Jakarta, CNBC Indonesia - Kondisi ekonomi kelas menengah di Indonesia mulai tertekan. Hal ini tercermin dari penjualan barang-barang bertahan lama atau durable goods yang anjlok drastis. Kondisi ini menimbulkan ancaman serius di balik melemahnya daya beli masyarakat kelas menengah.
Chatib memang kerap kali dan telah lama menyoroti secara khusus kondisi kelas menengah. Ia berbicara mulai dari potensi risiko tekanan kelas menengah terhadap stabilitas politik hingga sosial, maupun sarannya terhadap pemerintah untuk segera mengurus ekonomi kelas menengah, dengan cara pemberian perlindungan sosial untuk kalangan itu, tak hanya bagi kelas menengah ke bawah ataupun miskin.
Misalnya, dia membahas topik terkait permasalahan kelas menengah yang harus diurus itu saat menjadi pembicara di acada Seminar Nasional Outlook Perekonomian Indonesia yang digelar Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada awal tahun ini.
Saat itu, Chatib Basri mengatakan pemerintah perlu mulai turut fokus memperhatikan kondisi ekonomi dan kepentingan kelas menengah Indonesia. Chatib menyinggung fenomena Chilean Paradox ketika kepentingan kelas menengah terabaikan oleh pemerintah yang terlalu fokus pada kelompok miskin atau kelas menengah ke bawah saja.
Chatib mulanya menceritakan kondisi sebagian masyarakat Indonesia yang mulai menggunakan tabungannya untuk konsumsi. Dia mengatakan kondisi ini dialami oleh masyarakat kelas menengah ke bawah Indonesia.
Komisaris Utama Bank Mandiri itu menceritakan pada September lalu sempat satu forum dengan mantan Presiden Chile Michelle Bachelet di Harvard Ministerial Forum di Harvard University. Michelle saat itu bercerita tentang kemampuan negaranya mampu mereformasi perekonomian secara gemilang dengan mengurus kalangan masyarakat miskin, namun krisis sosial tetap terjadi yang nyaris menyebabkan revolusi di negara itu.
Chatib bilang krisis di Chile yang dijuluki The Chilean Paradox oleh Ekonom asal Amerika Serikat Sebastian Edwards terjadi ketika kondisi ekobomi negara itu sedang bagus-bagusnya. Chile merupakan negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Amerika Latin. Negara kaya minyak itu juga berhasil menurunkan kemiskinan dari 53% menjadi 6%. "Lebih baik dari Indonesia," ujar dia.
Meski dengan semua pencapaian itu, pada Oktober 2019 meletus kerusuhan sosial yang hampir berujung pada revolusi. Kerusuhan tersebut dimotori oleh kelas menengah Chile yang merasa tidak puas dengan pemerintahan. Chatib mengatakan kebijakan-kebijakan pemerintah Chile saat itu memang terlalu fokus kepada 10% masyarakat terbawah. Sementara, kebutuhan kelas menengah terhadap pendidikan yang bagus dan fasilitas umum yang layak kurang mendapatkan perhatian.
Chatib mengatakan pemerintah Indonesia harus belajar dari peristiwa ini. Dia bilang dalam beberapa tahun ke depan kelas menengah akan mendominasi penduduk Indonesia dan bahkan bisa mempengaruhi lingkungan politik hingga sosial. Ia menyebut kelas menengah ini akan menjadi pengeluh profesional atau professiobal complainer yang semakin berpengaruh, seperti di media sosial saat ini.
Kelas perjalanan berasal dari perbedaan antara "kelas kabin" dan "kelas geladak" pada kapal di abad ke-18. Kelas kabin ditujukan untuk penumpang kaya, dengan fasilitas berupa kabin kecil dan restoran, sementara "kelas geladak" hanya menyediakan tempat tidur di dek terbuka, dan penumpang harus memasak makanannya sendiri.
Karena jumlah penumpang kapal terus menurun akibat banyak yang beralih ke pesawat terbang, maka pada dekade 1960-an, operator kapal samudera mulai beralih ke kapal pesiar, dan makin banyak kapal yang hanya menyediakan "satu kelas" untuk menghemat pengeluaran pada restoran dan area hiburan.[4] Walaupun begitu, evolusi kapal pesiar melahirkan berbagai macam layanan premium dan area makan eksklusif.[5] Sejumlah feri yang beroperasi pada rute pendek tetap menawarkan kelas geladak.
Di Amerika Utara, kelas ini disebut sebagai kelas geladak oleh sejumlah perusahaan, seperti Amtrak. Sebagian besar operator kereta api di Eropa menyebut kelas ini sebagai kelas dua, kecuali di Britania Raya dan Irlandia, di mana kelas ini disebut kelas standar (disingkat "STD"). Pada sejumlah kasus, nama tersebut diubah untuk memperluas ekspektasi. Di Kanada, Via Rail menyebut kelas ini sebagai kelas ekonomi. Di India, pada masa pendudukan Inggris, kelas terendah disebut sebagai kelas tiga. Setelah India merdeka, kelas tersebut diubah namanya menjadi kelas dua untuk menghapus konotasi buruk kelas tiga. Saat ini, Indian Railways juga menawarkan Ekonomi AC-3 di kelas yang sama. Di Indonesia, kelas paling murah adalah kelas ekonomi. Pada awalnya, kelas ekonomi tidak menyediakan pendingin udara, namun kini semua kelas ekonomi telah dilengkapi dengan pendingin udara.
Secara umum, kursi kelas ekonomi berupa sebuah kursi yang terkadang dapat direbahkan. Kursi ini juga dapat dilengkapi kantong di bagian belakangnya yang dapat digunakan untuk meletakkan barang berukuran kecil. Tergantung pada konfigurasinya, bagasi dapat diletakkan di rak di atas kursi atau di tiap ujung kereta.
Di Eropa, kelas dua mayoritas berupa kabin berinterior terbuka dengan konfigurasi kursi 2-2, yang terkadang dilengkapi dengan pendingin udara, dan kursinya dapat saling berhadapan atau hanya menghadap ke satu arah, atau (di sejumlah kereta ekspres) berupa kompartemen yang berisi enam hingga delapan kursi. Sejumlah kereta komuter juga menyediakan kelas ekonomi dengan konfigurasi kursi 3-2.
Ketersediaan makanan juga bervariasi. Sejumlah maskapai besar tidak lagi menyediakan makanan untuk kelas ekonomi pada penerbangan pendek.[10] Makanan kini secara umum hanya disediakan untuk penerbangan internasional. Sejumlah operator bandara kini juga mulai menawarkan makanan kemasan yang dapat dibawa ke kabin kepada penumpang kelas ekonomi.[11] Maskapai penerbangan bertarif rendah, seperti EasyJet dan Ryanair, menarik biaya untuk makanan dan minuman di atas pesawat. Selain itu, sejumlah maskapai, terutama di Amerika Serikat dan Kanada, juga menarik biaya bagi penumpang kelas ekonomi yang check-in di bandara, membawa bagasi, serta menyewa bantal, selimut, atau penyuara kuping.
Sejumlah maskapai telah menciptakan kelas ekonomi yang lebih mewah, contohnya jarak kursi yang lebih lebar di kelas Ekonomi Plus yang ditawarkan oleh United Airlines. Bisa dibilang, kelas tersebut mengembalikan sejumlah fasilitas yang dihapus dari kelas ekonomi biasa pada zaman dulu.
Pada akhir tahun 1948, Capital Airlines memulai satu penerbangan antara Chicago dan New York La Guardia dengan mengunakan DC-4 tiap dua hari sekali. Penerbangan ini berangkat pada jam satu siang dan berhenti selama sepuluh menit di Pittsburgh (Allegheny County). Tarif Chicago-NY adalah sebesar $29,60 ditambah pajak federal sebesar 15%. Padahal tarif penerbangan lain pada saat itu mencapai $44,10 ditambah pajak. Penerbangan dengan kelas geladak pun mulai populer (semua penerbangan domestik hanya menawarkan satu kelas, yakni kelas geladak atau standar, hingga TWA mulai menyediakan dua kelas sekaligus di satu penerbangan pada tahun 1955). Pada tahun 1961, jumlah penumpang-mil yang terbang dengan kelas geladak melampaui kelas satu untuk pertama kalinya.
Halo, Quipperian! Buat kamu yang di kelas 10, kali ini Quipper Blog mau membahas materi yang sangat menarik, nih, yaitu manajemen! Yup, kamu yang sedang senang-senangnya belajar Ekonomi dan bahkan berminat mendalami ilmu ini di perkuliahan nanti, wajib banget untuk baca artikel ini, nih.
KOMPAS.com - Kereta api (KA) jarak jauh reguler memiliki beberapa kelas, yaitu Eksekutif, Bisnis, dan Ekonomi. Dari kelas tersebut, terdapat subkelas tertentu seperti C dan CA untuk KA Ekonomi.
Hasil belajar peserta didik sering dijadikan sebagai tolak ukur sejauh mana peserta didik dapat berkembang, memiliki fasilitas belajar di rumah tanpa adanya motivasi tidak dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik dengan maksimal, dengan kata lain jika memiliki fasilitas belajar di rumah yang memadai namun tidak pernah digunakan atau memiliki motivasi tinggi namun tidak memiliki alat pendukung untuk dapat mewujudkan tujuan pendidikan. Tujuan pada penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh motivasi dan fasilitas belajar di rumah terhadap hasil belajar ekonomi kelas X IIS SMA Hang Tuah 1 Surabaya baik secara parsial maupun simultan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksplanatory. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kelas X IIS SMA Hang Tuah 1 Surabaya, sedangkan sampel penelitian sebanyak 123 peserta didik. Teknik analisis data menggunakan analisis jalur (path analysis) dengan hasil penelitian yang menunjukkan terdapat pengaruh signifikan positif antara variabel motivasi terhadap hasil belajar ekonomi kelas X IIS SMA Hang Tuah 1 Surabaya, terdapat pengaruh signifikan negatif antara variabel fasilitas belajar di rumah terhadap hasil belajar ekonomi kelas X IIS SMA Hang Tuah 1 Surabaya, terdapat pengaruh signifikan positif antara variabel motivasi dan fasilitas belajar di rumah terhadap hasil belajar ekonomi kelas X IIS SMA Hang Tuah 1 Surabaya.
Amat sukar untuk meramalkan apa yang berlaku apabila kapal terbang terhempas atau mana-mana 'kerusi yang selamat' tetapi dalam kejadian malang, kelas pertama tidak bermakna ia lebih selamat. -ExpressUK
08ab062aa8