihat di http://www.theceli.com/dokumen/produk/1961/4-1961.htm)
Setelah peristiwa ganti nama massal di Sukabumi bulan Juni 1966, pada bulan
Desember 1966, pemerintah orde baru akhirnya mengeluarkan Keputusan
Presidium mengenai ganti nama (yang mengacu pada UU 4/1961). Keppres ini
khusus untuk mengatur perubahan nama oleh golongan tionghoa, yang
prosedurnya lebih mudah dan biaya lebih murah dibandingkan prosedur normal
pada UU 4/1961. Hal ini tentu saja mengundang perdebatan pro dan kontra di
kalangan tionghoa pada masa itu.
Keputusan ini hanya berlaku sementara, sampai dengan akhir tahun 1968 (kalau
tidak salah ingat). Entah, berapa banyak WNI tionghoa yang memanfaatkan
rentang waktu ini untuk melakukan perubahan nama.
Jadi, melihat urutan kejadian tersebut, ganti nama memang bukan diawali dari
keputusan presidium masa orde baru, tapi sudah dimulai pada masa sebelumnya.
Prometheus
Pak Hadinoto,
Salam,
Andrew
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.6/1280 - Release Date: 15/2/2008
9:00 AM
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
.: Website global http://www.budaya-tionghoa.org :.
.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.
.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.