Trims telah mengirimkan tulisan tentang polispermia.
Pada awalnya, blocking system yang dipercaya secara luas terhadap adanya kejadian polyspermia adalah dengan adanya depolarisasi membran sel. Yaitu ada perubahan muatan sisi bagian dalam membran sel telur dari negatif menjadi positif. Perubahan muatan ini diawali oleh adanya reaksi enzimatik akrosomal -> sinyal sel -> respon sel berupa disekresikannya ion Ca2+ dari retikulum endoplasma. Setelah perisitiwa depolarisasi ini maka sperma berikutnya tidak akan bisa menembus (attached) ke membran sel telur. Pengetahuan diatas diperoleh dari percobaan terhadap bulu babi yang kemudian dianggap terjadi pada proses-proses fertilisasi di berbagai hewan lainnya.
Setelah ada peneliti lain bekerja dengan mencit dan malah manusia, mereka tidak menemukan adanya kejadian depolarisasi membran sel telur mengikuti penempelan sperma. Melainkan ada mekanisme lain, yaitu adanya perubahan ultrastruktur dari zona pelusida. Setelah zona pelusida mengalami perubahan ultrastrutur maka sperma berikutnya tidak bisa menembusnya. Salah satu penyebabnya adalah reseptor sperma yang ada di membran sel "ikut terangkat" mengikuti perubahan ultrastruktur zona pelusida. Ada juga yang menyebutkannya sebagai terjadi perubahan konformasi reseptor sperma.
Dengan begitu, sampai saat ini dketahui bahwa mekanisme blocking terhadap sperma berikutnya dilakukan dengan dua cara, yaitu:
1. depolarisasi membran - kejadiannya sangat cepat setelah adanya sperma menebus membran sel.
= Sistem blocking cepat; mekanisme pada fertilisasi external
2. perubahan struktur zona pelusida yang diikuti dengan perubahan reseptor sperma. Tentunya, kejadian ini jauh lebih lambat dibandingkan mekanisme yang pertama diatas. Ada yang melaporkan butuh waktu sekitar 10 detik untuk blocking sperma berikutnya.
= Sistem blocking lambat; mekanisme pada fertilsiasi internal.
Terlepas dari cepat dan lambatnya dari sistem blocking sperma, keduanya sangat efektif dalam memblocked masuknya sperma berikutnya kedalam sel telur.
Salam,
AFM