FILE RAHASIA

7 views
Skip to first unread message

corina corina

unread,
Jan 31, 2011, 3:17:17 AM1/31/11
to Dekanat Utara, Soemitro(DB), tony, Siantina(Hosanna)

FILE RAHASIA

By Maq  |    |  28 January 2011

 

Seorang aktor kemana-mana membawa kotak kecil di ban pinggangnya; semua orang jadi tahu betapa penting dan berharganya barang itu. Bahkan mandi pun dia tidak akan meletakkannya di luar jangkauan tangannya. Ketika ia harus bermain film atau konser di panggung, ia sangat berhati-hati dan menitipkannya pada orang yang sangat ia percayai; dan setelah turun dari panggung ia langsung mengambil kotak hitam itu. Barang itu ada di hatinya; tidak pernah ia membiarkan dirinya lepas daripadanya.

 

Suatu kali ada seorang yang merasa sakit hati dengan perkataan atau ulah sang aktor, dan karena ia tahu kelemahannya, maka dicurinyalah barang itu dan waktu didownload dan dilihat isinya, tahulah ia mengapa selama ini orang itu tidak pernah lepas dari kotak rahasia tersebut. Maka dimulailah ancaman demi ancaman, pemerasan demi pemerasan – jika tidak memberikan sekian jumlah uang, maka ia akan membeberkan isi kotak itu. Berhari-hari sampai berbulan bulan lamanya sang aktor dibuat tersiksa dengan pemerasan dan ancaman itu; akhirnya karena sudah kewalahan dan tidak dapat lagi memenuhi permintaan musuhnya, suatu hari ia berkata, “lakuin aja….” Dan benar, ia mengcopy pembuatan film-film seks yang ia lakoni bersama wanita-wanita, lalu dimulailah kisah kejatuhannya dan karir kesuksesannya serta kepercayaan masyarakat.

 

Kita juga membaca kisah-kisah penggelapan uang terselubung yang dilakukan secara mulus, ternyata tertangkap juga. Seorang teman bercerita kepada saya mengenai nama seseorang di gelanggang politik yang sangat terkenal, setiap kali bertemu dengannya selalu naik vespa butut. Tidak dinyana suatu hari pers menguak korupsiannya, dan teman saya terbelalak waktu melihat gambar dan namanya, yaitu orang yang beberapa waktu ditemuinya untuk deal bisnis, yang suka naik vespa butut, ternyata seorang koruptor tulen yang memperlengkapi isterinya dengan mobil-mobil mewah, dengan rumah berpagar gerbang keliling, baik di dalam maupun luar negeri; yang anak-anaknya masing-masing mengendarai mobil mewah.

 

Kita juga jumpai para televangelist baik di Amerika maupun Eropa yang setelah dikuak hartanya, ternyata mereka hidup secara jetset dengan kapal pribadi, pesawat terbang pribadi, rumah di beberapa states, selalu belanja di Beverly Hills tempat shoppingannya para celeb Hollywood; memakai hotel berbintang 7 dengan tarif satu malamnya di atas 100 juta, dll.

 

Saya menyeringai waktu mendengar dan membaca ini semua – Tuhan, jagai hati kami dari ketamakan, jagai hidup kami dari keduniawian, dari nafsu muda, dari keinginan mata, dari tipu daya kekayaan.

 

Dalam perjalanannya menuju jenjang kesuksesan, tidak banyak orang mawas diri; mereka menimbun, mereka menjelinapkan, mereka bermain-main dengan kuasa. Mereka tidak menyadari ada lawan yang mengintip, ada sesuatu yang menggerogoti, yang jika tidak ditepis akan mengeroposkan nilai kekuasaan dan kepercayaan khalayak. Mereka yang seharusnya melayani masyarakat akhirnya jatuh dalam jerat melayani diri sendiri.

 

Mereka menyimpan file-file keropos, korupsi, kebohongan, hawa nafsu dalam perjalanan pelayanan mereka, tidak peduli pelayanan rohani atau sekuler, kita semua bekerja untuk melayani orang lain. Tetapi jika kita tidak mawas diri, dalam perjalanan ada banyak side tracks yang dapat menggeserkan ketulusan hati untuk berbelok dan menambah file simpanan yang akhirnya tidak seorang pun boleh menjamahnya. Kita akan berusaha melindungi file-file rahasia kita, karena itu arena gelap dimana kita mendapatkan sedikit permainan menyenangkan yang tidak perlu diketahui orang. Sisi gelap yang tidak terasa menumpuk jika tidak dibuang di trash bin kotak sampah dan dihapus selamanya, akhirnya dapat menjerat kita.

 

Memikirkan hal-hal tersebut, saya jadi melongok file-file saya di computer – jika ada orang membuka dan mengacaknya, apakah saya siap dan tidak takut? Jika ada orang IRS mengobrak-abrik pemasukan uang dalam pelayanan dan meneliti jumlah keluar-masuknya dan kemana dialirkannya, apakah saya siap? Jika mereka tiba-tiba mendobrak pintu rumah saya dan mengaduk lemari-lemari saya, apakah saya tidak cemas? Jika mereka menemui para staff saya dan cross check satu persatu, apakah saya aman? Jika ada agen CIA membuntuti saya untuk menguntit keluar-masuk saya, apakah saya didapati bersih dan tidak melakukan tindakan-tindakan yang menjatuhkan nama saya? Jika satelit yang sudah bisa nge-zoom sampai 2 meter di atap rumah saya dan membidik gerak-gerik saya selama 24 jam selama 1 bulan, apakah saya didapati tidak melakukan apapun yang mendiskualifikasikan saya dari panggilan saya jika tiba-tiba mereka menguaknya dalam International Enquirer dan You Tube dengan judul besar “File-file Rahasia Maqdalene Kawotjo”?

 

Bagaimana dengan Saudara? Bagaimanakah file hidupmu? Apa isi sms-sms rahasia Anda? Apa saja history web yang Saudara kunjungi? Apa saja yang dipercakapkan Anda dengan orang yang bukan menjadi pasangan Anda? Who are you when no one sees you? Siapakah Anda saat tidak seorang pun memperhatikanmu?

 

Ini belum sampai scanning otak dan pikiran kita di hadapan Tuhan yang dapat dibeberkan di hadapan malaikat dan orang-orang kudus. Ingat, ada saksi-saksi awan yang cheering buat kita semua, walaupun mereka tidak seluruhnya diberi kuasa untuk bisa melihat seluruh kedalaman isi hati dan pikiran kita, tetapi ya, kita harus tetap waspada terhadap file-file hidup kita, seumpama mereka bisa mengobrak-abriknya kapan saja dan kita didapati tidak punya rahasia yang harus ditelanjangi.

 

Akses Data Bank Sudah Terbuka Bagi Aparat Pajak

Saturday, 29 August 2009

 

JAKARTA. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution ternyata sudah membuka akses data nasabah bank untuk aparat pajak.

 

Kepada KONTAN Darmin mengatakan,"saya sudah membalas surat Menteri Keuangan yang meminta akses dan saya membolehkannya."

 

Pembukaan akses tak memerlukan kondisi atau status tertentu. Asalkan aparat pajak perlu data, ia bisa mengajukan permohonan melalui Menteri Keuangan. "Jadi tak harus ada status penyidikan atau semacamnya,"kata Darmin.

 

Tentu, Menteri Keuangan harus setuju dan meneruskan permohonan itu ke BI. Mekanisme ini perlu agar ada yang mengendalikan. "Akses itu juga langsung kami tujukan kepada petugas yang meminta, data tak kemana-mana,"kata Darmin di sela-sela buka puasa kemarin (28/8).

 

Tarik ulur mengenai akses data perbankan untuk pajak sebetulnya sudah lama. Yang menarik, persoalan ini justru bermula dari Darmin sendiri ketika masih menjabat sebagai Direktur Jenderal Pajak.

 

Ia selalu menekankan pentingnya data perbankan bagi pajak untuk memudahkan penyelidikan. Surat Menteri Keuangan kepada Gubernur BI yang berisi permohonan itu sebetulnya juga berawal dari permintaan Darmin. Dus, Darmin sebetulnya mengabulkan permohonannya sendiri.

 

Tapi, Darmin tak menjelaskan kapan persisnya ia mulai membuka akses. Yang jelas, "Ada beberapa permintaan yang sudah saya penuhi,"katanya tanpa merinci data itu milik siapa dan berasal dari bank mana.

 

Pemberian data, menurut Darmin, tidak langsung berasal dari BI. Teknis pelaksanaannya, BI tinggal meminta bank yang bersangkutan untuk memberikan data.

 

Dan Darmin yakin tidak akan ada gejolak di industri perbankan karena kebijakan ini. "Tak akan ada pelarian dana ke luar negeri atau capital flight,"katanya.

 

Kemungkinan capital flight adalah salah satu alasan mengapa dari dulu aparat pajak tak pernah mendapatkan akses data perbankan. BI, sebelum Darmin masuk, juga mendukung industri perbankan menolak permintaan itu.

 

Apalagi, saat ini lalu lintas devisa masih longgar karena Indonesia menganut rezim devisa bebas. Jadi, para bankir cemas upaya menghindari kejaran pajak justru bisa menggoyahkan perbankan.

 

Ketua Ikatan Bankir Indonesia (IBI) Agus Martowardojo mengaku belum mendengar informasi soal ini. "Saya belum bisa berkomentar,"katanya. Selama ini, yang dia ketahui, setiap ada permintaan informasi mengenai nasabah dari pajak harus seizin BI.

 

Sedangkan Direktur Konsumer dan Ritel PT Bank Mega Tbk. Kostaman Thayib bilang, izin dari BI harus sesuai prosedur yang jelas. "Tidak semua data wajib bisa diobrak-abrik pajak,"kata Kostaman.

 

Menurutnya, pemeriksa pajak hanya boleh masuk jika ada kasus. Jika pajak masuk ke semua data, yang terjadi adalah ketidaknyamanan nasabah. "Dan nasabah akan lari ke luar negeri,"ujar Kostaman. Ia berharap, kebijakan ini juga tetap melindungi hak-hak konsumen.

 

Sumber : Harian Kontan

Tanggal: 29 Agustus 2009

 

 

Pajak Sudah Manfaatkan Akses Data ke Bank

Monday, 31 August 2009

 

JAKARTA. Ruang gerak para pengemplang pajak untuk berkelit dari kewajibannya semakin sempit. Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak diam-diam ternyata sudah memanfaatkan akses untuk mendapatkan data perbankan milik wajib pajak.

 

Kemudahan akses ini tak lepas dari kebijakan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution. "Saya sudah membalas surat Menteri Keuangan yang meminta akses dan saya membolehkannya," katanya.

 

Direktur Jenderal Pajak Mochamad Tjiptardjo mengatakan, "Respons positif BI terhadap permohonan yang kami ajukan lebih besar," katanya, Minggu (30/8). Itu sebabnya, Ditjen Pajak akan semakin sering meminta data bank milik wajib pajak yang mereka curigai.

 

Bulan ini saja, Tjiptardjo mengaku, lembaganya sudah mengajukan sejumlah permohonan ke BI. Dia tak menyebut identitas nasabah itu dan dari bank mana saja datanya berasal. Lebih jauh lagi Tjiptardjo bahkan ingin meminta bantuan yang lebih besar lagi dari BI. Bantuan itu berupa pembekuan rekening wajib pajak di bank.

 

Sejatinya, aparat pajak sudah punya payung hukum untuk meminta data nasabah bank. Yakni, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 201/PMK.03/2007 tentang Tata Cara Permintaan Keterangan atau Bukti dari Pihak-pihak yang Terikat oleh Kewajiban Merahasiakan. Tapi, sebelum Darmin masuk ke BI, aparat pajak tidak pernah bisa mendapatkan izin dari BI.

 

Selama ini, permohonan akses data bank milik wajib pajak hanya untuk yang berkaitan terkait dengan pemeriksaan. Tapi, Darmin menegaskan, pembukaan akses data tak memerlukan kondisi atau status tertentu.

 

Sumber : Surat Kabar Harian Kontan

Tanggal: 31 Agustus 2009

 

 

Sebuah Ruangan

 

Cerita di bawah ini tentang Brian Moore yang berusia 17 tahun, ditulis olehnya sebagai tugas sekolah. Pokok bahasannya tentang sorga itu seperti apa. "Aku membuat mereka terperangah," kata Brian kepada ayahnya, Bruce. "Cerita itu bikin heboh. Tulisan itu seperti sebuah bom saja. Itulah yang terbaik yang pernah aku tulis." Dan itu juga merupakan tulisannya yang terakhir.

 

Orangtua Brian telah melupakan esai yang ditulis Brian ini sampai seorang saudara sepupu menemukannya ketika ia membersihkan kotak loker milik remaja itu di SMA Teays Valley, Pickaway County, Ohio.

 

Brian baru saja meninggal beberapa jam yang lalu, namun orangtuanya mati-matian mencari setiap barang peninggalan Brian: surat-surat dari teman-teman sekolah dan gurunya, dan PR-nya. Hanya dua bulan sebelumnya, ia telah menulis sebuah esai tentang pertemuannya dengan Tuhan Yesus di suatu ruang arsip yang penuh kartu-kartu yang isinya memerinci setiap saat dalam kehidupan remaja itu. Tetapi baru setelah kematian Brian, Bruce dan Beth, mengetahui bahwa anaknya telah menerangkan pandangannya tentang sorga.

 

Tulisan itu menimbulkan suatu dampak besar sehingga orang-orang ingin membagikannya. "Anda merasa seperti ada di sana," kata pak Bruce Moore. Brian meninggal pada tanggal 27 Mei, 1997, satu hari setelah Hari Pahlawan Amerika Serikat. Ia sedang mengendarai mobilnya pulang ke rumah dari rumah seorang teman ketika mobil itu keluar jalur Jalan Bulen Pierce di Pickaway County dan menabrak suatu tiang. Ia keluar dari mobilnya yang ringsek tanpa cedera namun ia menginjak kabel listrik bawah tanah dan kesetrum.

 

Keluarga Moore membingkai satu salinan esai yang ditulis Brian dan menggantungkannya pada dinding di ruang keluarga mereka. "Aku pikir Tuhan telah memakai Brian untuk menjelaskan suatu hal. Aku kira kita harus menemukan makna dari tulisan itu dan memetik manfaat darinya," kata Nyonya Beth Moore tentang esai itu.

 

Nyonya Moore dan suaminya ingin membagikan penglihatan anak mereka tentang kehidupan setelah kematian. "Aku bahagia karena Brian. Aku tahu dia telah ada di sorga. Aku tahu aku akan bertemu lagi dengannya."

 

Inilah esai Brian yang berjudul "RUANGAN".

 

Di antara sadar dan mimpi, aku menemukan diriku di sebuah ruangan. Tidak ada ciri yang mencolok di dalam ruangan ini kecuali dindingnya penuh dengan kartu-kartu arsip yang kecil. Kartu-kartu arsip itu seperti yang ada di perpustakaan yang isinya memuat judul buku menurut pengarangnya atau topik buku menurut abjad.

 

Tetapi arsip-arsip ini, yang membentang dari dasar lantai ke atas sampai ke langit-langit dan nampaknya tidak ada habis-habisnya di sekeliling dinding itu, memiliki judul yang berbeda-beda.

 

Pada saat aku mendekati dinding arsip ini, arsip yang pertama kali menarik perhatianku berjudul "Cewek-cewek yang Aku Suka". Aku mulai membuka arsip itu dan membuka kartu-kartu itu. Aku cepat-cepat menutupnya, karena terkejut melihat semua nama-nama yang tertulis di dalam arsip itu. Dan tanpa diberitahu siapapun, aku segera menyadari dengan pasti aku ada dimana.

 

Ruangan tanpa kehidupan ini dengan kartu-kartu arsip yang kecil-kecil merupakan sistem katalog bagi garis besar kehidupanku. Di sini tertulis tindakan-tindakan setiap saat dalam kehidupanku, besar atau kecil, dengan rincian yang tidak dapat dibandingkan dengan daya ingatku. Dengan perasaan kagum dan ingin tahu, digabungkan dengan rasa ngeri, berkecamuk di dalam diriku ketika aku mulai membuka kartu-kartu arsip itu secara acak, menyelidiki isi arsip ini. Beberapa arsip membawa sukacita dan kenangan yang manis; yang lainnya membuat aku malu dan menyesal sedemikian hebat sehingga aku melirik lewat bahu aku apakah ada orang lain yang melihat arsip ini.

 

Arsip berjudul "Teman-Teman" ada di sebelah arsip yang bertanda "Teman-teman yang Aku Khianati". Judul arsip-arsip itu berkisar dari hal-hal biasa yang membosankan sampai hal-hal yang aneh. "Buku-buku Yang Aku Telah Baca". "Dusta-dusta yang Aku Katakan". "Penghiburan yang Aku Berikan". "Lelucon yang Aku Tertawakan". Beberapa judul ada yang sangat tepat menjelaskan kekonyolannya: "Makian Buat Saudara-saudaraku".

 

Arsip lain memuat judul yang sama sekali tak membuat aku tertawa: "Hal-hal yang Aku Perbuat dalam Kemarahanku.", "Gerutuanku terhadap Orangtuaku". Aku tak pernah berhenti dikejutkan oleh isi arsip-arsip ini. Seringkali di sana ada lebih banyak lagi kartu arsip tentang suatu hal daripada yang aku bayangkan. Kadang-kadang ada yang lebih sedikit dari yang aku harapkan. Aku terpana melihat seluruh isi kehidupanku yang telah aku jalani seperti yang direkam di dalam arsip ini.

 

Mungkinkah aku memiliki waktu untuk mengisi masing-masing arsip ini yang berjumlah ribuan bahkan jutaan kartu? Namun setiap kartu arsip itu menegaskan kenyataan itu. Setiap kartu itu tertulis dengan tulisan tanganku sendiri. Setiap kartu itu ditanda-tangani dengan tanda tanganku sendiri.

 

Ketika aku menarik kartu arsip bertanda "Pertunjukan-pertunjukan TV yang Aku Tonton", aku menyadari bahwa arsip ini semakin bertambah memuat isinya. Kartu-kartu arsip tentang acara TV yang kutonton itu disusun dengan padat, dan setelah dua atau tiga yard, aku tak dapat menemukan ujung arsip itu. Aku menutupnya, merasa malu, bukan karena kualitas tontonan TV itu, tetapi karena betapa banyaknya waktu yang telah aku habiskan di depan TV seperti yang ditunjukkan di dalam arsip ini.

 

Ketika aku sampai pada arsip yang bertanda "Pikiran-Pikiran yang Ngeres", aku merasa merinding di sekujur tubuhku. Aku menarik arsip ini hanya satu inci, tak mau melihat seberapa banyak isinya, dan menarik sebuah kartu arsip. Aku terperangah melihat isinya yang lengkap dan persis. Aku merasa mual mengetahui bahwa ada saat di hidupku yang pernah memikirkan hal-hal kotor seperti yang dicatat di kartu itu. Aku merasa marah.

 

Satu pikiran menguasai otakku: Tak ada seorangpun yang boleh melihat isi kartu-kartu arsip ini! Tak  ada seorangpun yang boleh memasuki ruangan ini! Aku harus menghancurkan arsip-arsip ini! Dengan mengamuk bagai orang gila aku mengacak-acak dan melemparkan kartu-kartu arsip ini. Tak peduli berapa banyaknya kartu arsip ini, aku harus mengosongkannya dan membakarnya.

 

Namun pada saat aku mengambil dan menaruhnya di suatu sisi dan menumpuknya di lantai, aku tak dapat menghancurkan satu kartupun. Aku mulai menjadi putus asa dan menarik sebuah kartu arsip, hanya mendapati bahwa kartu itu sekuat baja ketika aku mencoba merobeknya. Merasa kalah dan tak berdaya, aku mengembalikan kartu arsip itu ke tempatnya. Sambil menyandarkan kepalaku di dinding, aku mengeluarkan keluhan panjang yang mengasihani diri sendiri.

 

Dan kemudian aku melihatnya. Kartu itu berjudul "Orang-orang yang Pernah Aku Bagikan Injil". Kotak arsip ini lebih bercahaya dibandingkan kotak arsip di sekitarnya, lebih baru, dan hampir kosong isinya. Aku tarik kotak arsip ini dan sangat pendek, tidak lebih dari tiga inci panjangnya. Aku dapat menghitung jumlah kartu-kartu itu dengan jari di satu tangan. Dan kemudian mengalirlah air mataku. Aku mulai menangis. Sesenggukan begitu dalam sehingga sampai terasa sakit. Rasa sakit itu menjalar dari dalam perutku dan mengguncang seluruh tubuhku. Aku jatuh tersungkur, berlutut, dan menangis. Aku menangis karena malu, dikuasai perasaan yang memalukan karena perbuatanku. Jajaran kotak arsip ini membayang di antara airmataku. Tak ada seorangpun yang boleh melihat ruangan ini, tak seorangpun boleh.

 

Aku harus mengunci ruangan ini dan menyembunyikan kuncinya. Namun ketika aku menghapus air mata ini, aku melihat Dia.

 

Oh, jangan! Jangan Dia! Jangan di sini. Oh, yang lain boleh asalkan jangan Yesus! Aku memandang tanpa daya ketika Ia mulai membuka arsip-arsip itu dan membaca kartu-kartunya. Aku tak tahan melihat bagaimana reaksi-Nya. Dan pada saat aku memberanikan diri memandang wajah-Nya, aku melihat dukacita yang lebih dalam dari pada dukacitaku. Ia nampaknya dengan intuisi yang kuat mendapati kotak-kotak arsip yang paling buruk.

 

Mengapa Ia harus membaca setiap arsip ini? Akhirnya Ia berbalik dan memandangku dari seberang di ruangan itu. Ia memandangku dengan rasa iba di mata-Nya. Namun itu rasa iba, bukan rasa marah terhadapku. Aku menundukkan kepalaku, menutupi wajahku dengan tanganku, dan mulai menangis lagi. Ia berjalan mendekat dan merangkulku. Ia seharusnya dapat mengatakan banyak hal. Namun Ia tidak berkata sepatah katapun. Ia hanya menangis bersamaku.

 

Kemudian Ia berdiri dan berjalan kembali ke arah dinding arsip-arsip. Mulai dari ujung yang satu di ruangan itu, Ia mengambil satu arsip dan, satu demi satu, mulai menandatangani nama-Nya di atas tanda tanganku pada masing-masing kartu arsip. "Jangan!" seruku bergegas ke arah-Nya. Apa yang dapat aku katakan hanyalah "Jangan, jangan!" ketika aku merebut kartu itu dari tangan-Nya. Nama-Nya jangan sampai ada di kartu-kartu arsip itu. Namun demikian tanpa dapat kucegah, tertulis di semua kartu itu nama-Nya dengan tinta merah, begitu jelas, dan begitu hidup. Nama Yesus menutupi namaku. Kartu itu ditulisi dengan darah Yesus! Ia dengan lembut mengambil kembali kartu-kartu arsip yang aku rebut tadi. Ia tersenyum dengan sedih dan mulai menandatangani kartu-kartu itu. Aku kira aku tidak akan pernah mengerti bagaimana Ia melakukannya dengan demikian cepat, namun kemudian segera menyelesaikan kartu terakhir dan berjalan mendekatiku. Ia menaruh tangan-Nya di pundakku dan berkata, "Sudah selesai!"

 

Aku bangkit berdiri, dan Ia menuntunku ke luar ruangan itu. Tidak ada kunci di pintu ruangan itu. Masih ada kartu-kartu yang akan ditulis dalam sisa kehidupanku.

 

"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16)

 

Jika anda ingin meneruskan pesan ini kepada sebanyak mungkin orang-orang sehingga kasih Tuhan Yesus akan menjamah hidup mereka, forwardlah email ini! Arsip "Orang-Orang yang Aku Bagikan Injil" milikku akan makin bertambah besar, bagaimana dengan milik anda?


Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages