Kalung Cerpen Agus Noor (Jawa Pos, 18 Mei 2014)
Arak – arakan Pengantin Kecil
TAK ADA yang lebih menyenangkan dari keriangan anak-anak.
Bahkan bagi malaikat. Menyaksikan serombongan anak-anak
menirukan bebuyian gamelan mengiringi sepasang pengantin
kecil bermahkotakan untaian daun nangka di siang yang terik
itu, saya melayang pelan dan merasakan kegembiraan mereka.
Seolah mereka arak-arakan pengantin dari surga.
Demi melengkapi kebahagiaan mereka saya pun meniupkan cahaya
lembut hingga perlahan cahaya terik matahari siang itu
terasa seperti kelambu pengantin yang putih bersih. Saya
berbisik pada bunga-bunga agar memoles kelopaknya menjadi
lebih penuh warna, dan membiarkan mereka dipetik dan
disematkan ke telinga sepasang pengantin kecil itu.
Lihatlah, kepompong yang tergantung di dahan murbai perlahan
menggeletar terbuka, lalu seketika berkelepakan kupu-kupu
bersayap jelita yang terbang berkitaran dan hinggap di
kepala gadis pengantin kecil itu. Kawan-kawan yang
mengiringnya seketika bertambah gembira.
”Lihat! Pengantinnya bermahkota kupu-kupu!”
”Horee! Horee…”
”Ayoo Thomas!”
”Ayoo Azizah!”
”Ayoo gandengan!”
Sepasang pengantin kecil itu pun bergandengan, diiringi
tetabuhan riang mulut anak-anak yang mengiringinya. Pada
saat itulah kurentangkan sayapku dan kurengkuh gumpalan awan
agar memayungi sepasang pengantin kecil itu. Orang-orang
tersenyum menyaksikan arak-arakan pengantin kecil itu.
Keriangan anak-anak memang membuat dunia menjadi
menyenangkan.
Surga tak lain adalah kegembiraan anak-anak.
Secangkir Kopi Senja
Sepiring pisang goreng dan secangkir kopi hitam kental
selalu membuat senja menjadi terasa lebih harum. Itulah
saat-saat yang menyenangkan Abah Abdullah tiap duduk di
beranda rumahnya setelah seharian bekerja. Sebentar lagi ia
pensiun, dan ia akan punya waktu lebih lama menikmati
suasana seperti ini. Ia menyeruput kopinya pelan-pelan,
ketika Azizah, anaknya yang keenam, paling bungsu, mendekat
dan menggelendot manja.
”Ada apa, Nak?”
”Ehh, Abah tahu Thomas, kan?” bocah itu menatap serius.
”Tentu dong. Dia teman baikmu, kan?”
”Ya, saya dan Thomas selalu main bersama. Mengejar
kupu-kupu, mencari biji-biji kenari. Kami juga belajar
bersama, bernyanyi bersama. Kami satu kelas saat belajar
menghitung dan membaca. Tapi kenapa ketika pelajaran agama,
kelas kami berbeda?”
Tak menyangka akan pertanyaan seperti itu, Abah Abdullah tak
bisa menutupi kekagetannya.
”Ya, karena memang begitulah peraturan sekolah…”
”Kenapa belajar agamanya nggak di kelas yang sama
saja?”
”Kan beda…”
”Bedanya apa?”
Abah Abdullah menghela napas. Bagaimana menjawab pertanyaan
anaknya yang belum genap 7 tahun itu? Ia memandang jauh ke
arah senja yang dalam pandangannya menjadi begitu cepat
menggelap. Entah kenapa ia merasa senja itu lebih pahit dari
secangkir kopi hitam kental yang perlahan diseruputnya.
Lonceng di Pohon Natal
Pohon Natal sudah berdiri di ruang tamu. Saatnya Thomas
menghiasi dengan lonceng-lonceng kecil warna perak. Papa
mamanya tahu, sejak saat anak tunggalnya itu bisa berdiri,
dia memang paling suka dengan lonceng kecil yang diletakkan
di pohon Natal dan selalu tertawa riang ketika lonceng itu
berkelentingan bergoyang-goyang. Thomas sendiri suka
membayangkan, ketika lonceng itu berbunyi ada tangan
malaikat yang menyentuhnya. Bunyinya yang nyaring sering
bergema dalam mimpinya.
”Lihat, Mama,” kata Thomas, menunjuk lonceng itu,
”Nanti kalau Thomas kawin dengan Azizah, Thomas ingin
membawa lonceng itu.” Mamanya, yang baru saja muncul
membawakan sepiring kue, tersenyum mendengar perkataan
Thomas.
”Hus!” ujar papanya, ”Anak kecil kok sudah ngomong
kawin segala. Pasti kamu kebanyakan nonton sinetron…”
”Kemarin Thomas dan temen-temen main manten-mantenan.
Asyik deh, Pa. Thomas dan Azizah yang jadi pengantinnya.”
”Itu kan cuma mainan. Kok kamu jadi serius gitu…,”
ujar mamanya.
”Tapi kata temen-temen, Thomas cocok lho kalau besok besar
kawin sama Azizah.”
Mama papanya menghela napas panjang. Sementara bocah 7 tahun
itu perlahan memejamkan mata ketika mendengar lonceng kecil
di pohon Natal itu bergemerincing. Malaikat-malaikat itu
telah datang, Thomas menangkupkan kedua tangannya, seolah
berdoa di dekat pohon Natal.
Mama papanya saling pandang.
Dua Wajah Kekasih
Di antara guru-guru SMP, Pak Hikmanto termasuk yang paling
menyenangkan. Pelajaran sejarah menjadi tidak membosankan
setiap kali Pak Hikmanto menjelaskan peristiwa di masa lalu.
Sejarah bukan sekadar menghafal tahun-tahun dan mengingat
sederet nama pahlawan. Thomas dan Azizah paling suka bila
Pak Hikmanto menjelaskan sejarah kota kecil mereka. Pak
Hikmanto sering mengajak murid-murid bersepeda keliling
kota, mengunjungi bangunan-bangunan tua, kawasan kota lama,
menceritakan riwayatnya. Yang tak terlupakan oleh Thomas dan
Azizah ialah ketika Pak Hikmanto menjelaskan masjid dan
gereja tertua di tepi teluk itu.
”Lebih 450 tahun lalu, orang-orang Eropa sampai ke teluk
itu, lalu jatuh cinta pada keindahannya. Sebenarnya mereka
tak sengaja merapat. Lebih tepatnya, tersesat. Karena mereka
sesungguhnya sedang mencari pulau rempah-rempah. Tapi
keindahan pulau kita membuat orang-orang Portugis itu ingin
menetap. Kalian lihat bangunan gereja dan masjid itu?
Keduanya dibangun nyaris pada kurun yang bersamaan, setelah
orang-orang Eropa semakin banyak yang menetap.
Pada saat itu, penduduk yang mayoritas beragama Islam ikut
bekerja membantu membangun gereja. Sementara ketika
perdagangan makin maju, orang-orang Eropa yang beragama
Kristen ikut menyumbang pembangunan masjid. Kalian pasti
bisa merasakan bagaimana kedua rumah ibadah itu
berhadap-hadapan, seperti bercakap-cakap. Kedamaian selalu
dimulai dari saling pengertian. Atau bila kalian melihatnya
dari atas bukit itu, kalian akan bisa menyaksikan bagaimana
masjid dan gereja itu seperti dua wajah yang saling
bertatapan. Seperti sepasang yang saling merindukan…”
”Seperti Thomas dan Azizah,”celetuk murid-murid.
Pak Hikmanto, yang sudah tahu kedekatan Thomas dan Azizah,
tersenyum.
Elang Gunung dan Elang Laut
Kisah ini diriwayatkan leluhur, jauh sebelum kedatangan
Laksamana Cheng Ho – yang tilas tapak kakinya tergurat di
sebuah batu yang tak jauh dari pantai. Sebagaimana yang
ditamsilkan oleh mimpi, akan datang seorang pendekar dari
seberang, yang disebut Elang Laut. Maka penduduk pun
mendatangi Elang Gunung, pendekar yang mengusai perbukitan
pulau. Bagaimanapun mereka tak tahu apa maksud kedatangan
pendekar seberang itu. Berjaga lebih baik dan melawan adalah
sebaik-baik martabat.
Perkelahian tak terhindarkan ketika kedua pendekar itu
berhadapan. Elang Gunung dan Elang Laut, keduanya muda dan
sakti, hingga gampang tergoda untuk berkelahi. Seribu
purnama perkelahian itu berlangsung. Perkelahian yang
membuat musim di pulau itu berubah menjadi begitu
menakutkan. Angin menderu dan badai yang ditimbulkan
pukulan-pukulan kedua pendekar itu menerbangkan pepohonan.
Tebing-tebing runtuh menimbun perkampungan. Pertarungan tak
akan pernah melahirkan pemenang, kecuali musim buruk yang
berkepanjangan. Sampai dewa-dewa langit turun untuk
menghentikan.
Buku takdir dibuka dan riwayat lama dibacakan para dewa.
Hingga asal-usul kedua pendekar itu pun terjawab. Ketika
jagat semesta tercipta dan segalanya masih gelap gulita,
seekor burung gaib terbang membawa sebutir telur kehidupan.
Ketika burung gaib itu mengarungi semesta, tiba-tiba telur
yang dibawanya pecah. Putih telur itu terjatuh di tengah
samudera dan menetas menjadi Elang Laut. Sementara kuning
telurnya jatuh ke tengah pulau dan menjelma Elang Gunung.
Keduanya tak lain bersasal dari telur yang sama. Bukti bahwa
keduanya bausodara satu telur adalah kaloung di leher kedua
pendekar itu, yang terbuat dari manik-manik yang sama dan
serupa. Kaloung itulah yang kemudian mendamaikan keduanya.
Hari ketika kedua pendekar itu bertukar kaloung selalu
dirayakan penduduk dengan penuh kegembiraan. Hari itu
diperingati sebagai hari kaloung. Hari yang terus dirayakan
hingga saat ini. Di hari itu orang-orang akan membuat kalung
manik-manik dari rautan kayu, kemudian saling bertukar
kalung itu, agar selalu rukun., tanda bersaudara. Para
petani membuat kalung dari biji-bijian agar panen mereka
melimpah sepanjang tahun. Para nelayan akan membuat untaian
kalung dari kerang atau lokan agar selalu diberi keselamatan
dan kedamaian. Ibu-ibu akan memakaikan kalung pada
anak-anaknya, dan mereka yang sedang jatuh cinta
menghadiahkan kalung yang dibuatnya sendiri untuk orang yang
dicintai.
Di hari ketika seluruh penduduk begitu gembira itulah,
Thomas memberi Azizah sebuah kalung. Terbuat dari kayu yang
ia raut begitu halus.
Sebuah Kisah untuk Azizah
Kisah ini diceritakan Thomas pada Azizah setelah ia
memberikan kalung itu.
Suatu kali, seperti ada yang menahan gerak matahari hingga
subuh terasa lebih lama. Saat itu, di masjid, Nabi sedang
jamaah. Para sahabat merasa heran, kenapa Nabi melakukan
ruku’ lebih lama, hingga waktu terasa bergeser lebih
lambat dari biasanya. Usai sholat, Nabi ditanya seorang
sahabat.
”Apa yang terjadi, ya Rasulullah, sehingga Tuan memperlama
ruku’ tidak seperti biasanya?”
”Ketika aku ruku’ tadi, dan membaca subhana rabbial
azhim, lalu hendak mengangkat kepalaku berdiri, tiba-tiba
Jibril datang dan merentangkan sayapnya di atas punggungku
hingga lama sekali. Sampai sayap itu diangkat, barulah aku
bisa mengangkat badan.”
”Mengapa begitu?” tanya sahabat yang lain.
”Aku tidak tahu dan tidak bisa menanyakan kepada
Jibril,” jawab Nabi.
Maka datanglah Jibril menghampiri Nabi dan menceritakan apa
yang terjadi:
Ali ibn Abi Thalib tergesa-gesa menuju masjid agar tak
ketinggalan berjamaah. Tapi di jalan yang tak lebar, ada
seorang tua berjalan begitu pelan. Ali tak mengenal siapa
orang tua itu. Dengan sabar Ali berjalan di belakangnya, tak
berani menyalip, karena ia menghormatinya: memberi hak orang
tua itu untuk berjalan tanpa perlu terganggu olehnya yang
tergesa-gesa. Saat itulah Allah memerintahkan malaikat
Mikail mengekang laju matahari dengan sayapnya agar waktu
subuh menjadi panjang. Ketika akhirnya Ali sampai di masjid,
ia masih bisa mengejar sholat Subuh berjamaah.
Azizah terdiam mendengar cerita itu.
”Kau tahu, Azizah, siapa laki-laki tua itu?”
Azizah menggeleng.
”Ali akhirnya tahu, laki-laki tua itu seorang Nasrani.”
Lama Azizah tersenyum. Lalu pelan-pelan digenggamnya tangan
Thomas.
Perempuan yang Menampung Embun
”Aku juga punya cerita untukmu, Thomas,” ujar Azizah.
Perempuan tua itu dianggap aneh di kampungnya. Ia hidup
sederhana di gubuknya. Ia selalu bangun sebelum matahari
terbit untuk menampung embun di daun-daun. Embun itu
ditampungnya di sebuah cawan. Orang-orang sering
menertawakan. Untuk apa menampung embun-embun itu? Sementara
air berlimpah. Hanya orang gila kurang kerjaan yang mau
repot melakukan itu sepanjang hidupnya. Kampung itu memang
kampung yang terkenal akan keelokannya. Pohon-pohon tumbuh
subur dan menghijau di lembah dan perbukitan. Tak perlu
cemas kehabisan air.
Tapi, seperti nasib, musim memang tak bisa diduga.
Malapetaka yang tak pernah disangka tiba: kemarau panjang
yang meranggaskan apa saja. Semua kesegaran mengisut,
daun-daun lanum, buah-buah kehilangan ranum, dan air
mengering di kampung itu. Yang tersisa hanya embun yang
disimpan perempuan itu. Maka orang-orang yang sudah haus
kepayahan pun antre dan ribut berdesakan agar mendapatkan
setetes embun yang bertahun-tahun ditampung perempuan itu.
Setetes embun dari cawan perempuan itu mampu membebaskan
mereka dari dahaga yang sudah tak mampu ditahannya. Tapi
banyak di antara mereka yang mulai takut bila pada akhirnya
embun di cawan itu habis. Maka beberapa di antara mereka
berkata: Kau harus menghemat. Kau tak perlu memberi embun
itu untuk semua orang. Cukuplah kau berikan pada mereka yang
seiman! Kau tak perlu membantu mereka yang tak mempercayai
Kristus…
”Kau tahu, Thomas, apa yang kemudian dilakukan perempuan
itu? Ia tetap memberikan embun itu pada semua orang, seiman
atau bukan. Dan embun dalam cawan itu tak pernah habis
dibagikan…”
”Kebaikan memang tak akan pernah habis meski
dibagikan.”
”Ya. Dan yang terus bertambah, meski dibagikan, ialah
kebahagiaan.”
Thomas tersenyum. Pelan, dipeluknya Azizah.
Doa Api yang Berkobar
Bila api ini berasal dari kemarahan Tuhan, janganlah ia
membakar. Bila api ini bermula dari kebencian, janganlah ia
menghanguskan. Jadikan kami api yang tak membakar Ibrahim.
Jadikan kami api yang tak menghanguskan Sinta.
Tapi kami hanya api, yang bahkan tak bisa memadamkan panas
sendiri. Ketika api itu membakar masjid, kami pun tahu, kota
ini akan terbakar. Sebab kemarahan selalu membuat api
menjadi lebih cepat menjalar. Kebencian membuat api menjadi
lebih sulit dipadamkan. Kami tahu siapa yang menyalakan
kami. Mula-mula perkelahian terjadi di lapangan seusai
sholat id. Mungkin anak-anak muda yang mabuk. Mungkin
kelompok yang saling olol-olok. Tapi mungkin juga ini dendam
yang bertahun-tahun disimpan dalam sekam.
Sebelumnya memang sering terjadi perkelahian antarkampung.
Perkelahian yang dari tahun ke tahun semakin kerap berulang.
Kebencian, kau tahu, mirip hutang. Tak akan bisa dihapuskan
bila tak diselesaikan. Api kian menjalar, api kian berkobar.
Kami mendengar teriakan-teriakan marah. Kami mendengar
orang-orang menangis. Kami melihat orang-orang yang
berlarian ketakutan di tengah kerusuhan. Kenapa Tuhan kau
biarkan kami menghanguskan kota kecil yang indah ini!
Kau mendengar banyak kisah setelah kejadian itu. Tapi akan
kami ceritakan apa yang kami saksikan pada malam ketika api
menghanguskan sebuah rumah. Kami melihat seorang pemuda yang
berlari menerobos kerumunan, dan segera masuk ke dalam rumah
yang berkobar.
”Thomas! Jangan masuk.”
Kami mendengar orang-orang berteriak mencoba menahannya.
”Azizah di dalam rumah!!”
Kami mendengar suaranya yang panik. Sementara api terus
melahap rumah itu. Pada saat itulah kami berdoa: Jadikan
kami api yang tak membakar Ibrahim. Jadikan kami api yang
tak menghanguskan Sinta. Tuhan, adakah mukjizat hanya milik
nabi-nabi dan orang suci?
Ketika api padam pada pagi hari, orang-orang menemukan dua
tubuh mati terbakar di antara reruntuhan. Semuanya hangus.
Hanya ada sepasang kalung yang ditemukan dalam keadaan utuh.
Tak secuil pun api membakar kalung itu. Ketika orang-orang
menemukan kalung itu, kau tahu, kalung itu seperti sepasang
tangan yang saling berpelukan. ***
Jogjakarta-Jakarta, 2014
(Cerita buat Butet Kartaredjasa)
http://lakonhidup.wordpress.com/2014/05/18/kalung/
Powered by Telkomsel BlackBerry®