London, KompasOtomotif ? Para politikus yang tergabung dalam parlemen di Inggris, menyiapkan pengambilan suara (voting) menentukan boleh tidaknya merokok di dalam mobil, terutama jika ada anak-anak. Usulan ini diajukan Partai Buruh sebagai amandemen undang-undang perlindungan anak-anak dan keluarga.
Para pendukung undang-undang ini mengatakan berdasarakan riset, bahwa merokok di mobil jauh lebih berbahaya. Sebagian besar asap terperangkap dalam ruang-ruang kecil kabin. Aroma dan zat karsinogen yang menempel dianggap berbahaya, apalagi asap dihirup perokok pasif terutama anak-anak.
?Orang dewasa bebas menentukan pilihan mereka, tapi jangan menyertakan anak-anak. Itulah mengapa masyarakat punya kewajiban melindungi mereka dari bahaya yang seharusnya bisa dicegah,? kata salah satu politikus di parlemen yang mendukung rencana ini, dikutip Leftlanenews, (2/4/2014).
Hukuman
Tidak dijelaskan, hukuman apa yang akan diberikan untuk para pelanggar. Namun beberapa sumber mengatakan mereka yang masih merokok dalam mobil dan terdapat anak-anak, akan didenda 60 poundsterling (Rp 1,2 juta) untuk pelanggaran pertama kali.
Seperti diduga sebelumnya, rencana ini dikritisi keras banyak masyarakat Inggris, termasuk partai oposisi. Dikatakan, sudah banyak orang dewasa tahu, merokok di dalam mobil ketika ada anak-anak itu berbahaya. ?Orang sudah tahu itu, dan tidak butuh negara mengatur hidup mereka seperti ini. Jika ada yang masih berbuat seperti itu, hanya perlu diedukasi, bukan dihukum,? kata Simon Clark, Direktur FOREST, lembaga pendukung para perokok.
Para penentang juga khawatir aturan ini akan sulit ditegakkan, sehingga akan terbit larangan lebih berat, sama sekali tidak diperbolehkan merokok dalam mobil.
Larangan merokok di mobil ketika ada anak-anak ternyata sudah dilakukan di berbagai kawasan dan negara. Afrika Selatan, enam negara bagian Australia, Siprus, sembilan provinsi di Kanada, dan delapan negara bagian di AS, sudah lama melarang hal tersebut.
Telah beredar sebuah video mengenai sebuah mobil yang sedang melindas seorang anak kecil di salah satu SPBU di daerah Sumedang. Terlihat dari cctv SPBU, mobil tersebut terlihat sedang dikendarai oleh pengemudinya yang hendak mengisi bahan bakar. Kemudian mobil tersebut tersebut terlihat melindas seorang anak kecil yang berdiri tepat di depan mobil tersebut. Dalam narasi postingan tersebut, dikatakan bahwa, "TEREKAM CCTV SEORANG ANAK TERLINDAS BAN MOBIL." Narasi tersebut juha menjelaskan tanggal kejadian yaitu pada tanggal 28 November 2020 silam dan bertempat di Parakanmuncang, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.
TEMPO.CO, Jakarta - Ketika pergi bersama keluarga menggunakan mobil pribadi, anak-anak selalu ditempatkan di kursi belakang. Bukan semata di kursi belakang, anak-anak lebih leluasa bergerak, namun karena faktor keamanan.
Anak-anak sering merengek ingin duduk di kursi depan mobil. Sejumlah orang tua dalam komunitas daring mengatakan membolehkan anak duduk di kursi depan mobil sebagai "kursi bunuh diri", "jebakan maut", atau "pembunuh anak". Berikut rambu-rambu yang cukup aman untuk mengizinkan anak duduk di kursi depan mobil, dilansir dari Popsugar.
1. Cukup usia, berat dan tinggi badan
Umumnya orang tua mengatakan anak-anak harus duduk di bagian belakang mobil sampai berusia sekitar 12 atau 13 tahun. Banyak orang tidak mengerti alasan anak-anak tidak boleh duduk di kursi depan. Mereka hanya belum cukup besar sebelum berusia 12 atau 13 tahun.
Berikut alasan anak duduk di kursi depan tidak seaman duduk di kursi belakang.
-Jika terjadi tabrakan, anak di kursi depan dapat terlempar ke dashboard atau melalui kaca depan. Anak duduk di kursi depan mobil mempunyai risiko lebih besar dibandingkan duduk di kursi belakang. Terlebih lagi, mobil dengan kantong udara penumpang. Kantong udara mengembang dengan kuat yang dapat menyebabkan kepala dan leher anak luka parah.
Jeannett S. dan Talisha B. setuju bahwa langkah yang terbaik adalah menunggu sampai anak memasuki masa remaja untuk duduk di kursi depan mobil, ketika tinggi dan berat badan anak telah cukup untuk meminimalkan cedera dari kantong udara meletus dalam kecelakaan.
Brandi C., seorang ibu yang bekerja di bidang kedokteran, menegaskan alasan anak duduk di kursi depan, jika ukuran tubuh masih kecil dapat keluar dari sabuk pengaman dan masuk di bawah dasbor ketika terjadi kecelakaan dan langsung meninggal seketika. Sedangkan organisasi keselamatan penumpang, seperti SafetyBeltSafe Amerika Serikat, tidak terlalu ketat menyarankan anak-anak duduk di kursi belakang sampai siap untuk duduk di depan.
2. Sesuai peraturan yang berlaku
Beberapa negara memiliki undang-undang yang menetapkan kebijakan mengenai anak-anak duduk di kursi depan mobil. Safety Administration Nasional Highway Traffic memiliki informasi tentang memilih kursi yang tepat untuk anak di dalam mobil. Kebijakan menyebutkan dengan sangat spesifik tentang usia, tinggi, dan berat badan anak duduk di kursi depan. Misalnya, di Colorado, anak-anak harus mempunyai tinggi 150 centimeter tinggi dan berusia 11 tahun, baru bisa duduk di kursi depan. Setiap negara mempunyai kebijakan sendiri, ikuti ketentuan yang berlaku.
3. Jika tidak tersedia kursi lain
Negara hukum biasanya membolehkan anak duduk di kursi depan di samping pengemudi jika tidak ada kursi belakang yang aman, misalnya di dalam mobil bak terbuka.
4. Kantong udara tidak aktif
Jika menempatkan anak di kursi depan, Kelly B. menyarankan memeriksa apakah kantong udara mobil memiliki tombol on-off switch atau bisa dinonaktifkan, meskipun orang tua harus mendapatkan izin dari organisasi pemerintah sebelum menginstal saklar tersebut. Tempatkan penumpang terbesar atau tertinggi duduk di kursi depan, dan posisi kursinya sejauh mungkin jaraknya dari dasbor," kata Kelly.
Jika kantung udara sudah dinonaktifkan, kursi depan aman dan praktis bagi anak untuk menghadap belakang kursi mobil karena bagian depan kendaraan dan dasbor adalah poin terkuat di dalam mobil. Dari penelitian menunjukkan bahwa orang tua agak terganggu ketika anak duduk di kursi depan dibandingkan di kursi belakang. Pertimbangan yang paling penting adalah faktor keamanan. Keselamatan seorang anak lebih penting.
JAKARTA, KOMPAS.com - Masih sering ditemui orang tua yang lalai dan meninggalkan anaknya sendirian di mobil dalam keadaan mesin menyala. Meskipun hanya sebentar, hal tersebut bisa menimbulkan bahaya bagi anak.
Training Director The Real Driving Center Marcell Kurniawan mengatakan, pada dasarnya umur berapa pun anak kecil jangan sampai ditinggal sendiri di dalam mobil. Sebab tindakan tersebut sangat fatal karena bisa mengakibatkan kematian.
"Baru-baru ini viral seorang anak meninggal dunia setelah tertabrak mobil boks di jalan raya. Menurut informasi, korban yang mengendarai sepeda listrik itu hilang kendali dan keluar jalur," sambungnya.
"Saya beberapa kali berpapasan sama bocil pakai sepeda listrik, agak berbahaya memang karena bocil umumnya gak pakai analisa risiko saat di jalan, mereka taunya jalan dan kencang," ujar @budirachim25.
"Di China, sepeda listrik hanya boleh dikendarai oleh anak SMP kelas 3 dan menginjak SMA. Jikalau dibawah umur, wajib dikendarai oleh orang tua. Tapi di negeri ini berbeda. SD yang belum sampai kakinya pun, sudah mengendarai sepeda Listrik," ungkap @agung_syawal
"Ini kesalahan dari orang tua yang lalai dalam menjaga atau melarang sang anak yang di bawah umur untuk mengandarai sepeda listrik dan ini juga bisa jadi perhatian buat orang tua semua, bahwa sahnya sepeda listrik itu tidak dipakaikan kepada sang anak yang masih di bawah umur!," tegas @muharifbuchary_
"Ortunya *syg anak* tapi caranya salah. Ortunya *ikut trend* tapi trendnya salah.
Anak kecil jamanNOW selalu diidentikkan dengan sepeda listrik karena menurut ortu awam sepeda listrik cocok untuk anak-anak karena tidak memakai bensin seperti kendaraan pada umumnya. Dan ortu awam mempercayakan anaknya untuk bebas dipakai ke mana saja. Padahal apapun itu jenis kendaraannya kalau anak-anak yg menggunakannya perlu pengawasan orang dewasa," jelas @_marwahh.
Anak yang sering mengalami mabuk perjalanan, baik melalui darat, laut, ataupun udara, mungkin menjadi salah satu kendala orangtua dalam melakukan perjalanan. Apalagi bila perjalanannya jauh, anak biasanya relatif mudah muntah.
Cara agar anak tidak mabuk perjalanan naik mobil yang bisa Mama dan Papa coba adalah menyiapkan produk atau spray dengan aroma yang segar. Aroma mint, asam jawa, jeruk, atau jahe dapat membuat rasa nyaman di perut si kecil.
Jika melakukan perjalanan jauh yang membutuhkan waktu tempuh berjam-jam hingga hari, jangan lupa berhenti dan beristirahat secara berkala. Istirahat sejenak dapat mengurangi mual muntah anak selama perjalanan.
Demikian cara mengatasi mabuk perjalanan pada anak. Jika rasa mual anak tak juga mereda meski telah menerapkan tips di atas, konsultasi kepada dokter anak. Bisa jadi, ada penyakit yang melatarbelakangi.
Seperti yang baru-baru ini viral di media sosial, terdapat sebuah video yang menunjukkan seorang anak kecil menabrakkan sebuah mobil listrik Chery Omoda E5 ke tembok salah satu toko baju di Mal of Indonesia (MOI), Jakarta Utara,
Dilansir VIVA Otomotif dari laman Instagram Fakta.Jakarta pada Selasa, 23 April 2024, kejadian ini berawal dari seorang anak sedang bermain di jok pengemudi mobil yang dipajang. Secara tak sengaja, bocah tersebut menginjak pedal gas sehingga mobil tersebut menabrak tembok mal.
Anak kecil dilarang duduk di jok mobil baris pertama, di jok sopir ataupun penumpang depan. Selain karena bisa mengganggu sopir yang butuh konsentrasi, tubuh anak kecil yang tak bisa memakai sabuk pengaman berisiko cedera saat kecelakaan.
Pihak produsen juga sudah merekomendasi hal ini, salah satu cara mengingatkannya mereka menempelkan stiker khusus larangan anak kecil di jok depan yang berada di tudung sinar matahari penumpang depan.
795a8134c1