Novel Ronggeng Dukuh Paruk Lengkap

0 views
Skip to first unread message

Cynthia Skane

unread,
Aug 5, 2024, 12:02:08 PM8/5/24
to birnnarpuncpell
NovelRDP juga diterbitkan dalam edisi bahasa Jepang di tahun 1986. Di samping itu, banyak pula penulisan skripsi yang mengambil novel RDP sebagai objek penelitian. Di kancah perfilman, RDP diangkat dua kali sebagai tema film.

Masyarakat setempat meyakini kehadiran Srinthil menjadi pelengkap. Mereka meyakini kelengkapan dukuh terdiri dari keramat Ki Secamenggala, seloroh cabul, sumpah serapah, dan ronggeng bersama perangkat calungnya.


Di lain sisi, ada Rasus yang keberatan jika Srinthil harus melalui semua syarat tersebut. Dia adalah teman main Srinthil sejak kecil. Rasus merasa sakit hati dan cemburu karena Srinthil menjadi ronggeng.


Profesi ronggeng artinya Srinthil menjadi milik umum. Kegadisan Srinthil disayembarakan. Rasus makin marah saat dirinya yang berusia 14 tahun itu tidak bisa berbuat banyak pada gadis yang dicintainya.


Rasus mengiyakan permintaan Srinthil. Setelah itu, giliran Dower dan Sulam. Sementara Kartareja menikmati hasil menjadi mucikari berupa seringgit uang emas dari Sulam, lalu seekor kerbau dan dua keping perak dari Dower.


Ronggeng Dukuh Paruk mungkin adalah salah satu novel Indonesia dengan genre historical fiction yang populer. Berlatarkan peristiwa G30S PKI yang kelam, Ahmad Tohari sang penulis membungkus kisah cinta dengan balutan tragedi kemanusiaan dan budaya tradisional yang cukup kental. Ronggeng Dukuh Paruk diterbitkan sebagai karya trilogi yang terdiri dari Catatan Buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala. Diterbitkan pertama kali tahun 1982 oleh Gramedia, kemudian dicetak berulang kali, hingga akhirnya pada 2003 dan 2011 ketiga buku ini digabung dalam satu jilid dengan judul Ronggeng Dukuh Paruk. Dalam edisi ini Gramedia juga memasukan bagian-bagian yang sebelumnya disensor ketika dahulu diterbitkan pada masa Orde Baru. Pada 2019, Ronggeng Dukuh Paruk kembali dicetak ulang untuk kelima belas kalinya.


Ronggeng dalam kisah ini bernama Srintil, perempuan muda yatim piatu. Ia dikenal sebagai perempuan cantik yang akhirnya menjadi primadona karena kemampuannya menari. Srintil kecil memang dididik menjadi ronggeng, ia menjalani sayembara Bukak Klambu yang membuatnya menjadi ronggeng seutuhnya. Warga Dukuh Paruk senang dengan kehadiran Srintil yang menghidupkan kembali tradisi ronggeng yang lama hilang.


Namun kebahagiaan tersebut tidak dirasakan semua orang. Rasus, sahabat kecil Srintil sekaligus pria yang mencintainya, merasa terluka dan kecewa karena Srintil terpisah darinya. Rasus menyaksikan warga dukuh terutama para pria mendekati perempuan yang dicintainya. Srintil mau tak mau semakin tenggelam dalam kehidupan ronggeng. Sadar bahwa ia tak mungkin bisa mendapatkan Srintil, Rasus memilih untuk keluar dari Dukuh Paruk, bahkan melamar pekerjaan sebagai bagian dari tentara.


Salah satu poin menarik dari novel ini adalah masuknya tragedi 1965 sebagai bagian dari konflik utama dalam novel. Sama seperti daerah lain di Indonesia, Dukuh Paruk juga tak luput terkena imbas dari aksi penumpasan PKI oleh tentara Indonesia. Kejadian ini akhirnya mempertemukan Rasus dan Srintil kembali dengan status jauh berbeda. Di sini juga pembaca akhirnya mengetahui bagaimana akhir kisah antara Rasus dan Srintil.


Meskipun fokus pada hubungan romantis antara dua sejoli, Ronggeng Dukuh Paruk tak pantas disederhanakan dan dimasukan dalam novel roman. Ahmad Tohari sebagai penulis dengan apik membangun kompleksitas novel ini. Berbagai isu hadir dari mulai kritik sosial, isu politik konflik agama dan budaya, dominasi patriarki, hingga tragedi kemanusiaan bisa ditemukan dalam novel Indonesia ini.


Dukuh Paruk adalah desa yang berasal dari imajinasi penulis. Namun dengan piawainya, Ahmad Tohari menggambarkan situasi sosial di desa tersebut dengan detail, karena berkaca dari kondisi mayoritas desa di Indonesia pada kurun waktu tersebut. Kondisi Dukuh Paruk memang sepertinya adalah kehidupan dari kebanyakan masyarakat Indonesia di zaman itu, yang berada di luar kota besar. Warganya menggantungkan hidup dengan bertani atau bercocok tanam, kebanyakan dari mereka tidak mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan, dan masih percaya pada mitos-mitos gaib.


Warga Dukuh Paruk digambarkan sebagai orang-orang yang tak tahu bagaimana memperlakukan perempuan dengan manusiawi. Ini tergambar dari pengalaman Rasus yang sempat bekerja di luar dukuh. Ia menemukan bahwa di desa lain, warganya memperlakukan perempuan dengan sangat baik, bahkan perempuan bukanlah barang yang bisa diperlakukan sesuka hati kaum pria. Kondisi ini jelas menggambarkan konflik sosial dan isu patriarki yang terkadang masih bisa ditemukan pada masa sekarang, baik karena terbatasnya edukasi dan juga bertahannya tradisi yang merugikan.


Ketidaktahuan masyarakat awam ini sepertinya masih bisa kita temukan di Indonesia saat ini. Di era yang sudah serba digital dan informasi mudah beredar, kita masih suka mendengar bagaimana masyarakat desa dimanfaatkan dan percaya pada berita bohong yang beredar, membuat rakyat kecil menjadi korban dari intrik dan korban politik oknum-oknum yang memiliki status sosial dan pengetahuan lebih tinggi.


Di era yang sudah serba digital dan informasi mudah beredar, kita masih suka mendengar bagaimana masyarakat desa dimanfaatkan dan percaya pada berita bohong yang beredar, membuat rakyat kecil menjadi korban.


Ahmad Tohari merupakan sastrawan asal Purwokerto. Ia sempat menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman kemudian pindah ke Fakultas Ilmu Sosial dan Politik di universitas yang sama. Ia bahkan sempat mengecap pendidikan di Fakultas Kedokteran YARSI, Jakarta. Akhirnya ia memilih untuk kembali ke kampungnya dan mengasuh Pondok Pesantren NU Al-Falah.


Sebelum menerbitkan karya monumentalnya, Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad sempat bekerja di bank BNI dan mengurus majalah perbankan, kemudian menjadi bagian redaksi majalah Keluarga. Selain Ronggeng Dukuh Paruk, karya Ahmad lainnya adalah Kubah (1980), Di Kaki Bukit Cibalak (1986), kumpulan cerpen Nyanyian Malam (2000), dan kumpulan cerpen Mata yang Enak Dipandang (2013). Salah satu novelnya yakni Bekisar Merah bahkan membuat Ahmad meraih Hadiah Sastra ASEAN tahun 1995.


Karya Ronggeng Dukuh Paruk telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa yakni Jepang, Tionghoa, Belanda, dan Jerman. Dalam Bahasa Inggris, Ronggeng Dukuh Paruk diterbitkan oleh Lontar Foundation dengan judul The Dancer. Selain itu Kubah juga diterbitkan dalam Bahasa Jepang atas biaya dari Toyota Ford Foundation.


Ronggeng Dukuh Paruk juga sudah diadaptasi menjadi film. Ada dua film tepatnya. Pertama, Darah dan Mahkota Ronggeng (1983) yang dibintangi oleh Enny Beatrice dan Ray Sahetapy, serta disutradarai oleh Yazman Yazid. Film kedua adalah Sang Penari (2011) karya sutradara Ifa Ifansyah, dengan bintang Prisia Nasution sebagai Srintil dan Oka Antara sebagai Rasus. Film ini mendapatkan apresiasi besar dari penikmat film Indonesia. Buktinya film ini mendapatkan 11 nominasi dalam Festival Film Indonesia 2011 dan berhasil mendapat empat piala untuk Sutradara Terbaik, Aktris Terbaik, Aktris Pendukung Terbaik, dan Film Terbaik.


Bagi pecinta buku dengan tema klasik, ada satu judul yang tidak boleh dilewatkan, yaitu Buku Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, karya sastra ini terbit pada tahun 2003 dan dari pertama dipasarkan langsung banyak menyita perhatian pecinta sastra, namun akhirnya menemui pro dan kontra.


Ahmad Tohari menceritakan dengan sangat rinci setiap bagian sehingga pembaca terasa ikut hadir dalam setiap segmen dari alur dalam buku ini. Cerita yang disuguhkan kental dengan tradisi yang benar-benar terjadi di tengah masyarakat, termasuk pergolakan politik yang saat itu terjadi.


Dalam buku yang ditulis ini, Ahmad Tohari berusaha untuk membuka tabir tentang kejadian di masyarakat yang saat itu masih ditutupi namun sebenarnya terjadi. Novel ini pernah dilarang beredar karena dianggap memuat hal-hal yang seharusnya tidak menjadi konsumsi publik. Saat ini Anda bisa mendapatkan karena kembali dijual bebas. Tertarik dengan isi buku karya Ahmad Tohari ini? Berikut review-nya:


Ahmad Tohari dalam Buku Ronggeng Dukuh Paruk menceritakan tiga bagian yang saling menyambung. Bagian pertama Ronggeng Dukuh Paruk yang mengisahkan tentang Srintil, seorang kembang desa dari awal hingga menjadi ronggeng yang banyak digandrungi.


Pada bagian kedua, yaitu Lintang Kemukus Dinihari bercerita tentang Rasus yang menjadi tentara dan tentang masuknya ajaran komunis ke Dukuh Paruk. Sedangkan pada bagian ketiga, yaitu Jentera Bianglala berisi tentang kisah Srintil yang sebelumnya merupakan tawanan dan ingin menjadi ibu rumah tangga.


Karya sastra dari Ahmad Tohari ini berkisah tentang peronggengan yang terjadi di Dukuh Paruk. Srintil yang terlahir sebagai ronggeng harus memegang tradisi-tradisi yang tidak boleh dilanggarnya, diantaranya adalah hubungan dengan dukunnya dan tidak boleh dekat dengan lelaki lain.


Namun Srintil melawan hal itu karena begitu bertemu dengan Rasus gadis cantik itu jatuh cinta. Pada saat Rasus menghilang, kehidupan Srintil menjadi berantakan. Rasa Sukanya terhadap Rasus menghadirkan rasa pemberani yang luar biasa.


Suatu hari kakek neneknya melihat kemampuan Srintil dalam menari ronggeng dan menyampaikan hal itu kepada dukun ronggeng yang ada di kampung. Untuk menjadi seorang ronggeng, Srintil harus melalui banyak tahap.


Gadis cantik itu harus menjalankan ritual mandi kembang di kuburan, menari beberapa ronde setiap malam hingga mengikuti ritual yang tidak biasa, yaitu buka kelambu. Dalam ritual tersebut Srintil harus menyerahkan keperawanannya kepada seseorang yang datang dan mampu memenuhi semua syarat yang diminta.


Tulisan dari Ahmad Tohari seakan tidak hanya cerita semata namun membawa pembaca seolah benar-benar datang ke sebuah pedukuhan yang bernama Paruk. Cerita tentang ronggeng dan semua kehidupannya digambarkan dengan detail sehingga terkesan hidup.


Satu bagian yang tidak kalah menarik adalah tragedi yang terjadi di Dukuh Paruk, tepatnya sekitar tahun 1965. Kemiskinan dan kebodohan yang masih lekat dengan masyarakat desa tersebut membuat mereka sangat mudah dipengaruhi oleh hal buruk dari luar.

3a8082e126
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages