Penjelasan Sejarah Kuntowijoyo Pdf

0 views
Skip to first unread message

Rell Jette

unread,
Aug 4, 2024, 1:35:56 PM8/4/24
to biescenuncas
Sejarahdiambil dalam bahasa Arab dari kata 'syajarah' yang berarti pohon. Arti pohon disini dimaksudkan sebagai pohon keluarga atau silsilah serta usul dari adanya sesuatu, dan perkembangan tentang peristiwa yang berkesinambungan.

Sedangkan dalam Bahasa Inggris dinamakan 'history', yang berasal dari bahasa Yunani dari kata 'historia' yang mengandung makna inkuiri, wawancara, serta interogasi atau laporan dari seorang saksi mata mengenai hasil-hasil suatu tindakan. Dari bahasa Yunani tersebut, istilah historia masuk ke bahasa-bahasa lain, terutama melalui perantaraan bahasa Latin.


Para ahli mendefinisikan sejarah dengan makna yang beragam. Dilansir dari modul Sejarah Peminatan Paket C Tingkatan V karya Apriyanti Wulandari, berikut adalah pengertian sejarah menurut para ahli:


Sejarah adalah peristiwa di masa lampau, yang mempelajari biografi mereka yang terkenal sebagai penyelamat pada zamannya. Orang-orang besar tersebut adalah orang yang pernah dicatat sebagai peletak dasar sejarah.


Pengertian sejarah menurut Moh. Yamin, sejarah adalah suatu ilmu pengetahuan yang disusun atas hasil penyelidikan, dari beberapa peristiwa yang mampu dibuktikan dengan kenyataan (fakta).


Sartono Kartodirdjo adalah guru besar bidang sejarah UGM. Ia mempelopori penulisan sejarah dengan perspektif Indonesia. Sejarawan ini membagi pengertian sejarah dalam arti subjektif dan objektif.


Menurut Sartono Kartodirdjo, pengertian sejarah dalam arti subjektif adalah suatu kontruksi (bangunan) yang disusun oleh penulis sebagai suatu uraian cerita (kisah). Kisah tersebut merupakan suatu kesatuan dari rangkaian fakta-fakta yang saling berkaitan.


Kuntowijoyo adalah seorang budayawan, sastrawan, dan sejarawan. Pengertian sejarah menurut Kuntowijoyo adalah rekonstruksi atau membangun kembali peristiwa masa lalu untuk dikontekstualisasikan ke dalam kehidupan kekinian dan masa datang.


Sulaiman Hasan dan Anik Irawati dalam modul Sejarah Kemdikbud, menuliskan bahwa dalam perkembangannya, konsep sejarah kini mendapat suatu pengertian baru. Hal itu terjadi setelah adanya percampuran penulisan kronikel ketat secara kronologis, dan narasi-narasi yang bebas yang dapat dilihat pada abad pertengahan, dikenalnya biografi yang disebut juga vitae.


Dikenalnya istilah tersebut, khususnya pada biografi orang besar, menyebabkan Thomas Carlyle (1841) seorang sejarawan dari Inggris mengatakan bahwa sejarah sebagai 'riwayat hidup orang-orang besar atau pahlawan' semata. Tanpa adanya mereka, maka tidak ada sejarah.


Namun, lingkup sejarah tidak hanya untuk individu tertentu (orang-orang besar), saja seperti Julius Caesar, Napoleon, Soekarno, dan lain-lain. Sejarah juga di dalamnya membahas kelompok masyarakat yakni semua manusia.


Herodotus yang merupakan ahli sejarah dunia berkebangsaan Yunani, sekaligus bapak sejarah dunia (The Father of History) menyatakan bahwa sejarah tidak berkembang ke arah depan dengan tujuan yang pasti, melainkan bergerak seperti garis lingkaran dengan tingkatan tinggi rendahnya terganti oleh keadaan manusianya.


Dari adanya beberapa definisi diatas, maka menunjukkan dengan tegas dan singkat bahwa secara umum sejarah memiliki tiga yang bulat. R. Moh. Ali menyimpulkan sejarah diberi tiga pengertian sebagai berikut:




Sejarah yaitu ilmu yang menyelidiki perkembangan-perkembangan mengenai peristiwa dan kejadian di masa lampau.

Sejarah merupakan kejadian dan peristiwa yang berhubungan dengan manusia, yang menyangkut perubahan nyata di dalam kehidupan manusia.

Sejarah merupakan cerita yang tersusun secara sistematis (teratur dan rapi).


Dengan demikian, dapat diartikan bahwa sejarah merupakan ilmu tentang manusia. Semoga penjelasan di atas, bisa buatdetikers jadi lebih paham tentang pengertian sejarah ya. Semangat belajar!


Kuntowijoyo dikenal selain sebagai penulis, juga merupakan salah satu sejarawan Indonesia yang disegani. Pemikiran-pemikirannya sering dituangkan kedalam bentuk tulisan. Karya-karya beliau juga sudah banyak yang diterbitkan, salah satunya merupakan buku diktat kuliah bagi mahasiswa jurusan sejarah di Indonesia, yakni Pengantar Ilmu Sejarah.


Dalam buku ini, Kuntowijoyo menjelaskan seluk-beluk sejarah sebagai suatu cabang keilmuan tidak hanya di Indonesia, tapi juga dunia. Pengantar Ilmu Sejarah ini terdiri dari dua belas bab, yang keseluruhannya dibahas dengan gamblang oleh beliau. Kedua belas bab tersebut yakni : Apakah Sejarah Itu?, Guna Sejarah, Sejarah Penulisan, Sejarah sebagai Ilmu dan Seni, Pendidikan Sejarawan, Penelitian Sejarah, Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial, Kekuatan-kekuatan Sejarah, Generalisasi Sejarah, Kesalahan-kesalahan Sejarawan, Sejarah dan Pembangunan, serta bab terakhir yaitu Ramalan Sejarah.


Sejarah sebagai ilmu yang dinamis, juga memiliki riwayatnya sendiri dalam hal penulisannya. Terhitung sejak mulainya peradaban kuno dunia, Yunani, hingga masa kontemporer. Sejarah penulisan juga menjadi salah satu acuan bagi sejarawan untuk membuat reka ulang atau rekonstruksi mengenai peristiwa yang telah terjadi. Menariknya, sejarah sebagai ilmu juga bisa menjadi kritik terhadap ilmu lain, terutama dalam sumbangsih seni.


Kita tentu sudah sering mendengar bahwa ilmu yang satu berkaitan dengan ilmu lainnya. Maka demikian jugalah dengan ilmu sejarah. Cabang ilmu sosial yang lain ikut membantu sejarawan menyempurnakan penelitiannya. Misalnya saja ketika sejarawan ingin mengulas tentang sejarah pembuatn selokan Mataram di DIY, tentunya ia harus bisa melakukan pendekatan dengan ilmu sosial seperti antropologi, ekonomi, dan atau geografi untuk menunjang kevalidan datanya. Selain itu, ilmu-ilmu sosial lainnya juga bisa menjadi kekuatan sejarah. Dimana kekuatan sejarah sangat penting dalam membuat penelitian menjadi lebih berkualitas.


Ketika seorang sejarawan berhasil melakukan penelitian, biasanya ia juga membuat generalisasi agar pembaca awam bisa memahami penelitiannya. Generalisasi dalam sejarah sendiri terbagi menjadi generalisasi konseptual, personal, tematik, spasial, periodic, sosial, kausal, cultural, sistemik, dan struktural. Walaupun terbagi ke banyak generalisasi, hasil akhir generalisasi sejarah bertujuan untuk mendapat generalisasi yang bersifat saintifik dan atau yang bersifat simplifikasi.


Pada akhirnya, sejarawan juga bisa salah. Meskipun sudah mendapat generalisasi utuh tentang penelitiannya, terkadang kesalahan-kesalahan tertentu bisa saja terjadi. Kuntowijoyo menguraikan setidaknya ada lima kesalahan yang mungkin dilakukan sejarawan, yaitu : kesalahan pemilihan topic, kesalahan pengumpulan sumber, kesalahan verifikasi, kesalahan interpretasi, dan kesalahan penulisan.


Sebagai penutup, Kuntowijoyo mengatakan bahwa mayoritas masyarakat beranggapan bahwa sejarah hanya memiliki fungsi pragmatis saja. Anggapan ini ditepis oleh beliau, sebab sejarah juga mempunyai fungsi praktis, yaitu berguna sebagai peranan ilmu sosial dalam pembangunan.


Saya pribadi menilai bahwa buku ini sangat bagus dibaca untuk semua kalangan, tidak hanya bagi mereka yang mendalami ilmu sejarah saja. Alasannya karena buku ini disajikan oleh Kuntowijoyo dengan bahasa yang mudah dimengerti dan tanpa penjelasan yang rumit. Contoh-contoh tambahan yang mendukung penjelasan per sub-bab juga ditulis dengan baik, sehingga memudahkan pembaca mengembangkan ide dan kreatifitasnya dalam menggali sumber atau permasalahan tentang sejarah. Hal yang mungkin dirasa kurang menurut saya yaitu berkenaan dengan ilustrasi. Sebaik apapun penjelasan penulis pada bukunya, tentu akan lebih menarik jika disajikan pula contoh ilustrasi pendukung.


JANGAN terkejut, kalau dalam Studium General (Kuliah Umum; Latin studium, Prancis kuno general) yang pertama di Jurusan Sejarah (bahasa Arab syajara berarti terjadi, syajarah berarti pohon, syajarah an-nasab berarti pohon silsilah; bahasa Inggris history, bahasa Latin dan Yunani historia, bahasa Yunani histor atau istor berarti orang pandai) yang juga dihadiri mahasiswa tahun pertama, gambaran Anda tentang sejarah tidak sesuai dengan yang diharapkan. Kuliah semacam itu memang tidak dimaksudkan untuk memberi penjelasan tentang sejarah pada umumnya. Dosen yang memberi kuliah lebih menyesuaikan diri dengan harapan teman-temannya sendiri daripada dengan tuntutan mahasiswa baru yang masih perlu penerangan. Misalnya, dosen itu mempunyai keahlian American Studies dengan kekhususan Sejarah Hubungan Internasional, dan ia akan menjelaskan tentang sikap Amerika terhadap penyerbuan Jepang ke Cina sebelum Perang Dunia II. Amerika yang juara dalam menentang penjajahan, ternyata bersikap diam dalam soal ini. Alasan yang dikemukakan Amerika ialah Jepang tidak merupakan bahaya yang jelas dan langsung. Alasan lain ialah anggota militer Jepang yang sedikit akan terserap oleh rakyat Cina yang banyak itu. Yang ingin disampaikan dalam kuliah itu sebenarnya ialah watak diplomasi Amerika yang selalu mengutamakan kepentingan nasionalnya, meskipun dikemas dengan retorika menegakkan kemerdekaan.


Kuliah itu justru meresahkan mahasiswa baru, karena sejarah yang diberikan tidak seperti yang diajarkan di sekolah. Pengalaman sehari-hari juga tidak banyak menolong. Amerika dikenal lewat bintang film, basketball dan football; Jepang dikenal lewat turisme, motor-motor Honda-Suzuki, Yamaha di jalan dan film-film cartoon; dan Cina dikenal lewat cerita silat, baterai, dan merek handuk. Rupanya pelajaran di sekolah dan pengalaman modern melalui teknologi tidak ada gunanya. Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan! Baik pelajaran maupun pengalaman ternyata penting untuk Ilmu Sejarah. Pelajaran di sekolah setidaknya mengajarkan fakta sejarah dan pengalaman akan membuat orang lebih bijaksana, dua hal yang sangat penting bagi sejarawan. [Mizan, Bentang, Sejarah, Referensi, Indonesia]


Materi buku ini bertumpu pada dua bahasan mendasar dalam ilmu sejarah, yakni (a) hakikat ilmu sejarah dan (b) cara memahami jenis-jenis penjelasan sejarah. Kuntowijoyo menegaskan bahwa ilmu sejarah tidak lain merupakan serangkaian upaya untuk menafsirkan, memahami dan mengerti (hermeneutics dan verstehen), dan karenanya ilmu sejarah merupakan ilmu yang mandiri, dalam arti memiliki filsafat ilmu sendiri, persoalan sendiri, serta penjelasan sendiri. Penjelasan sejarah diperlukan agar unit-unit sejarah menjadi dapat dimengerti secara cerdas (intelligibility).

3a8082e126
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages