Beberapa waktu lalu, saya pernah mendengar “jokes” tertentu yang membuat nyengir ketika saya mengingatnya, ceritanya tentang seorang tukang roti . Suatu pagi , “esuk-esuk mruput” seorang tukang roti naik sepeda onthel, dengan penuh semangat berkeliling perumahan menjajakan dagangannya sambil berteriak “ roti..roti!!”. Naas tak dapat ditolak, disaat sedang mengayuh sepedanya, di pertigaan dia tertabrak mobil. Alhasil barang daganganya “ambyarrr” berantakan, sedang si tukang rotinya tak sadarkan diri.. .. Banyak warga menolong, salah sataunya pak haji. Ketika warga lain membantu merapikan dagangan, pak haji menolong si tukang roti sambil memijit-mijit kepalanya dan berbisik “ sadar bang.., nyebut bang..! Nyebut..!”. Sesaat kemudian mata penjual roti mulai “melek”. Mulutnya mulai bergerak-gerak.. dan ketika sadar langsung teriak “Rotiiiii…… Rotiiii……!”
Sekali lagi, cerita tersebut hanya jokes yang menggambarkan bahwa dalam kondisi tertentu “di alam bawah sadar” kadang orang selalu ingat kebiasaan atau kegiatan berulang-ulang yang biasa dilakukannya.
Sedang cerita ini terjadi di alam nyata, tepatnya dikota lumpur lapindo, Sidorajo. Salah Satu AR saya setiap pagi “mruput” berangkat kerja dengan kendaraan umum. Berangkat dari rumahnya di Mojokerto sekitar jam 5.30 menuju ke Juanda Sidoarjo yang berjarak sekitar 60 km. Hal itu sudah dilakukan dalam waktu hampir 3 tahun (sama dengan bang Toyib ya - 3 kali puasa 3 kali lebaran)… Hanya bedanya AR saya ini selalu pulang, tidak seperti bang Toyib yang tak pulang-pulang.
Pagi itu, sekitar jam 7.20 tiba-tiba handphone saya berdering, saat lagi sibuk-sibuknya persiapan Rakortas, terdengar suara lirih “ Pak, maaf saya terkena musibah, ojek yang saya tumpangi jatuh, tuuut…..” hilang suara… coba saya telpon lagi ke AR saya dan dijawab “Pak.. sudah ada yang nolong saya dari PT anu..” hp mati lagi. Berhubung mau rakorda maka beberapa AR saya minta datang ke lokasi yang jaraknya sekitar 400m sebelum kantor. Berdasarkan info dari teman AR, ternyata staffku ini sudah dibawa ke RS Mitra oleh Pak Polisi dan seorang ibu.
Bagaikan sinetron, kok ya pas - jatuhnya didepan perusahaan yang jadi binaan AR tersebut, sehingga dikenali oleh ibu Liem yang sering lapor pajak. Dan yang lebih mengejutkan lagi cerita pak Polisi bahwa ketika melihat AR tersebut muka ,tangan, dan lututnya penuh darah, niat pak polisi mengantar ke RS malah dijawab “ Pak Polisi tolong antar saya absen ke kantor dulu ya” lha polisi yang tadinya iba jadi agak tersenyum “Bu, sms temen aja minta diabsenin…..”. Yang menjadi masalah pak polisi ini pasti belum tahu kalo kita pake fingerprint.
Mendengar cerita tersebut saya terhenyak dan berkata dalam hati “Duh gusti mugi-mugi mesin absen punya radar dan bisa mengerti niat baik kawan ini” Yah kalo dipikir - niat mencapai tujuan sudah 99% perjalanan ( 3 menit atau 400m lagi sampai kantor) tapi nasib sial datang, padahal ada salah satu hadis “innamal akmalu binniyah” segala sesuau amal sudah dicatat dari niatnya…
Cerita tentang fingerprint berlanjut minggu berikutnya ketika saya melihat Breaking News salah satu TV “Jakarta digoyang gempa lagi dari ujung kulon” Tepatnya pukul 16.57 , saya buru-buru telepon teman Jakarta dan dijawab “benar mas barusan saya di lantai 6 terasa sekali guncanganya, saya langsung lari menyelamatkan diri kaki saya gemeteran, tetapi beberapa teman sambil ketakutan masih antri absen karena waktu kurang 3 menit lagi…..” duuh gusti lagi.. (terbayang gempa padang..#$*)
Saya hanya memandang fingerprint didepan saya sambil berkata dalam hati “Sayang kamu cuman benda mati yang tidak bisa maju waktumu meski ada gempa, ngerti dong..! tetapi aku heran kenapa kamu selalu “dirindukan” orang ya?”
Tetapi yang saya garis bawahi di sini bahwa ketika orang mempunyai tujuan yang sudah bulat maka sifat “militansi” akan muncul tidak peduli luka dan maut menghadang. Saya selalu berandai semoga semangat tersebut tidak hanya sampai mengejar absen namun terus berlanjut sampai semangat ke setiap pekerjaan yang ditugaskan dan mengejar target yang dibebankan.
Apalagi ketika kami diajak ikut Rapim Oktober dan mendapat “diklat kilat” semangat militansi dari Menkeu dan Dirjen. Suasana kali ini sangat berbeda karena memang penerimaan kita sangat belum aman. Dan aura tersebut masih mengalir di Rakorsus lokal kemarin siang, karena semua diminta pertanggungjawabananya dari kepala kantor, kasi, supervisor sampai masing-masing AR dan fungsional. Bahkan salah satu supervisor sampai berkata “jika target dicanangkan kepada tim kami, ibaratnya pemain bola, kami siap berjuang sampai mati dilapangan” disambut gerr seluruh peserta mencairkan suasana.
Semoga semangat itu tidak pernah redup. Semoga!
-Catatan dari Waskon Satu Madya Sidoarjo-
Taufiq Budiarto
TAUFIQ BUDIARTO | 27 October 2009