You do not have permission to delete messages in this group
Copy link
Report message
Show original message
Either email addresses are anonymous for this group or you need the view member email addresses permission to view the original message
to bonje...@googlegroups.com
From: ANDRI ASMAWAN Sent: Tuesday, June 22, 2010 3:57 PM To: MUNAWAR ARIFIN; NUGROHO PUTU WARSITO; NERPATI PRIYONGGO; NANANG SATRIO PRIAMBODO; TRI AGUS PRASETYO; ISTAJAM QOMARUDIN; RIFAN FIRDAUS; RIKI SUMARSYAH; RENI MARDIYANI; SONY SETIAWAN; TEDY SUPRIYADI; SUGIRI TEJANAGARA; UTSMAN; WAHYU ZAHRIAS; WASIMIN;
WINARDI; WINARDI; YUSUF WINARDI; WAHYU AGUNG SUDEWO; YOGASWARA KARMANA Subject: Ariel Peterpan Vs Sakti Eks Sheila On 7
Ariel Peterpan Vs Sakti Eks Sheila On 7
Lelaki itu tampak menikmati hidangan di depannya. Berpeci coklat, berjangut lebat, bergamis, dengan celana cingkrang, ia duduk di sisi paling sudut di sebuah Rumah Makan Aceh Harga Mahasiswa di pinggiran kota Jogja. Sendirian, tanpa ditemanin siapapun. Sementara
meja-meja lain diisi oleh beberapa remaja yang asyik bercengkrama dan melahap pesanan, sambil sesekali memperhatikan tingkah lelaki muda dengan pakaian aneh itu.
Iapun tampak tak peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Setelah menghabiskan hidangan, ia tampak asyik memencet-mencet hp hitam sederhana. Mungkin sedang mengirimkan sms kepada seseorang. Televisi yang sedikit ribut dengan raungan “Vuvuzela” pertandingan
seru antara Nigeria melawan Yunani, tak sedikitpun dihiraukannya.
Aku persis duduk di depan lelaki itu. Melahap nasi ikan Aceh, sambil sesekali memperhatikan gerak-geriknya. Aku tahu persis siapa dia. Karena seringkali ia sholat di Masjid Asramaku. Pernah juga kami makan bareng, sewaktu jama’ah dakwah dari Sumatera Barat,
singgah di asramaku. Namun, aku heran dengan orang-orang di sekelilingnya, yang tampak tak acuh.
Di sela-sela menghabiskan makanan, aku teringat dengan postingan seorang teman yang saat ini sedang mengambil program research students di Jepang. Ingat dengan postingan di blog, yang kubaca siang hari kemarin. Berkisah tentang Ariel Peterpan yang terjebak
dalam skandal video porno dengan beberapa wanita. Tak hanya anak-anak muda dan masyarakat biasa saja yang heboh. Politisi, Menteri, Wakil Presiden, bahkan juga bintang porno Jepang yang teramat terkenal di Indonesia, Miyabi, ikut nimbrung dalam masalah ini.
Konon Miyabi sempat binggung 2 hari karena resah belum mendapatkan dowload-an video-nya Ariel. CNN-pun berencana melakukan wawancara eksklusif dengan Luna Maya, pasangan main Ariel dalam video porno yang sudah didownload ratusan ribu orang itu.
Sampai saat ini, tidak ada penyangkalan yang pasti dari Ariel, Luna Maya, maupun dari Cut Tari, bahwa video itu rekayasa belaka. Mereka berusaha memposisikan diri sebagai korban dari tangan-tangan usil. Tifatul Sembiring-pun meminta mereka untuk “jujur”, karena
itulah yang dibutuhkan masyarakat, setelah ahli-ahli telekomunikasi berpandangan video itu asli dan 90% memang mirip dengan artis mereka.
Kalau sejenak kita perhatikan, Ariel sudah mengali lubang sejak Peterpan merebut hati penikmat musik Indonesia di awal tahun 2000-an. Saat itulah, fenomena fans-fans wanita yang rela tidur dengan artis marak diperdebatkan. Ariel-pun disebut-sebut berpacaran
dengan beberapa artis-artis ternama. Permainan asmara Ariel sempat teredam lewat pernikahannya dengan Sarah Amalia, yang ditenggarai karena faktor Married by Accident.
Ternyata pernikahan tidak meredakan pesona Ariel di mata para wanita cantik. Ariel-pun yang sudah gelap mata, tetap saja mengumbar nafsu mencari “perawan-perawan baru”. Hingga kedekatan dengan Luna Maya-pun menghancurkan pernikahannya, meskipun sudah dikarunia
seorang putri yang cantik. Malahan semakin mengebu-gebu dan terekspos oleh media , sehingga produsen sabun sekelas LUX berani mengikat kontrak dengan pasangan ini.
Popularitas, kekayaan, dan wanita telah membutakan mata Ariel. Mungkin karena tak membaca sejarah-sejarah kejatuhan tokoh-tokoh besar dunia, iapun terjebak dengan “pembunuh” terbesar pria, yang tak lain dan tak bukan, WANITA. Ariel yang beberapa waktu lagi
akan melaunching nama band baru terancam ditinggalkan oleh fans fanatiknya. Sedang siap-siap menghadapi keruntuhan karir, ketika sedang berada puncak popularitas.
Lelaki berpakaian ala orang Pakistan tadi, masih asyik dengan dengan handphonenya. Akupun beranjak ke parkiran, melanjutkan nonton sepakbola di asrama. Di atas motor, aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri.
Betapa sulitnya melepaskan ketenaran ketika berada di puncak popularitas. Seandainya, ia masih berstatus sebagai gitaris Sheila On Seven, tak mungkin ia dipandangi aneh dan diabaikan oleh orang-orang sekitarnya. Pasti mereka segera mengerubungi, minta foto
barenglah, ngobrol tentang album barulah.
Lelaki itu adalah Sakti, mantan gitaris Sheila On Seven, yang secara tiba-tiba memutuskan berhenti ngeband, setelah masuk Jama’ah Tabligh, sebuah Jama’ah Dakwah yang mengajarkan manusia zuhud dan “mengacuhkan” kenikmatan-kenikmatan dunia. Ia berubah 180 derajat.
Tak hanya perilaku, tapi juga penampilan luar.
Apakah Sakti menyesal meninggalkan gemerlang popularitas? Sama sekali tidak. Beberapa kali kesempatan bertemu langsung denganku, ia selalu mengatakan, merasa lebih jauh bahagia dengan kondisi sekarang. Berpindah dari sosok terkenal menjadi sosok tak diacuhkan
orang sama sekali, memang teramat sulit dilakoni. Tapi Sakti memilih itu dengan sadar. Bukan karena citranya yang tercemar.
Apakah ia kekurangan uang setelah berhenti ngeband? Ternyata TIDAK. Sama sekali TIDAK. Ia masih cukup berada dengan usaha baju-baju Muslim di pinggir Jalan Kaliurang Yogyakarta. Tak hanya itu, seorang gadis cantik berjilbab rapi, senantiasa mendampinginya.
Seorang Bidadari suci yang tampil menyejukkan hati, bukan menimbulkan birahi. Sesekali aku melihat Sakti dan Istrinya itu berjalan di taman Masjid Kampus UGM. Tampak serasi dan bikin iri…
Dunia memberikan pelajaran bagi kita tentang orang-orang yang memilih menjadi budaknya atau orang-orang yang memilih “bebas” dari jeratannya. Dunia memang memberikan kesenangan. Tapi bukanlah kesenangan abadi. Setiap orang memang bebas memilih jalan masing-masing.
Meninggalkan gemerlap dunia, bukanlah keputusan yang pahit, bukanlah bencana yang patut ditangisi. Meninggalkan dunia demi akhirat, jauh lebih mulia daripada popularitas dan uang yang banyak. Ungkapan ini bukan sekedar angan-angan ataupun hembusan angin surga
belaka. Tapi, Sakti telah membuktikannya.
Allah subhanahu wata’ala berfirman: Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (TQS. Ali ‘Imrân [3]: 133)
[ini adalah repost dan dicontek dari kompasiana]
PENTING
Informasi yang disampaikan melalui email ini termasuk lampirannya bila ada, hanya ditujukan kepada penerima sebagaimana dimaksud pada tujuan email ini. Jika terdapat kesalahan pengiriman (Anda bukan penerima yang dituju), maka Anda tidak diperkenankan untuk
memanfaatkan, menyebarkan, mendistribusikan, atau menggandakan email ini dan diharapkan kerjasamanya untuk dapat menghapusnya. Seluruh pendapat yang ada dalam email ini merupakan pendapat pribadi dari pengirim dan tidak serta merta mencerminkan pandangan Direktorat
Jenderal Pajak.
PENTING
Informasi yang disampaikan melalui email ini termasuk lampirannya bila ada, hanya ditujukan kepada penerima sebagaimana dimaksud pada tujuan email ini. Jika terdapat kesalahan pengiriman (Anda bukan penerima yang dituju), maka Anda tidak diperkenankan untuk
memanfaatkan, menyebarkan, mendistribusikan, atau menggandakan email ini dan diharapkan kerjasamanya untuk dapat menghapusnya. Seluruh pendapat yang ada dalam email ini merupakan pendapat pribadi dari pengirim dan tidak serta merta mencerminkan pandangan Direktorat
Jenderal Pajak.
AMIN HARIYADI
unread,
Jun 27, 2010, 8:43:02 PM6/27/10
Reply to author
Sign in to reply to author
Forward
Sign in to forward
Delete
You do not have permission to delete messages in this group
Copy link
Report message
Show original message
Either email addresses are anonymous for this group or you need the view member email addresses permission to view the original message
--
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
You received this message because you are subscribed to the Google
Groups "bonjersatu" group, and of course the members are bonjersatu employees only.
To post to this group, send email to bonje...@googlegroups.com
To unsubscribe from this group, send email to bonjersatu-...@googlegroups.com
For more options, visit this group at
http://groups.google.com/group/bonjersatu?hl=en