| Production-Supervisor CI/External/ID/Asia/Cognis
10/01/2009 11:46 AM |
|
Satu
lagi, kisah nyata di zaman ini. Seorang penduduk Madinah berusia 37 tahun,
telah menikah, dan mempunyai beberapa orang anak. Ia termasuk orang yang
suka lalai, dan sering berbuat dosa besar, jarang menjalankan shalat, kecuali
sewaktu-waktu saja, atau karena tidak enak dilihat orang lain.
Penyebabnya, tidak lain karena ia bergaul akrab dengan orang-orang jahat
dan para dukun. Tanpa ia sadari, syetan setia menemaninya dalam banyak
kesempatan.
Ia bercerita mengisahkan tentang riwayat hidupnya:
“Saya memiliki anak laki-laki berusia 7 tahun, bernama Marwan. Ia bisu
dan tuli. Ia dididik ibunya, perempuan shalihah dan kuat imannya.
Suatu hari setelah adzan maghrib saya berada di rumah bersama anak saya,
Marwan. Saat saya sedang merencanakan di mana berkumpul bersama teman-teman
nanti malam, tiba-tiba, saya dikejutkan oleh anak saya. Marwan mengajak
saya bicara dengan bahasa isyarat yang artinya, ”Mengapa engkau tidak
shalat wahai Abi?”
Kemudian ia menunjukkan tangannya ke atas, artinya ia mengatakan bahwa
Allah yang di langit melihatmu.
Terkadang, anak saya melihat saya sedang berbuat dosa, maka saya kagum
kepadanya yang menakut-nakuti saya dengan ancaman Allah.
Anak saya lalu menangis di depan saya, maka saya berusaha untuk merangkulnya,
tapi ia lari dariku.
Tak berapa lama, ia pergi ke kamar mandi untuk berwudhu, meskipun belum
sempurna wudhunya, tapi ia belajar dari ibunya yang juga hafal Al-Qur’an.
Ia selalu menasihati saya tapi belum juga membawa faidah.
Kemudian Marwan yang bisu dan tuli itu masuk lagi menemui saya dan memberi
isyarat agar saya menunggu sebentar… lalu ia shalat maghrib di hadapan
saya.
Setelah selesai, ia bangkit dan mengambil mushaf Al-Qur’an, membukanya
dengan cepat, dan menunjukkan jarinya ke sebuah ayat (yang artinya):
”Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa adzab
dari Allah Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaithan” (Maryam:
45)
Kemudian, ia menangis dengan kerasnya. Saya pun ikut menangis bersamanya.
Anak saya ini yang mengusap air mata saya.
Kemudian ia mencium kepala dan tangan saya, setalah itu berbicara kepadaku
dengan bahasa isyarat yang artinya, ”Shalatlah wahai ayahku sebelum ayah
ditanam dalam kubur dan sebelum datangnya adzab!”
Demi Allah, saat itu saya merasakan suatu ketakutan yang luar biasa. Segera
saya nyalakan semua lampu rumah. Anak saya Marwan mengikutiku dari ruangan
satu ke ruangan lain sambil memperhatikan saya dengan aneh.
Kemudian, ia berkata kepadaku (dengan bahasa isyarat), ”Tinggalkan urusan
lampu, mari kita ke Masjid Besar (Masjid Nabawi).”
Saya katakan kepadanya, ”Biar kita ke masjid dekat rumah saja.”
Tetapi anak saya bersikeras meminta saya mengantarkannya ke Masjid Nabawi.
Akhirnya, saya mengalah kami berangkat ke Masjid Nabawi dalam keadaan takut…
Dan Marwan selalu memandang saya.
Kami masuk menuju Raudhah. Saat itu Raudhah penuh dengan manusia, tidak
lama datang waktu iqamat untuk shalat isya’, saat itu imam masjid membaca
firman Allah (yang artinya),
”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah
syetan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syetan, maka sesungguhnya
syetan itu menyuruh mengerjakan perbuatan keji dan munkar. Sekiranya tidaklah
karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak
seorang pun bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar itu) selama-lamanya,
tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar
dan Maha Mengetahui” (An-Nuur: 21)
Saya tidak kuat menahan tangis. Marwan yang berada disampingku melihat
aku menangis, ia ikut menangis pula. Saat shalat ia mengeluarkan tissue
dari sakuku dan mengusap air mataku dengannya.
Selesai shalat, aku masih menangis dan ia terus mengusap air mataku. Sejam
lamanya aku duduk, sampai anakku mengatakan kepadaku dengan bahasa isyarat,
”Sudahlah wahai Abi!”
Rupanya ia cemas karena kerasnya tangisanku. Saya katakan, ”Kamu jangan
cemas.”
Akhirnya, kami pulang ke rumah. Malam itu begitu istimewa, karena aku merasa
baru terlahir kembali ke dunia.
Istri dan anak-anakku menemui kami. Mereka juga menangis, padahal mereka
tidak tahu apa yang terjadi.
Marwan berkata tadi Abi pergi shalat di Masjid Nabawi. Istriku senang mendapat
berita tersebut dari Marwan yang merupakan buah dari didikannya yang baik.
Saya ceritakan kepadanya apa yang terjadi antara saya dengan Marwan. Saya
katakan, “Saya bertanya kepadamu dengan menyebut nama Allah, apakah kamu
yang mengajarkannya untuk membuka mushaf Al-Qur’an dan menunjukkannya
kepada saya?”
Dia bersumpah dengan nama Allah sebanyak tiga kali bahwa ia tidak mengajarinya.
Kemudian ia berkata, “Bersyukurlah kepada Allah atas hidayah ini.”
Malam itu adalah malam yang terindah dalam hidup saya. Sekarang -alhamdulillah-
saya selalu shalat berjamaah di masjid dan telah meninggalkan teman-teman
yang buruk semuanya. Saya merasakan manisnya iman dan merasakan kebahagiaan
dalam hidup, suasana dalam rumah tangga harmonis penuh dengan cinta, dan
kasih sayang.
Khususnya kepada Marwan saya sangat cinta kepadanya karena telah berjasa
menjadi penyebab saya mendapatkan hidayah Allah.”
dikutip dari:
http://fariqgasimanuz.wordpress.com/2009/02/04/seorang-ayah-bertaubat-dengan-sebab-anaknya-yang-masih-berusia-7-tahun/#comment-14