Mohon informasi dari saudara2 di milis ini tentang bagaimana
sebenarnya syarat2 "dasar" dalam membangun kuburan dengan mengikuti
tradisi tionghoa,
Umumnya sekarang aksara chinese sudah dilupakan dalam menulis nama
kita, juga anak2 kita yang telah wni mempunyai nama chinese hanya
sekedar panggilan di rumah, dalam hal formal tentu pakai "chritine,
abraham, paul, etc". <saya pernah di beritahu bahwa menulis nama di
Bongpay pakai aksara chinese, dengan jumlah ganjil dsbnya>
Sekarang dengan mengingat kondisi dan situasi, yang ada di hadapan
kita, apakah tradisi kuburan tionghoa itu bisa kita terapkan dengan
mengadakan modifikasi???
Juga yang menjadi kendala , kalau agamanya alm adalah kristen ,
apakah mungkin kita menggambarkan salib , dsbnya di bongpay, sedangkan
keinginan kita membuat "kuan" dengan meja dllnya.
Sekian dulu , terima kasih
From: "liang.tjoa" <liang.tjoa@yahoo.co.id>
cut---->
> Juga yang menjadi kendala , kalau agamanya alm adalah kristen ,
> apakah mungkin kita menggambarkan salib , dsbnya di bongpay, sedangkan
> keinginan kita membuat "kuan" dengan meja dllnya.
> Sekian dulu , terima kasih
++++
Didalam kebudayaan timur tengah tidak dikenal kuburan yang memiliki batu
nisan, dan malah untuk sebagian wilayah seseorang yang meninggal di kubur
begitu saja tanpa tanda apapun, itu sebabnya didalam Alkitab sejak bab
pertama sampai akhir selalu banyak pengulangan silsilah leluhur semisal Adam
beranak anu dan anu beranak anu dan anu beranak anu......
Dengan sifat budaya seperti ini maka didalam cara penguburan Kristen sudah
di modifikasi menjadi makan yang bermisan, dan 'tidak boleh' ditambah lagi
dengan segala macam meja dan segala macam "kuan".
Tionghoa yang memiliki kebudayaan berbeda dimana silsilah selain ditulis di
rumah marga, juga ditulis di batu nisan ( seperti yang sudah di diskusi kan
di millis ini ), dan karena kebudayaannya adalah menyembah "Thian" yang
harus ada meja dan "kuan", juga ada acara Ceng Beng, dimana setahun sekali
makam di sambang i, selain bertujuan untuk silahturami antar sanak keluarga
( memiliki makna psikologis bahwa akhirnya manusia itu ada didalam tanah ),
juga untuk mengingatkan ke generasi selanjutnya bahwa nenek moyangnya di
makam kan di lokasi tertentu, sehingga minimal keturunannya bisa saling
kenal, minimal........"7 turunan", sekali lagi kebudayaan Tionghoa unik
sekali dan bila di mengerti dengan baik dan benar sangat sangat bermanfaat,
tentu saja bukan berarti budaya Timur Tengah jelek, karena keuntungan budaya
Timur Tengah didalam hal silsilah tidak memakan banyak tanah.....( akibat
dari ini maka timbulah modifikasi lagi yaitu di Kremasi.)
Mohon maaf bila ada yang keliru.....silahkan di koreksi.
sur.
Tambahan dan himbau an.
Aku tinggal di Bogor dan tidak terlalu jauh dengan areal pemakaman Gunung
Gadung, dimana di tahun 90-an luas nya sekitar 15 HA dan menjadi sekitar 100
Ha di tahun 2000-an.
Tidak sedikit keluarga yang memakamkan sanak kerabatnya kena tipu oleh para
biong yang sebenarnya lebih mengetahui tata cara pemakaman ala Tionghoa, dan
akibatnya terjadi kongkalikong antara ahli Fengshui dengan pemilik tanah
makam.
Karena ini adalah bisnis murni yang ROE nya paling menggiurkan mengakibatkan
pemakaian tanah menjadi amburadul, pokoknya posisi dan letak secara Fengshui
kurang bagus menjadi bisa bagus karena kolaborasi antar ahli fengshui dengan
pemilik tanah, dan harganya pun selain cash keras mahalnya minta ampun,
untuk ukuran 4 X 4 M² minimal siap siap sampai 100 juta....
Memang Tionghoa Indonesia rada rada unik, untuk membuktikan kebaikannya
kepada almarhum tidak sungkan sungkan memakai tanah sampai ada yang ribuan
M², untuk kelas yang ratusan M² boleh dibilang tidak sedikit.
Akibatnya........keluarga semodel aku bila ada yang meninggal terpaksa harus
di kremasi, karena sungguh menyakitkan tingkah pola dari pemilik uang yang
kurang peka didalam ber sosialisasi.
Untuk di ketahui juga, bahwa daerah dekat kuburan fengshui nya tidak bagus
untuk tempat tinggal, itu sebabnya areal Gunung Gadung menjadi sarang preman
di waktu malam, dan.....masyarakatnya pun menjadi masyarakat berbeda dengan
masyarakat lainnya..
Dan tambahan informasi, peruntukan tanah makam sebenarnya sudah ada undang
undangnya dimana tidak boleh lebih 2 X1 M², sedang untuk pekuburan Tionghoa
bisa menjadi berbeda dikarena peruntukannya memang bukan untuk makam,
melainkan untuk perumahan dengan sistim hak guna pakai.
Juga bila makam tidak di datang i dalam kurun tertentu ( bisa 5 tahun ),
dianggap ahli waris sudah tidak peduli, maka makam di kosong kan.
Sewaktu terjadi krisis ekonomi 98, tidak sedikit peti mati di lempar ke kali
Cisadane setelah isi peti di kuras.
Untuk ini aku hanya bisa menghimbau...........gunakanlah sewajarnya.
Maaf dan ............:o)
sur ( aku mah sudah bilang disaat mati lempar ajah ke Cisadane juga gak apa
apa....)
----- Original Message -----
From: "liang.tjoa" <liang.tjoa@yahoo.co.id>
Sdr.Suryana,
jika anda meneliti budaya orang Timur Tengah terutama Yahudi pada
jaman dahulu, mereka tidak dimakamkan melainkan ditaruh di dalam gua.
Gua atau kuburan mereka juga termasuk berukuran besar.
Budaya kremasi sebenarnya juga dikenal oleh orang Tionghoa jaman
dahulu bahkan ada banyak jenis pemakaman.
Saya sebutkan salah satunya adalah shui zhang atau penguburan air. Ini
kurang lebih seperti permintaan saudara Suryana jika meninggal, yakni
dilempar ke sungai.
Selain itu adalah mu zhang atau penguburan pohon, biasanya ditepat di
atas kuburan itu ditanamkan pohon dan tanpa bentuk arsitektur apapun,
hanya sebatang pohon.
Yang dianggap pengaruh Buddhism tapi sebenarnya salah kaprah adalah
huo zhang atau kremasi. Jaman Shang sudah mengenal berbagai macam cara
penguburan.
Karena adanya muzhang, sempat beredar anggapan bahwa di bawah pohon
tua yang ada di Huangdi ling atau makam kaisar Kuning adalah tempat
jenazah beliau dikuburkan.
Hormat saya,
Xuan Tong
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "gsuryana" <gsuryana@...> wrote:
Sdr.Suryana,
maaf bukan saya mau membela ahli fengshui, tapi 3 ahli fengshui
dibidang kuburan di kota Bogor yang saya kenal adalah master Shi,
master Huang dan master Gu. Saya rasa mereka bertiga tidak akan mau
merendahkan nama baik mereka untuk bermain mata dengan pemilik tanah.
Memang ada salah satu master ini yang dahulu pernah bekerja sama
dengan suatu yayasan pemakaman di kota Bogor dan ada lagi salah satu
master tersebut konon sering dimintai pendapat untuk mencari lokasi
yang baik untuk fengshui kuburan oleh pemilik suatu tempat penitipan
jenazah di kota Bogor.
Jika anda tahu boleh anda sebutkan nama ahli fengshui yang anda
katakan bermain mata dengan pemilik tanah ? Jika diantara tiga orang
itu ternyata bermain mata, saya tidak akan segan-segan menegur mereka.
Dua orang diantara mereka adalah aliran Maoshan dan tentunya aliran
Maoshan memiliki etika moralitas yang perlu saya ingatkan kembali jika
mereka lupa.
Tapi memang saya tidak dapat memungkiri ada banyak ahli fengshui yang
tipis dalam etika moral. Semoga bukan mereka yang bermain mata.
Bicara masalah harga, saya jadi teringat beberapa tahun yang lalu
seorang kawan saya dikuburkan di Cipaku dengan harga tanah permeter
persegi sekitar Rp.2.000.000 rupiah. Bisa saya bayangkan harga tanah
di Gunung Gadung mencapai Rp.5.000.000 permeter persegi. Tapi dari
situ juga sebenarnya pemda mendapatkan PAD yang lumayan dan penduduk
sekitar bisa mendapatkan rejeki juga jika Chengbeng datang.
Dan sepanjang yang saya tahu, gunung Gadung adalah tempat yang
dikhususkan pemakaman Tionghoa sejak dahulu. Banyak kuburan-kuburan
disana yang umurnya puluhan hingga ratusan tahun.
Mengenai pembongkaran atau penjarahan kuburan Tionghoa yang anda
tuliskan, bukankah itu dilakukan atau diprovokasi oleh seorang
"paranormal" di kota Bogor ? Bahkan ia sempat mengatakan hal itu di
media massa ( cat: sayangnya saya lupa nama media massa tersebut ).
Dan tenang saja, saya memilih kremasi jika saya meninggal.
Kaitan fengshui kuburan dengan keluarga yang ditinggalkan juga
seandainya benar, secara umum tidak akan lebih dari 3 generasi. Jadi
untuk apa membuang-buang uang hanya ingin mendapatkan fengshui bagus
untuk anak cucu jika hanya bertahan 3 generasi saja.
Kecuali memang ada ahli fengshui jempolan yang bisa membuat bertahan
lama. Tapi kenyataannya, kuburan kaisar Ming yang konon ditata menurut
fengshui kuburan terbaik saja tetap runtuh. Dus tidak akan abadi.
Saya tidak tahu apakah kerajaan Inggris juga mengandalkan fengshui ?
Tapi faktanya kerajaan Inggris bertahan lebih lama daripada dinasti
Ming. Mungkin kerajaan Inggris akan runtuh ketika rakyatnya memilih
bentuk republik. Tapi entah kapan ?
Hormat saya,
Xuan Tong
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "gsuryana" <gsuryana@...> wrote:
>
Yup terima kasih, memang di Timur Tengah juga ada makam dalam bentuk goa
dimana didalamnya menjadi lokasi makam ( Yesus di makamkan didalam goa ),
dan biasanya goa ini merupakan makam keluarga/marga ( ? ).
sur.
----- Original Message -----
From: "perfect_harmony2000" <perfect_harmony2000@yahoo.com>
> Sdr.Suryana,
>
>
> jika anda meneliti budaya orang Timur Tengah terutama Yahudi pada
> jaman dahulu, mereka tidak dimakamkan melainkan ditaruh di dalam gua.
> Gua atau kuburan mereka juga termasuk berukuran besar.
>
> Budaya kremasi sebenarnya juga dikenal oleh orang Tionghoa jaman
> dahulu bahkan ada banyak jenis pemakaman.
>
> Saya sebutkan salah satunya adalah shui zhang atau penguburan air. Ini
> kurang lebih seperti permintaan saudara Suryana jika meninggal, yakni
> dilempar ke sungai.
>
> Selain itu adalah mu zhang atau penguburan pohon, biasanya ditepat di
> atas kuburan itu ditanamkan pohon dan tanpa bentuk arsitektur apapun,
> hanya sebatang pohon.
>
> Yang dianggap pengaruh Buddhism tapi sebenarnya salah kaprah adalah
> huo zhang atau kremasi. Jaman Shang sudah mengenal berbagai macam cara
> penguburan.
>
> Karena adanya muzhang, sempat beredar anggapan bahwa di bawah pohon
> tua yang ada di Huangdi ling atau makam kaisar Kuning adalah tempat
> jenazah beliau dikuburkan.
>
>
> Hormat saya,
>
>
> Xuan Tong
Aku tidak mengenal ahli fengshuinya, melainkan mengenal pemilik tanah yang
akan dipakai menjadi makam, dan sudah haji pula, beliau sendiri yang
bercerita ke aku sambil tertawa-tawa, bahwa banyak orang Tionghoa yang
pengetahuannya malah tidak lebih baik dari beliau, dimana beliau bisa tahu
seluk beluk fengshui dan bagaimana memasarkan 'kemampuan' ke konsumen.
Gunung Gadung pada dasarnya memang untuk pemakaman warga Bogor, dimana di
bagi 2 bagian, bagian satu untuk golongan Kristen, sedang bagian lain untuk
Tionghoa non Kristen.
Sejak pekuburan di Jakarta ( kebon nanas ) di hilang kan, secara mendadak
banyak limpahan petimati dari Jakarta, dan sejak saat itu pula Gunung Gadung
menjadi tempat favorit untuk dijadikan tempat persinggahan terakhir (
sekarang sih sepertinya pindah ke daerah Bekasi ?), dan akibat dari ini,
masyarakat awal yang asalnya petani penggarap berubah menjadi tukang merawat
makam, dan........keturunannya menjadi tukang minta minta sedang untuk
remaja pria menjadi preman pemabokan.
Aku pernah mempertanyakan langsung ke Bapedal Kotamadya Bogor mengenai RTRW
( Rencana Tata Ruang dan Wilayah ) kota Bogor, dimana salah satunya adalah
Gunung Gadung, aku pertanyakan mengapa areal subur dan berlokasi dekat
dengan kota serta sangat strategis malah dijadikan kebun beton ?, dan
bagaimana dampak psikologis terhadap masyarakat sekitar ?
Dia menjawab selain untuk meningkatkan PAD juga mengurangi pengangguran, aku
balik tanya apakah benar mengurangi pengangguran dengan menjadi tukang rawat
kuburan dan peminta minta, karena untuk tukang bangunan tetap saja tidak
bisa memakai tenaga lokal, dan premanisme tumbuh subur......dia tidak bisa
menjawab dan pergi begitu saja ( Ibu Ernawati ).
Dalam hal ini pola kehidupan bermasyarakat menjadi terbalik, dimana mereka
hanya mengharapkan datangnya Jenasah dan Chengbeng, jangan coba coba datang
untuk sekedar sembahyang tanpa membawa uang kecil, karena bererot anak anak
mengikuti kita kemanapun kita pergi ( aku pernah ngalami kebelet buang air
kecil, dan sampai mabok di ikuti terus terus, akhirnya begitu melihat aku
memang mau membuka retsleting celana baru deh ntu anak anak ngabur ).
Dalam hal ini aku hanya menghimbau bahwa pola pengelolaan pemakaman di
Indonesia kurang dan bisa dikatakan tidak baik, berbeda dengan daerah
pemakaman yang memang sudah eksis lama dan berlokasi di tengah kota, selain
luasnya terbatas juga sekelilingnya sudah penuh dengan aktivitas masyarakat
( Pandu di Bandung ).
Gunung Gadung menjadi berbeda karena pemakaian luas tanahnya yang benar
benar diluar batas kenormalan, ada yang satu bukit milik satu keluarga, ada
yang 400 meter, belum lagi 100 sd 200 meter mah gak ke hitung, sedang
masyarakat di sekitar ber rumah gubuk.
Salah satu asuk ku yang datang dari RRT sampai hampir menangis sedih melihat
kondisi pemakaman tersebut, dia hanya bicara mengapa Tenglang Indonesia
lebih memikirkan orang mati, sedang orang hidup tinggal di gubuk dan rumah
kecil......
Aku mah sederhana ajah jawab nya, maklum lah mereka orang kaya,
kekurangannya sedikit koq......tidak punya nurani.
Mengenai pembongkaran, sebenarnya juga terjadi di daerah lain, hanya tidak
separah di Bogor, maklum di Bogor termasuk banyak pekuburan yang tidak
dirawat.
Ada sebuah kuburan dimana pemiliknya sangat sangat kaya untuk ukuran itu,
dan dia memakai tanah kurang lebih 7x7 M² ( koreksi bila salah ), dan konon
di situ juga di kubur kendaraan aslinya......dalam hal ini dia tidak
serakah...
sur. ( untuk per Fengshui an aku 'rada rada percaya euy' , makanya mending
jangan di kubur )
ps.
Apakah ada yang tahu aturan menaruh jenazah yang baik dan benar didalam peti
mati ?, katanya kaki jenasah harus nempel di dinding peti mati, bila tidak
maka keturunannya akan mengalami kehidupan yang terombang ambing.
sur.
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
.: Website global http://www.budaya-tionghoa.org :.
.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.
.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.
dengan hormat bapak liong chua.
pada dasarnya anda membuat bongpay sudah memdapat persetujuan
keluarga atau kematian almarhum mengingikannya ?. Sebenarnya di
agama anda tidak ada pelarangan untuk hal itu selama anda tidak
meyembahyangi makam almarhum. Saya memberi tip pada anda, karena
saya juga pernah belajar sedikit mengenai hong shui, semua kembali
kepada anda dan pihak keluarga almarhum dan almarhum mau atau
tidaknya buat bong pay. Jika iya maka saya bantu anda sedikit anda
bisa membuat bong pay ala kristen juga ala tradisi leluhur percaya
atau tidak, itu bisa dilakukan. anda saya beri tip lihat hari dan
jam kematiannya, dan carilah ahli hong shui lebih pakar, saya tidak
pakar cuman pernah belajar, Ketika anda sudah mendapat tanah dan
posisi yang sesuai dengan hari dan jam kematiannya.anda baru buat
bong pay, bong pay anda buat tidak perlu ada tempat sembayangan
atau dewa bumi (karena almarhum orang kristen)). Anda masih
diperbolehkan menulis aksara tionghoa tidak ada peraturan harus
ganjil tidak ngak ada (yang ada kebanyakan orang tionghoa marganya
terdiri 3 karakter). Nama Indonesia juga boleh. Anda menaruh Salib
pun diperbolehkan siapa bilang tidak ?. Bapak orang tionghoa kristen
menggunakan cara itu .(maaf saya nulis mohon jangan menjadi akar
permasalahan agama, saya hanya membantu jalan tengah bagi bapak
liong hoa).Dan saya memberikan ini semua kembali pada anda mau atau
tidaknya buat bong pay itu kehendak anda sendiri. Saya hanya membantu
memberi jalan tenggah kepada anda.
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "gsuryana" <gsuryana@...>
wrote:
>
> .: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
>
> .: Website global http://www.budaya-tionghoa.org :.
>
> .: Pertanyaan? Ajukan di
http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.
>
> .: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua
http://iccsg.wordpress.com :.
>
>
> Yahoo! Groups Links
>
MOHON DITANGGAPI OLEH PAKAR;
Karena ini penting utk melestarikan BUDAYA "Bhakti terhadap LELUHUR"
TQ
Tony S
----- Original Message ----
From: liang.tjoa <liang.tjoa@yahoo.co.id>
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Sent: Wednesday, December 19, 2007 6:33:27 PM
Subject: [budaya_tionghua] BAGAI MANA SEBENARNYA TATA CARA MEMBUAT KUBURAN<BONGPAY?.>
Mohon informasi dari saudara2 di milis ini tentang bagaimana
sebenarnya syarat2 "dasar" dalam membangun kuburan dengan mengikuti
tradisi tionghoa,
Umumnya sekarang aksara chinese sudah dilupakan dalam menulis nama
kita, juga anak2 kita yang telah wni mempunyai nama chinese hanya
sekedar panggilan di rumah, dalam hal formal tentu pakai "chritine,
abraham, paul, etc". <saya pernah di beritahu bahwa menulis nama di
Bongpay pakai aksara chinese, dengan jumlah ganjil dsbnya>
Sekarang dengan mengingat kondisi dan situasi, yang ada di hadapan
kita, apakah tradisi kuburan tionghoa itu bisa kita terapkan dengan
mengadakan modifikasi?? ?
Juga yang menjadi kendala , kalau agamanya alm adalah kristen ,
apakah mungkin kita menggambarkan salib , dsbnya di bongpay, sedangkan
keinginan kita membuat "kuan" dengan meja dllnya.
Sekian dulu , terima kasih
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]
Sdr.Liang dan sdr.Tony,
Sdr.Tony, saya bukan pakar disini, tapi ijinkanlah saya mencoba
menjawab dengan pengetahuan saya yang masih rendah ini.
Sdr.Liang, mengenai bongpai yang menggunakan salib, menurut saya wajar
saja sesuai dengan keyakinan anda.
Meja yang ada di kuburan, saya beranggapan itulah ciri khas budaya
Tionghoa yang salah satunya berkaitan dengan makanan.
Jadi tidak aneh jika kepada yang meninggal juga mereka melakukan
penghormatannya dengan makanan, yang mana sebenarnya sama saja dengan
karangan bunga. Mungkin bedanya adalah, makanan masih bisa dimakan
oleh orang hidup tapi karangan bunga akan menjadi layu.
Tapi benturan budaya yang terkadang dikaitkan dengan "dogma" membuat
tidak mau melirik atau melihat arti makanan dalam budaya Tionghoa.
"Dogma" yang mereka kumandangkan juga sebenarnya tidak lepas dari
budaya tempat "dogma" itu berasal.
Jadi dalam pandangan saya, sah-sah saja jika anda mau menggunakan
meja, menaruh makanan bahkan dengan dupa sekalipun. Asal anda
menyadari makna-maknanya tentunya. Jika ada orang yang tidak tahu
maknanya tapi hanya ikut-ikutan saja, itu sama saja seperti membeo
tapi tidak tahu apa yang diucapkan.
Jika ada orang yang menyindir atau memandang rendah cara-cara itu tapi
tidak tahu maknanya, sama saja seperti menampar orang lain tanpa sebab.
Hormat saya,
Xuan Tong
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, Tony Setiabudhi
Sdr.Suryana,
memang banyak yang tidak tahu jelas masalah ini.
Berkaitan dengan pola masyarakat sekitar Gunung Gadung berubah, hal
itu memang patut disayangkan. Mereka bisa dikatakan tercerabut dari
akarnya yaitu sebagai petani.
Menyalahkan kuburan sebenarnya juga sama saja menyalahkan perumahan
elite Rancamaya. Pola kehidupan masyarakat yang tercerabut dari pola
kehidupannya itu bisa ada dimana saja.
Preman yang meminta-minta tidak selalu di kuburan, coba anda ke
persimpangan, lampu merah dan U turn. Penuh dengan peminta-minta.
Kewajiban negara antara lain menyediakan lahan pekerjaan bagi
rakyatnya dan menghapus mental pengemis.
Dan disisi lain, kita perlu menegaskan kepada mereka yang hobby
mencari lahan luas untuk kuburan, untuk menyadari bahwa fengshui yang
baik untuk kuburan sebenarnya memakan lahan yang subur. Dan fengshui
kuburan TIDAK membuat keturunannya akan jaya abadi selama-lamanya.
Tapi apakah kita juga perlu menegur mereka yang juga membeli rumah
mewah seharga milyaran di Rancamaya ? Sementara rakyat sekitarnya
hidup sengsara dan lahan pertanian mereka dibuat menjadi real estate
mewah ?
Saya berkali-kali menulis pentingnya moral dan pemahaman filsafat
dibalik fengshui, tapi mungkin dianggap tulisan saya adalah tulisan
orang yang iri terhadap mereka yang bisa ilmu fengshui.
Yang jelas kita perlu memperbaiki beberapa pandangan yang salah
terhadap ilmu fengshui ini.
Terkait tulisan anda mengenai "Apakah ada yang tahu aturan menaruh
jenazah yang baik dan benar didalam peti
mati ?, katanya kaki jenasah harus nempel di dinding peti mati, bila
tidak maka keturunannya akan mengalami kehidupan yang terombang ambing."
Sebenarnya ini berkaitan dengan konsep metaphysic Taoism, dimana
dikatakan tubuh kita memiliki jejak atau keterkaitan dengan orang tua
kita maupun keturunan kita. Disatu sisi yang mudah terlihat jejaknya
adalah DNA kita dan orangtua serta keturunan kita, jejak lainnya
adalah keterkaitan qi.
Dengan menaruh jenazah menjadi tidak nyaman, mungkin bisa mempengaruhi
keturunannya. Karena itu ada aturan seperti jarak 1 cun antara jenazah
dan petimati, keluarga dilarang meneteskan airmata ketika mengelilingi
petimati dan sebagainya.
> Yahoo! Groups Links
>
Bagaimana cara menyiasati bongpay ala kriten ?
Jawab :
Dear Bpk tony dan bapak liang
kasus seperti ini bukanlah hal yang baru. Banyak orang Tionghoa
Indonesia beragama kristen. Ini beberapa hal yang pernah saya
pelajari dari bapak Lukito.
Pada dasarnya ada 3 bagian dari bongpay tidak diperkenankan untuk
dibuat dalam tradisi tionghoa tapi tidak boleh ada di agama Kristen
(maaf penulisan saya ektrim, saya tidak bermaksud memecah belah
dalam hal ini, atau hendak provokasi)
1. Tidak boleh adanya kua (tempat sembayang pada almarhum).
2. Tidak boleh adanya persembahan Dewa Bumi.
3. Tidak boleh adanya pembakaran sio kim.
4. Tidak boleh adanya peletakan Patung Tuhan Yesus Kristus (bagi
Katolik, karena orang meninggal beda alam dengan orang suci)
Karena hal ini sangat dilarang dalam ajaran agama Kristen dan
Kristen Katolik (penjelasan saya harap dibawa emosi).
5. Tidak boleh memberi makanan kepada almarhum atau kertas sio kim,
ataupun dupa ( pemakaian dupa masih diperkenankan dalam agama
Kristen Katolik).
Lalu apa saja yang bisa kita lakukan :
Anda masih bisa lakukan beberapa tradisi yang boleh dikatakan ngak
ada didalam ajaran Kristen dan Katolik. (semoga saya benar, jika
salah harap koreksinya, saya hanya memberikan jawaban yang mungkin
masih bisa dilakukan oleh Kristen Tionghoa yang ingin menjalankan
tradisinya):
1. Penentuan Lokasi pemakaman, dari tanggal,jam kematiannya
2. Penentuan Peti mati (dari harganya itu terserah dari
anda ,kebanyakan orang tionghoa membeli peti mati selalu ada angka 8
dan menghindari angka 4 dan 13).
3. Penentuan dari posisi peti mati dari liangnya.
4. Penentuan menaruh peti mati berdasarkan jam penurunan peti(cara
bakar biasanya langsung point 4 dan 5). Atau cara pembakaran peti
mati
5. Penentuan keberangkatan peti mati dari rumah duka.
6. Penentuan pembangunan bongpay, tanggal dan jam dimulai
7. Penentuann Ukuran Bongpay.
8. Penentuan dari pihak keluarga untuk melaksanakan Ching ming, itu
hanya diperkenankan tabur bunga saja dan berdoa.
9. Penentuan perbaikan bongpay pada hari Ching ming.
10. Menentukan menaruh salib, tulisan aksara Indonesia atau
penulisan ayat - ayat suci dari alkitab sebagai ganti penulisan yang
biasanya ditaruh dalam bongpay tradisi tionghoa umumnya boleh
dilakukan.
Semoga artikel saya ini bisa bermanfaat bagi umat Kritiani, yang
masih ingin menjalakan beberapa tradisi tionghoa. Semua artikel saya
ini bergantung kepada pihak keluarga. Jika pihak keluarga tidak
mampu melaksanakanya lebih baik penulisan saya ini tidak digunakan.
Sebaiknya semoga penulisan saya ini dapat digunakan secara bijaksana.
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "perfect_harmony2000"
From: "Purnama Sucipto Gunawan" <east_road@yahoo.com>
> 4. Tidak boleh adanya peletakan Patung Tuhan Yesus Kristus (bagi
> Katolik, karena orang meninggal beda alam dengan orang suci)
> Karena hal ini sangat dilarang dalam ajaran agama Kristen dan
> Kristen Katolik (penjelasan saya harap dibawa emosi).
> 5. Tidak boleh memberi makanan kepada almarhum atau kertas sio kim,
> ataupun dupa ( pemakaian dupa masih diperkenankan dalam agama
> Kristen Katolik).
++++
Setahuku Katholik tidak melarang dan juga tidak menyetujui peletakan patung
Yesus......( sebenarnya juga untuk apa ?.....dicolong orang mah iya )
Jadi terserah umatnya itu sendiri.
Katholik juga tidak melarang untuk memegang dupa, dan juga tidak
menganjurkan.
sur. ( Katholik yang demen pegang dupa/hio dan menyan )
Dengan hormat;
Bahasan semacam ini sangat perlu dungkapkan dengan segala positif dan
negatifnya (Tentunya).
Namun Terima kasih banyak; dan bagi yang lain tentunya perlu
ditanggapi secara NUCHTER tanpa pretensi untuk menyalahkan. Kita cari
jalan yang terbaik bagi diri kita masing2. Bukankah demikian ?
Sekali lagi TQ utk bahasannya'
Salam
Tony S
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "Purnama Sucipto Gunawan"
dear gsuryana;
saya sendiri bukan orang kristiani. Sehingga saya sedikit mengerti
mazab Krisitiani,
jadi dengan pengetahuan saya pernah pelajari dari teman ayah saya dan
suhu (bhikku mahayana) saya sendiri. Dimana teman ayah saya pernah
mendapat kasus penanggan bongpay dimana kliennya adalah kristiani dan
katolik. Itu kebanyakan dari pihak nasrani Katolik tidak menginginkan
hal itu. Sebagai gantinya mereka mengunakan gambar malaikat, itu yang
pernah saya ketehui, karena setahu saya peletakan patung orang suci
tidak diperkenankan oleh tradisi tionghoa karena dianggap orang suci
posisi lebih tinggi dari manusia awam. Hal itu kenapa tidak
diperkenankan juga dalam katolik pun saya rasa ada mengenai hal
tersebut. Saya sendiri buddhis, saya sendiri belum pernah melihat
bongpay dimana ditaruh patung Buddha. Karena prinsipnya sama orang
suci tidak diperkenankan ditaruh dalam bong pay.
point 5 dikhususkan untuk umat kritiani protestan dan pantekosta.
Dalam agama Katolik memang tidak ada larang untuk itu, jika kalau
dengan kondisi almarhum dimakamkan dengan cara tradisi atau agama
lainnya. Jika almarhum sudah dibaptis secara katolik tidaklah
diperkenankan untuk diberi dupa atau makanan. Jika belum fine fine
aja.
--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "gsuryana" <gsuryana@...> wrote:
>
> From: "Purnama Sucipto Gunawan" <east_road@...>
> > 4. Tidak boleh adanya peletakan Patung Tuhan Yesus Kristus (bagi
> > Katolik, karena orang meninggal beda alam dengan orang suci)
> > Karena hal ini sangat dilarang dalam ajaran agama Kristen dan
> > Kristen Katolik (penjelasan saya harap dibawa emosi).
> > 5. Tidak boleh memberi makanan kepada almarhum atau kertas sio kim,
> > ataupun dupa ( pemakaian dupa masih diperkenankan dalam agama
> > Kristen Katolik).
> ++++
> Setahuku Katholik tidak melarang dan juga tidak menyetujui peletakan
patung
> Yesus......( sebenarnya juga untuk apa ?.....dicolong orang mah iya )
> Jadi terserah umatnya itu sendiri.
> Katholik juga tidak melarang untuk memegang dupa, dan juga tidak
> menganjurkan.
>
> sur. ( Katholik yang demen pegang dupa/hio dan menyan )
>