Asupan Susu Diganti Air Tajin
Peternak Boyolali Perpanjang Interval Pemerahan Susu
Bandar Lampung, Kompas - Kenaikan harga susu selama dua bulan terakhir
mulai mengancam gizi anak balita dari keluarga tidak mampu di Lampung.
Sejumlah orangtua di Kampung Rawa Kerawang, Bandar Lampung, terpaksa
mengganti asupan susu bagi anak- anak mereka dengan air tajin atau air
rebusan beras yang agak kental.
Menurut pantauan Kompas di Kampung Rawa Kerawang, Kelurahan Garuntang,
Kecamatan Teluk Betung Selatan, Bandar Lampung, Jumat (6/7), banyak
orangtua terpaksa hanya memberikan tajin bagi anak-anaknya. Mereka
biasanya memang memberi tajin, tetapi hanya sesekali sebagai makanan
tambahan saja.
Frekuensi pemberian tajin semakin meningkat sejak dua bulan terakhir.
"Sekarang saya sudah tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan susunya. Setiap
saya menanak nasi pagi hari, sekalian memberi anak bungsu saya air tajin
yang dicampur sedikit gula putih," kata Anita (29), warga RT 02,
Lingkungan I, Kampung Kerawang, Kelurahan Garuntang.
Kenaikan harga susu formula kemasan kian membebani Anita dan suaminya,
Saproni (40), yang bekerja sebagai buruh bongkar muat di Pelabuhan
Panjang, Bandar Lampung, dengan penghasilan antara Rp 25.000 dan Rp
40.000 seminggu.
Ibu Yana (35), warga Kampung Rawa Kerawang, RT 01, Lingkungan I,
mengatakan, ia juga sudah mulai memberikan air tajin kepada anaknya.
Penghasilan suaminya yang bekerja di bengkel juga hanya cukup untuk
makan sehari-hari.
Cek Imas, pengelola Posyandu Teratai Kampung Rawa Kerawang, Garuntang,
mengatakan, di Lingkungan I terdapat sedikitnya 100 bayi dan anak
balita. Setiap kali pelayanan posyandu, bayi dan anak balita itu hanya
mendapat pelayanan penimbangan dan pengukuran berat badan, tidak
mendapat makanan tambahan. "Dana kami terbatas. Kami tidak sanggup
memberikan makanan tambahan meski hanya bubur kacang hijau," katanya.
Kepala Dinas Kesehatan Lampung Wiwiek Ekameini mengatakan, saat ini
Pemprov Lampung bersama dinas kesehatan tengah menghitung anggaran yang
dibutuhkan untuk pengadaan susu gratis bagi bayi usia 6 bulan-1 tahun,
bayi usia 1-5 tahun, dan ibu hamil. Sambil mengupayakan pendanaan dari
APBD Perubahan 2007, dinas kesehatan akan memakai dana Rp 800 juta dari
Departemen Kesehatan.
Interval pemerahan
Gabungan Koperasi Susu Indonesia Jawa Tengah dan DI Yogyakarta mulai
Juli meminta peternak memperpanjang interval pemerahan sapi guna
meningkatkan produksi susu. Ini sudah mulai dilakukan di dua KUD, yaitu
Musuk dan Selo, Boyolali, Jateng, hingga mampu meningkatkan produksi
10-15 persen.
Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Jateng dan DIY
Srikuntjoro, Jumat, mengatakan, GKSI bersama dengan Industri Pengolahan
Susu Indomilk sudah membentuk tim untuk mempelajari perilaku peternak
dan menyosialisasikan perpanjangan interval pemerahan ini.
Para peternak umumnya memerah sapi dua kali sehari, yakni pukul 05.00
dan pukul 11.00. Ini dinilai belum mampu memaksimalkan produksi susu
karena jarak antara pemerahan pertama dan kedua terlalu dekat. Idealnya,
jarak pemerahan ini 11-13 jam. Pemerahan kedua dianjurkan pada pukul
16.00. "Hasilnya, ada kenaikan produksi 10 hingga 15 persen per hari,"
ujarnya.
Di Musuk, misalnya, dalam satu hari produksi yang biasanya 18.000-19.000
liter per hari setelah uji coba naik menjadi sekitar 21.000 liter per hari.
Srikuntjoro mengatakan, ini dilakukan untuk mengantisipasi permintaan
susu dari industri yang cukup tinggi. Beberapa industri bahkan sanggup
menerima berapa pun susu yang dikirimkan. GKSI menyalurkan susu ke
Indomilk, Frisian Flag Indonesia, PT Sari Husada, dan Citra Nasional.
Pasokan untuk Jateng dan DIY kini 120.000 liter per hari. Bila 24 KUD
yang ada di Jateng dan DIY menerapkan hal ini, Srikuntjoro optimistis
produksi bisa mencapai 130.000 liter per hari.
Tak terbeli
Kenaikan harga susu di Palembang, Sumatera Selatan, juga membuat para
orangtua kelimpungan. Beberapa ibu rumah tangga di Kelurahan Keramasan,
Kecamatan Kertapati, Palembang, Jumat, menuturkan, harga susu semakin
tak terjangkau.
Rosita (24), warga RT 2 RW 8, mengatakan, karena tak sanggup membeli
susu formula yang mahal, dia mengganti dengan susu kental manis yang
lebih murah, yaitu Rp 6.500 per kaleng. "Harga susu yang mahal tak
terbeli. Saya terpaksa mengganti susu bubuk dengan susu lainnya. Tetapi,
anak saya malah muntah-muntah dan diare," keluh Rosita.
Hal serupa juga dirasakan Lis (20), warga Keramasan. Harga susu Bendera
123, susu yang biasa dikonsumsi anaknya, naik dari Rp 17.000 menjadi Rp
20.000 per kemasan (200 gram).
"Berat rasanya kalau harga susu melonjak seperti ini. Kami harus
berpikir keras untuk menghemat uang belanja," ungkap Lis. (GAL/THT/HLN/LKT)
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0707/07/daerah/3666343.htm